The Joy of Giving

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat 2 Korintus [11]
Tema: The Joy of Giving
Nats: 2 Korintus 8:1-15

Lukas 18 dan 19 mencatat dua pribadi yang datang kepada Tuhan Yesus menyatakan reaksi yang sangat kontras. Yang satu adalah seorang anak muda yang kaya-raya, yang tahu kekayaan itu tidak akan bisa memuaskan jiwanya, dia menginginkan satu hal yang lebih indah daripada kekayaan itu. Maka dia datang kepada Yesus dan bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Yesus melihat satu penghalang yang paling besar bagi anak muda ini adalah hati dia yang terikat dan terjerat dengan mammon kekayaan, maka Yesus berkata kepadanya, “Juallah semua hartamu, bagikanlah kepada orang miskin dan ikutlah Aku.” Mendengar hal ini, anak muda itu pergi dengan sedih karena banyak hartanya (Lukas 18:18-23). Yesus melihat dengan kasihan kepada anak muda itu yang karena kekayaannya luar biasa menghalangi dia untuk datang kepada Yesus. Tetapi orang yang kedua, yang juga sangat kaya raya, yaitu Zakheus bertemu dengan Tuhan Yesus dan menyatakan respon yang berbeda. Dia berkata, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan kepada orang yang aku telah rugikan, aku akan kembalikan empat kali lipat.” Yesus kemudian berkata, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini” (Lukas 19:1-9).

Sesungguhnya berhala yang paling besar yang ada di dalam hati setiap kita itu adalah mammon harta kekayaan. Yesus pernah mengatakan, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mammon bersama-sama” (Matius 6:24). Kata “mammon” itu mewakili sesuatu kuasa material, harta kekayaan dan konsep duniawi yang bisa mengikat dan menjerat kita. Dari reaksi dua orang kaya yang datang kepada Yesus itu kita bisa saksikan ada kaitan yang erat sekali antara keselamatan dengan hati yang terikat erat mammon. Ketika keselamatan tiba pada diri seseorang, itu mereka nyatakan dengan generosity mereka memberi dan menyatakan harta dan materi tidak lagi menjadi sesuatu yang mengikat mereka. Segera setelah keselamatan itu terjadi di dalam diri dan hidup keluarga Zakheus, mammon itu tidak lagi mengikat hati dia dan dia bisa dengan tangan terbuka memberi dengan luar biasa.

2 Korintus 8 dan 9 adalah dua pasal yang luar biasa indah, karena di dalam dua pasal ini Paulus memberikan prinsip-prinsip yang begitu penting berkaitan dengan uang dan persembahan bagi pelayanan. Di sini Paulus khusus bicara dalam konteks pengumpulan uang dari jemaat-jemaat Makedonia dan Korintus bagi jemaat-jemaat di Yerusalem yang ketika itu sangat besar sekali kemungkinan terjadi bala kelaparan yang besar dan dahsyat di wilayah Yerusalem. Ketika Paulus mencanangkan projek ini, mereka menyambut dengan antusias dan menjalankannya. Mereka mengerti ini adalah persembahan kasih bagi jemaat di Yerusalem yang sudah mengirim dan mengutus begitu banyak hamba-hamba Tuhan untuk mengabarkan Injil kepada mereka. Mereka sudah mendapatkan berkat rohani melalui pelayanan daripada gereja Yerusalem, dan sekarang mereka ingin membalikkan secara berkat jasmani. Namun ada satu hal yang terjadi pada jemaat Korintus, kita tidak tahu pasti apa penyebabnya, mulanya mereka sangat antusias, tetapi lalu kemudian hati mereka menjadi enggan dan semangat mereka menjadi dingin dan mereka tidak menyelesaikan pengumpulan persembahan kasih itu. Entah apakah penyebabnya karena mereka marah kepada Paulus sehingga kemudian mereka tidak lagi mau mendengar apa yang Paulus katakan, nampaknya kita bisa melihat akan kemungkinan itu.

Sedih sekali, kita saksikan seringkali dalam hal memberi persembahan orang-orang Kristen juga sangat bersifat emotional-driven, sangat didorong oleh aspek emosional. Mungkin sebagian kita bukan lagi bayi-bayi dan anak-anak rohani, tetapi juga mungkin tidak dewasa secara rohani. Banyak dari kita berada di wilayah adolescents state of our spiritual lives. Kita berada dalam wilayah sebagai remaja dan bisa terlihat tendensinya adalah seringkali perasaan emosi lebih kuat menggerakkan dan mendorong di dalam stage seperti itu. Memang pada stage itu kita bukan lagi seperti anak-anak, kita punya pengetahuan, ada keinginan mau melayani, ada keinginan mau memberi. Tetapi kita tidak boleh berhenti hanya sampai di situ. Kita harus maju dan bertumbuh menjadi dewasa dalam rohani.

Jemaat Korintus jelas tahu apa arti dari pemberian sebagai respon iman mereka, seperti Paulus katakan, “Tentang pelayanan kepada orang-orang kudus tidak perlu lagi aku menuliskannya kepada kamu. Aku telah tahu kerelaan hatimu” (2 Korintus 9:1-2). Tetapi respon di dalam mereka memberi lebih dipengaruhi oleh hati dan perasaan atau tergantung siapa yang bicara. Sehingga mungkin kalau mereka dengarkan hal-hal sedang terjadi dan kemudian emosi mereka tergerak, maka akhirnya mereka rela memberi. Tetapi kalau pada waktu itu mungkin mereka sedang marah atau kecewa, atau tidak senang dengan pelayanan dari seorang hamba Tuhan, atau mungkin tidak suka dengan satu pelayanan tertentu kemudian mereka berhenti dan menutup hati untuk tidak mau mendukung pelayanan itu. Seringkali banyak anak-anak Tuhan juga memberikan persembahan dengan sikap seperti itu. Kita cenderung hanya mau memperhatikan yang satu denominasi dengan kita, hanya mau membantu orang yang kita suka, dsb, tetapi kita tidak melihat itu menjadi satu pekerjaan dan pelayanan yang kita lihat secara luas sebagai pelayanan bagi kerajaan Allah. Kita harus melepaskan sikap hati yang seperti itu karena akhirnya bisa terjadi ketidak-konsistenan, satu saat kita tergerak, setelah itu hati kita melempem. Inilah yang terjadi dengan gereja Korintus.

Seorang Kristen yang dewasa rohani bisa terlihat dari sikap hati yang betul-betul thoughtful di dalam memberi, seorang yang dewasa, yang mengerti dan mengetahui mengapa dia ingin berbagian support satu pelayanan, menyadari ini sebagai responsibility dan the joy of giving dalam hidupnya karena dia mengerti bahwa Tuhan telah memberi dengan begitu berlimpah dalam bentuk materi dalam hidupnya lebih daripada yang dia butuhkan, maka dia sisihkan dan siapkan itu sebagai bagian daripada pelayanan secara finansial bagi pekerjaan Tuhan. Sepatutnya kita berpikir dan bertindak dengan cara seperti itu sehingga dinamika pelayanan kita tidak didorong oleh emosi belaka.

Dalam bagian ini Paulus sangat indah menuntun jemaat Korintus dalam prinsip memberi seperti itu. Dari nada pastoral komunikasi dia kita bisa melihat Paulus tidak memberikan nada perintah tetapi dengan menasehati dan mendorong jemaat ini menyelesaikan projek yang baik ini. Paulus memuji jemaat Korintus, “Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu – dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami, demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini” (2 Korintus 8:7). Begitu banyak aspek kelebihan yang dimiliki oleh jemaat ini. Paulus kemudian membandingkan dengan jemaat di Makedonia, “Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin namun mereka kaya dalam kemurahan” (2 Korintus 8:1-2). Paulus dengan terbuka memberikan kontras dan perbandingan antara jemaat-jemaat yang ada di daerah Akhaya termasuk Korintus di situ, dengan jemaat-jemaat di daerah Makedonia. Perbandingan ini penting dan perlu, untuk membukakan pikiran mereka sehingga mereka mengerti kenapa Paulus sedikit mendesak mereka untuk menuntaskan projek pelayanan yang baik ini. Secara konteksnya, jikalau kita membaca perjalanan misi Paulus dalam Kisah Rasul 16-18, Paulus pertama-tama mengabarkan Injil ke daerah Makedonia, termasuk di situ Filipi, Tesalonika dan Berea, mereka adalah jemaat-jemaat yang berada di daerah Makedonia. Lalu kemudian Paulus melanjutkan perjalanannya ke arah Atena, Korintus dan Kengkrea, itulah wilayah Akhaya. Kota Atena dan juga Korintus waktu itu adalah pusat pendidikan dan kebudayaan dan era waktu Paulus, baik Atena, Korintus dan Kengkrea itu adalah daerah-daerah yang sangat kaya dan makmur. Selain mereka kaya secara materi atau resources, mereka juga adalah orang-orang yang kaya di dalam edukasi dan brilliant luar biasa secara intelektual. Sebaliknya dengan jemaat Makedonia, mereka adalah jemaat yang tidak terlalu kaya, orang-orang yang ada di situ tidak terlalu edukasi, inilah kondisi dan keadaan mereka. Namun ada dua hal yang indah kita lihat dari jemaat Makedonia ini. Yang pertama, mereka mengalami berbagai tekanan dan penderitaan yang begitu besar dan berat oleh karena mereka percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Yang kedua, mereka sangat miskin dalam aspek finansial. Paulus di sini memakai kata Yunani yang unik “bathysphere,” menggambarkan kondisi mereka sudah di lapisan yang paling miskin, extreme poverty. Namun di situlah kita bisa melihat sukacita dalam memberi tidak bergantung kepada sedikit atau banyaknya keuangan seseorang tetapi kepada sikap hati orang itu. Sekalipun sangat miskin, mereka meluap sukacitanya dalam memberi. Kadang-kadang kita dalam kekurangan berpikir, saya hanya mampu memberi sangat sedikit, apa sih manfaat dan faedah yang bisa kita beri dari uang segini, akhirnya kita tidak mau memberi.

Paulus katakan, “Aku bersaksi bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus” (2 Korintus 8:3-4). Kata yang dipakai “meminta dan mendesak” menjadi satu kontras yang luar biasa. Bayangkan seharusnya orang yang sudah miskin biasanya meminta-minta orang memberinya uang, tetapi di sini justru Paulus bilang, orang-orang Kristen Makedonia ini malah meminta-minta untuk bisa diperbolehkan berbagian memberi uang. Betapa indah jikalau setiap anak Tuhan memiliki sikap hati yang seperti ini, dan saya harap apa yang kita pelajari dari mereka bisa mendorong dan menggerakkan hati setiap kita sama-sama. Kita mengucap syukur kepada Allah karena Ia tidak pernah merendahkan persembahan dari orang-orang yang begitu sederhana dan miskin yang datang membawa hati mereka kepada Tuhan. Dan biarlah kita boleh menjadi orang-orang Kristen seperti itu adanya. Paulus berkata kepada jemaat Korintus, “Aku telah tahu kerelaan hatimu, tentang mana aku megahkan kamu kepada orang-orang Makedonia. Kataku: Akhaya sudah siap sedia sejak tahun yang lampau. Dan kegiatanmu telah menjadi perangsang bagi banyak orang” (2 Korintus 9:2). Jemaat Korintus tahun lalu memulai dan berinisiatif, dan justru ide untuk memberi itu menjadi catalyst, dorongan bagi jemaat Makedonia sekuat dan sebisa mungkin mereka mengumpulkan dan memberi. Maka Paulus memakai itu dan meng-encourage jemaat Korintus untuk memberi dan menyelesaikan projek itu (2 Korintus 9:1-5).

Lebih daripada itu, maka kemudian Paulus bicara ada fondasi dasar yang paling penting mengapa ada sukacita dalam memberi di dalam hidup kita. “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia yang oleh karena kamu menjadi miskin sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh kemiskinanNya” (2 Korintus 8:9). Yesus Kristus yang begitu kaya di dalam segala kekayaanNya telah menjadi miskin dan memberikan kekayaan itu bagi engkau dan saya. Pengertian itu yang menjadi dasar gratitute dan hati kita yang bersyukur. Keselamatan yang telah kita peroleh dan berkat hidup baru dalam Kristus dengan segala kelimpahan yang Ia janjikan membuat kita tidak lagi terikat dengan kuasa cinta akan harta dan materi, sehingga kita bisa release tangan kita tidak lagi erat menggenggam the material possessions dalam hidup kita. Kita boleh memberi dan berbagian di dalam pelayanan kasih melalui materi yang kita berikan kepada Tuhan oleh karena Kristus telah terlebih dahulu memberi yang terindah dan terbaik kepada kita semuanya. Itu dasar yang paling penting. Ia yang begitu kaya di dalam segala hal rela menjadi miskin supaya kita yang miskin karena dosa sekarang boleh berlimpah dan diperkaya oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Itulah arti dari hidup kita sebagai anak-anak Tuhan yang boleh menerima dan mendapatkan berkat dari Tuhan. Tidak semua orang yang memberi materi, memberi uang kepada Tuhan, mereka juga memberi hatinya kepada Tuhan. Tetapi sudah pasti orang yang memberikan hatinya kepada Tuhan, maka akan disertai juga dengan seluruh hidup materi dan keuangannya. Inilah sikap hati jemaat Makedonia, seperti yang Paulus katakan, “Mereka memberikan lebih banyak daripada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami” (2 Korintus 8:5). Karena mereka telah mengerti kasih Tuhan Yesus maka mereka memberikan bukan saja materi mereka tetapi hidup mereka kepada Kristus, lalu kemudian dia memberikan itu kepada pelayanan. Karena kita sudah menerima begitu banyak anugerah dan kasih karunia daripada Tuhan, maka kita memberi. Kita tidak boleh balikkan urutannya. Memang betul di dalam kitab Maleakhi, ketika orang Israel menjadi terlalu kuatir, dan hanya memikirkan kebutuhan dan kehidupan mereka sehingga akhirnya mereka tidak melakukan kewajiban dan tanggung jawab mereka untuk mencukupi dan menghidupi kebutuhan dari Bait Allah dan bagi orang-orang Lewi yang khusus diberi tanggung jawab melayani di rumah Tuhan dan memang tidak punya tanah pusaka sehingga mereka tidak mendapatkan makanan untuk menghidupi keluarga mereka sehingga akhirnya mereka terpaksa mengabaikan pelayanan di rumah Tuhan dan pergi bekerja di ladang untuk mencukupkan kehidupan mereka sendiri. Maka dalam konteks inilah Tuhan menegur mereka dan, “Bawalah seluruh persembahan perpuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan supaya ada persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan?” (Maleakhi 3:10). Artinya, ketika mereka setia dan bertanggung jawab di dalam mencukupi pelayanan pekerjaan Tuhan, maka Tuhan akan memberkati mereka. Tetapi kita tidak boleh kemudian terus menjadikan konsep kalau engkau memberi maka Tuhan akan balas memberi. Balik konsepnya. Karena aku sudah menerima begitu banyak dari Tuhan di dalam kekayaan Kristus maka aku memberi.

Jadi kalau begitu bagaimana respon secara praktis, apa yang kita harus kerjakan dan lakukan? Di ayat 11-15 Paulus bicara ini khusus kepada konteks jemaat di Korintus yang satu tahun sebelumnya mereka mau berbagian dalam pelayanan ini tetapi kemudian mereka berhenti tidak meneruskannya. Paulus berkata, “Maka sekarang selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu. Sebab jika kamu rela untuk memberi maka pemberianmu itu akan diterima kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu” (2 Korintus 8:11-12). Dalam bagian ini Paulus menekankan konsep berilah dari apa yang ada padamu. Tuhan tidak pernah tuntut apa yang tidak ada daripadamu. Dengan kalimat seperti ini kita bisa melihat pemberian itu bersifat proporsional. Pemberian itu bersifat sesuatu yang Tuhan memang sudah berikan dan karuniakan kepada kita. Kita senantiasa harus berpikir, berapa besar berkat material yang Tuhan telah beri kepada kita lalu kemudian kita renungkan, sudahkah kita memberi dengan proporsi yang selayaknya dan sepatutnya di dalam hidup kita? Sekali lagi, kalimat ini penting: sudahkah aku memberi proporsi seturut apa yang Tuhan sudah beri di dalam hidupku? Paulus bilang, kelebihan kita membantu kekurangan mereka, tetapi kekurangan mereka membantu kelebihan kita. Sudah tentu jemaat Yerusalem yang sangat miskin tidak bisa membalas kembali apa yang sudah mereka terima. Tetapi sekalipun mungkin mereka tidak bisa balik secara materi tetapi mereka bisa balik dengan ucapan syukur dan doa memberkati orang-orang yang telah memberi dengan murah hati kepada mereka. Itu adalah balasan yang lebih daripada sekadar pemberian materi yang mereka terima.

Hari ini, kiranya setiap kita merenungkan apa yang ada padamu karena kasih karunia Tuhan sudah begitu limpah dan besar bagimu. Saya ada waktu, dan saya bisa memberi waktu saya bagi pelayanan; saya ada sesuatu yang khusus yang Tuhan kasih, daripadanya kita bisa memberi. Kita mengucap syukur, ada di antara sdr yang punya bakat, sdr memberi. Kita boleh ambil bagian, kita bisa menyaksikan begitu banyak orang yang mengasihi dan melayani Tuhan dengan baik. Ada orang yang membersihkan dan merawat gedung gereja, ada orang yang mungkin membagi-bagikan traktat, ada yang mendoakan dan mengerjakan pelayanan bagi orang-orang sakit, ada anak-anak muda yang ambil komitmen boleh mendukung dan membantu pekerjaan Tuhan, itu luar biasa sekali. Itu semua terjadi karena kita berpikir dan thoughtful dalam mempersembahkan sesuatu bagi pelayanan. Jika setiap kali kita datang ke rumah Tuhan dengan hati yang thoughtful dan mempersiapkan bagian dari uang yang akan kita berikan kepada Tuhan, cara kita berpikir apakah ada pekerjaan Tuhan yang harus kita dukung dari proporsi yang Tuhan beri kepada masing-masing kita. Sekalipun mungkin ada minggu dimana kita tidak bisa berbakti dan datang ke gereja, itu tidak mengganggu pemberian kita. Dengan sikap seperti itu maka kita bukan saja dewasa dan matang di dalam iman, pengetahuan, pelayanan, kita juga dewasa dan matang di dalam pelayanan persembahan uang kita mendukung, memberi dan membantu di dalam pekerjaan Tuhan. Kiranya firman Tuhan ini boleh menjadi berkat dan menjadi sukacita bagi kita. Sekali lagi, ketika kita membicarakan prinsip bagaimana orang Kristen memberi, semua itu tidak boleh membuat kita berpikir, kalau begitu gereja mata duitan, terus minta uang, dsb. Tidak. Justru yang ada adalah kita perlu memahami prinsip Alkitab di dalam memberi persembahan dengan benar. Kita membicarakan ini bukan untuk minta uang. Persembahan itu bukan iuran, persembahan itu bukan donasi, tetapi itu adalah bagian daripada stewardship kita di hadapan Tuhan. Hari ini kiranya kita belajar daripada prinsip bagaimana orang Kristen memberi dengan pemahaman yang dewasa secara rohani. Kiranya Tuhan pimpin dan berkati kita sama-sama boleh mengerti dan memahami betapa indah dan kasihnya Tuhan kepada kita, sehingga kita menjadi satu jemaat, satu gereja, anak-anak Tuhan yang mempunyai kepekaan memberikan uang dengan generous mendukung pelayanan gereja, kepada dana pelayanan misi, kepada orang-orang yang melayani Tuhan yang membutuhkan pelayanan ini. Dan biarlah Tuhan pakai harta dan materi yang ada pada kita yang sementara ini boleh menjadi berkat bagi pekerjaan Tuhan yang luar biasa.(kz)