So This is Your Life [6]

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: So This is Your Life [6]
Tema: Passion and Ambition
Nats: Yakobus 4:1-3

Saya percaya dalam kemajuan teknologi seperti sekarang ini, kita bisa mendapatkan begitu banyak buku motivasional, begitu banyak kisah inspirasional, begitu banyak kutipan dari berbagai orang yang sukses di bidangnya masing-masing yang bisa mendorong dan menggairahkan kita, dan juga menjadi arah dan panutan bagaimanakah kita mendefinisikan hidup yang berhasil, mengerti apa yang menjadi tujuan daripada hidup kita. Tidak ada habis-habisnya kita akan mendapatkan resources seperti itu. Tetapi pertanyaan yang paling penting adalah apakah semua pemahaman dan pengertian kita mengenai tujuan dan nilai daripada hidup kita, kita mengerti dan memahaminya seperti apa yang Alkitab secara biblikal mengajarkan kepada kita? Sebagai orang Kristen kita harus mengasah kembali, memperbaiki kembali dengan jelas bagaimana kita mengerti apa artinya hidup yang berarti, hidup yang sukses; pelayanan yang berarti, pelayanan yang sukses; keluarga yang berarti dan keluarga yang sukses dari pengertian dan perspektif bagaimana Tuhan memandang dan melihatnya. Yesus memberikan satu prinsip yang jelas: apa gunanya seseorang memperoleh segala sesuatu di dalam dunia ini tetapi dia kehilangan hidup di hadapan Allah? (Matius 16:26). Semuanya itu menjadi tidak ada artinya. Alkitab mengajarkan engkau dan saya melihat hidup kita dari sudut pandang atas, bukan dari sudut pandang bagaimana kita membandingkan dengan hidup orang lain dan bukan dari sudut pandang bagaimana orang memandang hidup kita. Karena kalau kita melihat hidup dari perspektif horisontal, tidak akan ada habis-habisnya kita akan berusaha menjalani hidup kita seturut dengan bagaimana sikap dan pandangan orang itu dan akhirnya kita tidak ada habis-habisnya dan henti-hentinya penuh dengan kemarahan, kekuatiran, iri hati, kecewa, sedih, dsb sebab kita tahu semua itu tidak akan pernah memuaskan kita.

Hari ini kita masuk kepada tema yang ke enam, “Passion and Ambition,” hasrat dan ambisi. Kira-kira kalau pakai ilustrasi perjalanan, kita sedang bicara gas dan rem. Ketika kita mengendarai mobil, selain tahu kemana tujuannya, selain kita persiapkan dan sediakan apa yang kita perlukan sepanjang perjalanan itu, kita juga perlu mahir bagaimana mengerti dalam perjalanan itu ada saatnya kita meng-gas, ada saatnya kita perlu slow down dan menggunakan rem. Kita seringkali ingin cepat-cepat jalan maju, kita tidak suka berlambat-lambat. Kita pesan ke pabrik mobil, mobil khusus yang tidak ada rem. Gas saja. Pokoknya gas teruuuss! Tidak bisa seperti itu. Ambisi dan passion itu harus berjalan seimbang dalam hidup kita.

Markus 10:35-45 mencatat tentang Yakobus dan Yohanes datang kepada Yesus dengan satu permintaan khusus. Yesus bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?” Mereka meminta duduk dalam kemuliaan Kristus kelak, di sebelah kanan dan kiri Yesus. Apa maksud mereka meminta seperti itu? Saya percaya, permintaan mereka untuk menjadi orang yang duduk di sebelah kanan dan kiri Tuhan bukan sebagai satu ambisi jabatan, tetapi satu keinginan, desire, ambisi untuk kemuliaan nama Tuhan. Kami mau besar, kami siap berkorban, kami siap minum cawan penderitaanTuhan. Salahkah keinginan seperti itu? Bahaya, tidak? Kita tahu tidak salah untuk memiliki hasrat dan ambisi untuk melakukan hal-hal yang besar dan agung bagi Tuhan. Itu ambisi daripada Yakobus dan Yohanes. Yesus katakan, kamu memang akan meminum cawan penderitaanKu, tetapi soal duduk di sebelah kanan dan kiriKu bukan Aku yang menentukannya. Itu diberikan oleh Bapa kepada orang itu. Artinya, engkau tidak bisa meminta hal-hal seperti itu. Yesus mengingatkan murid-muridNya, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah dia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.”
Saya tidak mengatakan bahwa passion dan ambition adalah sesuatu yang salah. Tidak ada orang menjalani hidup tanpa didorong oleh cita-cita, hasrat dan keinginan karena itu seperti bensin dalam hidup kita, karena itulah yang membakar semangat hidupmu. Saya percaya kita akan pusing tujuh keliling kalau ketemu dan bicara dengan seseorang, lalu kita tanya apa yang dia mau, apa yang menjadi tujuan, apa yang menjadi keinginannya, jawabannya semua penuh dengan kelesuan, tidak tahu mau apa. Bahkan ditanya mau makan apa, juga tidak tahu. Kita akan frustrasi ketemu dengan orang seperti ini. Kalau orang itu bercahaya matanya, orang itu energik hidupnya, karena apa? Karena ada passion, ada desire, ada keinginan.

Alkitab tidak bilang bahwa kita tidak boleh punya desire, ambition and passion. Alkitab hanya bilang, hati-hati dengan evil desire. Alkitab hanya bicara hati-hati dengan passion yang bisa membakarmu. Maka hasrat dan ambisi itu seperti api yang Tuhan kasih. Yang terutama kita minta Tuhan memberi kita bijaksana memelihara api itu sehingga dia tetap membakar di dalam hidup kita, yang menggerakkan kita sehingga kita cinta Tuhan, api itu tidak padam, dan api itu juga tidak membakar hidup kita. Itu yang paling penting.

Yakobus 4:1-3 berkata, “Darimanakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh. Kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.”

Di sini Yakobus memberitahukan ada tiga hawa nafsu evil desires yang seringkali men-drive hidup orang. Yang pertama, hal yang seringkali men-drive orang adalah kemarahan dan kebencian. Kalau orang tua terus mengatakan anaknya, ‘dasar loser, engkau tidak berarti dan tidak berguna’ barangkali sesudah besar dia bisa jadi orang sukses, tetapi kesuksesannya didorong oleh kemarahan dan kebencian. Dia memperoleh segala sesuatu, dia meraih kesuksesan, tetapi dia menjelma menjadi monster. Orang yang terus kita hina, kita katakan dia tidak berarti dan tidak berguna, temanmu yang sering engkau ejek dan cemooh di sekolah, kadang dia menjadi orang yang hidup dalam kemarahan dan kebencian. Yang kedua, evil desire itu adalah melihat orang lain punya sedangkan engkau tidak punya, akhirnya menjadikanmu iri dan dengki. Sekalipun kita memperoleh bagian kita, tetap itu tidak membuatmu senang karena berpikir ada orang lain mendapat yang lebih banyak. Begitu banyak orang hidup dengan ambisi yang didorong oleh dengki dan iri seperti itu. Yang ketiga, Yakobus bilang sekalipun engkau berdoa, engkau tidak memperoleh apa-apa. Kenapa? Karena motivasimu salah, kata Yakobus, sebab yang kamu minta itu hanya untuk memuaskan hawa nafsumu. Apakah tiga ambisi ini tanpa sadar sudah menjadi hal yang membakar hidup kita menjadi rusak dan hancur adanya?

Kisah hidup dari raja Hizkia yang dicatat di 2 Tawarikh 32:24-31 mengajarkan kepada kita di antara sukses mendapatkan apa yang dia inginkan, merendahkan diri menantikan pertolongan Tuhan, tetapi di tengah jalan dia lupa bahwa semua yang dia miliki datangnya dari Tuhan dan bukan dari dirinya sendiri. Setelah mengalami mujizat kesembuhan itu pada akhirnya Hizkia menjadi tinggi hati dan sombong oleh karena segala kesuksesannya yang luar biasa. Ketika rombongan utusan raja Babel datang, maka dia mempertontonkan segala perbendaharaannya kepada mereka. Lalu setelah utusan-utusan itu kembali ke Babel, datanglah nabi Yesaya dan berkata betapa bodohnya engkau. Mengapa engkau memperlihatkan semua itu? Hanya karena engkau ingin memperlihatkan semua hasil pencapaianmu, kehebatanmu, kesuksesanmu, kebesaranmu? Engkau lupa, ketika engkau sakit, Tuhan menolongmu. Engkau berdoa berseru, Tuhan mendengar doamu dan menyembuhkanmu. Semua yang engkau dapat ini adalah berkat dari Tuhan kepadamu. Tetapi kenapa engkau anggap itu menjadi milikmu? Maka semua yang dilihat oleh raja Babel suatu hari kelak akan diangkut ke Babel. Dan bagaimana reaksi raja Hizkia mendengar hal ini? Sangat menyedihkan. Dia cuek saja mendengar nubuat nabi Yesaya. Hizkia menjawab kepada nabi Yesaya, “Sungguh baik firman Tuhan yang engkau ucapkan itu!” Tetapi pikirnya: asal ada damai dan keamanan seumur hidupku! (2 Raja 20:19). I don’t care about the future.

Kisah ini menjadi menarik dan penting, menjadi satu refleksi bagi kita. Banyak hal Hizkia tahu yang dikerjakan dalam hidupnya dia tidak bisa kontrol, salah satunya adalah dia sakit keras dan hampir mati. Alkitab mencatat dengan tangisan dan air mata dia berseru minta belas kasihan Tuhan menyembuhkan dia. Dan Tuhan melihat kerendahan hatinya mengaku sekalipun dia seorang raja, dia tidak sanggup menolong dirinya sendiri. Bukankah sebagai raja, dia punya banyak tabib yang pandai dan pengobatan yang canggih, dia punya resources dan ability mendapatkan apa saja yang terbaik pada waktu itu? Kita orang biasa sakit dan mati karena tidak mampu mendapatkan pengobatan. Hizkia hanya bisa berdoa dan Tuhan memberikan anugerah kesembuhan kepada dia. Tetapi perjalanan hidupnya setelah itu kemudian dia lupa berterima kasih, dia menjadi angkuh dan sombong. Dia lupa, ketika dia sakit, Tuhan menolongnya. Dia berdoa berseru, Tuhan mendengar doanya dan menyembuhkannya. Semua yang dia dapat adalah berkat dari Tuhan kepadanya. Dia lupa semua itu. 2 Tawarikh 32:31 berkata, “Ketika itulah Allah meninggalkan dia untuk mencobainya supaya diketahui segala isi hatinya.” Adakalanya Tuhan berdiam diri, Tuhan tidak melakukan apa-apa hanya untuk mencobai apa yang menjadi kondisi hatimu. What is the condition of your heart? Persoalan hati secara internal tidak bisa dilihat oleh orang lain, ini hanya bisa dilihat oleh Tuhan sendiri. Orang luar hanya melihat apa nampak di permukaan, hanya Tuhan yang melihat hati.

Yesus mati di kayu salib adalah sebuah kegagalan di mata orang, bukan? “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” Itulah pandangan orang Yahudi kepada Yesus Kristus. Tetapi hanya mata rohani yang bisa melihat bahwa salib itu adalah kematian kemenangan. Diberkatilah orang yang bersandar pada kayu salib Kristus. Salib Kristus bukan satu kegagalan, tetapi satu kemenangan. Kita takut dipandang gagal; kita takut dilihat tidak sukses dalam banyak hal. Termasuk di situ mungkin dalam hal membesarkan anak sehingga kita terus mendesak dan mendorong anak kita terus memperlihatkan prestasi yang terbaik. Ketika dia gagal di dalam ujian satu subjek bidang studi saja, kita sudah menganggap dia gagal, padahal itu cuma satu titik dari perjalanan hidupnya masih begitu panjang. Tetapi satu titik yang seperti itu tidak boleh mendefinisikan bahwa dia sudah gagal. Gagal di dalam pekerjaan, membuat engkau takut luar biasa. Gagal di dalam pelayanan, membuat engkau tidak berani melangkah lagi.

Yesus berjalan melayani pada pagi hari, siang hari Dia duduk dan beristirahat di tepi sumur karena Dia kelelahan. Dia mengikuti ritme kehidupan yang memberitahukan Dia datang sebaga manusia 100% adanya, maka Dia terbatas dengan dimensi ruang dan waktu. Dia terbatas dengan lokasi, dia terbatas dengan durasi waktu. Dia juga terbatas dengan resources dan kesempatan. Tidak semua orang sakit Dia sembuhkan; tidak setiap hari Dia melakukan mujizat walaupun dia sanggup dan mampu. Ketika Dia turun menjadi manusia, Dia manusia 100%. Kenapa Yesus harus tinggal dan berdiam sebagai seorang tukang kayu di kota kecil Nazaret selama 30 tahun pertama hidupNya, dan Ia melakukan pelayanan bagi Injil dan bagi keselamatan manusia hanya tiga tahun? Kita akan berpikir kalau Yesus memulai pelayananNya sepuluh tahun lebih awal, Ia akan mencapai maksimal bagi pekerjaan dan maksimal bagi Injil dan Kerajaan Allah dan masih banyak tempat yang pasti Dia akan pergi dan jalani dan lebih banyak orang sakit Dia sembuhkan, orang mati Dia bangkitkan. Kenapa sebelum Yesus naik ke atas kayu salib, Dia tidak berdiri di depan Bait Allah lalu kemudian memakai kesempatan itu untuk menawarkan Injil kepada orang sebanyak-banyaknya di dalam limitasi waktu yang ada? Kenapa justru Yesus menghabiskan minggu terakhir hidupNya dengan duduk makan di tengah-tengah orang yang dekat denganNya? Ketika kita didorong oleh hasrat tidak ingin gagal, tidak mau dipandang gagal, kita memaksa diri kita bahwa kita itu harus sukses dan celakanya ketika kita dapatkan dan kita kejar itu semua habis-habisan, seringkali tanpa sadar kita menjadi bangga, sombong dan angkuh. Itu yang terjadi dengan kisah hidup Hizkia. Bukan itu saja, kita bisa menjadi orang yang tidak sabaran karena dengan kondisi hati seperti ini konsep sukses dan ambisi yang salah bisa jadi membuat kita menuntut orang di bawah kita, karyawan dan orang yang bekerja dengan kita, menuntut satu target, kemudian mengancam dan abusive kepada mereka. Kita lupa sekalipun mereka adalah bawahan, mereka juga adalah manusia yang perlu kita cintai dan hargai. Kita jadikan mereka sebagai sapi perah, kita melukai hati mereka, kita melukai hati anak-anak kita, kita abusive kepada mereka hanya karena mereka tidak mencapai sukses menurut standar kita dan kita tidak ingin dipandang sebagai orang yang gagal. We drive our lives with wrong ambition. Yakobus mengatakan sekalipun engkau berdoa, engkau tidak mendapatkan apa yang engkau mau karena ada evil desire yang berperang di dalam hatimu. Engkau tidak bisa meneduhkan hatimu. Yang kedua, lalu engkau iri melihat orang lain punya segala hal akhirnya engkau pakai segala cara untuk merebutnya. Atau engkau pakai bahasa rohani, ‘aku mau besar, aku mau agung, aku mau sukses demi untuk kemuliaan Tuhan.’ Dalam pelayanan seringkali kita juga bisa melakukan hal seperti itu. Bukankah aku sudah cape-cape, aku sudah bersusah-susah, aku sudah berikan apa yang ada padaku, aku sudah berkorban dan melakukan segalanya demi untuk Tuhan dan demi untuk kemuliaan namaNya? Tetapi engkau tidak mendapatkan apa yang engkau doakan karena engkau hanya mencari kemuliaan untuk dirimu sendiri, demikian kata Yakobus. Atau kita mudah lari, kita mudah untuk escape, kita mudah berhenti dan lari dari tanggung jawab dan pekerjaan apapun, dari pelayanan apapun, karena kita tidak sabar, kita melukai orang, karena ambisi kita tidak terpenuhi. Kita tidak belajar untuk melihat di dalam semua itu proses Tuhan yang indah bagi kita. Kita yakin bahwa hasrat dan ambisi kita itu untuk kemuliaan Tuhan dan kebesaran Tuhan. Akibatnya kita berpikir maka kita pasti akan berhasil. Kalau kita berjalan dengan benar dan berjalan lurus, kita pikir kita pasti diberkati oleh Tuhan. ‘Ini kan buat Tuhan,’ dengan “bahasa rohani” Tuhan pasti akan memberkati hal itu, pasti lancar dan sukses. Itu kalimat yang sering kita pakai.

Dalam 2 Raja 19 nabi Elia berkata kepada Tuhan, “Aku sudah bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjianMu, meruntuhkan mezbah-mezbahMu dan membunuh nabi-nabiMu dengan pedang. Tetapi sekarang mereka mau membunuh aku.” Elia lari, Elia marah, Elia bersembunyi dari Tuhan. Elia kecewa, kenapa Tuhan berlaku seperti ini kepada dia? Bukankah dia sudah berkorban habis-habisan bagi Tuhan sementara umat Tuhan sendiri sudah meninggalkan Tuhan? Petrus setelah lama mengikut Yesus berkata, “Kami telah meninggalkan segala sesuatu untuk ikut Engkau. Apa yang kami dapat sebagai gantinya?” (Matius 19:27). Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang tidak kecewa dan menolak Aku” (Matius 11:6). Blessed are those who are not offended by Me. Seringkali orang Kristen menjadi kecewa kepada Tuhan karena berpikir sudah terlalu banyak dia berkorban dan bayar harga dalam pelayanan demi kemuliaan Allah, Allah pasti berkati, hidup kita akan lancar, dsb. Tetapi jujur kita tahu, Tuhan tidak pernah berjanji seperti itu. Kenapa selama-lamanya kita selalu ingin Tuhan beri sukses, Tuhan limpahkan berkat, dan kita mau itu segera instant terjadi, hasil yang segera bisa kita dapat, dan tergesa-gesa kita mengerjakannya? Dalam pelayanan kita juga seperti itu, kita pasang target, kita susun strategi, kita lakukan hal-hal yang seperti ini, kita dorong orang untuk melakukannya, kita tidak peduli apakah Tuhan berkenan atau tidak. Maka apa yang terjadi? Di dalam rapat pembicaraan waktu orang mengeluarkan kritikan, kita menjadi sakit hati, lalu kita menjadi defensive karena kita pikir kita melakukan semua itu bagi kemuliaan Tuhan padahal kita melakukannya untuk kemuliaan diri. Kita tidak memberi ruang kepada orang untuk berbuat salah, kita tidak mengijinkan Tuhan memproses kita, kita tidak mengijinkan persekutuan yang indah makan bersama dan tidak melakukan apa-apa sebagai sesuatu yang perlu kita nikmati. Kenapa selalu harus ada target, ambisi, hasrat, cita-cita yang ingin kita capai supaya orang lain melihat kita sebagai orang yang sukses dan berhasil?

Yang ketiga, kita mau melakukan, kita punya desire, kita punya keinginan, kita kadang-kadang tidak sanggup bisa mengontrolnya sebab kita tidak berani untuk melakukan segala sesuatu invisible. Kita ingin dilihat orang, dipuji orang. Markus 1:35-39 mencatat peristiwa pada waktu orang-orang sejak pagi sudah berbondong-bondong datang mencari Yesus, murid-murid kelabakan mencari dimana Yesus, ternyata Dia sedang berada di atas bukit berdoa. Maka pergilah mereka untuk menjemput Yesus. Sampai di situ Petrus bilang, “Semua orang mencari Engkau.” Artinya, ini kesempatan membangun platform ministry sehingga jadi besar. Kenapa Tuhan Yesus justru malah menyingkir untuk berdoa? Itulah artinya melakukan sesuatu yang invisible. Hanya Allah yang melihat. Kesempatan terbuka, visible, dilihat, hebat sukses kaya, berhasil dalam hidupmu sehingga kita tidak sanggup dan tidak berani dan enggan untuk bilang hanya Tuhan yang lihat, orang lain tidak lihat tidak apa-apa, tidak menjadi sesuatu yang mengganggu hatiku. Dan itu menjadi peperangan sanggupkah engkau punya hasrat, giat dan sungguh bagi Tuhan dan melakukannya tanpa perlu dilihat orang? Tidak gampang. Kiranya kita bisa mencintai Tuhan dengan tanpa pamrih dan mengasihi Tuhan dengan tidak melihat apa yang sudah kita lakukan karena Tuhan telah melakukan hal yang lebih besar bagi kita. Paulus juga bilang kepada mereka yang bekerja sebagai budak di Kolose: Kerjakanlah segala sesuatu bukan untuk dilihat oleh tuanmu. Ingatlah Tuhan yang ada di surga. Itulah passion untuk melakukan sesuatu invisible. Di situ hati kita penuh dengan sukacita dan damai bersama Tuhan. Kiranya Tuhan menolong setiap kita.(kz)