So This is Your Life [5]

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: So This is Your Life [5]
Tema: Gratitude
Nats: Mazmur 100, Nehemia 8:10-12

Ini adalah khotbah ke 5 dari tema besar kita “So This is Your Life,” jadi inikah hidupmu. Tema kita hari ini adalah “Gratitude,” bicara mengenai bagaimana sikap hati kita menjalani perjalanan hidup ini.
Lukas 17:12-17 mencatat satu peristiwa yang ironis yaitu pada waktu Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta; ini bukan perumpamaan tetapi ini adalah fakta realita di dalam pelayanan Tuhan Yesus. Yesus menyuruh sepuluh orang kusta ini pergi untuk menghadap kepada imam, dan Alkitab mencatat, di tengah perjalanan sembuhlah mereka. Namun setelah mereka sembuh, hanya satu orang yang kembali kepada Yesus untuk berterima kasih kepadaNya dan orang itu bukan orang Yahudi, tetapi orang itu adalah orang Samaria, satu suku yang dihina oleh orang Yahudi yang lain. Orang ini kembali dan tersungkur di depan kaki Yesus, memuji Allah, menyatakan syukur berterima kasih kepada Tuhan Yesus. Dan Lukas mencatat, Yesus heran, Yesus terkejut, bukankah sepuluh orang yang telah Aku sembuhkan? Mengapa hanya satu orang ini yang kembali, bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan? Dimana yang sembilan lainnya? Jikalau sesuatu yang besar, ajaib, mujizat kesembuhan seperti kusta saja tidak mendatangkan perasaan takjub, hati yang kagum, hati yang mengucap syukur kepada Tuhan, bagaimanakah orang itu bisa mengerti dan mengagumi Tuhan pada waktu dia hanya menerima hal yang biasa-biasa saja?

Hari ini, mari kita berpikir sejenak, adakah kita pernah berterimakasih untuk segala sesuatu yang ada di dalam hidup kita? Adakah kita berterimakasih untuk orang-orang di sekitar kita yang mencintai dan mengasihi kita? Anak kecil mudah sekali menyatakan terima kasih. Lihat anak bayi, engkau lakukan hal yang sama terus-menerus kepada dia apa saja untuk entertain dia, dia pasti akan menyambut dengan gembira. Anakmu yang umur satu dan dua, kamu bacakan buku cerita atau main games dengan mereka, mereka akan selalu menyambut gembira, “Lagi, sekali lagi, papa!” Tetapi kenapa semakin besar anak kita, betapa sulit untuk menyenangkan dan memuaskan hati mereka, bukan? Pagi-pagi saya bangun, saya siapkan breakfast, mungkin breakfast itu tidak disukai oleh anak-anak saya karena terlalu sehat: yoghurt, quinoa, salad, fresh fruits, granola, chia seeds, susu dan weetbix. Saya bisa makan dengan sukacita. Tetapi waktu kita mau berikan kepada anak kita, ditengok pun tidak. Kalaupun dimakan, wajahnya tidak senang. Mungkin sdr bilang, bapak bikin breakfast yang anak tidak suka sih. Anak kecil, sesederhana apapun hal yang dia terima, dia tidak bosan-bosan menikmatinya. Tetapi bukan saja anak-anak kita yang menanjak remaja, kita yang sudah dewasa dan menjadi tua pun, dikasih entertainment seperti apapun, kita tidak pernah menjadi puas dan senang. Salahnya siapa? Kenapa semakin kita menjadi tua, kita makin terus kritik, terus complain, terus tidak pernah puas? Itu sudah menjadi kultur kita.

Jadi bagaimana kita mempunyai hati yang mengucap syukur? Kita manusia yang berdosa, kita tidak akan pernah bisa dipuaskan dengan apapun juga. Kenapa? Sebab kita orang yang mudah bosan. Hal yang rutin berulang-ulang kita lakukan tiap hari tidak akan pernah bisa menyenangkan kita lagi. Maka tidak heran, sangat ironis sekali. Mujizat yang begitu besar, dari sakit kusta yang tidak ada obatnya, yang tidak mungkin bisa disembuhkan oleh tabib pada waktu itu, yang membuat hidup mereka menjadi terbuang dan terhina, kesembuhan yang besar terjadi kepada sepuluh orang kusta itu, tidak mendatangkan hati yang melimpah dengan syukur kepada Tuhan.

Hari ini, di dalam perjalanan hidup kita mengikut Tuhan, satu hal yang paling penting pada waktu kita berelasi dengan Tuhan, kiranya Tuhan memberikan kita hati yang penuh dengan rasa syukur, pujian sukacita, kepuasan, gratitude, joyful, thankfulness, and contentment di dalam hati kita. Pada waktu kita mulai banyak menggerutu menjalani hidup ini, pada waktu kita terus minta yang paling banyak, paling baik, paling limpah, paling berhasil, paling sukses, terus minta Tuhan penuhi pundi-pundimu, sekali lagi kita tidak akan pernah puas karena kita orang yang gampang sekali bosan. Setelah kita minta sesuatu dan pada waktu sudah kita dapat, sebentar saja kita langsung bosan. Dan pada waktu kita sudah mulai menjadi bosan, kita tidak lagi punya hati yang bersyukur. Tetapi kalau Tuhan kasih air putih yang sama, matahari yang sama terbit tiap pagi, hidupmu yang sehat dan lancar dalam kerutinan seperti itu, tetapi engkau tetap memiliki hati yang penuh dengan syukur, seperti hati seorang anak kecil yang melihat semuanya dengan hati yang penuh sukacita, sekalipun kecil dan sederhana saja yang orang kerjakan dan lakukan dalam hidupmu, engkau menikmatinya dengan hati yang penuh dengan sukacita dan rasa syukur. Kenapa kita harus dan perlu bersyukur dan senantiasa memuji Tuhan dalam hidup kita? Sebab Allah itu adalah Allah yang sangat indah dan sangat baik dalam hidup kita, for the Lord is good! The goodness of the Lord jangan dilihat hanya berdasarkan satu peristiwa yang sensational, momentous dalam hidup kita. The goodness of the Lord juga jangan mudah hilang dan pupus hanya karena ada satu dua hal yang tidak menyenangkan terjadi dalam hidup kita, lalu kemudian kita lupa dan mengabaikan betapa baiknya Tuhan di dalam hidup engkau dan saya. Alkitab senantiasa memperlihatkan kepada kita salah satu alasan utama mengapa kita harus mempunyai hati yang mengucap syukur, karena Allah sangat indah dan baik. Kebaikan itu ada pada diriNya Allah. Di dalam Dia ada terang dan tidak ada kegelapan, tidak ada hal-hal dan maksud yang tersembunyi dari kebaikan Allah, tidak ada pertukaran bayangan. Semua yang indah, semua yang baik, semua yang suci dan mulia itu turunnya dari atas dan itu memenuhi hidup engkau dan saya dalam hidup ini.

Mazmur 100 bicara mengenai hati yang melimpah dengan ucapan syukur dari umat Tuhan yang datang memuji di rumah Tuhan. “Sebab Tuhan itu baik, kasih setiaNya tetap untuk selama-lamanya dan kesetiaanNya tetap turun-temurun” (Mazmur 100:5). Tuhan itu bukan saja baik, tetapi kita menemukan dalam pola penciptaan ada kebaikan Tuhan yang luar biasa. Pada waktu Tuhan selesai menciptakan alam semesta ini dengan sempurna dan lengkap, maka berkali-kali kita temukan Alkitab mencatat Tuhan mengatakan semua ini baik adanya. Kata ‘baik’ itu tidak hanya muncul satu kali, tetapi terus berulang sejak penciptaan hari pertama sampai hari ke enam, dan pada waktu Allah selesai menciptakan manusia, Allah berkata, semua itu amat baik adanya. Pattern ini tidak boleh kita lepaskan. Kita hidup di dalam dunia ini tidak lepas dari kita berkata-kata dan kita bertindak. Hidup kita seperti itu. Tetapi kadang-kadang kita lupa, kita perlu satu respon lagi, menyelesaikan hari itu dengan mengatakan, Tuhan, terima kasih, hari ini sudah selesai. Apakah sdr sadar ternyata sehari-hari tidak banyak perkataan yang keluar dari mulut kita; lebih sering kita mengulang-ulang memakai perkataan yang sama setiap hari. Kita katakan kepada anak kita, “Ayo cepat! Hurry up! Bangun! No! Belajar! Cepat sedikit mandinya.” Semua kata-kata yang keluar dari mulut kita rata-rata sama saja setiap harinya. Sejujurnya, apa yang kita kejar sebenarnya? Kita seringkali lupa memberkati, kita lupa untuk less rush dan to rest, to enjoy and gratitude. Ketika membaca kitab Kejadian, kita kagum Tuhan begitu santai, tidak rush. Dia menikmati satu hari, dia mengatakan hari itu baik adanya. Allah itu indah dan baik, Allah itu mengatakan biarlah engkau punya hati yang menikmati the joy of creation ini. Semua yang manis engkau cicipi, semua yang indah engkau pandang, semua yang menyenangkan hatimu itu adalah the joy of creation yang Tuhan beri kepada kita. Masakah kita tidak bersyukur adanya?

Martin Luther pernah ditanya, kalau engkau tahu Tuhan Yesus akan datang kembali apa yang akan engkau lakukan seminggu ini? Dia mengatakan, dia akan tetap melakukan aktifitasnya sehari-hari, baca Alkitab, mempersiapkan khotbah, dsb. Orang sering mengutip kalimat Martin Luther yang terkenal, “Even if I knew that tomorrow the world would go to pieces, I would still plant my apple tree.” Sekalipun aku tahu besok dunia akan runtuh, aku akan tetap menanam pohon apelku. Saya akan ajukan pertanyaan yang sedikit berbeda kepada sdr: kira-kira kalau sdr tahu minggu depan sdr akan meninggal dunia, apa yang akan engkau lakukan seminggu ini? Saya rasa kita umumnya akan menjalaninya dengan sangat lain dan sangat berbeda. Kita mungkin panik, kita mungkin kuatir, kita kaget, kita mungkin ingin buru-buru menikmati hal-hal yang belum pernah kita rasakan dan lakukan. Pengetahuan itu akan mengganggu kita dan membuat kita kehilangan banyak ketenangan dan sukacita. Tetapi mari kita perhatikan, Alkitab jelas memberitahukan kepada kita Yesus tahu kedatangan Dia ke dunia, tujuan dari kehadiran Dia. Yesus datang untuk menjalankan kehendak Bapa (Ibrani 10:7). “Aku datang bukan untuk dilayani, sekalipun Dia berhak dilayani karena Dia adalah Allah, tetapi untuk melayani dan untuk memberikan hidupKu menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus 10:45). Yesus tahu tujuan hidup Dia yaitu kesedihan, dukacita mati di kayu salib. Tetapi itu tidak pernah mengecilkan sukacita dari hidup Dia yang menjadi berkat bagi orang. Kita seringkali bersikap terbalik, kita baru ingin bersyukur dan memuliakan Tuhan ketika kita mendapatkan sesuatu yang baik, atau ketika kita terhindar dari hal yang buruk. Puji Tuhan! Haleluya! saya terhindar dari bahaya, dsb. Itu yang seringkali terjadi dalam hidup kita. Tetapi sebaliknya kita mungkin tidak pernah berpikir kita bisa bersyukur sekalipun hidup kita tidak terhindar dari kesulitan, sekalipun kita mendapatkan segala hal yang tidak baik dan penderitaan di dalam hidup kita. Kalau kita hanya bersyukur karena tidak mendapat penyakit, kalau kita hanya bersyukur ketika tidak mendapatkan kesulitan, kalau kita hanya bersyukur ketika kita mendapat sukses, dsb, kita tidak akan pernah memahami aspek ini, bagaimana orang bisa tetap bersyukur sekalipun dia mengalami penderitaan dan kesulitan ini. Justru syukur yang lahir dari hati orang yang pernah dan sedang mengalami penderitaan itu menjadi satu syukur yang sangat besar pengaruhnya. Sdr bertemu dengan orang yang sakit kanker, sdr bertemu dengan orang yang cacat, sdr bertemu dengan orang yang sedang mengalami terminal ill, dan pada waktu sdr berjumpa dengan dia, tidak ada complain, tidak ada perasaan benci dan marah, yang ada ialah sukacita yang menyejukkan hati, damai sejahtera yang memancar dari wajah dan senyuman dia, mulut yang bersyukur dan memuji Tuhan, di situ engkau melihat satu keindahan yang sangat powerful karena syukur itu lahir dari kondisi yang sekalipun berat dan sulit dia tetap bersyukur kepada Tuhan.

Allah sebagai Pencipta memberikan semua yang indah dan baik, itulah alasan kenapa kita bersyukur kepadaNya. Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat yang telah menjalankan hidupNya yang penuh dengan kesulitan dan penderitaan selama di dunia tetapi Ia menjalaninya dengan syukur, joyful, dan malah Ia antisipasi salib itu dengan luar biasa indah dan tidak ada hari dimana Ia tidak menjadi berkat dan penuh dengan sukacita bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Itulah sebabnya kenapa kita perlu mencontoh Kristus di dalam hidup kita bersyukur adanya.

Kedua, firman Tuhan dalam Nehemia 8:9-10 memperlihatkan satu hal yang sangat unik ketika sekembali dari pembuangan, umat Israel berkumpul untuk berbakti kepada Tuhan, mereka begitu terharu ketika orang-orang Lewi membacakan kitab Taurat dalam ibadah itu. Maka Imam Ezra didampingi oleh Nehemia, kepala daerah, berkata, “Hari ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu.” Go and celebrate with a feast of rich foods and sweet drinks and share gifts of food of people who has nothing prepare. This is a sacred day before our Lord. Don’t be dejected and sad, for the joy of the Lord is your strength! Nehemia berkata kepada umat Israel, jangan menangis, mari kita datang kepada Tuhan dengan sukacita, mari kita celebrate, mari kita bersyukur kepada Tuhan, kita nikmati makan dan minum dengan gembira. Jaman dulu mereka datang dengan membawa hasil tanaman dari ladang dan ternak mereka. Nehemia bilang, biar masing-masing keluarga datang membawa makanan dan minuman yang berlimpah dan saling berbagi dan memberikan kepada keluarga-keluarga yang tidak punya apa-apa sehingga setiap orang bisa bersukaria menikmatinya. Kalau setiap kali kita datang ke rumah Tuhan dengan sukacita dan kegembiraan seperti itu, betapa indah suasana dalam setiap ibadah kebaktian hari Minggu kita. Nehemia memberikan alasan itu: for the joy of the Lord is your strength. Karena sukacita dari Tuhan itulah kekuatanmu. Hati yang bersyukur kepada Allah akan membuat engkau menjadi indah dan kuat adanya. Dengan kata lain, hidup yang kehilangan sukacita, hidup yang tidak ada rasa syukur di dalamnya, akan menjadi hidup yang justru membuatmu semakin lemah, membuatmu semakin ciut dan kehilangan gairah di dalam hidupmu. Karena di situ energi, kekuatan, dan hal-hal yang terjadi dari dalam skacita itu menjadi kekuatan. Luar biasa, ada orang bisa menanggung begitu banyak hal yang berat dan susah dalam hidupnya bukan karena dia sanggup dan mampu tetapi sukacita yang dari Tuhan yang menguatkan hati yang bersyukur dan memuji membesarkan nama Tuhan. Kenapa kita perlu bersyukur, kenapa kita perlu punya hati yang gratitude kepada Tuhan? Karena itu akan membuat kehidupan rohani kita menjadi lebih indah, menjadi lebih kuat dan menjadi lebih bergairah adanya.
Ke tiga, Amsal 15:30 dalam terjemahan NLT berkata, “A cheerful look brings joy to the heart; good news makes for good heart.” Kenapa kita perlu bersyukur? Karena hati yang bersyukur itu akan menular kepada orang-orang di sekitarmu. Wajah yang penuh sukacita, hati yang senang dan bahagia, tidak berhenti sampai di wajahmu saja. Selalu dekat-dekatlah dengan orang yang wajahnya memancarkan sukacita, menebar sukacita, bukan menebar pesona. Jauh-jauhlah dengan orang yang terus-menerus complain, menggerutu dan marah di dalam hidup ini. Orang seperti itu akan membuat hidup kita berat luar biasa. Satu saja complain berputar, dia akan bisa memakan habis semua cahaya sukacita orang. Tetapi satu wajah yang bersyukur dan penuh dengan joyful, dia menjadi spark dari api yang kecil yang kemudian memberikan gairah api yang besar kepada orang lain.

Kita sekarang hidup di dalam dunia yang memang teknologinya maju, sdr tidak ada habis-habisnya bisa mendapatkan berita yang luar biasa dalam waktu yang sekejap saja. Orang bisa mengekspresikan banyak hal melalui media sosial dan teknologi yang begitu canggih. Tetapi setelah engkau dan saya membaca semuanya, betapa besar efeknya. Kita saksikan sangat menyedihkan khususnya artis-artis Korea yang bunuh diri karena tidak tahan dengan komentar-komentar negatif yang ada di media sosialnya. Di dalam dunia yang penuh dengan kultur kritik, ketidak-puasan, hinaan, bully, spirit negatif kebencian kemarahan yang tidak habis-habisnya, yang kasihan dan ironisnya semua spirit yang negatif itu bisa diekspresikan dengan begitu luar biasa tidak ada sensor dan efeknya apa? Kita bisa saksikan efeknya adalah kita melihat begitu banyak orang kehilangan identitas yang indah, akan merusak hati dia, dan menghasilkan poor self-image dari orang yang menerimanya. Sebagai anak-anak Tuhan, jangan sampai kita terbawa hanyut dan masuk ke dalam kultur yang negatif seperti itu. Kasihan luar biasa, karena pengaruh dari hal-hal seperti itu kita kehilangan a cheerful look yang membawa sukacita kepada orang lain.

Dietrich Bonhoeffer bilang setiap kali kita datang berbakti kepada Tuhan, itu adalah hari “holy day” yang Tuhan kasih setelah kita bekerja Senin sampai Jumat, hari Minggu menjadi hari kita datang bersyukur, memuji, membesarkan nama Tuhan. Dan justru pertemuan anak-anak Tuhan setiap hari Minggu adalah satu pertemuan yang membawa semua hal dalam hidupnya untuk menjadi syukur dan pujian kepada Tuhan. Bonhoeffer mengatakan Tuhan tidak tahan melihat wajah-wajah yang muram [unfestive faces] datang ke rumahNya dan yang memakan rotiNya wajah yang memelas sedih. Bapa kita yang di surga tidak akan pernah memberi sesuatu yang tidak engkau perlukan dan butuhkan. Ia adalah Allah yang murah hati dan penuh dengan kebaikan. Ia memberikan segala yang indah dan baik untuk kita nikmati. Tetapi mari coba bayangkan, seminggu ini kita sudah dapatkan segala yang baik dari Dia, namun pada waktu sdr datang ke rumahNya, Bonhoeffer bilang there is no cheerful look in your face and you ate His bread with a sorrow look, bagaimana Tuhan bisa tahan menikmati ibadah kita yang seperti itu? Tuhan sepatutnya dan seharusnya senantiasa kita puji dan sembah dengan sukacita, dengan pujian memuliakan Dia, betapa agung dan besar Dia. Maka bersyukurlah kepada Tuhan, muliakanlah Dia di dalam hidupmu. Itu merupakan sikap attitude hati yang tidak bisa lepas dari perjalanan hidup sdr ikut Tuhan. Itu merupakan sikap hatimu pada waktu engkau datang berbakti di rumah Tuhan. Itu adalah sikap hidup sdr yang harus terlihat setiap hari. Jangan pernah menjadi orang Kristen yang terus bosanan dengan apa yang kita dapat dari Tuhan. Karena kalau demikian sikap hati kita, diberi seberapa pun kita tidak akan pernah bisa bersyukur kepada Dia. Tetapi jikalau setiap hari kita menikmati hal-hal yang kecil dan sederhana seperti air segar yang engkau percaya merupakan satu pemberian anugerah Tuhan yang luar biasa di dalam hidupmu, itu akan membuat hatimu terus bersyukur memuliakan Tuhan. Maka engkau akan menjadi orang yang menularkan syukur dan berkat bagi orang lain. Engkau akan bersyukur atas setiap pekerjaan baik dan pelayanan yang sudah diberikan oleh orang-orang di sekitarmu. Mari kita berespon kepada firmanNya, kita datang dengan hati yang melimpah dengan syukur karena kita tahu betapa baiknya Tuhan dalam hidup kita. Ambil kesempatan untuk berterima kasih atas semua hal yang kita alami, berterima kasih untuk gereja dan komunitas orang-orang yang Tuhan berikan, untuk keluarga dan pekerjaan baik yang Tuhan beri, untuk setiap orang yang ada di sekitar kita yang boleh menjadi kekuatan, sukacita, dorongan bagi kita dan kita pun boleh menjadi berkat bagi mereka. Mintalah ampun atas dosa dan kesalahan kita yang tidak pernah melihat dengan jelas dan indah setiap roti yang kita makan dan air yang kita minum datangnya dari Tuhan. Biar hati kita melimpah dengan syukur untuk setiap hal besar maupun kecil yang kami nikmati setiap hari. Kiranya engkau diberkati Tuhan dengan firmanNya pada hari ini.(kz)