So This is Your Life [3]

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: So This is Your Life [3]
Tema: Glorify and Enjoy Him
Nats: Kolose 3:23, 1 Petrus 4:11

So This is Your Life, jadi inikah hidupmu? Ada delapan tema yang akan kita renungkan dari seri khotbah ini. Dalam khotbah yang pertama kita bicara mengenai “Self-Examination,” menguji diri sendiri. Kitalah satu-satunya mahluk yang diberikan oleh Tuhan hak dan kuasa dan kemampuan menjalani hidup ini bukan sekedar sebagai survival, sebagai sesuatu yang kita jalani begitu saja. Kita adalah mahluk yang bisa menilai, mengevaluasi, dan memahami diri sendiri; mengerti apa yang kita kerjakan itu berharga atau tidak. Apakah kita peduli hanya kepada hidup kita yang kelihatan, kebutuhan fisik kita belaka; ataukah kita peduli kepada kebutuhan jiwa kita akan Allah. Itu pertanyaan kita yang pertama. Tema kedua kita membahas hal yang penting dalam hidup ini mengenai “Meaning,” hidup ini apa tujuannya, apa signifikansinya, apa nilainya, apa yang kita kejar dan kita cari. Jikalau kita menjalani hidup ini tanpa tahu apa yang menjadi yang paling berharga, apa yang menjadi paling penting dalam hidup ini, betapa kita adalah orang-orang yang paling malang dan sedih dalam hidup ini adanya, bukan? Salah satu hal yang paling penting dalam hidup manusia adalah kita mengejar dan mencari makna. Tetapi makna itu tidak didapat dari bagaimana kita membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain; makna itu tidak didapat dari apa yang kita capai dalam hidup ini. Jikalau kita menaruh standar dan penilaian seperti itu, kita akan tahu hidup kita tidak akan pernah habis-habisnya batasannya, penuh dengan penyesalan, tetapi mari kita melihat itu di dalam satu perspektif kacamata surgawi dari atas.

Kita sudah sampai kepada tema yang ke tiga hari ini bicara mengenai “Glorify and Enjoy Him.” Tema dari khotbah hari ini diambil dari pertanyaan pertama Westminster Shorter Catechism, apa sebenarnya yang menjadi tujuan utama daripada manusia? What is the chief end of man? Man’s chief end is to glorify God and to enjoy Him forever. Tujuan yang paling utama dalam hidup ini adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya. Saya akan memulai dengan satu pertanyaan: Apakah anda orang yang paling bahagia? Kalau ya, apa yang membuat hati anda bahagia? Ini merupakan satu pertanyaan yang penting sekali. Kebanyakan kita bahagia karena hal-hal yang kita dapat. Dapat pekerjaan, dapat rumah, dapat mobil baru, dapat bonus Natal dan naik gaji. Kalau kita baru bahagia hanya ketika mendapatkan sesuatu yang baik, maka bisa jadi itu kita rasa seperti drugs yang harus naik dosisnya; seperti satu addictive kita rasa kita perlu mendapat boosting untuk bisa memberikan sensasi sukacita yang baru tiap hari. Dan pada waktu kita tidak mendapatkannya, kita merasa kehilangan sukacita dan akhirnya kita bangun di pagi hari dengan hati yang tidak bahagia. Dan pada waktu kita bangun pagi, kita jalani hidup kita dengan rutin, apakah kita tetap menjalani hari kita dengan bahagia? Kalau hidup kita berjalan dengan begitu saja, tidak ada sesuatu yang surprise kita dapatkan, do you still happy? Apakah engkau bangun pagi dengan sukacita dan bahagia? Lebih dalam lagi, sebagai anak Tuhan, apa yang membuat engkau bahagia? Adakah kita glorify and enjoy Him everyday?

Banyak orang datang ingin bertemu dengan Tuhan dan ingin percaya Tuhan hanya karena dia mau Tuhan membuat dia happy, bikin dia senang, yaitu ketika Tuhan berbuat ini dan itu dalam hidup dia. Itulah kita. Kita selalu ingin sesuatu dari Tuhan lalu itu membuat kita senang. Kita lupa ada hal yang lebih dalam dan jauh lebih indah yaitu relasi dengan Tuhan sendiri. Saya percaya kita tidak akan bisa menikmati satu relasi yang indah dan baik dengan anak kita atau dengan siapapun kalau dia hanya senang dan happy dan baik kepada kita pada waktu kita memberi dia sesuatu. Sedih sekali kalau anak kita baru sayang kepada kita ketika kita memberi dia hadiah, tetapi selebih daripada itu kita tidak pernah menemukan inisiatif dari dia untuk menjalin hubungan dengan kita atau melakukan hal yang mengekspresikan cintanya kepada kita. Bahkan satu tindakan sederhana memeluk kita dan berkata, aku mengasihimu papa, sudah merupakan satu sukacita yang tidak bisa diganti dengan apapun, bukan?

Di dalam Alkitab Kejadian sampai Wahyu kita menemukan begitu berlimpah kata “to glorify, glorification,” di dalam konkordansi Alkitab. Sehingga tidak heran, ada seorang hamba Tuhan mengatakan kalau kita lihat pelayanan rasul Paulus dan pelayanan para rasul yang lain, inilah dua hal yang paling penting yang ada di dalam hati setiap mereka yang melayani sebagai rasul. Yang pertama, bagaimana menjadikan orang-orang Kristen, jemaat Allah yang menerima surat ini melihat seluruh aspek hidup mereka adalah hidup yang memuliakan Allah. Yang kedua adalah bagaimana para rasul ini mendorong jemaat bukan saja melayani Tuhan tetapi untuk bertumbuh kepada kedewasaan rohani, menjadikan fokus hidup mereka menikmati hubungan dan relasi dengan Allah intim dan dekat.

Bagaimana kita memahami konsep memuliakan Allah dan menikmati Dia di dalam hidup kita sebagai anak Tuhan? Point pertama saya ambil dari satu ayat dari Paulus yang memperlihatkan dari aspek negatif bagaimana orang yang hidup tidak memuliakan Allah. “Sebab sekalipun mereka mengenal Dia, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepadaNya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap” (Roma 1:21). Memuliakan Allah, menikmati Allah, jelas ini merupakan tujuan hidup yang sangat asing bagi orang yang belum dirubah hatinya. Kata ini jelas tidak pernah dimengerti oleh dunia ini. Maka hal yang pertama yang kita lihat, kita tidak akan mengerti dengan lebih dalam apa artinya tujuan hidup ini memuliakan Allah dan menikmati Dia kalau kita belum menurunkan si Aku ini dari tahta hati kita sebagai tuhan dan menjadikan Tuhan yang bertahta di dalam hati kita. Roma 1 jelas mengatakan orang-orang ini bukannya tidak mengenal Tuhan; orang-orang ini bukan tidak punya pengetahuan tentang Tuhan atau informasi mengenai Tuhan itu tidak ada. Kesadaran akan adanya Allah di dalam dunia ini sendiri sebenarnya berlimpah ruah. Dalam Mazmur 19, Daud berkata, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tanganNya. Hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar. Tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi” (Mazmur 19:1-5). Alam semesta ini adalah saksi bisu dari kehadiran Allah. Setiap kali kita bangun pagi, melihat matahari terbit, kita menganggap itu sebagai sesuatu yang biasa saja. Kita tidak pernah bayangkan dan pikirkan, tiba-tiba matahari ngambek tidak mau terbit, dsb. Roma 1:21 Paulus berkata, pengetahuan mengenai Allah berlimpah ruah di alam semesta ini dan manusia tidak bisa mengatakan itu tidak ada. Dan sekalipun orang tidak mau mengakui hal itu, sampai nanti bertemu dengan Tuhan mereka tidak bisa mencari alasan. Problemnya adalah bukan karena mereka tidak tahu; problemnya adalah manusia itu betul-betul jijik dan membenci pengetahuan akan Allah. Sekalipun mereka mengenal Allah, tahu akan Allah, tetapi mereka dengan sengaja tidak mau tahu dan tidak mau memuliakan Allah. Orang seperti itu tidak akan pernah mau memuliakan Allah dan mengucap syukur kepada Allah di dalam hidupnya. Dunia ini begitu gelap dan tidak suka akan terang. Dunia ini membenci Allah dan senantiasa mencari kesempatan dan alasan untuk menghina Allah. Kenapa? Karena mereka tidak mau independensi dan otonominya terganggu. Mereka mau merekalah yang menguasai, merekalah yang menuntun, merekalah yang mengatur dan mengontrol hidup. Allah tidak boleh campur tangan bagi hidupku.

Saya harap hidup kita sebagai anak-anak Tuhan setiap kali bangun pagi, setiap memulai hari yang baru, kita selalu melihat dan mengakui betapa indah pemeliharaan Allah atas dunia ini. Kesadaran akan kehadiran Allah begitu nyata, membuat hati kita bersyukur karena kita mengerti kita adalah manusia yang diciptakan Allah memiliki hidup yang begitu berarti dan berharga bukan karena apa yang sudah kita raih dan dapatkan, tetapi karena kita menikmati Allah dalam hidup kita. Setiap kali bangun pagi ketika kita menyatukan hati kita dan meletakkan Allah pada tahta hati kita, saya percaya semua hal dalam hidup kita akan berjalan dengan indah, jalan dengan harmonis. Sama seperti ketika bulan dan matahari tidak berada pada tempat yang sepatutnya, kita tahu pasti akan terjadi kekacauan dan bencana alam karena semua itu tidak pada tempatnya. Pada waktu hati kita kehilangan sukacita untuk mengasihi dan mencintai Tuhan, kesukaan untuk memuliakan Dia. Roma 1:21 harus ingatkan kepada kita sekalipun mungkin sebagai orang Kristen kita mempunyai pengenalan akan Allah, mengetahui teologi mengenai Allah tetapi jika tidak ada hati yang mengucap syukur dan memuliakan Dia, kita telah menempatkan diri kita sendiri bertahta sebagai tuhan dalam hati kita.

Yang kedua, ketika kita baca seluruh kesaksian Alkitab, kita bisa melihat pada waktu orang bertemu dengan Tuhan, siapapun dia, wanita Samaria, orang kusta, janda, mereka yang kedapatan berbuat dosa, pada waktu mereka bertemu dan berjumpa dengan Tuhan, maka mereka pulang sambil memuliakan dan memuji Allah. Yesus pernah memberikan perumpamaan mengenai orang Farisi dan pemungut cukai yang datang ke rumah Tuhan untuk berdoa. Orang Farisi itu berdiri dengan angkuh dan berdoa seperti ini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan pezinah, dan bukan juga seperti pemungut cukai ini. Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang yang berdosa ini. Yesus berkata, pemungut cukai ini pulang ke rumahnya dengan hati yang bersukacita karena ia telah dibenarkan oleh Allah, sedangkan orang Farisi itu tidak (Lukas 18:9-14).

Maka hal yang kedua, kita akan memuliakan Allah dan sukacita kita penuh pada waktu kita tahu kita telah mendapatkan anugerah dan keselamatan itu. Maka tujuan hidup memuliakan Allah dan menikmati Dia hanya bisa datang dari hati yang telah mengalami transformasi ketika anugerah Allah tiba kepadanya. Di situlah orang itu walaupun sudah pernah menjalani satu hidup yang dianggap paling tidak baik, atau satu hidup yang tidak berharga, begitu nista dan najis, orang jijik kepadanya karena dosa dan sakit-penyakitnya, tetapi ketika mereka menyaksikan keselamatan dan anugerah Tuhan tiba di dalam hidupnya, itu bukan saja memberikan kesembuhan kepada fisiknya, tetapi yang terutama hatinya dipenuhi oleh sukacita yang tidak bisa terkatakan.

Keselamatan yang kita terima dari Yesus Kristus seharusnya memberikan sukacita yang luar biasa karena kita memiliki relasi yang telah diperbaiki dengan Allah. Ketika kita kehilangan sukacita dan dimensi untuk melihat suasana hati kita yang tidak bisa menikmati Allah, bawa hati kita kembali merenungkan lebih dalam, memahami lebih indah, menghargai betapa besar anugerah Tuhan yang telah engkau terima. Kalau hari ini saya tidak mengenal Tuhan Yesus, kira-kira saya ada dimana? Kita bisa percaya Tuhan, kita bisa memiliki hidup seperti ini, mengapa itu tidak membuat engkau bersyukur dan bahagia? Mengapa itu tidak membuat engkau memuji Allah? Mengapa itu tidak mendorong hasrat hati kita untuk memuliakan Allah dengan hidup yang ada sekarang? Itu terjadi karena kita sadar kita dicintai, dihargai, kita bisa menikmati keselamatan dari Tuhan.

Ada dua ayat yang unik sekali bicara mengenai apa yang bisa kita kerjakan sekalipun kecil, tetapi itu berkaitan dengan kemuliaan Allah. Yang pertama dalam Kolose 3:23 Paulus berkata kepada para budak, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Lakukan segala sesuatu dalam hidupmu, apa saja yang engkau kerjakan jangan kerjakan itu supaya dilihat oleh tuanmu, kerjakanlah untuk Tuhan dan di situ Tuhan yang dimuliakan. Ayat yang kedua dalam 1 Korintus 10:31 Paulus berkata, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan segala sesuatu yang lain, lakukanlah itu untuk kemuliaan Allah.” Ayat ini bicara kita memuliakan Tuhan bukan berkatan dengan doa, bukan berkaitan dengan kebaktian, bukan berkaitan dengan pujian dalam ibadah Minggu kita, tetapi berkaitan dengan hal-hal sehari-hari yang sederhana, apa yang kita kerjakan dan lakukan dalam hidup ini. Ketika kita makan, kita minum, kita menikmati semua dengan sukacita. Tetapi kenapa kita berhenti memuji hanya sampai kepada makanannya enak, hal ini baik, hal itu baik, tetapi kita tidak naikkan pujian itu sampai kepada Allah yang memberikan segala sesuatu untuk kita nikmati? Ada kenikmatan di dalam kita makan, kita minum, apa saja, termasuk di dalam relasi seksual antara suami dan isteri. Tuhan memberikan segala hal bagi kita untuk kita nikmati, tetapi tujuannya adalah melaluinya kita menyadari dari kenikmatan sukacita yang kita terima dan kita dapat di situ kita tahu Allah kita begitu baik adanya. Tuhan, terima kasih. Bukan itu saja, segala yang kita nikmati di dunia ini sebenarnya hanya sebagai satu cicipan belaka, karena nanti bersama dengan Dia semua kebaikan Allah itu menjadi penuh, indah dan luar biasa. Sekalipun ada orang yang ambil keputusan untuk berpuasa tidak makan, ada orang yang ambil keputusan untuk selibat tidak menikah, bukan berarti mereka menolak kepuasan dan kenikmatan seperti itu, tetapi mereka ambil keputusan itu karena mereka tahu bahwa ada hal yang lebih penting di dalamnya. Sehingga kita tidak mengatakan bahwa orang yang single atau orang yang ambil keputusan untuk berpuasa dan menolak makan seperti ini berarti dia adalah orang yang tidak memuliakan Allah. Yang penting adalah hal yang kita lihat di bagian ini, sekalipun yang kita kerjakan adalah sesuatu yang sederhana simple hari ke hari, kita tidak boleh berhenti sampai kepada level kita suka, senang dan puas tetapi untuk melihat semua itu sebagai sarana kita bisa memuliakan Allah. Dengan demikian tidak ada aspek dalam hidup kita yang tidak bisa kita pakai untuk menjadi kendaraan kita memuliakan Tuhan. Dalam pekerjaan kita sehari-hari, Matius 5:16 Yesus berkata, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” Biarlah cahaya Yesus itu terlihat di dalam perbuatan baikmu sehingga orang lain melihatnya dan memuliakan Allah. Ini kita sebut sebagai the passive glorification. Sedangkan yang kita sebut sebagai the active glorification adalah pada waktu kita datang ke rumah Tuhan berbakti, bernyanyi, memuliakan nama Tuhan, itu semua memuliakan Allah secara aktif.

Sehingga praktisnya bagaimana? Kita akan mengatakan kepada anak-anak kita, biar the light of Jesus Christ shown in your life. Lakukan yang terbaik apa saja yang engkau lakukan. Sekalipun engkau tidak mendapatkan hasil yang baik, tetap bersyukur kepada Tuhan. Orang yang susah dalam hal apa saja, bantu dia. Kalau bia ajak orang itu berdoa sama-sama supaya bisa Tuhan menolong dia melalui segala kesulitan dengan baik. [kita latih anak kita seperti itu] kita katakan kepada mereka the light of Jesus bersinar dalam hidupmu, dalam apa saja yang akan engkau kerjakan. Menjalankan pekerjaan apa saja, menjadi posisi apa saja, kita tidak melihat dan menilai dari situ. Kita tidak menganggap pekerjaan tertentu, atau jabatan dan posisi tertentu, engkau lebih [dignitas] daripada yang lain. Yang terpenting apakah engkau memuliakan Tuhan di situ. Hidup sehari-hari dengan sikap seperti itu. Bekerja dengan baik, jadikan sebagai alat orang melihat engkau memuliakan Allah.

Terakhir, 1 Petrus 4:11 berkata, “Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah. Jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah kepadanya, supaya Allah dimuliakan di dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.”

Dari ayat ini kita diingatkan bahwa Allah dimuliakan di dalam segala sesuatu yang kita lakukan di dalam pelayanan bagi kerajaanNya; pelayanan menjadi satu sarana dimana Allah dimuliakan. Itu yang menjadi tujuan setiap kita sebagai umat Allah. Kita melayani bukan untuk memuliakan diri, bukan untuk keuntungan diri, tetapi ketika kita melayani satu dengan yang lain dengan menggunakan karunia dan bakat kita, Allah ditinggikan dan dimuliakan. Adakah setiap kita sudah ambil bagian dan ambil bagian di dalam pelayanan yang Tuhan percayakan kepada setiap kita? Kita lakukan bukan karena kita mampu, bukan karena kita berbakat dan punya talenta. Di dalam ayat ini Petrus katakan kita bisa melakukannya karena kekuatan yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita. Ada dua hal yang sederhana yang Paulus katakan, biar mereka yang berkhotbah, yang mengajar dan memimpin, di situ firman Allah mereka sampaikan dengan baik. Lalu ada hal yang kedua yang tidak dilakukan dengan kata-kata, tetapi dengan tangan dan perbuatan, kita melayani satu dengan yang lain. Dalam pelayanan gereja, pada waktu kita hanya menjadi penonton, terlalu gampang kita bisa melihat salah ini salah itu, kurang ini kurang itu di dalam pelayanan gereja karena kita hanya menonton. Tetapi pada waktu kita ambil bagian di dalam pelayanan maka kita tahu kesalahan dalam pelayanan gereja kita bukan kesalahan satu orang, bukan kesalahan pendeta, bukan kesalahan pengurus, tetapi salah kita sama-sama, karena sdr dan saya berbagian di dalamnya. Tetapi pada waktu kita mengerjakan sesuatu dan Allah dimuliakan, itu bukan kemuliaan satu orang, karena kita tahu kita melakukan itu bersama-sama. Petrus katakan mari kita memuliakan Allah dengan melayani satu dengan yang lain.

Mari kita refleksi firman Tuhan hari ini. Are you a happy person? Mungkin engkau bilang engkau bukan orang yang gampang senyum, tetapi ini bukan bicara soal senyum dan tawa, ini hal yang berbeda. Apakah engkau menikmati Allah dan memuliakan Dia? Kemanapun engkau pergi, apapun yang engkau lakukan, jalani hidupmu dengan fokus hati seperti itu. Melalui hidupmu adakah orang akan melihat engkau adalah anak Tuhan yang betul-betul indah memuliakan dan menikmati Allah? Itu sebab penting pertanyaan ini: apakah engkau orang yang berbahagia? Are you happy? Apakah engkau senang datang ke rumah Tuhan berbakti kepadaNya? Apakah engkau senang melayani Tuhan? Apakah engkau senang bekerja, senang dengan apa yang engkau dapatkan dari hasil pekerjaanmu? Apakah engkau senang berada di tengah orang-orang di sekitar hidupmu? Biar ini semua menjadi pertanyaan yang menuntun hati setiap kita.(kz)