Kemuliaan Allah dalam Penderitaanku

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi: Surat 2 Korintus [15]
Tema: Kemuliaan Allah dalam Penderitaanku
Nats: 2 Korintus 12:1-10

Surat 2 Korintus pasal 12 adalah satu pasal yang sangat indah dan penting, Paulus bicara mengenai pengalaman spiritualnya yang luar biasa dimana dia diangkat oleh Allah naik ke surga. Di situ seolah kita diajak oleh rasul Paulus sampai kepada puncak gunung yang tertinggi, bukan untuk melihat kebesaran, kesuksesan dan kehebatan dia tetapi melainkan justru untuk melihat kekuatan Allah di tengah penderitaan dan kesulitan yang dialaminya.

Waktu kita menikmati dunia ini seringkali kita berpikir betapa indahnya hidup di dunia ini dan kita ingin tinggal selama-lamanya di sini. Tidak ada yang salah kita menikmati segala yang baik di dunia, kita bisa makan makanan yang enak, kita bisa menikmati segala hal yang indah dan baik, kita bersyukur kepada Allah betapa baiknya Dia. Allah memberikan dan mencukupkan segala yang kita perlukan dengan indah bagi kita semua. Namun terlebih, pada waktu kita bertemu dengan Allah yang menjadi sumber dari segala keindahan itu sendiri, Ia yang jauh lebih indah dan lebih sempurna daripada semua itu, sesungguhnya itulah pengalaman yang membawa kita kepada kepenuhan sukacita yang tidak terkatakan.

Namun dunia ini tidak hanya penuh dengan segala hal yang indah dan baik. Di dalam dunia ini, kita bisa menemukan kesulitan, penderitaan, sakit-penyakit, kejahatan dan ketidak-adilan terjadi. Pada saat itu terjadi dan kita tidak berdaya menghadapinya, bukankah kita merindukan bertemu dengan Allah karena kita tahu di situlah segala sesuatu final dan selesai. Pada waktu kita jatuh sakit, penuh dengan kesulitan dan air mata, betapa berat dan betapa susah hidup kita dalam dunia, pada momen seperti itu adakah kita mempunyai kerinduan cepat-cepat bertemu Tuhan? Di saat kita kaya, di saat kita makmur dan sukses, bisa menikmati semua yang indah dan baik ini, adakah kita memiliki kerinduan yang besar untuk dekat dengan Tuhan, menikmati hadirat Tuhan, ada bersama dengan Tuhan jauh lebih indah adanya. Saya rasa jarang sekali, bukan? Kita lebih senang tinggal di sini, sampai mungkin kita sudah tidak punya segala sesuatu, pada waktu kita sakit, dsb. Tetapi seringkali pada waktu kita sakit, kita ingin tetap hidup lebih lama di sini, dan kita ingin lepas dari sakit dan kesulitan seperti itu. Kita tidak berpikir seperti Paulus, “Terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan” (2 Korintus 5:8). Pergi kepada Allah, di surga bersama Allah, di situ air mata kita akan dihapuskan, tidak ada lagi sakit penyakit dan penderitaan. Mereka yang buta dan lumpuh dalam dunia ini, hal yang pertama mereka alami ketika mereka bertemu Allah di surga adalah mata mereka bisa melihat Allah yang mulia dan tangan kaki mereka bisa melompat dan menari kegirangan memuji Allah. Semua penderitaan dunia ini hilang lenyap sudah. Yang miskin dan papa di dunia, yang mengalami penganiayaan karena imannya kepada Kristus, semua itu akan selesai dan pada waktu mereka bertemu dengan Allah, semua menjadi lengkap sempurna indah. Kebenaran Tuhan, kesucian Tuhan, keindahan Tuhan memenuhi dan melingkupi kita.

Seperti apakah surga itu? Banyak orang di luar Kekristenan bicara surga, tetapi seperti apa surga itu bagi mereka? Sejujurnya, bagi orang bukan Kristen, pemahaman mereka mengenai surga tidak lain dan tidak bukan itu terjadi karena orang bersentuhan dengan apa yang Alkitab katakan, bukan? Kita tidak menemukan pengajaran tentang surga itu dalam pengajaran Confusius, yang menekankan pengajaran mengenai hubungan antar manusia dalam dunia ini. Kita tidak menemukan konsep itu pada waktu kita mempelajari agama-agama timur yang lain. Agama Budha bicara mengenai nirvana sebetulnya tidak sama dengan konsep surga kita karena nirvana lebih merupakan satu dimensi kehampaan [nothingness], satu wilayah yang engkau tidak punya desire dan keinginan apa-apa. Sehingga pada waktu orang membicarakan keindahan surga, tidak lain semua konsep yang ada di luar karena berkaitan dengan apa yang mereka lihat di dalam Alkitab kita. Dan pada waktu kita bicara mengenai keindahan surga yang dikatakan oleh Alkitab, kita tahu di sana tidak akan ada lagi air mata, tidak ada lagi sakit-penyakit, kita akan hidup di dalam kesucian dan kekudusan dan ketulusan. Betapa indah konsep surga yang ada di dalam Alkitab bagi kita. Semua yang indah dan manis, yang baik, yang agung, yang adil dan yang benar, itu semua dinyatakan di situ. Namun kenapa kita temukan seringkali orang bicara surga terlalu materialistis; mereka bicara mengenai surga bukan bicara mengenai Allah yang ada di atas tahtaNya yang kudus dan mulia menjadi pusatnya tetapi seringkali orang bicara mengenai surga mengenai apa yang akan dia dapat nanti di situ, sehingga banyak orang akhirnya terjebak bicara mengenai berapa besar pahala dan berapa banyak kekayaan yang kita dapat di situ. Bahkan akhir-akhir ini ada pengajaran dari agama lain bicara mengenai surga berkaitan dengan seksualitas daripada manusia. Masihkah ada kemungkinan orang berhubungan seks, masihkah orang mengejar kenikmatan seks di situ, berhubungan seks dengan 70 perawan bidadari, dsb? Betapa dangkal pikiran seperti itu menyebabkan surga didegradasi keindahan dan kemuliaannya. Yesus berkata, kepuasan dan kenikmatan yang sejati kita dapat ketika kita bersatu dengan Allah. Relasi kita menjadi indah, kita menikmati kepenuhan Allah di situ. Itulah surga; bicara mengenai satu pertemuan dan perjumpaan Allah dengan kita. Itulah sebabnya mengapa Yesus datang dari surga, mati di atas kayu salib, memberikan jalan yang terbuka supaya kita bisa hidup bersama-sama dengan Allah ketika penghalang terbesar dalam relasi kita dengan Allah yaitu dosa pemberontakan kita diselesaikan oleh Kristus dengan membayar lunas di atas kayu salib.

Bagian 2 Korintus 12:1-10 bicara mengenai pengalaman pengangkatan rasul Paulus ke surga. Satu pengalaman dimana Tuhan memperlihatkan kepada dia akan surga, Tuhan membawa dia melihat hal-hal yang tak terkatakan dan mendengar hal-hal yang tak terkatakan itu (2 Korintus 12:4). Pengalaman ini dia simpan hanya bagi dirinya sendiri, dia tidak katakan kepada siapa-siapa]dan dia tidak jadikan itu sebagai sentral berita bagi pelayanan dia. Sehingga untuk apa pengalaman ini dialami oleh rasul Paulus? John Calvin mengatakan, “This thing happened for Paul’s own sake, for a man who had awaiting him troubles hard enough to break a thousand hearts needed to be strengthened in a special way to keep him from giving way and to help him to persevere undounted.” Tuhan membawa rasul Paulus naik ke surga menjadi satu pengalaman yang sangat spesial bagi dia, sebab pengalaman itu memang perlu bagi Paulus karena dia terlalu banyak mengalami tekanan, aniaya, rajaman batu, gelombang penderitaan dan kesulitan menimpa di tengah-tengah pelayanan bagi penginjilan sampai akhir hidupnya. Tuhan perlu memberikan pengalaman ini untuk mengangkat dia untuk melihat apa yang dia kerjakan, apa yang dia perjuangkan adalah sesuatu yang tidak akan pernah sia-sia. Penglihatan surgawi yang begitu indah, agung dan mulia itu, itulah yang menjadi kekuatan bagi dia untuk menjalankan setiap proses pergumulannya hari demi hari tidak ada henti-hentinya penuh dengan tantangan kesulitan itu dia tetap bisa berdiri dengan kuat, berdiri dengan teguh, dan tidak digoncangkan oleh apapun. Setiap kali Paulus mengabarkan Injil, dia tidak bicara akan pengalaman itu. Paulus hanya bicara mengenai pengalaman dia bertemu Tuhan dalam perjalanan menuju Damaskus karena itu adalah pengalaman pertobatan dia dari seorang yang sebelumnya menganiaya, menangkap dan memenjarakan orang-orang Kristen dan ingin menghancurkan umat Allah, Tuhan panggil dia bertobat dan sejak saat itu dia menjadi rasul bagi pekerjaan Tuhan. Dia bicara mengenai apa yang Tuhan ubah dalam hidup dia. Tetapi mengapa di sini Paulus terpaksa perlu menceritakan pengalaman pengangkatannya naik ke surga? Dia terpaksa menceritakan ini sebagai suatu pembelaan diri terhadap keabsahan kerasulannya. Dia lakukan ini untuk menghadapi kelompok orang yang datang ke Korintus, jemaat yang notabene Paulus 18 bulan merintis dan melayani di situ, dari tidak ada sampai menjadi ada. Kelompok super apostles ini membanggakan diri mereka hebat, mereka sukses, mereka bisa menarik banyak pengikut, mungkin pakai bahasa kita sekarang orang ini mungkin sukses melakukan berbagai hal, membangun ini itu dan sebagainya. Sehingga Paulus bilang okelah, kalau kamu mau meminta saya berbangga, ini kebanggaanku: aku sudah tiga kali disesah dan lima kali didera, saya dipukuli dan dilempar batu sampai hampir mati, sering tidak makan dan tidak ada cukup pakaian, saya kedinginan, saya dirampok, ada bahaya dari sana dan dari sini, dsb (2 Korintus 11:24-26). Dan sampai bagian ini, karena orang yang datang itu mungkin berbicara bahwa dia sudah melihat malaikat, sudah bertemu dengan Allah muka dengan muka, dsb, terpaksa Paulus katakan kalaupun saya harus berbangga atas wahyu dan penglihatan yang Tuhan beri kepadaku, sebetulnya semua itu tidak ada faedahnya. Semakin kita mengetahui apa yang indah dan baik, sukses yang kita alami dan apa yang terjadi dalam hidup kita diberkati oleh Tuhan, kita harus senantiasa sadar, tidak ada hal apapun yang bisa kita banggakan. Semakin kita memahami anugerah Allah semata-mata yang terjadi dalam hidup kita, semakin kita tahu itu semua bukan milik kita sendiri. Semua itu hanya membawa mulut kita selalu memuliakan Allah. Selalu jaga hati kita dan selalu peka terhadap hal-hal ini. Paulus katakan, apa sih yang engkau dapat raih? Nothing! Karena kita tahu semua itu anugerah Allah semata-mata. Semua yang engkau bangga-banggakan itu tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan, karena yang engkau banggakan itu sebenarnya modalnya dari Tuhan yang kasih. Yang kamu sombongkan itu adalah pemberian dari Tuhan. Maka kita semua harus ambil sikap di mata Tuhan kita ini semua “tukang parkir valet” memarkir miliknya Tuhan. Sekalipun dikasih kunci lamborghini, itu miliknya Tuhan. Cuma baiknya Tuhan, mungkin Tuhan bilang silakan kamu boleh pakai dan nikmati. Tetapi selalu ingat baik-baik, itu semua bukan punya kamu.

Dari cara pernyataan Paulus kelihatan sekali Paulus sebetulnya enggan dan tidak mau membukakan hal ini, maka terjadi pemakaian ganti orang ketiga, “Aku tahu tentang seorang Kristen, empat belas tahun yang lampau entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya. Orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ke tiga dari sorga” (2 Korintus 12:2), padahal itu pengalaman pribadi dia. “Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku” (2 Korintus 12:5). Prinsip ini perlu untuk kita ambil dalam bersaksi kepada orang-orang mengenai apa yang Tuhan telah lakukan kepada kita. Pengalaman nyata Tuhan menyembuhkan kita bisa kita pakai menjadi satu kesaksian bukan untuk membanggakan bahwa kita hebat dan spesial tetapi untuk memuliakan Allah dan menyatakan apa yang Ia telah kerjakan di dalam hidup kita untuk membangun orang lain dan kita tidak pernah pakai itu sebagai satu resume dari kehebatan rohani kita untuk kemudian menggoda kita untuk menganggap kita orang yang spesial dan punya relasi yang sangat dekat dengan Tuhan. Paulus tidak mau pakai itu.
Di sini Paulus bicara beberapa hal. Pertama Paulus katakan, peristwa itu terjadi empat belas tahun yang lalu. Pengalaman ini jelas bukan pengalaman pada waktu dia berjumpa dengan Yesus di tengah perjalanan ke Damaskus. Mungkin ini adalah pengalaman yang dia alami sebelum dia pergi melayani sebagai misionari. Ke dua, dia mengatakan “entah itu di dalam tubuh, entah itu di luar tubuh” berarti apakah itu satu pengalaman seperti nabi Elia yang diangkat ke surga dengan tubuhnya, ataukah itu merupakan sesuatu hal yang terjadi dimana rohnya saja yang pergi, Paulus katakan dia tidak tahu, Allah yang mengetahuinya. Lalu hal yang ke empat dia katakan “orang itu diangkat sampai kepada langit tingkat ke tiga.” Alkitab terjemahan bahasa Indonesia tidak terlalu jelas konsep bumi dan surga. Tetapi dalam terjemahan bahasa Inggris kata bumi dalam bentuk tunggal singular dan kata surga atau langit dalam bentuk jamak plural: heavens and earth. Karena memang dalam bahasa Ibrani kata yang dipakai untuk surga atau langit berbentuk plural, karena ini adalah konsep kosmologi yang dikenal oleh orang Yahudi dimana langit itu ada tiga tingkat atau lapisan. Lapisan langit yang pertama adalah lapisan atmosfir dimana burung-burung terbang. Lalu kemudian lapisan langit yang ke dua adalah tempat dimana matahari, bulan, dan bintang-bintang berada. Langit tingkat ke tiga yaitu tempat dimana Allah bertahta. Itu adalah lapisan langit yang paling tinggi, satu dimensi yang tidak bisa dicapai oleh apapun. Itulah sebabnya pada waktu Paulus mengatakan orang itu diangkat Allah sampai kepada langit tingkat ke tiga, maka hal itu dimengerti adalah tempat dimana Allah berada. Kata lain yang Paulus pakai di sini adalah dia tiba-tiba diangkat ke Firdaus. Tiga kali kata firdaus muncul di Alkitab. Yang pertama muncul dari perkataan Tuhan Yesus di atas kayu salib kepada penjahat yang disalib di sebelahnya, “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan aku di dalam Firdaus” (Lukas 23:43). Yang ke dua, dalam Wahyu 2:7 Yesus berkata kepada jemaat Efesus, “Barangsiapa menang dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di taman Firdaus Allah.” Dan yang ke tiga Paulus sebut kata Firdaus di bagian ini.

Di Firdaus dia melihat keindahan dan kemuliaan surga dan Tuhan menjadikan itu sebagai satu pengalaman rohani bagi dia, bahwa satu kali kelak dia akan menikmati semua di dalam kepenuhannya.
“Dan supaya jangan aku meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa ini maka aku diberi suatu duri dalam dagingku yaitu sebagai utusan Iblis untuk menggocoh aku supaya aku jangan meninggikan diri” (2 Korintus 12:7). Segera sesudah pengalaman itu, Tuhan memberikan sebuah duri di dalam hidup dia. Apa yang Paulus maksud dengan duri ini? Banyak orang menduga duri itu adalah sakit pada matanya. Paulus pernah berkata dalam surat Galatia 4:13 “waktu aku datang kepadamu dalam keadaan sakit.” Lalu yang kedua dia katakan, “Lihatlah betapa besarnya huruf-huruf yang kutulis” (Galatia 6:11) berarti jelas ada kesulitan dan sakit yang terjadi pada matanya. Pertemuan dengan Yesus di tengah perjalanan di Damaskus, melihat kemilau cahaya kemuliaan Yesus telah membutakan matanya. Meskipun setelah itu Allah menyembuhkannya, tetapi ada perubahan yang luar biasa, matanya tidak 100% baik. Tetapi kalau di sini dikatakan sesudah pengalaman pengangkatan itu Tuhan baru memberikan duri pada dagingnya, berarti ini bukan peristiwa Damaskus sebab berbeda konteks waktunya. Jadi, apa sebenarnya duri itu? Dua hal bisa kita temukan di sini. Pertama, itu adalah duri yang dengan sengaja Tuhan taruh, berarti Tuhan yang memberikan. Yang kedua, itu adalah utusan dari Iblis. Dalam bagian ini, itu adalah tindakan dan perbuatan dari si Jahat dan kita tidak tahu itu apa secara pastinya. Saya percaya, apa yang Paulus alami itu berat luar biasa. Kalau sampai tiga kali Paulus berseru memohon kepada Tuhan untuk mencabut duri itu dari dagingnya, seperti doa Yesus di taman Getsemani. Tiga kali Yesus berseru, “Ya Bapa, jikalau boleh kiranya cawan ini lalu daripadaKu, tetapi bukan kehendakKu melainkan kehendakMu yang terjadi.” Cawan itu kita mengerti karena menanggung dosa manusia, dosa engkau dan saya, Yesus harus terpisah dari Allah Bapa, betapa sakit dan berat penderitaanNya saat itu. Allah tidak lalukan cawan itu dari Yesus sebab penderitaan cawan itu mendatangkan keselamatan yang terbesar kepada kita. Jika keterpisahan Bapa dengan Anak tidak terjadi, maka tidak ada keselamatan bagi kita. Paulus katakan sampai tiga kali dia berseru dan Allah tidak mencabut duri dari dagingnya, tetapi Allah berkata, “Cukuplah kasih karuniaKu kepadamu, sebab di dalam kelemahanmu kuasaKu menjadi sempurna.” Berarti ada hal yang besar, ada hal yang luar biasa, ada hal yang lebih agung yang akan terjadi melalui penderitaan, sakit dan kesulitan yang terjadi di dalam hidup Paulus. Melalui penderitaan, kesulitan dan duri seperti ini justru menjadi satu penghiburan dan sukacita dia boleh memakai hal yang paling terburuk sekalipun untuk menyatakan penyertaan Allah yang luar biasa.

Hal yang sama bisa kita lihat dari hidup Joni Eareckson, dari seorang gadis muda yang cantik dan energik, kecelakaan waktu diving membuat patah lehernya dan melumpuhkan tangan dan kakinya. Berkali-kali dia berdoa meminta kesembuhan dari Tuhan, menyatakan mujizat baginya. Sampai hari ini, kira-kira lima puluh tahun setelah peristiwa itu Joni tahu sekalipun Tuhan tidak menyembuhkan dia, itu tidak membuat Tuhan kurang mengasihi dia. Satu kali kelak dia akan melompat dan mengangkat tangannya memuji Allah di depan tahtaNya yang mulia, di situ tidak akan ada lagi sakit dan penderitaan. Sekarang di dunia ini dia mengalami sakit-penyakit, penderitaan dan ketidak-adilan. Satu kali kelak, keadlan Allah akan ternyatakan. Seperti Fanny Crosby berkata, sekarang di dunia ini mataku buta dan tidak dapat melihat keindahan alam ini, tetapi satu kali kelak di surga mataku akan melihat betapa indah dan mulia Tuhanku Yesus Kristus. Hari ini mungkin kita punya segala cacat tubuh dan sakit yang tidak tersembuhkan, kelak kita akan mendapat tubuh yang sempurna dalam kekekalan. Hari ini ada banyak anak-anak Tuhan yang karena imannya kepada Kristus, ditangkap, disiksa dan dianiaya, mereka menyaksikan penyertaan Tuhan yang luar biasa menjadi pengalaman mereka begitu nyata.
Kalau hari ini Allah mengijinkan engkau mendapatkan duri dalam hidupmu, mintalah agar Allah menjadikannya sebagai alat yang indah dimana Allah makin dibesarkan dan dimuliakan dalam hidupmu. Sekalipun panjang dan lama duri itu tinggal dalam hidupmu, sekalipun ada saat-saat dimana engkau merasa tidak kuat menanggungnya lebih lama lagi, satu kali kelak semua itu akan hilang lenyap dan tidak ada lagi. Sepanjang hidup kadang kita melewati waktu yang begitu panjang menjalaninya, tetapi itu tidak bisa dibandingkan dengan kemuliaan yang kekal dan agung yang Allah akan berikan bagi engkau dan saya. Kiranya apa yang kita dengar hari ini boleh menjadi kekuatan dan keindahan kebesaran Allah yang selama-lamanya akan menjadi berkat dan penghiburan bagi kita, khususnya yang saat ini sedang menanggung kuk beban dan duri yang tajam di dalam hidup kita, sekalipun di dalam kekurangan dan kelemahan kuasa Allah nyata dan sempurna. Kita percaya Allah pasti akan mengerjakan hal yang lebih agung dan lebih mulia lebih daripada apa yang kita lihat dan biar segala hormat kemuliaan kembali kepada Allah semata-mata.(kz)