Harta dalam Bejana

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi: Surat 2 Korintus [4]
Tema: Harta dalam Bejana
Nats: 2 Korintus 3:7-18

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2 Korintus 4:7).

Sesungguhnya tidak ada tempat yang aman dalam hidup ini yang kita bisa berlindung di dalamnya. Ketika engkau mengalami kesulitan dan tantangan di satu tempat dan mau keluar dari situasi itu dan pergi ke tempat lain, ke kota lain atau pekerjaan lain atau suasana lain, di situ engkau mungkin bisa mendapatkan kenyamanan, tetapi cepat atau lambat di situ pun kita akan mengalami hal yang sama. Ada orang merasa sulit sekali di dalam pernikahannya lalu kemudian berpikir untuk keluar dan lepas karena melihat ada orang lain kelihatan lebih baik. Tetapi bukankah realita memperlihatkan orang yang memilih untuk bercerai dan menikah lagi dengan orang lain, mereka menemukan relasi dengan pasangan yang baru juga akan mengulang hal yang sama. Demikian juga dengan orang-orang yang melayani, tidak ada tempat pelayanan yang gampang dan mudah, baik itu misionari yang ada di pedalaman, maupun mereka yang ada di kota besar, di gereja yang menyediakan fasilitas yang baik, kita menghadapi pressure tekanan berat yang sama. Paulus melayani dengan setia dan baik di Korintus, bahkan dia yang memulai dan mendirikan jemaat ini. Tetapi justru di situ dia menghadapi kesulitan dan tantangan yang sangat berat dan membuat dia begitu lelah jasmani dan rohani. Namun kita bisa belajar dari sikap Paulus menghadapinya, apa yang dia bawa, berita apa yang dia berikan dalam pelayanan itulah yang menjadi fondasi yang kuat dan solid baginya.

Seorang hamba Tuhan menuliskan tafsiran Surat 2 Korintus ini dengan memberikan sebuah judul yang singkat, “Power in Weakness,” Kekuatan Allah sungguh nyata di dalam kelemahan kita. Ketika kita membaca surat 2 Korintus, kita bisa merasakan emosi kesedihan dan air mata Paulus di dalam menuliskan surat ini. Di situ dia menyatakan betapa vulnerable dia, betapa besar kesulitan dan tantangan yang dihadapinya, membuat air matanya tercurah. Dari luar secara eksternal ada konflik, dari dalam secara internal ada pertikaian; tidak habis-habisnya tantangan dan kesulitan yang datang kepadanya. Kalau orang sudah sampai kepada titik seperti itu di dalam hal dimana saja dia mengalami kesulitan dan tekanan demi tekanan, kita percaya orang seperti ini bisa give up, kecewa, hancur dan gugur di dalam hidupnya. Tidak ada lagi kekuatan yang sanggup bisa menopangnya. Tetapi surat 2 Korintus mengajarkan kepada kita, kekuatan itu bukan datang dari diri kita sendiri tetapi dari Allah yang kita sembah dan kita layani. “Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan itu seolah-olah itu adalah pekerjaan kami sendiri, tetapi kesanggupan kami adalah dari pekerjaan Allah” (2 Korintus 2:16).

Tema bagi khotbah saya hari ini, “Harta dalam Bejana” diambil dari 2 Korintus 4:7, ini adalah kalimat penting yang keluar dari mulut Paulus, “Tetapi harta ini kami punyai dalam tanah liat, supaya nyata kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah dan bukan dari kami.” Kita hanyalah bejana dari tanah liat, tetapi kita memiliki harta yang berharga di dalam bejana itu. Di bagian sebelumnya yaitu 2 Korintus 3:7-18 Paulus bicara mengenai Injil Yesus Kristus, the Good News itu, kabar baik itu, kabar yang memberkati, kabar yang disampaikan Tuhan, karena itu adalah kabar pengharapan, kabar keselamatan. Injil itulah harta yang paling berarti dalam hidup kita. Siapakah yang paling berharga dalam hidupmu? Apa yang engkau anggap paling berarti dan bernilai dalam hidupmu? Jangan biarkan tawaran apapun yang diberikan orang yang ada dalam dunia ini untuk menggantikan Yesus Kristus sehingga engkau meninggalkan imanmu kepada Tuhan, karena itu adalah harta yang paling bernilai dan berarti yang tidak bisa dibayar dengan apapun dan diganti dengan tawaran apapun. Ayub pernah kaya, hebat luar biasa. Alkitab mencatat dia adalah orang yang paling kaya di seluruh daerah Timur. Hanya dalam sekejap waktu seluruh hartanya habis dan hanya dalam sekejap waktu anak-anaknya yang paling dia cintai juga meninggal semuanya. Dalam keadaan seperti itu Alkitab mencatat isterinya kemudian menyatakan satu tekanan emosional yang luar biasa kepadanya. ‘Kutukilah Allahmu dan matilah!” Dia ditinggalkan sendirian oleh orang-orang yang paling dekat dengannya (Ayub 1-2). Di dalam kondisi seperti itu Ayub mengatakan God is my treasure. Tuhan adalah hartaku yang paling berharga. Sadrakh, Mesakh dan Abednego, tiga anak muda yang berada di pembuangan di Babel menyembah Allah dengan setia. Ketika mereka dipaksa untuk menyembah patung dewa raja Babel, mereka tetap berdiri dan menolak menyembah patung dewa raja sehingga mereka dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan di momen itu jelas tawarannya adalah kamu akan lepas dari perapian itu jikalau engkau menyangkal Tuhanmu. Tiga anak muda itu berkata, “Allah kami sanggup melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala ini dan dari tanganmu ya Raja. Tetapi seandainya tidak, kami tetap tidak akan menyembah patung dewa itu” (Daniel 3:16-18). Ada orang yang karena memegang Injil Yesus Kristus mereka ditangkap, dianiaya dan dibunuh. Ada orang yang karena imannya kepada Tuhan diseret ke pengadilan dan dimiskinkan hartanya. Tetapi apakah kehilangan semua itu engkau angap sebagai harta yang paling penting dalam hidupmu ataukah Injil Yesus Kristus menjadi yang terpenting dalam hidupmu? Jangan pernah tinggalkan dan jangan pernah gantikan Yesus Kristus dengan apapun juga. Paulus pernah mengatakan, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus Tuhanku lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Filipi 3:7-8). Kita bisa melihat kontras yang begitu indah karena kita tahu apa yang dulu pernah dia anggap sebagai harta yang paling berarti dan itu semua sekarang dia anggap sebagai sampah bagi hidupnya. Dia pernah membanggakan jabatan, status, keturunan siapa, kedudukan dan pekerjaannya. Namun kita menemukan hidup dia penuh dengan kontradiksi yang luar biasa. Dia mengatakan diri sebagai seorang yang melakukan peraturan agama dengan tidak bercacat cela tetapi pada saat yang sama hidupnya penuh dengan kemarahan dan kebencian, bersedia untuk menganiaya dan membunuh orang Kristen. Itu adalah kontradiksi yang ada di dalam hidup dia. Kenapa dia beragama? Kenapa dia melakukan hukum Taurat dan menaati semuanya? Karena dia menyadari melalui semuanya itu dia ingin menjadi orang yang lebih baik, dia ingin mengenal Tuhan. Dia tahu semua itu tetapi pada saat yang sama dia akhirnya menyadari bahwa semua hukum Taurat yang dia lakukan dan kerjakan itu sebenarnya hanya sesuatu yang kelihatan di luar secara eksternal, tetapi hatinya tidak berubah. Itulah sebabnya Paulus katakan sampai hari ini itu juga yang dialami oleh orang-orang Yahudi, mereka begitu rajin membaca kitab suci, mempelajari hukum Taurat, mereka membacanya tetapi mata mereka seolah tertutup oleh selaput sehingga mereka tidak bisa melihat dan mengerti Injil Yesus Kristus. “Pikiran mereka telah menjadi tumpul sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka jika mereka membaca Perjanjian Lama itutanpa disingkapkan. Bahkan sampai pada hari ini setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil daripadanya” (2 Korintus 3:14-16). Itulah saya dahulu, kata Paulus. Puji Tuhan, Tuhan membuka hatinya, sehingga dia bisa melihat apa yang dia rindukan dan yang dia cari melalui melakukan hukum Taurat supaya hidupnya menjadi benar dan suci, dia tidak pernah bisa mendapatkan hal itu. Semua itu justru membuat dia makin menjadi lebih jahat walaupun dia melakukan semua itu dalam jubah keagamaan.

Dalam bagian ini Paulus kemudian membandingkan kehidupan agama berdasarkan hukum Taurat di dalam Perjanjian Lama. Sejak awal inilah konsep yang Allah nyatakan: bangsa Israel diselamatkan dan menjadi umat Allah bukan karena melakukan hukum Taurat. Mereka diselamatkan dari perbudakan di Mesir bukan karena mereka lebih baik, bukan karena mereka mempunyai kekuatan dan kuasa, tetapi karena Allah dengan kekuatan dan kuasaNya melepaskan mereka. Setelah mereka keluar dari Mesir, sampailah mereka di gunung Sinai. Kitab Keluaran 19 mencatat di situlah kemudian mereka menerima Perjanjian Covenant karena Allah sudah melepaskan mereka dari perbudakan di Mesir, maka hari itu Allah akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat Allah. “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firmanKu dan berpegang pada perjanjianKu, maka kamu akan menjadi hara kesayanganKu sendiri. Kamu akan menjadi bagiKu kerajaan imam dan bangsa yang kudus” (Keluaran 19:4-6). Lalu terjadilah yang disebut sebagai covenant dimana dua belah pihak menyatakan janji untuk bertanggung jawab dan setia kepada perjanjian covenant itu. Allah berjanji akan menjadi Allah mereka, artinya kemana saja mereka pergi, Allah akan melindungi dan memelihara mereka, Allah akan menjaga keselamatan mereka. Mereka katakan “Ya, amin, setuju. Engkau adalah Allah kami.” Lalu mereka bikin covenant. Kemudian Allah mengatakan engkau menjadi umatKu, apa artinya menjadi umat Allah? Maka kuduslah engkau karena Aku adalah kudus. Hiduplah merefleksikan seperti Allah yang engkau sembah di dalam hidupmu. Keluaran 24 mencatat dua kali mereka menyatakan janji untuk setia kepada Allah. Maka Tuhan kemudian memberikan aturan-aturan dan hukum-hukum yang merefleksikan sifat Tuhan yang penuh dengan kasih, rahmat, suci dan kudus. Itulah yang kita kenal menjadi Sepuluh Hukum.
Keluaran 24 mencatat Musa naik ke atas gunung Sinai, tetapi setelah beberapa waktu dia tidak turun-turun akhirnya orang Israel yang ad] di bawah kaki gunung mulai ribut. “Ketika bangsa itu melihat bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: mari, buatlah untuk kami allah yang akan berjalan di depan kami, sebab Musa, orang yang memimpin kami keluar dari tanah Mesir, kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia” (Keluaran 32:1). Mereka tidak tahu apakah Musa masih hidup? Sudah beberapa hari di atas, tanpa makan dan minum. Umat Israel mulai bersungut-sungut, “Bukankah Allah sudah berjanji untuk menyertai kita? Kita sudah bersumpah mau setia kepada Dia, kenapa kita diabaikan seperti ini. Lalu kemudian orang-orang ini mulai memaksa Harun untuk membuat patung lembu emas bagi mereka. Harun akhirnya mendirikan mezbah di depan anak lembu emas itu dan umat Israel mempersembahkan korban dan berpesta ria (Keluaran 24:2-6). Di atas gunung, setelah terima Sepuluh Hukum yang tertulis dalam dua loh batu, Tuhan bilang kepada Musa, turunlah dari puncak gunung ini sebab bangsamu yang kau pimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya. Mulut bibir mereka bilang mau setia kepada Allah, tetapi sekarang mereka menyembah patung lembu emas itu. Ketika Musa melihat apa yang mereka perbuat, Musa menjadi marah sekali dan kemudian loh batu itu dia pecahkan, demikian juga patung anak lembu emas itu dia hancurkan (Keluaran 32:15-20).

Tuhan Allah melihat betapa cepat dan mudahnya hati umat Israel berubah dan lupa kepada janji mereka untuk setia kepada Allah. Dengan menyembah anak lembu emas berarti mulut bibir bilang Allah, tetapi hatinya menyembah kepada yang lain. Itu bukan sekedar mengganti tata cara ibadah, itu bukan sekedar menambah hukum lebih banyak supaya mereka lebih taat. Itu persoalan hati yang tidak kelihatan. Maka Allah yang suci itu murka dan dalam kemarahanNya Allah berkata Aku akan memusnahkan mereka, Aku akan membasmi mereka. Aku akan memulai lagi umat yang baru melalui keturunan Musa (Keluaran 32:10). Alkitab mencatat Musa kemudian berdoa syafaat, berdoa bagi bangsa Israel, meminta Allah surut dari murkaNya, mengampuni kesalahan mereka dan memberi mereka kesempatan. (Keluaran 32:11-14). Maka Allah tidak jadi menghukum mereka, tetapi yang terjadi adalah kemah suci Allah tidak bisa lagi berada di tengah-tengah mereka. Kemah suci itu mewakili kehadiran kemuliaan Allah, dan jelas Allah yang suci dan mulia tidak mungkin bersentuhan dengan kenistaan daripada dosa. Maka kemah suci itu sekarang ditaruh di luar perkemahan (Keluaran 33:7). Lalu Musa dipanggil Allah untuk sekali lagi naik ke atas gunung Sinai empat puluh hari empat puluh malam dia tidak makan dan tidak minum (Keluaran 34:27-35). Bagian inilah yang kemudian menjadi latar belakang pengupasan Paulus di 2 Korintus 3:7-18 ini. Ketika Musa akhirnya turun Musa dari puncak gunung itu membawa kembali dua loh batu yang dia buat, orang Israel begitu ketakutan melihat wajah Musa. Mereka kaget melihat wajah Musa bersinar karena kemuliaan Allah bersinar pada wajah Musa. Maka Musa memakai kerudung untuk menutupi wajahnya (Keluaran 34:35). Dalam 2 Korintus 3, Paulus menjelaskan dengan membandingkan ini dengan apa yang kita terima sekarang di dalam Kristus. Paulus mengatakan hukum Taurat itu baik, suci dan benar; Tuhan Allah menaruh itu untuk menyatakan inilah sifat Allah yang baik, suci dan benar. Namun ketika sampai ke tangan manusia, manusia yang berdosa tidak akan mungkin bisa melakukan semua itu untuk bisa mendapatkan kebenaran. Kalau memang tidak ada manusia yang bisa melakukannya dengan sempurna, kenapa hukum Taurat itu Allah beri? Karena hukum itu adalah hukum yang menyatakan kemuliaan Allah. Sekalipun mereka tidak bisa lakukan, tetap Allah memberikan hukum itu untuk memberitahukan karena inilah standar kesucian dan kemuliaan Allah. Kita hanya bisa melakukan apa yang benar dan baik berdasarkan standar manusia. Kalau standarnya standar manusia maka kita rasa kita lebih hebat, lebih baik, lebih suci dibandingkan dengan orang lain, kita bisa berbangga diri. Tetapi kalau memakai standarnya Allah, kesucian dan kemuliaan dan kekudusanNya dan kebenaranNya, kita tahu kita tidak mungkin bisa mengerjakan dan melakukannya. Sehingga Paulus katakan hukum yang benar dan suci itu diberikan supaya manusia menyadari bahwa dia perlu Tuhan, menantikan satu hari kelak bagaimana Tuhan itu menyatakan anugerahNya. Karena kita tidak sanggup dan tidak mampu, maka setiap hari kita datang dan kita minta Tuhan berbelas kasihan kepada kita dan mengampuni kita yang lemah dan berdosa ini. Tetapi sebaliknya, orang-orang Yahudi menerima hukum Taurat ini kemudian merasa bangga dan sombong, mereka pikir bahwa dengan melakukannya dan menjalankannya, mereka mendapatkan keselamatan. Paulus mengatakan, “Tidak seperti Musa yang menyelubungi mukanya supaya mata orang-orang Israel jangan melihat cahaya yang sementara itu” (3 Korintus 3:13). Dengan Musa menutup wajahnya, sebenarnya ada dua hal yang terjadi di situ. Memang tidak terjadi penghukuman kepada orang Israel karena wajahnya ditutup, tetapi sekaligus mereka tidak bisa melihat kemuliaan Allah. Cahaya kemuliaan Allah begitu terang melebihi terangnya sinar matahari, bertemu dengan kemuliaan itu tidak ada satu pun manusia yang bisa selamat karena kita begitu najis di hadapan kesucian Allah.

Kita mengucap syukur, Kristuslah yang telah mengangkat dan menyingkapkan selubung itu karena Kristus sendiri telah menjadi selubung yang menutupi kita sehingga penghukuman Allah tidak jatuh kepada kita tetapi ditanggungkan di atas Dia. Sehingga ketika Kristus sudah melakukan itu maka sekarang dia membukakan selubung itu sehingga engkau dan saya bisa mempunyai akses kepada kesucian dan kekudusan Allah walaupun kita adalah orang yang berdosa karena di depan kita ada kesucian dan kemuliaan Kristus yang telah menutupi kita. Maka, kata Paulus, itulah hartaku, itulah Injil, itulah kabar baik, itulah sebabnya mengapa aku pergi memberitakan Injil karena itulah pengharapan yang dibutuhkan oleh dunia ini. Kristuslah jalan satu-satunya dan keselamatan yang dinantikan dan diharapkan oleh dunia ini.

Maka Paulus memberikan perbandingan ini. Pertama: jikalau hukum Taurat yang telah Allah berikan melalui Musa hanya untuk menyatakan kita tidak sanggup untuk melakukan maka kita akan dihukum Allah, hukum Taurat itu datang dalam kemuliaan, terlebih lagi Yesus Kristus datang menawarkan keselamatan hidup karena penghukuman itu telah ditanggung oleh Dia. Betapa mulianya kemuliaan itu! Yang kedua, Musa menudungkan wajahnya yang bersinar dan bercahaya supaya orang Israel tidak melihat kemuliaan Allah dan pelan-pelan cahaya itu akan pudar. Kita mengucap syukur kepada Tuhan, kita mungkin punya muka tidak bersinar seperti Musa, tetapi Alkitab berkata hidupmu akan terus mengalami kemuliaan demi kemuliaan, bersinar lebih indah karena Tuhan Yesus Kristus. Itu yang dikatakan oleh Paulus, “And we all, with unveiled face, beholding the glory of the Lord, are being transformed into the same image from one degree of glory to another. For this comes from the Lord who is the Spirit” (2 Korintus 3:18). Pada waktu kita menerima Injil dan pada waktu Yesus Kristus mati menggantikan kita, Ia mengangkat selubung pemberontakan kita, Roh Allah memampukan kita membuang dewa ilah-ilah berhala dari hati kita. Maka hati yang sudah diubah oleh Roh Allah itu akan menjadikan hidup kita sebagai anak-anak Tuhan semakin lama ikut Tuhan, Ia akan merubah kita makin indah dalam kesucian dan kemuliaanNya. Biarlah dunia tertarik melihat orang-orang yang mengenal Kristus dan Injil Tuhan telah merubah hidupnya, orang itu memberikan perubahan yang luar biasa dalam hidup orang lain.

Kiranya Roh Allah bekerja mengangkat selubung mata kita sehingga kita bisa melihat Yesus Kristus sebagai harta dan pengharapan hidup kita. Mungkin hati kita selama ini masih terikat dengan berhala-berhala. Mungkin itu bukan berupa patung tetapi berhala kita percaya kepada diri sendiri, kepada kehebatan kita, kepada kekayaan kita, yang menjadi selubung yang membuat kita tidak melihat Dia. Paulus pernah mengalami pengalaman itu. Berhala dia adalah kesalehan agamanya, kesombongan dan arogansinya, merasa diri paling baik dan berapi-api berjuang bagi agamanya. Namun ketika Roh Allah bekerja membuka selubung itu, ketika Allah bekerja merubah hati seseorang, Dia akan mengangkat semua berhala yang menghalangi kita sehingga kita bisa melihat dan mengenal Allah dengan benar. Mari kita terima dan hargai Kristus di dalam hidup kita lebih daripada segala-galanya. Jangan gantikan imanmu kepada Kristus dengan yang lain karena yang paling berharga, yang paling bernilai dalam hidup engkau dan saya adalah Tuhan Yesus Kristus, lebih daripada semua yang lain.(kz)