Kekristenan versi Duniawi

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi: Surat 2 Korintus [13]
Tema: Kekristenan versi Duniawi
Nats: 2 Korintus 10-11

Empat pasal terakhir dari surat 2 Korintus yaitu dari pasal 10, 11, 12, dan 13 adalah pasal-pasal yang sangat berat dan emosional, pasal-pasal yang menyatakan kegalauan hati rasul Paulus. Ada kesedihan, ada kemarahan, ada perasaan frustrasi yang bisa kita temukan di sini. Kita menyaksikan itulah hal yang tidak ada habis-habisnya terjadi di dalam Kekristenan sampai hari ini. Musuh dari luar gampang kita kenali, kebencian orang kepada pekerjaan Tuhan gampang kita tahu. Tetapi pada waktu si Jahat itu menyusup ke dalam kehidupan gereja dan menyamar sebagai malaikat terang, di situ serangan itu muncul dari dalam dan bisa sangat melemahkan gereja dan anak-anak Tuhan. Orang lain yang ingin mengenal Tuhan bisa tersandung melihat cara hidup orang-orang yang mengaku sebagai orang Kristen padahal ternyata mereka sesungguhnya bukanlah murid Tuhan yang sejati. Pada saat yang lain menciptakan kesedihan ke dalam hati anak-anak Tuhan yang begitu tulus mengasihi Tuhan namun melihat ada orang-orang yang mengaku diri sebagai pemimpin gereja, sebagai hamba Tuhan, sebagai tokoh yang penting di dalam Kekristenan, namun ternyata mereka memperalat agama bagi keuntungan pribadi mereka. Paulus menyaksikan itu yang terjadi di dalam perkumpulan dari beberapa orang yang ada di dalam gereja Korintus.

Dua bagian ayat ini menggambarkan siapa orang-orang yang dikatakan oleh rasul Paulus mengenai mereka. “Memang kami tidak berani menggolongkan diri kepada atau membandingkan diri dengan orang-orang tertentu yang memujikan diri sendiri. Mereka mengukur dirinya dengan ukuran mereka sendiri dan membandingkan dirinya dengan diri mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka! Sebaliknya kami tidak mau bermegah melampaui batas, melainkan tetap di dalam batas-batas daerah kerja yang dipatok Allah bagi kami, yang meluas sampai kepada kamu juga” (2 Korintus 10:12-13). “Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang. Jadi bukan hal yang ganjil jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka” (2 Korintus 11:13-14). Paulus mengatakan ada orang-orang yang menyamar sebagai pelayan-pelayan Tuhan di tengah-tengah jemaat Korintus padahal sebenarnya mereka adalah musuh gereja yang sangat berbahaya. Paulus mau mereka waspada dan mengenali orang-orang ini. Namun ini adalah hal yang tidak gampang dan tidak mudah untuk mengetahui apa yang menjadi hati motivasi seseorang, apa yang ada di balik tindakan dan perbuatan mereka yang dari luar begitu rohani dan mulia adanya. Itulah sebabnya jemaat di Korintus tidak sanggup bisa melihat dan menilai akan hal ini.

Kisah Rasul 4:32-37 mencatat kehidupan jemaat dari Gereja Mula-mula, dimana ada orang-orang yang lebih berada melihat ada saudara-saudara seiman yang miskin dan kekurangan, maka mereka menjual tanahnya dan memberikan uangnya di depan para rasul untuk dibagi-bagikan kepada mereka. Melihat hal itu, Alkitab mencatat, ada pasangan suami isteri bernama Ananias dan Safira melakukan hal yang sama. Mereka menjual property mereka lalu menyerahkannya kepada rasul-rasul untuk didistribusikan kepada orang-orang miskin. Namun ternyata mereka tidak membawa semua uangnya, melainkan mereka simpan sebagian bagi diri mereka sendiri. Persoalannya adalah tidak ada yang tahu akan hal itu. Dilihat dari kacamata orang, perbuatan mereka adalah satu pelayanan yang mulia, satu pengorbanan yang besar. Tetapi yang mereka lakukan itu bukan untuk Tuhan melainkan pemberian dan pelayanan itu mereka pakai sebagai kesempatan untuk merebut kemuliaan Tuhan dan menjadi kemuliaan bagi diri mereka sendiri (Kisah Rasul 5:1-11).

Kelompok orang yang Paulus sebutkan di sini memakai profesi pelayanan mereka untuk menjadi keuntungan bagi diri mereka dan semua itu mereka kerjakan dan lakukan menjadi pujian bagi diri mereka sendiri. Mereka bukan rasul-rasul yang benar, mereka bukan pekerja dan pelayan Injil yang benar. Orang-orang ini bukan orang Kristen yang sungguh-sungguh dan sejati. Mereka adalah penyamar-penyamar dari kuasa si Jahat menjadi malaikat terang, sekaliipun orang-orang ini datang menggunakan nama pelayanan, menyebutkan nama Yesus di dalam khotbah mereka. Mungkin keahlian retorika mereka begitu baik, mereka juga menyatakan kuasa supranatural yang luar biasa. Bukankah Yesus pernah berkata bahwa orang-orang seperti ini melakukan banyak hal yang luar biasa, mereka bernubuat demi nama Yesus, mereka mengusir setan demi nama Yesus, mereka mengadakan banyak mujizat demi nama Yesus. Tetapi nanti pada hari terakhir Yesus berkata kepada mereka, “Aku tidak pernah mengenal kamu. Enyahlah daripadaKu kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:22-23).
Bagian ini menjadi bagian yang penting untuk kita sebagai orang Kristen yang senantiasa melihat dan mengoreksi diri. Apa yang kita kerjakan, apa yang kita layani, apa yang kita beri, bagaimana kita datang berbakti kepada Tuhan, adakah kita menjadikan Kristus sebagai pusat sentral, hanya Dia yang kita tinggikan dan muliakan dan tidak ada sebersitpun motivasi dalam hati kita untuk mengambil dan merebut kemuliaan Tuhan di dalam hidup kita. Bagaimana kita harus senantiasa menjaga hati kita untuk tidak terjatuh kepada hal itu karena godaan itu tidak akan pernah berhenti. Bagaimana kita senantiasa mengoreksi hati dan hidup kita kepada Tuhan, hal ini menjadi sesuatu yang kita kerjakan dan lakukan setiap saat.

Yang kedua, mari kita juga menjadi orang Kristen yang tidak naif dan peka melihat apa yang ada di dalam Kekristenan hari ini. Melalui tema khotbah saya hari ini Kekristenan versi Duniawi,” saya rindu kita menjadi orang Kristen yang memahami dan memiliki discernment spirit, melihat dan menilai apa itu Kekristenan versi Duniawi. Dari 2 Korintus 10-11, Paulus menyebutkan ada dua hal yang muncul menjadi ciri mereka. Bisa jadi mereka memakai dan menyebut nama Yesus dan mengeluarkan hal-hal yang seolah-olah benar tetapi Paulus mengatakan bahwa mereka adalah rasul-rasul yang palsu. Hal ini tidak gampang untuk kita ketahui karena ini bicara aspek hati dan motivasi seseorang, tetapi Paulus katakan engkau bisa melihat baik-baik siapa mereka. Walaupun nama Yesus disebut tetapi pola dan karakter Yesus Kristus sama sekali tidak ada di dalam hidup mereka. Ada satu kata yang terus-menerus Paulus angkat di sini yaitu kata bermegah [boasting]. Mungkin kata bermegah ini masih sedikit bersifat netral di dalam bahasa Indonesia, tetapi kata boasting lebih tegas menyatakan sesuatu kesombongan dan keangkuhan yang berkelebihan, melakukan segala sesuatu demi untuk menikmati pujian yang tidak sepatutnya diterima bagi diri mereka sendiri. Itulah mereka yang Paulus sebut “super apostles,” yang mengaku-ngaku sebagai rasul istimewa yang datang. Dan akhirnya sebagian daripada orang-orang yang ada di Korintus begitu kagum kepada mereka, menganggap mereka lebih hebat, mereka lebih pandai, dan dilihat dari penampilan mereka lalu dibandingkan dengan Paulus, mereka bilang Paulus tidak ada apa-apanya. Penampilan yang sederhana, dengan matanya yang sakit, cara khotbahnya mungkin tidak sefasih dan sepandai orang-orang itu beretorika. Dan akibatnya mereka tidak mau taat dan dengar Paulus. Mereka lebih suka menerima apa yang dikatakan oleh orang-orang ini. Inilah dua ciri yang Paulus katakan. Pertama, Paulus katakan apa yang mereka kerjakan tidak menjadikan Kristus yang diagungkan dan dimuliakan. Yang mereka kerjakan adalah memakai nama Yesus untuk memuji diri mereka sendiri. Ciri yang kedua adalah mereka menarik keuntungan duniawi dari pelayanan rohani.
Dalam dunia Kekristenan tiga puluh tahun terakhir ini kita menyaksikan peringatan Paulus menjadi sangat relevan untuk kita perhatikan baik-baik. Sebagai anak-anak Tuhan yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan peduli akan pekerjaan Tuhan, kesedihan yang terbesar adalah ketika kita melihat orang-orang yang mengajarkan konsep duniawi yang sama sekali bukan berdasarkan apa yang firman Tuhan ajarkan di dalam Alkitab. Mereka katakan, “Kita yang percaya Yesus, mari kita claim di dalam nama Yesus, apa yang engkau inginkan dalam hidup ini. Orang lain boleh mengalami resesi ekonomi, orang lain hidup sulit, tetapi orang Kristen hidupnya terus sukses, sukses dan sukses. Orang lain bisa terkena sakit-penyakit, tetapi orang Kristen hidupnya terus sehat, sehat dan sehat. Tidak perlu ke dokter, tidak perlu makan obat dan ke rumah sakit, engkau pasti akan disembuhkan. Orang Kristen terbebas dari segala penderitaan dan kesulitan. Kalau engkau sudah berdoa dan tidak mendapatkannya, berarti ada yang salah dengan imanmu. Kalau kita melayani Tuhan, Tuhan pasti akan mencukupkan bahkan memberi dengan berkelebihan kepada orang-orang yang melayani Tuhan seperti ini. Bukankah kita adalah anak-anak Raja maka kita harus mendapatkan yang terbaik; kita harus menikmati semua yang bermutu, semua yang terbaik dari dunia ini karena kita berhak atas semua yang terbaik!” Karena pengajaran seperti ini, banyak orang berpikir ketika kita ikut Tuhan, kita beriman kepada Tuhan, maka kita akan mengalami pelepasan dari resesi ekonomi dan mendapatkan finansial blessing yang besar luar biasa. Sehingga jikalau hidup kita dijerat oleh hutang, Tuhan akan ubah menjadi uang yang berkelebihan di dalam hidup kita kalau kita memberi dan kalau kita beriman kepada Tuhan. Itulah pengajaran Teologi Kemakmuran yang sangat merusak Kekristenan saat ini. Alkitab jelas berbicara Allahlah sumber anugerah kita, Allahlah sumber berkat kita, Allahlah yang memberikan segala sesuatu. Tetapi mengajarkan Allah memberikan anugerah dan berkat dari mimbar kemudian menjadi sarana dari seorang hamba Tuhan untuk memperkaya diri menjual agama dan menjual Injil, that is wrong!
Kita juga gampang akhirnya tergoda dan terpukau dengan nama pendeta yang terkenal, atau kehebatan dan kemewahan satu gedung atau satu pelayanan membuat kita silau sehingga kita tidak menyaksikan bahwa Kristus harus dimuliakan di situ. Berapa sering kita mendengar seseorang berkata-kata di atas mimbar hanya menggembar-gemborkan segala pencapaiannya dan bukan firman Tuhan. ‘Kita sudah mengerjakan ini, kita sudah melakukan itu,’ yang sebetulnya bukan untuk memuliakan Kristus tetapi melalui semua pencapaian itu dia mau orang mengagumi dan memuji-muji dirinya. Kadang-kadang kita melihat cara hidup daripada pembicara terkenal yang kaya dan punya rumah yang besar dan hidup dalam segala kemewahan. Itulah kesalahan dari Kekristenan di Amerika mengekspor pengajaran Teologi Kemakmuran ke Asia, ke Afrika, ke Amerika Latin, kepada orang-orang Kristen yang sederhana dan miskin. Memang betul, mereka tidak punya uang untuk pergi ke rumah sakit, mereka begitu susah secara finansial dan tidak memiliki cukup uang untuk menghidupi keluarga mereka, dsb. Tetapi Teologi Kemakmuran yang ditawarkan bukan membuat orang-orang Kristen lebih kuat imannya dalam mengikut Tuhan tetapi justru malah menghancurkan iman mereka. Saya bukan mau menghakimi, tetapi itu merupakan kesedihan yang besar. Dan bukan kita yang katakan tetapi akhirnya Benny Hinn sendiri yang mengaku semua itu adalah pengajaran yang salah dan keliru. Tetapi bagaimana mencabut urat akar dan kanker semua yang sudah dia ajarkan selama ini? Dia sebagai salah satu bapa pengajar daripada Teologi Kemakmuran, yang akhirnya telah mempengaruhi begitu banyak pendeta-pendeta yang ada di Afrika, pendeta-pendeta yang ada di Indonesia, sampai akhirnya tidak lagi membahas isi Alkitab, tetapi sembarang mengatakan aku mendapat mimpi dari Tuhan seperti dikelilingi oleh kemilau emas yang bertaburan seperti bintang di langit, turun ke pulau-pulau di Indonesia. Maka sekalipun dunia sedang mengalami krisis dan resesi ekonomi, percayalah anak-anak Tuhan di Indonesia hidupnya akan berkelimpahan dengan emas dan perak. Berdasarkan apa? Berdasarkan mimpi dia. Tetapi koq kita suka dengar yang begitu? Waktu kita menegur akan hal itu, kata-kata itu akan menjadi kosong. Jangan kita menjadi tidak peka. Itu sebab Paulus beri warning dan peringatan itu. Lihat baik-baik! Kalau kita tidak peka, akhirnya segala sesuatu dipakai demi kepentingan dan keuntungan diri sendiri.
Kita harus memiliki pattern pelayanan seperti Kristus Tuhan kita. Apa gunanya kita hanya bilang salah, tetapi kita pun juga melakukan hal yang sama? Pada waktu seseorang menyerahkan diri sepenuhnya menjadi pelayan Tuhan, kita bersiap hati menjalani hidup sebagai seorang pelayan Tuhan untuk hidup sama seperti Tuhan dan Guruku Yesus Kristus selama di dunia. Tuhan Yesus sudah jauh-jauh hari mengingatkan bahwa Ia mengutus kita seperti domba ke tengah-tengah serigala (Matius 10:16). Kita bersiap hati untuk dibenci oleh dunia ini, Yesus katakan, “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu” (Yohanes 15:18-19). Tidak usah kamu takut dan kuatir. Anak Allah sendiri telah mereka caci-maki, telah mereka siksa, dan telah melewati jalan sengsara dalam perjalanan salib dan penderitaan. Kita bersiap untuk menjadi anak-anak Tuhan seperti itu. Sebagai orang Kristen kita telah mendapatkan kasih karunia yang begitu banyak. Kita bukan meminta Tuhan memberi kita lebih banyak; apa yang kita berikan dan yang kita persembahkan kepada Dia, itu adalah sesuatu yang tidak bisa dibandingkan dengan kasih karunia yang tidak terkatakan itu.

Dalam 2 Korintus 11:7-9 Paulus bilang itu sebabnya kenapa dia memberitakan Injil Allah kepada jemaat Korintus dengan cuma-cuma dan tidak ambil satu peser pun uang dari mereka. “Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu! Dan ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorangpun, sebab apa yang kurang padaku dicukupkan oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia. Dalam segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu.” Paulus terima persembahan dari jemaat Filipi untuk mencukupkan kebutuhan hidupnya selama dia melayani di Korintus, tetapi Paulus tidak ambil uang sama sekali dari jemaat Korintus. Sekalipun keadaan jemaat Korintus tidak berkekurangan, bahkan sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang makmur dan punya kekayaan yang besar, Paulus tidak mau terima uang mereka.

Kalau kita mempelajari sejarah jemaat Korintus, kita tidak akan menemukan jemaat di kota Korintus mengalami penganiayaan seperti yang terjadi di kota-kota yang lain, bukan? Sama sekali tidak ada karena kota itu kota besar, kota metropolitan dan kota pendidikan, kota pusat filosifi. Sehingga waktu Paulus berada di situ, dia melihat kelompok yang disebut kaum sophist atau kelompok orang yang fasih beretorika. Semakin fasih bicaranya, semakin banyak pengikutnya, bayarannya makin tinggi. Sebaliknya Paulus bilang, aku membawa berita Injil yang berharga, nama Yesus yang aku beritakan, bukan karena aku hebat dan fasih berbicara. Itu sebab dia tidak mau terima bayaran, untuk membedakan dirinya bukan mau mencari nafkah dengan cara seperti itu. Tetapi sekarang perkataannya dibalik oleh mereka. Mereka tuduh Paulus tidak mau terima bayaran karena memang khotbahnya tidak laku. Itu yang terjadi. Paulus katakan itu supaya dia tidak seperti itu, tetapi mereka balik, itulah sebabnya mereka bilang Paulus tidak setenar dan sehebat mereka. Tidak akan habis-habisnya kita juga akan mengalami godaan yang sama. Sama seperti Ananias dan Safira datang memberikan persembahan hanya untuk mencari pujian kekaguman orang bagi diri sendiri; sama seperti Simon Magus begitu melihat Petrus bisa melakukan mujizat dia pikir kalau dia bisa membeli kuasa itu dengan bayaran tinggi maka dia akan mendapat keuntungan besar. Maka Petrus katakan, “Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang. Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah!” (Kisah Rasul 8:14-24). Jangan kita mau memperalat agama dan memakai nama Tuhan demi uang dan kepentingan financial. Kita harus waspada. Tidak akan habis-habisnya kita akan tergoda oleh hal itu. Kita yang melayani Tuhan harus membentengi diri kita untuk tidak jatuh kepada hal itu.

Tidak gampang dan tidak mudah bagaimana kita mempertimbangkan hal ini. Apakah benar dan sesuatu yang lumrah jikalau umpamanya seorang hamba Tuhan terkenal diundang ke satu tempat lalu kemudian dia menetapkan tarifnya sebagai seorang pembicara menyampaikan messagenya selama 30 menit maka dia harus mendapatkan honorarium sejumlah tertentu. Apakah benar dan lumrah bagi dia lalu kemudian meminta panitia untuk menyiapkan tiket pesawat kelas bisnis, hotel mewah berbintang lima dan paket fee sekian juta setiap kali dia berkhotbah? Kita yang harus bagaimana? Lalu misalnya kita mengundang musisi Kristen untuk mengisi dengan pujian dan lagu-lagunya, lalu kemudian dia bilang, sekian bayarannya. Bagaimana? Lalu dimana batasannya? Karena temptation seperti ini akan tetap terus ada. Maka dari bagian ini kita belajar prinsip apa yang Paulus katakan dalam dua hal ini: ketika engkau memberi, ketika engkau melayani Tuhan dan di situ engkau tidak menjadikan Kristus agung dan mulia dalam hidupmu, hati-hati! Jikalau kita melayani hanya untuk performance lalu orang pulang terkagum kepada performance kita dan bukan Kristus yang ditinggikan, kita sudah bersalah di situ karena hati kita mencari pujian bagi diri sendiri. Yang kedua, ciri temptation di sini adalah menarik keuntungan secara duniawi dari pelayanan rohani. Kita yang harus mencegah diri, kita yang harus membentengi diri untuk menolak pencobaan itu. Itulah sebabnya Paulus katakan senjataku bukan kehebatan kata-kata, bukan penampilan, bukan retorikaku. Senjataku adalah di dalam doa dan kuasa Injil Tuhan. Setiap kali aku pergi melayani, aku berusaha menghancurkan orang dengan argumentasi bukan supaya mereka kagum kepadaku, tetapi supaya mereka meninggikan dan memuliakan Kristus. Jangan kita yang awalnya memulai pelayanan dari seorang hamba Tuhan yang sederhana dan mengakhiri hidup kita sebagai selebriti. Biar kiranya firman Tuhan ini menjadi berkat bagi setiap kita dan senantiasa mengingatkan kita sebagai orang Kristen dan pengikut Tuhan Yesus Kristus yang sungguh, biar hati pikiran kita itu diresapi dengan hidup Kristus dalam hidup kita; pola pelayanan Yesus Kristus itu meresap di dalam hidup kita. Dan senantiasa tahu hanya Kristus yang harus kita muliakan di dalam hidup kita.(kz)