Pray for Maturity

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat 2 Korintus [17]
Tema: Pray for Maturity
Nats: 2 Korintus 13:1-13

“Pray for maturity,” aku ingin berdoa bagi kedewasaan rohanimu, ini adalah tema khotbah yang terakhir dari seri Eksposisi surat 2 Korintus yang sudah kita bahas beberapa minggu ini. Seperti apakah gereja Korintus ini? Dibandingkan dengan gereja-gereja di tempat-tempat lain yang Paulus layani, gereja di Roma, Kolose, Efesus, dsb, gereja Korintus adalah gereja yang luar biasa. Berada di kota metropolitan, resources keuangan mereka tidak terbatas, gereja ini penuh dengan orang-orang yang punya karunia dalam pelayanan. Gereja ini kaya dalam segala hal, dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan (1 Korintus 1:5). Mereka tidak kekurangan dalam segala karunia (1 Korintus 1:7). Tetapi sangat menyedihkan, kehidupan Kekristenan mereka sangat tidak dewasa. Ada perpecahan dan perselisihan di antara jemaat. Di antara mereka terjadi favoritisme, sebagian dari mereka hidup amoral, berkanjang dalam dosa dan berbagai perbuatan yang begitu memalukan. Maka kita temukan, surat Korintus adalah satu-satunya surat yang Paulus tulis penuh dengan air mata. “Dan aku pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi yang belum dewasa” (1 Korintus 3:1). Sehingga sampai di pasal yang terakhir surat 2 Korintus 13 ini dua kali kemudian Paulus mengatakan, “Grow to maturity” (2 Korintus 13:11b) dan “I pray that you will become mature” (2 Korintus 13:9b). Aku berdoa bagi kedewasaan rohanimu. Dari situ kita bisa melihat ini merupakan hal yang luar biasa penting, kerinduan Paulus mereka bertumbuh semakin hari mereka makin menjadi serupa dengan Kristus.

Di pasal 13 ini Paulus menyatakan kalimat-kalimat yang keras dan tegas, khususnya bagi mereka yang hidup begitu duniawi dan yang berkanjang dalam dosa. Dia katakan sampai kali ke tiga nanti aku datang dan pada waktu aku tiba di Korintus dan orang-orang itu masih tidak mau berubah dan bertobat, jangan sampai aku membawa cambuk untuk mendisiplin mereka. “Apakah yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut?” (1 Korintus 4:21). Sekalipun demikian, luar biasa Paulus memberikan pendekatan dan nasehat yang sangat pastoral. Kita bisa menyaksikan hati yang anggun, kecintaan yang luar biasa dari Paulus di sini. Paulus menegur dan menasehati, sekaligus Paulus berdoa bagi mereka. Paulus rindu supaya setiap orang itu bertumbuh menjadi indah, menjadi dewasa di dalam Kristus. Puji Tuhan, ada di antara mereka yang karena koreksi dan teguran firman Tuhan yang mereka dengar waktu surat Paulus ini dibacakan merubah hidup dan hati mereka, sehingga surat yang Paulus tulis sungguh menjadi berkat dan berkuasa merubah hati dan hidup mereka. Kita mengucap syukur kepada Tuhan, sekalipun orang itu tadinya merasa marah dan jengkel kepada teguran Paulus, tetapi akhirnya dia mengalami pertobatan dan dia mengalami perubahan. Paulus berkata, “Jadi meskipun aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku itu, namun aku tidak menyesalkannya. Memang pernah aku menyesalkannya karena aku lihat bahwa surat itu menyedihkan hatimu kendatipun untuk seketika saja lamanya. Namun sekarang aku bersukacita bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah sehingga kamu sedikitpun tidak dirugikan oleh karena kami. Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian” (2 Korintus 7:8-10). Itulah yang Paulus katakan di sini, karena teguran itu akhirnya engkau bertobat, engkau menjadi mature dan menjadi dewasa. Maka yang paling penting adalah firman Tuhan itu merubah hidupmu.

Ada empat aspek negatif atau empat kategori orang di dalam jemaat Korintus di bagian ini memperlihatkan kepada kita inilah ciri dari hidup yang tidak-dewasa, bahkan inilah ciri dari iman yang palsu, iman yang tidak otentik. Yang pertama, ada di antara mereka yang terus-menerus berbuat dosa tetapi mengaku sebagai orang Kristen. “Kepada mereka yang di masa yang lampau berbuat dosa dan kepada semua orang lain bahwa aku tidak akan menyayangkan mereka pada waktu aku datang lagi” (2 Korintus 13:2). Dalam terjemahan NLT kita menemukan nada teguran Paulus yang sangat keras, “I have already warned those who had been sinning when I was there on my second visit. Now I again warn them and all others, just as I did before, that next time I will not spare them.” Paulus sudah tegur pertama kali, mereka tetap berbuat dosa. Paulus tegur kedua kali, mereka tetap berbuat dosa. Namun celakanya mereka mengaku sebagai orang Kristen kepada orang-orang lain. Paulus katakan disiplin rohani patut dan harus diberikan kepada orang-orang seperti ini. Bayangkan, orang-orang ini melakukan hal-hal yang begitu amoral, bahkan di tengah-tengah orang yang tidak percaya Tuhan sekalipun hal-hal seperti itu tidak terjadi. “Memang orang mendengar bahwa ada percabulan di antara kamu dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya” (1 Korintus 5:1). Ada di antara mereka oleh karena persoalan rugi sedikit dalam berbisnis dengan jemaat yang lain, lalu menyeret saudara seiman ke pengadilan. Paulus bilang, “Apakah ada seorang di antara kamu, yang jika berselisih dengan orang lain, berani mencari keadilan pada orang-orang yang tidak benar? Tidak adakah seorang di antara kamu yang berhikmat, yang dapat mengurus perkara-perkara dari saudara-saudaranya?” (1 Korintus 6:1,5). Paulus juga menegur mereka mengenai hal perjamuan kudus mereka sebagai perjamuan fellowship dimana jemaat yang miskin, yaitu para budak dan janda yang tidak bisa membawa makanan, dimana sebetulnya dalam kesempatan itu bisa share makan sama-sama. Tetapi yang terjadi jemaat-jemaat yang kaya membawa begitu banyak makanan dan minuman anggur, kumpul eksklusif di antara mereka akhirnya perjamuan itu menjadi pesta pora dan kemabukan, sementara yang miskin pulang dengan perut lapar (1 Korintus 11:20-22). Paulus katakan perjamuan kudusmu tidak mendatangkan kebaikan, bahkan mendatangkan keburukan (1 Korintus 11:17). Sebab banyak di antara mereka yang lemah dan sakit dan tidak sedikit yang meninggal (1 Korintus 11:30). Orang-orang yang Paulus tegur ini mungkin sekali adalah orang-orang yang terpandang, yang kaya raya, yang memiliki budak-budak, dan banyak di antara jemaat Korintus adalah budak-budak yang semuanya hanya diam karena orang-orang kaya ini begitu berkuasa di dalam keuangan. Paulus katakan, pada kedatangannya yang kedua ke Korintus menegur mereka, namun orang-orang ini tetap tidak bertobat dan terus saja berbuat dosa. Apakah mereka betul-betul orang Kristen yang sejati? Absolutely not! Tetapi celakanya mereka tetap mengaku sebagai orang Kristen, mereka tetap tinggal di dalam komunitas umat Allah, tetap berbakti di gereja. Mereka menganggap anugerah Allah begitu murah dan mereka mempermainkan anugerah itu.

Kelompok yang kedua, ada orang-orang yang menolak mendengar teguran firman Allah yang mengoreksi. “We pray to God that you will not do what is wrong by refusing our correction” (2 Korintus 13:7). Pada waktu kita mendengarkan firman Tuhan, pada waktu kita menyanyikan satu pujian, pada waktu kita bawa doa kita, pada waktu kita berdiri di hadapan hadirat Allah, apakah kita mengerti, menyadari dengan dalam bahwa kita sedang bertemu dan sedang menyembah Allah Tuhan kita? Itulah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran” (Yohanes 4:23). Paulus katakan pada waktu kita dengar firman Allah disampaikan dalam ibadah, kiranya firman Tuhan itu mengoreksi kita, firman Tuhan mengubah hati kita, firman Tuhan memimpin kita bertobat dari kesalahan-kesalahan kita, firman Tuhan memberkati kita dengan pengampunan dan pembaruan dan firman Tuhan menjadikan kita bertumbuh dewasa di hadapanNya. Di situlah ibadah kita sungguh-sungguh menjadi ibadah yang mendatangkan kuasa dan mengubah hidup kita. Paulus mengingatkan Timotius bahwa ada di antara orang-orang yang datang beribadah sesungguhnya tidak menyembah Allah dengan benar, “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya” (2 Timotius 3:5).

Kisah Rasul 5:1-10 mencatat peristiwa tragis dari Ananias dan Safira, sangat keras sekali Tuhan menghukum suami isteri ini sampai meninggal. Alkitab mencatat mereka menjual sebagian dari property mereka lalu membawa uang hasil penjualan itu kepada rasul Petrus. Kenapa mereka berbuat demikian? Karena sebelumnya, ada seorang bernama Barnabas menjual sebagian property dan menyerahkan semua uangnya kepada gereja untuk dikelola bagi jemaat yang miskin dan membutuhkan (Kisah Rasul 4:36-37). Sudah tentu orang memuji perbuatan Barnabas yang luar biasa ini, yang membuat Ananias dan Safira ingin melakukan hal yang sama. Namun bedanya, Ananias dan Safira menyimpan sebagian uang hasil penjualan bagi diri mereka sendiri. Sampai di depan semua jemaat, Ananias bilang ini semua uang hasil penjualan tanah mereka persembahkan untuk gereja. Rasul Petrus berkata, “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.” Isterinya juga demikian. Waktu Petrus bertanya, “Dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual? Dia menjawab, “Ya, betul sekian.” Kata Petrus, “Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan?” Ananias dan Safira ingin mendapatkan pujian dari persembahan uang mereka. Ananias dan Safira datang berbakti namun takut akan Tuhan tidak ada di dalam hati mereka.

Kepada orang-orang di Korintus yang menolak koreksi dan teguran firman Allah, Paulus katakan kalimat yang penting dan luar biasa, “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu bahwa Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji” (2 Korintus 13:5). Examine yourselves to see if your faith is genuine. Test yourselves. Surely you know that Jesus Christ is among you; if not, you have failed the test of genuine faith. Lahir baru adalah proses yang sepenuhnya dikerjakan oleh Roh Kudus dan lahir baru tidak memiliki tanda-tanda eksternal. Maka Paulus hanya bisa bilang kepada setiap orang untuk menguji dirinya sendiri, karena hanya dirinya sendiri yang tahu. Uji dirimu sendiri, periksa hatimu sendiri, apakah Yesus ada di dalam hidupmu, apakah kita punya iman yang sejati. Kita dibenarkan melalui iman kepada Yesus Kristus, apa artinya? Artinya, bukan karena perbuatan baik, bukan karena jasa kita, bukan kepada apa yang ada pada diri kita sendiri yang menyebabkan kita bisa dibenarkan dan diselamatkan Allah, tetapi semata-mata karena apa yang Tuhan Yesus telah kerjakan di atas kayu salib, kebenaranNya selesai sempurna dan lengkap, dan itu kita terima dengan iman menjadi milik kita. Itu artinya dibenarkan melalui iman kepada Yesus Kristus. Tetapi iman itu bukan sekedar berapa banyak pengetahuan saya akan Allah. Iman itu bukan sekedar saya setuju dan terima apa yang diajarkan pendeta kepadaku. Yakobus mengatakan, iman yang sejati itu terlihat hidup oleh karena perbuatan itu nyata di dalam iman yang sejati. Iman yang sejati adalah iman yang kelihatan di dalam kelakuan, karakter dan perubahannya. Sebab iman yang sejati bukan hanya untuk memuaskan pengetahuan kita saja. Yakobus berkata, “Engkau percaya bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar” (Yakobus 2:16). Setan pun mempunyai doktrin Allah yang tidak salah. Kalau dikasih ujian pelajaran agama, pasti betul semua. Maka Paulus tidak hanya berhenti sampai kepada pengetahuan akan siapa Allah. Dia katakan ujilah dirimu sendiri, apakah engkau mempunyai iman yang sejati. Orang yang tidak punya iman yang sejati akan gagal ketika diuji. Jangan kita kaget dan heran kalau suatu hari orang-orang ini akan meninggalkan Tuhan, orang-orang ini akan murtad dan menyatakan diri tidak percaya Yesus. Kenapa? Karena ada satu pola yang kelihatan, setiap kali firman Tuhan disampaikan, hati orang itu tidak menjadi gembur, hati orang itu makin keras menolak teguran firman Tuhan. Hati itu makin keras menolak koreksi dari firman Allah. Hati yang makin gembur akan membuka hati bagi Roh Kudus dan firman Allah mengoreksi kita. Dengan demikian sekalipun hati kita tidak perfect, tetapi hati kita adalah hati yang gembur sehingga pada waktu benih firman Allah jatuh, dia akan receptive menerima dan menyerapnya. Kembangkan kebiasaan kita menyadari kehadiran Allah, coram Dei, live in the presence of God setiap kali kita mendengarkan firman Tuhan sebagai firman yang mengoreksi hidup kita.

Kelompok yang ketiga adalah kelompok orang yang memiliki attitude yang sangat-sangat kekanak-kanakan, sangat tidak dewasa. Dalam 2 Korintus 12:20 Paulus berkata, “For I am afraid that when I come I won’t like my response. I am afraid that I will find quarelling, jealousy, anger, selfishness, slander, gossip, arrogance, and disorderly behaviour.” Attitude seperti itu tidak ada kaitannya dengan tingginya tingkat ekonomi orang itu, dengan tingginya intelektual orang itu, berapa banyak gelar akademik yang dimilikinya, sebab itu bicara mengenai spiritual maturity. Tidak ada kaitannya dengan berapa usia orang itu, dan berapa lama dia sudah menjadi orang Kristen, tetapi itu bicara mengenai bagaimana hidup orang itu berespon dengan Tuhan yang membuat pikiran, hati dan kelakuannya sama sekali tidak serupa dengan Tuhan kita Yesus Kristus. Sehingga Yesus berkata, “Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Matius 18:3). Ketika Yesus berkata, milikilah karakter seperti anak-anak, jelas ini adalah childlike character dan bukan childish character. Childish character adalah mereka yang menciptakan turbulensi emosi yang tidak ada habis-habisnya oleh karena kepentingan diri sendiri, keangkuhan, fitnah, amarah, perselisihan, gosip dan fitnah. Itu berarti dia hidup hanya memikirkan dirinya sendiri, sesuatu yang berkaitan hanya dengan dirinya. Waktu dia rasa ada hal-hal yang tidak nyaman dan tidak baik baginya, maka dia ciptakan turbulensi emosi yang luar biasa bagi hamba Tuhan dan komunitas gereja dan itu yang dialami oleh Paulus. Attitude kita yang benar adalah bukan untuk mau menjadikan kepentingan diri kita sendiri menjadi yang terdahulu diselesaikan tetapi kepentingan orang lain. Sangat menyedihkan orang-orang di tengah jemaat Korintus ini saling bertengkar satu sama lain. Hati mereka penuh dengan iri hati. Mereka marah dan tidak senang melihat hal-hal baik terjadi kepada orang. Mereka saling menghina, mengejek dan mencemooh kelemahan orang lain. Mereka bergosip, membicarakan dan memburuk-burukkan kehidupan orang lain. Mereka sama sekali tidak menjadi berkat yang membangun komunitas gereja dan anak-anak Tuhan. Paulus begitu frustrasi menghadapi orang-orang yang seperti ini, sekalipun mereka mengaku diri sebagai orang Kristen, tetapi kelakukan mereka sama sekali tidak mencerminkan dan menyatakan identitas itu.

Kelompok yang ke empat adalah kelompok orang yang makin disayang, makin membalas dengan tidak sayang. Paulus mengeluh, “I am gladly spend myself and all I have for you, even though it seems that the more I love you, the less you love me” (2 Korintus12:15). Sekalipun dia sudah memberikan apa yang ada padanya, bahkan hidupnya sendiri bagi jemaat ini, sekalipun dia begitu mengasihi dan mencintai mereka, mereka tidak memberikan balasan kasih yang setimpal kepada Paulus. Relasi seperti ini adalah satu relasi yang tidak seimbang, tidak ada take and give. Kita harus senantiasa melihat bahwa relasi kita sebagai anak-anak Tuhan dan jemaat adalah satu relasi yang bersifat organis. Kita adalah tubuh Kristus; kita adalah sebuah keluarga. Kristus adalah kepala dan setiap kita adalah bagian daripada tubuh. Masing-masing kita tersusun rapi sebagai anggota yang berfungsi saling melengkapi satu dengan yang lain. Karena sifat yang organis, ketika ada satu yang sakit maka akan berefek kepada yang lain. Satu yang mengalami berkat, yang lain ikut bersukacita. Tetapi pada waktu relasi itu berubah menjadi relasi jual-beli, relasi entertainment, sehingga yang terjadi adalah orang-orang ini menuntut untuk selalu dilayani, selalu diperhatikan, selalu minta dipuaskan. Sdr bisa bayangkan betapa menyedihkan kalimat Paulus ini, “it seems that the more I love you, the less you love me.” Semakin aku mengasihimu, semakin engkau kurang mengasihiku. Itu adalah relasi yang sangat menyedihkan dimana salah satu pihak kekanak-kanakan dan pihak yang mature akan terus dan terus mengasihi, bahkan memberi diri dan memberi apa yang ada padanya untuk mengasihi. Aku berdoa bagi kedewasaan rohanimu, kata Paulus. “Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu” (1 Korintus 4:12-13). Itulah contoh satu kedewasaan rohani yang indah. Siapa yang menjadi contoh teladan kita? Yesus Kristus adalah teladan kita yang sempurna. Kita balas dengan apa, Ia mengasihi dan memberi cintaNya lebih daripada apapun. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya, kata Yesus (Yohanes 15:13). Dan itulah yang Yesus lakukan bagi kita. Pada malam hari Ia mengatakan hal itu kepada murid-muridNya, hanya beberapa waktu kemudian ketika Dia ditangkap, semua murid lari meninggalkan Dia, menyangkal Dia dan mengaku tidak kenal Dia, tetap Ia mengasihi mereka. Puji Tuhan! Kiranya kita juga menjadi anak-anak Tuhan yang berlimpah dengan kasih satu dengan yang lain. Kiranya firman Tuhan ini boleh menolong setiap kita bertumbuh dewasa di dalam rohani kita. Kita mau terima koreksi dari Tuhan, kita mau terima bimbingan kasih Tuhan melalui firmanNya yang membentuk kita semakin hari semakin bertumbuh dewasa di hadapanNya.(kz)