Sakit Kepala dalam Melayani

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi: Surat 2 Korintus [16]
Tema: Sakit Kepala dalam Melayani
Nats: 2 Korintus 12:11-21

Tema khotbah hari ini agak sedikit unik: Sakit Kepala dalam Melayani, Headache in Pastoral Ministry. Inilah pengalaman rasul Paulus yang dia katakan dalam 2 Korintus 12:11-21. Kita tahu ini adalah surat yang sangat intim antara Paulus dengan jemaat Korintus, satu jemaat yang dia rintis sejak awal dan dia layani selama 18 bulan lamanya tinggal bersama-sama mereka. Dalam surat ini kita bisa menemukan kesedihan dan kegalauan hati Paulus menghadapi pergumulan yang tidak ada habis-habisnya. Tetapi sekaligus di surat ini kita bisa menyaksikan bahwa melayani Tuhan, mengerjakan pekerjaan Tuhan, itu bukan satu perjalanan yang aman, lancar dan mulus adanya. Kita mungkin bisa lemah dan mundur kalau Tuhan tidak menopang kita dengan kasih karunia dan penyertaanNya.

Ada beberapa hal yang melatar-belakangi 2 Korintus 10-12 ini sehingga Paulus sampai tidak jadi datang ke Korintus karena dia mengalami berbagai macam hal yang sangat menyedihkan hatinya dan membuatnya sampai mengeluarkan air mata. Salah satunya adalah datangnya beberapa orang pengkhotbah yang kemudian tinggal di tengah-tengah jemaat Korintus dan menarik begitu banyak jemaat menjadi pengikut yang fanatik [lihat: 2 Korintus 11:2-5]. Paulus dengan keras mengatakan orang-orang seperti ini adalah benalu dan parasit yang mengambil begitu banyak hal keuntungan dari jemaat padahal mereka bukanlah rasul yang sejati adanya. Yang kedua, Paulus mengalami fitnahan secara personal dari jemaat yang mengatakan Paulus tidak murni dalam motivasi pelayanannya; Paulus tidak sukses karena tidak bisa menarik banyak pengikut; Paulus tidak diberkati dan disertai oleh Tuhan. Serangan-serangan seperti ini sungguh membuat Paulus mengalami sakit kepala dalam pelayanan.
Akhirnya dari pasal 10-12 terpaksa Paulus kemudian menyatakan sikap pembelaan diri, yang sebetulnya dia anggap sebagai sesuatu hal yang sangat bodoh sekali. Hal yang pertama dia katakan,
Jemaat Korintus adalah satu-satunya tempat dimana dia tidak ambil uang honorarium pelayanannya namun pada saat yang sama Paulus mau terima uang dari jemaat Makedonia. “Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka supaya aku dapat melayani kamu!” (2 Korintus 11:7-10). Sikap Paulus itu menyebabkan jemaat Korintus berpikir Paulus tidak sayang kepada mereka. Tetapi Paulus punya alasan tersendiri mengambil sikap itu karena dia tidak mau disamakan dengan rasul-rasul palsu itu (2 Korintus 11:12). Hal yang ke dua, Paulus terpaksa akhirnya membanggakan diri dalam hal yang dia alami yaitu penderitaan dan kesulitannya dalam melayani. Selama pelayanannya hanya di sini satu-satunya tempat dimana Paulus menyebutkan dia mengalami dicambuk, disesah, dirampok, mengalami karam kapal, kelaparan, kedinginan, dst (2 Korintus 11:23-28). Lalu kemudian hal ke tiga terpaksa dia harus membanggakan pengalaman dia diangkat oleh Tuhan ke surga (2 Korintus 12:1-6). Tetapi pada saat yang sama sekaligus dia katakan setelah itu Tuhan kemudian memberikan duri di dalam dagingnya dan duri itu adalah utusan daripada Iblis yang berusaha menjatuhkannya. Paulus mengatakan sudah tiga kali dia berseru kepada Tuhan agar duri itu dicabut daripadanya, tetapi Tuhan menjawab, “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna” (2 Korintus 12:7-10). Tuhan perlu memberikan satu pengalaman spesial untuk mengingatkan dia apa yang dia kerjakan, apa yang dia perjuangkan, apa yang dia korbankan adalah sesuatu yang tidak akan pernah sia-sia. Penglihatan surgawi yang begitu indah, agung dan mulia itu, itulah yang menjadi kekuatan bagi dia untuk menjalankan setiap proses pergumulannya hari demi hari tidak ada henti-hentinya penuh dengan tantangan kesulitan itu.

Di dalam 2 Korintus 12:11-21, paling tidak ada empat penyebab “sakit kepala” yang dialami oleh rasul Paulus. Yang pertama adalah jemaat Korintus menggunakan standar penilaian yang sangat duniawi dalam menilai keberhasilan sebuah pelayanan. Dengan standar penilaian yang duniawi itu mereka menganggap Paulus itu tidak ada apa-apanya; Paulus bukan hamba Tuhan yang sejati, bukan rasul yang sejati dibandingkan dengan orang-orang yang disebut rasul-rasul yang luar biasa itu. Lihat performance mereka, kharismanya, eloquence sekali cara khotbah mereka, Paulus kalah jauh. Lihat begitu pengikutnya, sedangkan Paulus tidak ada apa-apanya. Sikap membanding-bandingkan pelayanan satu orang dengan orang yang lain; penilaian yang hanya diukur oleh aspek-aspek duniawi, itu adalah hal yang sangat menyedihkan.

Fakta realita sampai hari ini, ada banyak orang Kristen dan bahkan di antara hamba Tuhan juga memakai standar ukuran duniawi dalam menilai keberhasilan sebuah pelayanan. Seringkali di antara hamba-hamba Tuhan kalau bertemu satu sama lain, yang ditanyakan dan dibicarakan seputar 3 topik ABC ini. A: attendances, berapa banyak jemaatmu? B: building, sudah punya gedung, belum? Koq sampai sekarang masih sewa hall sekolahan? C: cash flow, berapa uang persembahan yang kamu terima tiap minggu? Berapa banyak budget tahunan gerejamu? Akhirnya hamba-hamba Tuhan yang melayani di gereja yang kecil dan sederhana menjadi kecewa dan rendah diri, karena dianggap gagal dalam pelayanan dan mengapa Tuhan tidak memberkati mereka, sedangkan hamba-hamba Tuhan yang melayani di gereja yang besar dengan jemaat ribuan menjadi superior. Ini adalah standar duniawi luar biasa. Jikalau kesuksesan sebuah pelayanan diukur dengan hal-hal yang lahiriah, kita tidak akan pernah menghargai mereka yang melakukan pelayanan yang tidak mungkin bisa mengumpulkan banyak orang, pelayanan yang diam-diam di tengah-tengah masyarakat yang menolak Kekristenan, di tengah kaum minoritas dan orang-orang yang terbuang.

Paulus tidak mau jemaat memakai penilaian seperti itu, dan Paulus menyatakan pembelaan diri kepada mereka, “Meskipun aku tidak berarti sedikitpun namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu. Segala sesuatu yang membuktikan aku adalah seorang rasul telah aku buktikan di tengah-tengah kamu. Dengan segala kesabaran oleh tanda-tanda mujizat dan kuasa-kuasa.” Dan Paulus akhirnya perlu menyebutkan bukti ini di tengah-tengah pelayanannya. Engkau seharusnya melihat pekerjaan dan pelayananku. Engkau bisa melihat Allah bekerja di dalam pelayananku dengan penyertaan tanda-tanda mujizat dan kuasa-kuasa ajaib di dalamnya supaya apa yang aku beritakan dan ajarkan, dan apa yang engkau dengar dariku adalah hal yang benar dan berkenan kepadaNya. Sebagai catatan, tanda-tanda mujizat dan kuasa-kuasa ini harus kita lihat sebagai keunikan khusus dia sebagai seorang rasul yang diutus Allah. Dan kita bisa menyaksikan di dalam perjalanan sejarah gereja, semakin ke belakang semakin wahyu Allah akan selesai kita menyaksikan Tuhan tidak memberikan banyak tanda-tanda ajaib dan mujizat sesering dan sebanyak dibanding dengan waktu di era awal pelayanan gerejawi. Namun kita juga menyaksikan banyak kesaksian yang luar biasa ketika Injil dikabarkan di daerah-daerah dimana aniaya dan tekanan mengancam pekerjaan penginjilan, ancaman yang real bagi orang yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, banyak kesaksian yang muncul, di tengah tekanan seperti itu Tuhan menggunakan cara yang berbeda Yesus hadir melalui mimpi dan penglihatan dan menyatakan mujizat dan tanda-tanda melalui hamba-hambaNya. Aspek kedua Paulus nyatakan, bukan saja Allah menyertai pelayanannya dengan tanda-tanda mujizat dan kuasa ajaib, segala sesuatu yang membuktikan bahwa dia adalah seorang rasul sejati telah dia lakukan di tengah-tengah mereka dengan segala kesabaran. Segala hal yang dilakukan dengan sabar membutuhkan proses waktu yang panjang dan tidak boleh dinilai dengan cepat dan instan. Seringkali kita juga mudah terjebak ingin mengerjakan sesuatu dan menghasilkan sesuatu dengan cepat dan melihat hasilnya segera kelihatan. Kita tidak sabar melihat bagaimana Tuhan membentuk karakter dan kita menyaksikan Allah bekerja di dalam diri orang itu. Mungkin buah-buah hasil pelayanan itu tidak kelihatan, tetapi orang itu tetap setia dan mencintai dan mengasihi Tuhan.

Penyebab sakit kepala yang kedua, Paulus mengalami fitnahan dan pengrusakan karakter khususnya bicara mengenai soal pengumpulan uang. Kelihatan ada beberapa orang dari Jemaat Korintus, khususnya mereka yang prominent atau yang menjadi majelis di situ menuduh Paulus mau mengambil uang dengan alasan pengumpulan dana bantuan bagi jemaat di Yerusalem. Paulus membela dirinya dengan tegas menyangkal tuduhan itu, “Sesungguhnya sekarang untuk ketiga kalinya aku siap untuk mengunjungi kamu dan aku tidak akan merupakan suatu beban bagi kamu. Sebab bukan hartamu yang kucari melainkan kamu sendiri. Karena bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya melainkan orang tualah untuk anak-anaknya. Karena itu aku suka mengorbankan milikku bahkan mengorbankan diriku untuk kamu. Jadi jika aku sangat mengasihi kamu, masakan aku semakin kurang dikasihi? Tetapi kamu katakan dalam kelicikanku aku telah menjerat kamu dengan tipu daya. Jadi pernahkah aku mengambil untung daripada kamu oleh seorang dari antara mereka yang kuutus kepada kamu?” (2 Korintus 12:14-16). Inisiatif Paulus untuk mengumpulkan dana bantuan dari jemaat-jemaat bukan Yahudi untuk membantu jemaat Yerusalem dipakai oleh orang-orang tertentu di Korintus untuk menuduh Paulus licik, penuh dengan tipu daya. Mereka bilang, Paulus tidak berani datang untuk mengambil sendiri uang itu, tetapi mengutus Titus untuk mengambilnya dan memakai alasan uang bantuan misi sebagai kedok, padahal semua uang itu nanti masuk ke kantong pribadi Paulus sendiri. Paulus bilang selama pelayanan dia di Korintus, jelas bukan harta mereka yang Paulus cari. Begitu banyak pengorbanan waktu dan pengorbanan secara finansial Paulus bagi pelayanan dia di situ, dia tidak pernah hitung-hitungan. Dia tetap melayani, dia tetap mengorbankan diri, semua itu sebagai bukti betapa dia sungguh-sungguh mengasihi mereka. Tetapi sebagai balasannya, mereka memperlakukan Paulus seperti itu. Paulus balik bertanya kepada mereka, selama ini kamu kenal aku, jujurlah, pernahkah aku mengambil untung darimu? Jahat sekali tuduhan seperti itu. Bayangkan jikalau semua yang baik sdr lakukan dan kerjakan dalam pelayanan, lalu sebagai balasannya sdr mengalami tuduhan seperti ini, bukankah itu adalah satu sakit kepala yang sangat berat dan besar luar biasa?
Penyebab sakit kepala yang ketiga, mendengar semua tuduhan dan fitnahan seperti itu, jemaat Korintus yang lain hanya diam saja dan tidak membela Paulus. Sikap mereka yang pasif itu Paulus tegur dengan tajam, “Sebenarnya aku harus kamu puji, karena meskipun aku tidak berarti sedikitpun namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu.” Bagaimana kita bersikap ketika melihat seseorang difitnah dan dituduh padahal kita tahu orang itu tidak seperti itu? Apakah kita hanya bersikap pasif dan tidak memberikan komentar atau pembelaan apapun bagi orang itu? Apakah kita memilih untuk tidak ikut campur atau tidak mau tahu? Bagi Paulus, sepatutnya jemaat sebagai orang yang kenal dekat dengan Paulus harus bersikap aktif membela dan tidak tinggal diam mendengar orang memfitnah Paulus. Paulus katakan, “Jadi jika aku sangat mengasihi kamu, masakan aku semakin kurang dikasihi?” Paulus begitu frustrasi melihat sikap jemaat yang masa bodoh dan acuh tak acuh kepada dia.

Kalau sdr sudah berkorban segala-galanya untuk seseorang, lalu kebaikan itu dianggap bukan hal yang baik bahkan kemudian orang itu memfitnah engkau, saya percaya lain kali kita tidak akan mau menolong dan membantu dia dalam kesulitan. Tetapi dalam bagian ini kita bisa menyaksikan ketika Paulu melayani, pelayanan yang dia kerjakan adalah pelayanan yang penuh dengan pengorbanan. Dan dia tidak berhenti sekalipun mengalami hal-hal yang seperti ini. Dalam hidup kita sebagai anak Tuhan, kita melakukan apa yang baik bagi orang dan tidak pernah anggap itu sebagai pengorbanan yang terlalu besar oleh karena pengorbanan Kristus lebih besar dalam hidup kita. Pada waktu kita masih berdosa, Yesus mengasihi dan mati bagiku. Pada waktu kita masih menjadi seteru musuh Allah, Ia telah menjadi sahabat dan mengorbankan diri bagiku. Pada waktu kita masih lemah, Yesus Kristus telah mengorbankan diriNya bagi kita (roma 5:6-8). Tuhan Yesus sendiri pernah mengajar demikian: “Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkanlah dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang yang jahat” (Lukas 6:33-35).

Bagian yang terakhir penyebab sakit kepala Paulus di sini, “Sebab aku kuatir apabila aku datang aku mendapati kamu tidak seperti yang aku inginkan dan kamu mendapati aku tidak seperti yang kamu inginkan. Aku kuatir akan adanya perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, fitnah, bisik-bisikan, keangkuhan dan kerusuhan. Aku kuatir bahwa apabila aku datang lagi, Allahku akan merendahkan aku di depan kamu dan bahwa aku akan berdukacita terhadap banyak orang yang di masa yang lampau berbuat dosa dan belum lagi bertobat dari kecemaran, percabulan dan ketidak-sopanan yang mereka lakukan” (2 Korintus 12:20). Paulus mengalami gejolak emosi yang luar biasa di dalam pelayanannya. Ada gejolak ketakutan, anxiety menghadapi penolakan. Ada gejolak takut untuk dipermalukan. Tidak gampang dan tidak mudah mengalami seperti ini. Banyak aspek dalam hidup kita kita bisa kuatir dan takut. Paulus takut mengalami penolakan dan dipermalukan di dalam pelayanannya. Bersiap hati di dalam setiap kali kita mengasihi dan melayani Tuhan, kita mungkin bisa mengalami berbagai macam gejolak emosi seperti ini. Hati Paulus juga berat dan susah melihat hidup jemaat yang sangat immature. Ada perselisihan di tengah mereka, ada iri hati, kemarahan yang meledak-ledak. Ada orang yang sangat mementingkan diri sendiri dan angkuh. Ada yang menyebarkan fitnah, bergosip, menciptakan kekacauan dan kerusuhan. Dan banyak orang yang di masa yang lampau berbuat dosa dan belum lagi bertobat dari kecemaran, percabulan dan ketidak-sopanan yang mereka lakukan. Salah satu kesedihan rasul Paulus khususnya kepada jemaat Korintus karena mereka begitu childish dan kehidupan rohani mereka sama sekali tidak bertumbuh. Sangat menyedihkan dan sangat memalukan sekali. Paulus sampai-sampai mengatakan lebih baik dia tidak datang di tengah-tengah jemaat Korintus oleh karena dia mengetahui akan hal-hal seperti ini sungguh bisa menyedihkan hati dia di dalam pelayanan.

Itulah sebabnya apa yang dialami oleh jemaat Korintus senantiasa mengingatkan kepada kita, menjadi sebuah komunitas, hidup menjadi orang Kristen yang bertumbuh dewasa dan healthy adanya. Dan ciri daripada hidup rohani yang sehat dari seorang Kristen adalah kita lebih mementingkan orang lain dan kita sedia berkorban bagi orang lain lebih daripada diri kita sendiri. Kita lebih berani untuk menerima pengorbanan dan ketidak-adilan yang dialami daripada kita kemudian yang melakukan tindakan dengan angkuh, memfitnah, dengan iri hati dan dengan amarah kepada orang lain. Itu adalah ciri daripada satu kehidupan spiritual yang dewasa adanya.

Pada hari ini, kiranya firman ini menjadi penghiburan bagi sdr sebagai hamba Tuhan yang sedang mengalami tekanan yang berat dalam pelayanan. Engkau mungkin sedih dan kecewa pada waktu engkau merasa engkau sudah bersabar begitu lama, engkau sudah begitu banyak berkorban dalam pelayanan, engkau sudah berusaha memberikan yang terbaik, pengorbanan yang luar biasa di dalam begitu banyak pekerjaan dan pelayanan bagi Tuhan, namun sdr saat ini mungkin sedang mengalami empat hal yang membuat engkau sakit kepala dan sakit hati, biar kiranya hari ini Allah memberikan kesembuhan bagimu. Engkau mengerti bahwa engkau tidak sendirian. Mungkin saat ini engkau gelisah melihat standar penilaian orang yang melihat engkau gagal dalam pelayanan. Mungkin saat ini engkau mengalami abusive dan dianggap memiliki karakter yang salah dan licik di dalam pelayanan. Mungkin orang-orang yang mengalami pembaharuan, yang menikmati berkat dari pelayananmu tetapi mereka tidak mengingat apa yang sudah engkau kerjakan bagi mereka dan berkat pelayanan yang mereka dapat darimu. Engkau sedih dan merasa apa yang engkau lakukan selama ini sia-sia adanya. Mungkin engkau gelisah dan kuatir dipermalukan orang akan pelayananmu. Biar kiranya firman Tuhan hari ini menjadi kekuatan, penghiburan dan pertolongan bagi setiap kita.

Bagi jemaat sekalian yang ikut Tuhan dan melayani Tuhan, jikalau sdr juga mengalami hal-hal seperti ini, biarlah firman Tuhan hari ini menjadi berkat kekuatan bagi engkau. Kita melayani bukan karena kita sanggup, bukan karena kita mampu, bukan karena kita memiliki kekuatan dalam diri kita sendiri tetapi karena kita tahu Kristus telah memberikan contoh teladan yang sempurna. Biarlah kita membuktikan kesungguhan pelayanan dengan kesabaran, di situ kita akan menyaksikan Tuhan memberkati setiap pelayanan yang kita kerjakan, ada buah dan hasil dan ada orang-orang yang mengalami perubahan. Jangan menjadi lelah dan undur dalam pelayanan. Biarlah kita kerjakan dan lakukan ini semua bukan untuk keuntungan diri kita tetapi semata-mata hanya bagi Allah yang kita sembah dan muliakan. Ia yang kita layani di dalam seluruh aspek hidup kita. Kiranya Tuhan memimpin hidup setiap kita sebagai individu maupun komunitas gereja supaya kita saling menguatkan satu dengan yang lain, saling memberikan penghiburan satu dengan yang lain, dan di dalamnya kita melayani Tuhan dengan tulus, dengan jujur, dengan murni. Jadikan Tuhan yang paling agung dan paling utama dalam hidup kita. Karena kita tahu segala sesuatu yang ada di dalam hidup kita semata-mata hanyalah kasih karunia dan berkat Tuhan yang luar biasa.(kz)