So This is Your Life [1]

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri Khotbah: So This is Your Life [1]
Tema: Self-Examination
Nats: 2 Korintus 13:5

“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji” (2 Korintus 13:5).

Kalimat rasul Paulus ini sungguh menyentuh hati saya, Paulus berkata, “Ujilah dirimu sendiri.” Ini adalah satu perintah yang sangat penting kita lakukan dari waktu ke waktu: self-examination. Socrates yang hidup 400 tahun sebelum Kristus mengeluarkan satu kalimat seperti ini, “An unexamined life is not worth living.” Hidup yang tidak diteliti sendiri, hidup yang tidak dianalisa sendiri, hidup yang tidak dievaluasi sendiri adalah satu hidup yang tidak layak untuk dihidupi. Itu kalimat dari Socrates. Saya percaya Socrates melihat bahwa manusia sesungguhnya memiliki potensi, bukan kepada khayalan, bukan kepada mimpi, bukan kepada tahayul juga menyembah dewa-dewa. Itulah sebabnya Socrates tidak terlalu percaya kepada hal-hal seperti itu dan dia menganggap kepercayaan seperti itu adalah tahayul. Maka dia mau manusia jangan menjalani hidup tanpa memikirkan maknanya dan jangan menjalani hidup tanpa meneliti, mengevaluasi dan mencapai potensi diri sepenuhnya. Diri manusialah yang menjadi pusat dan sentral di dalam pemikiran dia. Namun saya tidak mau kita jatuh kepada penilaian diri yang akhirnya bersentral dan berpusatkan kepada diri sendiri. Ketika engkau menjadikan dirimu sebagai sentral, apa yang menjadi pencapaianmu, apa yang ingin engkau raih, apa yang menjadi evaluasi diri, semuanya diukur hanya dari perspektif diri sendiri, bukan seperti itu kita sebagai anak-anak Tuhan menilai diri.

Pada waktu kita menganalisa hidup kita, mengevaluasi diri dari perspektif diri sendiri, kita bisa jatuh kepada dua hal ini. Yang pertama, seringkali kita menilai diri kita berdasarkan bagaimana penilaian orang. Kita terus berpikir apa yang orang lihat dari diri kita. Sukseskah kita, gagalkah kita di mata mereka? Dan kita membandingkan diri dengan orang lain. Sukseskah, gagalkah? Akhirnya tidak pernah ada sukacita dan kepuasan dalam hidup kita karena kita terus membandingkannya dengan hidup orang lain, akan apa yang sudah mereka capai dan raih. Sehingga target hidup orang itu, pencapaian orang itu, posisi daripada hidup orang itu, pekerjaan daripada orang itu, keluarga daripada orang itu, senantiasa menjadi faktor eksternal yang membuat kita membandingkannya terus menerus dan kita mau seperti itu. Apa yang engkau lihat pada hidupmu hari ini? Apakah kita merasa tidak puas? Apakah kita merasa tidak bahagia? Apakah kita selalu mau mengejar apa yang dimiliki oleh orang lain? Apakah kita membandingkan hidup kita dengan pandangan orang lain? Apakah yang menggerakkan dan memotivasi hidup kita sampai hari ini? Pencapaian yang kita mau? Akhirnya kita dipenuhi oleh spirit yang kompetitif, iri hati dan tidak puas akan dalam hidup kita, kalau posisi kita lebih rendah dari orang itu. Sebaliknya pada waktu posisi kita lebih tinggi, lebih baik, lebih berhasil daripada orang itu, kita bisa berpuas diri, kemudian menjadi sombong, sekalipun kita suka pakai bahasa rohani “syukur kepada Tuhan” kita mendapatkan hal yang lebih baik. Yang kedua, ketika kita menjadikan diri sebagai pusat dan sentralnya, kita juga memperalat Tuhan sebagai kendaraan juga untuk mencapai apa yang kita mau. Kita “berdoa” kepada Tuhan, kita bilang Tuhan, berkati aku, ini yang aku mau; ini yang menjadi targetku tahun depan; masih ada banyak ini dan itu yang aku mau kerjakan. Termasuk orang-orang yang notabene menyebut diri hamba Tuhan, dalam pelayananpun kita juga memakai nama Tuhan, sekalipun sebut nama Tuhan, bilang puji Tuhan, puji Tuhan, tetapi diri sendiri yang menjadi pusat di dalamnya. Sehingga di akhir daripada segala sesuatu kemudian kita katakan: ini yang sudah aku lakukan, ini yang sudah aku capai, ini yang sudah aku dapat, dsb. Jangan sampai kita seperti itu. Firman Tuhan pada hari ini berkata, ujilah dirimu sendiri, kenalilah dirimu! Examine yourself, test yourself. Berarti self-evaluation, self-examination itu harus dan patut kita kerjakan dan lakukan setiap hari, setiap saat. Yang paling penting adalah ayat itu memberikan prinsipnya kepada kita standar apa yang kita pakai, bagaimana kita melihat dan menilai hidup kita. Paulus di sini mengatakan kita harus menguji diri dari dua hal: bicara mengenai kondisi imanmu, dan bicara mengenai satu Pribadi apakah Yesus Kristus ada di dalam hatimu. Mari masing-masing kita menguji dan mengevaluasi diri kita sendiri. Dan hari ini saya rindu sebelum kita mengakhiri tahun ini, mari kita merenungkan beberapa pertanyaan ini untuk menuntun kita mengevaluasi diri.

Pertanyaan pertama: Apakah engkau memikirkan dengan sungguh tentang jiwamu? Look at your own soul. Do you ever think carefully about your soul? Adakah engkau dengan sungguh-sungguh memikirkan mengenai jiwamu? Do you ever do anything about your soul? Saya percaya kita biasanya hanya memikirkan mengenai hal-hal spiritual pada hari Minggu, saat kita berbakti di dalam gereja. Dan kita harus akui, sepanjang minggu, di hari-hari lain pikiran kita begitu dipenuhi oleh hal-hal mengenai kebutuhan tubuh fisik kita. Kita memikirkan keluarga, suami, isteri dan anak-anak kita; kita memikirkan pekerjaan dan bisnis kita; kita memikirkan mengenai apa yang kita makan, minum dan pakai. Kita memikirkan mortgage rumah, kita memikirkan tentang karier, kita memikirkan anak kita, keluarga kita, planning kita, dan banyak hal lainnya. Bukan semua itu tidak penting. Kita tahu bahwa kita perlu dan kita membutuhkan hal-hal itu. Tetapi kita seringkali hanya lebih banyak memikirkan mengenai bagaimana mengurus kebutuhan aspek tubuh fisik kita. Banyak orang baru mulai memikirkan akan jiwa mereka ketika mereka bersentuhan dengan kematian. Banyak orang baru mulai memikirkan akan rohnya ketika roh itu hampir melayang. Tetapi pada waktu itu tidak terjadi dalam hidupnya, terlalu jarang sekali kita memikirkan kebutuhan roh jiwa kita. Pada waktu kita mulai memperhatikan jiwa kita sungguh-sungguh, saya percaya cara kita melihat dan menilai hidup dan sekitar kita akan sangat berbeda. Kita bukan saja peduli akan apa yang kita perlu makan, minum dan pakai; kita juga akan pedulu akan aspek rohani kita, akan iman kita kepada Yesus Kristus, akan aspek relasi kita dengan Yesus Kristus. Saya rindu setiap kita mengalami Tuhan dengan nyata, relasi kita dengan Tuhan itu nyata adanya. Banyak orang berpikir tidak ada gunanya percaya Tuhan, tidak ada gunanya ke gereja. Hari demi hari mereka merasa itu adalah sesuatu yang tidak ada artinya dan merasa iman itu tidak relevan dengan hidup yang mereka jalani. Apa bedanya hidup orang Kristen yang ke gereja dan orang yang tidak ke gereja? Apa bedanya ikut Tuhan dengan tidak, toh kita juga sama-sama menghadapi persoalan yang sama? Akhirnya seringkali mereka merasa bahwa Tuhan itu tidak peduli dengan hidup mereka. Banyak orang tidak mau percaya Tuhan karena mereka berpikir Allah tidak peduli, padahal bukan Allah yang mengabaikan manusia, tetapi manusialah yang mengabaikan Allah. Pernahkah kita berpikir dengan dalam sesungguhnya kitalah yang meninggalkan Allah? Bukankah Natal itu menjadi satu bukti yang nyata Allah datang mencari manusia? Pertanyaan yang paling penting: pernahkah engkau mencari Allah? Kalau engkau katakan Tuhan tidak ada, itu mungkin karena engkau tidak pernah mencari Dia. Jika engkau sungguh-sungguh mencari Dia, saya percaya karena Ia sungguh-sungguh ada, engkau pasti akan bertemu dengan Dia.

Pertanyaan yang kedua: Apakah engkau ingin mengalami imanmu itu sungguh hidup di dalam hidupmu? Pada waktu Paulus mengatakan, ujilah dirimu sendiri, ini dia katakan kepada jemaat Korintus yang notabene sudah beberapa tahun menjadi orang Kristen. Mereka bukan saja kenal siapa Yesus Kristus, mereka mendapat pelayanan dari pengkhotbah-pengkhotbah terkenal: Paulus, Petrus, Apolos. Mereka punya banyak karunia dan pengetahuan, mereka aktif pelayanan. Tetapi kenapa Paulus perlu mendesak mereka menguji diri apakah mereka memiliki iman yang sejati dan otentik; apakah Kristus ada di dalam hidup mereka? Maka dari sini kita mengerti, menguji apakah iman kita otentik bukan soal berapa banyak pengetahuan yang kita punya tentang Allah. Bukan soal berapa banyak khotbah dan seminar yang engkau dengar, dsb. Ada banyak orang-orang yang sangat bergairah menemukan hal-hal yang baru dari pembicara terkenal atau dari blog, artikel dan buku-buku rohani populer, tetapi hanya berhenti sampai di situ. Paulus tidak bicara soal iman dalam kategori seperti itu. Iman bukan dimengerti sebagai akumulasi pengetahuan, iman tidak diukur dari berapa banyak koleksi buku rohani di rumahmu. Bukan itu yang menjadi tolok ukur kesejatian imanmu. Yakobus berkata, “Engkau percaya bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar” (Yakobus 2:19). Artinya, kalau iman hanya dimengerti sebagai pengetahuan, Setan punya pengetahuan mengenai Allah jauh lebih banyak daripada kita. Setan tahu Allah itu ada; Setan tahu siapa Allah; Setan tahu segala sesuatu mengenai Allah. Setan tahu dan hafal ayat-ayat Alkitab. Jangan lupa, waktu dia mencobai Yesus, dia kutip ayat-ayat Alkitab dari Perjanjian Lama [lihat: Matius 4:1-11].

Firman Tuhan kepada Yehezkiel memperlihatkan sikap umat Israel dalam ibadah mereka kepada Allah. “Dan mereka datang kepadamu seperti rakyat berkerumun dan duduk di hadapanmu sebagai umatKu. Mereka mendengar apa yang kau ucapkan tetapi mereka tidak melakukannya. Mulutnya penuh dengan kata-kata cinta kasih tetapi hati mereka mengejar keuntungan yang haram. Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu dan pandai main kecapi. Mereka mendengarkan apa yang kau ucapkan tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya” (Yehezkiel 33:31-32). Tuhan mau mengingatkan Yehezkiel, jangan ‘ge-er’ kalau banyak orang datang berbondong-bondong mendengarkan khotbahmu. Orang kagum kepada Yehezkiel, kalau berkhotbah indah sekali kata-katanya, rangkaian kata-katanya ciamik. Mereka suka mendengar dan menikmatinya. Tetapi persoalannya adalah orang-orang ini cuma mau mendengarkan khotbah, mereka suka telinga tergelitik. Worshipnya luar biasa sekali, mereka menyanyikan lagu pujian syair cinta yang indah buat Tuhan, tetapi sesungguhnya mereka hanya mengejar keuntungan bagi diri sendiri. Mereka suka mendengar firman, tetapi mereka tidak melakukan apa yang mereka dengar itu.

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1). Iman tidak didefinisikan sebagai berapa banyak yang engkau tahu, berapa benar yang engkau pahami, berapa banyak koleksi Alkitab dan buku-buku rohanimu, berapa sering engkau membaca Alkitab, iman tidak didefinisikan seperti itu. Iman didefinisikan sebagai sesuatu yang terbukti dari apa yang engkau harap di dalam Tuhan. Hal yang kamu tidak pernah lihat, engkau alami itu di dalam hidupmu, itulah iman. Apakah engkau mau mengalami iman di dalam hidupmu? Pada waktu kita sakit, kita berdoa, kita mengharapkan kalau bisa kita terima dengan syukur sakit itu, tetapi ingin juga kalau bisa sakit itu cepat-cepat pergi dari kita. Kita terima dengan rela kesulitan datang ke dalam hidup kita, tetapi kita juga mengharapkan kesulitan dan persoalan itu cepat-cepat berlalu dari kita. Kalau bisa selesai dalam satu dua hari, paling lambat satu bulan. Tetapi kadang-kadang betapa tidak mudah ketika kesulitan itu tinggal bertahun-tahun di dalam hidup kita dan mungkin tidak akan pernah selesai sampai kita mati. Pada waktu kita bicara mengenai iman dalam perjalanan hidupmu apakah engkau mengalami dengan sungguh apa yang engkau percaya dan imani? Adakah engkau mengalami pengenalan yang sungguh akan Tuhan dan di dalam pengenalan itu bukan sekedar pengetahuan yang engkau terima dari satu dua jam dengar khotbah, tetapi pengunyahan isi khotbah ini harus kita alami dalam hidup kita seumur hidup. Gampang saya berkhotbah mengenai ketabahan, namun betapa tidak mudah jikalau saya dipanggil oleh Tuhan untuk menjalaninya sampai akhir hidupku. Gampang saya mengajak sdr untuk setia dalam pelayanan, namun betapa tidak mudah untuk tetap teguh dan setia melayani Tuhan apapun yang terjadi dalam hidup kita. Gampang kita berbicara bahwa Tuhan itu hidup dan Yesus Kristus adalah Juruselamat kita dan Penolong kita, namun betapa tidak mudah untuk mengalami Allah itu nyata dalam hidup kita menolong kita melewati hari lepas hari di dalam kesulitan dan kegelapan hidup kita. Apa bedanya antara engkau hanya sekedar mengaku Yesus dengan engkau menghidupi imanmu di dalam Yesus Kristus? Jalanilah hidup kita beriman seperti itu sebagai anak-anak Tuhan. Itulah hal yang indah dan penting untuk kita tanyakan kepada diri kita masing-masing.

Pertanyaan yang ke tiga: Apakah engkau memiliki kebiasaan bergaul karib dengan Yesus Kristus? Jika Paulus bertanya apakah betul Yesus ada di tengah-tengahmu, pertanyaan itu sebenarnya adalah: bagaimana relasimu pribadi dengan Yesus Kristus? Kalau Yesus Kristus memang ada di tengah-tengah jemaat itu, dengan sendirinya tidak ada lagi orang yang menganggap diri lebih penting dan lebih hebat daripada yang lain. Semua itu akan selesai jika Kristus ada di tengah-tengahmu. Dan pada waktu Yesus Kristus ada di tengah-tengahmu, tidak ada lagi orang yang sombong dan menganggap diri lebih daripada yang lain. Tidak ada lagi orang yang meminta disembah, dipuji dan dihormati lebih daripada yang lain pada waktu Yesus ada di tengah-tengahmu. Tidak ada lagi yang masih bertengkar dan ribut berselisih satu sama lain, kalau Yesus Kristus ada di tengah-tengahmu. Pada waktu engkau kekurangan kasih, tidak sanggup bisa berkorban bagi orang lain dan hanya mementingkan diri sendiri, semua itu tidak ada lagi pada waktu Yesus Kristus yang tersalib bermahkota duri dengan luka di tangan dan kakiNya sedang berdiri di hadapanmu.

Ujilah dirimu. Apakah betul Yesus ada di dalam hati dan hidupmu? Apakah engkau memiliki kebiasaan ingin bergaul karib dengan Yesus Kristus? Apakah kita mau memiliki relasi yang benar dengan Yesus Kristus? Dua hal yang kita tahu siapa Dia. Satu: Dia adalah Juruselamatmu. Sudahkah engkau mendapatkan pengampunan di dalam Yesus Kristus? Betulkah Ia adalah Tuhan dan Juruselamatmu? Jikalau tidak, mari kita katakan hari ini juga: Tuhan Yesus, aku mengundang Engkau masuk dalam hatiku. Ampunilah dosa-dosaku dan jadilah Tuhan dan Juruselamatku. Yang kedua, bukan saja Yesus itu Juruselamat, tetapi kita tahu Ia adalah TUHAN. Pertanyaan ini kita tanya: Apakah the Lordship of Jesus Christ itu memenuhi setiap hal yang kita kerjakan? Apakah engkau dan saya semakin hari semakin ingin menjadi serupa dengan Tuhan kita Yesus Kristus? Apakah kita merindukan akan hal itu? Pada hari ini saya rindu roh kita digairahkan oleh Tuhan seperti itu lagi. Saya rindu setiap kita mengalami transformasi dalam relasi kita dengan Tuhan. Kita ingin Tuhan itu hadir di tengah-tengah kita. Kita rindu mengajak orang hadir dan datang sama-sama berbakti di sini, karena mereka bisa sungguh merasakan Allah ada di tengah-tengah kita. Kita rindu ingin memiliki keakraban persekutuan bersama dengan Tuhan, rindu untuk hari demi hari memiliki kedekatan dengan Tuhan. Terus tanya kepada dirimu: bagaimana dengan Bible reading kita, bagaimana dengan Bible study kita, bagaimana dengan worship pribadi kita, bagaimana dengan doa kita, dsb. Kalau kita merasa kering, kita merasa jenuh, dsb, pertanyakan ini kembali: do you want to have a habitual fellowship with Jesus Christ? Punyakah kita kerinduan seperti itu? Banyak orang Kristen tidak sadar bahwa dia buta huruf dalam membaca dan mengerti isi Alkitab. Kita mungkin bisa membaca, tetapi kita tidak mengerti sama sekali apa yang ada di situ. Akibatnya kita menjadi tidak fasih di dalam berbicara mengenai Tuhan dan hal-hal spiritual dalam percakapan kita sehari-hari. Itu bukan soal sudah berapa lama kita jadi orang Kristen. Latih diri kita, kalau ada yang merasa perlu untuk dibimbing bagaimana membaca dan mengerti isi Alkitab, cari saudara seiman yang engkau lihat lebih dewasa rohaninya untuk membaca Alkitab sama-sama.

Yang terakhir, Paulus katakan examine yourself to see if your faith is genuine. Test yourself, surely you know that Jesus Christ is among you. If not, you have failed the test of genuine faith. Katakan kepada Tuhan, adakah engkau siap untuk diuji oleh Tuhan? Tidak perlu takut, sebab pengujian itu akan membuktikan iman kita sejati. Kita akan takut diuji kalau memang iman kita tidak sejati karena kita tidak siap dan akan gagal. Tetapi kita tidak akan pernah takut dan belajar katakan kepada Tuhan biar kita terbukti sungguh-sungguh adalah anak Tuhan yang sejati. May God bless you.

Mari kita ambil waktu kita menganalisa hidup kita pada hari ini. Apakah engkau telah memikirkan dengan sungguh mengenai indahnya rohmu dan jiwamu? Apakah engkau ingin mengalami imanmu itu hidup di dalam hidupmu? Apakah engkau merindukan bergaul karib dengan Tuhan Yesus Kristus? Sungguhkah engkau memiliki relasi yang benar dengan Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadimu? Adakah engkau siap untuk mengalami ujian iman yang membuktikan kita tahan uji di hadapan Allah? Adakah engkau rindu menjadi seorang Kristen yang dewasa di dalam rohanimu? Apakah engkau mau mencoba melakukan sesuatu yang baik bagi gereja dan dunia ini? Apakah engkau mengerti dan memahami firman Allah? Apakah engkau fasih mempercakapkan hal-hal spiritual dalam hidupmu? Biar semua pertanyaan-pertanyaan ini menjadi self-examination. Bukan hal apa yang kita dapat, apa yang kita capai, apa yang kita raih, tetapi hal yang terpenting dalam self-examination ini bagaimana hidup kita selaras dengan Tuhan dan itu sudah menjadi satu sukacita yang tidak akan pernah direbut dari hidup kita. Kiranya Tuhan mendorong kita sekali lagi dalam hidup iman dan percaya kepada Tuhan. Kiranya Tuhan menggairahkan hati kita, supaya sungguh boleh menjadi orang-orang yang membawa berkat di dalam hidup pelayanan kita bersama-sama. Kiranya Kristus Tuhan sungguh tinggal di tengah komunitas gereja kita dan di dalam hidup kita masing-masing dan nama Tuhan agung dan mulia selama-lamanya. Sebentar lagi kita akan menutup tahun ini, biar kita bisa berdiri di hadapan Tuhan dan kita mengucap syukur pada waktu mengevaluasi hidup kita di hadapan Tuhan dan kita menghargai setiap berkat dan anugerah yang Tuhan beri kepada kita semua.(kz)