Love His Church [2]

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Love His Church [2]
Tema: Kesaksian Hidup yang Memberkati
Nats: Kisah Rasul 9:31-43, 10:1-48

Melalui eksposisi kitab Kisah Para Rasul ini kita saksikan bagaimana Tuhan berkarya dalam GerejaNya dan di dalam hidup anak-anak Tuhan sebagai fakta sejarah yang terjadi dua ribu tahun yang lalu. Allah kita adalah Allah di dalam sejarah, Allah yang tetap berkarya sampai pada hari ini, dan pada waktu kitab ini dituliskan kepada kita, ini bukan sekedar satu sejarah untuk kita belajar sama-sama tetapi untuk kita bisa mengerti dan mengetahui Allah itu adalah Allah yang pasti juga sanggup bekerja melakukan hal yang sama seperti pada waktu yang lalu di dalam kehidupan kita sekarang.

Hal yang pertama, kita saksikan dalam Kisah Rasul 8:1 “Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat teradap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.” Sejak kematian Stefanus, anak-anak Tuhan dikejar, ditangkap dan dipenjara. Sebagian yang luput lari terserak ke mana-mana dengan ketakutan. Di tengah gelombang itu mereka berseru, Tuhan, kapan situasi ini berakhir? Namun keadaan makin memburuk, gelombang demi gelombang penganiayaan terus menghantam. Tiba-tiba gelombang itu berhenti, lalu mereka berada dalam keadaan damai. Siapa yang bisa merubah gelombang penganiayaan menjadi keadaan yang damai? Siapa yang pernah berpikir seorang dedengkot bajingan teroris berjubah agama yang bernama Saulus itu bisa diubah hatinya oleh Tuhan? Itulah hal yang Tuhan lakukan bagi GerejaNya. Maka dari bagian ini mari kita aplikasikan ke dalam hidup kita sehari-hari, ke dalam hidup gereja kita dan bagi kondisi gereja-gereja di berbagai belahan muka bumi, mari kita camkan ini bahwa Allah kita adalah Allah yang berdaulat, yang in control, Allah yang sanggup bisa merubah keadaan yang tidak mungkin itu menjadi mungkin. Kita seringkali ditimpa dengan perasaan negatif yang membuat kita kadang-kadang putus asa dan tidak punya harapan. Kita seringkali punya perasaan bahwa kondisi kita sekarang tidak mungkin bisa berubah, mustahil berubah, bahkan akan menjadi lebih buruk. Akhirnya kita terus gelisah, takut dan kuatir dan perasaan negatif itu lebih melumpuhkan kita daripada realita yang sebenarnya. Jangan sampai kita tidak memiliki sikap hati yang percaya dan beriman bahwa Tuhan bisa dan sanggup merubah sesuatu itu hanya dalam waktu sekejap berbalik 180 derajat. Itu yang Tuhan lakukan di sini, Tuhan beri sesuatu kelegaan damai sejahtera kepada mereka. Kisah Rasul 9:31 menjadi kalimat yang begitu indah, bukan? “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” Puji Tuhan! Keadaan yang damai dan tidak lagi dihantui oleh pengejaran dan penganiayaan membuat Gereja menjadi stabil dan mulai melakukan aktifitas rutin sehari-hari.

Dari Kisah Rasul 9:31-43 kita melihat Petrus bisa mengadakan kunjungan dan peninjauan ke beberapa kumpulan jemaat di mana-mana. Dalam perjalanan itu Petrus mengunjungi jemaat yang ada di kota Lida, kira-kira 35 km dari Yerusalem. Di Lida ada seorang jemaat yang sudah 8 tahun menderita sakit lumpuh dan terbaring di tempat tidur bernama Eneas. Petrus melihat dan berkata kepada Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau, bangunlah dan bereskan tempat tidurmu. Seketika itu juga Eneas bangun dari pembaringannya. Kemudian Petrus melanjutkan perjalanannya ke Yope. Lida dekat dengan Yope, kira-kira 15 km. Di Yope ada seorang jemaat wanita bernama Tabita atau Dorkas yang banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Tabita kemudian jatuh sakit dan setelah beberapa waktu meninggal dunia. Pada waktu jemaat di Yope mendengar bahwa Petrus ada di Lida, mereka meminta Petrus datang mengunjungi rumah Tabita. Petrus segera datang dan naik ke kamar dimana Tabita dibaringkan. Kemudian ketika Petrus memanggil dia, Tabita hidup kembali. “Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan” (Kisah Rasul 9:42). Bagian ini ditutup dengan catatan: Kemudian dari pada itu Petrus tinggal beberapa hari di Yope di rumah seorang bernama Simon, seorang penyamak kulit (Kisah Rasul 9:43).

Setelah keadaan damai, Kisah Rasul memperlihatkan satu kesaksian hidup dari orang-orang yang kecil dan sederhana. Di situ kita bisa melihat Kisah Rasul bukanlah hanya mencatat mengenai pekerjaan rasul-rasul yang hebat dan terkenal; Kisah Rasul juga mencatat kesaksian hidup orang yang berada dalam strata sosial yang paling rendah tetapi menjadi hidup yang memberkati bahkan merubah sebuah kota dimana mereka tinggal menjadi percaya Tuhan. Biar kiranya kisah ini menolong kita bisa melihat, menghargai dan mencintai pekerjaan Tuhan dan dari orang-orang yang begitu kecil dan sederhana yang tidak diperhatikan oleh orang, kita tahu Allah bekerja dan memakai orang seperti itu sama luar biasanya dengan orang-orang yang lain. Allah juga memakai pekerjaan Tuhan seperti itu dalam kehidupan kita bergereja. Demikian juga kita tidak hanya menyaksikan mereka yang melayani di atas mimbar, tetapi kita belajar menyaksikan dan menghargai orang-orang yang berbagian dalam setiap pekerjaan Tuhan sesederhana apapun karena Tuhan menghargai orang-orang seperti ini. Itulah sebabnya bagian ini menarik karena berkisah mengenai tiga orang yang sederhana yang Tuhan pakai luar biasa.

Orang yang pertama adalah Eneas (Kisah Rasul 9:32-35). Kita tidak tahu secara mendetail tentang orang ini, yang kita tahu dia sudah menderita lumpuh selama delapan tahun lamanya hanya bisa berbaring di atas tilam pembaringannya, dia tidak bisa berbuat apa-apa, yang ada hanyalah iman dan kasih dia dan di dalam kelumpuhannya dia hanya bisa memuji Allah. Kita bersyukur di gereja kita juga ada beberapa jemaat senior yang boleh menjadi keindahan di tengah kita. Sekalipun mereka sudah tua dan tidak bisa berbagian dalam banyak pelayanan fisik, kita menyaksikan mereka tetap setia, mereka datang berbakti, mereka menyembah Tuhan. Sekalipun tidak ada kekuatan, tidak ada tenanga, tidak ada hal yang lain, doa dan pujian dan keberadaan mereka sungguh memberkati orang-orang yang lain. Seperti itulah Eneas yang mungkin pada waktu Petrus datang ke kota Lida, dengan segenap tenaga datang untuk beribadah dan berjumpa dengan Petrus. Petrus melihat kepada dia dan berkata, “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangunlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” dan seketika itu juga Eneas bangun berdiri. “Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan” (Kisah Rasul 9:35). Kita melihat Tuhan mengasihi Eneas dan berkarya di dalam hidup dia, dan seluruh kota diberkati oleh iman dari Eneas ini.

Orang yang kedua adalah Tabita atau Dorkas (Kisah Rasul 9:36-42). Tidak kita ketahui bagaimana kehidupan Dorkas secara personal. Apakah dia seorang janda atau seorang yang tidak menikah; apakah dia seorang yang kaya-raya atau seorang yang sederhana. Satu hal yang kita tahu, dia banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Dia juga memperhatikan kebutuhan para janda dan anak-anak yatim dengan menjahitkan baju-baju dalam dan pakaian yang hangat bagi mereka. Dorkas begitu dikasihi dan disayangi oleh jemaat di kota Yope, sehingga pada waktu dia sakit dan kemudian meninggal dunia, jemaat mengutus dua orang untuk datang ke Lida meminta Petrus datang. Sampai di rumah Dorkas, begitu banyak kebaikan hatinya yang diingat oleh orang sehingga mereka menangisi Dorkas. Tuhan mengasihi Dorkas dan ingin memakai hidupnya untuk menjadi berkat yang lebih lagi. Maka Petrus berdoa dan dengan kuasa Tuhan menyuruh Dorkas bangkit dari kematiannya. “Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan” (Kisah Rasul 9:42).

Orang yang ketiga adalah Simon, seorang yang bekerja sebagai penyamak kulit (Kisah Rasul 9:43). Hanya singkat catatan tentang dia, “Kemudian daripada itu Petrus tinggal beberapa hari di Yope, di rumah seorang yang bernama Simon, sorang penyamak kulit.” Pekerjaan Simon adalah satu pekerjaan yang kurang dihargai orang pada waktu itu, bagi orang Yahudi orang-orang seperti Simon yang sehari-hari bersentuhan dengan bangkai binatang dianggap najis, dan sudah tentu rumahnya juga agak berbau. Tetapi Simon membuka rumahnya untuk melayani Petrus dan menyediakan segala kebutuhan makan minum Petrus selama tinggal di rumahnya (Kisah Rasul 10:10). Pelayanannya yang sederhana dan hatinya yang mau berbagian mendukung pekerjaan Tuhan dengan apa yang ada padanya, menjadi suatu pelayanan yang Tuhan hargai. Tuhan Yesus pernah berpesan kepada Petrus dan murid-muridNya saat mengutus mereka melayani, “Kalau kamu memasuki satu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah” (Lukas 10:5-7).

Hal yang kedua, dalam Kisah Rasul 10:1-48 kita menyaksikan bagaimana Petrus, seorang rasul yang membaca Perjanjian Lama mengerti eksklusifitas bangsa Israel sebagai bangsa yang dipilih Allah dan sebagai umat Allah tidaklah boleh berhenti pada diri mereka sendiri tetapi untuk memberkati bangsa-bangsa lain. Tetapi belakangan terjadilah perkembangan dimana orang-orang Yahudi yang pulang dari pembuangan kembali ke negerinya dan mulai menata sistem keagamaan dan menjalankan hukum Taurat, akhirnya merasa diri lebih hebat, lebih benar, lebih eksklusif sebagai umat Tuhan, sehingga mereka meganggap bangsa-bangsa lain itu bukanlah orang-orang yang diberkati Allah. Ini bisa dilihat dimana setiap kali mereka berdoa di Bait Allah, beginilah doa mereka: Ya Allah aku bersyukur karena aku lahir sebagai orang Yahudi, bukan sebagai orang kafir; sebagai pria, bukan wanita, dsb. Mereka ada satu kesadaran lahir sebagai orang Yahudi dan bukan terlahir sebagai bangsa kafir adalah satu hal yang istimewa. Bukankah akhirnya sikap dan perlakuan itu nyata pada waktu setelah mereka membangun Bait Allah, mereka membagi tempat untuk ibadah dimana ruang yang suci dan maha suci hanya untuk para imam dan orang-orang Lewi. Kemudian ruang khusus untuk pria, lalu di serambi luar bagian khusus untuk wanita dan anak-anak, lalu di pelataran paling luar adalah untuk orang-orang dari bangsa-bangsa lain yang bukan Yahudi yang menjadi proselyt, yaitu orang bukan Yahudi yang menyembah Allah orang Yahudi. Ini sudah menjadi kultur mereka, sudah menjadi kerangka dalam pemikiran mereka, sekalipun mereka sudah menjadi pengikut Kristus. Sekalipun Petrus dalam tiga tahun mengikuti Yesus dalam pelayananNya pergi ke berbagai tempat termasuk ke daerah-daerah dimana orang bukan Yahudi tinggal, seperti daerah Dekapolis dan juga melakukan pelayanan kepada beberapa orang non Yahudi, Petrus dan murid-murid dengan tradisi dan perasaan hati seperti ini betapa sulitnya melihat bahwa Allah membuka kesempatan Injil diberitakan kepada bangsa-bangsa lain seperti itu. Kendati Roh Allah sudah turun di tengah-tengah mereka dan Yesus Kristus telah menyampaikan firman yang terakhir kepada mereka, “Pergilah dan jadikanlah semua bangsa muridKu. Dan jadilah saksiKu di Yerusalem, di Yudea, dan Samaria dan sampai ke ujung bumi,” hingga peristiwa Petrus melayani Kornelius ini, Gereja sudah berjalan 5-7 tahun lamanya, namun mereka masih belum terbuka kepada pelayanan bagi bangsa-bangsa lain. Di sini kita saksikan betapa lambatnya, betapa susah dan sulitnya kita didorong oleh Tuhan untuk melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Terkadang karena latar belakang, konsep dan tradisi menjadi penghalang bagi pelebaran dan penyebaran Injil. Maka perlu Tuhan memberikan sesuatu penglihatan bagi Petrus dan melalui peristiwa ini Tuhan memakai pelayanan bagi Kornelius untuk membuka mata mereka. Siapakah Kornelius? Kita tidak membanggakan dan menganggap bahwa orang ini menjadi orang yang paling penting, tetapi bahwa Tuhan bekerja melalui dia, dan dari situ akhirnya membuka pikiran Gereja, “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup” (Kisah Rasul 11:18).

Kornelius adalah seorang perwira pasukan Romawi yang disebut pasukan Italia yang tinggal di Kaisarea, seorang yang berpengaruh luar biasa, dan dia punya orang-orang tertentu dari tentaranya yang betul-betul bisa dia percaya untuk menjumpai Petrus. Beberapa hal yang dicatat mengenai dia, “Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah” (Kisah Rasul 10:1-2). Kita tidak tahu bagaimana Kornelius berbakti kepada Allah orang Yahudi, lalu sebagian uangnya dia berikan kepada sinagoge orang Yahudi. Bukan dia berikan kepada kuil Apolo, bukan kepada kuil Diana, dewa-dewi orang kafir. Dalam hatinya dia ingin mencari Allah yang benar dan sejati itu. Sampai hari ini ada orang-orang tertentu seperti itu di luar sana yang rindu untuk mengetahui benarkah dewa atau berhala yang mereka sembah adalah tuhan sejati atau haruskah mereka mencari Allah yang lain? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat dia berpikir lebih dalam dan mendorong dia ingin mencari Allah yang benar, bukan dewa, bukan tahyul; Allah yang esa, yang menciptakan dunia dan alam semesta ini dan yang menciptakan aku; Allah yang satu kali kelak kepadaNya aku akan kembali dan mempertanggung-jawabkan hidupku di hadapanNya. Tuhan yang benar itu yang aku ingin cari. Kornelius menemukan penyembahan kepada Allah yang benar itu ada pada orang Yahudi. Dan kerinduan itu membuat dia merasa dia harus hidup saleh, dia harus membantu pelayanan dan memberikan sedekah mendukung sinagoge Yahudi, mungkin dengan cara yang berbeda, kita tidak tahu tepatnya bagaimana. Orang yang belum mengenal Allah yang benar tetapi memiliki kerinduan yang benar untuk mencari Allah yang benar, percayalah Allah yang benar itu pasti datang dan berjumpa dengan orang itu. Puji Tuhan! Kita seringkali mendengarkan di tempat-tempat dimana kemungkinan seperti itu sangat kecil, Yesus Kristus menyatakan diriNya dalam penglihatan dan penampakan dan membuat orang itu berjumpa dengan Dia. Itu membuat orang-orang seperti ini berani ambil keputusan ikut Yesus apapun resiko yang dihadapinya. Sekalipun ditangkap, dianiaya, bahkan mati pun rela. Ini yang dialami oleh Kornelius.

Pada waktu Petrus berdoa maka terbentanglah di hadapannya sebuah kain lebar turun dari langit dan di situ ada segala macam binatang yang dianggap haram di Perjanjian Lama. Tuhan suruh dia makan, dan Petrus bilang, “Absolutely not!” Sampai tiga kali Tuhan menyuruh Petrus makan binatang haram itu, dan berkata, “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah tidak boleh engkau nyatakan haram” (Kisah Rasul 10:15). Setelah lewat penglihatan itu barulah Petrus berpikir dan bertanya-tanya apa maksud Tuhan di situ. Pada saat itu datanglah utusan Kornelius ke rumah dimana Petrus tinggal. Sikap Petrus yang agak keberatan untuk datang ke rumah Kornelius memperlihatkan sebagai orang Yahudi betapa tidak mudah untuk bisa bergaul dan berbaur dengan orang bukan Yahudi. “Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir” (Kisah Rasul 10:28). Mengapa Petrus masih keras berpegang kepada tradisi Yahudi begitu melekat dan bahkan membuat dia berani menolak Tuhan yang dia layani? Kisah Rasul 11:2 memperlihatkan alasannya, “Ketika Petrus kembali ke Yerusalem, orang-orang Kristen dari golongan bersunat berselisih pendapat dengan dia.” Betapa ironis, pada waktu mereka mendengar ada orang yang bertobat dan percaya, mereka bukan memuliakan Tuhan tetapi mereka marah dan berang kepada Petrus, sekalipun nanti akhirnya belakangan setelah diberi penjelasan, mereka baru menjadi tenang dan memuji Allah.

Atmosfir negatif muncul dari kekakuan, keengganan, tradisi, kebiasaan dan latar belakang bisa menghambat pelayanan kita dan kita tidak berani untuk keluar melihat apa yang baru yang Tuhan mau kita lakukan bagi pelayanan. Seringkali kebiasaan dan tradisi yang sudah berakar kuat terlalu lama menyebabkan hati menjadi keras dan kaku luar biasa. Ada gereja tertentu sampai cara tempat duduk dan kursinya, cara berpakaian, dsb begitu diubah sedikit saja sudah ribut semua. Kita jangan lupa sejarah gereja juga mencatat bagaimana kekakuan itu terjadi ketika ibadah yang a capella lalu menggunakan pipe organ; lalu begitu piano masuk, orang menjadi ribut; lalu setelah itu gantian gitar, drum dan keyboard bikin begitu banyak orang menjadi sangat gusar dan marah. Waktu OHP projektor mulai dipasang di belakang mimbar, orang ribut lagi. Itu peperangan yang tidak habis-habisnya. Kadang tanpa sadar conveniency menjadi hal yang mendominasi hati kita, bahkan dalam hal beribadah kepada Tuhan. Kita lebih memilih comfort dan kesenangan kita sendiri; kita terlalu cepat judgmental dan menghakimi orang yang berbeda dengan kita. Itu semua hal yang kita belajar hari ini. Pada waktu ada orang-orang yang melihat kelompok orang tertentu dalam masyarakat yang tidak pernah terjangkau oleh Injil, dan mereka mau melayani orang-orang seperti itu, apakah gereja bisa berbesar hati dan mendukung pelayanan seperti itu? Bisakah gereja melihat panggilan untuk membawa kembali orang berdosa dan mereka membutuhkan restorasi dari Allah. Kita anggap orang-orang itu pasti masuk neraka dan yang paling mungkin menentang habis-habisan pelayanan kepada mereka adalah orang Kristen sendiri. Pada waktu kita melihat orang yang cacat, orang yang tidak punya uang, orang yang kusta dan borok, reaksi kita langsung menghindar dengan jijik tanpa berpikir bagaimana melayani mereka. Kita kurang melepaskan sikap negatif dan bersimpati kepada orang-orang seperti ini. Kita harus mengakui tradisi, perspektif, kelambanan hati kita menanggapi hal-hal seperti itu. Biar kiranya firman Tuhan hari ini menggugah kita, memberikan arahan dan hati yang humble, hati yang senantiasa sensitif kepada pekerjaan Roh Allah dalam hidup kita masing-masing. Mari kita mengasihi umat Tuhan, mendukung pekerjaan Tuhan di dalam segala kekurangan dan kelemahan, kita saling melengkapi dalam apa yang kita tidak bisa kerjakan, biar orang lain mengerjakan; kita bisa saling mendoakan, mendukung satu dengan yang lain. Kiranya Tuhan memberkati setiap kita dengan firmanNya hari ini.(kz)