So This is Your Life [2]

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: So This is Your Life [2]
Tema: Meaning
Nats: Mazmur 73:1-13, Yohanes 21:15-23

Topik yang ke dua dari delapan seri khotbah “So This is Your Life” hari ini adalah “Meaning,” apa arti dan makna dari hidup ini. Mari kita melihat dari perspektif sebagai anak Tuhan bagaimana kita menjalani hidup kita, mari kita analisa baik-baik. Seringkali bisa jadi kita tidak tepat atau miss the point melihat akan apa yang paling penting dalam hidup kita. Dalam mencari makna hidup, ada dua sudut pandang atau perspektif, dari luar atau dari diri kita sendiri, yang menciptakan makna atau nilai hidup itu. Dari sudut pandang luar, jikalau kita adalah anak Tuhan dan orang yang percaya kepada Tuhan, kita mesti melihat makna hidup kita dari perspektif atas, dari Allah. Berbeda dengan orang yang tidak percaya Tuhan, makna hidupnya dilihat dari perspektif orang lain menilai.

Konsep mengenai makna hidup dibahas dengan sangat baik di dalam kitab Pengkhotbah. Kitab Pengkhotbah adalah kitab yang menjadi satu refleksi dari penulis Pengkhotbah bicara mengenai apa arti daripada hidup ini setelah Pengkhotbah pasal 1-11 menjalani hidup yang mengejar dan meraih banyak hal, sekolah yang tinggi, mendapatkan banyak uang, memiliki kesenangan sukacita atas segala sesuatu apa yang dia miliki. Sehingga Pengkhotbah merefleksikan hidupnya seperti sebuah kilas balik dari seorang yang sudah tua setelah meneliti semuanya itu maka kemudian dia tutup dengan kalimat ini. “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah” (Pengkhotbah 12:13). Bukan semua pencapaian itu tidak penting, tetapi bagaimana dia melihat dengan kesementaraan hidup kita yang terbatas, kita tidak bisa memperoleh segala-galanya. Yang kedua, setelah dia mendapatkan itu semua, dia sadar bahwa makna hidup tidak didasarkan oleh semua hal itu. Yang ketiga, kemudian dia baru sadar makna itu baru kita dapatkan ketika hidup kita berkait dengan Allah dan Tuhan kita. Sehingga pada akhirnya Pengkhotbah berkata, “Hai anak muda, ingatlah akan Penciptamu selama masa mudamu” (Pengkhotbah 11:9 – 12:1).

Apa makna daripada hidup ini, apa artinya? Ada tiga hal yang berkaitan dengan hal ini. Yang pertama, bicara akan makna hidup, kita pasti akan bertanya soal purpose, tujuannya. Yang kedua, kita akan tanya soal signifikansinya. Yang ketiga, kita akan bertanya soal value, nilainya. Maka kita masuk kepada hal yang pertama: apa tujuannya. Hidup kita itu ada arahnya, ada jalannya. Kita tidak ingin hidup kita berputar-putar, kita tidak ingin mengerjakan sesuatu tanpa pernah tahu apa tujuan akhirnya, kita sedang mau menuju kemana. Maka, makna hidup ditentukan dari tujuannya. Yang kedua, bicara soal signifikansi. Begitu banyak orang merasa hidupnya tidak bermakna karena dia merasa insignifikan, hanya memiliki pekerjaan yang sederhana saja, hanya menjadi orang yang menambal ban mobil, mencari barang-barang bekas untuk didaur ulang, dsb. Kita berpikir hidup orang itu sangat insignifikan. Maka orang sering berpikir hidupnya baru berarti kalau dia menjadi orang yang kaya dan sukses, barulah bisa menjadi signifikan dalam hidup ini. Maka signifikasi diukur dengan achievement, prestasi, pencapaian, sesuatu yang patut dikejar dan diraih, sesuatu yang lebih besar. Manusia memiliki perasaan itu. Walaupun dia tahu hidupnya akan segera berlalu tetapi tetap dia tidak ingin kematian itu membuat hidupnya menjadi hilang dan insignifikan. Yang ketiga, kita bicara mengenai value atau nilai. Apakah hidupku bernilai? Apakah hidupku berarti? Apa yang aku kejar selama ini memiliki nilai? Apakah yang sudah aku dapat dan aku miliki sekarang ini mempunyai arti dan nilai adanya? Semua orang, baik dia Kristen atau bukan, baik dia orang kaya atau orang miskin, baik dia orang berpendidikan atau yang hanya lulus SD, pada waktu bicara mengenai makna hidup, semua akan mengejar dan mencari akan tiga hal itu. Yang menjadi persoalan, benarkah makna hidup ditentukan dengan tiga hal itu? Apakah dengan mengejar dan mendapatkan itu semua, maka kita sudah mendapatkan makna hidup yang sesungguhnya? Kalau benar demikian, kenapa begitu banyak orang yang sudah sampai di sana, tetap dia tidak merasa telah menemukannya? Maksud saya, bukan berarti apa yang manusia kerjakan dan pencapaian yang diperoleh itu tidak berarti dan meaningless. Setiap hal yang kita kerjakan dan lakukan di dunia ini sangat berarti. Kita membesarkan anak, itu hal yang sangat berarti. Kita bekerja, itu hal yang sangat berarti. Berdoa, itu hal yang sangat berarti. Makan minum, itu hal yang sangat berarti. Menabung, itu hal yang sangat berarti. Memberi, itu hal yang sangat berarti. Intinya semua hal yang baik yang dikerjakan dan dilakukan bagi diri dan bagi masyarakat, itu semua punya arti. Jadi kita tidak boleh katakan, hanya apa yang dilakukan anak-anak Tuhan itu yang berarti, sedangkan apa yang dilakukan oleh orang-orang lain yang bukan anak Tuhan tidak berarti. Itu keliru. Segala hal yang baik dan mendatangkan benefit bagi orang lain, itu punya arti, itu sesuatu yang useful. Tetapi persoalannya di sini adalah ketika kita bicara soal meaning, bukan hanya sampai kepada baik dan berguna dan bernilai karena kalau tidak ada perspektif dari kekekalan, semua yang kita kerjakan itu selesai sampai di sini saja. Orang ateis sendiri mengaku jikalau tidak ada Allah, sebenarnya tujuan daripada alam semesta ini berarah dan berjalan kepada sesuatu yang tidak punya arti dan makna. Bertrand Russel mengatakan alam semesta ini tidak punya tujuan dan kosong dengan makna. Yang kita lakukan setiap hari, usaha yang kita kerjakan itu hanya menuju kepada kepunahan sejalan dengan punahnya solar sistem ini. Orang ateis kedua yang ingin saya kutip adalah Alexander Rosenberg. Dia menulis buku “The Atheist’s Guide to Reality.” Dia berkata, apakah ada tujuan di dalam alam semesta ini, apakah ada makna dari hidup? Tidak ada. Apakah sejarah yang kita jalani itu mempunyai makna dan punya tujuan? Tidak ada. Itu hanya hiruk pikuk suara belaka. Karena tidak ada Allah, maka apapun yang ada dalam dunia ini adalah sudah ada seperti ini, yang tidak mempunyai makna, yang selesai habis, lalu sejarah yang baru muncul dan menjadi sesuatu yang berjalan begitu saja. Jadi kalau begitu, bagaimana? Seorang sutradara ateis bernama Stanley Kubrick berkata, karena tidak ada makna dari hidup ini, terpaksa kita harus bikin makna untuk diri kita sendiri. Maka kalau kita bilang hidup kita itu bernilai dan berarti, maknanya datang dari diri kita sendiri. Jikalau manusia sendiri yang harus menentukan apa yang berarti, yang bernilai dan bermakna dalam hidup ini, berarti tidak ada standar absolut karena masing-masing punya standar subyektifnya masing-masing. Sehingga kita tidak bisa menghakimi dan menilai hidup orang lain, bukan? Itu yang seringkali dikatakan orang pada saat berbicara mengenai hal ini: engkau tidak bisa memaksakan pandanganmu kepadaku; apa yang aku anggap baik bagiku, itu baik bagiku. Mungkin sampai pada level itu kita harus setuju dengan pandangan dia, karena dia melihat sdr orang baik, dan dia baik-baik juga, maksudnya dia tidak melakukan yang aneh atau tidak benar. Kalau dia membesarkan anak, bekerja dengan jujur, hidup dengan baik, bersumbangsih bagi masyarakat, maka mungkin dia pikir sekalipun dia tidak ke gereja dan tidak percaya Tuhan, it’s fine with me, it is my life. Ketemu dengan orang seperti itu, kita bisa balik bertanya: kalau begitu, jika seorang teroris mengatakan tindakan dia membunuh dan menteror orang itu adalah sesuatu yang bernilai dan berarti bagi dirinya, dan itu yang menjadi kepuasan dan tujuan hidupnya, apakah engkau dapat membenarkan prinsip dia? Saya percaya mungkin dia akan berpikir lebih dalam. Pointnya adalah jika engkau ingin menemukan makna hidupmu berdasarkan kamu sendiri yang memberikan nilai dan arti kepada hidupmu, ada tiga hal yang terjadi; yang pertama: tidak ada arti sebenarnya pada hidupmu karena begitu engkau mati, nilai itu habis selesai. Yang kedua: karena setiap orang punya penilaian yang subyektif, engkau tidak bisa menghakimi dan menilai pandangan hidup orang lain dan engkau tidak bisa menganggap yang satu lebih baik daripada yang lain. Dan yang ketiga ini: kalau kamu mengatakan nilai hidupmu ditentukan oleh hidupmu sendiri, tanyakan pertanyaan ini: are you happy with your life now? Karena ini hidup yang engkau pilih, bukan? Kalau dia bilang, aku tidak bahagia, berarti ada pandangan hidup dan nilai hidup dari luar yang mempengaruhi hidupmu.

Mazmur 73 adalah satu mazmur yang sangat luar biasa karena mazmur itu dengan jujur mengungkapkan struggle yang luar biasa dari seorang yang mengalami pergumulan untuk memahami apa makna hidup itu berdasarkan apa yang Tuhan nyatakan. Sehingga dia buka mazmur ini dengan satu pernyataan: “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya” (Mazmur 73:1). Allah kita itu adalah Allah yang baik, Allah yang penuh dengan kasih dan rahmat. Dan Allah itu adalah Allah yang sungguh-sungguh baik kepada orang yang hatinya tulus dan murni, yang bersih kelakuannya dan yang hidupnya takut akan Allah. Itu statement dia, itu pengakuan iman dia. Namun dari ayat 2-12, pemazmur melihat betapa berbeda antara apa yang dia imani dengan realita perjalanan hidup yang dia alami. Dia tidak merasakan kebaikan Allah terjadi kepadanya. Terlebih saat dia bandingkan hidupnya dengan hidup orang yang fasik, yang tidak takut akan Allah, yang hatinya kotor, pekerjaannya tidak tulus. Mereka congkak dan angkuh, bahkan mereka dengan berani menghina Allah. Tetapi apa yang terjadi kepada mereka? Bukan saja mereka tidak sakit dan mati, malah mereka hidup penuh dengan kegembiraan. “Sesungguhnya itulah orang-orang fasik. Mereka menambah harta benda dan senang selamanya” (ayat 12). Sebaliknya, ketika pemazmur melihat kepada dirinya sendiri yang tulus hati dan cinta Tuhan hidupnya pas-pasan, diperas, sakit-sakitan, tidak henti dirundung kesulitan dan problema. Sedangkan orang fasik ini membangga-banggakan perbuatan jahatnya dan tidak ada orang yang berani melawannya. Bahkan akhirnya semua orang mengikuti dia dan yang lebih celaka lagi dia berani mengata-ngatai langit, menghina dan mencemooh Allah. Dan apa yang terjadi? Apakah Allah tidak tahu semua ini? Kenapa Tuhan diam saja, tidak melakukan sesuatu tindakan sebagai Allah yang suci dan kudus kepada orang-orang seperti ini. Dan kenapa Tuhan tidak memberkati aku seperti mereka? Aku iri dan cemburu dengan hidup mereka, dengan segala apa yang mereka punya. aku mau sehat, aku mau makmur, aku mau sukses, aku mau kuasa, aku mau seperti dia! Krisis iman yang luar biasa terjadi. Kalau begitu apa gunanya, aku ikut Tuhan dengan sungguh-sungguh dan beriman kepada Tuhan? Kalau begitu, sia-sia saja, lebih baik saya tidak mempertahankan hati yang bersih. Lebih baik saya tidak melihat perspektif dari Tuhan. Selesai. Selesai? Ternyata tidak selesai di situ. Pemazmur berkata, “Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi. Seandainya aku berkata: aku mau berkata-kata seperti itu, maka sesungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu. Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku” (ayat 15-16). “Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya. Aku dungu dan tidak mengerti” (ayat 21). Ada kepahitan dalam jiwanya yang merembet kepada sakit di tubuhnya. Itu kalimat yang sangat real, sangat nyata sekali. Begitu bayak penyakit fisik yang kita alami bersumber dari kepahitan hati dan ketidak-bahagiaan dalam jiwa. Kita bersyukur kepada Tuhan kita boleh menjalani hidup seperti ini. Tetapi kadang kita memiliki juga anxiety dan unhappiness di dalam hidup kita, karena mungkin kita tidak puas dengan apa yang kita punya. Kita terus mengharapkan ‘more and more.’ Kita mungkin kecewa akan keputusan salah yang kita ambil dan kita tidak pikir, mungkin jalan hidupku akan menjadi seperti ini. Kita merasa hidup kita begitu gelap dengan masa lalu yang kita mau kubur dalam-dalam karena terlalu pekat. Kita punya penyesalan tersendiri mengenai hidup ini. Sekalipun kita tahu, kita tidak bisa mengulang hidup ini, kalau ada kesalahan dan masa lalu yang gelap, kita tidak bisa ubah. Persoalannya adalah bagaimana setelah kita ditebus oleh Tuhan, hidup ini kita jalani dengan seperti apa. Di sini pemazmur mengeluh, “Aku dungu dan tidak mengerti akan hal itu” (ayat 22). Kita tidak akan bisa memahami hidup sebelum kita memandang itu dari sudut pandang perspektif dari atas, apa yang Tuhan mau dan lihat dalam hidup kita.

“Sampai aku masuk ke tempat kudus Allah” (Mazmur 73:17) terjadi satu restorasi, terjadi satu pertobatan, dia kembali kepada Tuhan dan bertemu Allah di tempat kudusnya. Restorasinya dimana? Kenapa dia perlu ke rumah Tuhan? Karena di situ dia baru melihat bagaimana arti dan nilai hidupnya dari sudut pandang Tuhan di situ baru dia bisa mengerti dan melihat dengan jelas dan clear. Di situ dia bisa melihat kesudahan hidup orang fasik. “Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kau taruh mereka. Kau jatuhkan mereka sehingga hancur. Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap habis oleh karena kedahsyatan. Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga rupa mereka Kau pandang hina” (ayat 18-20). Dari sudut pandang Tuhan, baru kita bisa melihat, hidup ini begitu singkat. Apa yang kita kejar, apa yang kita ingin dapatkan, segala kesementaraan yang dengan segera selesai begitu kita mengakhiri hidup kita di dunia ini. Yang kedua, apa yang dilakukan orang fasik selama hidupnya itu akan berlalu dan lenyap dalam sekejap mata. Sekalipun mungkin orang itu selama di dunia ini bisa jahat sejahat-jahatnya dan tidak ada orang yang berani melawannya, satu kali kelak dia akan berhadapan dengan tahta kudus Allah dan di situ dia harus mempertanggung-jawabkan apa yang dia perbuat selama di dunia. Yang ketiga, hanya dalam sekejap mata hidup orang fasik itu sesungguhnya tidak memiliki arti dan nilai di hadapan Allah.

“Tetapi aku tetap di dekatMu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasehatMu Engkau menuntun aku dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan´ayat 23-24). Berbahagialah setiap kita, anak-anak Tuhan, pada waktu kita berdekat dengan Tuhan. Di situ, seperti pemazmur, kita akan mengalami bagaimana Tuhan menuntun kita, Tuhan mengangkat kita ke dalam kemuliaan, the destiny of glory. Dia bicara mengenai tujuan hidupnya, perjalanan hidupnya tidak berhenti di sini, tetapi sedang menuju kepada kemuliaan Allah. Sehingga sesudah itu, keluar kalimat yang begitu agung dan indah dari pemazmur, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (ayat25-26). Orang yang telah berjumpa dengan Allah, betapa berbeda pandangannya tentang apa yang paling bermakna dan paling bernilai dalam hidup ini. Hanya Allah yang paling berharga dalam hidupnya, yang menjadi tujuan dan bagian hidupnya selama-lamanya. Segala harta, kesuksesan, bahkan kesehatan dan kemakmuran tidak lagi menjadi yang terpenting dan terutama. Allah dan hanya Allah yang menjadi kerinduan hidupnya. Ketika kita masuk ke hadirat Allah, kita baru bisa mengerti hidup yang begitu indah, begitu signifikan, dan Tuhan care so much bagi hidup kita. Hati kita akan penuh dengan syukur dan pujian bahwa kita memiliki Tuhan dan Ia adalah harta yang terindah dalam hidup kita selama-lamanya.

Ada satu bagian yang unik dalam dialog Petrus dengan Tuhan Yesus dalam Yohanes 21. Mungkin kita waktu membaca pasal ini berhenti sampai kalimat Yesus, “Gembalakanlah domba-dombaKu” (ayat 17). Tetapi Tuhan Yesus tidak berhenti sampai di situ. Ia berkata kepada Petrus, “Aku berkata kepadamu: sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kau kehendaki. Tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kau kehendaki.” Dan Yohanes menulis catatan kecil: “Hal ini dikatakan Yesus untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah (ayat 18-19). Yesus memberikan nubuat beginilah nantinya Petrus akan mati dan memuliakan Yesus. Petrus, dulu engkau lari dan menyangkali Aku karena engkau takut akan mati karena nama Tuhan. Nanti waktu engkau tua, engkau tidak bisa lari lagi, engkau akan diikat, dan karena nama Yesus hidupmu akan terancam. Lalu selanjutnya di ayat 20 unik sekali. “Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan berkata: Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau? Ketika Yesus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?” (ayat 21). Petrus sambil jalan melihat Yohanes, oke, begitu cara matiku, lalu pikir orang ini cara matinya nanti bagaimana ya? What will happen with his life? kira-kira Petrus bertanya seperti itu. Apa jawab Yesus? Yesus jawab: Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu (ayat 22). Artinya, Tuhan mau lakukan apa kepada hidup dia, Tuhan punya rencana tersendiri bagi dia, tidak ada urusan denganmu. Apa yang Tuhan lakukan kepada orang ini, itu urusan Tuhan dengan dia dan tidak ada urusannya denganmu. Mau sampai tua nanti dia tidak mati, bahkan sampai Yesus datang kembali dia tidak mati, itu bukan urusanmu. Itu maksudnya. Tetapi akhirnya sampai menjadi rumour hangat beredar di tengah mereka bahwa orang ini tidak akan mati-mati, padahal bukan begitu maksud Yesus.

Kenapa saya mengajak sdr melihat dari bagian ini? Karena saya mau mengajak sdr melihat apa yang Yesus mau ajarkan mengenai bagaimana hidup kita masing-masing di hadapanNya. Kita jangan miss the point akan persoalan itu. Kita jangan terus melihat hidup orang lain dan membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain. Yesus mau setiap kita melihat nilai dan makna hidup kita dengan perspektif bagaimana Allah melihat hidup kita. Tidak ada hal yang sangat insignifikan dalam hidup ini. Hidup kita yang telah ditebus oleh Tuhan dipanggil untuk mencintai dan mengasihi Tuhan selama-lamanya di dalam porsi, di dalam bagian, di dalam assignment, di dalam hidup yang Tuhan sudah beri kepada kita masing-masing. Kepada jemaat Kolose, kepada mereka yang menjadi budak dan pekerja yang begitu insignifikan pada waktu itu, Paulus mengatakan, “Apapun yang engkau lakukan, lakukanlah itu dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23). Bukan engkau kerjakan karena dilihat orang tetapi lakukan itu untuk hormat, puji dan kemuliaan bagi Tuhan. Kekristenan, gereja ini, dan setiap kita membutuhkan anak-anak Tuhan yang memiliki hati seperti ini. Kita tidak membutuhkan siapa yang memberikan lebih banyak; kita tidak membutuhkan siapa yang merasa telah mengerjakan hal-hal yang lebih besar dan berkorban lebih banyak; kita tidak membutuhkan satu orang yang bisa mengerjakan segala sesuatu. Kita membutuhkan orang-orang yang mempunyai hati yang terus terbakar mencintai Tuhan dan yang rindu hidupnya berjalan di dalam kehendak Tuhan selama-lamanya.(kz)