So This is Your Life [8]

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: So This is Your Life [8]
Tema: God’s Guidance
Nats: Mazmur 138:8, 1 Petrus 5:6-7

Hari ini kita bicara mengenai “God’s Guidance,” bagaimana memahami konsep mengenai pimpinan Tuhan dalam hidup kita sebagai anak-anak Tuhan. Ini adalah tema ke delapan dalam seri “So This is Your Life.” Dalam perjalanan hidup kita, Tuhan berada dimana? Sebagai orang Kristen kita selalu bilang, kita mau Tuhan pimpin hidup kita. Itu yang selalu menjadi doa kita, bukan? Tetapi pertanyaan ini patut kita pikirkan dalam-dalam: Tuhan ada dimana? Seringkali kita baru mengikuti Tuhan kalau yang Dia katakan sesuai dengan keinginan kita; kalau tidak sesuai dengan keinginan kita, lalu kita tidak turuti. Waktu menghadapi jalan buntu, waktu semua yang kita kerjakan gagal total, waktu kita tidak punya pilihan lagi, waktu kita sudah tidak bisa melakukan apa-apa, di situ baru kita minta Tuhan ambil alih. Jangan sampai kita jadikan Tuhan seperti itu.

Dalam Yakobus 4:13-17, Yakobus berkata, “Jadi sekarang hai kamu yang berkata hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung,” Yakobus bukan melarang mereka tidak boleh membuat rencana hidup ke depan. Ia mengingatkan sikap orang itu dalam mengatur semua rencana itu baik-baik, seolah-olah dia bisa mengontrol hidupnya ke depan. Maka Yakobus berkata, “Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Hidup kita seperti uap atau embun pagi, yang pagi hari ada sebentar siang sudah lenyap tidak berbekas. Yakobus katakan, “Sebenarnya kamu harus berkata: Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Artinya setiap kali pada waktu berencana, kita harus tahu dan ingat kita tidak bisa kontrol dan kita tahu Allah kita adalah Allah yang berdaulat dan mengatur sehingga sebagai anak-anak Tuhan bukan sekedar kata-kata saja yang keluar tetapi itu menjadi satu sikap hati kita setiap kali kita mengatakan jika Tuhan menghendakinya, artinya biarlah kehendak Tuhan yang jadi dalam hidupku.

Hari ini ada dua ayat firman Tuhan yang akan kita renungkan. Pertama dari Mazmur 138:8, “TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setiaMu untuk selama-lamanya, janganlah Kau tinggalkan perbuatan tanganMu!” Dalam terjemahan bahasa Inggris NLT dikatakan, “The LORD will work out His plans for my life. For Your faithful love, o Lord, endures forever. Don’t abandon me for You make me.” The LORD will work out His plans for my life, kata pemazmur. Perhatikan ayat ini bukan bicara what is your plan, tetapi what is God’s plan dalam hidup kita yang Ia akan genapkan. Kalimat ini bagi saya indah luar biasa. Seringkali kita berpikir dengan perspektif yang terbalik, kita punya plan sendiri bagi hidup kita dan kita mau dengan plan itu Tuhan pimpin hidup kita. Tetapi ayat ini membukakan satu perspektif yang sebaliknya, Tuhan punya plan, Tuhan merancang hidup kita. Tuhan bilang cari kehendakKu adalah apa yang Aku mau di dalam hidupmu. Dan kalau engkau berjalan di dalam apa yang Aku rencanakan, percayalah, seperti firman Tuhan ini bilang: God will work out His plans for your life. Pada waktu itu terjadi dan akan Tuhan kerjakan bagi kita, kita akan mengalami sungguh Allah itu indah, Allah itu fair adanya, dan Allah itu bukan Allah yang tidak adil. Ia berikan, Ia ciptakan kita masing-masing dengan plan yang berbeda. Ada satu catatan menarik dalam Yohanes 21:18-23, kita bisa saksikan pada waktu Petrus diberitahu Yesus akan cara kematiannya, dimana orang akan mengikat dia dan membawa dia ke tempat yang tidak dia kehendaki, Yohanes memberikan keterangan bahwa hal ini Yesus katakan untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Namun ketika Petrus melihat Yohanes sedang berjalan di belakangnya, dia bertanya kepada Yesus, “Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini? Bagaimana cara mati Yohanes? Yesus berkata, “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu” (Yohanes 21:21-23). Artinya, engkau tidak usah memikirkan apa yang akan terjadi kepada hidup mati orang lain, karena apa yang akan terjadi itu antara Aku dengan dia, itu bukan urusanmu.

Dalam Efesus 2:10 Paulus berkata kita adalah maha karya Allah, God’s masterpiece. Tuhan akan berkarya di dalam hidup engkau dan saya sesuai dengan apa yang Ia telah persiapkan sebelumnya. Jangan kita balik konsepnya, kita mau Tuhan kerjakan dan sempurnakan apa yang menjadi rencana hidup kita atau kita seolah-olah berpikir saya memang mau mencari kehendak Tuhan tetapi di dalam braket plan kita. Itu tidak Biblical. Mazmur 138:8 ini menjadi satu janji: jikalau engkau berjalan di dalam apa yang Allah rencanakan bagi hidupmu, Allah akan mengerjakan dan menggenapkannya di dalam kasih setiaNya. Pada waktu itu terjadi, kita akan mengalami sungguh Allah itu indah, Allah itu adil, dan Allah itu setia.

Ayat yang kedua, bicara mengenai janjiNya di situ, tetapi sekaligus juga bicara mengenai apa kendala hati kita sehingga seringkali kita meragukan janji Allah. Dalam 1 Petrus 5:6-7 Petrus berkata, “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikanNya pada waktunya. Serahkanlah kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu.” Janji Allah itu ya dan pasti, karena Ia adalah Allah yang setia, yang akan memelihara dan menuntun setiap anak-anakNya dan Ia adalah Allah yang berkuasa dan berdaulat yang bisa menggenapkan apa yang telah dijanjikanNya.

Bagaimana kita merencanakan kehidupan kita? Saya percaya tidak ada orang yang mau merencanakan hidupnya dengan hal-hal yang berpotensi tidak mulus jalannya atau berencana untuk mendapat kesulitan dan kegagalan. Bahkan kalau bisa kita mengatur sebaik mungkin dan semaksimal mungkin, seefisien mungkin, mendapatkan hal yang maksimal dan dengan cost yang paling minimal. Normal orang berencana seperti itu. Tetapi bukankah antara rencana dan realita bisa jadi akan sangat berbeda? Kita menyaksikan seperti itu dalam hidup ini. Tetapi yang paling penting adalah sebagai anak-anak Tuhan kita pegang janji firman Tuhan ini dan kita mau Tuhan menuntun dan membimbing kita. Namun seringkali kita pikir kalau Tuhan tuntun hidup kita, pasti semua akan sukses dan lancar. Sehingga kita bisa kaget kenapa kita mengalami kesulitan dan tantangan, kenapa pintu-pintu malah tertutup, dsb. Akhirnya kita menjadi ragu apa benar ini pimpinan Tuhan? Kalau sikap dan cara kita seperti itu di dalam memahami pimpinan Tuhan, maka pasti akan menghasilkan orang Kristen yang tidak berani untuk mengambil resiko melakukan sesuatu yang tidak kita mengerti dan tahu di depan dan kita akan menjadi orang Kristen yang terus-menerus play safe dan selalu cari jalan mudah. Dan sangat besar kemungkinan kita menjadi orang Kristen yang memiliki konsepsi yang keliru kepada Tuhan. Kita anggap kalau kita menghadapi tantangan dan kesulitan, berarti Tuhan itu tidak baik, atau Tuhan sedang menghukum kita. Dan kita juga tidak melihat di situ ada pembentukan dan penyertaan Tuhan di tengah kita melewati segala tantangan dan kesulitan.

Maka satu hal yang harus kita taruh di dalam hati dan pikiran kita bahwa tidak ada hal yang terjadi dalam hidup kita sebagai sesuatu kebetulan belaka. Allah berjanji menuntun dan memelihara kita, Ia bekerja seringkali di belakang layar. Dan pada waktu itu terjadi di belakang layar, itu membutuhkan waktu dan baru bisa dilihat pada waktu kita refleksi ke belakang. Itu sebab Mazmur 138:8 menjadi doa Daud kepada Allah yang menjadi satu kesimpulan setelah dia melihat apa yang terjadi dalam hidupnya. “Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap musuhku Engkau mengulurkan tanganMu dan tangan kananMu menyelamatkan aku. TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setiaMu untuk selama-lamanya. Janganlah Kau tinggalkan perbuatan tanganMu!” Sekalipun dia berada di dalam kesulitan, sekalipun orang bertanya dimana Tuhanmu? Ia tahu Tuhan ada di sisinya, oleh sebab itu dia bisa dengan yakin berkata Tuhan pasti akan menyelesaikan rencanaNya di dalam hidup Daud. Berapa sering kita harus dikasih tahu bahwa Tuhan memelihara dan menuntun tetapi kita tidak percaya, kita galau dan kita tidak bisa tenang dan tidur dengan nyenyak seperti Daud. Di tengah malam yang gelap dan di tengah musuh yang mengelilingi dia, Daud bisa tidur teduh dan nyenyak. Dalam 1 Petrus 5:7 Petrus berkata, “God cares about you” ini adalah satu kalimat yang sangat indah dan intimate, Tuhan mengasihi, memelihara, penuh perhatian dan peduli kepadamu. Lebih daripada kasih seorang ibu kepada bayinya yang pasti akan menjaga dan memelihara dan tahu apa yang terbaik yang akan dia kerjakan dan yang terindah yang akan dia lakukan kepada buah hatinya, tidak lebih dan tidak kurang. Tetapi ayat ini tiba bersama panggilan ini: rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, karena Ia pasti akan memelihara engkau. Allah sanggup dan Ia berkuasa. Allah akan menggenapkan rencanaNya menuntun hidupmu. Kita perlu berespon dengan sikap yang benar, bukan dengan mau mencari tahu apa yang akan ada di depan, tetapi untuk merendahkan diri di hadapan Allah. Merendahkan diri bukan soal sikap dan cara orang berbicara; merendahkan diri di situ dikaitkan oleh rasul Petrus di situ dengan satu hal yang ada di dalam hati kita yaitu kekuatiran dan kecemasan. Ada banyak orang Kristen yang sedikit-sedikit kuatir, cemas, pesimis, takut, merasa tidak bisa berbuat apa-apa, terus mengeluh, dsb. Kita mungkin pikir orang itu rendah diri. Tetapi justru ayat ini mengatakan sebaliknya. Orang yang terus kuatir dan cemas justru adalah orang-orang yang tidak mau merendahkan dirinya di hadapan Tuhan dan terus berusaha untuk mengontrol segala sesuatu bagi hidupnya sendiri. Dia sombong karena dia mau pegang semua kesulitan dan persoalannya dan merasa hanya dialah yang sanggup bisa selesaikan. Bahkan sekalipun Tuhan sedang menawarkan tanganNya yang berkuasa itu untuk menolongnya, dia tetap kuatir. Kenapa? Karena dia mau terus pegang sendiri persoalan dan kesulitannya dan merasa sanggup untuk menyelesaikannya sendiri. Tuhan menuntut kita untuk merendahkan diri. Mari kita datang kepada Tuhan dan mengaku kita tidak bisa mengontrol hidup kita. Banyak hal tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan, banyak hal yang terjadi di luar daripada apa yang kita pikirkan.

Tidak jarang kita yang sudah membuat rencana dan mengatur segala sesuatu dan sudah dengan efisien mengatur, lalu di tengah jalan rencana itu dirombak dan diganggu orang, sekalipun itu mungkin adalah isteri atau anak kita, respon kita bagaimana? Kita akan rasa kesal, marah, terganggu, kita seringkali tidak sabaran menghadapi situasi seperti itu. Bahkan pada waktu hal itu terjadi, kita juga bisa mempersalahkan Tuhan, kita merasa terganggu dengan apa yang terjadi dan kita tidak senang Tuhan melakukan itu kepada kita.

Abraham Maslow memperlihatkan satu kondisi jiwa manusia yang dia sebut “The Jonah Complex” mengacu kepada tokoh Alkitab di Perjanjian Lama yaitu nabi Yunus. Maslow melihat seperti nabi Yunus, ada sejenis orang yang pada waktu dibukakan sesuatu di depan, selalu menanggapi dengan curiga; itulah Jonah Complex. Tuhan bilang kepada Yunus, pergilah ke Niniwe. Dia malah pergi ke Tarsus, jauh dari hadapan Tuhan. Ada orang yang diberi kesempatan, yang dibukakan kesempatan, malah curiga. Demikian Yunus selalu curiga akan apa yang Tuhan mau kerjakan dan curiga akan sifat Tuhan. Setelah akhirnya dia ke Niniwe, lalu mengatakan penghukuman Tuhan akan kota itu, penduduk Niniwe kemudian bertobat, Yunus marah dan berkata, “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyanyang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkanNya” (Yunus 4:2). Yunus seolah berkata kalau memang Tuhan mau mengampuni orang Niniwe itu, buat apa susah-susah suruh saya ke sini, langsung ampuni saja. Dia tidak berbahagia dan senang melihat anugerah pengampunan Allah terjadi kepada kota Niniwe. Tetapi begitu kesenangannya, keinginannya, kenyamanannya terganggu, Yunus menjadi terganggu dan marah kepada Tuhan seperti anak kecil yang mainannya diambil darinya. Dia tidak senang pada waktu melihat penduduk kota Niniwe bertobat; tetapi pada waktu satu pohon jarak tumbuh menaungi dia dari terik matahari, senangnya luar biasa; itu adalah emosi yang sangat bertolak-belakang. Dia tidak senang dengan apa yang Tuhan senang; dia hanya senang apa yang membuat hidupnya nyaman. Ketika Tuhan tiba-tiba membuat matahari bersinar dengan terik dan membuat pohon jarak itu layu dan mati, betapa marahnya Yunus dan saking marahnya dia minta untuk mati saja. Untung Tuhan tidak langsung mengabulkan doanya. Tuhan bilang, apa alasanmu untuk marah sampai seperti itu? Apakah karena kesenanganmu, rencanamu, planning hidupmu, hal-hal yang engkau sudah atur baik-baik, tetapi kemudian tiba-tiba berubah. Kita mudah curiga akan kebaikan Tuhan; curiga Tuhan punya maksud dan rencana yang tidak baik bagi kita. Itu sebabnya kita mau pegang erat-erat untuk kita lakukan sendiri. Maka Petrus menegur, humble yourself in front of God. TanganNya itu luar biasa berkuasa menolongmu. Kadang kita berpikir kita percaya Tuhan tetapi kita tidak mengijinkan Ia masuk dan takluk kepada pengaturan pimpinan Allah atas hidup kita.

Aspek yang ketiga, mari kita melihat pimpinan Tuhan di dalam hidup kita tidak untuk cari tahu apa yang Tuhan mau di depan, apa yang sudah Tuhan rencanakan bagi kita. Dia tidak harus kasih tahu dulu master plan-Nya kepada kita dan minta persetujuan kita. Pimpinan Tuhan bagi hidup kita bicara mengenai kita akan menjadi seperti apa di dalam tangan Tuhan. Di setiap perjalanan Tuhan menyertai hidupmu, Tuhan akan membentuk engkau menjadi seperti apa? Ini lebih penting daripada kita terus ingin mencari tahu Tuhan buka di depan itu apa. Kalau Tuhan buka semua di depan akan seperti apa, kita mungkin akan kaget dan takut. Kita hanya mau semua berjalan lancar tetapi asal Tuhan pimpin di depan seperti apa. Ketika Tuhan menuntun dan memimpin saya, saya akan setia berjalan di dalam firmanNya. Bisa jadi di tengah perjalanan itu kita mengalami hal-hal yang bisa menghambat dan memperlambat perjalanan untuk sementara saja, atau mungkin membuat perjalananmu sedikit berbelok dari planning semula. Tetapi engkau akan tetap sampai jikalau di dalamnya ada direksi yang benar, ada ketaatan dan self-control, ada hati yang sabar, dengan konsisten ingin sampai ke tujuan dan ada alertness di dalam perjalanan itu.

Dalam surat Efesus Paulus berkata, “Karena itu perhatikanlah dengan saksama bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal tetapi seperti orang arif dan pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur karena anggur menimbulkan hawa nafsu tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh” (Efesus 5:15-18). Inilah pimpinan Allah, yaitu berarti Roh Allah akan menuntun kita melalui firmanNya. Tetapi pada waktu Ia menuntun, ada beberapa hal yang penting Paulus bilang di sini, yaitu alert, perhatikan dengan saksama bagaimana engkau hidup. Paulus ingatkan jangan mabuk oleh anggur; ada self-control di situ, itu reaksi yang perlu dalam setiap hal yang terjadi. Self-control, patience, alertness. Maka pada waktu saya ambil keputusan dan pada waktu saya ikut Tuhan, sebagai orang Kristen, sebagai anak Tuhan, saya minta Tuhan pimpin saya ambil keputusan sebagai anak Tuhan yang penuh dengan bijaksana. Di situ berarti saya tahu membedakan apakah ini keputusan yang berkaitan dengan kebenaran, kesucian dan kekudusan, atau tidak? Jikalau tidak sama sekali, saya tidak akan ambil keputusan itu karena di situlah saya tahu di situlah saya ada self-control dan saya dipimpin Tuhan dengan waspada. Itulah sebabnya pada waktu sdr ingin memutuskan sesuatu, mungkin tidak berkaitan dengan kesucian dan kebenaran, kalau itu tidak suci, jelas saya tidak akan ambil; kita tidak boleh ambil. Jikalau itu adalah tindakan injustice, unrighteous, sesuatu tidak benar, satu tindakan yang merugikan dan mencelakakan orang lain, kita harus kesampingkan itu dan tegas tidak akan ambil bagian di situ. Ketika Tuhan taruh kita pada posisi tertentu maka kita akan jalani dan lakukan seturut dengan kekudusan dan kebenaran Tuhan.

Yang kedua, ada keputusan dan pertimbangan yang kita ambil mungkin tidak berkaitan dengan hal seperti itu tetapi sdr dan saya dituntut sebagai orang yang penuh dengan bijaksana yang Tuhan beri kepada kita. Dari situ kita bisa lihat anak-anak Tuhan tidak berkaitan dengan berapa besar gelar, jabatan dan kepintaran dia, kita bicara orang itu takut akan Tuhan menjadi awal daripada bijaksana itu. Dalam beberapa suratnya Paulus memberikan prinsip ini: pertama, apakah setiap keputusan yang engkau ambil memuliakan Tuhan atau tidak? Yang ke dua, apakah setiap keputusan itu bermanfaat atau tidak? Yang ke tiga, apakah keputusan yang akan engkau ambil itu tidak akan menjerat engkau satu kali kelak ke depannya? Yang ke empat, apakah keputusan itu menjadi teladan dalam arti kata dia tidak menjadi batu sandungan bagi orang Kristen yang lain? Jikalau jawabannya semua adalah ya, maka kita ambil keputusan itu dengan tenang dan lega. Pada waktu kita berjalan dengan sabar, dengan self-control, kita akan menjadi orang yang berbeda pada waktu di dalam perjalanan itu ada hambatan, ada kesulitan, ada tantangan, ada penderitaan, ada hal-hal yang tidak terduga terjadi. Kita tidak menjadikan itu semua sebagai hal-hal yang merugikan kita. Tetapi jikalau kita tidak punya kesabaran, kita tidak alert, dan kita tidak mempunyai self-control ngotot pokoknya kita harus sampai di situ, kita akan menjadi orang Kristen yang tidak sabaran, mungkin kita annoyed akhirnya selamanya kita akan seperti itu, sampai akhir tetap menjadi orang yang tidak menjadi orang yang Tuhan bentuk seperti apa. Biarlah pengertian seperti ini menjadi pengertian yang menuntun hati kita dengan indah dan dengan lega pada waktu kita berjalan; bukan karena kita tahu hidup kita akan berjalan lancar, atau kita pasti akan berhasil di depan, tetapi karena kita tahu tidak ada hal yang terlewatkan dan yang tidak akan Tuhan tidak kerjakan dalam hidup kita sesuai dengan rencanaNya.(kz)