So This is Your Life [4]

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: So This is Your Life [4]
Tema: Endurance the Race
Nats: Ibrani 12:1-3

“Karena kita mempunyai banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita dan berlomba dengan tekun di dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (Ibrani 12:1-2).

“So This is Your Life” Jadi inikah hidupmu, hari ini kita masuk kepada tema ke empat “Endurance the Race.”Tema ini saya ambil dari Ibrani 12:1-3, satu dorongan encouragement dari penulis Ibrani khususnya kepada anak-anak Tuhan yang sedang mengalami tekanan dan penganiayaan dan yang menjadi satu panggilan yang sangat relevan kepada semua anak Tuhan di sepanjang jaman. “Therefore, since we are surrounded by such a huge crowd of witnesses to the life of faith, let us strip off every weight that slows us down, especially the sin that so easily trips us up. And let us run with endurance the race God has set before us. We do this by keeping our eyes on Jesus, the champion who initiates and perfects our faith. Because of the joy awaiting Him, He endured the cross, disregarding its shame. Now He is seated in the place of honour beside God’s throne. Think of all the hostility He endured from sinful people; then you won’t become weary and give up.”

Firman Tuhan senantiasa mengingatkan hidup kita penuh dengan gelombang, naik dan turun; ada waktunya kita bersukacita, ada waktunya kita berdukacita. Ada waktunya kita merasa sukses dan semangat, ada waktunya kita merasa letih dan lelah dan penuh beban berat, kecewa dan putus asa.
Apakah engkau merasa lelah, kecewa dan putus asa? Bulan lalu hal itu terjadi di dalam hidup saya. Adakalanya kadang-kadang saya merasa kita sudah melakukan hal yang terbaik, tetapi kita tidak melihat hasilnya. Kita berusaha mengerjakan banyak hal, tetapi kita tidak mendapatkan hasil seperti yang kita inginkan. Ada banyak hal yang kita kerjakan seindah dan sebaik mungkin kepada orang lain di dalam hidup kita, namun kita mendapatkan respon yang justru sebaliknya dari orang itu. Apa yang salah di dalam hidup kita? Apa yang salah dengan hati kita? Apa yang salah dengan kelakuan kita? Apa yang salah dengan muka dan mimik kita sehingga kita mengatakan ‘A’ orang lihat ‘B'; kita sudah menyatakan kasih kepada orang, tetapi orang itu mengatakan kita tidak tulus kepada dia. Kita bisa lelah tidak habis-habisnya menghadapi hal-hal seperti itu. Itulah sebabnya delapan seri khotbah ini lahir dari pergumulan pribadi saya yang seperti ini tetapi bersyukur ini menjadi pengalaman pemulihan yang Tuhan kerjakan bagi hidup saya.

Beberapa tahun yang lalu Rick Warren menulis satu buku bestseller “Purpose Driven Life” hidup yang digerakkan, disegarkan, didorong oleh karena engkau tahu ada meaning dalam hidup ini. Tetapi unik sekali di bagian pertama dari bukunya, Rick Warren menulis, “It is not about you, it is about God.” Demikian juga Matt Redman menulis sebuah lagu “The Heart of Worship” dia mengatakan, “I’m coming back to the heart of worship, and it’s all about You, Jesus.” Penulis Ibrani berkata: Ayo, mari kita tekun, kita berjalan dalam perjalanan hidup ini. Segala beban yang ada sampai saat ini mari kita buang dan singkirkan. Mari sekarang kita fokus dalam perjalanan itu, it is all about Christ. Masing-masing kita mempunyai variasi hidup yang berbeda, pekerjaan kita berganti, apa yang kita alami di dalam pekerjaan dan relasi yang up and down. Itu semua bagian luar dari hidup kita. Tetapi yang paling penting adalah apakah kita punya “backbone” yang sama? Ibrani 12:1 mengatakan it is about the journey of our faith, itu yang menjadi backbone hidup kita. Kita tahu tujuannya, kita tahu arahnya, dan kita tahu kita sedang berjalan menuju ke sana. Problemnya seringkali bukan kepada arahnya, bukan kepada tujuannya, bukan kepada visi yang kurang jelas. Semua kita tahu kita mau memuliakan Allah dan menikmati Allah di dalam hidup kita, tetapi seringkali yang menjadi persoalan kita adalah the journey itu sendiri.

Firman Tuhan dari Ibrani 12 memberikan kepada kita guidance bagaimana menjalani perjalanan pertandingan kita masing-masing. Yang pertama, tanggalkan beban yang begitu merintangi kita. Jalanilah hidup dengan pengampunan dan pengakuan [the life of forgiveness and confession]. “Therefore, since we are surrounded by such a huge crowd of witnesses to the life of faith, let us strip off every weight that slows us down, especially the sin that so easily trips us up.” Kita mungkin tidak sadar bahwa ada begitu banyak saksi-saksi di sekitar kita, mengelilingi kita dan mengamati hidup kita. Mereka adalah orang-orang beriman yang dalam hidupnya di dunia sudah menjalani the life of faith. Kita bersyukur kita tidak sendirian menjalani hidup ini. Sudah ada orang-orang yang mendahului kita menjalani hidup ini. Kita ikut Tuhan, apakah kita merasa rugi? Tidak. Lihatlah ke belakang, lihatlah sejarah, lihatlah begitu banyak orang-orang yang sudah ikut Tuhan seperti itu. Itulah yang memberikan kita kekuatan. Bagaimana kita berjalan? Hal yang pertama penulis Ibrani katakan, “Let us strip off every weight that slows us down, especially the sin that so easily trips us up.” Tanggalkan beban itu. Ini prinsip yang sederhana yang mudah untuk kita mengerti. Karena hidup ini adalah suatu journey, di dalam perjalanan ini jangan bawa beban yang banyak. Maka prinsip ini sangat simple: if you want to enjoy the journey of your life, lepaskan segala beban yang begitu merintangimu. Beban hidup ada bermacam-macam. Ada beban rasa bersalah, itu penyesalan masa lalu. Kita pasti akan lelah dan cape jika kita terus pikul itu. Itu beban yang tidak perlu engkau pikul. Sudah lewat dari hidupmu kenapa engkau terus sesalkan? Kenapa masih terus berandai-andai, seandainya tidak ambil keputusan ini, tidak jadi begini. Keputusan yang salah, tindakan yang salah, semua itu tidak engkau buang, apakah tidak berarti hari ini engkau tidak bikin kesalahan lagi? Kita terus akan bikin kesalahan lagi. Dan kesalahan hari ini engkau taruh lagi menjadi beban di bahumu. Alkitab mengatakan, let us stip off semua beban itu, terutama dosa. Dosa bicara mengenai spiritual sickness. Spiritual sickness itu sedikit banyak akan berpengaruh kepada kesehatan mental dan fisik kita. Bisa jadi beban itu adalah kata-kata dan perbuatan kita, atau tindakan kita yang salah kepada orang lain dan kita tidak berani untuk mengaku dan minta maaf kepada orang itu, akhirnya engkau terus simpan beban itu. Sehingga tidak heran tiap hari bangun pagi engkau tidak punya energi, tidak punya kekuatan, tidak punya semangat, engkau menaruh begitu banyak beban di atas bahumu yang tidak harus engkau pikul, hanya menjadi pikiran yang terus memenuhi benakmu, akhirnya engkau menjalani hidup penuh pikiran. Ada orang mungkin akan banyak berbicara hal yang buruk kepadamu. Bulan lalu saya berpikir seperti itu. Akhirnya saya pikir, buat apa saya simpan? Buat apa kita taruh perkataan orang yang tidak baik, yang memfitnah kita, yang menjelek-jelekkan kita? Akhirnya waktu ketemu orang itu, saya salamin dia terlebih dahulu. Akhirnya kita seperti taruh bara api di kepala dia. Beban kita hilang jadinya. Selesai. Kalau di gereja ada orang seperti itu kepadamu, datangi dan bereskan dengan dia. Jika kesalahan itu di pihakmu, katakan kepada dia, “I’m sorry. Saya sudah berbuat salah kepadamu.” Kita perlu membereskan itu. Dalam Doa Bapa Kami kita mengatakan, “Ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami,” jangan menjadi lafal mantra yang lewat begitu saja. Katakan dengan tulus dan jujur kepada Tuhan, saya ada salah kepada orang, relasiku dengan dia menjadi tidak beres. Relasiku dengan Tuhan juga akhirnya tidak beres, Tuhan ampuni aku. Aku merasa jauh dari Tuhan, bukan karena Tuhan itu jauh, tetapi mungkin ada hal yang kita perlu bereskan itu dengan Tuhan. Hati kita perlu disucikan, relasi kita dengan Tuhan perlu beres. Betul ada kesulitan dan persoalan dalam hidup setiap kita. Itu adalah beban yang patut kita pikul dan tanggung. Tetapi ada orang yang sekalipun hidupnya penuh dengan kesulitan dan persoalan, wajahnya memancarkan sukacita dan damai sejahtera yang membuat orang yang melihatnya terhibur. Kenapa? Karena hatinya pure, tulus, murni. Ketika hati kita tulus dan bersih di hadapan Tuhan, sekalipun kesulitan dan persoalan itu tidak hilang dari hidup kita, itu semua tidak mengikat hati kita. Maka mari kita jalani the life of our faith, point yang pertama, mulai hari ini run the race with the life of forgiveness and confession.
Yang kedua, mari kita berlomba dengan tekun di dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. “And let us run with endurance the race God has set before us.” Ini bukan pertandingan antara engkau untuk menang melawan orang lain; ini adalah pertandingan yang Tuhan siapkan bagimu. Kalau orang di sebelahmu larinya cepat, tidak usah kuatir, karena itu pertandingan yang Tuhan siapkan buat dia. Tidak usah membanding-banding karena Tuhan punya hal yang indah dan unik bagimu, itu pertandingan yang harus engkau jalani, yang penting berlarilah dengan tekun di situ. Kita perlu disiplin rohani dalam hal ini. Kenapa kita perlu disiplin? Sebab melalui disiplin itu kita ditolong untuk mengerjakan hal-hal yang memang kita tidak pernah mau kerjakan dan memang tidak menjadi natur dari kemauan kita untuk melakukannya. Di dunia ini engkau dilatih disiplin untuk sukses, disiplin untuk self-actualisation, disiplin to gain more, disiplin untuk achieve bigger. Tidak ada disiplin untuk rendah hati, tidak ada disiplin untuk berkorban, tidak ada disiplin untuk melayani, tidak ada disiplin mengenai kesabaran, semua itu perlu disiplin karena memang kita tidak mau mengerjakan hal-hal itu dan bukan sesuatu yang merupakan hal yang lahir dari kemauan kita. Itu sebab kita perlu ketekunan di situ, karena memang yang engkau dan saya kerjakan melayani orang, berbakti, rendah hati, sabar, belas kasih, berkorban, itu bukan natur sikap hati kita.

Yang kedua, ketekunan itu perlu sebab menolong kita menunggu buah-buah Roh Kudus itu keluar dari hidup kita. Biarlah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, murah hati, kesetiaan, kelembutan hati, pengontrolan diri, semua buah-buah roh yang baik itu keluar dari hidup kita, dan untuk sampai keluarnya engkau perlu waktu, ketekunan dan kesabaran. Betapa indah melihat anak-anak kita yang lima tahun yang lalu masih begitu kecil, sekarang mereka bisa berdiri di depan memimpin pujian, betapa sukacita dan kepuasan dari setiap guru dan hamba Tuhan melihat hal seperti itu, bukan? Itu adalah buah-buah dari pelayananmu. Kita tidak bisa mempercepat, kita tidak bisa instant. Pada waktu Tuhan menginginkan buah-buah roh Allah itu ada di dalam hidupmu, ketika kita sudah melihat buah yang ranum dan manis, hati kita penuh dengan sukacita. Maka point yang kedua, berlombalah dengan tekun, berlatihlah dengan disiplin untuk melakukan hal-hal yang memang kita belum pernah kerjakan dan lakukan, yang memang bukan natur dari hati dan sikap kita, dan kiranya Allah menolong kita menghasilkan buah-buah roh di dalam hidup engkau dan saya. Tuhan tidak akan pernah bisa menghasilkan buah-buah itu dari pohon yang belum ditransformasi. Yesus berkata, “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik” (Matius 17:17-18). Bagaimana engkau bisa mendapatkan buah yang baik dari pohon yang tidak baik? Tidak mungkin. Kita tidak bisa minta orang yang belum percaya Tuhan menunjukkan sikap hidup Kristen yang memang telah diubah oleh Tuhan. Engkau dan saya menjadi anak Tuhan. Dari hidup kitalah buah-buah yang baik itu keluar.

Yang ketiga, kita perlu disiplin karena kita adalah murid-murid Kristus. Ingatkan, kata disiplin ada kaitannya dengan kata disciple, bukan? Dietrich Bonhoeffer mengatakan, “Cheap grace is grace without discipleship.” Kekristenan tanpa pemuridan adalah Kekristenan yang tidak memiliki Kristus. Pada waktu kita disiplin hidup, kita melakukan hal yang baik pada waktu yang tepat dan dengan sikap hati yang benar, kita mendisiplinkan diri untuk menjadi the disciple of Jesus Christ dalam hidup kita. Itulah sebabnya Ibrani 12 mengatakan kenapa kita perlu berlari dengan tekun di dalam pertandingan itu dengan melihat kepada siapa? Lihatlah wajah daripada Tuhan Yesus, kita menjadi serupa dengan Dia. We do this by keeping our eyes on Jesus, the champion who initiates and perfects our faith. Because of the joy awaiting Him, He endured the cross, disregarding its shame. Now He is seated in the place of honour beside God’s throne. Think of all the hostility He endured from sinful people; then you won’t become weary and give up. Yesus adalah yang menjadi inisiator bagi keselamatan kita, Yesus juga yang menjadi penyempurna bagi iman kita. Ayat ini ingatkan kepada kita Yesuslah yang menyempurnakan. Kita semua tidak perfect. Yang celaka kita semua mau menjadi perfectionist. Kita tidak pernah perfect dalam hidup ini, kenapa kita tuntut anak kita, kita tuntut pasangan kita, kita tuntut orang lain untuk menjadi sempurna? Kita tidak fair dalam hidup ini, tetapi itulah kita seringkali seperti itu. Kita semua adalah tidak sempurna, kita adalah broken people yang dicintai dan dikasihi Tuhan. Tetapi pada waktu kita menjalani hidup ini nanti sampai momen terakhir hidup kita, kita akan tahu apa yang Paulus katakan di hari-hari terakhir hidupnya, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2 Timotius 4:7). Kita akan tahu bahwa running the race hidup kita is not about winning. Seringkali kita bilang ok, sabar sedikit, sabar ya, mari kita tekun sabar, pasti kita bisa dapat apa yang kita mau. Mungkin sampai akhirnya, belum tentu sdr dapat. Bisa jadi sdr tekun sabar berulang-ulang kerjakan semua, tetap tidak dapat. Seingkali kita suka mengutip ucapan Thomas Alva Edison, “Many of life’s failures are people who did not realise how close they were to success when they gave up.” Bisa jadi sekalipun sepanjang hidupmu engkau perseverance, sabar, sabar, sabar, sabar terus, tahan, jalani hidup itu dengan setia, sdr tidak dapat apa yang kita mau itu karena Alkitab tidak bicara soal itu. Karena Alkitab bicara soal ada hasil yang didapat dari ketekunan itu adalah pembentukan karaktermu. Roma 5:4 berkata, “Dan ketekunan menimbulkan tahan uji,” perseverance will produce character. Tujuan akhirnya adalah pembentukan karakter yang Tuhan lakukan dalam hidup kita. Kita tidak akan pernah bisa sempurna. Itu sebab bertumbuh, berjalan ikut Tuhan, kita tidak boleh menjadi orang yang legalistik. Kita taat kepada Tuhan kita jalani hidup ini, kita senantiasa harus peka dengan hal yang baru, pimpinan Tuhan, Roh Allah bekerja dalam hidup kita. Seringkali dalam hal ini sdr dipanggil Tuhan untuk terbuka kepada hal yang baru, hal yang segar. Sdr mengalami direksi yang baru yang Tuhan beri kepada kita. Pada waktu Alkitab katakan hanya Yesuslah yang menjadi penyempurna di dalam perjalanan kita ikut Dia, kita yang tidak sempurna, kita yang broken ini tidak akan pernah bisa sempurna. Maka dalam hal itu Tuhan sangat mencintai dan menghargai kita. Maka dalam perjalanan ikut Dia, kita semua itu unik, maka Tuhan memperhatikan temperamen kita, karunia kita yang berbeda-beda, gifts, resources kita yang berbeda-beda. Jangan pernah bilang saya tidak punya karunia ini, saya tidak bisa ini, tidak bisa itu, dsb. Karena tidak ada orang yang tidak punya karunia daripada Tuhan. Dan Tuhan mau dengan segala yang ada pada kita, keunikan temperamen, dengan perbedaan kita karena kita unik. Hanya Allah yang perfect. Karena kita tidak sempurna, kita broken, berarti kita tahu di dalam perjalanan kita ikut Tuhan nanti Tuhan yang akan sempurnakan. Dalam perjalanan itu Tuhan tahu kita punya seasons of life, tetapi seasons of life tidak pernah menjadi penghalang bagi kita. Contoh sederhana, sdr mungkin baru saja melahirkan anak. Itu adalah season of life yang berubah. Dulu sdr pelayanan di gereja dalam banyak hal, sekarang ini mungkin sdr hanya merawat bayi di rumah. Kita mungkin berhenti dari pekerjaan, itu membuat penghidupan kita tidak sebaik sebelumnya. Itu seasons of life. Ada pelayanan yang pernah kita kerjakan dan lakukan mungkin untuk sementara tidak bisa kita kerjakan lagi karena kita bukan orang yang maha hebat, maha bisa, maha melakukan segala sesuatu. Only Christ yang perfect. Setiap kita punya seasons of life, hidup kita juga tidak pernah mulus. Ada tanjakan, ada pasang surut, kita tidak akan sehat selama-lamanya, kita tidak akan muda selama-lamanya. Kita bisa sakit, kita bisa gagal, kita bisa bangkrut, kita bisa kecewa, up and down. Kita rasa Tuhan itu jauh. Itu hal-hal yang bisa terjadi dalam hidup kita karena Tuhan tahu kita itu tidak sempurna. Hanya Dia yang sempurna. Kalau hanya Tuhan yang sempurna, marilah pada hari ini ijinkan Tuhan mencintai dan mengasihimu apa adanya. Seringkali kita mau melakukan yang terindah dan terbaik, kita mau memuliakan Allah dalam hidup ini, akhirnya kita jatuh kepada fokus kita mau melakukan yang terbaik, kita lupa hanya Kristus yang sempurna dan yang pada akhirnya menyempurnakan engkau. Ijinkan Tuhan mencintai engkau dan saya dan juga kita mencintai orang apa adanya. Pada waktu engkau merasa lelah dan lesu, dan merasa Tuhan tidak care kepadamu biarlah Tuhan yang melayani dan menguatkan kita. Kita juga bisa lelah bukan karena kesalahan dan dosa kita, tetapi kita lelah karena kita terlalu perfectonist dan menuntut yang sempurna dalam hidup ini. It is time for you and me to remember it is not about us, it it all about God Jesus dalam hidup kita.

Biar pada hari ini firman Tuhan mengingatkan kepada kita kekuatan, sukacita dari Roh Allah, kiranya memberikan kekuatan yang baru di dalam hidup engkau dan saya. Tuhan panggil kita menjalani perjalanan ikut Dia hari ini tahan dan sabar, endure the race. Tanyakan kepada dirimu pada hari ini: apakah hatiku sudah joyful? Apakah aku punya right relationship dengan Tuhan? Apakah ada dosa, ada kesalahan, ada guilty feeling, ada beban yang saya tanggung dan saya pegang, yang tidak seharusnya menjadi beban yang kutaruh dalam hidupku? Buang itu semua. Katakan kepada Tuhan, Tuhan, mungkin hidup saya lambat menghasilkan buah-buah yang indah, tetapi saya minta Tuhan hari ini hasilkanlah buah-buah Roh Allah yang indah itu di dalam hidup setiap kita dan menjadi sukacita kita. Yesus Kristus telah menjadi contoh teladan yang sempurna, kita mau menjadi murid Tuhan, kita mau ikut Dia sampai akhir hidup kita. Hanya Dia yang sempurna dan Dia tidak pernah mengecewakan kita dan Dia tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan kiranya menyempurnakan apa yang ada yang masih kurang dalam hidup kita bagi hormat kemuliaan nama Tuhan.(kz)