Mengubah Nestapa menjadi Berkat

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi: Surat 2 Korintus [9]
Tema: Mengubah Nestapa menjadi Berkat
Nats: 2 Korintus 6:3-13

Hari ini kita tiba pada satu bagian yang sangat indah. Bagi sdr yang saat ini sedang bergumul untuk mengambil keputusan mendedikasikan diri menjadi hamba Tuhan, bagi sdr yang sudah melayani Tuhan sebagai penginjil, sebagai guru Injil, sebagai hamba Tuhan penuh waktu, sebagai gembala dan pendeta, bagi sdr yang masih baru melayani di ladang Tuhan maupun sdr yang sudah berpuluh tahun berada di ladang pelayanan, bagi sdr yang menjadi pengurus gereja, bagi sdr yang menjadi penatua, guru sekolah minggu, guru agama dimana saja sdr berada, bagi kaum profesional yang mengambil keputusan untuk hidup bagi Tuhan, yang mengetahui bahwa hidup sdr bukan semata-mata untuk mencari uang, kekayaan dan sukses belaka, maka 2 Korintus pasal 4, 5 dan 6 harus menjadi textbook atau booklet kecil yang patut kita baca dan selipkan senantiasa di dalam hati dan hidup kita. Begitu sdr sudah cape dan lelah di dalam pelayanan, tidak ada tempat lain selain kita kembali melihat apa arti pelayanan, mengerti dedikasi, besarnya cinta Tuhan dari 2 Korintus 4 -6 ini dan saya percaya hati kita akan kembali dibakar, disucikan, dimurnikan, digerakkan dan mencintai mengasihi Tuhan lebih lagi setelah membaca bagian ini. Puji Tuhan! Ini adalah satu bagian yang ditulis oleh seseorang yang pernah mengalami asam garam, pahit dan pedasnya pengalaman pelayanan, mengalami sukacita, pujian tetapi juga tamparan, tangisan dan air mata; mengalami dipuji tetapi juga yang diludahi sehabis pelayanan. Seorang yang bernama rasul Paulus.

Setelah kita memahami dan mengerti betapa besar dan mulianya anugerah Allah itu, Kristus yang dijadikan berdosa demi kita orang yang berdosa diampuni dan dibenarkan, itulah berita keselamatan, itulah Injil kabar baik, itulah yang menyebabkan kita dipanggil sebagai anak-anak Allah, itulah yang menyebabkan hidup kita dipenuhi dengan kasih Yesus Kristus. Dalam 2 Korintus 4, 5 dan 6 ini Paulus menyebutkan mengenai tiga identitas kita berkaitan dengan relasi kita dengan Tuhan, dengan orang di luar dan dengan sesama orang percaya di dalam Tuhan. Di dalam relasi kita dengan Tuhan, kita hanyalah bejana tanah liat yang begitu rapuh dan lemah adanya (2 Korintus 4:7). Tetapi yang luar biasa, sekalipun penuh dengan cacat cela, tidak ada yang hebat dalam diri kita, penuh dengan kelemahan dan kekurangan, di dalam bejana tanah liat ini Tuhan menaruh harta mutiara berlian dan intan yang berharga itu. Allah menaruh InjilNya yang berharga, anugerahNya di dalam bejana tanah liat ini. Yang kedua, di dalam relasiku dengan orang-orang di sekitarku, setelah saya ditebus oleh Allah, kita adalah duta-duta Injil Kristus, kita adalah surat Kristus yang dibaca oleh orang, kita adalah utusan Allah (2 Korintus 5:20), dalam relasi kita dengan orang-orang yang belum percaya. Tuhan pakai setiap kita menjadi utusanNya. Mulut bibir kita dipakai oleh Allah, hidup kita dipakai oleh Allah untuk menyatakan keindahan dan kemuliaan Allah kepada orang lain. Setiap kali kita bertemu dan berbicara dengan orang, kita tahu kita sedang merepresentasikan Tuhan di dalam hidup kita kepada orang lain. Maka berkatalah dengan indah dan baik, berilah pengharapan dan sukacita, bawalah mereka melihat Yesus Kristus melalui mulut bibir kita, apapun yang sdr kerjakan di dalam hidup sehari-hari. Yang ketiga, di dalam relasi kita di gereja, di dalam relasi kita di dalam rumah Tuhan, di dalam pelayanan, siapa kita? Semua kita adalah hamba-hamba Kristus, semua kita adalah pelayan-pelayan Kristus (2 Korintus 5:18). Puji Tuhan! Bahwa pelayanan itu tidak kita sempitkan di dalam aktivitas apa yang kita lakukan di dalam gereja tetapi termasuk apa saja yang kita kerjakan di rumah, di kantor, di dalam pekerjaan dimana kita berada, itulah ladang pelayanan kita. Namun indah sekali kita dilatih oleh Tuhan di saat kita melayani Tuhan di dalam gereja. Karena dengan pelatihan yang Allah berikan bagi setiap kita yang melayani di dalam rumah Allah, kita bisa menolong dan membantu satu dengan yang lain dan kita tidak akan cepat-cepat bereaksi marah jikalau ada gesekan, kritikan, masukan dari rekan-rekan kita sepelayanan karena kita percaya tujuannya baik. Daripada kita keluar sana dan kemudian orang yang tidak kita kenal yang asing kemudian menegur dan menghajar kita, lebih sakit, bukan? Sehingga marilah kita melatih diri untuk mulai aktif dan giat berbagian di tengah komunitas gereja sebagai pelayan Tuhan di dalam rumah Tuhan dan kita melayani bersama-sama. Dengan pelatihan seperti ini kita akan menjadi orang yang mahir dan kita menjadi orang yang terbiasa dimana saja kita berada, kita akan melayani Tuhan.

Pdt. John Stott setelah berusia 70 tahun diwawancara oleh penulis biografinya mengenai pengalaman pelayanan hidupnya selama ini, ditanya, “Apakah godaan terbesar bapak sebagai seorang hamba Tuhan di dalam pelayanan, John Stott menjawab, godaan terbesar baginya dalam melayani Tuhan adalah untuk mundur dan melarikan diri dari pelayanan. That is the great temptation. It’s not only about you. Hamba Tuhan yang masuk sekolah teologi dan mungkin yang memenuhi di pikirannya adalah betapa indahnya melayani Tuhan, kita akhirnya bisa undur, kecewa dan melarikan diri. Kalau itu terjadi, mari kiranya kita belajar dari firman Tuhan yang dikatakan oleh Paulus dalam bagian ini.

Kita semua adalah pelayan Tuhan, semua kita adalah anak-anak Tuhan yang sudah menerima anugerah Tuhan, we have to have a great endurance. Kalau anda tidak mau dikritik, jangan ambil pelayanan. Karena kalau kita tidak ambil pelayanan, pasti tidak ada orang yang kritik. Kalau anda tidak menjadi ketua panitia, pasti anda tidak akan ditumpahi oleh rasa tidak puas orang terhadap acara anda. Kalau anda tidak jadi guru sekolah minggu, tidak ada orang tua yang mengkritik sdr. Kalau anak anda tidak pernah ikut kompetisi, dia tidak akan merasa takut dan tidak perlu takut menghadapi yang namanya kegagalan dan kekalahan. Tetapi justru pada waktu dia berkompetisi dan dia tidak mendapat juara, dia mungkin mengeluarkan air mata, tetapi jangan katakan itu sebagai kegagalan karena di situ dia belajar apa artinya gagal dan kalah karena dia belajar keluar untuk berkompetisi. Kalau anda tidak mau diterpa badai, hujan, dingin, sakit, jangan berdiri di atas puncak gunung. Masuk saja bersembunyi di dalam gua, aman. Tetapi apakah kita harus menjadi orang yang seperti itu? Great endurance muncul sebab Paulus tahu betapa indah dan betapa berharga kita menjadi anak Tuhan seperti itu.

Sampai bagian ini hal yang indah terjadi, bagaimana Paulus merubah nestapa yang dialaminya menjadi berkat. Nestapa, ini kata yang mungkin sudah sangat jarang kita dengar. Dalam bahasa Inggrisnya, despair and sorrow. Great endurance, menahan dengan sabar, tabah dan kuat menanggung segala tekanan. Ketabahan yang besar dan ketekunan yang sabar tidak pernah datang dalam waktu singkat dan instant dalam hidup kita. Itu memerlukan proses waktu, membutuhkan sesuatu yang dalam dan teruji. Paulus menuliskannya di dalam bahasa puisi yang indah luar biasa. “Sebaliknya dalam segala hal kami menunjukkan bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran; dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan; dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa; dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan hati yang tidak munafik; dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela; ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat atau ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu namun dipercayai; sebagai orang yang tidak dikenal namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar namun tidak mati; sebagai orang berdukacita namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik sekalipun kami memiliki segala sesuatu” (2 Korintus 6:4-10). Itulah arti mengubah nestapa menjadi berkat. Ada kurang lebih sekitar 28 kata di dalam bagian ini dan kita akan melihat bagian ini satu-persatu.

“Sebaliknya dalam segala hal kami menunjukkan bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran” (2 Korintus 6:4). Hal yang pertama, great endurance in afflictions, hardships, and calamities. Penderitaan, kesesakan dan kesukaran , ini adalah tiga hal yang terjadi kepada semua orang. Sebagai orang Kristen, kita juga mengalami kesulitan dan penderitaan yang sama dengan orang-orang lain yang tidak percaya Tuhan. Sebagai orang Kristen kita tidak kebal dan terhindar dari hal-hal itu. Kita sama-sama bisa jatuh sakit; kita sama-sama bekerja keras membanting tulang apapun pekerjaan kita. Kita juga mengalami tekanan yang berat. Kita juga mengalami bencana dan malapetaka. Rumah kita bisa kemalingan dan kerampokan, kebanjiran dan kebakaran. Itu adalah bencana, malapetaka, dari sisi itu sampai hal-hal yang lebih berat, kita kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang kita kasihi, sakit dan kematian. Kita mengalami kesulitan umum yang sama.

Hal yang kedua, “Dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan” (2 Korintus 6:5). In beatings, imprisonments, riots. Tiga hal ini adalah penderitaan yang dilakukan orang jahat, orang yang memang tidak suka kepada orang Kristen. Kita berusaha hidup sebaik mungkin tetapi sdr tidak bisa mencegah orang berbuat jahat kepadamu. Ketika menginjili orang, ditertawakan. Kehilangan teman, itu mungkin resikonya. Sdr mungkin tidak naik jabatan di tempat kerja, itu adalah tanggungan yang berat. Atau akhirnya boss memberhentikan engkau. Paulus mengalami dipukuli dan dipenjara. Ada protes huru-hara pada waktu dia berkhotbah. Orang berteriak-teriak dan melempari Paulus dengan batu (Kisah Rasul 14). Itu semua adalah penderitaan yang disebabkan orang jahat kepada dia.

Hal yang ketiga, “Dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa” (2 Korintus 6:5). In labours, sleepless nights and hunger. Ini adalah kesulitan dan penderitaan sebagai harga atau resiko yang dia ambil sendiri untuk dirinya. Pelayanan bagi Allah adalah hal yang berharga dan indah luar biasa. Pada waktu kita ambil keputusan untuk hidup sederhana dan seadanya, kita tidak perlu self-pity dan kita juga tidak perlu mengasihani orang lain yang ambil keputusan seperti itu karena ada sukacita tersendiri pada waktu engkau mengambil keputusan seperti itu. Paulus mengatakan, di dalam pelayanan saya ambil keputusan untuk tidak tidur di malam hari, saya harus bekerja mencari nafkah untuk mencukupkan kebutuhan diri sendiri, hidup dengan sederhana makan seadanya, itu keputusan yang dia ambil. Semua ini indah luar biasa, bagaimana saya merubah sesuatu yang nestapa, sesuatu yang tidak baik menjadi berkat. Itu adalah keputusan yang indah dan baik, lakukan dengan penuh sukacita di situ, karena kita tahu apa artinya melayani Tuhan.

Semua ini menjadi pembentukan karakter yang berharga, yang tidak bisa diganti dan dibeli dengan harga berapapun dan hanya bisa terjadi because of great endurance. Paulus katakan, ada delapan karakter yang muncul, “kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan hati yang tidak munafik; dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah” (2 Korintus 6:6). Pertama, kemurnian hati, purity. Orang itu mengalami pemurnian hati; menjadi indah, menjadi agung, menjadi bersih luar biasa. Artinya, segala sesuatu yang debu, yang kotor dalam hati dan hidup kita dibersihkan dan dimurnikan oleh great endurance itu. Yang kedua, pengetahuan, wawasan orang itu menjadi luas dan lebar. Pada waktu kita melayani di gereja, kita bertemu dengan orang, pelayanan di luar, kita berbagian dengan pelayanan misi, apa yang terjadi? Kita memiliki wawasan yang semakin luas, bukan hanya mementingkan denominasi gerejaku saja, kita bisa bergaul, bersatu dan berdoa bersama dengan begitu banyak orang Kristen dari latar belakang denominasi, suku dan bangsa yang berbeda satu sama lain. Di situ wawasan kita menjadi lebih besar. Yang ketiga, patience. Kesabaran terjadi. Hati kita lapang dan tidak cepat-cepat bereaksi terhadap apa yang terjadi di sekitar kita. Yang keempat, kindness, kebaikan, kemurahan hati. Kesulitan, penderitaan dan kemiskinan tidak boleh bikin sdr menjadi egois, kita tidak menjadi orang yang kikir dan mementingkan diri sendiri. Selanjutnya, yang kelima, kuasa Roh Kudus memenuhi hidup orang itu. Ada kesadaran untuk membangun relasi yang indah dengan Allah, Roh Allah bekerja dalam hidup orang itu. Engkau tahu orang itu bukan orang biasa, meskipun dia hanya seorang yang sederhana yang tidak berpendidikan tinggi, tetapi engkau tidak menghina dia karena engkau melihat ada sesuatu yang agung di dalam dirinya karena ada Roh Allah di dalam diri orang itu. Yang keenam, genuine love, kasih yang tidak pura-pura. Kasih kita otentik, tulus. Kita tidak usah sungkan dan harus membalas setiap kebaikan yang dilakukan oleh sahabat dan orang yang dekat dengan kita, yang kita tahu setiap kebaikannya lahir dari kasih yang genuine, karena itu bukan soal tukar-menukar dan kasih-mengasihi dan kita juga tidak tuntut orang membalas kebaikan kita. Yang ke tujuh, truthful speech. Kita akan berkata dengan jujur, dengan benar dan dengan indah. Yang ke delapan, the power of God. Ada kuasa Allah yang begitu nyata memenuhi hidup orang itu.
Setelah sampai kepada bagian itu kemudian keluarlah tujuh pasang kata yang indah luar biasa memperlihatkan karakter Kristiani yang terbentuk dalam dirimu. Setiap kesulitan, tekanan dan penderitaan yang terjadi dalam hidupmu bukan saja merubahmu menjadi seorang Kristen yang berkarakter mulia, tetapi maju satu langkah lagi, merubah apa yang tidak baik yang terjadi dalam hidupmu juga akhirnya menjadi berkat bagi orang lain. Miskin tidak saja menjadikan kita tidak kikir, miskin menjadikan kita justru memperkaya orang lain. Tidak berhenti hanya sampai kepada posisi tidak bikin kita menjadi kikir, tetapi mengubah karakter kita menjadi seorang yang generous menjadi berkat bagi orang lain. Paulus sebutkan tujuh pasang kata ini: [1] ketika dianggap sebagai penipu namun dipercayai, [2] sebagai orang yang tidak dikenal namun terkenal, [3] sebagai orang yang nyaris mati dan sungguh kami hidup, [4] sebagai orang yang dihajar namun tidak mati, [5] sebagai orang berdukacita namun senantiasa bersukacita, [6] sebagai orang miskin namun memperkaya banyak orang, [7] sebagai orang tak bermilik sekalipun kami memiliki segala sesuatu.

Yang pertama, “Ketika dianggap sebagai penipu namun dipercayai” (2 Korintus 6:8). We are treated as imposters and yet are true. Ini adalah tuduhan yang sangat berat bagi Paulus yang memberitakan firman Tuhan dan memberitakan Injil, dan dikatakan mulutnya mengeluarkan kata-kata yang dusta. Kita tahu betapa pentingnya kredibilitas kita, tetapi mungkin orang bisa menghancurkan dan menjatuhkan kredibilitasmu dengan fitnah dan kebohongan. Paulus buktikan dengan great endurance bahwa itu adalah tuduhan yang tidak benar adanya.

Yang ke dua, “Sebagai orang yang tidak dikenal namun terkenal” (2 Korintus 6:9). As unknown and yet well known. Banyak orang mulai melayani dengan status sebagai a humble servant of God, tetapi setelah 30 tahun melayani end up-nya menjadi selebriti. Karena kita gampang dan mudah tergoda ingin dikenal. Paulus katakan, yang paling penting bukan dia dikenal oleh manusia tetapi dikenal Tuhan. Betapa menakutkan bagi seorang yang sudah melakukan banyak hal, pada akhirnya Tuhan berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripadaKu kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:22-23).

Yang ke tiga, “Sebagai orang yang nyaris mati dan sungguh kami hidup” (2 Korintus 6:9). As dying and behold we live. Semua penderitaan dan kesulitan itu tidak pernah mematahkan dan memudarkan semangat kita. Sekalipun sakit, sakit itu tidak menghalangimu merubah apa yang menjadi nestapa menjadi berkat bagi orang lain. Orang yang bertemu justru terhibur dan dikuatkan dengan kata-katamu.
Yang ke empat, “Sebagai orang yang dihajar namun tidak mati” (2 Korintus 6:9). As punished and yet not killed.

Yang ke lima, “Sebagai orang berdukacita namun senantiasa bersukacita” (2 Korintus 6:10). Sudah tentu maksudnya bukan sdr dipukul lalu ketawa-ketawa, jelas tidak seperti itu. Maksudnya adalah bagaimana sdr merubah apa yang menjadi air mata dalam hidup sdr menjadi sukacita dan blessing bagi orang lain. Kematian dan kehilangan orang yang kita kasihi adalah pengalaman yang sangat menyakitkan dan traumatis, tetapi kita tidak terus ditenggelamkan oleh kesedihan dan pengalaman itu kita pakai menjadi sesuatu yang indah menolong dan memberkati orang-orang yang mengalami hal yang sama. Itu arti dari kalimat ini, yang berdukacita namun senantiasa bersukacita.

Yang ke enam, “Sebagai orang miskin namun memperkaya banyak orang” (2 Korintus 6:10). Sudah tentu Paulus tidak berbicara mengenai kekayaan secara materi tetapi siapa bilang engkau tidak bisa memperkaya orang? Kemiskinan materi tidak boleh membatasi hati kita yang kaya untuk berbagi dan memberi. Maka jangan kecewa dan jangan merasa malu karena bukan banyaknya materi yang menentukan identitasmu. Bukankah Yesus berkata, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang kaya yang memberi persembahan di Bait Allah (Markus 12:43). Karena penilaian Allah berbeda dengan penilaian manusia. Engkau bisa memperkaya orang lain dengan perkataanmu, engkau bisa memperkaya orang dengan teladan hidupmu. Kita tidak perlu kuatir dan takut, apa saja yang kita kerjakan bagi Injil dan Kerajaan Allah, sekalipun terlihat kecil di mata orang, tidak menjadi hal yang diremehkan Allah dalam kekekalan karena nanti di sana kita baru tahu ada the chain of blessings di baliknya. Itu artinya yang miskin namun memperkaya banyak orang.

Yang terakhir, kepada dirimu berkat itu muncul. “Sebagai orang tak bermilik sekalipun kami memiliki segala sesuatu” (2 Korintus 6:10). Artinya sekalipun engkau tidak mempunyai banyak hal tetapi hidupmu penuh dengan sukacita, full of joy, dengan I-have-everything-in-my-life spirit. Seseorang yang memiliki hati yang contentment, hati yang puas, maka dia tidak lagi mengisi hatinya dengan keinginan dan iri kepada orang lain. Kiranya firman Tuhan memberkati setiap kita hari ini dan membangkitkan semangat dan menggerakkan hati kita lagi untuk mencintai dan melayani Tuhan.(kz)