Kejarlah Pujian dari Tuhan

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi: Surat 2 Korintus [14]
Tema: Kejarlah Pujian dari Tuhan
Nats: 2 Korintus 11

“Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan. Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan” (2 Korintus 10:17).

Alkitab menyaksikan dengan jelas dan indah luar biasa bagaimana Allah datang mencari dan menyelamatkan kita melalui Yesus Kristus, Anak Allah yang datang ke dalam dunia memberikan nyawaNya sebagai tebusan bagi dosa-dosa kita. Manusia yang berdosa tidak sanggup datang dan berjumpa dengan Allah yang suci itu, tetapi melalui penebusan dan pengampunan oleh darah Yesus Kristus kita bisa datang menyembah dan memuliakan Allah. Maka pada waktu kita datang berbakti ke rumah Allah, kita tahu Tuhanlah yang memanggil kita. Kita menyembah Allah Bapa, kita menyembah Allah Anak yaitu Tuhan Yesus Kristus yang telah menjadi juruselamat kita, dan di dalam kekuatan dan kuasa Roh Kudus kita datang menyembah Dia. Di dalam penyembahan itu, Tuhan Allah yang dipusatkan, Tuhan Allah yang harus disembah dan dimuliakan. Namun Alkitab memberitahukan hal yang menyedihkan terjadi di dalam jemaat Korintus dimana ibadah mereka sama sekali bertolak-belakang, sampai Paulus sendiri berkata, “aku tidak dapat memuji kamu sebab pertemuan-pertemuanmu tidak mendatangkan kebaikan tetapi mendatangkan keburukan” (1 Korintus 11:17). Setiap kali mereka berkumpul berbakti beribadah kepada Tuhan, ibadah itu tidak mendatangkan faedah melainkan justru mendatangkan keburukan dan perpecahan di tengah mereka. Ibadah mereka penuh dengan hal yang bersifat duniawi dan lahiriah, yang hanya berpusatkan kepada diri dan bukan kepada Allah. Beberapa hal yang Paulus tegur di antaranya pada waktu mereka mengadakan perjamuan kudus, mereka yang punya makanan makan minum sendiri di antara mereka sampai kekenyangan dan mabuk sementara orang miskin yang tidak membawa apa-apa akhirnya pulang dengan lapar (1 Korintus 11:20-22). Maka Paulus katakan tidak heran Allah menghukum mereka, dimana sebagian di antara mereka setelah itu sakit dan bahkan ada yang meninggal dunia (1 Korintus 11:30). Kita saksikan pada waktu mereka datang berbakti, ada perpecahan dan favoritisme. Sebagian mereka mengatakan aku dari golongan Kefas, aku dari golongan Apolos, aku dari golongan Paulus, aku dari golongan Kristus (1 Korintus 1:12) yang akhirnya menghasilkan iri hati dan perselisihan di antara mereka (1 Korintus 3:3-4). Dan bukan itu saja, mereka sama sekali tidak peduli ada pengajar-pengajar sesat di dalam ibadah mereka. Paulus menegur jemaat ini, “Sebab kamu sabar saja jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain daripada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain daripada yang telah kamu terima, atau Injil yang lain daripada yang telah kamu terima (2 Korintus 11:4). Berarti kepekaan rohani mereka tidak lagi mereka asah.
Sangat menyedihkan, kondisi dan hal-hal seperti ini bukan saja terjadi di masa lalu, tetapi juga bisa terjadi pada masa ini. Biarlah melalui firman Tuhan pada hari ini kita sebagai jemaat Allah senantiasa dijaga dan dipelihara oleh Allah untuk tidak terjatuh dalam hal-hal seperti itu dan dalam ibadah kita kiranya yang menjadi pusat, Allah yang kita sembah, puji dan muliakan dalam hidup kita. Jangan sampai kita terjebak jatuh kepada ibadah yang berpusat hanya kepada diri, menjadikan ibadah sebagai sesuatu tontonan dan entertainment bagi diri, apakah lagu itu menyenangkan hati kita, apakah khotbah itu menyenangkan telinga kita? Sehingga pada waktu ibadah itu kita rasa tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan dan kita harapkan, kemudian kita menjadi tidak senang dan rasa membuang-buang waktu belaka. Dan sebagai hamba Tuhan, saya juga harus senantiasa menjaga hatiku setiap kali naik ke mimbar saya bukan melakukan pertunjukan yang menyenangkan jemaat, saya tidak berusaha membuat orang menjadi kagum ‘wow, pembicara hebat!’ lalu kemudian mendapatkan followers lebih banyak dan memakai mimbar untuk membesar-besarkan diri dan menyebutkan apa-apa yang sudah kita kerjakan dan lakukan dengan lebih banyak dan lebih besar tanpa kita membesarkan dan memuliakan Yesus Kristus. Paulus sangat mengerti inilah godaan besar bagi hamba Tuhan di mimbar sehingga dia memberikan warning ini, “Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” Dan dia lanjutkan dengan kalimat ini, “Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan” (2 Korintus 10:17). Pujian dari manusia tidak bertahan lama, tetapi yang paling penting adalah kejar dan carilah apa yang menjadi pujian dari Tuhan. Sebagai anak-anak Tuhan jangan sampai kita juga jatuh kepada sikap yang sama dengan orang-orang lain yaitu pada waktu kita melakukan sesuatu, kita ingin cepat-cepat untuk mendapatkan pujian dari orang dan kita ingin dimegahkan. Dan pada waktu itu tidak terjadi, kita menjadi kecewa dan marah. Kita sudah tidak tahan uji. Pada waktu Yesus bicara mengenai hamba yang setia, pujian dari Tuhan datang pada waktu orang itu bertemu dengan Tuhan. “Baik sekali perbuatanmu, hai hambaKu yang baik dan setia. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Matius 25:21). Apa yang engkau lakukan mungkin sesuatu yang tidak kelihatan di mata orang, sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang dilakukan dengan tekun, dengan sabar, tetapi dengan setia kita kerjakan dan lakukan. Kita tidak pernah terganggu dengan pujian dan celaan dari manusia.

Di bagian ini Paulus mengatakan ada sekelompok orang yang menyusup di dalam gereja. Siapakah mereka ini? Pada waktu Paulus tidak ada di Korintus, mereka datang ke sana mengajar dan berkhotbah di tengah-tengah mereka. Kelompok orang ini kemungkinan adalah orang-orang Yahudi yang Paulus kontraskan dengan dirinya, “Tetapi jika orang-orang lain berani membanggakan sesuatu, maka akupun, aku berkata dalam kebodohan: berani juga! Apakah mereka orang Ibrani? Aku juga orang Ibrani! Apakah mereka orang Israel? Aku juga orang Israel. Apakah mereka keturunan Abraham? Aku juga keturunan Abraham!” (2 Korintus 11:21-22). Jadi bisa kita simpulkan mereka adalah orang yang datang mungkin membawa surat rekomendasi lalu mereka nyatakan bahwa mereka datang dari Yerusalem dan pergi berkeliling ke tempat-tempat dimana gereja ada dan sampailah mereka di Korintus. Dan karena mereka adalah orang-orang yang sangat pandai berpidato atau berkhotbah dengan luar biasa, maka sebagian orang di dalam jemaat Korintus menjadi kagum dengan kehebatan dan kepintaran mereka. Namun Paulus tidak sungkan menyebut mereka rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus (2 Korintus 11:13). Mereka sangat menyombongkan diri karena memang mereka adalah orang-orang yang sangat pandai berpidato atau berkhotbah dengan luar biasa. Dan sebagian jemaat Korintus menjadi kagum dengan kehebatan dan kepintaran mereka. Sebaliknya Paulus mengakui, dia tidak fasih dalam hal berkata-kata. Dia orang yang tidak eloquent di dalam berbicara. Hal yang sama pada waktu Musa dipanggil Allah, dia menolak karena dia seorang yang tidak bisa berbicara,[tidak pandai berkata-kata, itu bukan sekedar kerendahan hati. Besar kemungkinan memang Musa dan Paulus tidak fasih berbicara atau orang yang tidak menarik di dalam berkata-kata. Ada peristiwa di dalam Kisah Rasul, dimana Paulus bicara begitu panjang dan lama, sampai akhirnya ada satu anak muda bernama Eutikhus mengantuk dan jatuh dari jendela dan mati (Kisah Rasul 20:9). Kita tahu banyak juga yang dengar khotbah Paulus sering ketiduran. Maka dari itu Paulus katakan aku tidak pandai berkata-kata.

Maka Paulus memulai pasal 11 dari surat 2 Korintus ini dengan berkata, “Alangkah baiknya jika kamu sabar terhadap kebodohanku yang kecil itu. Memang kamu sabar terhadap aku!” (2 Korintus 11:1). Ini yang pertama dia menyebut diri “foolish” sebagai kontras kepada pengajar-pengajar palsu itu. Lalu kedua, dia katakan, “Sungguh aku telah menjadi bodoh tetapi kamu yang memaksa aku” (2 Korintus 12:11). Maka boleh dikatakan ini adalah “double foolishness” yang Paulus nyatakan mengenai dirinya. Inilah “kebodohan” Paulus yang pertama, “Karena aku memberitakan Injil Allah kepada kamu dengan cuma-cuma” (2 Korintus 11:7). Di Korintus tempat satu-satunya Paulus memberitakan Injil tanpa menerima bayaran apa-apa. Jelas itu adalah sikap pelayanan yang penting Paulus ambil. Di Korintus Paulus bekerja sebagai tukang kemah untuk membiayai kebutuhan hidupnya sendiri (Kisah Rasul 18:3) dan di saat yang sama Paulus menyebut bahwa dia mendapatkan dukungan dana bagi kebutuhan hidupnya selama melayani di Korintus dari jemaat-jemaat di Makedonia (2 Korintus 11:8-9).

Kita mendapat anugerah Allah dengan cuma-cuma. Allah menyelamatkan kita tanpa ada sumbangsih dan jasa dari pihak kita mengerjakan apa-apa bagiNya melainkan sepenuhnya Allah yang mengerjakannya bagi kita. Maka pada waktu kita melayani, kita melakukannya bukan dengan motif untuk mendapatkan keuntungan finansial bagi diri kita. Paulus melakukan pelayanan di Korintus dengan sikap pelayanan seperti ini. Namun ada alasan lain Paulus tidak mau terima apa-apa dari mereka. Korintus adalah satu kota kebudayaan yang luar biasa maju. Ini kota yang megah, kota pusat edukasi, dan ini kota dimana orang-orang sophist atau orang-orang intelektual dengan kemampuan retorikanya yang luar biasa, mereka berkhotbah, mereka berpidato secara umum. Dan semakin banyak orang yang menjadi pengikut mereka, makin banyak muridnya, makin besar keuangan yang didapat. Paulus tidak mau menyamakan berita Injil sama dengan filsafat-filsafat manusia atau orang-orang yang berjualan bijaksana. Maka berbeda dengan kota-kota yang lain dimana Paulus menerima uang dari pelayanannya, di Korintus Paulus ambil keputusan untuk tidak terima uang mereka supaya orang tidak menyamakan berita Injil dengan ajaran filsafat orang Yunani. Akibat keputusan itu mendatangkan salah pengertian dan perasaan kecewa, sedih dan jemaat Korintus berpikir Paulus tidak mengasihi mereka, tetapi Paulus bilang Allah mengetahui bahwa hatinya tidak seperti itu (2 Korintus 11:11).

Sebaliknya sekelompok orang yang masuk ke dalam gereja Korintus sebagai pengajar-pengajar palsu justru yang kemudian memperdaya jemaat Korintus, membuat mereka memberikan uang kepada orang-orang ini. Mereka tidak sungkan mendapatkan keuntungan finansial dari memakai nama Yesus. Ada dua hal yang penting dan perlu untuk kita perhatikan di sini. Paulus jelas adalah rasul sejati yang memberitakan Injil yang sejati. Namun sebagian jemaat Korintus tidak menganggap Paulus sebagai rasul yang sejati oleh karena mereka membandingkan Paulus kalah hebat dibanding dengan kelompok rasul-rasul ini. Paulus tidak fasih berbicara seperti mereka. Paulus tidak punya banyak pengikut seperti mereka. Penampilan Paulus sederhana tidak seperti mereka. Bukankah dalam kehidupan kita sekarang banyak orang Kristen yang menilai seperti itu? Pada waktu orang-orang Kristen lebih suka mendengarkan khotbah yang spektakuler, lebih percaya kepada satu pengkhotbah yang sama sekali tidak setia mendasarkan apa yang mereka katakan sesuai dengan apa yang Alkitab ajarkan dan firmankan tetapi lebih kepada apa yang mereka lihat di dalam mimpi lalu mereka rasa mereka lebih dekat dengan Tuhan, atau mereka mengatakan mereka telah naik ke surga dan mendapatkan firman dari Tuhan, atau bahkan mereka telah turun ke neraka dan diperlihatkan Tuhan seperti itu. Walaupun mungkin mereka menyebutkan nama Yesus dan Roh Kudus, mereka tidak mengajarkan firman Allah yang sejati. Hal yang kedua, Paulus memperingatkan ketika Allah tidak lagi menjadi pusat yang kita agungkan dan utamakan di dalam hidup kita, tetapi hanya kesuksesan hanyalah diri kita yang kita banggakan di mimbar dan hal-hal itu yang kita kejar dan kita cari, baik kita sebagai hamba Tuhan, maupun kita datang sebagai umat Allah; pada waktu kita menyembah Dia dan hanya menjadikan ibadah kita demi untuk kepentingan dan kesuksesan bagi diri kita sendiri, kita harus bertobat dan berbalik dan minta ampun kepada Tuhan, jika setiap kali kita menyebut nama Tuhan, kita tidak memuji dan memuliakan Tuhan sepatutnya dan selayaknya tetapi hanya mengambil pujian bagi diri kita sendiri.

“Kebodohan” Paulus yang kedua adalah Paulus membanggakan diri, tetapi itu dia anggap sebagai sebuah kebodohan. Kenapa disebut sebagai kebodohan? D.A. Carson mengatakan pada waktu Paulus mengatakan hal seperti ini, jemaat Korintus mungkin berharap Paulus mengatakan: aku rasul yang hebat; aku telah mendirikan lebih banyak gereja daripada orang-orang lain; aku sudah berkeliling sampai ke wilayah yang paling luas yang orang lain tidak pernah datangi; aku menjalankan perjalananan lebih banyak daripada orang-orang lain; aku sudah menulis buku lebih banyak daripada orang-orang lain; aku telah mengumpulkan uang paling banyak dibandingkan yang lain. Banyak sekali orang yang telah aku pertobatkan dan yang telah mendengarkan khotbahku dalam jumlah yang besar dan akulah orang yang melakukan mujizat yang paling banyak daripada semuanya. Supaya kebanggaan seperti itu sama dilakukan dengan orang yang menyebut “super apostles” itu. Mereka mau bermegah, akupun bisa bermegah. Namun bukan itu yang Paulus katakan. Dengan gerakan Roh Allah, Paulus menyebut apa yang terjadi pada diri dia bagi Injil dan bagi kemuliaan Kristus, dan semua ini dia tidak pernah sebutkan di dalam surat-suratnya yang lain. Di awal, Paulus menyebutkan, “Dalam segala hal kami ditindas namun tidak terjepit; kami habis akal namun tidak putus asa; kami dianiaya namun tidak ditinggalkan sendirian; kami dihempaskan namun tidak binasa” (2 Korintus 4:8-9). Tetapi dia tidak sebutkan apa yang terjadi pada dirinya secara mendetail di sini. Kesulitan dan penderitaan yang dia alami dalam pelayanannya tidak pernah dia sebut di surat-surat lain dan tidak pernah menjadikan dasar bagi dia berbangga dalam pelayanan. Bagi dia dasar pelayannya adalah biar Kristus Tuhan yang disembah dan dimuliakan. Apa yang dia kerjakan bagi Kristus tidak pernah menjadi sesuatu yang dia bangga-banggakan di hadapan orang lain sekalipun yang dia sebutkan di sini adalah sesuatu yang mengejutkan. “Apakah mereka pelayan Kristus? Aku berkata seperti orang gila: aku lebih lagi! aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, tiap kali empat puluh kurang satu pukulan. Tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali aku mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun. Bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan bahaya dari pihak orang bukan Yahudi. Bahaya di kota, bahaya di padang gurun. Bahaya di tengah laut dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian; dan dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat” (2 Korintus 11:23-28). Ini adalah hal-hal yang secara spesifik hanya di dalam bagian ini kita mengetahui apa yang terjadi dalam hidupnya pada waktu dia pergi memberitakan Injil dan melayani Tuhan dan tidak pernah menjadi sesuatu yang dia banggakan. Dia menuliskan hal ini satu kali saja untuk membandingkan dengan rasul-rasul palsu itu. Dia lakukan ini karena dia tahu Kristus harus dimuliakan, bukan dirinya sendiri. Bukan dengan maksud menyerang dan menghakimi orang, tetapi sebagai hamba Tuhan kita senantiasa mengingatkan gereja Tuhan harus menjadi gereja yang suci dan benar. Ada orang bisa masuk ke dalam pekerjaan Tuhan dan ke dalam rumah Tuhan mereka bukan orang-orang yang mencintai dan mengasihi Tuhan dengan sungguh. Inilah problem yang sangat banyak terjadi di berbagai gereja. Hamba Tuhan bukan orang sempurna, gereja Tuhan juga tidak sempurna; kita harus memiliki leadership yang bertanggung jawab, kita juga harus menjadi pengikut Kristus dan gereja yang juga bertanggung jawab. Kita sama-sama berperan dan ambil bagian. Waktu ada persoalan, yang lemah kita dukung; yang tersandung, hati kita sedih dan hancur di situ.

Saya rindu setelah kita mendengarkan khotbah ini, mari kita sama-sama datang kepada Tuhan, kita mau meninggikan dan muliakan Dia di dalam hidup kita. Apapun yang kita kerjakan, kalau sampai kita mengalami seperti ini karena ikut Tuhan, itu tetap tidak boleh kita banggakan, tidak boleh juga menjadi kekecewaan kita. Simpan dan jadikan itu sebagai sesuatu relasi pribadi kita dengan Tuhan tumbuh sampai ketemu dengan Dia, yang Paulus katakan terutama dan terindah adalah pujian yang datang dari Allah sendiri. Jangan pernah banggakan apa yang kita kerjakan dan lakukan dan jangan jadikan kesuksesan pelayanan menjadi kesombongan. Kita harus mawas diri, pada waktu kita jatuh kepada hal-hal seperti itu dimana kita menjadikan diri kita sebagai pusat dan sentral. Kalau kita mencari pujian dari manusia, engkau terima itu hari ini maka selesai sampai di situ, seperti kata Yesus “sesungguhnya mereka telah mendapat upahnya” (Matius 6:2). Jika yang kita cari hanya pujian manusia, maka kita tidak pernah menjadi tahan uji. Biar Tuhan yang menguji kita semua. Yang kedua, mari kita hargai, kita hormati, kita puji Tuhan. Engkaulah yang paling agung, paling mulia dan paling indah dalam hidupku. Engkaulah yang aku ingin layani, Engkau yang ingin aku puji selama-lamanya. Itu yang senantiasa menjadi kerinduan kita di dalam hidup kita di gereja ini, di dalam keluarga kita, dimana saja kita pergi dan kita melayani Tuhan, kejarlah pujian dari Tuhan.

Kiranya Allah menjaga dan memelihara hati kita supaya pada waktu kita menyembah dan memuji Tuhan, kita sungguh-sungguh menghargai apa yang Tuhan Yesus Kristus telah kerjakan dan lakukan dalam hidup kita. Baik kita yang melayani Tuhan di atas mimbar maupun kita sebagai anak-anak Tuhan, kiranya Tuhan pimpin kita supaya kita senantiasa hanya ingin mencari hormat dan pujian dari Tuhan. Tidak ada hal yang kita ingin banggakan akan apa yang kita kerjakan entahkah itu terlalu besar, terlalu berat, atau terlalu hebat, terlalu berkorban. Semuanya itu biar kita simpan dan kita taruh bagi diri kita sendiri karena kita kerjakan bukan untuk mencari hormat dari manusia tetapi kita kerjakan sebagai ucapan syukur terhadap apa yang Tuhan sudah lakukan bagi hidup kita.(kz)