The Paradox of Fear and Love

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi: 2 Korintus [7]
Tema: The Paradox of Fear and Love
Nats: 2 Korintus 5:10-15

Dalam Roma 8:1, Paulus berkata, “Demikianlah sekarang tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Ini kalimat yang menjadi deklarasi keselamatan, satu deklarasi akan apa yang Tuhan Yesus sudah kerjakan di dalam karya keselamatan bagi hidup kita tuntas selesai. Sampai kita nanti pada waktu bertemu dengan Allah, di hadapanNya kita akan mendengar kalimat ini dikumandangkan: tidak akan ada lagi penghukuman itu. Kenapa? Sebab hukuman dosa kita yaitu maut dan kematian telah ditanggung oleh Yesus Kristus di atas kayu salib. Tetapi ayat ini perlu dan penting untuk mengaitkannya dengan 2 Korintus 5:10, “Sebab kita semua harus menghadap tahta pengadilan kristus supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2 Korintus 5:20). Kenapa?
Supaya kita tidak punya konsep yang keliru dan salah: karena Yesus telah mati bagiku dan tidak ada lagi penghukuman Tuhan atas hidupku maka membuat orang Kristen tidak lagi serius dalam hidupnya ikut Tuhan dan menganggap apapun yang dia kerjakan dan lakukan tidak akan berefek apa-apa dalam hidupnya. Dan bisa jadi kita ditipu oleh perasaan saya sudah selamat padahal sebenarnya sama sekali belum pernah mengalami Tuhan di dalam hidup kita. Tidak heran orang-orang seperti itu hanyalah orang-orang yang mencap diri sebagai orang Kristen tetapi hidup dan kelakuan mereka menunjukkan mereka adalah orang-orang yang belum pernah mengalami kelahiran baru yang sejati dan itu terlihat dari hidupnya yang tidak pernah mengalami perubahan yang sejati. 2 Korintus 5:10 mengingatkan satu kali kelak semua manusia, baik itu orang percaya atau yang tidak percaya Tuhan, semua orang yang dicipta oleh Allah, kita pasti akan menghadap tahta pengadilan Allah dan di situlah kita akan diadili atas apa saja yang kita lakukan, apa saja yang kita pikirkan, apa saja yang menjadi motivasi hati kita yang tersembunyi, apa saja yang keluar dari mulut kita tidak ada satu pun yang akan luput dari tahta pengadilan Yesus Kristus, baik ataupun jahat. Kita mungkin bertanya, kalau sudah selamat dan tidak ada lagi penghukuman, lalu apa fungsi pengadilan itu? Yang pertama, pengadilan itu bukan penghakiman yang bersifat investigasi untuk menentukan apakah kita boleh masuk surga atau tidak. Soal masuk surga atau tidak bukanlah ditentukan oleh perbuatan dan jasa kita selama hidup di dunia. Yang kedua, pengadilan itu bersifat deklarasi yaitu dimana semua apa saja yang kita kerjakan akan dibukakan di situ dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi. Dan pada saat momen seperti itu barulah kita tahu dan kita akan berkata di hadapan Allah, “Ya Allah, ampunilah aku, orang yang berdosa ini.” Dan pada saat itu pula datanglah Pengantara dan Pembela kita yaitu Yesus Kristus berdiri dan mengatakan, “”Aku telah mati bagi dosa-dosa orang ini.” Itulah yang terjadi pada waktu kita berdiri di depan pengadilan Allah. Lalu yang ketiga, pengadilan Allah itu penting sekali sebab pengadilan itu adalah pengadilan yang final, karena pengadilan itu mengungkapkan dengan tuntas kebenaran dan keadilan Allah yang selama ini tersembunyi dan hilang, tidak terlihat di dalam dunia ini. Di dunia ini banyak orang mengalami ketidak-adilan sampai akhir hidupnya dan tidak ada yang membela orang-orang itu. Pada saat yang sama kita menyaksikan di dunia ini ada orang melakukan kejahatan dan kelaliman, dengan seenaknya mengeruk kekayaan dengan cara apapun dan membunuh banyak orang tanpa ada satu orang pun yang pernah bisa mengadili dia. Itu sebab kita perlu pengadilan yang terakhir. Puji Tuhan! Karena kita bisa saksikan itulah saatnya keadilan Allah yang benar-benar adil itu terjadi. Yang keempat, pengadilan yang terakhir menjadi tempat Allah bisa membuktikan kepada musuh kita yaitu Iblis bahwa betul kita yang telah ditebus ini betul-betul menjalani hidup Kristiani kita dengan sungguh dan otentik sehingga Tuhan berkata, “Inilah hamba-hambaKu yang baik dan setia. Layaklah mereka masuk ke dalam rumahKu.” Maka Paulus dalam 1 Korintus 3:10-15 mengingatkan selama di dunia kita harus memperhatikan bagaimana kita membangun hidup yang sudah diselamatkan oleh Kristus ini. Kalau kita membangun hidup kita dengan emas, perak dan batu permata, dibakar di perapian sepanas apapun dia tidak akan lenyap, hilang dan hangus terbakar. Tetapi jikalau kita mendirikan hidup kita dengan kayu, jerami, rumput kering, pada waktu melewati perapian itu, maka semua akan habis terbakar. Itulah arti dari pengadilan yang terakhir ini.

Karena itulah maka hidup kita yang sudah ditebus oleh Tuhan sekarang harus didorong oleh dua hal ini: “Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang. Bagi Allah hati kami nyata dengan terang dan aku harap hati kami nyata juga dalam pertimbangan kamu” (2 Korintus 5:11). Dalam terjemahan NLT dikatakan, “Because we understand our fearful responsibility to the Lord, we work hard to persuade others. God knows we are sincere and I hope you know this, too.” Fear to the Lord. Karena kita tahu hidup kita telah ditebus, tidak ada lagi penghukuman bagi kita dan kita akan mempersembahkan hidup kita, diteliti dengan tuntas oleh Allah, apa yang kita hidupi ini adalah satu hidup yang akan kita pertanggung-jawabkan di hadapan Allah. Maka mari kita jalani hidup ini dengan takut akan Tuhan. Bukan takut akan penilaian orang, bukan takut akan masa depan, bukan takut bagaimana orang melihat hidup kita dan memperhatikan kita, bukan takut susah, bukan takut akan hal-hal yang tidak pasti di masa depan. Semua ketakutan seperti itu menjadikan hidup kita menjadi sentral. Kita ingin memiliki segala sesuatu supaya hidup kita secure dan aman. Bukan takut ini yang Tuhan mau ada dalam hidup kita. Yang Tuhan mau adalah takut akan Tuhan. Ini satu hal yang luar biasa paradoks. Takut ini bukan membuat kita menjauh dari Tuhan, takut ini membuat kita makin mendekat kepadaNya. Karena di situ kita takut untuk berbuat dosa, kita takut untuk mendukakan hati Tuhan yang begitu cinta kepada kita. Takut yang penuh dengan kagum dan respek kepadaNya, sehingga kita akan menyimak dengan sungguh-sungguh firmanNya dan menaati dengan serius setiap kata yang keluar dariNya.

Maka Paulus katakan di sini, “Are we commending ourselves to you again? No, we are giving you a reason to be proud of us, so you can answer those who brag about having a spectacular ministry rather than having a sincere heart” (2 Korintus 5:12). Karena aku menjalankan hidupku dan pelayananku dengan takut akan Tuhan, dan aku juga mendorong semua orang yang ambil bagian dalam pelayanan untuk memiliki hati seperti itu. Pelayanan itu bukan performance, pelayanan itu bukan untuk memperkaya diri, pelayanan itu bukan untuk membanggakan diri kepada orang lain, tetapi bagaimana kita itu respek menghormati Tuhan dan menjadikan Dia Allah yang kita serius dengar akan kata-kataNya dan memuliakan Dia sepenuhnya. Allah yang mengadili kita, yang akan melihat sedalam-dalamnya sampai ke dalam hati motivasi kita, maka kiranya kita jalani pelayanan kita dengan hati nurani yang murni. It is about a sincere heart and it is not about a spectacular ministry, bukan yang ditonton orang, yang ingin kita kasih lihat kepada orang, tetapi bicara mengenai apa yang ada di dalam hati. Dari konteks latar belakang jemaat Korintus kita bisa lebih memahami kenapa bagi Paulus ini hal yang penting sekali. Jemaat Korintus begitu mudah terpesona dan kagum dengan performance. Kalau kita baca dalam 1 Korintus 1 dan 2 kita menemukan di dalam jemaat terjadi pengelompokan. Yang satu bilang kami ini pengikut Paulus, yang satu bilang kami ini pengikut Kefas atau Petrus, yang satu lagi bilang kami ini pengikut Apolos. Bahkan yang satu lagi bilang kami ini pengikut Yesus (1 Korintus 1:12). Sangat besar kemungkinan, Paulus delapan belas bulan melayani di Korintus sambil dia menjadi pembuat tenda di situ, hidup dengan biaya sendiri. Kenapa? Karena dia tidak mau menerima uang dari jemaat ini. Alasannya karena di Korintus ada satu kebiasaan dimana sekelompok cendekiawan yang berpendidikan yang disebut kaum sophist memberikan pidato secara komersial. Maksudnya mereka berpidato lalu mengumpulkan uang dari pendengarnya. Jadi kalau engkau seorang yang pandai berfilsafat, berpidato dan beretorika, maka banyak orang yang akan menjadi pengikutmu dan mereka memberikan bayaran uang kepadamu seperti kita membayar pembicara motivasional. Maka Paulus tidak mau mengasosiasikan diri dengan kelompok orang-orang ini, yang memang intensinya adalah mencari uang dengan memberikan pengajaran di alun-alun kota. Sehingga Paulus tegas membedakan dirinya dengan mengatakan, kami tidak datang kepadamu dengan kata-kata yang indah, tetapi kami datang kepadamu dengan tubuh yang lemah dengan kuasa Roh Allah. Itu dia katakan dalam 1 Korintus 2:1-5 “Demikian pula ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung kepada hikmat manusia tetapi pada kekuatan Allah.” Maka dari situ kita bisa mengerti mengapa dia ambil keputusan untuk tidak mau terima bayaran sebagai hamba Tuhan di Korintus ini untuk menyatakan bahwa dia berbeda dengan orang-orang yang berjualan filsafat itu. Sangat besar kemungkinan setelah Paulus pergi, kemudian datanglah kelompok orang dari Yerusalem. Maka jemaat Korintus menjadi terkagum-kagum mendengar khotbah-khotbah mereka yang begitu berapi-api. Waktu kemudian Paulus kembali ke Korintus terjadi hal yang sangat menyedihkan sekali, mereka kemudian mempertanyakan kerasulannya, menganggap Paulus juga tidak murni motivasinya di dalam pengumpulan uang dan segala sesuatu yang Paulus lakukan dicurigai. Atau bisa jadi mereka tidak respek kepada penampilan fisik Paulus yang tidak menarik dan tidak segagah pembicara-pembicara yang lain. Dalam surat kepada jemaat di Galatia, Paulus bilang, “Kamu tahu bahwa aku pertama kali telah memberitakan Injil kepadamu oleh karena aku sakit pada tubuhku. Sungguhpun demikian keadaan tubuhku itu, yang merupakan pencobaa bagi kamu, namun kamu tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang hina dan yang menjijikkan, tetapi kamu telah menyambut aku sama seperti menyambut seorang malaikat Allah, malahan sama seperti menyambut Kristus Yesus sendiri” (Galatia 4:13-15). Bahkan saking sayangnya engkau kepadaku, jika mungkin engkau sampai rela mencungkil matamu untuk aku. Kalimat itu jelas sekali memberikan indikasi Paulus sakit mata. Banyak penafsir bilang waktu di Kisah Rasul 9:1-5 dia melihat cahaya kemuliaan Tuhan Yesus memancar dari langit mengelilingi dia sehingga dia bertobat, cahaya itu membutakan mata dia. Memang kemudian terjadi kesembuhan, namun tetap kesembuhan itu menghasilkan efek yang merusak mata dia. Sehingga bisa jadi dalam keadaan sakit dan cape tiba-tiba matanya bernanah dan bengkak, kita tidak bisa membayangkan apa yang terjadi. Mungkin struktur badannya pendek dan kecil sehingga tidak menarik perhatian orang. Memang sejujurnya, penampilan luar seringkali membuat orang cepat mengambil kesimpulan tertentu. Tidak heran, nabi Tuhan pun bisa terpesona dengan penampilan luar orang, sehingga pada waktu Samuel pergi ke Betlehem menjumpai Isai dan hendak mengurapi salah satu anaknya menjadi raja Israel, dia bisa silau oleh penampilan anak Isai yang paling besar, yang tubuhnya gagah dan wajahnya cakap. Tuhan bilang bukan yang itu. Tuhan bilang, “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1 Samuel 16:7). Demikian selanjutnya sampai giliran Daud, anak yang terakhir, postur tubuhnya kecil dan pipinya kemerah-merahan. Dialah yang Tuhan pilih menjadi raja Israel.

Kita mudah terpesona dengan penampilan luar dan seringkali langsung ambil kesimpulan orang-orang itulah yang dipakai Tuhan. Kalau sdr memberi budget yang tidak terbatas buat saya untuk memilih siapa-siapa yang menjadi pelayan-pelayan buat gereja ini, siapa yang akan saya pilih? Mungkin saya akan pilih seorang yang berpenampilan ganteng, yang postur tubuhnya gagah, yang pandai berkhotbah, saya akan pilih pemain piano yang terbaik dari opera house, saya akan pilih master of ceremony yang terkenal untuk menjadi worship leader ibadah kita, saya coba minta Dami Im untuk menjadi song leader kita. Tetapi itukah yang Tuhan mau? Pada waktu Yesus memilih dan memanggil dua belas orang menjadi muridNya, siapa yang Dia pilih? Yesus tidak memilih dari sekolah rabi yang terkenal, Dia memilih para nelayan penangkap ikan. Dia tidak memilih lulusan dari sekolah akuntansi terbaik, Dia memilih pemungut cukai. Yesus tidak mengumpulkan orang yang memiliki performance yang hebat, Yesus mengumpulkan orang-orang yang biasa-biasa saja, yang malah dipandang rendah dan dianggap tidak berpendidikan. Tetapi apakah pekerjaan Tuhan tidak bisa berjalan dengan orang-orang seperti itu? Bukankan sampai hari ini Injil terus diberitakan mulai dari pelayanan mereka? Maka siapa bilang kita tidak bisa mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan keterbatasan dan kelemahan kita yang seperti itu? Di tengah dunia kita sekarang orang selalu menilai kehebatan dan kekuatan influencer dengan melihat berapa follower di instagramnya. Ada orang di Jakarta bilang ke saya, “Kalau bapak mau jadi pendeta besar dan terkenal, bapak harus punya banyak follower, bapak harus pakai media sosial untuk membangun image dan menarik pengikut. Bapak harus pakai strategi untuk bisa dikenal luas. Di-boost saja, pak, supaya yang like ribuan. Kita bisa atur kalau bapak ingin punya follower yang banyak. Yang penting dari situ nanti pelayanan bapak bisa lebih maju.” Jujur, saya sedih mendengar orang berkata seperti ini. Ketika goal dalam pelayanan hanya semata-mata untuk performance diri, akhirnya segala cara dan strategi dilakukan. Saya tidak mau seperti itu. Saya tidak iri dengan orang yang followernya banyak. Saya juga tidak terganggu dengan berapa banyak like. Saya tidak kritik orang karena kepingin seperti dia. Sama sekali tidak. Betapa sayang, begitu banyak orang Kristen karena terpesona dan terkagum dengan penampilan luar yang spektakular, akhirnya pikir pendeta seperti itu hebat. Begitu naik mimbar, cuma pegang Alkitab, buka sebentar lalu ditutup, lalu mulai cerita diri sendiri. Sama sekali tidak menggali firman Tuhan. Itu yang Paulus katakan. Kita tidak melayani Tuhan berdasarkan spectacular performance in ministry tetapi dengan sincerity of heart. Di daerah ada pendetamu yang sudah melayani berpuluh tahun, seorang yang biasa-biasa saja, lalu tiba-tiba datang pendeta dari Jakarta atau bahkan dari luar negeri, seluruh jemaat langsung terpesona. Apalagi kalau dia punya banyak prestasi, dan karena pendeta dari kota besar maka dia punya platform juga besar. Lalu dia bilang dia ada visi akan membangun pelayanan dan perlu biaya sekian besar. Lalu semua orang tergerak dan memberi dengan generous bagi pelayanan dia. Padahal gereja sendiri punya banyak kebutuhan, atap gereja sudah lama bocor tidak pernah diperbaiki karena tidak ada dana. Sepeda motor tua pendetanya tidak pernah upgrade, sering mogok di jalan. Tetapi orang tidak pikir sampai di situ. Lebih mudah memberi kepada orang luar. Kita lupa akan this ordinary servant of God yang sudah begitu setia melayani bertahun-tahun. Kita tidak melihat karena kita silau dan terpesona dengan performance yang diperlihatkan dari luar. Kita tidak perlu itu. Percuma itu semua kita taruh sebagai hal yang di depan. Sekali lagi kita ingat apa kata Paulus, satu hari kelak kita semua akan berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggung-jawabkan hidup dan pelayanan kita. Tuhan tidak mencari orang dalam pelayanan atau berdedikasi dalam gereja karena dia punya uang banyak, karena bakatnya hebat, karena dia punya talenta yang banyak, karena dia punya gelar banyak, lulusan dari sekolah yang bonafide. Bukan itu. Tuhan melihat hati orang. Dan ketika hati itu dipersembahkan kepada Tuhan, Tuhan sanggup memampukan orang itu. Itu harus ada dalam diri kita, itu harus ada dalam hati kita dalam pelayanan kita. Bring a sincerity of heart di hadapan Allah. Bukan karena nama, bukan karena performance. Sehingga pada waktu kita ditegur, kita tidak usah cepat-cepat mundur dan resign. Kita belajar memurnikan hati motivasi pelayanan karena bukan nama yang kita kejar dan cari dalam pelayanan. Itu karena kita didorong oleh hati yang takut akan Tuhan.

Yang kedua, Paulus berkata, “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua telah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2 Korintus 5:14-15). Terjemahan NLT, “Either way, Christ’s love controls us. Since we believe that Christ died for all, we also believed we have all died to our old life. He died for everyone so that those who receive his new life will no longer live for themselves. Instead they will live for Christ who died and was raised for them.” Karena inilah hidupku yang dikontrol oleh kasih Kristus, hidupku bukan milikku lagi tetapi milik Dia yang telah mengasihi aku. Motivasi hidupku, aku hidup mengasihi Tuhanku Yesus Kristus, saya tidak akan pernah ingin mendukakan Engkau lagi. Ini adalah relasi yang dalam dan intim walaupun kita mengerjakan dan melakukan banyak hal dan salah, kita bisa melukai hati Tuhan, kita bisa membuatNya kecewa tetapi Ia tetap mencintai dan mengasihi kita. Maka kasih Kristus itu juga menarik saya selalu dekat dengan Dia. Bagaimana saya tahu Tuhan mencintai dan mengasihi saya? Karena Ia sudah mati bagiku. Bukti apa lagi yang kita perlu minta dariNya? Ia sudah mati bagi saya. Ia berikan segala-galanya. Itulah cinta kasih Tuhan. Ia kasih kita satu hidup yang baru, kita jalani hidup ini sebagai hidup yang bukan milik kita lagi tetapi bagi Tuhan. Betapa besar kasih Tuhan dan saya rindu kita juga boleh menjadi anak-anak Tuhan yang terus-menerus boleh mencintai dan mengasihi Tuhan di dalam hidup kita. Kiranya Tuhan pimpin dan memberkati setiap kita untuk menghargai segala kasih setia dan berkat dan anugerah Tuhan di dalam hidup kita. Kiranya kita dibawa dan ditarik lagi dengan satu conviction, dorongan dan keyakinan yang luar biasa ini karena kasih Kristus menguasai kita. Kiranya hidup yang telah ditebus oleh Tuhan ini boleh menjadi hidup yang indah dan yang berkenan kepada Tuhan. Tuhan pakai setiap kita melayani dengan hati nurani yang murni, senantiasa dipenuhi dengan hati yang takut akan Tuhan karena kita tahu bahwa Tuhan melihat hati kita dan tidak ada sesuatu pun yang bisa kami simpan dan sembunyikan daripada Tuhan. Terpujilah nama Tuhan selama-lamanya.(kz)