Love His Church [1]

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Love His Church [1]
Tema: God’s Sovereign Grace
Nats: Kisah Rasul 9

Dalam beberapa minggu ke depan kita akan membahas seri khotbah “Love His Church,” seri eksposisi dari kitab Kisah Para Rasul. Kasihilah Gereja Tuhan, karena Tuhan sendiri begitu mencintai dan mengasihi GerejaNya dan telah menebusnya dengan darahNya yang mulia dan mahal itu. Dan dengan membahas topik ini saya rindu membuat kita juga mengasihi Gereja secara universal dan mengasihi gereja ini sebagai gereja lokal yang Tuhan beri kepada kita. Dalam Kisah Rasul 20:28 Paulus mendorong setiap penatua yang melayani dengan berkata, “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan karena kamulah yang ditetapkan oleh Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperolehNya dengan darah AnakNya sendiri.”

Kisah Para Rasul ditulis oleh Lukas untuk memperlihatkan bagaimana Gereja terbentuk dari awal, Gereja menjadi besar dan orang yang mengikuti Yesus bertambah jumlahnya melalui pekerjaan dan pelayanan para rasul. Tetapi Kisah Para Rasul bukan saja mengenai kisah pekerjaan dan pelayanan para rasul melainkan kisah bagaimana Roh Allah bekerja dengan luar biasa kepada GerejaNya. Dalam Kisah Rasul 1:8, Yesus berkata, “Tetapi kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Inilah panggilan misi yang penting dari Tuhan kepada murid-murid yang notabene tidak berpendidikan tinggi, yang hanya bekerja sebagai nelayan yang sederhana. Mereka tidak punya uang, mereka tidak punya kemampuan, mereka tidak punya resources apapun. Tetapi kita saksikan bagaimana keterbatasan manusia, Tuhan itu bekerja dengan kasihNya memaksa dan mendorong anak-anakNya dan mereka dengan luar biasa.

Kisah Rasul 1-4 mencatat hal yang indah sekali. Jemaat Allah dimulai dari 120 orang yang berkumpul bersama dan berdoa, lalu ketika Roh Allah berkuasa atas diri mereka, mereka bisa mengucapkan kata-kata dalam bahasa-bahasa lain yang tidak pernah mereka pelajari sebelumnya. Mereka melakukan berbagai mujizat dan tanda-tanda ajaib. Dan pada waktu Petrus menyampaikan berita keselamatan melalui kematian dan kebangkitan Kristus kepada mereka, maka banyak yang bertobat dan berbalik kepada Tuhan dan pada hari itu jumlah mereka bertambah menjadi tiga ribu orang. Kisah Rasul 2 ditutup dengan indah luar biasa, “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Dan mereka disukai semua orang dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan” (Kisah Rasul 2:46-47). Mereka berkumpul, beribadah, memuji Allah dan memecahkan roti sama-sama dan hidup taat menjalankan apa yang diajarkan oleh para rasul itu. Mereka penuh dengan sukacita. Apa yang menjadi milik mereka, mereka bagi-bagikan kepada yang lain yang membutuhkan. Karena perlumpulan yang indah, jemaat yang bersekutu bersama seperti itu menjadi daya tarik bagi orang-orang di luar. Tetapi ketika jumlah mereka bertambah banyak, Kisah Rasul 6 mencatat mulai timbul persoalan di antara mereka, yaitu timbul sungut-sungut dan ketidak-puasan di antara orang Yahudi berbahasa Yunani dengan yang berbahasa Ibrani karena mereka merasa pelayanan kepada janda-janda mereka diabaikan. Lalu bukan saja muncul problem internal seperti itu, juga di luar orang-orang yang menjadi musuh-musuh Gereja mulai menyebarkan fitnah dan menghasut orang-orang lain juga.

Mereka menyergap dan menyeret Stefanus dan pada waktu Stefanus menyatakan pembelaan diri, mereka tidak bisa mendengarkan perkataan dan berita Injil yang dia sampaikan dan mereka membunuh Stefanus. Kisah Rasul 8 dimulai dengan kalimat, “Saulus juga setuju bahwa Stefanus mati dibunuh. Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.”

Kita melihat setelah Stefanus dibunuh dengan dirajam batu, maka mulailah gelombang penganiayaan tiba kepada jemaat di Yerusalem; bukan satu dua kali tetapi gelombang demi gelombang, penggerebekan dan penangkapan di antara orang-orang percaya sehingga mereka berserak melarikan diri keluar dari Yerusalem dan mereka tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Kadang-kadang kita tidak mengerti mengapa Allah mengijinkan kita melalui hal-hal yang kita pikir adalah hal-hal yang disaster di dalam hidup kita. Tetapi saya rindu kita belajar dari firman ini supaya boleh kita terapkan di dalam hidup kita sama-sama agar kita juga menjadi gereja Tuhan yang tidak berhenti dan puas hanya kepada hal-hal yang telah kita capai, tetapi tetap kita rindu, kita mau misi Allah itu terjadi di dalam hidup kita. Kita aman, kita nyaman, kita senang, kita menyaksikan Tuhan bekerja dengan luar biasa, jemaat bertumbuh luar biasa, kita memiliki banyak resources, dsb, lalu kita bisa jatuh dan tenggelam di dalam status quo dan kita akhirnya tidak menjadi satu jemaat yang Tuhan ingin dan ingat engkau adalah murid Yesus Kristus yang memanggil kita untuk menjadi saksiNya dimana saja kita berada. Mungkin kita nyaman di tengah pekerjaan kita, sehingga kita berani membuka identitas kita menjadi anak Tuhan dan kita nyaman di dalamnya dan Tuhan bisa memaksa situasi supaya orang lain melihat kita adalah anak-anak Tuhan mungkin melalui kesulitan dan tantangan yang datang kepada kita. Kebencian yang muncul tidak membuat engkau pergi, kemarahan dan kebencian yang muncul supaya engkau menyatakan kasih Tuhan yang besar. Kisah Rasul memperlihatkan kepada kita betapa mudah kenyamanan kita, betapa gampang kita merasa indahnya persekutuan itu menyebabkan kita tidak melihat pekerjaan Allah yang lebih besar. Yang kedua, betapa mudahnya kita menyaksikan tradisi kita atau ketidak-mauan kita lalu ketika Tuhan bukakan mata para rasul, kita menyaksikan kekurangan dan kelemahan manusia seringkali menghambat langkah kaki Tuhan, tetapi Tuhan tidak pernah berhenti dan Tuhan bekerja dengan cara yang sangat berbeda. Allah kita adalah Allah yang berdaulat. Dan Allah yang berdaulat adalah Allah yang bisa memakai dan menggunakan aniaya, kemarahan dan kebencian orang, Injil Tuhan tetap disebar-luaskan. Ketika komunitas anak Tuhan berada di Yerusalem, mereka belum keluar menuju ke Yudea dan ke Samaria, hingga akhirnya gelombang penganiayaan membuat mereka terserak oleh Tuhan. Itulah God’s sovereign grace. Kadang-kadang kita tidak bisa mengerti bagaimana Allah menggunakan kebencian dan kemarahan Saulus sehingga lari dan pergilah mereka mencari tempat yang lebih aman.

Dalam Kisah Rasul 9 kita menemukan kebencian dan kemarahan Saulus yang luar biasa. Dalam terjemahan NLT digambarkan seperti ini, “Meanwhile, Saul was uttering threat with every breath and was eager to kill the Lord’s followers.” Setiap tarikan nafas penuh dengan kemarahan dan kebencian yang sangat besar meluap-luap dari hatinya. Saulus mendapatkan surat kuasa dari Imam Besar di Yerusalem, dan dengan kebencian yang berkobar-kobar dia pergi menuju ke Damaskus untuk menangkap dan menganiaya orang Kristen di kota itu. Tetapi Tuhan melakukan intervensi dan menggagalkan rencana dia. Kisah Rasul 9:3-13 menceritakan bagaimana Tuhan Yesus menyatakan diri dalam suatu sinar yang sangat terang kepada Saulus dan berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Saulus jatuh rebah ke tanah dan dalam kebutaan karena sinar itu dia bertanya, “Siapakah Engkau, Tuhan?” Yesus menjawab, “Akulah Yesus yang engkau aniaya itu.”
Kenapa setiap kali dia dengar firman Tuhan, dia benci dan marah, dia ingin menghancurkan jemaat Tuhan? Kenapa setiap kali dia mendengarkan nama Yesus diucapkan pengikutNya, itu membuat hati dia terbakar oleh kemarahan yang besar dan dia ingin menyumbat mulut orang itu? Kenapa dia mau membunuh pengikut Yesus? Karena dia percaya Yesus adalah pendiri ajaran sesat yang pengajaranNya luar biasa merusak kepercayaan agama Yahudi yang dia adalah pengikut yang fanatik adanya. Ini adalah sekte yang harus dihancurkan karena ini adalah seperti ragi yang merusak dan menghancurkan kesucian daripada Bait Allah; yang mendatangkan begitu banyak hal yang kacau di Yerusalem. Ajaran ini harus dihancurkan sampai tuntas. Ajaran ini datang dari Setan yang menyamar dalam jubah serigala berbulu domba. Dan pada momen itu, hari itu, saat itu juga semua berubah dan hancur berantakan. Di situ dia harus mengaku berarti Yesus adalah Tuhan sendiri yang datang di dalam sinar yang terang dari surga.
Tetapi anugerah Allah adalah anugerah yang berdaulat. Allah menyatakan anugerahNya yang luar biasa. Tuhan menyatakan anugerahNya kepada orang itu. Hari itu Tuhan ubah hidup dia 180 derajat. Sebagai rabi orang Yahudi yang sudah membaca Perjanjian Lama berulang kali, Paulus tahu ketika ada sinar terang muncul, itulah tanda dan itlah fenomena kehadiran Allah di hadapannya. Tidak bisa dipungkiri pada waktu dia tersungkur, dia tahu inilah Tuhan yang dia sembah sedang hadir di hadapannya. Itu sebab dia berkata, “Siapakah Engkau, Tuhan?” dan di situlah terjadi perubahan di dalam pikirannya; dia dipaksa oleh Tuhan melalui penglihatan itu untuk membuat koneksi yang kuat bahwa pada waktu dia tahu inilah sinar Tuhan, dan sekarang dari sinar itu Yesus berkata, “Akulah Yesus yang engkau aniaya itu.” Itu membuat dia tidak bisa pungkiri sinar terang dari langit itu pastilah Allah Yahweh sedang menyatakan diriNya. Dan ketika kalimat Yesus berkata demikian, dia harus mengaku yang mau dia bunuh itulah pengikut dari Tuhannya sendiri.

Maka hal yang kedua kita menyaksikan Tuhan menyatakan anugerah yang tidak layak diterima oleh Saulus yang sudah penuh dengan kebencian, Tuhan bisa ubah hati orang yang mau menghancurkan Kekristenan menjadi seseorang yang bertobat dan percaya Tuhan. Itu adalah anugerah yang luar biasa. Anugerah yang kita tidak pernah duga dan sangka, bukan? Kita bersyukur ketika menyaksikan ada orang-orang yang bertobat, percaya dan terima Tuhan. Tetapi mungkin kita akan menjadi orang yang agak sedikit terganggu jika orang itu adalah orang yang pernah merugikan dan merusak hidup kita dalam hal ekonomi, atau bahkan mungkin menghancurkan keluarga kita, atau ada anggota keluarga kita yang ditangkap dan dibunuh oleh dia lalu tiba-tiba kita mendengar bahwa orang ini diInjili di dalam penjara dan bertobat dan percaya Tuhan Yesus. Kita mungkin akan protes kepada Tuhan, kalau boleh jangan turunkan kebaikanMu kepada orang itu, berikan saja kepada orang lain yang layak menerimanya. Kita bisa saksikan itulah reaksi dari Ananias pada waktu Tuhan menyuruh dia untuk mencari Saulus dan berdoa bagi dia. Ananias bilang, “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudusMu di Yerusalem” (Kisah Rasul 9:13).

Mungkin engkau menghadapi orang seperti itu di dalam hidupmu, yang tidak senang melihat engkau percaya Yesus dan sedapat mungkin menekan dan mengintimidasi engkau dengan segala cara. Mungkin jadi dia akan menghambat engkau dalam pekerjaanmu tidak pernah mendapat promosi; mungkin gara-gara itu jam kerjamu dikurangi atau ditaruh di roster pas hari Minggu supaya engkau tidak bisa datang berbakti ke rumah Tuhan; atau engkau hanya diberi jadwal kerja di malam hari atau apapun yang bisa menghancurkan sukacitamu ikut Tuhan. Dia mau lihat bagaimana reaksi orang yang percaya Yesus ditekan seperti itu. Penderitaan-penderitaan kecil, kebencian dan rasa tidak suka kepadamu jangan membuat engkau akhirnya menjadi orang Kristen yang kehilangan sukacita dan terus hidup memperlihatkan mereka inilah artinya menjadi orang Kristen. Tetapi pada saat yang sama ketika anugerah Allah merubah hati orang yang paling membencimu dan tahu-tahu dia menjadi orang percaya, kiranya kita juga harus punya extended grace seperti Tuhan. Ananias merasa tidak rela Tuhan beranugerah kepada Paulus, but no Lord, jangan orang ini, Tuhan; orang ini begitu jahat. Tetapi Tuhan bilang kepadanya, “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagiKu untuk memberitakan namaKu kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena namaKu” (Kisah Rasul 9:15-16). Tuhan punya misi, purpose dan kedaulatan yang luar biasa. Karena Tuhan cinta GerejaNya; karena Tuhan memperlihatkan kepada kita bagaimana Injil itu harus sampai ke ujung bumi. Kadang-kadang kita tidak sadar sudah menghambat pekerjaan pelebaran Injil itu; kadang-kadang kita tidak punya kekuatan dan kemampuan seperti itu sehingga Tuhan perlu bangkitkan satu orang seperti Paulus yang fasih berbahasa Yunani, yang punya gelar teologi yang bisa direspek dan dihormati, yang bisa pergi ke berbagai tempat karena dia adalah warga negara Romawi, segala aspek yang tidak mungkin bisa dikerjakan oleh Petrus dan rasul-rasul yang lain.

Hal yang ketiga, anugerah Tuhan ajaib luar biasa, seorang penganiaya jemaat yang bernama Saulus akan menjadi alat yang Tuhan akan pakai bagi pelayanan. Dia tidak akan menjadi selebriti terkenal yang kesaksian pertobatan dia bukan untuk menambah banyak orang terpesona tetapi Paulus dipanggil oleh Tuhan menjadi instrumen alat Tuhan dan misi yang Tuhan beri kepada dia menderita bagi nama Tuhan. Dan Tuhan mempersiapkan dia bersedia hati karena pelayanannya membuat banyak orang ingin menangkap dan membunuh dia. Tidak lama setelah dia percaya dan terima Tuhan, di pasal 9 saja dua kali dia diancam mau dibunuh tetapi Tuhan meluputkan dia. “Beberapa hari kemudian orang Yahudi merundingkan suatu rencana untuk membunuh Saulus. Tetapi maksud jahat itu diketahui oleh Saulus. Siang malam orang-orang Yahudi mengawal semua pintu gerbang kota supaya dapat membunuh dia. Sungguhpun demikian pada suatu malam murid-muridnya mengambilnya dan menurunkannya dari atas tembok kota dalam sebuah keranjang” (Kisah Rasul 9:23-25).

Paulus setelah bertobat lalu dia tetap tinggal di Damaskus lalu kemudian dia mulai pelayanan di situ. Di dalam surat Galatia Paulus menceritakan setelah peristiwa pertobatannya itu dia pergi ke tanah Arab dan tinggal di sana selama tiga tahun lalu setelah itu dia kembali ke Damaskus (Galatia 1:17). Dan pada waktu dia kembali, komunitas orang percaya pengikut jalan Tuhan menjadi takut dan kuatir benarkah Paulus sungguh-sungguh bertobat? Tetapi apa yang Paulus lakukan kepada orang-orang Kristen sebelumnya sekarang dia alami sendiri sebagai orang yang percaya Tuhan. Sehingga apa yang dilakukan oleh saudara-saudara seiman menyelamatkan Paulus, yaitu menyembunyikan dia di dalam keranjang dan menyelundupkannya keluar dari tembok kota dengan tali tambang. Dari sana dia pergi ke Yerusalem. Kisah Rasul 9:30 mengatakan, “Ia bersoal-jawab dengan orang-orang Yahudi berbahasa Yunani tetapi mereka berusaha membunuhnya.”

Yang pertama, kenapa Tuhan ingin menjadikan Paulus sebagai alat instrumen? Kita bisa melihat di sini ada satu wilayah pelayanan yang rasul Petrus dan yang lainnya mungkin tidak sanggup bisa masuk melayani mereka yaitu kelompok orang-orang intelektual, para rabi yang tersebar di berbagai tempat sebagai diaspora, yang berbahasa Yunani. Allah bekerja melalui dia luar biasa, sehingga di sini Allah meluputkan dia.

“Setibanya di Yerusalem, Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid tetapi semuanya takut kepadanya karena mereka tidak dapat percaya bahwa ia juga seorang murid. Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceritakan kepada mereka bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus. Dan Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di Yerusalem dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan. Ia juga berbicara dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani tetapi mereka itu berusaha membunuh dia. Akan tetapi setelah hal itu diketahui saudara-saudara anggota jemaat, mereka membawa dia ke Kaisarea dan dari situ membantu dia ke Tarsus” (Kisah Rasul 9:26-30). Tarsus adalah kota asal Paulus.

Kisah Rasul 9 diakhiri dengan ayat 31, “Setelah beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai.” Tidak selamanya gelombang kesulitan dan penganiayaan itu terus ada. Tuhan kasih kelegaan kepada mereka. Kalau kondisi sudah damai, orang biasanya menjadi nyaman dan tidak lagi bergerak, maka Tuhan perlu mendoring mereka untuk kemudian jalan lagi. Bagaimana Tuhan bekerja, bagaimana kita sebagai umat Tuhan meresponinya. Sekalipun kadang-kadang kita tidak mengerti apa yang Tuhan rindu dan mau kerjakan di dalam hidup kita, tetapi kita bersyukur dan kita menyaksikan melalui peristiwa ini Allah kita adalah Allah yang berdaulat, Allah yang memberikan anugerah yang luar biasa. Dan setiap hal yang kita lihat baik itu penganiayaan, baik itu kebencian, baik itu mungkin rencana jahat yang orang ingin lakukan kepada jemaat Tuhan, lihat itu sebagai cara Allah bekerja di luar daripada apa yang kita pikirkan. Bisa jadi cara Tuhan itu adalah menyadarkan kita yang seringkali lambat dalam berjalan ikut Tuhan. Bisa jadi cara itu adalah cara yang Tuhan buka yang kita tidak sanggup dan mampu untuk lakukan sendiri.

Kiranya Tuhan pimpin dan berkati kita pada waktu kita melihat betapa Tuhan mencintai GerejaNya, Ia bekerja dengan cara yang luar biasa untuk Gereja Tuhan itu menjadi saksiNya, sehingga semua orang bisa mendengar nama Tuhan. Biar kita rindu kita bisa menjadi jemaat Tuhan yang juga bekerja dan melihat bagaimana Tuhan bekerja di dalam hidup pelayanan kita. Kadang-kadang kita rasa tidak enak, tidak nyaman; kadang-kadang kita rasa mungkin kita harus didorong dan dipaksa oleh Tuhan; kadang-kadang ada hal yang di luar daripada yang kita pikirkan dan kita bayangkan tiba-tiba terjadi membuat kita kecewa dan sedih, mari kita jadikan itu sebagai hal bagaimana Allah mengasihi GerejaNya dan Allah mencintai setiap kita pribadi lepas pribadi di dalam kehidupan kita. Kita tahu perjalanan itu adalah perjalanan yang tidak mudah, tetapi kita ingin berjalan dan melewati itu sekalipun dengan berbagai macam personal cost yang terjadi dalam hidup kami, kami tidak pernah melihat itu sebagai suatu kerugian ikut Tuhan. Kiranya nama Tuhan dimuliakan di muka bumi ini dan dari hidup kita mencintai Tuhan, ada orang-orang yang tertarik dan kita bawa kepada Kristus.(kz)