Ciri Penyesalan Sejati

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat 2 Korintus [10]
Tema: Ciri Penyesalan Sejati
Nats: 2 Korintus 7:1-16

“Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian. Sebab perhatikanlah betapa justru dukacita yang menurut kehendak Allah itu mengerjakan kepada kamu kesungguhan yang besar, bahkan pembelaan diri, kejengkelan, ketekunan, kerinduan, kegiatan, penghukuman! Di dalam semuanya itu kamu telah membuktikan bahwa kamu tidak bersalah di dalam perkara itu” (2 Korintus 7:10-11).

Apakah orang Kristen tidak boleh dihinggapi oleh depresi dan tekanan hidup? Mungkin banyak orang berpikir orang Kristen tidak boleh dihinggapi tekanan, orang Kristen tidak boleh mengalami depresi. Orang Kristen tidak akan mengalami sakit-penyakit, malapetaka dan kesulitan karena Tuhan menjaga dia. Bukankah hidup kita adalah hidup yang penuh dengan kemenangan? Bukankah itu yang dijanjikan di dalam ibadah mujizat kesembuhan ilahi dan pelepasan resesi ekonomi, datanglah kepada Yesus, maka engkau akan terbebas dari penyakit dan terbebas dari hutang kartu kredit. Karena Yesus sudah mematahkan belenggu kemiskinan, terimalah Dia maka hidupmu akan sukses, hidupmu akan sehat, hidupmu akan lancar, dan tidak ada lagi sakit-penyakit dan hutang-piutang mengikat engkau. Dengan berita seperti ini, akhirnya ketika hidup orang Kristen penuh dengan kesulitan dan air mata berarti mungkin ada yang tidak beres dengan imannya di hadapan Tuhan. Bukankah orang Kristen adalah orang yang diurapi oleh Tuhan, bukankah kita disebut sebagai anak-anak Allah? Maka sudah pasti orang yang diurapi Allah tidak mungkin bisa disentuh oleh kutuk dan bencana, bukan? Anak-anak Tuhan pasti akan Tuhan pimpin dan berkati.

Maka dengan hanya menekankan aspek satu sisi seperti ini saja, bagaimana jadinya kepada orang Kristen yang sedang mengalami kesulitan, tekanan dan depresi di dalam hidupnya? Yang terjadi adalah orang itu kemudian berpikir, kenapa hal seperti ini terjadi kepadaku? Apakah ada yang salah di dalam imanku? Apakah ini hukuman Tuhan atasku? Apakah ada dosa yang tidak kusadari yang telah aku lakukan sehingga Tuhan memberikan hukuman kepadaku? Dan yang lebih tragis lalu dia berpikir: Allah sudah tidak mengasihiku lagi, Allah sudah tidak memperhatikan aku lagi.

Sekarang bayangkan, apabila ada seorang hamba Tuhan berkata di depan mimbar bahwa dia mengalami kekecewaan, putus asa, terhimpit, tidak ada jalan keluar, tentu sdr dan saya akan berpikir ada yang salah dalam diri hamba Tuhan ini, atau curiga mungkin imannya tidak beres. Tetapi inilah yang Paulus katakan secara terbuka kepada jemaat Korintus akan pergumulan dan kesulitan yang sedang dia hadapi. Bahkan di surat ini Paulus mengaku dia berada di dalam kebingungan dan keputus-asaan dan sungguh tidak tahu apa yang harus dia lakukan. “Bahkan ketika kami tiba di Makedonia, kami tidak beroleh ketenangan bagi tubuh kami. Di mana-mana kami mengalami kesusahan: dari luar pertengkaran dan dari dalam ketakutan” (2 Korintus 7:5). Secara fisik dan mental diserang dari segala arah. Dia pernah dilempari batu, dia pernah dihina, diejek, dia pernah diancam, dia pernah kelaparan, dia pernah dipenjara, dan seterusnya. Namun kemudian, Paulus mengatakan, “Tetapi Allah menghiburkan orang yang rendah hati” (2 Koritus 7:6), dalam terjemahan Inggrisnya, “God who comforts the downcast.” Paulus menyebut “downcast” lebih menunjuk kepada keadaan depresi, tekanan berat. Maka realita ini menyatakan kepada kita, sekalipun dia adalah rasul yang melayani Tuhan, sekalipun hamba Tuhan, maupun orang Kristen biasa, kita menyaksikan orang-orang Kristen, anak-anak Tuhan yang mencintai dan mengasihi Tuhan tidak terluput dihinggapi tekanan depresi seperti itu.

Apa yang menyebabkan Paulus mengalami tekanan dan depresi seperti itu? Kita coba lihat latar belakang apa yang ada dalam konteks waktu itu. Yang pertama, bisa jadi tekanan itu datang dari orang-orang Yahudi yang ingin membunuh dia di Makedonia (lihat: Kisah Rasul 19-20). Yang kedua, dalam 2 Korintus 7:2-4 Paulus berkata kepada jemaat Korintus ini, “Berilah tempat bagi kami di dalam hati kamu! Kami tidak pernah berbuat salah terhadap seorang pun, tidak seorang pun yang kami rugikan, dan tidak seorang pun kami cari untung.” Ada tiga hal muncul: kami tidak pernah berbuat salah kepada orang, kami tidak merugikan orang, kami tidak cari keuntungan dari orang. Dari sini memberi indikasi ada tiga tuduhan yang diberikan oleh jemaat Korintus kepada Paulus. Kenapa bisa seperti ini? Konteks latar belakangnya pada waktu Paulus tinggal delapan belas bulan lamanya di Korintus dan mendirikan jemaat ini (Kisah Rasul 18), dia kemudian pergi meninggalkan Korintus dan berkeliling mengabarkan Injil ke kota-kota lain. Kita tidak terlalu jelas apa yang kemudian terjadi pada waktu Paulus kembali ke Korintus, hati daripada jemaat Korintus tertutup kepada dia dan bisa jadi mereka mengusir dia, atau dia tidak tahan dengan tekanan yang menyebabkan dia mencucurkan air mata di sana, kemudian dia pergi dari Korintus. Kalau kita membaca surat 1 Korintus kita menyaksikan ada begitu banyak persoalan di dalam gereja Korintus. Ada persoalan perselisihan dan perpecahan di dalam jemaat ini, dimana ada blok yang menyukai pembicara tertentu (1 Korintus 1:10-17). Yang ke dua, dalam 1 Korintus 5:1 ada hal yang sangat menyedihkan. Paulus mengatakan, ada percabulan di antara mereka dan percabulan itu begitu rusak dan begitu memalukan, bahkan yang seperti itu tidak pernah terjadi di kalangan orang tidak mengenal Allah yaitu ada seorang yang kumpul kebo hidup bersama isteri ayahnya dan jemaat Korintus tutup mata. Yang ke tiga, kita saksikan dalam 1 Korintus 6:1-8 ada sebagian jemaat memperkarakan jemaat yang lebih miskin, mungkin persoalan jual-beli tanah, persoalan bisnis, dsb, akhirnya memenjarakan orang Kristen yang lain. Paulus katakan, tidak adakah orang yang berhikmat di tengah-tengahmu untuk menjadi orang yang bisa menyelesaikan persoalan itu? Yang ke empat, di dalam jemaat Korintus, kita saksikan ada orang yang hidup seksualnya tidak benar, yang pergi ke pelacuran; ada yang hidup bermabuk-mabukan dan berbagai amoralitas di tengah-tengah mereka (1 Korintus 6:9-18). Yang ke lima kehidupan ibadah perjamuan kudus mereka tidak lagi menjadi perjamuan kudus yang mengingat akan kematian dan sengsara Tuhan Yesus, tetapi menjadi tempat mereka mengadakan pesta pora (1 Korintus 11:17-32). Dalam surat 2 Korintus kondisi jemaat Korintus lebih buruk lagi. Mereka menerima orang yang datang sebagai pengabar Injil padahal sebenarnya mereka bukan mengabarkan Injil yang sejati tetapi Injil yang palsu, Injil kesuksesan. Dan orang itu kemudian mengatakan bukti hamba Tuhan yang sejati, orang itu tidak pernah menderita. Kalau ada kesulitan dan penderitaan terjadi dalam hidup orang itu berarti dia bukan hamba Tuhan yang sejati. Orang-orang ini adalah orang-orang yang berpenampilan sukses dan mereka mendapat benefit secara finansial dari pelayanan yang mereka lakukan. Jadi cara mereka sebenarnya mirip dengan kelompok sophist yang mencari nafkah dengan mengajar filsafat dan pengajaran secara komersial di tengah alun-alun kota. Dari konteks latar belakang ini kita bisa memahami kenapa Paulus mengatakan, aku tidak pernah berbuat salah terhadap seorang pun, tidak seorang pun yang aku rugikan, dan tidak seorang pun aku cari untung, berarti ini adalah tiga hal yang dituduhkan kepada Paulus. Plus ditambah dengan Paulus merencanakan untuk datang lalu kemudian dia tidak jadi datang lalu akhirnya mereka bilang Paulus tidak bisa dipercaya dan dipegang kata-katanya (2 Korintus 1:15 – 2:4). Karena itu lalu kemudian mereka menutup hatinya kepada Paulus.
berdasarkan analisa konteks latar belakang ini kita lihat kesulitan yang Paulus hadapi ini tidak bisa kita katakan bahwa ini adalah konflik personal. Yang ada ialah pertama kita harus ingat posisi Paulus itu adalah rasul Tuhan, dan yang kedua, Injil yang dia sampaikan beritanya adalah Injil yang sejati. Sehingga pada waktu mereka mulai menolak pribadi rasul Paulus, Paulus takut dan gelisah luar biasa karena berarti mereka tidak mau lagi mendengarkan Injil yang sejati. Itu sebabnya Paulus mengatakan, “Aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati tetapi supaya kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua” (2 Korintus 2:4). Apa yang terjadi setelah itu? Akibatnya terjadilah sebuah kesadaran dari jemaat Korintus apa artinya pertobatan yang sejati di dalam Tuhan. “Jadi meskipun aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku itu, namun aku tidak menyesalkannya. Memang pernah aku menyesalkannya karena aku lihat bahwa surat itu menyedihkan hatimu kendatipun untuk seketika lamanya, namun sekarang aku bersukacita bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah sehingga kamu sedikitpun tidak dirugikan oleh karena kami. Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian. Sebab perhatikanlah betapa justru dukacita yang menurut kehendak Allah itu mengerjakan pada kamu kesungguhan yang besar, bahkan pembelaan diri, kejengkelan, ketakutan, kerinduan, kegiatan, penghukuman! Di dalam semuanya itu kamu telah membuktikan bahwa kamu tidak bersalah di dalam perkara itu” (2 Korintus 7:8-11).

Maka dalam bagian ini Paulus menyatakan satu sukacita yang luar biasa. Ada dua perbedaan antara penyesalan dari dunia menghasilkan kematian dan penyesalan yang menurut kehendak Allah akan mendatangkan hidup. Kita lihat dalam Matius 27:3-5 pada waktu Yudas Iskariot menjual Tuhan Yesus, ada rasa bersalah dan penyesalan yang begitu dalam pada diri Yudas. Lalu dia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua, dan berkata: Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah. Tetapi jawab mereka: Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri! Maka iapun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri. Paulus katakan penyesalan yang dari dunia adalah penyesalan yang tidak mendatangkan keselamatan; penyesalan itu justru mendatangkan kematian. Manusia bisa menyesal dan ditekan oleh rasa bersalah. Tetapi penyesalan itu bukanlah penyesalan spiritual, bukanlah suatu penyesalan yang menyatakan pertobatan di hadapan Allah terjadi dalam hidup orang itu. Penyesalan itu terjadi oleh karena penyesalan itu fokus kepada kepentingan diri sendiri; penyesalan bisa terjadi karena merasa malu; penyesalan bisa terjadi oleh karena dia mengasihani diri sendiri. Itu yang kita sebut sebagai penyesalan secara duniawi. Penyesalan yang hanya sampai pada satu titik tetapi tidak ada jalan keluarnya.

Kita juga bisa saksikan sikap penyesalan yang sangat kontras antara raja Saul dan raja Daud. Waktu nabi Samuel menegur raja Saul atas perbuatan dosanya, maka Saul berkata, “Aku telah berdosa, tetapi tunjukkanlah juga hormatmu kepadaku sekarang di depan tua-tua bangsaku dan di depan orang Israel” (1 Samuel 15:30). Saul menyesal karena tindakannya telah membuat Allah murka dan menghukum dia. Tetapi bukannya sadar dan minta pengampunan Allah, dia balik menegur Samuel agar jangan menegur dia di depan umum. Dia menuntut Samuel menunjukkan respek kepadanya sebagai raja. Saat nabi Nathan menegur raja Daud atas dosanya berzinah dengan Batsyeba dan membunuh Uria, suami Batsyeba, Daud datang kepada Allah mengakui segala dosanya dan meminta pengampunan dari Allah. “Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kau anggap jahat” (Mazmur 51). Itulah penyesalan yang membawa kepada satu pertobatan yang sejati.

Paulus melihat apa yang terjadi kepada jemaat Korintus adalah sebuah penyesalan yang dari situ terjadi satu pemurnian. Ada orang yang dulunya mengaku orang Kristen, sudah percaya Tuhan, tetapi hidupnya sembarangan, pada waktu ditegur oleh Paulus begitu keras akhirnya justru terjadilah pertobatan di tengah mereka. Sukacita Paulus terjadi karena dia melihat orang yang kembali kepada Tuhan. Semua penyesalan kita adalah rasa bersalah yang senantiasa melekat dalam hidup kita. Satu-satunya penyesalan yang tidak akan pernah kita sesalkan adalah pada waktu kita menyesal, kita mengaku kita adalah orang yang berdosa dan kita kembali kepada Tuhan. Inilah satu-satunya penyesalan yang tidak akan kita sesalkan yaitu penyesalan yang mendatangkan keselamatan. Beriman, percaya Tuhan, bukanlah sekedar satu pengetahuan tetapi satu kepercayaan dimana kepercayaan itu kemudian menjadi kepercayaan yang mendatangkan ketaatan, transformasi, dan perubahan hidup dan orang tahu Kristus itu hidup di dalam hidup kita.

Akibat daripada pertobatan yang sejati itu akhirnya terjadi kesungguhan yang besar, perubahan hidup yang total pada diri mereka. Ini adalah ciri pertobatan yang pertama. Pertobatan yang membuat orang itu sadar betapa dirinya yang dulu telah hidup sia-sia; hidup yang dulu sudah membuang-buang waktu begitu banyak. Ada penyesalan kenapa baru sekarang mengenal Kristus Tuhan, kenapa bukan sejak dulu menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat? Itu adalah satu kesadaran yang merubah hidup kita untuk sungguh-sungguh menjalani hidup yang berkenan kepada Tuhan. Paulus katakan itulah ciri bahwa orang itu telah diubah oleh Tuhan, saya mau hidupku tidak sama seperti yang dulu lagi.

Yang ke dua, terjadi pembelaan diri, atau lebih tepatnya pemberesan diri, pembersihan diri. Terjadi satu penyesalan yang menyebabkan kita datang kepada Tuhan mengakui begitu banyak dosa dan kesalahan kita. Mengaku kita bukan saja orang yang pemarah, ada orang yang pernah kita rugikan, pikiran kita adalah pikiran yang penuh dengan kebencian dan dengki. Meskipun tidak pernah membunuh orang tetapi kita mengaku dengan kemarahanku ada keinginan untuk mencelakakan dan membunuh orang itu. Mulut bibirku penuh dengan serapah, aku tidak pernah mengucap syukur kepada Tuhan dan selalu yang keluar dari mulut bibirku hal-hal yang tidak memuliakan Tuhan dan bahkan merugikan orang. Kita menjadikan harta, kedudukan, jabatan dan diri menjadi tuhan atas hidup kita. Dan tanpa peduli kita juga merugikan banyak orang. Maka kita datang, kita membersihkan diri kita di hadapan Tuhan. Kita percaya karena Yesus adalah Anak Allah yang mati di kayu salib sanggup mengampuni dosa sebesar apapun, itu yang membuat kita berani datang kepaaNya menyatakan semua kepada Tuhan dan Tuhan bereskan dan bersihkan.

Yang ke tiga, ciri daripada penyesalan yang sejati adalah kejengkelan. Jengkel kalau bisa hidup saya yang dulu tidak pernah ada. Hidupku sudah waste of time, hidup dalam amoralitas, banyak melakukan hal yang sia-sia. Kalau bisa saya yang seperti itu dulu tidak pernah ada.

Yang ke empat, ada ketakutan. Itulah moment ketika kita menghargai anugerah Allah, mengerti sungguh Yesus telah mati bagi dosa-dosa kita, betapa besar kasihNya bagi kita yang tidak layak ini membuat kita takut untuk berbuat dosa dan kesalahan lagi di hadapanNya. Meskipun kita tidak pernah bisa menjadi orang yang sempurna, kita terus struggle di dalam pertumbuhan iman kita. Dulu waktu kita masih belum percaya, kita hidup dalam kebiasaan berbuat dosa. Setelah kita menjadi anak Tuhan, itu adalah air mata yang sangat menyedihkan hati kita karena kita takut membuat hati Tuhan terluka lagi.

Yang ke lima, kerinduan. Ciri dari sebuah pertobatan yang sejati membuat tiba-tiba orang itu punya kerinduan ingin berdoa, ingin bersekutu dengan Tuhan. Karena dulu relasi dengan Tuhan putus, sekarang relasi dengan Dia dipulihkan dan terjadi kerinduan untuk bersekutu. Masuk ke dalam rumah Tuhan penuh dengan sukacita datang kepada Tuhan dalam ibadah.

Yang ke enam, kegiatan atau zealous. Ciri dari sebuah pertobatan yang sejati membuat orang itu membawa hidupnya kepada Tuhan dan memakai hidupnya sekarang berguna bagi Tuhan. Dari dirinya muncul semangat, kesungguhan, bahkan rela korban tenaga, waktu dan uang, ingin ambil bagian dalam pelayanan dan berkontribusi dalam berbagai hal yang bisa dia lakukan.

Yang terakhir, penghukuman. Atau dalam terjemahan bahasa Inggris NIV mengatakan readiness to see justice done, yaitu satu kesadaran setelah saya bertobat, saya menyesali dosaku, saya mau memperbaiki hidup saya. Sama seperti Zakheus yang datang kepada Yesus dan berkata, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” (Lukas 19:8). Dulu saya pernah merugikan banyak orang, hari ini saya mau kembalikan. Dulu hidupku pernah merampas hak orang-orang miskin, hari ini saya mau balikkan. Itu adalah buah dan ciri dari sebuah pertobatan yang sejati yang terlihat dari pembaharuan yang sejati.
Panggilan pertobatan ini diberikan oleh rasul Paulus kepada jemaat Korintus yang sudah mengenal siapa Tuhan, bukan kepada orang yang belum mengenal Tuhan sama sekali. Berarti sekalipun kita sudah mengaku sebagai orang Kristen, kita perlu mengalami pertobatan yang sejati karena inilah satu-satunya cara kita mengalami pemberesan hubungan dengan Tuhan. Pertobatan yang sejati akan membawa pemulihan hubungan dengan Tuhan, dan di situ Roh Allah memperbaharui hidup kita. Kita mengucap syukur, sekalipun kita bukan orang yang layak menerima pengampunan dari Tuhan, anugerah pengampunanNya tersedia bagi kita yang datang mengakui dosa dan kelemahan kita. Kiranya kita menghargai setiap berkat dan anugerah Tuhan. Kita bersyukur karena melalui firmanNya kita terus dipanggil dan diingatkan, dan pada waktu firman Tuhan datang kepada kita, firman Allah itu menyentuh hati kita dan firman Allah itu menjadi firman yang merubah hidup kita. Kita tidak ingin menjadi orang yang hanya mengaku Tuhan tanpa sungguh-sungguh ikut Tuhan. Kiranya Allah mengubah hidup kita, memimpin dan menyertai hidup kita. Biarlah buah-buah pertobatan dan keselamatan Tuhan ada di dalam hidup setiap kita.(kz)