So This is Your Life [9]

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: So This is Your Life [9]
Tema: Life’s Best Teachers
Nats: Ibrani 12:11-16

“Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu bukan sebagai perkataan manusia tetapi -dan memang sungguh-sungguh demikian, sebagai firman Allah yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya” (1 Tesalonika 2:13). Ketika kita membuka dan membaca Alkitab, apakah kita pernah mempunyai kesadaran yang dalam bahwa firman Allah ini sedang mau berbicara kepada kita? Adakah setiap minggu pada waktu kita membaca Alkitab, kita menantikan Tuhan berkata-kata melalui khotbah yang disampaikan oleh hambaNya. Ini bukan kata-kata manusia, tetapi ini adalah perkataan dari Allah yang ingin aku dengar. Bagi saya, ini adalah ayat yang senantiasa memberikan kekuatan bagi saya setiap kali mempersiapkan khotbah, setiap kali menggumuli bagian dari firman Tuhan, saya menikmati terlebih dahulu dan saya menjadikan firman Tuhan ini berbicara terlebih dahulu ke dalam hidupku. Sekaligus saya rindu ayat ini juga menjadi dorongan bagi mereka yang melayani Tuhan minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Kadang-kadang kita merasakan apa yang kita katakan dan kita sampaikan, kita sendiri lamban untuk mengerjakan dan melakukannya. Seringkali kita juga merasa guilty di hadapan Tuhan, melihat betapa lamban saya menuju kepada kedewasaan dan maturity itu. Seringkali kita juga merasa ingin give up dalam pelayanan karena kita juga bisa melihat orang yang kita layani itu terasa pelan dan lambat tumbuhnya, kelihatan tidak ada perubahan dan seringkali itu bisa mendatangkan discouragement di dalam hidup kita. Tetapi kita bersyukur Allah memberikan firmanNya berkata-kata kepada kita hari demi hari, menuntun hidup kita sebagai Guru yang agung. Allah menggunakan berbagai instrumen yang indah dan alat peraga yang luar biasa, supaya kita menjadi display Allah yang indah dan agung bagi orang lain, karena itulah tujuan dan maksud Tuhan bagi kita.
“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya” (Ibrani 12:11). Dalam terjemahan NLT berkata, “No discipline is enjoyable while it is happening – it’s painful! But afterward there will be a peaceful harvest of right living for those who are trained in this way.” Kepada mereka yang dilatih, Allah perlu memberikan disiplin. Disiplin itu tidak menyenangkan; disiplin itu menyakitkan. Tetapi barangsiapa yang dilatih Allah dengan cara demikian, dia akan mengalami sukacita dan damai sejahtera dan buah-buah kebenaran muncul dari hidup orang itu. Tidak semua disiplin itu otomatis mendatangkan kebaikan dengan sendirinya, tetapi yang paling penting adalah sikap yang tepat dalam meresponinya, yang mau di latih olehnya. Paulus juga berkata di dalam situasi hidupnya di Filipi, “Kukatakan ini bukanlah karena aku kekurangan, karena aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan” (Filipi 4:11). Bukan soal kekurangan atau kelebihan, tetapi bagaimana belajar mencukupkan diri di dalam segala situasi. Tuhan Yesus juga berkata kepada setiap orang yang datang kepadaNya, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:29). Kita jangan melihat betapa beratnya beban kuk itu. Yang paling penting adalah pada waktu kita meresponinya, Tuhan minta kita mau belajar di dalamnya.

Dalam hidup kita sebagai manusia kita menghadapi banyak hal yang tidak lebih dan tidak kurang sama dengan orang-orang lain yang tidak percaya. Semua orang pada satu waktu dalam hidupnya menghadapi saat-saat dimana kantong kosong dan tidak ada cadangan uang sama-sekali. Semua orang pernah menghadapi kegagalan dan patah hati dan penolakan orang. Kita bisa gagal di dalam pacaran, gagal di dalam studi dan di dalam bisnis. Kita bisa gagal karena kita berbuat kesalahan dan mengambil keputusan yang gegabah dan tergesa-gesa. Kita bisa sedih dan kecewa waktu tidak mencapai apa yang diinginkan dan ditargetkan. Tidak ada yang spesial dari itu semua, semua orang mengalaminya. Sebagai orang Kristen kita pun tidak akan immune dari hal-hal itu. Tetapi yang membedakannya adalah apakah hal-hal itu bisa menjadi guru yang baik ataukah hanya dilihat sebagai nasib, sebagai kesialan, sebagai petaka, sebagai hukuman, pembalasan dan bencana. Kita bukan minta hal-hal itu tidak terjadi dalam hidup kita, tetapi kalau kita berespon melihat itu sebagai guru yang mengajar dan melatih kita di dalam sekolah kehidupan, itu akan menghasilkan outcome yang sangat berbeda adanya entah berapa sering dan berapa banyak terjadi di dalam diri orang itu. Selama kita tidak menjadikannya guru yang dipakai oleh Allah melatih dan mengajar seseorang, maka hidup kita tidak menjadi sesuatu yang dibentuk olehnya.

Sudah tentu sebagai manusia normal kita bisa menangis, ada rasa tidak bisa menerima, bahkan mungkin ada perasaan iri kenapa orang lain tidak mengalami ini. Kita berdoa dengan sungguh-sungguh jikalau kita adalah anak-anak Allah kiranya Ia memberikan kesempatan lagi bagi hidup kita, atau kita minta mujizat terjadi. Namun sebagai anak Tuhan, kita harus mengerti dan mengetahui bahwa sakit dan penderitaan bukanlah menjadi intensi di dalam penciptaan. Kesedihan dan sakit hati di dalam relasi pernikahan, itu bukan bagian daripada kebaikan dan berkat Allah ketika menciptakan Adam dan Hawa. Kerja keras, ketidak-adilan yang kita hadapi di dalam pekerjaan, onak duri keluar ketika engkau menabur benih yang baik, tidak pernah hal itu menjadi God’s good intention. Alkitab jelas berbicara pada mulanya dunia diciptakan oleh Allah yang baik, pasti mempunyai keindahan seperti itu. Kita tahu, pemberontakan dan dosa Adam dan Hawa yang menjadi perwakilan seluruh umat manusia yang membawa masuk isolasi, kegelapan, neraka di dalam relasi dengan Allah, dengan dunia dan dengan sesama. Dosalah yang membawa kematian itu masuk ke dalam hidup manusia dan ke dalam dunia. Dosalah yang membawa sakit dan penderitaan, kegagalan, penolakan, sakit hati dan pembunuhan di dalam hidup manusia. Dengan demikian itu sebenarnya bukan bagian daripada apa yang Tuhan mau bagi kita. Dan pada waktu itu terjadi dalam diri kita, kita juga tahu itu juga bukan bagian dari hidup kita, maka kita rindu kapankah kita bisa lepas dari semua ini? Kapankah tidak ada lagi kematian, tidak ada lagi sakit-penyakit? Pada waktu kita melihat penderitaan yang ada di sekitar kita, hati kita menangis dan ketika nurani kita telah disentuh oleh Tuhan, kita juga dengan kepedihan berteriak kepada Tuhan, bukan? Sehingga pada waktu kita menjalani hidup ini, kita senantiasa mempunyai tendensi untuk menghindari kesulitan dan ketersakitan. Kalau kita disuruh memilih: jalan yang panjang atau jalan yang pendek, kita akan pilih jalan yang pendek. Kalau kita disuruh memilih: jalan yang sukar atau yang mudah, kita tentu akan pilih jalan yang mudah. Itulah kita. Salah atau tidak? Tidak berarti semua salah. Kita manusia mempunyai tendensi untuk seperti itu. Ketika kita tahu ada bahaya, kita lari. Kena api, kita menjauh. Tetapi karena sikap yang mau menghindari sakit dan penderitaan kita akhirnya bisa menjadi orang yang terlalu takut berbuat salah, terlalu takut gagal. Sehingga pada waktu itu terjadi, kita melihat itu sebagai bencana dan nasib sial. Kita takut untuk dilukai, kita takut untuk disalahkan. Mudah sekali kita mengatakan semua ini karena salah orang lain. Kita tidak akan pernah mengerti berapa panjangnya pengharapan kita, waktu kita berhenti ketika ada batu menghalangi. Saat ada sedikit lubang dan jurang kita sudah berhenti, mundur dan berbalik. Engkau tidak akan pernah mengetahui berapa panjang pengharapanmu sampai engkau menghadapi hal-hal ini. Itulah yang saya sebut dengan kita memperluas ambang batas threshold pain kita. Pernah ditipu orang? Ya. Pernah ditipu orang sampai habis seluruh uangmu? Itukah ambang batas yang engkau terima? Pernah gagal? Ya. Pernah sampai ditangkap dan masuk penjara? Itu mungkin ambang batas threshold hidupmu. Pernah berkali-kali ditolak dalam pekerjaan? Ya. Pernah dimarahi? Ya. Pernah dipecat? Ya. Pernah ditertawakan dalam pelayanan? Ya. Pernah diludahi? Pernah dilempari batu? Setelah sampai di situ, masih berdoakah anda bagi orang itu? Masih bersyukurkah kita kepada Tuhan dan masih menjalaninya atau tidak? Itu yang kita sebut memperluas our threshold pain. Orang yang bukan anak Tuhan mungkin bisa menjalani dan melakukan hal yang sama tetapi kita melihatnya dari perspektif yang lebih dalam, lebih tinggi dan lebih luas lagi. Tujuan dari semua ini juga bisa menjadi guru yang baik bagi orang, tetapi [aku] mau melihatnya dengan perspektif yang lain, Tuhan mau memakai itu menjadi keindahan guru yang baik bagi kita. Setiap kegagalan mendatangkan disiplin dan itu tidak mengenakkan dan menyenangkan. Tetapi Allah mendisiplin anak-anaknya, demikian kata penulis Ibrani, dan mereka akan mendapatkan buah yang indah pada waktu mereka bersedia dilatih olehnya. Maka pada waktu kita menyaksikan pendidikan Tuhan sebagai guru yang terbaik, ini diilustrasikan oleh Yesus mengenai relasi kita dengan Dia di dalam Yohanes 15 antara Yesus, pokok anggur yang benar itu dan kita sebagai ranting-rantingnya. Kita tidak akan mungkin bisa menghasilkan buah jikalau kita tidak pernah bertaut dengan Kristus Tuhan kita. Pada waktu ranting itu lepas, mungkin masih ada daun-daun dan bunganya, tetapi pada suatu saat dia akan menjadi kisut dan layu dan kering dan di situ kita tahu ranting itu bukan saja tidak akan bisa berbuah tetapi juga tidak bisa bertahan hidup. Maka Yesus berkata kepada murid-muridNya, engkau semua sudah bersih melalui pembersihan dan penyucian Yesus. Tetapi supaya engkau bisa berbuah lebat, Aku akan membersihkan rantingmu. Itu adalah aspek pruning pengudusan Tuhan dalam hidup kita.

Dalam buku “Maturity,” Sinclair Ferguson mengatakan ada dua tahap pohon anggur dipruning. Tahap yang pertama itu adalah tahap awal [early stage of pruning]. Di tahap awal pemotongan itu tidak bertujuan untuk menghasilkan buah, tetapi bertujuan menciptakan frame supaya dia bisa tumbuh dengan benar dan tepat, bukan frame yang bengkok dan crooked. Setiap orang Kristen yang sejati perlu proses ini untuk menjadikan fondasi iman dan karakternya kuat dan benar.

Dalam 1 Petrus 3:1-2 rasul Petrus berkata kepada isteri-isteri Kristen yang bersuamikan orang yang tidak percaya Tuhan, tunjukkanlah hidupmu sebagai isteri Kristen sehingga suami-suami itu dimenangkan bukan dengan kata-kata melainkan dengan hidupmu yang saleh. Kenapa? Karena Tuhan mau sebelum engkau mengeluarkan kata-kata, kata-kata itu menjadi kata-kata yang berbobot seimbang dengan kelakuanmu. Suamimu melihat engkau rajin, tekun, jujur; pada waktu engkau mengalami kesulitan dan penderitaan, dimarahi, diperlakukan dengan tidak baik, engkau tetap humble, tidak benci dan marah, dsb. Dan pada waktu dia bertanya kenapa bisa begitu, ‘because I have Jesus in my life,’ kalimat itu berkuasa karena kalimat itu ditunjang oleh bobot dari pruning hidup Kristenmu. Kita bisa lihat sebaliknya, ada orang setiap kali ketemu bilang haleluya, tapi pinjam uang tidak bayar-bayar. Setiap kali masuk ke dalam gereja, puji Tuhan, sedikit-sedikit kutip ayat-ayat Alkitab, berani tegur orang tidak percaya Yesus, masuk neraka kau! tetapi kelakuan hidupnya dilihat oleh kolega di kantor tidak pernah berdoa, bisnis main curang di sana-sini. Sekalipun engkau berbahasa rohani begitu fasih, kata-katamu tidak ada bobotnya.

Kenapa justru setelah menjadi anak Tuhan kelihatannya hidupmu tidak lancar, lebih banyak mengalami kesulitan, dsb, engkau sedang di-pruning oleh Tuhan, Tuhan mau engkau menjadi anak Tuhan yang indah. Setelah pruning stage awal pertama itu terjadi, selanjutnya orang itu berbuah. Namun adakalanya pemilik anggur yang bijaksana melakukan sesuatu yang perlu supaya ranting itu menghasilkan buah yang lebih berkualitas dengan cara buah yang pertama justru dipotong dan dibuang, tidak diambil. Itu adalah ongoing pruning. Kadang-kadang ada begitu banyak rantingnya, dia hanya pelihara dua saja dan yang lainnya dibuang. Itu adalah pruning tahap kedua, pruning untuk menghasilkan buah yang berkualitas. Proses pruning itu terus dilakukan tahun demi tahun bukan dengan tujuan untuk menyakitkanmu tetapi dengan tujuan untuk menjadikanmu lebih mature, lebih dewasa, dan menghasilkan buah-buah yang berkualitas dalam hidupmu. Dalam hal ini berarti Tuhan kita in control, Ia tahu apa yang Ia lakukan kepada kita tidak ada yang salah. Dan, yang kedua, waktu Ia potong buah-buah itu jatuh ke tanah, kita lihat itu terbuang sia-sia. Tetapi bagi Tuhan itu tidak ada yang sia-sia, tidak ada yang terbuang percuma. Mungkin itu adalah keuntungan profit bisnis yang hilang; mungkin itu adalah nama baikmu; mungkin itu adalah prestise sesaat yang engkau dapat; lalu kemudian dipruning oleh Tuhan supaya dapat menghasilkan kerendahan hati dan trust kepada Tuhan. Itu menjadi buah yang berkualitas dan hal yang dipruning itu memang adalah hal yang memang harus dibuang. Kita tidak pernah boleh sayang kepada hal-hal itu karena itu memang bukan good fruits dalam hidupmu. Semua itu menjadi guru yang terbaik ketika kita bersedia belajar menjalani pruning process di dalam hidup engkau dan saya.

Terakhir, kembali kepada Filipi 4:11, Paulus ingatkan, “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Bukan karena situasi yang kekurangan; itu bukan hal yang penting buat Paulus, tetapi harus kita akui, itu sering menjadi hal yang penting bagi kita. Yang paling penting bagi Paulus adalah dia belajar dalam segala situasi itu menjadi guru yang baik baginya, itu yang paling penting. Jadi kita tidak minta kelebihan karena kelebihan juga mungkin tidak menjadi guru yang baik; kita juga tidak minta kekurangan kalau kekurangan itu aku tidak belajar menjadi dewasa. Maka Alkitab tidak mengatakan kita harus susah dan sulit, tetapi pada waktu engkau mengalami situasi seperti ini kita belajar apa di dalamnya. Apa pruning yang terjadi untuk membentuk hidup kita. Yang kemudian terjadi adalah kita mengerti bersyukur [gratitude], kita belajar contentment dalam segala keadaan. Kita mengerti apa itu artinya cukup, percaya dan trust yang Tuhan beri itu cukup; tidak lebih, tidak kurang. Memang ganjaran disiplin, kegagalan yang terjadi dalam hidup kita begitu mendatangkan dukacita saat kita di-pruning oleh Allah. Kita rasa betapa sayang kehilangan banyak hal yang kita sukai. Itu “berkat,” sukses dan jasamu. Itu hal-hal yang baik. Itu hasil perjuanganmu sepuluh tahun yang lalu dan terbakar habis begitu saja. Kita pikir itu semua menjadi nasib, disaster dan bencana. Saya tidak mengecilkan hal itu, it is really painful. Tetapi kita melihat satu hal yang indah itu semua menjadi guru yang baik menjadikanku “a better me.” Bagaimana hal-hal itu mengajarku menjadi siapa saya yang lebih indah. Penulis surat Ibrani memperlihatkan begitu banyak orang-orang Kristen mengalami kesulitan dan penderitaan karena imannya. “Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat, baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian. Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika hartamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya” (Ibrani 10:32-34). Sekalipun tanah, rumah dan harta milik mereka dirampas, tetapi mereka bersukacita menerima semua hal itu.

“Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah dan luruskanlah jalan bagi kakimu sehingga yang pincang jangan terpelecok tetapi menjadi sembuh. Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah supaya jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan” (Ibrani 12:12-16).

Ada lima respon yang penting muncul dalam Ibrani 12:12-16 ini. Respon yang pertama jangan patah semangat, do not lose heart. Ketika kita tahu pengharapan dalam Tuhan dan kita tahu ini adalah proses pembersihan iman kita, itu menghasilkan energi bagimu untuk bangkit dan berjalan lagi. Penulis Ibrani katakan, bangunlah, kuatkanlah kaki yang terpelecok. Berjalanlah melangkah lagi. Respon yang ke dua, maintain a peaceful life. Berusaha hidup damai dengan orang lain, tidak pernah menjatuhkan kesalahan kepada orang lain, tidak cepat-cepat menarik diri dan mempersalahkan situasi sekalipun engkau dilukai atau sebagai korban dari kegagalan orang lain. Jangan cepat-cepat bereaksi karena situasi yang tidak baik, lalu cepat-cepat marah karena engkau merasa dilukai. Tenang, damai dan berkati orang. Respon yang ke tiga, maintain your holiness, pertahankan hati yang suci dan bersih, jadilah kudus di hadapan Tuhan karena hanya dengan kesucian kita baru melihat Tuhan. Hati yang baik, motivasi yang jujur, tidak bengkok dan tidak mau melakukan hal-hal dengan jahat, pelihara itu. Respon ke empat, jangan mencurigai kebaikan Tuhan sehingga timbullah akar yang pahit dan beracun. Dari akar akan merusak pohon itu dan akan menghancurkan buahnya. Dan bukan hanya orang itu, tetapi juga orang itu bisa merusak orang yang lain. Respon yang ke lima, menjadi tidak sabar dan mau cari jalan cepat dan berkompromi, bahkan menjual hak kesulungannya, itulah yang dilakukan oleh Esau. ‘Hari ini aku lapar, toh besok aku akan mati, maka aku makan saja sekalipun harus menjual hak kesulungan, dia menganggap murah hal itu. Hari ini yang penting aku senang, aku bisa makan puas. Pokoknya puas-puaskan kepentingan diri sendiri. Dia tidak menjalani hidupnya finishing well. Penulis Ibrani memperingatkan, jangan sampai itu terjadi kepada kita. Biar kita berespon dengan benar pada hari ini. Kita tidak akan pernah lose heart, kita menikmati kekuatan baru setiap hari, kita menikmati a peaceful heart di hadapan Tuhan dan kita hidup di dalam kebenaran, kesucian dan kekudusan. Buanglah jauh-jauh dari hati kita curiga kepada Tuhan dan jangan biarkan kepahitan itu tumbuh dalam hati kita. Biar kami berjalan hari ini dalam tuntunan dan pimpinan Tuhan yang setia. May God bless you. (kz)