So This is Your Life [7]

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: So This is Your Life [7]
Tema: Embrace the Limitation
Nats: Yakobus 4:13-17

Hari ini kita masuk kepada tema yang ke tujuh, “Embrace the Limitation,” peluk erat-erat keterbatasan kita. Yakobus 4:13-17 menjadi pengantar bagi kita memasuki tahun yang baru ini. “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu. Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. Jadi jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”

Pada waktu kita bertemu dengan anak muda, atau pada waktu kita bercakap-cakap dengan anak kita bicara soal rencananya, apa cita-citanya, pekerjaan yang akan diambilnya, apa yang menjadi rencana hidupnya, apa yang menjadi keinginan hatinya, maka pertanyaan yang sering kita katakan kepada anak-anak kita: what is your passion? Apa yang menjadi hasrat dan keinginanmu? Lalu kita dorong mereka mengerjakan itu. Tetapi bukankah harus kita akui, tidak setiap orang mempunyai kesempatan untuk mengerjakan sesuatu berdasarkan apa yang menjadi passion dan keinginannya? Bukankah ada begitu banyak orang mengatakan bahwa mereka terperangkap untuk melakukan pekerjaan yang tidak menjadi passion mereka, pekerjaan yang mereka harus lakukan semata-mata untuk menjadi nafkah mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari? Begitu banyak orang merasa hidup ini tidak berarti, hidup ini tidak ada gunanya, mereka merasa bosan dan jenuh oleh sebab merasa diwajibkan dan dipaksa oleh situasi dan keadaan untuk melakukan sesuatu yang bukan menjadi passion dan kesukaannya. Sehingga orang-orang seperti ini lalu kemudian berpikir, seandainya mereka bisa mengerjakan sesuatu, jikalau mereka bisa mendapatkan banyak uang atau jikalau mereka bisa mengejar sesuatu yang seturut dengan passion dan keinginannya, maka mereka akan happy, mereka akan bahagia, mereka akan free, mereka akan mengalami yang namanya self-fulfilment, self-achievement. Wouldn’t it be nice, kalau mendapatkan itu semuanya? Maka orang membeli lotto sambil bermimpi: “Believe in something bigger,” “Life changing,” “The world is your playground,” “Give your dreams a chance,” “Make your dreams happen, you can do this!” Segala macam slogan dibuat untuk orang-orang yang bermimpi kalau mereka menang mereka akan bisa melakukan apa yang menjadi hasrat dan keinginan mereka.

Memang betul kita akui kalimat “kejar hasratmu, fokus kepada apa yang menjadi keinginanmu,” kalimat-kalimat seperti itu pada dirinya sendiri adalah netral adanya. Bahkan kita bisa melihat orang-orang yang mengejar hasrat dalam hidup ini, orang yang fokus kepada apa yang menjadi keinginannya, mereka bisa menjadi orang-orang yang menghasilkan sesuatu dalam hidup ini. Sedangkan orang-orang yang sama sekali tidak mempunyai hasrat, yang hanya berjalan seturut dengan apa yang ada di hadapannya, mungkin mereka menjadi orang-orang yang sampai akhir tidak pernah menghasilkan sesuatu yang berarti. Sebagai orang Kristen, pada waktu kita melihat dari satu perspektif bagaimana hidup kita dalam relasi kita dengan Tuhan sebagai orang percaya dan orang Kristen, kita tahu kita hidup dalam dunia ini dengan memahami bahwa kita adalah karya buatan tangan Allah, yang diciptakan sebagai manusia baru di dalam Yesus Kristus, yang hidup kita sebagai anak-anakNya adalah hidup untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya bagi kita. Allah mau kita menghidupi dan menjalaninya dengan setia dan tekun di situ (Efesus 2:10). Dan bukankah kita mengetahui pada waktu Tuhan Allah menciptakan manusia pertama di taman Eden, Allah memberikan passion itu, desire itu? Allah memberkati mereka dan berfirman, “Beranak-cuculah dan bertambah banyak. Penuhilah bumi dan taklukkanlah bumi ini. Berkuasalah atas semua ciptaan yang lainnya” (Kejadian 1:28). Dalam Kejadian 2:15-17 Allah secara spesifik menempatkan Adam dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Allah berkata kepadanya: Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas. Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu janganlah kau makan buahnya. Adam seharusnya melihat kebebasan dan keleluasaan yang Allah berikan ketika Allah berkata seperti ini kepadanya, Semua yang ada di taman ini, semua yang kamu mau di dalam taman ini boleh engkau makan dengan bebas. Allah tidak pernah melarang hal itu, bukan? Kerjakan dan lakukan, usahakan dengan sebaik mungkin dan sekuat tenagamu. Tetapi di dalamnya ada satu perintah Tuhan dan perintah itu menjadi hal yang penting di dalam taman Eden: semua pohon di taman ini dan buahnya yang begitu indah boleh kamu makan, hanya satu buah pohon yang engkau tidak boleh makan yaitu pohon pengetahuan baik dan jahat, jangan engkau makan. Kenapa tidak boleh dimakan? Sebab Tuhan Allah mengatakannya kepadamu. Dan pohon itu menjadi perwakilan apakah kita mendengarkan dan taat kepada suara firman Tuhan atau tidak; apakah kita takluk kepada Tuhan sebagai ciptaanNya? Kisah ketidak-taatan dan kejatuhan manusia dari Kejadian 3 menjadi kisah yang tidak akan berhenti terus berlanjut dalam hidup kita; dalam hidupku yang dulu, bisa terjadi dalam hidupku yang sekarang, dalam hidupku yang akan datang. Kita harus menjadi anak Tuhan yang menyadari sebagai orang yang tidak sempurna yang telah jatuh di dalam dosa tetapi yang dicintai dan dikasihi oleh Tuhan, maka passionku harus senantiasa disucikan, keinginanku itu harus terus dimurnikan oleh Tuhan. Tidak ada yang salah dengan desire dan passion karena itulah bensin dan api yang mendorong dan membakar semangat hidup kita. Jikalau itu tidak ada, kita tidak memiliki gairah untuk hidup. Api itu bisa menjadi api yang membakar dengan pas kalau dia menyala dengan benar. Tetapi api itu bisa menjadi api yang membakar dan menghanguskan jikalau kita tahu kita tidak sanggup bisa mengontrol api itu di dalam hidup kita.

Maka sebagai anak Tuhan, hidup kita adalah hidup yang baru yang telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus Kristus, kita punya purpose atas hidup ini yaitu kita mau memuliakan Allah dan menikmati Allah, itulah tujuan utama hidup kita di dunia ini. Saya percaya, prinsip ini tidak pernah menjadi populer dan tidak akan pernah kita dengar di luar dari dinding gereja, yaitu aku tahu tujuan hidupku dalam dunia ini aku mau apapun yang aku pikirkan, apapun yang saya kerjakan, Tuhan yang aku muliakan dan agungkan. Itulah motivasi yang kita minta Tuhan senantiasa sucikan dan murnikan. Pada saat yang sama kita senantiasa harus menyadari ada suara-suara yang lain, ada ambisi yang tidak benar, ada api yang ingin menarik kita untuk keluar dari ambisi yang murni itu. Itulah sebabnya Yakobus mengatakan apa yang sedang terjadi dalam hatimu yang saling berperang, itu adalah evil desire yang harus kita bereskan di hadapan Tuhan. Sehingga pada waktu kita katakan biar passion itu mendorong kita, tidak salah. Hidup kita didorong oleh passion itu. Tetapi bisa jadi pada waktu kita berjalan, kita menyadari passion yang mendorong kita seringkali bukanlah passion yang benar dan yang disucikan Tuhan, tetapi lebih merupakan keinginan dan desire yang dikuasai oleh hawa nafsu yang jahat. Kita menyadari itu. Justru itu yang sering menjadi suara yang lebih dominan di dalam hidup kita karena kita manusia yang telah jatuh ke dalam dosa adanya.

Yakobus 4:13-17 menjadi satu perikop yang sangat penting bagi setiap kita sebagai anak Tuhan untuk mengoreksi hati kita di hadapan Tuhan. Ia mulai dengan satu frase dengan tone seperti seorang ayah menegur anaknya, “Now listen,” atau “Come now,” atau “Jadi sekarang.” Dengan nada seperti ini dia seperti menarik anak yang mulai menyeleweng dan membelok dari jalannya untuk kembali kepada jalan semula. Jangan hanya mengatakan dirimu seorang pengikut Tuhan, tetapi adakah hidupmu sungguh-sungguh berjalan di dalam jalan Tuhan? Yakobus di sini secara spesifik berbicara kepada anak-anak Tuhan yang melakukan perencanaan dalam hidup mereka ke depan. “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung,” sangat besar kemungkinan mereka adalah pedagang yang hendak mengembangkan bisnis ke kota lain. Yakobus bukan menegur orang-orang ini membuat perencanaan bagi bisnis mereka, juga bukan menegur keinginan mereka mendapat untuk dalam bisnis. Adalah keliru kalau kita bilang Yakobus melarang orang Kristen membuat perencanaan buat masa depan. Malah sebagai orang Kristen sepatutnya kita menjadi penatalayan yang bijaksana dalam menjalani hidup kita dengan perencanaan dan perhitungan yang sebaik mungkin. Yakobus menegur orang-orang ini karena sikap mereka yang arogan dan sombong, seolah-olah mereka punya kekuatan dan kuasa untuk mengatur hidup mereka di depan. Yakobus mengingatkan sebagai anak Tuhan, kita tidak memilah hidup kita mana yang sakral dan mana yang sekuler. Kita tidak boleh menjalani hidup dengan sikap yang dualisme seperti itu. Sangat sedih melihat banyak orang Kristen hanya menjadi Kristen ketika dia berada di dalam gereja, tetapi begitu masuk ke dalam bisnis, ketika berdagang dan berjual-beli, mereka sama sekali tidak menunjukkan diri sebagai orang Kristen yang sungguh.

Ada dua hal yang kita lihat di sini, Yakobus bilang, “kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Hal yang pertama, kita melihat betapa rentannya hidup manusia itu, dan bukan hanya rentan tetapi juga betapa tidak pastinya masa depan itu. Dengan sekejap saja sakit penyakit, kecelakaan, malapetaka dan kesulitan bisa mendatangkan kematian yang mendadak dan tidak terduga. Hidup ini apa artinya? Hidup ini hanya sementara, seperti uap yang sebentar ada lalu segera lenyap. Yang kedua, Yakobus ingatkan justru di dalam kerentanan hidup ini kita harus senantiasa meletakkan hati dan hidup kita kepada Allah yang berdaulat dan berkuasa penuh atas hidup kita dan jalannya dunia ini.

Saya tidak minta sdr menjadi orang yang optimis, saya juga tidak minta sdr menjadi orang yang pesimis; saya meminjam istilah dari seorang hamba Tuhan, Craig Hamilton, jadilah orang Kristen yang hopetimis, apa artinya? Hopetimis adalah sikap optimis yang rasional. Ada dua alasannya. Pertama, kita menjalani hidup hopetimis karena kita tahu jelas pertandingan kita sudah dimenangkan di depan oleh Yesus Kristus sekalipun kita belum melihatnya, sekalipun kita tidak mengalaminya, sekalipun pertolongan Tuhan tidak datang; seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego berkata, “Allah yang kami sembah itu sanggup dan dapat melepaskan kami dari bara api ini. Tetapi jikalau hari ini Ia tidak melepaskan kami, kami tetap tidak akan menyembah dewamu itu” (Daniel 3:17-18). Sekalipun dihadapkan dengan ancaman raja Nebukadnezar waktu itu, mereka tidak undur sebab hidup mereka berharap kepada pengharapan yang tidak kelihatan. Di depan kita jelas sudah ada berkibar bendera kemenangan karena Yesus Kristus Tuhan kita sudah menang. Yang kedua, kita percaya Allah kita adalah Allah yang berdaulat. Tidak ada hal yang terjadi di dalam hidup kita yang di luar pengetahuan dan ijin Allah. Kita tidak bisa melihat hal itu dengan mata jasmani kita, tetapi kita bisa melihat dengan kagum betapa ajaib pengaturan Allah yang sempurna bagi alam semesta ini. Pengaturan dari bumi ini begitu indah dan teratur. Allah kita berdaulat dan berkuasa. Ia bisa membuat segala sesuatu bekerja mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang bersandar dan percaya kepadaNya (Roma 8:28). Ia in control dalam hidup kita. Maka kita hopetimis. Sekalipun kita berencana, kita lakukan, dan akhirnya gagal, tidak apa-apa, selama kita tidak memikirkan evil desire, itu tidak membuat kita menjadi benci dan marah karena kita tidak dapatkan itu; kita tidak menjadi iri hati kenapa orang lain dapat. Tidak usah menjadi orang Kristen yang seperti itu. Mari kita buang semua emosi yang tidak membangun itu. Hiduplah penuh dengan sukacita, kita jalani tahun yang baru ini dengan spirit yang seperti itu. Yang kedua, karena saya tahu Yesuslah Juruselamat dunia ini, bukan saya juruselamat keluargaku, bukan saya juruselamat rumahku, bukan saya juruselamat gerejaku, bukan saya juruselamat pelayananku. Bukan saya juruselamat dunia ini. Saya tahu kadang-kadang passion, keinginan kita, kita ingin mengerjakan segala sesuatu, kita mau lakukan segala sesuatu, tetapi kita terbatas adanya. Kita harus ingat kita bukan juruselamat. Ketika kita membaca kitab Injil, kita sungguh heran melihat pelayanan Yesus keta Ia berjalan di atas muka bumi ini. Tidak semua orang sakit Dia sembuhkan, tidak setiap hari Dia melakukan mujizat. Waktu Lazarus meninggal dunia, Yesus baru tiba setelah 4 hari kemudian. Yesus datang sebagai bayi yang lemah, Ia menjalani hidup sebagai manusia biasa. Tetapi hanya Dia yang dunia ini butuhkan. Ia telah bangkit, Ia telah menang atas kematian. Musuh kita yang paling terakhir yaitu kematian telah dikalahkan oleh Yesus Kristus. Dua hopetimis ini yang harus memimpin perjalanan hidup engkau dan saya. Di situlah artinya kita menerima keterbatasan kita dengan tangan terbuka, supaya kita melihat kuasa yang tidak terbatas itu ada pada Kristus dan bukan pada diri kita. Yesus adalah Juruselamat yang dibutuhkan oleh dunia ini. Seringkali seorang hamba Tuhan masuk ke dalam ladang pelayanan dengan hati dan motivasi yang sangat suci dan murni. Tetapi sampai satu titik, kita harus ingat kita terbatas adanya: bukan pelayananku, bukan pengorbananku, bukan apa yang kita kerjakan, bukan semua yang kita bisa lakukan. Kita tidak sanggup menyelamatkan dunia. Dunia ini memerlukan Yesus, Tuhan dan Juruselamat.

Hari-hari ini kita menangis melihat api itu begitu dahsyat membakar Australia. Orang bertanya, apa yang perlu kita kerjakan? Kita hanya bisa berdoa kepada Tuhan. Kepada orang yang sinis, saya balik bertanya, kalau begitu, apa yang engkau lakukan? Engkau memarahi Scott Morrison karena dia perdana menteri? Apa yang bisa dia kerjakan? Ada hal bencana kita tidak bisa kontrol. Yang bisa kita lakukan adalah meminimalkan supaya bencana itu tidak meluas kemana-mana. Dan kadang-kadang kita hanya bisa menangis sedih karena kita tidak berdaya. Itulah artinya kalau kita katakan kita embrace our limitation. Dalam skala yang kecil, hal yang bisa terjadi dalam hidup kita, banyak hal yang di luar dari kekuatan dan kemampuan kita mengaturnya. Sekalipun kita sudah atur dan rencanakan, bisa saja gagal di tengah jalan. Pada waktu hal itu tidak tercapai, mari kita tidak menghasilkan reaksi emosi yang merusak hidup kita. Kemarahan, kebencian, iri hati, dengki, lalu kemudian fokus kepada diri sendiri. Kita harus selalu ingat kita bukan Tuhan. Dalam pelayanan, ketika orang mulai sukses, sukses dan terus sukses, kita harus ingat kita bukan Tuhan. Tuhan itu yang besar, Tuhan itu agung dan mulia. Kita begitu kecil dan lemah, kita bisa salah di dalam perkataan dan perbuatan kita dan terlebih lagi apa yang ada di pikiran kita. Kita tidak bisa mempertuhankan diri, hanya caraku yang paling benar; hanya perkataanku yang harus engkau pegang.

Yang terakhir, embrace the limitation. Itu berarti ketika kita menjalani hidup ini ada hal yang tidak bisa kita percepat. Ada hal yang kita harus tahu, kita jalani di dalam seasons. Eugene Peterson seorang hamba Tuhan berkata dosa yang terus menerus berulang dari diri banyak hamba Tuhan adalah ketidak-sabaran. Saya pikir, dosa yang paling sering dilakukan oleh banyak orang tua juga sama, bukan? Kita tidak sabar; kita selalu mau mempercepat sesuatu yang sebenarnya tidak bisa kita percepat. Sebaliknya kita juga tidak boleh memperlambat sesuatu yang seharusnya berjalan secara normal dan season. Menyadari keterbatasan kita, kita hidup di dalam keterbatasan masa dan waktu. Ada waktu yang mengikat kita, karena kita bukan Tuhan. Ada jarak yang membatasi kita, kita tidak bisa hadir dimana-mana. Ada hal yang kita kerjakan hanya moment itu, dan kita tidak bisa melakukan segala sesuatu sekaligus. Apalagi sebagai pria, saya tidak bisa multi-tasking. Kita manusia yang terbatas. Kadang kita harus belajar let go. Tanaman yang ditanam, tanahnya perlu dipupuk dan digemburkan, dia perlu disiram, akarnya biar bertumbuh kuat, rumput liar perlu dicabut, kita tunggu buahnya keluar untuk kita panen. Jangan menjadi orang yang tidak sabaran dan tergesa-gesa dalam hidup ini. Ambil keputusan hari ini bukan siapa yang paling cepat, paling hebat dan paling sukses. Hidup kita tidak didefinisikan oleh hal itu. Ambil keputusan, menjadi the last man standing. Hidup seperti itu. Susah, berat, biar kita yang terakhir. Kalau perlu menjadi tentara yang paling terakhir berjuang. Mari mulai hari ini kita ambil keputusan seperti itu. Itulah artinya kesabaran dan ketekunan. Mari kita lakukan secara konkrit. Itu yang kita katakan sebagai komitmen, kita selesaikan sampai habis. It is easy to give up; it is easy to burn out; it is easy to leave and abandon. Tetapi mari kita tidak menjadi lemah dan goyah. Kita minta Tuhan memelihara hati kita untuk tekun sampai akhir. Pelayanan berarti kita menolong orang, kita menjadikan orang itu tumbuh dan menjadi besar dan menjadi lebih baik. Itu namanya kita mengerti apa artinya kita melayani. Tetapi hati-hati pada waktu kita ingin mendapat pujian dan nama kita dikenal orang. Pada waktu kita merasa kita yang paling baik dan paling berjasa di dalam kerajaan Allah. Apa yang salah di situ? Kalau kemudian ada orang menggantikan pelayanan kita, apakah lalu kita marah dan tidak senang? Apakah kemudian kita berpikir ‘biarin, kita lihat saja, apa dia bisa lakukan lebih baik daripada saya?’ Dan ternyata yang dia lakukan lebih baik hasilnya. Dan itu semakin membuat hatimu panas dan marah. Jangan seperti itu. Biar orang lain juga bertumbuh dan dewasa, dan kalau bisa kalau dia tidak mampu, kita siap menolongnya. Kalau sudah kita bantu, dia masih tidak bisa, kita turun tangan, dengan sikap biar aku yang paling akhir. Minta Tuhan menjaga hati kita dan menolong kita dalam hal ini. Biar hati kita menjadi teduh dan melimpah dengan syukur pada waktu kita mendengarkan panggilan Tuhan, pada waktu kita diingatkan bahwa hidup di dunia ini hanya sementara seperti uap yang ada dan berlalu begitu cepat segera hilang dan lenyap. Biar kita disadarkan hanya Tuhan yang besar, yang agung, yang ada selama-lamanya, yang tidak pernah berubah, yang kuasa dan kasihNya melampaui keterbatasan kita. Mari serahkan hidup kita di depan demi hormat kemuliaan bagi Allah saja.(kz)