Bagaimana menghadapi Kematian

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi: Surat 2 Korintus [6]
Tema: Bagaimana menghadapi Kematian
Nats: 2 Korintus 4:14-18

Firman Tuhan yang dituliskan oleh rasul Paulus di perikop ini merupakan bagian yang sangat indah dan sangat menghibur luar biasa, yang memberikan kepada kita perspektif iman Kristen yang benar pada waktu kita memasuki proses hidup kita yang menua dan satu hari kelak akan meninggalkan dunia ini. Satu perspektif teologi yang benar pasti akan membuat engkau dan saya sanggup melewati dengan benar pula perjalanan kita yang berat, susah dan sulit adanya. Tetapi sebaliknya satu perspektif yang keliru dan pengharapan yang palsu, yang mengajarkan kalau kita mengikuti Tuhan berarti tidak ada kesulitan dan sakit penyakit terjadi dalam hidup kita, dan jikalau kita tidak sukses dan mengalami kebangkrutan dalam hidup kita, atau kita mengalami sakit berarti iman kita tidak beres di hadapan Tuhan, itu adalah perspektif yang keliru dan menyesatkan. Dengan cara pandang seperti itu, ketika realita penyakit bahkan kematian yang mendadak di dalam hidup orang yang kita kasihi terjadi di tengah kita, kita tidak sanggup melihat itu sebagai anugerah penyertaan dan Tuhan berkarya di dalamnya. Yang kita lihat itu sebagai hukuman Tuhan kepada kita, atau yang membuat kita akhirnya menghina diri kita atau menganggap iman kita yang salah di hadapan Tuhan. Atau bisa jadi kita mempersalahkan isteri, suami atau keluarga kita bahwa mereka adalah orang yang tidak sungguh-sungguh ikut Tuhan.

Paulus dalam bagian ini berbicara mengenai proses bagaimana dia menjadi tua dan bagaimana dia menghadapi kesulitan dan penderitaan yang dialami. Sejujurnya, tidak ada di antara kita yang saat ini mau memikirkan akan hal kematian. Semua itu mungkin baru terlintas di dalam pikiran kita saat kita sedang terbaring sakit dan hari-hari terakhir makin mendekat. Tetapi perlu dan penting sekali justru di saat kita sedang sehat dan kuat, kita memikirkan dan menempatkan hal ini dengan tepat dan benar sebagai orang-orang yang sudah berada di dalam kasih karunia Tuhan.

Paulus berkata, “Sebab itu kami tidak tawar hati tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari” (2 Korintus 4:16). Paulus bersyukur dalam hidupnya yang makin menua itu dan dalam keadaan sakit dan mungkin akan segera mati, semua itu bisa dan dapat dia jalani dengan sabar dan tabah, dan dia tidak pernah undur dan kecewa di dalam ikut Tuhan. Apa yang menyebabkan Paulus bisa kuat dan tahan menghadapi semua itu? Pertama, karena Paulus menaruh satu perspektif, sikap dan attitude dia di hadapan Tuhan, kenapa dia melayani Tuhan; Ialah Tuhan yang dia layani, walaupun tempat pelayanan, keadaan dan situasi hidupnya melayani begitu berat dan menyebabkan air mata, keringat dan darah dicurahkan, dia tidak pernah merasa kecewa kepada Tuhan. Yang kedua, dia tahu Injil itu adalah harta yang begitu berarti dan begitu berharga dalam hidup dia yang tidak akan dia ganti dengan apa pun. Harta itu Tuhan letakkan di dalam bejana dari tanah liat yaitu tubuh fisik ini yang gampang sekali retak. Yang ketiga, dia mengenal dirinya yang adalah manusia yang lemah dan terbatas. Kita harus senantiasa ingat kita bukan superman yang kebal terhadap segala sakit-penyakit dan kelemahan.

Hari ini kita melihat secara khusus perspektif Paulus mengenai bagaimana orang Kristen menghadapi kematian yang ada di depan. Yang pertama, Paulus mengajar kita untuk mempunyai sikap yang positif, kita tidak perlu takut menghadapi kematian karena kematian telah dikalahkan oleh Yesus Kristus. Maka di tengah-tengah penderitaan dan sakitnya Paulus mengatakan inilah perspektif yang harus kita miliki karena kematian sudah dikalahkan oleh kematian Yesus Kristus, sehingga satu kali kelak pada waktu kita menghadapi kematian pasti kita akan dibangkitkan dan hidup bersama-sama dengan Yesus Kristus. Dengan perspektif seperti itu maka Paulus mengatakan, “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami” (2 Korintus 4:17). Sudah tentu Paulus tidak meremehkan dan mengecilkan penderitaan yang dia alami saat dia mengatakan penderitaan ringan yang sekarang ini. Paulus adalah salah seorang hamba Tuhan yang mengalami penderitaan fisik yang luar biasa berat. Paulus didera, Paulus dilempari batu, Paulus mengalami ketelanjangan, dipenjara, dsb. Namun dia mengatakan apa yang dia alami adalah penderitaan yang ringan baginya. Kalimat ini tidak berarti Alkitab mengecilkan beratnya penderitaan dan air mata yang dialami oleh orang. Tetapi justru Alkitab memberitahukan kepada kita Tuhan yang kita sembah itu bukanlah Tuhan yang jauh dan yang tidak mengalami dan merasakan bersama-sama dengan penderitaan kita. Sehingga penulis Ibrani berkata, “Sebab Imam Besar yang kita punya bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita” (Ibrani 4:15). Yesus Kristus adalah Imam Besar yang datang ke dalam dunia menjadi manusia dan mengalami penderitaan-penderitaan yang sama seperti kita, supaya Dia bisa mengerti dan mengenal kesulitan dan pergumulan yang kita alami. Waktu Yesus berjalan bersama Marta dan Maria yang menangis tersedu-sedu karena saudara laki-laki yang mereka kasihi yaitu Lazarus telah meninggal, sampai di depan kubur, Alkitab mencatat, masygullah hati Yesus dan Ia menangis di depan kubur sahabat yang Ia kasihi (Yohanes 11:33-35). Semua itu memberitahukan kepada kita penderitaan itu real dan perasaan orang-orang yang mengalami penderitaan itu begitu berat dan begitu dahsyat adanya. Namun puji Tuhan, firman Tuhan mengajarkan kita, kita jangan membandingkan penderitaan kita dengan penderitaan orang lain. Kita tidak bisa dan kita juga tidak membandingkan kesulitan dan penderitaan kita dengan kesulitan dan penderitaan orang lain yang lebih berat untuk membuat hati kita lega, karena orang lain punya lebih berat. Demikian juga sebaliknya, ketika kita bandingkan penderitaan kita dengan orang lain kita malah bisa kecewa ketika melihat penderitaan orang lain tidak seberat penderitaan yang kita alami. Akhirnya kita mempersalahkan Tuhan kenapa penderitaan saya lebih berat daripada penderitaan dia? Paulus mengatakan penderitaan dia menjadi ringan karena dia membandingkannya dengan kemuliaan yang Tuhan akan beri kepadanya kelak. Itulah cara kita melihat yang benar. Tuhan tidak berjanji kita tidak akan menghadapi penderitaan, dan Tuhan juga tidak menjamin bahwa tidak akan ada kematian di tengah-tengah kita. Tetapi pada waktu kita mengalaminya dan menghadapinya kita perlu persepektif yang benar ini. Di situlah yang akan membedakan iman Kristen dengan pengharapan yang semu dari kepercayaan-kepercayaan yang dimiliki oleh manusia. Kenapa? Karena tidak ada satupun orang di atas muka bumi ini yang pernah hidup lagi setelah mati, tidak ada satupun orang yang telah bangkit dan tidak ada jenazahnya di atas muka bumi ini, kecuali Yesus Kristus. “Karena kami tahu bahwa Ia yang telah membangkitkan Tuhan Yesus akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diriNya” (2 Korintus 4:14). Karena kematian itu telah dikalahkan oleh Yesus Kristus, itulah sebabnya satu kali kelak kita semua akan dibangkitkan. Maka penderitaan yang sekarang ini sekalipun itu besar, berat dan susah, namun menjadi ringan pada waktu saya bandingkan dengan kemuliaan dan sukacita yang akan kita terima kelak. Di situ tidak ada lagi air mata, tidak akan ada lagi sakit penyakit pada waktu melihat kemuliaan yang akan kita terima bersama dengan Tuhan Yesus Kristus. Hal ini tidak berarti tidak ada proses kita mengalami kesedihan; hal ini tidak berarti bahwa pada waktu kita mengalami sakit atau ada kematian yang terjadi lalu kita dengan cepat senang dan bersyukur lalu menganggap seolah itu tidak pernah ada dalam hidup kita. Alkitab tidak mengajar kita seperti itu. Alkitab memperlihatkan kepada kita ada sakit, ada proses duka pada diri orang melewati penderitaan. Kita hanya bisa duduk mendampingi di sisinya dan mengasihi orang yang sedang mengalami penderitaan itu. Kita tidak perlu berkata apa-apa, kecuali bahwa kita ada di situ bersama dia melewati proses dia mengalami kesedihan seperti itu. Namun saat kita melewati proses griefing itu, kita tidak boleh seperti orang-orang yang tidak punya pengharapan yaitu dimana kesedihan itu melingkupi kita akhirnya kesedihan itu mengalahkan kita dan kita tidak sanggup bisa melakukan apa-apa lagi. Dalam 1 Tesalonika 4:13-14, Paulus berkata, “Selanjutnya kami tidak mau bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.” Kuasa kebangkitan Yesus seharusnya memberi kita kekuatan dan kuasa kemenangan sehingga kita boleh melewati akan hal itu. Bahkan lebih daripada itu kuasa kebangkitan itu bisa menggantikan hal yang berat dan susah dalam hidup kita menjadi berkat bagi orang lain. Kiranya hati kita dihiburkan oleh perkataan ini, khususnya pada waktu sdr juga sedang menghadapi kedukaan atau sedang menghadapi kematian, itulah yang sanggup membuat kita tidak lumpuh oleh kesedihan itu. Apa yang dimaksudkan dengan jangan berdukacita sama seperti orang yang tidak percaya Tuhan berduka. Saya tidak mengabaikan kesedihan dan kedukaan yang mungkin bisa berjalan sekian waktu pada orang-orang yang kehilangan sanak famili dan keluarganya. Namun jikalau kepergian dari orang yang dikasihi itu menghantui, merusak dan melumpuhkan hidupnya, sehingga mengabaikan hal-hal yang lain dan itu berjalan sampai belasan bahkan puluhan tahun, dia tidak bisa lepas dari kesedihan itu, ijinkan pada hari ini firman Tuhan mengingatkan engkau jika engkau diikat dengan kesedihan seperti itu, biar kiranya firman Tuhan ini memberi kekuatan kepadamu.
Paulus berkata “Karena kami tahu jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di surga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal yang tidak dibuat oleh tangan manusia” (2 Korintus 5:1). Perspektif kedua bagaimana kita sebagai anak-anak Tuhan menghadapi kematian dengan melihat hidup ini adalah kemah yang sementara yang satu hari kelak akan dibongkar tetapi bukan untuk dihancurkan karena Allah akan menggantikannya dengan bangunan yang permanen. Paulus pakai kata kemah, ini jelas menunjukkan hidup ini sesuatu yang tidak permanen dan hanya sementara dalam dunia ini. Kita memang tidak akan ada selama-lamanya dalam dunia ini. Ketika waktu terus berjalan, kita tahu ada dua proses yang senantiasa akan melawan hidup kita yaitu sakit dan kematian. Kita hanya bisa bersyukur kepada Tuhan bahwa kita hidup di dalam jaman seperti ini, dengan kemajuan ilmu pengetahuan, kemajuan pengobatan dan kemajuan teknologi membuat penyakit yang dahulu tidak bisa disembuhkan, sekarang bisa disembuhkan. Kia mengucap syukur akan hal itu. Namun salahlah kita dan kelirulah kita kalau kita mempunyai persepsi bahwa pengobatan itu harus menyembuhkan kita. Dan pada waktu sakit dan penderitaan datang, kita mencari pengobatan dimana saja, kemana saja, berapa besar pun biayamya asalkan bisa sembuh. Tidak sedikit orang Kristen yang akhirnya mengabaikan nilai-nilai etis, bahkan tega mengorbankan orang lain demi kesembuhan itu sendiri. Sekali lagi, kita tidak dilarang untuk mencari kesembuhan, tetapi kita tidak bisa memaksa untuk kemudian kita harus sehat, kita harus sembuh. Salahlah perspektif kita bahwa kita ingin hidup kita itu ada selama-lamanya. Seringkali juga sebagai anak kita ingin memberikan yang terbaik kepada orang tua kita sehingga pada waktu dia jatuh sakit, kita rela membiayai pengobatannya sampai habis-habisan. Atau ketika kita sakit dan membutuhkan transplantasi organ, kita dengan segala cara mencari jalan sampai cari di pasar gelap tanpa pernah memikirkan mungkin ada orang yang tereksploitasi dan kita rugikan untuk semata-mata kesehatan diri kita, semata-mata supaya kita sembuh.

Maka hal yang pertama, Paulus katakan, “Sebab selama masih diam di dalam kemah ini kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama” (2 Korintus 5:4). Maka kita juga harus mempersiapkan hati karena kita tahu bahwa pada waktu kita tahu hidup kita di dunia ini hanya sementara dan satu kali kelak kemah ini akan dibongkar, Tuhan akan memberikan yang lebih permanen. Kalau Tuhan memberikan kesembuhan dan memperpanjang umur kita, maka kita bertanya, apa maksud Tuhan bagi saya, untuk apa dan apa tujuannya Tuhan memberikan kesembuhan itu untuk hidupku? Dan kalau sakit itu terjadi panjang dan lama dalam hidupku, saya tidak boleh memaksakan bahwa saya harus sembuh dan penyakit itu hilang dari hidupku. Itulah perspektif kita sebagai orang Kristen.

Francis Schaeffer, pendiri L’Abri dan seorang teolog Reformed yang sangat baik, pada waktu mendapat diagnosa dokter bahwa dia terjangkit kanker lymphoma stadium lanjut, maka dia mendiskusikan bersama isteri dan dokternya, apa langkah-langkah yang harus dia ambil. Pertama-tama, dia tanya kepada dokternya, kemungkinan untuk sembuh berapa persen, lalu kemungkinan untuk survive ada atau tidak, berapa sisa waktu yang dia miliki kalau tidak mengambil pengobatan. Lalu kemudian setelah diskusi dan berbicara dengan isteri dan keluarga, dia ambil keputusan untuk tidak menjalani pengobatan dan memilih tinggal di rumah. Lalu kemudian di hari-hari terakhir hidupnya, dia mengundang teman-temannya terdekat untuk datang ke rumahnya. Mereka makan bersama, beribadah dan menikmati musik, bercakap-cakap di sekitar dia.

Hal kedua dari ayat di atas, Paulus katakan karena kami tahu kemah hidup yang sekarang ini pasti akan dibongkar karena memang naturnya begitu. Tetapi Tuhan berjanji akan membangkitkan kita dengan tubuh yang mulia yang tidak akan mati lagi dan digerogoti oleh sakit penyakit. Itulah pengharapan kita.
Hal yang ketiga, Paulus katakan, “Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah meskipun kami sadar bahwa selama kami masih mendiami tubuh ini kami masih jauh dari Tuhan, sebab hidup kami ini adalah karena percaya, bukan karena melihat. Tetapi hati kami tabah dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan. Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini maupun kami diam di luarnya supaya kami berkenan kepadaNya” (2 Korintus 5:6-9). Kita mengucap syukur kepada Tuhan, kita percaya bahwa kematian telah dikalahkan oleh kematian dan kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus menjadi jaminan bahwa satu kali kelak kita juga akan dibangkitkan dan dikumpulkan bersama-sama dengan Tuhan. Namun pandangan seperti ini tidaklah menjadi alasan bagi orang Kristen untuk hidup dengan sembarangan dan tidak menjadikan hidupnya berarti dan menjadi berkat bagi orang lain. Jangan punya pikiran sekali selamat sudah selamat dan tidak peduli bagaimana kita hidup adanya. Alkitab tidak mengajarkan prinsip seperti itu.

Maka inilah tiga hal yang menjadi prinsip kita sekarang bagaimana menghadapi kematian kita. Satu kali kelak saya akan sakit, saya tidak bisa pilih sakitnya, saya tidak bisa pilih cara mati saya. Tetapi sudah pasti saya sedang menuju ke sana. Bagaimana saya jalani hidup ini? Pertama, jalani hidup dengan berani, sabar dan tabah. Yang kedua, memang ini adalah perjalanan hidup bukan dengan melihat tetapi dengan iman. Kita belum tahu apa yang ada di depan dan belum terbukti, tetapi saya percaya saya akan dibangkitkan dalam Tuhan, itu sebab saya berjalan dengan iman sehingga saya sabar dan tabah menjalaninya. Yang ketiga, apapun yang saya kerjakan dan lakukan, aku akan selalu berusaha memperkenan Tuhan dalam hidup saya.

Yang terakhir, tibalah saatnya kita perlu berbicara mengenai surga. Mungkin pandangan dan harapan umum manusia adalah orang-orang yang meninggal kalau itu orang baik, pasti dia akan pergi ke satu tempat yang namanya surga untuk dia menikmati segala sesuatu. Namun Alkitab mengatakan tidak ada satu orang pun yang baik dan tidak ada satu orang pun yang berkenan kepada Tuhan (Roma 3:23). Kalau kita semua setuju bahwa surga adalah rumahnya Tuhan, tempat kediaman Tuhan, dan setelah kita meninggal kemudian kita akan pergi berdiri di depan rumah Tuhan itu, bagaimana engkau akan menjawab jikalau Tuhan bertanya, berikan satu alasan saja apa yang membuat Aku wajib membuka dan mengijinkan engkau masuk ke dalam rumahKu? Di situ akhirnya manusia harus menyadari, kekayaan kita tidak bisa kita pakai menjadi alasan Allah wajib mengijinkan saya masuk surgaNya karena saya adalah orang kaya. Tuhan akan mengatakan, Aku punya kekayaan yang jauh lebih besar daripada engkau. Apa lagi? Kehebatan? Kesuksesan? Ketenaran? Kuasa? Gelar? Tidak ada. Bahkan kita tidak bisa membawa perbuatan baik kita di hadapan Allah. Kita tidak bisa bilang, “The only reason I think I deserve to enter Your heaven, o God, it is because I am a really good man.”

Maka hari ini kita perlu tuntas bicara mengenai surga sebab pada waktu Paulus bicara bagian ini, dia memberikan kepada kita sesuatu kekuatan yang indah luar biasa, Kristus yang turun dari surga dan datang ke dunia, yang telah mati dan bangkit, melalui Dialah kita diberi tahu, kita tidak bisa naik ke surga sana kecuali Dia yang turun dan menyelesaikan persoalan dosa kita dengan kematianNya di kayu salib maka di dalam Dia kita memperoleh hidup yang kekal dan masuk ke dalam surga. Kita perlu berbicara akan surga dalam pengertian yang seperti ini. Yang kedua, maka Paulus ingatkan kita pada waktu kita akan berjumpa dengan Allah, bukan saja keindahan dan kebaikan yang akan Tuhan beri kepada kita, tetapi itu adalah moment dan saat keadilan Allah yang sempurna itu akan dinyatakan. Dengan demikian kita akan betul-betul menikmati satu harapan dan sukacita. Selama di dunia engkau dan saya mungkin diperlakukan tidak adil, dan inilah saatnya keadilan Allah dinyatakan dan memberikan sukacita kepada kita. Sebaliknya, yang dulu kita pikir itu adalah kebaikan dan keadilan kita, dan pada waktu kita berhadapan dengan Allah yang adil, kita dipermalukan oleh keadilan Allah itu. “Sebab kita semua harus menghadap tahta pengadilan Kristus supaya setiap orang memperoleh apa yang patut baginya sesuai dengan yang dilakukannya dalam dunia ini, baik ataupun jahat” (2 Korintus 5:10).(kz)