Jars of Clay

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi: Surat 2 Korintus [5]
Tema: Jars of Clay
Nats: 2 Korintus 4:7-15

Orang-orang yang ada di sekitar Paulus tidak ada yang bisa percaya bagaimana Paulus sampai bisa bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, bahkan Paulus sendiri pun tidak pernah berpikir bahwa dia bisa percaya dan menerima Tuhan Yesus Kristus. Maka dia menggambarkan pengalaman pertobatan dia sebagai pengalaman seperti bayi yang lahir prematur adanya (1 Korintus 15:8). Artinya peristiwa itu terjadi sebagai sesuatu yang tidak disangka dan diduga, karena hari itu sebetulnya adalah hari dimana dia dengan determinasi yang luar biasa ingin menangkap, menganiaya dan bahkan kalau bisa membunuh orang Kristen (Kisah Rasul 9:1-5). Hati Paulus berkobar-kobar dengan kebencian, kemarahan dan excitement luar biasa karena beberapa hari sebelumnya dia sudah melihat satu orang pengikut Yesus yang namanya Stefanus dirajam dengan batu di depan mata dia (Kisah Rasul 7:54 – 8:3). Mungkin ketika batu yang pertama menimpa orang itu, hati dia mungkin takut dan gentar karena itu pertama kali dia melihat orang dibunuh. Tetapi ketika darah orang itu sudah tercurah di tengah orang-orang dengan teriakan kegilaan mengeluarkan kata-kata dan kalimat kebencian yang begitu bergelora karena mereka merasa sedang membela Allah yang benar, maka hilanglah rasa takut itu. Dia memasuki rumah demi rumah dan menyeret orang-orang Kristen di kota Yerusalem dan melempar mereka ke dalam penjara. Tidak puas sampai di situ, dia pergi ke Damaskus ingin menangkap dan membunuh orang Kristen lebih banyak lagi. Siapa yang sangka orang yang seperti itu hanya dalam sekejap mata bisa percaya dan terima Tuhan? Tetapi tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Di tengah-tengah hal itu, ketika Allah melakukan karya keselamatan baginya, dia hanya bisa bersyukur dan berkata, di antara mereka yang berdosa, akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaranNya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepadaNya dan mendapat hidup yang kekal (1 Timotius 1:15-16).

Itulah sebabnya setiap kali dia pergi kemana-mana, dia menceritakan siapa dia. Dia adalah Paulus, yang telah dipilih, dikasihi, diselamatkan dan bahkan diangkat oleh Tuhan menjadi rasul. Orang lain mungkin tidak percaya dan mempertanyakan keabsahan kerasulannya. Dan juga orang mungkin bertanya-tanya, mungkin Paulus tidak sungguh-sungguh bertobat karena dulu dia begitu jahat kepada orang Kristen, masakah sekarang dia menjadi pembela Yesus Kristus? Puji Tuhan! Paulus memberikan bukti fisik yang terjadi dalam hidup dia karena Injil Yesus Kristus karena tubuhnya penuh dengan tanda-tanda dan bekas sesahan. Dia pernah mengalami dipenjara, didera, disesah, dilempari batu (2 Korintus 11:23-25). Itulah penderitaan yang menimpa hidup Paulus. Jika mereka masih tidak percaya, jika mereka masih ragu, bukti apa lagi yang bisa Paulus berikan kepada mereka? Pada saat yang sama sebaliknya orang-orang Korintus itu kagum dengan orang-orang yang berkata bahwa mereka bertemu dengan Tuhan dan menyaksikan kemuliaan Tuhan, lalu kemudian dibuktikan dengan kehebatan daripada pelayanan mereka. Mungkin sekali pelayanan itu disertai dengan tanda-tanda ajaib dan mujizat-mujizat, atau hebatnya dan fasihnya orang itu berkata-kata dan berbicara, atau mungkin juga mereka pakai krim yang membuat wajah mereka bersinar-sinar atau pakai baju yang megah dan mewah. Image seperti inilah yang ditampilkan seorang yang menyatakan diri hamba Tuhan yang besar, agung, yang dipakai oleh Tuhan, yang diberkati oleh Tuhan. Melihat bajunya, melihat jubahnya, atau melihat gelarnya yang panjang, semua itu membuat orang yang melihatnya terkagum-kagum. Maka pada waktu Paulus berkata bahwa dia berjumpa dengan Kristus, betapa kontras penampilan fisik Paulus sederhana dan sangat tidak meyakinkan. Ada tradisi mengatakan Paulus mungkin pendek, hidungnya bengkok, kepalanya botak, matanya tidak terlalu baik, dsb. muncul seperti itu. Betapa berbeda dengan pengkhotbah dan pengajar-pengajar yang juga mengaku sebagai rasul-rasul yang datang ke Korintus dengan segala penampilan yang megah itu.

Maka Paulus mengatakan pada waktu kami pergi memberitakan Injil, Kristuslah yang kami beritakan, bukan diri kami sendiri (2 Korintus 4:5). Kemuliaan Kristus itu yang lebih tinggi dan lebih utama; kami hanyalah hamba-hambaNya. Dialah harta yang kami miliki ada di dalam bejana tanah liat ini. Memahami Injil sebagai anugerah Allah dan harta yang berharga dan mulia, itulah yang membuat kita kuat dan berani bertahan, walaupun kita menghadapi godaan dan tekanan sebesar apapun yang diberikan dunia ini untuk menggantikan harta itu, kita tidak mau menggantinya. Dan memahami identitas siapa diri kita di hadapan Allah, itulah yang membuat kita bisa memiliki satu keteduhan dan ketenangan dan keindahan di hadapan Allah. Kita semua adalah bejana tanah liat dari debu tanah yang rapuh adanya. Kita tidak terbuat dari bahan yang mewah, kita tidak terbuat dari bahan yang keras, kita tidak terbuat dari bahan yang mulia adanya tetapi Tuhan mau pakai dan Tuhan mau menjadikan bejana tanah liat itu sebagai alatNya untuk memancarkan kemuliaan Allah. Sebagai bejana tanah liat itu kita mengalami berbagai tantangan kesulitan dan juga exposure yang luar biasa, tetapi bejana itu tidak hancur dan lebur. Semua itu terjadi supaya kita tahu bahwa kekuatan itu bukan dari diri kita tetapi kekuatan itu datang dari Tuhan.

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian; kami dihempaskan, namun tidak binasa” (2 Korintus 4:8). Ada empat hal yang berpasangan dipakai Paulus: pressed, but not crushed; perplexed, but not despair; persecuted, but not abandoned; struck down, but not destroyed. Paulus menghadapi banyak persoalan dan tekanan secara eksternal tidak ada habis-habisnya. Pernahkah engkau mengalami hal seperti itu dalam hidupmu? Ada kalanya tekanan itu begitu besar dan begitu berat, kita rasa tidak kuat, kita tidak tahan. Pada saat seperti itu, datang kepada Tuhan dalam doa dan di situ kita tahu kekuatan itu datangnya dari Tuhan. Pressed but not crushed, itu yang pertama.

Yang kedua, Paulus mengatakan kami habis akal namun tidak putus asa. Perplexed, confused, bingung, mengalami hal yang tidak sesuai dengan harapan. Kita sudah lakukan hal yang lurus, kenapa hasilnya bengkok; kita lakukan hal yang baik, kenapa hasilnya menjadi tidak baik. Di dalam pelayanan kita juga bisa mengalami seperti itu. Dalam pekerjaan dan hidup sdr juga bisa mengalami seperti itu. Kita sudah melakukan semua hal yang baik, kita menerapkan prinsip-prinsip dan nilai yang baik, kita membina relasi yang baik, yang tulus, yang jujur, kita mengerjakan segala sesuatu sebaik-baiknya. Kita berjuang mati-matian dalam pelayanan, kita memberikan waktu, tenaga, uang dan segala dedikasi yang luar biasa, tetapi hasilnya di luar daripada ekspektasi yang kita harapkan.

Yang ketiga, kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan. Kami dianiaya, atau kata yang lebih tepat, kami menjadi target, kami menjadi mangsa, kami menjadi binatang buruan, lonely tersendiri, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kami sendirian. Saya percaya, ada begitu banyak hamba-hamba Tuhan di dalam pelayanan mengalami hal seperti itu, bukan saja karena pelayanan single fighter di dalam satu ministry, tetapi secara mental dan spiritual kita juga mengalami loneliness yang luar biasa. Kita melayani Tuhan, kita memberi dan menolong, kita membantu orang di dalam kekurangan dan kesulitan, kita mendengarkan keluhan hidup orang, tetapi kita tidak mungkin bisa menceritakan kesulitan diri kepada orang lain. Orang pikir kita terbuat dari bejana logam yang tidak bisa retak dan pecah, padahal kita juga hanyalah bejana yang terbuat dari tanah liat, harus menanggung semua tekanan sendiri, setiap saat jadi target, lonely di situ.

Yang keempat,kami dihempaskan, namun tidak binasa. Dalam pertandingan tinju, tiga kali jatuh langsung TKO. Paulus di sini juga bilang we get knock down, but not destroyed. Kami mengalami jatuh, kegagalan, tetapi Tuhan selalu mengangkat kami untuk bangun lagi.

Empat hal ini bicara mengenai itulah hidup kita sebagai jars of clay. Paulus alami ini semua dalam hidup dia dan dalam pelayanannya. Dan saya percaya, engkau dan saya pernah mengalaminya, atau mungkin sedang mengalaminya saat ini dan akan mengalaminya di masa yang akan datang. Dan selama kita masih hidup dalam dunia, tidak ada jaminan kita tidak mengalami akan hal ini. Tubuh kita terbuat dari darah dan daging, dimakan oleh waktu, bakteri dan virus, yang tidak akan bisa kita tolak. Kita akan menjadi lemah dan sakit, kita bisa gagal, dan itu semua memberitahukan kepada kita, kita hanyalah manusia yang terbatas, penuh dengan kekurangan.

Ada beberapa hal yang indah bagaimana Paulus bisa melewati ini semua dan menjadi keindahan bagi hidup dia. Yang pertama Paulus berkata, “Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati” (2 Korintus 4:1). Tuhan panggil kita menjadi orang Kristen, itu adalah kasih karunia Allah, itu adalah belas kasihan Allah. Bisa sampai selubung itu dibuka dari Paulus yang sebelumnya mau melawan dan membunuh orang Kristen dan membenci Tuhan Yesus Kristus sampai akhirnya Paulus mengenal siapa Yesus, Tuhan dan Juruselamat, itu adalah kasih karunia Allah, belas kasihan yang tidak layak untuk kita terima. Menjadi anak Tuhan, menjadi hamba Tuhan, menjadi pelayan Tuhan, semua itu bukan karena kita mampu dan kita bisa, bukan karena kita hebat, tetapi karena kasih karunia dan berkat Tuhan. Ini menjadi fondasi Paulus sehingga dia tidak pernah tawar hati. Pelayanan itu bukan saja pelayanan karena kita punya visi, karena kita mampu dan bukan soal semangat dan spirit kita, tetapi bicara soal hati. Di situ kita harus menyadari dan mengerti betapa tidak gampang dan tidak mudah kita mau mengasihi dan melayani Tuhan sebab itu bicara soal mempersembahkan hati kita sepenuhnya di dalam pelayanan. Seringkali kita bisa kecewa, kita bisa sedih, kita bisa marah dan akhirnya kita apatis menutup diri. Kita datang ke dalam gereja, kita duduk, kita dengar, lalu kemudian kita pulang, tidak mau ada hubungan dengan orang, kita gampang bersikap seperti itu. Tetapi pada waktu engkau memberikan hati dalam hidup sdr bagi pelayanan, kadang kita bisa mengalami hal yang bisa membuat kita give up. Maka Paulus keluarkan kalimat itu di depan, because of God’s mercy I take this ministry. Karena kemurahan Allah kami menerima pelayanan ini. Ini adalah pelayanan yang luar biasa berharga. Pelayanan yang memanggil manusia di dalam keberdosaannya untuk datang karena Allah mengampuni dan memberikan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Itulah Injil kabar baik.

Yang kedua, Paulus katakan, “Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan, kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah” (2 Korintus 4:2). Kita tidak usah takut kepada pertimbangan dan penilaian orang atas hidup kita. Seringkali kita memikirkan apa kata orang kepada kita sehingga seringkali kita lebih mementingkan image, performance, apa yang kita tampilkan di luar meskipun tidak sama dengan realita yang ada. Seharusnya kita tidak perlu kuatir dan takut akan hal itu dan tidak usah dipengaruhi oleh bagaimana pertimbangan orang. Yang paling penting adalah bagaimana semua akan mempertimbangkan hal itu di hadapan Allah. Paulus mengatakan dalam pelayanannya tidak ada hal yang tersembunyi, tidak ada hal yang memalukan dia lakukan. Semua jujur dan terbuka, karena satu kali kelak kita semua akan berdiri di hadapan Allah. Jangan lupa, saat itu Paulus sedang berhadapan dengan begitu banyak orang-orang yang mengaku sebagai hamba-hamba Tuhan atau pengkhotbah-pengkhotbah padahal mereka sebenarnya hanya menjajakan Injil dan bukan mengabarkan Injil. Paulus tegas katakan aku tidak mengencerkan dan mencairkan isi daripada Injil Yesus Kristus seperti mereka.
Sampai hari ini ada banyak tempat dimana anak-anak Tuhan yang berbakti karena percaya kepada Yesus Kristus, mereka mengalami penganiayaan fisik, disiram dengan air keras, mereka ditangkap dan dipenjara. Sebaliknya ada di antara anak-anak Tuhan yang lain mendapatkan tawaran jikalau mereka mau melepaskan iman percayanya kepada Kristus, diganti dengan ruko dan berbagai fasilitas lainnya. Inilah tantangan yang dihadapi oleh banyak orang-orang Kristen saat ini. Tetapi kita harus memberikan pengertian akan Injil yang benar untuk menguatkan mereka. Harta yang kita miliki itu begitu berharga dan tidak akan bisa diganti dengan apapun juga. Jangan beritakan Injil yang murah, jangan tawarkan Tuhan Yesus hanya supaya mereka diberkati, dsb. Justru pada waktu engkau terima Yesus Kristus dan menjadikan Yesus Kristus sebagai hartamu yang paling berharga, sekalipun tubuhmu habis lenyap tinggal kulit pembungkus tulang, jangan pernah mengganti Yesus dengan apapun. Sekalipun hidupmu dipersulit dan dimiskinkan sampai bagaimanapun, jangan menjual dan menggantikan Yesus Kristus karena Dia adalah harta yang paling berharga bagimu. Ia telah menyelamatkan hidupmu dan memberikan hidup yang kekal, yang tidak akan bisa diganti dengan apapun. Hari ini mungkin engkau menderita sakit, mengalami kesulitan, dimiskinkan orang, itu semua tidak seberapa dibandingkan dengan kemuliaan yang akan engkau terima kelak. Hidup kita di dunia ini hanya sementara. Kita harus memperkuat dan memberikan pengertian Injil Yesus Kristus seperti itu sehingga ketika tekanan badai tiba, sakit penyakit dan kesulitan datang, orang itu tidak pernah kecewa dan meninggalkan Tuhan Yesus Kristus. Tetapi jikalau Injil yang salah yang ditawarkan supaya banyak orang percaya, asal membuat gedung gereja nampaknya kelihatan penuh, ajak orang ramai-ramai ke gereja, maka engkau akan diberkati, engkau akan mendapatkan kesembuhan dsb, hanya demi supaya orang banyak tetapi engkau merusak iman mereka karena engkau tidak menyampaikan berita Injil yang benar kepada mereka, apa gunanya? Begitu banyak orang yang mengaku Kristen KTP, hanya Kristen secara tradisi saja, tetapi ketika ditanya kepada mereka kenalkah engkau siapa Yesus Kristus, apa arti Injil bagimu, dsb, mereka tidak bisa menjawabnya. Tidak heran orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang gampang dan mudah sekali menjadi orang yang meninggalkan Tuhan karena mereka tidak melihat dan menghargai Injil itu sebagai hartanya yang paling berharga di dalam hidup ini. Menghadapi keadaan seperti itu saya tidak bisa lakukan apa-apa. Saya tidak bisa katakan bahwa kalau engkau masuk Kekristenan, kalau engkau menjadi orang Kristen, hidupmu akan menjadi lebih baik. Saya tidak bisa memberikan tawaran seperti yang ditawarkan oleh pihak agama lain. Kita tidak bisa lakukan itu. Kita hanya mengatakan ketika engkau terima Yesus Kristus, ketahuilah, itu adalah hartamu yang paling berharga, jangan gantikan dengan apapun.

Polikarpus, seorang bapa Gereja Mula-mula, murid dari rasul Yohanes yang sampai titik terakhir di usia 86 masih ditawarkan untuk menyangkal Yesus supaya bisa bebas dan tidak dibakar, dia menjawab, “Eighty and six years have I served Christ, nor has He ever done me any harm. How, then, could I blaspheme my King who saved me?” Sudah sekian lamanya aku melayani Tuhan Yesus Kristus, Ia tidak pernah satu kalipun mencelakakan aku. Bagaimana mungkin aku akan menyangkal Rajaku yang telah menyelamatkan aku?

Yang ketiga Paulus katakan, “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan” (2 Korintus 4:5). Meninggikan Yesus Kristus sebagai Tuhan, kalimat ini kelihatan sederhana bagi kita karena tidak mempunyai implikasi apa-apa pada waktu kita katakan “Kurios Iesous” Yesus Kristus adalah Tuhan, tetapi itu menjadi implikasi yang besar luar biasa bagi mereka yang hidup di dalam budaya Grika Romawi karena mereka waktu itu hanya boleh menyatakan “Kurios Caesar,” Caesar is Lord. Kepada jemaat di Roma Paulus katakan, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu maka engkau akan diselamatkan,” (Roma 10:9) itu betapa tidak gampang diucapkan karena besar dan berat karena nyawa taruhannya.

Paulus katakan, bukan diri kami yang kami beritakan tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, but Christ is the Lord. Kalimat ini penting sebab kalimat ini menjadi formulasi yang disebut sebagai “the earliest confession of faith.” Nanti sampai di belakang di surat Yohanes ada beberapa confession of faith muncul di situ. Yesus adalah Anak Allah. Setiap orang yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah. Tetapi setiap orang yang tidak mengaku Yesus, dia tidak berasal dari Allah (1 Yohanes 4:2-3). Itu adalah the earliest confession of faith yang sangat perlu karena jaman itu mereka belum memiliki Alkitab yang lengkap seperti kita sekarang. Maka mereka memegang, menyimpan dan menghafal pengakuan iman ini untuk mengingatkan mereka inilah yang membedakan dia dengan orang lain, apa artinya saya menjadi pengikut Kristus. “Dia yang telah menyatakan diriNya dalam rupa manusa, dibenarkan dalam Roh, yang menampakkan diriNya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan” (1 Timotius 3:16), itulah confession yang muncul di dalam surat Paulus kepada Timotius. “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan selain nama Yesus” (Kisah Rasul 4:12). Itu semua adalah the earliest confessions yang kemudian dikumpul sedikit demi sedikit semakin rapi, sehingga perlahan sejalan dengan waktu menjadi formulasi Pengakuan Iman yang kita kenal dan ucapkan sampai sekarang. Kiranya firman Tuhan hari ini boleh memberikan kekuatan dan keberanian lagi, bahwa di dalam Yesus Kristus Tuhan yang kepadaNya kita percaya dan beriman, itulah yang membuat kita berkata-kata dengan berani, itulah yang membuat kita tetap hidup mencintai dan mengasihi Tuhan dan melayani Tuhan lebih dari segalanya dalam hidup ini.(kz)