Integritas dan Keterlukaan dalam Hidup

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi: Surat 2 Korintus (2)
Tema: Integritas dan Keterlukaan dalam Hidup
Nats: 2 Korintus 1:12 – 2:11

Surat 2 Korintus adalah surat yang mengungkapkan ekspresi emosi yang sangat pribadi sekali dari rasul Paulus kepada satu jemaat yang dia katakan menjadi belahan jiwanya, menjadi teman yang paling dekat baginya. “Aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati tetapi supaya kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua” (2 Korintus 2:4). Kisah Rasul 18:1-11 mencatat delapan belas bulan lamanya Paulus berada di Korintus membangun dan melayani jemaat itu, dan kita menyaksikan betapa banyak tekanan-tekanan yang begitu besar, sehingga dia mengatakan, “Sebab kami mau supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati” (2 Korintus 1:8-9). Kata “penderitaan” dalam bahasa Yunani yang dipakai: thlipsis, menggambarkan tantangan dan tekanan yang begitu berat yang dia alami dari pihak luar, kekuatannya tidak sanggup untuk bisa mengatasinya. Paulus dengan terbuka menyatakan seperti itu tidak untuk mempersalahkan orang lain, tidak untuk mengasihani diri merasa kenapa hidupnya begitu susah dan tidak untuk mempersalahkan Tuhan memberinya tekanan kesulitan seperti itu. Tetapi di situ Paulus membawa jemaat melihat penghiburan Allah jauh lebih besar dari kesulitan yang dialaminya. Itulah sebabnya dari 30x Paulus menyebut kata comfort penghiburan di dalam seluruh suratnya, 10x kata itu muncul di dalam 2 Korintus 1:3-11. Boleh dikatakan di dalam 10 ayat itu 10x Paulus mengatakan penghiburan Allah menghibur kami sehingga kami boleh menghibur orang lain.

Apa yang dialami oleh Paulus mungkin juga kita alami sebagai anak-anak Tuhan yang hidup pada jaman ini, dan pada waktu sdr mengalami hal seperti itu, kiranya firman Tuhan ini menjadi berkat dan kekuatan bagi kita. Kita tahu ada banyak kesulitan seperti ini dialami oleh banyak anak-anak Tuhan. Kita melihat ada orang yang tidak habis-habisnya dilanda sakit, baru satu selesai, lanjut ke sakit yang lain menimpa orang itu. Ada ibu yang tidak habis-habisnya mencucurkan air mata melihat kesulitan yang dialami oleh anaknya yang tidak bijaksana dalam mengambil keputusan, atau kesulitan yang dilakukan oleh seorang anak yang tidak pernah dewasa di dalam hidupnya, yang bukan saja tidak mau bekerja tetapi memberikan kerugian yang besar bagi keluarga. Kita bisa mengasosiasikan pengalaman hidup kita seperti yang Paulus katakan, tekanan yang kita hadapi atas hidup begitu berat luar biasa. Tetapi semua itu terjadi supaya kita tidak bersandar kepada kekuatan diri sendiri tetapi kepada penghiburan dari Allah.

Dalam perikop yang kita baca ini (2 Korintus 1:12 – 2:11) kita akan masuk kepada satu bagian hardships yang terjadi bukan dari luar tetapi dari relasi internal, kedukaan dan keterlukaan yang terjadi di dalam relasi satu dengan yang lain. Pada waktu kita memulai satu hubungan yang serius dengan lawan jenis, lalu kita masuk ke dalam pernikahan, kita mempunyai anak, dsb, kita tidak akan terlepas dari kesulitan relasi karena ada dua pribadi yang berbeda, pandangan yang berbeda, karakter yang sama sekali berbeda. Selama-lamanya tidak ada orang yang sebenarnya tidak keras kepala, tidak ada sebenarnya orang yang tidak punya pendirian keras. Bedanya adalah ekspresinya yang berbeda-beda. Ada orang yang keras, bicaranya juga keras; ada isteri yang keras, tetapi bicaranya begitu lembut dan tidak pernah marah kepada suaminya, tetapi kalau dia sudah punya pendirian, tidak bisa digoyahkan dengan argumentasi apapun. Pada waktu kita tidak ingin mempunyai persoalan relasi seperti itu, kita hidup sendiri single, enak, bukan? Tidak ada orang yang mempersoalkan kapan kita pulang, mau makan apa, tidak ada yang meributkan bentuk badan kita, soal lifestyle kita, dsb. Tetapi begitu kita masuk ke dalam relasi pernikahan seperti itu, tidak bisa tidak, kedewasaan rohani dan kedewasaan kita sebagai satu pribadi adalah pada waktu kita belajar bagaimana take and give di dalamnya. Jangan pernah lelah di dalam membina relasi kita. Yang paling penting, pada waktu kita tahu itu adalah relasi yang patut kita jalani, mari kita tidak pernah lelah untuk menjadikan itu indah. Gereja sebagai satu persekutuan anak-anak Tuhan yang dipanggil sebagai orang yang berdosa keluar dari dunia ini, kita mempunyai begitu banyak hal yang berbeda. Tetapi kita tahu ada panggilan yang indah bagaimana kita boleh menjadi berkat bagi dunia ini. Itulah sebabnya kita senantiasa harus mengutamakan apa yang Tuhan berikan kepada kita bersama-sama di dalam dunia ini. Dan kita tahu apa yang menjadi penghalang hal ini tidak bisa terjadi adalah pada waktu ada relasi dan percekcokan dan perpecahan di dalamnya.

Dalam bagian ini Paulus bicara mengenai hubungannya dengan jemaat Korintus secara terbuka. Ada keretakan yang menciptakan kepedihan dan air mata yang luar biasa. Paulus berkata, “Jadi, adakah aku bertindak serampangan dalam merencanakan hal ini? Atau adakah aku membuat rencanaku itu menurut keinginanku sendiri sehingga padaku serentak terdapat “ya” dan “tidak”? (2 Korintus 1:17). Di sinilah letak persoalannya. Terjemahan NLT membantu kita mengerti lebih jelas, “You may be asking why I changed my plan. Do you think I make my plans carelessly? Do you think I am like people of the world who say yes when they really mean no?” Kita tidak tahu apa yang terjadi waktu Paulus datang mengunjungi kembali jemaat Korintus ini, yang kita dapat kesan kuat bahwa itu adalah kunjungannya yang membawa luka, kepedihan dan air mata, yang kemudian dia pergi meninggalkan Korintus. Sebelum dia pergi, dia mengatur rencana untuk datang lagi, namun kemudian dia merubah rencananya dan tidak jadi datang. Namun bagaimana sebenarnya hal sederhana sekali adalah soal rencana, soal keputusan satu tindakan, tiba-tiba bisa berubah menjadi bagaimana mereka menuduh Paulus tidak bisa dipegang omongannya, mereka mempersoalkan motivasi hati Paulus dan karakter Paulus. Bukan itu saja, dan lebih lagi selanjutnya mereka kemudian mempersoalkan integritas pelayanan Paulus dan kerasulan dia, sehingga mereka tidak lagi melihat apa yang dia ucapkan dan ajarkan sebagai Injil yang dikabarkan. Paulus kalau ngomong “ya” ternyata maksudnya “tidak” kemudian menjadi satu akibat yaitu kepada pemberitaan firman Tuhan, Injil Yesus Kristus menjadi sesuatu yang dipertaruhkan di situ. Itu yang terjadi di sini. Kenapa persoalannya sampai berkembang seperti ini? Bisa jadi setelah Paulus meninggalkan Korintus, ada orang-orang yang datang ke Korintus, yang disebut nanti sebagai pengajar-pengajar yang super spiritual mengatakan Paulus tidak sehebat orang-orang itu, sehingga kemudian mereka mempertanyakan otoritas kerasulan Paulus di tengah-tengah jemaat Korintus. Dan Paulus tidak mau itu terjadi. Itulah sebabnya Paulus berkata, “Inilah yang kami megahkan yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah” (2 Korintus 1:12). Ada dua hal yang Paulus angkat di sini. Yang pertama, Paulus bicara mengenai hati nurani. Lalu yang kedua dia bicara mengenai sincerity, ketulusan dan kemurnian hati. Paulus katakan, dia tulus dan jujur di dalam relasi dengan jemaat Korintus. Hati nuraninya menjadi saksi. Paulus berkata, “I hope someday you will fully understand us, even if you don’t understand us now” (2 Korintus 13-14). Sampai pada titik ini kita bisa menyaksikan Paulus mengatakan apa motivasi hatinya. Mungkin mereka tidak mengerti, mungkin mereka salah memahami, tetapi Paulus hanya bisa katakan dia tulus dan jujur, hati nuraninya seperti ini dan berharap mereka bisa mengerti.

Apa yang kita belajar dari sini? Saya harap ini menjadi hal yang kita harus hati-hati. Pertama bisa jadi berawal dari hal yang sederhana sekali, sdr membuat janji sama orang, tetapi in the last minute sdr batalkan. Atau mungkin sdr punya rencana atau keputusan bersama anak, atau sama teman, lalu akhirnya rencana itu mengalami perubahan, mungkin karena waktunya tidak cocok, mungkin karena kita lihat resources tidak cukup, atau mungkin berbenturan dengan acara lain, dsb. Ada dua hal yang sangat penting sekali kita waspada. Yang pertama, jangan cepat-cepat ambil kesimpulan negatif ketika ada perubahan dalam hidup kita, ada satu tindakan, lalu kemudian kita berpikir mengenai karakter dan motivasi orang. Yang kedua, pada waktu akhirnya terjadi seperti itu, kadang-kadang sdr dan saya hanya bisa retrospeksi diri sendiri apakah kita tulus, koreksi hati nurani kita di hadapan Tuhan. Sebagai manusia, setiap orang memiliki kelemahan dan kekurangan. Tetapi kelemahan dan kekurangan orang tidak boleh kemudian menyebabkan kita tidak melihat keindahan pekerjaan dan pelayanan Tuhan. Baik itu hamba Tuhan atau setiap orang Kristen mungkin bisa berjanji, tetapi karena kekurangan kelemahan, janjinya tidak terpenuhi, atau bisa saja dia berubah di dalam banyak hal. Banyak faktor penyebab. Tetapi Allah yang berjanji dan berita firman Tuhan yang disampaikan oleh orang-orang tersebut adalah berita firman Tuhan yang “ya dan amin” karena itu datang dari Allah yang berjanji dan berfirman. “As surely as God is faithful, our word to you does not waver between “yes” or “no” (2 Korintus 2:18), kata Paulus. Janji Allah itu tidak berubah. Intinya Paulus ingin memberitahukan kepada mereka jangan karena tindakan mereka yang menganggap motif dan karakter daripada Paulus itu dianggap omongnya ‘a’ tapi yang dikerjakan ‘b’ atau dia janji tetapi dia tidak kerjakan seperti ini, akhirnya menyebabkan mereka tidak melihat apa yang pernah dia sampaikan melalui janji firman Tuhan itu ya dan amin. Jangan sampai akhirnya mereka melihat Injil Tuhan tidak lagi menjadi sesuatu yang mereka pegang dan terima. Tidak gampang dan tidak mudah. Seringkali mungkin sdr ada rasa tidak senang dan tidak suka kepada seorang pendeta atau hamba Tuhan tertentu, akhirnya sdr menutup telinga untuk mendengar firman Tuhan. Atau bisa jadi juga hanya karena style khotbahnya, mungkin point khotbahnya kebanyakan, sehingga waktu sdr lihat pendeta ini lagi yang naik mimbar, maka menyebabkan sdr tidak mau mendengar dan mencamkan firman Tuhan itu dengan baik lagi.

Lalu Paulus lanjutkan, “Now I call upon God as my witness that I am telling the truth. The reason I didn’t return to Corinth was to spare you from a severe rebuke” (2 Korintus 1:23). Selain Paulus katakan hati nuraninya tulus dan bersih, Paulus di sini “terpaksa” menjadikan Tuhan sebagai saksinya. Kalau sampai demikian, maka kita bisa saksikan betapa seriusnya persoalan yang sedang terjadi di antara mereka. Hanya karena satu tindakan dia merubah rencana akhirnya berkembang seperti itu. Kita harus senantiasa diingatkan oleh firman Tuhan, kata-kata yang muncul keluar dari mulut kita bukan hanya sekedar kata-kata yang lalu begitu saja dan tidak menghasilkan impact yang besar. Kata-kata kita bisa menjadi hal yang membangun atau sebaliknya begitu merusak dan menghancurkan. Yakobus mengingatkan, “Lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Seperti api, lidah dapat membakar hutan yang besar. Ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedangkan ia sendiri dinyalakan oleh api neraka” (Yakobus 3:5-6). Maka kekanglah lidah dan tidak sembarang mengeluarkan kata-kata dari mulut bibir kita. Mari kita berhenti berspekulasi dengan kata-kata kita. Jangan jadikan kata-kata kita berkembang menjadi liar. Gossip dan kata-kata yang tidak benar gampang sekali beredar. Cara yang paling tepat adalah kita tidak pernah boleh menjadi sumber gosip dan sumber hoax. Dan yang kedua, jikalau ada orang-orang yang mengeluarkan kata-kata seperti itu, mari kita tegur dengan hati yang lembut jangan sampai keliru dan salah.

Hal kedua dari ayat 23 ini, ada keterbukaan dari rasul Paulus menjelaskan dan memberitahukan apa yang menjadi sebab dari ketidak-hadiran dia. Banyak hal yang terjadi dalam hidup seringkali adalah hanya sekedar kesalah-pahaman dan misunderstanding, bukan? Maka Paulus menjelaskan itu kepada jemaat di dalam bagian ini. Hal yang ketiga, dari ayat ini kita belajar ketika kita mengeluarkan kata-kata yang tidak baik kepada anak kita, kepada pasangan kita, kepada rekan kerja dan orang di sekitar hidup kita, kepada jemaat atau kepada hamba Tuhan, atau siapa saja yang melukai dan menyebabkan perasaan yang sangat terluka adanya. Mari kita tidak menambahkan kesedihan dengan berkelebihan. Kita perlu saling memaafkan dan berhenti mengeluarkan kata-kata yang tidak baik dan discouraging satu sama lain. Kita tahu tiap hari tiap saat kita bisa jatuh kepada hal-hal seperti itu, maka kita harus selalu berdoa kepada Tuhan, jangan sampai kata-kata yang keluar dari mulut kita itu kemudian bisa melukai orang. Hal yang kedua yang paling penting adalah kita tidak boleh cepat-cepat menyimpan terus luka dan sakit hati dalam hidup kita. Hubungan dan relasi bisa dengan mudah rusak karena ada salah paham, ada gosip dan rumor yang tidak benar, ada kata-kata yang saling melukai, semua itu mendatangkan air mata hurtful dan tears dalam hidup kita. Di dalam relasi sebagai anak-anak Tuhan di dalam komunitas gereja, hal seperti itu juga bisa menjadi satu penghambat yang tidak akan terlepas dari setiap kita. Kita bisa menyaksikan perpecahan di dalam gereja, atau orang yang kemudian tidak mau lagi berada dalam komunitas karena hal-hal seperti itu. Sampai pada satu titik seperti itu, betapa tidak mudah memperbaiki relasi yang sudah seperti itu. Dalam Kisah Rasul 2:41-47 kita bisa lihat Jemaat Mula-mula penuh dengan cinta dan kasih. Mereka boleh saling memberi. Ada yang berkelebihan, mereka jual harta milik mereka untuk membantu yang lain. Tetapi kalau kita baca Kisah Rasul 6 selanjutnya kita juga melihat di antara Jemaat Mula-mula ini terjadi konflik. “Ketika jumlah mirid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari” (Kisah Rasul 6:1). Dari kelompok orang Yahudi yang berbahasa Yunani ada yang sedih dan sakit hati karena merasa tidak diperlakukan dengan adil. Tetapi rasul-rasul kemudian mencari jalan keluar dari persoalan itu bagaimana mengerjakan dan melakukan pekerjaan Tuhan itu menjadi lebih indah dan lebih baik, sehingga sungut-sungut yang muncul tidak berkepanjangan menjadi kata-kata yang bisa memecah-belah komunitas itu. Aspek yang paling penting adalah bagaimana kita belajar untuk saling mengasihi dan mengampuni. Ada dua sikap yang kita perlu ambil. Pertama, setiap kita harus berhenti pada satu titik, jangan membuat luka hati dan perasaan negatif itu menjadi spiralling down. Yang kedua, ketika kita menghadapi begitu banyak hal yang menyedihkan dalam hati kita, kita juga tidak boleh kemudian menjadikan itu sebagai satu pembenaran untuk kemudian mengorek-ngorek luka kita lebih dalam. Kita tidak boleh lelah untuk membangun relasi yang sehat dan indah dan sebagai anak-anak Tuhan selalu waspada jangan sampai hal yang bermula dari persoalan yang sangat kecil dan sepele luar biasa akhirnya menghasilkan konflik yang memecah-belah komunitas orang percaya. Bagian selanjutnya, 2 Korintus 2:5-11 Paulus bicara khusus mengenai satu orang. Kita tidak tahu siapa orang itu dan apa sebenarnya yang dia lakukan di dalam komunitas jemaat Korintus. Kemungkinan ini adalah salah seorang pemimpin gereja Korintus yang membuat isu dan gara-gara dengan menyebarkan kata-kata negatif terhadap Paulus, yang mengatakan Paulus tidak punya pendirian, Paulus tidak bisa dipercaya kata-katanya dan Paulus tidak bisa dipercaya dalam pelayanannya. Orang ini kemudian ditegur dan menerima sangsi gereja (2 Korintus 2:6). Akibat teguran itu, orang ini menyadari kesalahannya dan menyesal bahwa dia sudah menjadi penyebab dari persoalan itu. Tetapi kelihatannya gereja Korintus tidak mau menerima orang ini kembali ke tengah jemaat dan menerima penyesalan dia. Itu sebab di sini kemudian Paulus katakan selesai sudah, jangan diperpanjang lagi. Orang ini sudah menyadari kesalahannya dan menyesaI, please jangan membuat terjadi discouragement kepada orang itu. Luar biasa firman Tuhan begitu indah dan limpah dalam hidup kita. Pada waktu saya membaca bagian ini, banyak hal luar biasa saya belajar daripadanya. Kita harus mempunyai sikap hati seperti itu, yaitu pada waktu ada teguran yang muncul, teguran itu membuat kita mengoreksi diri dan mengakui kesalahan itu. Tidak akan selesai kalau kita terus mencari pembenaran dan mempersalahkan orang lain.
Terakhir, Paulus kemudian ingatkan, “supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya” (2 Korintus 2:11). Kita tahu apa yang menjadi skema daripada Setan. Jelas sekali, Setan mempunyai pekerjaan khusus merusak pekerjaan Tuhan. Setan mempunyai tugas khusus men-sabotase setiap apa yang dikerjakan oleh Tuhan. Setan mempunyai tugas khusus selalu menciptakan kerusuhan di dalam hidup anak-anak Tuhan. Setan mempunyai pekerjaan yang khusus dimana dia bisa menghancurkan pribadi-pribadi yang ikut Tuhan. Kita tidak boleh dipakai oleh Setan sebagai alatnya untuk merusak orang lain. Kita tidak boleh dipakai oleh Setan sebagai alatnya untuk membunuh karakter jemaat yang lain, atau hamba Tuhan yang lain. Kita harus waspada, kita tidak dipanggil untuk seperti itu. Biar firman Tuhan hari ini menolong dan membantu setiap kita di dalam ikut Tuhan.

Bersyukur untuk firman Tuhan yang kita renungkan pada hari ini, yang memberikan prinsip yang indah bagi kita supaya kita belajar begitu banyak dalam membina relasi dan hubungan yang sehat satu sama lain. Pada waktu kita memiliki satu relasi yang susah dan sulit di dalam hidup kita, ketika kita mempunyai persepsi dan pandangan negatif yang menyebabkan kita mengeluarkan perkataan yang tidak baik dan tidak benar kepada orang lain, kiranya firman Tuhan pada hari ini membuka dan mencerahkan hati dan pikiran kita satu persatu. Kiranya Tuhan memberikan kepada kita hati yang penuh dengan pengampunan, hati yang penuh dengan kesabaran, hati yang penuh dengan sukacita dan damai sejahtera, hati yang penuh dengan satu kesadaran bahwa kita mau memuliakan Tuhan. Mari kita berdoa bagi pasangan kita, bagi anak-anak kita, bagi kolega dan rekan kerja, biar Tuhan menolong dan memberkati kita supaya mendapatkan pemulihan di dalam Tuhan adanya.(kz)