New Creation in Christ

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi: Surat 2 Korintus [8]
Tema: New Creation in Christ
Nats: 2 Korintus 5:16 – 6:2

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya banyak hal yang kita kerjakan dalam hidup ini bukan karena kita punya, tetapi banyak hal akhirnya terjadi dan kita kerjakan dalam hidup kita oleh karena kita sudah berjanji dan ada tekad dan keinginan dalam hati kita untuk mengerjakannya. Tetapi kenapa kita selalu pikir terbalik, kita terus tunggu sampai kita memiliki banyak hal, maka barulah saya bisa mengerjakan dan melakukannya. Ada banyak orang memiliki dan mempunyai segala sesuatu tetapi tidak punya keinginan dan kerelaan. Tetapi ada orang yang tidak punya apa-apa tetapi ada tekad, ada janji di dalam hatinya, dia akan melihat hal yang luar biasa terjadi dalam hidupnya, bukan? Yang tadinya dia sangka tidak bisa dia kerjakan dan lakukan justru dia bisa kerjakan dan lakukan dan bahkan berlimpah dalam hidupnya.
Saya pribadi bersyukur luar biasa, kita sudah menyaksikan banyak hal dalam hidup kita dari apa yang sudah kita janji dan niatkan, dan semua itu kita bisa kerjakan dan lakukan. Saya sangat senang dan bersyukur sekali di antara sdr banyak yang step us dan menyatakan niat dan kerinduan melayani Tuhan. Akan ada banyak hal di depan yang bisa kita lakukan bagi kerajaan Allah bukan saja tempat ini, tetapi di banyak tempat yang lain. Setiap kali keluar kalimat kerinduan dari sdr seperti ini, ini yang saya pegang dan saya tangkap dan inilah yang menguatkan hati saya. Waktu seorang berkata saya bisa, saya mau, kalimat itu sudah cukup bagi saya. Ada niat, ada janji dan ada kerinduan, itulah hal yang paling penting menghadapi hal-hal yang ada di depan yang belum kita lihat pasti akan terjadi dan digenapi. Kita ada janji mendukung pekerjaan misi, mari dengan setia kita melakukannya. Mari kita bawa di hadapan Tuhan apa yang menjadi komitmen kita dan yang harus kita genapkan di bulan ini. Ada hal yang mau kita kerjakan dan lakukan, ada janji dan komitmen pelayanan yang mau kita genapi dan penuhi, walaupun sdr tidak duduk dalam jabatan pelayanan, itu tidak menjadi soal.

Namun apa yang paling menyedihkan bagi saya adalah pada waktu seseorang ingkar janji. Tetapi harus kita akui janji manusia tidak akan pernah bisa dipegang selama-lamanya. Di dalam pelayanan kita seringkali seperti itu, bukan? Kita terus tunggu ada orang sudah janji untuk dukung, ternyata dia lupa atau hatinya sudah tidak terbeban lagi. Situasi hidup bisa berubah, perjalanan hidup juga bisa berubah, lalu kita kaget dan kecewa ketika orang yang sudah berjanji itu mengatakan, sori, saya tidak bisa memenuhi janjiku. Tetapi semua itu hanya ingin memberitahukan kepada kita itulah kenyataan dan fakta karena kita manusia yang lemah dan terbatas. Kita tidak bisa bersandar kepada janji manusia.
Dalam surat 2 Korintus ini apa yang dialami oleh rasul Paulus dalam hidupnya adalah satu hal yang luar biasa. Di tengah hidup dan pelayanannya yang luar biasa berat, kita bisa menyaksikan apa yang menjadi jangkar dan sauh yang kokoh bagi Paulus untuk tetap bertahan dan menghadapi semuanya.

Ketika dia menulis surat 2 Korintus ini dia menyatakan dengan terus terang, air matanya tercurah, hatinya gelisah dan tidak ada damai sejahtera, penuh dengan kesusahan dan kesulitan. Namun di pasal 4 dan pasal 5 dia kemudian dengan teduh melihat di tengah semua kesulitan itu dia mendapatkan kekuatan luar biasa dari Tuhan untuk melaluinya. Di bagian ini kita menemukan banyak sekali kalimat-kalimat mutiara yang indah. “Sebab hidup kami ini adalah karena percaya, bukan karena melihat” (2 Korintus 5:7). “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian; kami dihempaskan, namun tidak binasa” (2 Korintus 4:8). “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami” (2 Korintus 4:17).

“Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang juga pun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilainya demikian. Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:16-17) . Paulus berkata, kami tidak lagi menilai seorang juga pun menurut ukuran manusia. Tidak gampang dan tidak mudah berkata seperti ini. Pada waktu Paulus datang di tengah-tengah komunitas orang Kristen, tidak gampang dan tidak mudah mereka menyambut dan menerima orang yang baru bertobat ini, dan mereka selalu berpikir mungkin orang ini tidak sungguh-sungguh bertobat. Tetapi Paulus dengan berani mengaku dan tidak menyembunyikan hal yang dahulu itu sebagai sesuatu yang perlu dipermalukan. Benar, aku dahulu adalah penganiaya orang Kristen. Ya, saya dulu orang yang paling sombong, dalam melakukan hukum Taurat aku orang yang paling ketat. Lulusan dari sekolah seminari yang terbaik di Yerusalem. Dia bisa banggakan dari sisi yang terbaik dan sekaligus dari sisi yang terjahat dari hidupnya. Tetapi tidak berhenti sampai di sini, Paulus berkata, tetapi sekarang aku adalah ciptaan yang baru di dalam Kristus. Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Ketika kita menerima keselamatan dan pengampunan dari Tuhan Yesus Kristus, kita menjadi orang yang dibaharui oleh Tuhan, diberikan identitas yang baru, diberikan panggilan dan tugas yang baru. Kita adalah orang yang sungguh-sungguh ciptaan yang baru. Allah berjanji akan memelihara hidup kita, Allah berjanji di dalam Kristus maka kita pasti dan teguh, di dalam Kristus keselamatan kita final dan Allah adalah Bapa yang mencintai dan mengasihi kita, apa yang Dia janjikan akan Dia nyatakan kepada kita. Tetapi pada waktu kita menjalani hidup ini, di tengahnya kita bisa terombang-ambingnya dan menjadi ragu akan janji Allah itu. Ada dua hal yang mungkin menjadi penyebabnya. Yang pertama, janji keselamatan dan janji jaminan dari Tuhan bisa sering kita ragukan pada waktu kita dibingungkan oleh penderitaan dan kesulitan yang terjadi dalam hidup kita. Kita bingung pada waktu kita menjalani hidup ini ikut Tuhan. Ada orang yang mengalami tekanan yang susah sebagai orang Kristen, lalu kemudian ketika dia ambil keputusan untuk dibaptis, dua minggu kemudian dia jatuh sakit, atau satu bulan kemudian dia diberhentikan dari pekerjaannya. Bagaimana dia bisa menyaksikan janji pemeliharaan Tuhan kepada orang tuanya? Katanya percaya Tuhan, kenapa justru nasib buruk menimpamu? Engkau mendapatkan janji dan jaminan tetapi hidupmu seperti itu. Ada orang ambil keputusan mau melayani Tuhan menjadi misionari dan pergi ke pedalaman, bawa isteri dan anak-anaknya ke ladang misi. Sampai di sana, apa yang terjadi? Kita bisa membaca begitu banyak biografi dari para misionari yang begitu menyedihkan. Kita tidak bisa membayangkan kalau kita mengalami hal seperti itu, kita bisa bertanya-tanya, betulkah Allah yang kita percaya ini bisa kita pegang janjiNya? Yang menyebabkan kita sering ragu akan jaminan kepastian keselamatan itu adalah karena kita sendiri yang menjalani satu hidup Kristen yang tidak konsisten. Ini penting sekali untuk kita sadari karena ketika kita merasa sudah secure dan aman di dalam Yesus Kristus, dengan kita tahu betul bahwa kita sudah aman di dalam Yesus Kristus, itu adalah dua hal yang berbeda dan kadang-kadang tipis luar biasa. Sangat menakutkan pada waktu nanti kita bertemu dengan Tuhan Yesus, kita akan kaget luar biasa, seperti yang Tuhan Yesus katakan kepada orang-orang yang berkata, “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga?” Pada waktu itu Aku akan berterus-terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripadaKu kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:22-23).

Harus kita akui kita up and down ikut Tuhan. Pada waktu kita kuat kita mempunyai hidup doa yang baik, kita mencintai dan mengasihi Tuhan, mudah bagi kita berkata saya kuat dan aman di dalam Tuhan. Namun pada waktu kita berada di dalam masa kegelapan, kita tidak ada gairah, kita merasa Tuhan begitu jauh dari kita, kita doa tetapi kita rasa Tuhan tidak mendengar, kita tidak berani menyaksikan iman Kristen kita kepada orang karena merasa semua biasa-biasa saja. Kita berada di lowest point daripada hidup kita dan di situ kita mulai meragukan apakah kita punya jaminan akan keselamatan kita. Dalam 2 Korintus 5:10 Paulus mengatakan kepada jemaat Korintus, “Sebab kita semua harus menghadap tahta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” Dalam Roma 8:1 Paulus berkata, di dalam Kristus tidak ada lagi penghukuman. Tetapi kita nanti akan berdiri di hadapan tahta pengadilan Tuhan dan semua apa yang kita kerjakan, baik atau tidak baik akan kita pertanggung-jawabkan di hadapan Tuhan. Pada waktu kita sudah menjadi anak Tuhan, dan kita mendasarkan hidup kita terhadap apa yang akan kita kerjakan dan lakukan, mungkin kita bisa kehilangan kepastian akan jaminan keselamatan itu. Maka di dalam bagian ini Paulus katakan kita menjalani hidup yang baru, namun kita senantiasa bergumul dengan manusia lama kita yang seringkali masih bisa keluar dan ingin mendominasi. Kita tidak pernah sempurna. Kita jatuh bangun di dalamnya. Tetapi memahami identitas kita bukan karena kita orang baik, bukan karena kita orang suci, bukan karena kita orang yang benar pada diri kita sendiri, tetapi kita sedang diproses jadi lebih baik. Kita sekarang adalah ciptaan yang baru di dalam Kristus. Kita harus lihat seperti itu. Walaupun orang mungkin melihat betapa lambatnya pertumbuhan rohaninya tetapi di mata Tuhan identitas orang itu adalah manusia baru. Bagaimana kita percaya kita itu sudah dibenarkan, kita itu sudah memiliki jaminan yang pasti, kita ini sungguh-sungguh telah dirubah oleh Tuhan menjadi manusia yang baru?

Ada beberapa hal penting kita lihat di bagian ini. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan semuanya itu dari Allah yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah telah mendamaikan dunia ini dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami ” (2 Korintus 5:17-19). “Dia yang tidak mengenai dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:20). You are a new creation. Kita adalah orang yang betul-betul diberi identitas baru, seorang yang telah dirubah oleh Allah didasarkan kepada karya Kristus. Rooted in the work of Jesus Christ. Perjalanan iman kita seringkali mengalami inconsistency. Tetapi bersyukur hidup kita nanti di hadapan Allah bukan berdasarkan apa yang kita kerjakan dan lakukan, hidup kita didasarkan kepada apa yang Tuhan Yesus sudah kerjakan bagi kita final selesai. Bagian ini penting luar biasa karena bagian ini bicara apa artinya Yesus menjadi jalan pendamaian, apa artinya Yesus menjadi penebusan kita. Di sini Paulus katakan “Dia yang tidak mengenai dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:21). Yesus yang tidak berdosa, at that moment di atas kayu salib dijadikan berdosa. Jadi, Yesus tidak pernah berdosa, namun hanya ada satu momen dalam hidupnya dia menjadi berdosa bukan karena Dia berbuat dosa. Dia menjadi berdosa karena kita. Dia telah dibuat menjadi dosa karena kita. Sehingga ayat ini bisa mencerahkan pikiran kita ketika kita melihat selama Yesus hidup dan melayani, setiap kali Ia berdoa, setiap kali Ia berbicara mengenai hubunganNya dengan Allah Bapa di surga, Yesus senantiasa memanggil Allah dengan sebutan “BapaKu.” Hanya satu kali saja momen dimana Ia tidak menyebut Bapa, yaitu pada waktu Ia berada di atas kayu salib. Ia mengatakan, “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Marius 27:46). Ayat itu bisa kita kaitkan dengan 2 Korintus 5:21 ini. Kapankah Yesus dibuat menjadi dosa? At that moment. Itulah sebabnya setelah kalimat ini selesai, kalimat selanjutnya yang mengikuti secara logis adalah “Sudah selesai!” (Yohanes 19:30). Allah tidak lagi memperhitungkan pelanggaran dan dosa kita, karena semua itu sudah ditaruh di atas Tuhan kita Yesus Kristus. Itulah arti berita pendamaian itu. Itulah artinya Injil bagi engkau dan saya.

Yang kedua, jaminan janji Tuhan itu ya dan pasti bagi kita bukan saja didasarkan kepada karya Yesus Kristus tetapi juga karena kita percaya dan menghargai karakter Bapa kita di surga yang penuh kasih dan anugerah adanya. We trust and we appreciate the true character of our Father in heaven. Kalau Allah mendamaikan kita dengan tidak memperhitungkan pelanggaran kita dan semuanya ditanggungkan di atas Tuhan kita Yesus Kristus, masakah hal-hal yang indah dan baik yang Ia janjikan kepada kita tidak Ia berikan kepada kita? Memahami Allah sebagai Bapa yang mencintai dan mengasihi kita, di situlah kita boleh mempunyai kepastian, kita berani berjalan dengan menjadi anak Tuhan, ambil responsibility menjadi anak Tuhan yang berjalan di dalam takut akan Allah.

Kasih Kristus memelihara hidupku. Saya tidak lagi ditakutkan dan dikuatirkan dengan dua hal ini. Jangan selalu berpikir apa yang susah dan berat itu yang membingungkan kita seolah-olah Ia adalah Tuhan yang tidak mengasihi dan memelihara kita. Jangan juga kecewa kenapa kita tidak melihat perubahan yang berarti karena we live inconsistency in our Christian life. Kita berdoa kepada Tuhan, Tuhan jadikanlah aku orang yang lemah lembut. Begitu kita keluar dari ruangan ini kita jadi sekeras batu. Kita berdoa kita mau melakukan seperti itu tetapi setelah keluar dari ruangan ini api itu menjadi padam dan kita pikir kita berubah banyak. Ayat ini harus mengingatkan kita, you are a new creation. Jangan pandang dan jangan lihat kepada orang lain. Jikalau Allah yang di surga adalah Allah yang tidak memperhitungkan kekurangan dan kesalahan orang, mari kita bisa melihat orang lain dengan kacamata seperti ini. Ia adalah ciptaan Tuhan yang baru. Ia mungkin mengecewakan dan menyakitkan engkau, atau ada janji yang dia ucapkan dan katakan tidak dia tepati. Mari kita tetap melihat dia adalah ciptaan baru di dalam Tuhan, yang Tuhan akan ubah, bukan karena didasarkan kepada apa yang dia punya tetapi didasarkan kepada apa yang Tuhan Yesus sudah kerjakan dalam hidup orang itu. Kalau dosanya sudah ditanggung oleh Kristus, kenapa kita masih terus bawa-bawa dosa orang itu? Di dalam Kristus kita adalah ciptaan yang baru, yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang. Jangan ingat-ingat kesalahan orang lagi. Bukankah Allah telah menyelesaikan itu di atas kayu salib?

Luar biasa pendamaian itu. Kasih karunia dan belas kasihan Allah itu bukan kita alami hanya di saat kita menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat hidup kita, tetapi itu harus kita alami setiap saat dalam hidup kita. Mengerti bahwa Ia telah mengerjakan tuntas bagi kita hanya punya dua respon saja, dan dua respon itu muncul di 2 Korintus 6:1-2. Respon yang pertama, “Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah yang telah kamu terima” (2 Korintus 6:1). Do not waste God’s grace and mercy in your life. Inilah respon kita menghargai anugerah Allah dengan tidak menyia-nyiakannya. Bagaimana kita tidak menyia-nyiakannya? Dengan hidup yang memiliki tujuan. Kita jangan menjadi orang yang hanya tunggu Tuhan terus memberi kita berkat yang sebesar-besarnya, tetapi yang kita lakukan dan kerjakan bagi Tuhan hanya sedikit, bahkan sangat sedikit. Kalimat Paulus ini penting sekali pada waktu dia bicara bukan kepada orang luar tetapi dia sedang bicara kepada orang Kristen. Jadilah anak-anak Tuhan yang sungguh-sungguh menghargai setiap pemberian dari Tuhan.

Respon yang kedua, “Sebab Allah berfirman: Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau; dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau. Sesungguhnya waktu ini adalah waktu perkenanan itu, sesungguhnya hari ini adalah hari penyelamatan itu” (2 Korintus 6:2). Respon yang kedua adalah memahami waktu kita ada batasnya. Kita tahu anugerah Allah itu tidak pernah berkesudahan; tidak ada tanggal kedaluwarsa, tidak ada limitasi waktu. Persoalannya, kitalah yang punya expiry date dan kita punya waktu yang terbatas. Bagian ini berbicara soal “today” untuk mengingatkan kepada kita, kita tidak boleh tunda jika kita sudah mengerti betapa jelasnya apa yang Tuhan Yesus sudah kerjakan dalam hidup kita. Dia mati bagi dosa-dosa kita, itulah yang menjadi jaminan yang pasti, itulah kekuatan yang membuat Paulus katakan dia bisa jalan dengan beriman tidak dengan melihat apapun yang terjadi dalam hidupnya, mengucap syukur kepada Tuhan bahwa dia dijaga dan dipelihara oleh Allah.Kalimat ini juga yang menyebabkan kita dengan berani bisa berdiri di hadapan Allah di tengah-tengah pengadilanNya. Pada waktu Setan akan menuduh dan menuntut kita, pada waktu hati nurani kita juga ikut menuduh dan menekan sehingga kita dikuasai oleh rasa bersalah, kita ingat kita sudah diampuni dan di hadapan Allah kita mengatakan, “Ya Allah, aku adalah orang yang berdosa dan Kristus telah mati dan menebus dosaku. Aku ingin melakukan begitu banyak hal yang indah untuk membuktikan bahwa aku adalah orang yang sudah ditebus oleh Tuhan. Karena apa? Karena aku adalah ciptaan baru yang telah ditebus oleh Yesus Kristus.”

Firman Tuhan berkata, hari ini adalah hari penyelamatan kita. Bagi engkau yang belum pernah mengambil keputusan menjadikan Kristus sebagai jaminan hidupmu, hari ini anugerah Tuhan ditawarkan kepadamu. Jangan sia-siakan tawaran itu. Ingat, waktu hidupmu itu terbatas. Seringkali waktu anugerah Allah lewat dan berlalu dan dia tidak pernah kembali lagi. Sehingga Tuhan mengatakan, hari ini jika engkau mendengar suaraNya, jangan keraskan hatimu. Hari ini adalah hari perkenanan itu, hari ini adalah hari penyelamatan itu. Bukalah hatimu lebar-lebar dan jikalau hari ini anugerah Allah tiba kepadamu, hari ini juga menjadi hari penyelamatanmu. Dan bagi sdr dan saya yang begitu banyak telah dianugerahi oleh Allah, jangan pernah jadikan hidup kita selalu menunda apa yang menjadi anugerah dan berkat Tuhan di dalam hidup kita. Kiranya Tuhan berkati kita semua.(kz)