Ready, Set, Giving!

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi: Surat 2 Korintus [12]
Tema: Ready, Set, Giving!
Nats: 2 Korintus 8:16-24, 9:1-15

Surat 2 Korintus pasal 8 dan 9 adalah bagian yang sangat penting dari Paulus menuntun hati jemaat Korintus bagaimana mereka menjadi saluran berkat di dalam hidup mereka yang sungguh banyak dan berlimpah materi itu menjadi berkat bagi komunitas orang Kristen yang lain yang sedang berada di dalam kesulitan dan penderitaan. Kepada jemaat dari bangsa-bangsa yang bukan Yahudi seperti mereka, Paulus senantiasa mengingatkan sumber Injil itu kembali kepada Yerusalem. Mereka telah mendapat berkat yang bersifat rohani, menerima anugerah keselamatan, itu tidak bisa diganti dan dibayar dengan seberapa banyak uang sekalipun, dan mereka ekspresikan betapa diberkatinya mereka dengan pemberian kasih. Itulah konteks situasi yang menjadi latar belakang surat ini.

Pasal 8:16-24 adalah satu bagian yang unik dimana Paulus mengutus Titus bersama dua orang
accountant untuk mengurus pengumpulan uang bagi jemaat Yerusalem ini. Titus adalah hamba Tuhan yang dikenal baik di kalangan gereja Korintus. Dan meskipun dua orang yang mendampingi Titus tidak disebutkan namanya secara khusus tetapi pasti jemaat Korintus mengenal mereka. Alasan Paulus mengirim Titus dan dua orang menjadi rekannya mendampingi dia sudah jelas itu untuk melindungi hamba Tuhan dan mencegah orang menyebarkan hal-hal yang tidak benar mengenai kredibilitas Titus. Kedatangan mereka sangat penting sekali sebagai orang yang punya accountability bertanggung jawab akan hal-hal seperti ini. Sebagai hamba Tuhan dan anak-anak Tuhan yang dipercayakan untuk mengelola keuangan, ini menjadi satu prinsip penting yang kita bisa belajar sama-sama. Di satu pihak biar setiap kita yang melayani Tuhan senantiasa menjaga diri kita untuk jujur dalam hal keuangan dan selalu ingat betapa berbahayanya godaan mammon itu bisa merusak hidup dan pelayanan seseorang. Di pihak lain, kita juga jangan menjadi naif dan tidak waspada bahwa orang bisa menyebarkan gosip dan kalimat yang tidak benar jikalau mereka melihat ada celah untuk itu. Di dalam pengelolaan keuangan gereja kita harus lakukan dengan sikap seperti ini. Kita terbuka dengan catatan keuangan, tidak ada yang tidak beres di dalamnya. Kita mencatat semua transaksi yang ada, dsb. Kita mengelola dengan jujur dan bertanggung jawab dan dengan demikian tidak membuat celah bagi orang untuk menjatuhkan kita dalam hal keuangan.

Pasal 9 ini penting bagi setiap anak Tuhan mengerti apa artinya memberi. Di sini Paulus tidak lagi memberi argumentasi untuk mendorong jemaat Korintus memberi. Bagi Paulus mereka sudah punya hati; Paulus tahu mereka mau memberi. Persoalan mungkin jatuh kepada dua hal ini yaitu mereka perlu dibekali dengan konsep thoughtful offering, bagaimana memberi dengan hati yang sungguh dan dipersiapkan dengan baik-baik dan bagaimana anak Tuhan bertumbuh di dalam kedewasaan spiritual di dalam financial discipleship. Sangat disayangkan, hal ini sering diabaikan oleh gereja di dalam aspek pertumbuhan rohani jemaatnya. Kita bisa tahu itu karena ini sikap yang seringkali terjadi ketika orang memberi persembahan dan mendukung sesuatu pelayanan, orang memberi hanya digerakkan oleh emosi belaka. Ketika hatinya tergerak, ketika kondisi perasaannya dalam keadaan senang atau tersentuh emosinya mendengar sesuatu hal, baru muncul dorongan untuk memberi. Sebaliknya ketika dia merasa hati tidak tergerak, atau kondisi perasaannya sedang tidak senang, atau dia tidak merasa tersentuh untuk memberi, maka orang itu tidak mau memberi. Kita tidak boleh menjadi orang Kristen seperti itu.Sebenarnya yang seharusnya adalah bagaimana kita sebagai seorang Kristen yang sudah dewasa dan mengerti dengan baik, pengertian itu lalu menggerakkan hati kita dan kemudian menggerakkan tindakan action kita. Prinsipnya jangan di balik.

Maka bagian ini penting sekali karena bicara soal financial discipleship. Sebagai gereja, kita menekankan pentingnya konsep discipleship. Tetapi discipleship bukan hanya jatuh kepada aspek spiritual membuat orang itu merasa kalau dia rajin berdoa, kalau dia rajin baca Alkitab, kalau dia rutin berbakti, kalau dia terlibat di dalam pelayanan, maka dia sudah bertumbuh dalam discipleship. Itu hanya menjadi satu discipleship yang bersifat spiritual, tetapi kita tidak boleh mengabaikan discipleship itu harus menyentuh seluruh aspek hidup kita. Salah satu hal yang paling penting adalah bagaimana juga kita dibimbing dalam financial discipleship di dalam hidup kita. Bagaimana orang Kristen bisa mengelola keuangannya dengan baik dan bertanggung jawab; bagaimana memberi dengan baik, memberi dengan thoughtful dan disiplin. Ada orang yang tidak ingin pusing-pusing, lalu kemudian memakai pola yang disebut dengan perpuluhan seperti konsep Perjanjian Lama. Bagi saya kita tidak bicara soal angka, standar, dsb. Ada orang memberi lebih daripada itu, bagi saya itu merupakan satu fleksibilitas saja. Yang paling penting sebenarnya adalah bagaimana kita memberi itu bukan berdasarkan emosi tetapi berdasarkan hati yang thoughtful di hadapan Tuhan.

Dalam 2 Korintus 9:1-5 di situ Paulus mendorong jemaat Korintus, engkau sudah mengerti, engkau sudah siap, maka selesaikan pengumpulan persembahan itu. Jangan ditunda-tunda lagi. Paulus sudah bilang kepada jemaat Makedonia: jemaat Akhaya sudah siap sejak tahun lalu. Dan Paulus katakan, kesediaan mereka untuk memberi akhirnya menggerakkan orang Kristen yang lain juga memberi.
Kemudian dalam 2 Korintus 9:6-15 secara khusus Paulus mengajar konsep memberi dalam dua aspek. Aspek yang pertama, bagaimana mengerti sifat dan attitude daripada offering itu. Lalu yang kedua Paulus bicara soal apa faedah dari offering dan persembahan itu.

Bagaimana sikap dan attitude kita dalam memberi, Paulus memberikan beberapa prinsip. Prinsip pertama: memberi secara proporsional, memberi berdasarkan proporsi apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu (2 Korintus 8:11-12). Secara jumlah, seseorang yang berkelebihan mungkin bisa memberi lebih banyak daripada orang lain, tetapi belum tentu pemberian orang itu lebih banyak daripada orang lain. Kenapa saya mengatakan demikian? Karena Markus 12:41-44 mencatat pada waktu seorang janda miskin yang memberi persembahan di Bait Allah, Yesus berkata,”Janda ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memberi persembahan, karena dia memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya.” Maka prinsip yang paling penting Paulus katakan adalah to give proportionally. Ketika sampai di hadapan Tuhan, bisa jadi Tuhan mengatakan selama hidupmu di dunia engkau memberi kurang dari proporsi yang sepatutnya. Karena meskipun jumlahnya besar tetapi Tuhan mengatakan secara proporsi engkau memberi kepada Tuhan tidaklah sebanding dengan anugerah yang begitu besar dari Tuhan kepadamu. Tetapi kemudian datang seorang janda miskin memberi persembahan, Tuhan mengatakan engkau memberi lebih daripada proporsi yang sepatutnya. Dia mungkin hanya memberi dalam jumlah kecil, tetapi secara proporsi dia telah memberi lebih daripada yang sepatutnya. Maka pada waktu kita memberi kepada Tuhan, kita melihat prinsip ini. Bukan kepada berapa jumlahnya, berapa angkanya, tetapi prinsip memberi dengan proporsional justru menjadikan kita dewasa di dalam memberi. Pada waktu kita mungkin bisa memberi banyak untuk mendukung pekerjaan Tuhan, dengan rendah hati kita mengakui ini adalah bagian daripada tanggung jawab kita kepada Tuhan. Saya tidak lebih baik daripada orang lain, saya tidak memberi lebih banyak dibandingkan dengan orang lain.

Prinsip yang kedua: memberi dengan generous. Paulus berkata, “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:6-7). Kata “kerelaan” lebih tepat mengacu kepada generosity, memberi dengan murah hati. Memberi bukan dengan sesukanya, tetapi penuh dengan kerelaan. Suka-suka dengan sukarela itu dua hal yang berbeda. Ada orang baru memberi kalau hatinya suka; kalau tidak suka, tidak memberi. Kita singkirkan sikap seperti itu.
Di dalam ayat ini Paulus memakai ilustrasi memberi seperti menabur benih. Pada waktu kita melihat ilustrasi itu, di situlah the joy of giving itu muncul. Tidak ada petani yang menabur benih dengan sedih dan hati yang menggerutu. Tidak ada petani yang merasa sia-sia membuang benih, waste of time! Tidak ada penabur menabur benih sambil bersungut-sungut, buat apa membuang-buang benih, sia-sia saja! Petani menabur benih dengan sukacita. Sebab kenapa? Sebab setelah selesai menabur, petani itu tahu tiga bulan lagi dia akan menuai hasil yang berlimpah. So the joy of giving muncul di sini. Ada dua cara menabur yang dilakukan waktu itu, yang satu adalah dengan menggali lubang-lubang kecil lalu menaruh beberapa benih di setiap lubang itu. Yang kedua, yang Paulus pakai di sini, pertama-tama tanah itu dibajak dan digemburkan, baru kemudian petani menebarkan benih ke tanah yang sudah dibajak itu. Jika petani itu menebar sedikit, dia akan menuai sedikit; jika dia menebar banyak, secara logis sudah tentu setelah beberapa bulan dia akan menuai banyak. Maka, kata Paulus, kalau engkau mau menuai lebih banyak, taburlah juga dengan lebih banyak. Pointnya di sini bukan kepada hasil yang lebih banyak yang akan engkau terima, tetapi kepada aspek the joy of giving. Generous. Give more.

Prinsip yang ketiga: memberi dengan sikap hati yang penuh sukacita; bukan dengan hati yang menggerutu, bersungut-sungut dan terpaksa. Jadilah orang yang memberi dengan sukacita, be a cheerful giver. Kalau kita membaca Perjanjian Lama, kita akan menemukan di setiap bagian hukum Taurat yang begitu teliti bicara mengenai peraturan offering. Tetapi Tuhan mau justru melalui aturan yang diberi, orang memberi dengan hati yang sukacita. Ulangan 15:7-10 Musa mengatakan demikian, “Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang akan diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, tetapi engkau harus membuka tanganmu lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan. Hati-hatilah supaya jangan timbul di dalam hatimu pikiran dursila, demikian: Sudah dekat tahun ke tujuh, tahun penghapusan hutang dan engkau menjadi kesal terhadap saudaramu yang miskin itu dan engkau tidak memberikan apa-apa kepadanya, maka ia berseru kepada TUHAN tentang engkau dan hal itu menjadi dosa bagimu. Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya, dan janganlah hatimu berdukacita apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu.” Lalu dilanjutkan dengan ayat 11 “Sebab orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu.” Ayat ini ada di dalam konteks orang Israel memberi persembahan untuk murah hati dan generous kepada saudaranya yang miskin dan sedang dalam kebutuhan besar. Tuhan tidak mau orang miskin terus miskin selama-lamanya.

Pada waktu Yesus diurapi oleh Maria di Betania, lalu kemudian murid-murid terutama Yudas Iskariot berkata, “Untuk apa pemborosan ini? Sebab minyak itu dapat dijual 300 dinar dan uangnya bisa diberikan kepada orang miskin!” Yesus menjawab, “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburanKu. Karena orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu” (Yohanes 12:1-8). Leave her alone! Ada dua hal yang Yesus tunjukkan dari pengurapan itu, pertama: apa yang Maria lakukan adalah sebagai persiapan bagi penguburan Yesus. Yang kedua: Yesus mengatakan, “Aku tidak akan selalu ada padamu, tetapi orang miskin akan selalu ada padamu.” Kalimat ini Yesus kutip dari Ulangan 15:11 itu. Selama-lamanya akan ada orang yang miskin di tengah-tengah kamu, perhatikanlah orang-orang seperti itu. Kalau kita bisa memberi, beri dengan sukacita; kita tahu ini berkat datangnya dari Tuhan berarti Tuhan mau kita harus menjadi blessing bagi orang lain. Prinsipnya sederhana, ada bagian dalam hidup kita yang tidak boleh kita pakai untuk diri kita sendiri, itu menjadi blessing kita bagi orang lain.

Setelah itu kemudian Paulus katakan dengan attitude sikap memberi seperti ini dalam hidup kita,
Lalu apa faedah, apa manfaat, apa blessing dari offering yang kita beri kepada orang? Luar biasa sekali faedah yang dihasilkan dari pemberian dan blessing itu. Yang pertama, pemberian atau berkat yang kita beri kepada orang juga akan memberikan berkat bagi si pemberi. “Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu, dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (2 Korintus 9:8). Orang seringkali takut memberi karena rasa diri sendiri masih belum cukup, lalu terus ingin punya lebih banyak. Tetapi kalau tidak pernah membereskan ketakutan dan anxiety itu, dikasih berapa banyakpun kita tetap tidak akan punya hati yang bersyukur dan contentment kepada Tuhan. Ayat ini tidak bicara Tuhan akan limpahkan dengan berkelebihan, tetapi Tuhan berjanji akan mencukupkan apa yang kita butuhkan. Di situ kita feel content, peace, joy, bersyukur kepada Tuhan. Sehingga pemberian itu lahir dari hati yang berlimpah syukur kepada Tuhan. Ayat 9-10, Paulus mengutip dari Yesaya 55:10, God’s righteousness is forever, lalu kutipan itu dia pakai untuk mengatakan bahwa orang yang memberi secara material dan finansial, ada berkat yang lebih besar yang tidak bisa diukur dengan berkat secara materi finansial. Kita memberi ada batas waktunya, ada takarannya. Tetapi benih yang dihasilkan dari yang terbatas itu menjadi sesuatu yang tidak bisa diukur, itu adalah hal yang luar biasa muncul di sini.

Yang kedua, kita mungkin hanya bisa memberi sedikit, tetapi Allah sanggup melipat-gandakannya. Kemampuan kita hanya terbatas, kita hanya bisa menolong dan membantu dalam jumlah dan waktu yang terbatas dan tidak seberapa. Tetapi jangan sampai keterbatasan itu membuat kita tidak punya hati yang generous. Kita percaya dari yang sedikit sekalipun, Allah sanggup melipat-gandakannya menjadi besar. Paulus berkata, “Ia yang menyediakan benih untuk menabur dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipat-gandakan dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu” (2 Korintus 9:10). Betapa luar biasa kebenaran firman Tuhan ini. Benih itu buat kamu, itu hasilnya, itu faedahnya, itu berkatmu sebagai orang yang memberi. Dan dari situ menghasilkan buah-buah kebenaran yang jauh lebih berharga daripada kelimpahan secara materi finansial. Kenapa kita harus kepingin Tuhan membalas pemberian kita hanya dengan kelimpahan berkat materi? Kita tidak menjual jasa pemberian bagi Tuhan dengan menjadikannya sebagai satu pemancing supaya Tuhan membalas uang kita 100x lipat. Kita tidak boleh melihat seperti itu. Terlalu dangkal hati kita. Kenapa kita kepingin seperti itu? Kenapa kita menjadikan Tuhan Allah kita sedangkal itu adanya? Yang kita dapat dari Allah lebih daripada itu. Dari hidup kita akan keluar buah-buah kebenaran, apa artinya? Orang yang menerima itu akan ingat selama-lamanya dan dia akan mengatakan betapa indah hidup orang Kristen yang sangat otentik. Itu menjadi kesaksian yang tidak ada habis-habisnya sampai kepada anak cucu kita, bahkan setelah lewat sekian lama, bahkan sampai kita sendiri mungkin sudah lupa, orang yang pernah engkau berkati senantiasa ingat kebaikanmu, dan mereka mengatakan berkat yang luar biasa dari sang pemberi itu. Itulah artinya Tuhan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu. Orang bukan saja lihat berapa besar pemberian itu tetapi orang melihat ketulusan hati orang Kristen, kesungguhan imannya, iman yang sungguh nyata dipraktekkan.

Yang ketiga, berkat itu kemudian berlipat ganda menjadi berkat bagi komunitas gereja. Paulus berkata, “Kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kamu” (2 Korintus 9:11). Berkat yang terjadi karena pemberian itu menjadi berkat yang luar biasa besar kepada seluruh komunitas gereja, baik dari jemaat Yerusalem yang menerimanya maupun dari jemaat Korintus dan seluruh jemaat di daerah Akhaya lahir pujian syukur Allah karena pemberian itu. Kemudian di ayat 12-13, “Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian itu bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang kudus tetapi juga melimpahkan ucapan syukur dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah oleh karena ketaatan kamu dalam pelayanan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang.” Ada Allah yang dipuji dan dimuliakan, Kristus dimuliakan, Injil Tuhan dimuliakan. Ayat 14, “sedang di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu.” Ada berkat yang diterima, jemaat kemudian menjadi jemaat yang mendoakan, mempunyai rasa sayang dan bisa memperhatikan dan mendoakan orang lain.
Yang terakhir, Paulus kemudian menutup bagian ini dengan satu kontemplasi, satu pujian syukur yang lahir dari kesadaran kita telah menerima “the indescribable gift,” satu pemberian yang begitu berharga tidak ternilai yaitu Yesus Kristus, Tuhan kita. “Syukur kepada Allah karena karuniaNya yang tak terkatakan itu!” (2 Korintus 9:15). Yesus Kristus adalah pemberian yang terbesar bagi kita, melampaui semua harta benda materi yang ada. Praise God! Jesus is our ultimate gift; the most precious gift. Itulah yang harus menjadi inti daripada setiap hidup kita, menjadi doa dan pujian dalam hidup kita masing-masing. Sehingga pada waktu Tuhan memanggil kita berbagian di dalam pemberian finansial bagi pelayanan dan pekerjaan Tuhan, panggilan itu tidak menjadi beban yang memberatkan hidup kita tetapi justru menjadi satu syukur dan sukacita kita boleh berbagian di dalamnya. Sukacita karena kita bisa dibebaskan dari segala kekuatiran dan ketakutan dan genggaman tangan kita kepada uang dan materi yang sesungguhnya tidak akan pernah memuaskan dan tidak akan pernah habis-habisnya menarik dan mengikat hati kita dan kita bertumbuh dewasa menjadi penatalayan Allah yang setia di dalam keuangan kita.(kz)