Kita Semua adalah Pelayan Kristus

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat 2 Korintus [3]
Tema: Kita Semua adalah Pelayan Kristus
Nats: 2 Korintus 2:12 – 3:6

Siapakah yang disebut dengan pelayan Kristus? Seringkali kita berpikir bahwa pelayan Kristus adalah kelompok rohaniawan, para pendeta dan hamba-hamba Tuhan, mereka yang kita bayar dengan full time. Mereka yang masuk seminari dan sekolah teologi, merekalah yang melayani, lalu kita semua orang-orang yang dilayani. Itu adalah konsep yang keliru dan kita harus menyingkirkan konsep seperti itu. Yesus Kristus tidak pernah masuk seminari dan bukan datang dari keturunan imam. Itu sebab mengapa orang Farisi dan ahli Taurat menghina dan memandang rendah akan Yesus Kristus. Siapa orang ini? Bukankah Dia anak tukang kayu? (Matius 13:55). Semua murid-murid yang Ia panggil pun bukanlah dari latang belakang imam atau melayani di Bait Allah pada waktu itu. Mereka adalah nelayan, mereka adalah pemungut cukai. Namun mereka tahu pada waktu mereka percaya Tuhan, mereka telah ditebus oleh Tuhan, hidup mereka sepenuhnya mereka abdikan untuk melayani Tuhan. Demikian juga kita yang percaya Tuhan, kita yang telah ditebus oleh Tuhan, hidup kita sepenuhnya milik Tuhan dan kita pakai melayani Tuhan. Maka kita semua adalah pelayan-pelayan Kristus.

Paulus di sini juga mengatakan “Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang” (2 Korintus 3:2). Kita semua yang ditebus oleh Tuhan adalah surat yang dibaca oleh semua orang. Tidak gampang dan tidak mudah hidup seperti itu. Mari coba kita bayangkan kalau sdr dan saya itu mirip seperti orang yang ditaruh di etalase kaca sementara orang yang lewat terus melihat kita dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Betapa tidak nyaman, bukan? Kita bertemu dengan orang, berkenalan dan salaman, lalu dia melihatmu dari kepala sampai ujung kaki, ke atas ke bawah. Kita juga akan merasa risih dilihat seperti itu. Tetapi Paulus mengatakan, engkau adalah surat-surat Kristus yang dibaca orang. Kita tidak bisa tutup hidup kita. Kita tidak sempurna. Kita takut dilihat karena kita tahu kita tidak sempurna, tetapi kita berjuang menuju ke situ. Kita rindukan waktu orang membaca hidup kita, mereka membaca pujian syukur, mereka melihat dedikasi kita, mereka melihat Kristus di dalamnya.

Jemaat Korintus adalah jemaat yang Paulus mulai dan dia bina dari awal. Dengan pengorbanan besar dia berjuang melayani dengan tidak terima dukungan finansial apa-apa di situ. Dia bekerja dengan tangannya membikin tenda dan menjual tenda selama delapan belas bulan dia tinggal di sana (Kisah Rasul 18:1-11). Namun dari surat 2 Korintus ini kita bisa melihat pengalaman hidup Paulus betapa berat luar biasa karena perlakuan jemaat Korintus kepadanya membuat Paulus mengalami air mata dan kepedihan menghadapi kesulitannya dan kekecewaannya kepada jemaat ini. Ikut Tuhan itu seperti demikian, penuh dengan kegelisahan jiwa karena kita mencintai dan mengasihi Tuhan. Kita juga bisa saksikan itu dalam hidup dari John Calvin pada waktu dia melayani di Geneva. Ketika dia melayani di situ dan menegur satu orang yang menjabat posisi penting di dalam pemerintahan di kota itu dan orang itu tidak senang lalu kemudian Calvin dipermalukan dan diusir keluar dari kota Geneva. Dalam hidup kita, Kita bisa melihat orang yang cinta Tuhan dan pelayanan, berjuang setengah mati, tetapi waktu yang tersisa dia pakai untuk pelayanan, tetapi tidak berarti perjalanan hidupnya lebih lancar. Dia bergumul dengan susah payah, pulang jam 2 subuh tetap mau melayani Tuhan. Tetapi di tengah hal seperti itu orang tuanya jatuh sakit, kita bisa mendengar dia mengalami kecelakaan, dsb. Ada orang yang mengambil keputusan serahkan diri mau menjadi hamba Tuhan, lalu kemudian tidak berapa lama dia jatuh sakit. Dan betapa berat luar biasa bukan, ketika dia mengalami tantangan dari keluarga yang belum mengenal Tuhan dan mereka bisa berkata, “Katanya mau melayani Tuhan, tetapi Tuhan yang engkau layani mengapa memberikan sakit yang seperti itu?” Ada orang yang melepaskan segala sesuatu untuk mendedikasi diri menjadi misionari. Dia mau pelayanan, dia perlu dukungan dana dari orang-orang untuk bisa mendukung pelayanannya. Tetapi satu persatu orang-orang yang dia harapkan mendukung dia menarik diri. Hal-hal seperti itu kadang-kadang membuat kita punya jiwa berat luar biasa. Pelayanan bagi Tuhan tidak gampang dan tidak mudah. Kita bisa undur dan kecewa ketika kita ingin memberikan yang terbaik tetapi justru tekanan, kesulitan, dan kata-kata yang negatif yang kita dapatkan. Kita mengalami tekanan dan pressure yang tidak gampang dan tidak mudah. Kita juga bisa mengalami kesedihan yang besar pada waktu melihat anak kita mengambil keputusan yang tidak bijaksana. Orang yang melayani Tuhan, begitu cinta dan mengasihi Tuhan, lalu kemudian tekanan dan kesulitan pekerjaan terus silih berganti datang sampai akhirnya dipecat dan kehilangan pekerjaan itu. Ada seorang hamba Tuhan yang pergi ke satu tempat untuk membuka ladang misi, begitu lama melayani di situ tidak ada buah Injil dihasilkan, tidak mendapatkan respon yang positif dan perlawanan yang begitu besar dan berat dari orang-orang setempat.

Paulus mengatakan, “Ketika aku tiba di Troas untuk memberitakan Injil Kristus, aku dapati bahwa Tuhan telah membuka jalan untuk pekerjaan di sana. Tetapi hatiku tidak merasa tenang karena aku tidak menjumpai saudaraku Titus. Sebab itu aku minta diri dan berangkat ke Makedonia” (2 Korintus 2:12-13). Di Troas Tuhan buka jalan di situ dan ada banyak orang mendengar Injil dan percaya Tuhan. Tetapi hati Paulus tidak tenang. Dalam bahasa Inggrisnya pakai kata excruciating anxiety, kegelisahan yang makin lama makin dalam, hatinya teraduk-aduk, my soul never rest. Dari konteks latar belakangnya kita bisa mengira-ngira apa yang terjadi antara Paulus dengan jemaat Korintus. Setelah Paulus delapan belas bulan berada di Korintus, memulai pelayanan dan gereja di sana, dia pergi sebentar, dan pada waktu dia kembali ke Korintus, terjadilah sesuatu perjumpaan yang penuh dengan air mata. Ada orang yang mempertanyakan motivasi pelayanan dia pada waktu Paulus mencanangkan pengumpulan uang untuk membantu jemaat di Yerusalem. Mungkin ada di antara mereka yang mengatakan Paulus ada motif yang tidak benar. Ada keraguan orang kepada dia. Belum lagi ditambah Paulus berjanji dia akan datang tetapi kemudian dia membatalkan rencana ini. Karena itu terjadilah satu hal yang sangat menyedihkan. Kita tidak tahu apa yang terjadi, tetapi yang kita tahu perkembangan yang terjadi dari hanya tindakan lalu kemudian mereka meragukan motivasi dia, dan kemudian berita Injil yang dia sampaikan kemudian juga dipertanyakan. Akhirnya dia keluar pergi dengan air mata dari Korintus, sampai di situ hatinya begitu gelisah dan tidak tenang. Maka dia utus Titus ke Korintus lalu berangkatlah dia kemudian ke Makedonia sambil tunggu berita apa yang didapat dari Titus. Paulus katakan, “Bahkan ketika kami tiba di Makedonia, kami tidak beroleh ketenangan bagi tubuh kami” (2 Korintus 7:5). Ada internal conflict, ada external pressure, itu yang dia alami di Makedonia. Itu yang kita sebut sebagai Pastoral Anxiety, kecemasan di dalam pelayanan, kegelisahan jiwa bukan karena soal kita berpikir mengenai diri tetapi kita harus menghadapi semua itu karena kita sungguh-sungguh concern kepada Tuhan dan pekerjaan Tuhan. Saya mau itu semua ada dalam diri kita masing-masing, kepada gereja ini, kepada setiap orang Kristen. Mari kita sama-sama memiliki sikap hati concern dan mengasihi pekerjaan Tuhan. Itulah yang membuat kita sungguh-sungguh berlutut, itulah yang membuat kita sungguh-sungguh bersembah sujud kepada Tuhan dan berjuang bagi pekerjaan Tuhan sampai akhir. Maka tidak heran Paulus ingatkan kepada jemaat Galatia, “Janganlah jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Galatia 6:9). Kita bisa jemu, kita bisa lemah. Kadang respon orang yang discouraged kita sehingga akhirnya kita mau berhenti melakukan hal-hal itu. Paulus katakan jangan lelah berbuat baik, karena pada waktunya engkau akan menuai hasil dan buahnya. Dan dari pengalaman hidup Paulus di sini kita belajar bagaimana bersikap dalam melayani Tuhan.

Sikap yang menjadi prinsip kita yang pertama adalah terima dan pegang baik-baik tantangan dan kesulitan dalam hidup dan pelayananmu, jadikan itu bagian dari hidupmu ikut Tuhan. Kita menjalani hidup bukan karena takut bagaimana pandangan orang kepada kita, tetapi karena kita cinta pelayanan dan pekerjaan Tuhan. Kita tidak boleh takut, kecewa dan menjadi lemah karena kita tahu bagaimana anugerah dan kasih Tuhan yang begitu besar dalam hidup kita karena memang kita cinta Tuhan dan kita cinta pekerjaan Tuhan. Kita sudah mengerti apa arti kasihNya, kita sudah terima itu. Dan sekarang kalau segala kasih dan kebaikan Tuhan penuh dalam diri kita, mari kita berikan itu dengan generous kepada orang. Itu tidak akan membuat kebaikan kita habis karena Allah yang baik beserta dengan kita; karena begitu besar penghiburan Tuhan sudah tinggal di dalam diri kita menjadi kekayaan yang berlimpah-limpah. Sehingga ketika kita memberikan penghiburan kepada orang dan pada waktu orang mungkin mengeluarkan hal yang tidak baik kepada penghiburan kita, dan malah meragukan dan mempertanyakan sehingga air mata kita keluar, tidak berarti kita kemudian kehilangan penghiburan karena penghiburan itu datang dari Tuhan. Kita punya kekayaan hati berlimpah dari Tuhan, kasih Tuhan itu begitu berlimpah dalam diri kita, kita bagikan sampai sebesar apapun tidak pernah membuat kasih kita habis, kosong dan minus karena kasih itu datangnya dari Tuhan walaupun orang itu tidak bayar hutang pelayanan kita kepada dia. Sekalipun engkau memberi dengan limpah dan banyak tetapi tidak mendapatkan balasan, tidak membuat hidupmu habis dan hilang dan kosong, karena datangnya dari atas.

Kita akan menemukan hal yang indah luar biasa kemudian terjadi. Dalam 2 Korintus 2:12-13 Paulus bicara tentang situasi yang dihadapinya membuat hatinya tidak tenang sebab itu dia berangkat meninggalkan Troas menuju Makedonia untuk menjumpai Titus. Lalu Paulus katakan ternyata situasinya semakin memburuk, yang dalam 2 Korintus 7:5-7 Paulus berkata, “Bahkan ketika kami tiba di Makedonia, kami tidak memperoleh ketenangan bagi tubuh kami. Dimana-mana kami mengalami kesusahan: dari luar ada pertengkaran dan dari dalam ada ketakutan.” Lalu dia sambung, “Tetapi Allah yang menghiburkan orang yang rendah hati, telah menghiburkan kami dengan kedatangan Titus. Bukan hanya oleh kedatangannya saja, tetapi juga oleh penghiburan yang dinikmatinya di tengah-tengah kamu. Karena ia telah memberitahukan kepada kami tentang kerinduanmu, keluhanmu, kesungguhanmu untuk membela aku, sehingga makin bertambahlah sukacitaku.” Di tengah-tengah kegalauannya dalam 2 Korintus 2:14, Paulus membawa hatinya untuk bersyukur kepada Allah. Inilah prinsip yang memimpin hati kita di saat kita sedang mengalami seperti apa yang seperti dialami oleh Paulus. Pada waktu dia mengalami kesedihan itu, saat air matanya mengalir sambil dia menulis surat ini, kemudian bagian ini menjadi satu prinsip yang betul-betul membimbing hatinya, maka dia mulai dengan kalimat, “Tetapi syukur kepada Allah karena di dalam Kristus Dia sedang membawa saya ke dalam jalan kemenanganNya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia dimana-mana.” Maka prinsip yang kedua, pelayanan kita itu adalah pelayanan jalan kemenangan, prosesi atau kemenangan, triumphal procession, itu kata yang dipakai. Bagi orang-orang yang tinggal di daerah jajahan Romawi, mereka sangat tahu apa yang Paulus maksudkan dengan kata parade kemenangan ini. Kerajaan Romawi waktu itu terus expanding memperluas wilayah jajahan dengan berperang mengalahkan kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Dan pada waktu mereka kembali ke Roma, di setiap kota di wilayah kekuasaan Romawi yang mereka lewati mereka akan melakukan parade kemenangan. Biasanya jenderal yang menang akan mengendarai kudanya paling depan bersama para tentaranya, lalu kemudian semua orang yang dikalahkan dari raja, para bangsawan, penduduk dan semua harta jarahan berjalan di belakangnya, itulah parade. Kemudian sampai di alun-alun kota, mereka akan disambut oleh para imam dari kuil yang membawa kemenyan dan dupa wangi-wangian. Itu sebab pada waktu Paulus katakan, “Dengan perantaraan kami Kristus menyebarkan keharumah pengenalan akan Dia dimana-mana. Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus, bau kehidupan yang menghidupkan di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa kami adalah bau kematian yang mematikan” (2 Korintus 2:15-16). Prosesi kita itu seperti bau yang harum sekaligus bau yang mematikan. Dengan imajinasi seperti ini Paulus menggambarkan jikalau parade waktu itu adalah parade dimana jenderal yang menang akan berdiri di depan, lalu semua orang yang sudah dikalahkan akan diborgol diikat, lalu semua jarahan akan diambil oleh jenderal itu. Berarti bagi orang yang sedang diparade ini adalah parade kematian, parade kekalahan, parade mereka dipermalukan. Tetapi Paulus men-twisted begini: pelayanan kita adalah pelayanan dimana Kristus adalah Panglima saya di depan. Dia sedang parade di dalam kemenangan. Kami yang di belakang dibawa dalam parade kemenanganNya, engkau dan saya telah ditangkap oleh Kristus yang sudah menang di dalam parade, tetapi parade kita bukan parade menuju kematian melainkan parade kemenangan. Kenapa? Karena Kristus yang sudah menang melewati perjalanan salib. Dia menang, karena Dia pernah diludahi; Dia menang, karena Dia pernah dipukul; Dia menang, karena ketika Dia dicaci-maki, Dia memberkati dalam pelayananNya. Orang-orang yang berdosa itu Dia ampuni. Itulah pelayanan Injil. Maka di sini Paulus membawa kita untuk punya perspektif yang jelas, perjalanan pelayanan kita adalah perjalanan pelayanan di jalan salib. Setiap anak Tuhan menjadi surat yang terbuka, yang mau melayani Tuhan karena engkau sudah ditebus oleh Tuhan, maka parade kita itu parade kemenangan tetapi parade itu parade kita berjalan dalam perjalanan salib. Kita tidak boleh abaikan kalimat penting dari Tuhan Yesus Kristus ini: barangsiapa yang mau menjadi muridKu dan mengikut Aku, dia harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya setiap hari (Lukas 9:23). Menyangkal diri berarti ada hal yang baik, ada hal keinginan kita, ada hal janji dan cita-cita kita, tetapi kita ambil keputusan untuk mengkorbankannya. Itu artinya menyangkal diri. Karena hidupku bukan milik aku lagi, sekalipun ada uang, ada kekayaan, ada kesuksesan, kita mungkin bisa katakan saya dapatkan itu semua dengan jerih payah, saya berhak pakai itu semua, mungkin kita bisa berkata begitu. Tetapi menyangkal diri berarti kita tidak boleh demi untuk diriku sendiri menikmati semuanya. Ada orang Kristen menyangkal diri mengatakan sekalipun saya bisa untuk pakai mobil yang mewah, saya memutuskan untuk pakai mobil] yang sederhana supaya uang itu bisa saya pergunakan bagi pekerjaan Tuhan. Itulah penyangkalan diri. Sdr ambil keputusan menggunakan sebagian uang yang ada untuk mendukung pekerjaan misi, itu yang namanya menyangkal diri. Atau pada waktu hal yang menjadi hakmu dilanggar, diambil dan direbut orang karena imanmu kepada Kristus, engkau menerima perlakuan itu, itu yang namanya menyangkal diri. Tetapi Kristus juga memanggil kita bukan hanya menyangkal diri tetapi juga pikul salib. Apa artinya pikul salib? Salib adalah sesuatu yang diberikan Tuhan secara khusus kepada kita, Tuhan panggil kita untuk berjalan dalam jalan kesulitan dan penderitaan saat kita ikut Tuhan kita Yesus Kristus. Walaupun berat dan sulit, itu bukan jalan menuju kematian, tetapi itu jalan menuju kepada kemenangan. Paulus bersyukur dia alami ini semua karena Tuhan sudah memberi contoh. Yesus sudah berjalan di dalam parade kemenangan itu maka saya ikut Dia. Tidak ada penghiburan yang sejati yang lebih besar daripada penghiburan ini. Puji Tuhan! Kita mengikuti Tuhan kita yang bukan saja berkata tetapi yang telah memberikan contoh teladan apa artinya melayani Dia. Saya tidak meremehkan dan saya tidak mengecilkan apa yang menjadi pengorbanan kita di dalam ikut Tuhan, tetapi pada waktu kita cinta dan ikut Tuhan, tidak ada pengorbanan yang kita rasa terlalu besar yang kita berikan bagiNya.

Prinsip yang ketiga, sikap pelayanan kita adalah karena kita tahu Injil itu adalah soal hidup dan mati. Banyak hal dalam hidup kita ketika kita mengambil keputusan, kita perlu tahu derajatnya berbeda-beda dan kita tidak boleh samakan semua. Tidak semua hal yang kita hadapi itu persoalan hidup mati. Ada hidup kita menghadapi pilihan yang bijaksana atau pilihan yang bodoh. Kita menyesal kalau keputusan kita tidak bijaksana, kita tanggung resikonya. Ada soal keputusan hidup kita itu soal benar salah. Ada persoalan hidup kita itu keputusan soal menang kalah. Tetapi jangan semua disamakan. Yang paling besar derajatnya adalah keputusan itu soal hidup mati. Begitu kita mengenal Injil Kristus, Yesus berkata, “Barangsiapa mendengar perkataanKu dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, dia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Tetapi barangsiapa tidak menerima Aku, dia akan tetap berada di dalam penghakiman Allah” (Yohanes 5:24). Disitu kita tahu hal percaya atau menolak Kristus, itu soal keputusan hidup dan mati. Maka Paulus katakan, bagi sebagian orang itu menjadi bau yang harum kehidupan, tetapi bagi sebagian orang yang lain, itu adalah bau kematian ketika mereka tidak mau terima dan mereka tidak mau percaya Tuhan. Itulah sebabnya kenapa kami mati-matian melayani dan betapa hidup kami, keputusan yang kami ambil, soal berat, susah, sukses, gagal, menang, kalah, rugi, untung, itu saya alami. Tetapi semua ini tidak akan pernah mengganggu saya, karena pada waktu saya pergi melayani memberitakan Injil meskipun susah berat dalam pelayanan, ini soal kekekalan, soal percaya Yesus adalah soal hidup dan mati, saya sedang berjuang dalam perkara hidup dan mati. Mari kita punya sikap seperti itu.

Terakhir, 2 Korintus 2:16b Paulus bertanya, “Tetapi siapakah yang sanggup menunaikan tugas yang demikian?” Maka 2 Korintus 3:5 jawabannya, “Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan itu seolah-olah itu adalah pekerjaan kami sendiri, tetapi kesanggupan kami adalah dari pekerjaan Allah.” Kadang-kadang kita rasa kita tidak sanggup. Tetapi kata Paulus, siapa yang sanggup? Secara manusia kita tidak sanggup. Kalau kelihatan sanggup, sesungguhnya itu karena pekerjaan Allah yang menyanggupkan kita. Memahami bahwa semua itu karena anugerah dan kasih karunia Tuhan yang tidak layak kita kerjakan dan lakukan, itu yang memberi kekuatan bagi kita. Kiranya Allah memberkati setiap kita. Kalau saat ini engkau letih dan lesu, merasa kecewa dan takut, anxiety dalam hidupmu karena engkau melayani dan mengasihi Tuhan, jangan lihat kegagalan itu sebagai sesuatu yang merugikanmu. Tetapi lihat itu terjadi karena engkau sungguh-sungguh cinta Tuhan. Cintailah Tuhan lebih lagi, maka engkau akan menyaksikan penghiburan dan kekuatan Tuhan yang luar biasa.(kz)