Hidup yang Tidak Pernah Puas [The Story of Rachel]

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Hidup yang Tidak Pernah Puas [The Story of Rachel]
Nats: Kejadian 30:1-24

Khotbah pada hari ini saya beri judul “Hidup yang tidak pernah Puas” diambil dari kisah hidup Rahel. Hidup Rahel memperlihatkan satu ironi bagaimana seseorang yang sudah memiliki segala sesuatu, seseorang yang selalu diperlakukan nomor satu, segala sesuatu padanya indah dan sangat menarik. Apa lagi yang kurang? Tetapi tetap dia tidak pernah merasa puas di dalam hidupnya. Itulah Rahel.
Kejadian 30:1-2 dibuka dengan kalimat: Ketika dilihat Rahel bahwa ia tidak melahirkan anak bagi Yakub, cemburulah ia kepada kakaknya itu lalu berkata kepada Yakub: “Berikanlah kepadaku anak, kalau tidak aku akan mati.” Maka bangkitlah amarah Yakub terhadap Rahel dan ia berkata: “Akukah pengganti Allah, yang telah menghalangi engkau mengandung?” Pembukaan dari Kejadian pasal 30 ini sangat teliti luar biasa. Kita bisa melihat kontras yang sangat tajam antara frasa kalimat “Ketika Rahel melihat bahwa ia tidak melahirkan anak,” dengan frasa kalimat yang di atasnya “Ketika Tuhan melihat bahwa Lea tidak dicintai suaminya dibukaNyalah kandungannya” (Kejadian 29:31). Alkitab tidak berkata, “Ketika Tuhan melihat bahwa Rahel amat dicintai suaminya, ditutupNyalah kandungan Rahel.” Sama sekali tidak demikian, tetapi justru Rahellah yang bereaksi dan menginterpretasikan situasi bahwa dia tidak punya anak seperti ini. Tuhan kita bukan Tuhan pembunuh sukacita, Tuhan kita bukan Tuhan yang tidak menyukai keindahan, Tuhan kita bukan Tuhan yang karena Rahel cantik dan sudah mendapat segala sesuatu, maka Tuhan tidak beri dia anak; karena melihat Lea jelek maka Tuhan beri dia anak supaya adil. Tuhan kita tidak seperti itu. Rahel tidak punya anak bukanlah hukuman dari Tuhan. Tidak mempunyai anak bukanlah berarti hidup Rahel tidak diberkati Tuhan. Tetapi Rahel sendiri yang menginterpretasi hidupnya seperti itu. Sehingga dengan perspektif seperti itu, apa saja yang indah dan baik yang sudah dia dapat tidak pernah dilihat sebagai hal yang indah dan baik dan patut disyukuri.

Kejadian 30 ini memberitahukan kepada kita ada tiga tahap atau stage dari hidup Rahel. Stage yang pertama adalah tahap dimana dia merasa harus senantiasa menjadi sentral dan mendapatkan segala sesuatu. Dari kecil Rahel selalu mendapatkan apa saja lebih dulu karena dia adalah anak kesayangan. Semua orang ketika dari kecil melihat dua kakak-beradik ini, Rahel lebih cantik, lebih lucu, lebih manis, sedangkan Lea wajahnya biasa-biasa saja, dengan sendirinya orang kemudian lebih suka kepada Rahel. Dari kecil Rahel selalu mendapatkan perlakuan dan perhatian khusus terutama dari orang tuanya. Namun ada satu momen dalam hidupnya, dia tidak mendapatkan apa yang dia sangat idam-idamkan yaitu dia ingin memiliki anak. ‘Kenapa Lea mendapat anak, kenapa aku tidak mendapat anak?’ itu yang memenuhi benaknya siang dan malam dan membuat dia menjadi orang yang sangat tidak bahagia.
Maka inilah stage hidup dari Rahel yang pertama: selalu menjadi pusat perhatian, senantiasa harus mendapatkan apa yang dia mau; seorang yang menginginkan segala-galanya untuk dirinya sendiri, seorang yang egois, seseorang yang terus menuntut diri dia harus mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup. Akibatnya, pada waktu dia tidak mendapatkan apa yang dia mau, dia menjadi sangat tidak bahagia. Dia tidak bisa tidak melihat bahwa sesungguhnya terlalu banyak hal baik yang sudah dia dapat. Yang kedua, karena dia seorang yang egois, yang selalu menuntut untuk mendapatkan perhatian, yang mau menang sendiri, maka dia gampang sekali bermusuhan dan bertengkar dengan siapa saja. Cemburu, iri hati, pertengkaran memenuhi rumah tangganya. Dia
melihat adalah segala kesulitan persoalan dan problema terjadi dalam hidupnya adalah akibat kesalahan orang lain; selalu mempersalahkan orang lain. Itulah sebabnya dia marah dan bertengkar dengan suaminya. “Aku tidak punya anak! Kamu yang harus memberikan anak kepadaku! Kalau tidak, aku mati saja!” Rahel menangis meraung-raung. Karena terus-menerus diprovokasi, akhirnya Yakub tidak bisa menahan emosinya dan ikut teriak: memangnya aku ini Tuhan?! Yakub sudah fed up menerima keluhan, rengekan, tangisan, teriakan kemarahan dari Rahel terus-menerus seperti itu. Selalu bertengkar dan selalu mempersalahkan orang, itu ciri daripada satu sikap hidup orang yang berpusat pada diri. Orang seperti itu tidak memiliki hati yang melihat kesulitan pergumulan persoalan orang lain dan belajar untuk simpati dan empati, tetapi selalu ingin melihat apa yang penting hanya bagi dirinya sendiri. Seorang yang egois, seorang yang hanya fokus kepada dirinya sendiri senantiasa menuntut orang lain membahagiakan dia. Itulah Rahel.

Kisah hidup Rahel yang tidak memiliki anak adalah salah satu lukisan perlambangan yang bisa kita terapkan dalam hidup kita dan menjadi satu refleksi yang patut kita renungkan. Mungkin hari-hari ini ada hal yang sangat engkau inginkan tetapi engkau tidak mendapatkannya. Bagaimana kita bersikap dan berespon di tengah situasi itu? Jangan sampai keinginan itu begitu memenuhi hati dan membutakan mata kita sehingga kita tidak bisa bersyukur, bahagia dan puas melihat begitu banyak hal yang sudah kita dapat dalam hidup ini. Bukankah Yakobus pernah mengingatkan, “Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan berkelahi” (Yakobus 4:1-2). Itulah hidup Rahel.

Akibatnya apa? Akibatnya masuklah kita kepada stage kedua dari hidup Rahel yaitu keinginan itu begitu kuat menguasai dia, sehingga dia melakukan apa saja supaya untuk memperoleh apa yang dia mau. Yang pertama, dia memberikan budak perempuannya yang bernama Bilha kepada Yakub untuk supaya dia bisa mempunyai anak (Kejadian 30:3-8). Tradisi umum pada waktu itu, wanita atau teman yang paling dekat yang menjadi budak yang merawat dan melayani dia, jikalau seseorang tidak mempunyai anak lalu kemudian dia memberikan budaknya itu kepada suaminya supaya nanti waktu budak itu melahirkan anak, anak itu kemudian akan menjadi anak dari wanita majikannya. Itulah yang dilakukan oleh Rahel kepada Yakub, maka waktu anak itu lahir, anak itu menjadi anak Rahel. Dan menarik, melihat Rahel melakukan itu, Lea ikutan berkompetisi dan juga melakukan hal yang sama dengan memberikan budaknya, Zilpa, kepada Yakub untuk melahirkan anak baginya. Kenapa? Karena sampai di bagian ini Alkitab catat setelah melahirkan Ruben, Simeon, Lewi dan Yehuda, Lea tidak melahirkan lagi (Kejadian 29:35b). Maka dari kompetisi itu lahirlah Dan, Naftali, Gad, Asyer. Itulah Lea dan Rahel adalah dua kakak beradik yang bergumul dengan sibling rivalry yang tidak habis-habisnya di dalam hidup mereka.

Kejadian 30:14-17 mencatat peristiwa yang agak lucu. “Ketika Ruben pada musim menuai gandum pergi berjalan-jalan, didapatinyalah di padang buah dudaim, lalu dibawanya kepada Lea, ibunya. Kata Rahel kepada Lea: berilah aku beberapa buah dudaim yang didapat oleh anakmu itu. Jawab Lea kepadanya: apakah belum cukup bagimu mengambil suamiku? Sekarang pula mau mengambil lagi buah dudaim anakku? Kata Rahel: kalau begitu biarlah ia tidur dengan engkau pada malam ini sebagai ganti buah dudaim anakmu itu. Ketika Yakub pada waktu petang datang dari padang, pergilah Lea mendapatkannya sambil berkata: engkau harus singgah kepadaku malam ini sebab memang engkau sudah kusewa dengan buah dudaim anakku. Sebab itu tidurlah Yakub dengan Lea pada malam itu. Lalu Allah mendengarkan permohonan Lea. Lea mengandung dan melahirkan anak laki-laki yang ke lima bagi Yakub.”

Seperti apa buah dudaim itu? Tidak jelas buah apa karena tidak ada di Indonesia. Tetapi dalam terjemahan bahasa Inggris disebut mandrake, bentuknya seperti akar ginseng. Begitu akarnya muncul, ada yang bentuknya mirip orang, sehingga menjadi satu mitos tahayul pada waktu itu bahwa dengan makan akar mandrake itu bisa mendatangkan kesuburan terutama bagi wanita yang mandul. Mari kita bayangkan peristiwa itu kira-kira Ruben waktu itu berumur sepuluh atau sebelas tahun dan sudah mempunyai pengertian, pengetahuan dan pemahaman untuk mencari akar mandrake ini. Dia menemukan dan membawanya pulang untuk ibunya. Saya percaya waktu itu Ruben berlari pulang ramai-ramai dengan adik-adiknya sambil teriak-teriak, “Mum, look what I’ve got!” dan Rahel keluar lalu merebutnya dari anak yang masih kecil itu sehingga Ruben menangis meraung-raung. Maka keluarlah Lea dan berseru, “Dasar keterlaluan! Sudah ambil suamiku, sekarang mandrake anakku juga mau engkau ambil!” Bayangkan saking kepinginnya punya anak, Rahel sudah seperti itu, mungkin sampai cakar-cakaran dengan Lea dan Rahel menang. Apa yang dia mau, dia berusaha dengan segala macam cara untuk mendapatkannya. Pikirannya sudah irasional, kalau dia makan akar mandrake itu, dia akan bisa mempunyai anak. Dimana logikanya? Yang terjadi adalah dia kasih Lea mendapatkan suaminya malam itu, justru Lea yang akhirnya hamil. Rahel makan buah, mana bisa hamil?

Kita melihat itulah yang terjadi pada diri orang yang sangat dikuasai oleh keinginan seperti itu, maka dia akan berusaha dengan segala cara mengambil dan merebutnya, apapun resikonya, apapun caranya, tidak peduli benar tidaknya, tidak peduli kalau itu harus melanggar etika, moral, kebenaran, diterobos semuanya. Adakalanya orang ingin sekali memiliki harta, akhirnya tega untuk mencelakakan saudara sendiri, mencelakakan rekan sekerja yang lain, dan mencelakakan anggota keluarga sendiri. Untuk apa hal seperti itu dilakukan? Jangan pikir kasus ini hanya terjadi pada Rahel; kalau kita tidak mawas diri dan menjaga hati untuk tidak dikuasai oleh segala keinginan dan nafsu, itu bisa terjadi pada diri kita juga. Ketika kita merasa harus memiliki dan mendapatkan apa yang kita mau, akhirnya kita mengambil cara-cara yang gegabah dan tergesa-gesa. Kita tidak pernah berhenti sebentar, belajar untuk sabar, belajar untuk tidak ribut dan bertengkar, belajar percaya ketika waktunya Tuhan tiba dalam hidup kita, ketika saatnya Tuhan beri, percayalah, tidak ada orang yang bisa rebut. Tetapi kalau itu bukan waktunya Tuhan, meskipun engkau pakai segala macam cara, engkau tidak akan mendapatkannya. Justru yang engkau dapatkan adalah sengsara dan nestapa yang tidak ada habis-habisnya. Dan hal yang kedua, kepada orang-orang seperti Rahel, apakah yang terjadi? Yang terjadi adalah orang yang dia rugikan seperti Lea justru yang mendapatkan berkat Tuhan. Orang yang dia perlakukan dengan tidak adil justru dikasihi dan dilindungi Tuhan. Maka sebagai anak-anak Tuhan, mari kita menyaksikan hal-hal seperti ini menjadi suatu pembelajaran yang indah luar biasa. Tunggu waktunya Tuhan, mari kita belajar sabar, mari kita tenang dalam hidup ini. Meskipun sampai hari ini kita tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, itu bukanlah hal yang merugikan kita. Yang penting dan yang perlu kita pegang, apa yang menjadi tujuan hidup kita, yang harus kita lihat sebagai hal yang paling bernilai dan berharga yang tidak akan hilang dari hidup kita sehingga kita mampu melihat yang lain itu boleh hilang dari hidup kita, tidak apa-apa, karena itu bukan hal yang permanen dalam hidup ini.

Dan sangat menyedihkan sebetulnya, orang-orang yang seperti Rahel, yang merasa diri sanggup, mampu, dan bisa mengatur dan mengontrol situasi untuk mencapai apa yang diinginkan, sehingga cara apapun akan dia lakukan dan kerjakan dengan mengkompromikan imannya kepada Tuhan. Rahel lebih percaya kepada kuasa mistik buah dudaim itu daripada kuasa Tuhan. Kalau konteks Rahel dan buah dudaim kita taruh dalam dunia sekarang, ada bahkan orang yang mengaku diri Kristen tetapi sampai memakai hal-hal mistik dan mencari dukun untuk memperoleh apa yang dia mau, bukan? Boleh dikatakan seperti itu.

Esther Wojcicki, seorang wanita yang terkenal sebagai ahli edukasi dan jurnalis yang memiliki tiga anak perempuan yang sangat berhasil dalam karirnya. Anaknya yang paling besar, Susan, adalah CEO dari Youtube, yang kedua, Janet, seorang profesor pediatrik dan yang bungsu, Anne, CEO dari perusahaan genomic dan bioteknologi, 23andMe. Dalam sebuah wawancara yang menanyakan apa rahasia dia bisa membesarkan tiga anak yang sangat berhasil, ibu ini mengatakan bahwa dia tidak mengarahkan anak-anaknya untuk menjadi orang sukses atau orang kaya atau orang berhasil di dalam hidupnya. Ada beberapa prinsip yang sangat baik dia berikan. Pertama, dia menganjurkan orang tua untuk melatih anaknya peduli kepada dunia sekitar. Ajar mereka bagaimana mempunyai kindness dalam hidup ini dan memperhatikan orang lain. Dorong mereka memberikan tenaga, waktu, perhatian dan kontribusi uang kepada komunitas dan masyarakat dimana mereka berada.

Latih anak kita untuk belajar memberi dengan generous. Di situ mereka belajar tidak fokus hanya kepada diri sendiri tetapi melihat kepada kebutuhan orang lain, walaupun tidak mendapat apa-apa sebagai balasannya. Latihlah anak kita, doronglah mereka belajar untuk bisa melayani di gereja. Masih banyak hal yang kita bisa kerjakan dan lakukan di dalam pelayanan. Ada orang yang perlu dukungan, ada misionari yang perlu support, dorong anak kita berdoa dan menolong mereka. Betapa menyedihkan, banyak sekali anak-anak pendeta atau anak-anak majelis mengalami kepahitan di dalam pelayanan oleh sebab kita senantiasa memfokuskan dia melihat hal yang tidak baik dan hal-hal yang menyakitkan dalam pelayanan dan kita tidak memperlihatkan begitu banyak hal yang indah, yang berarti dan yang berguna walaupun tidak mendapatkan apresiasi di dalam hidup ini. Pada waktu mereka mulai ambil bagian dalam pelayanan, mungkin mereka baru belajar membawa kantong persembahan di Sekolah Minggu, mungkin mereka berbagian dalam pelayanan bermain musik, dukunglah mereka sekalipun kita perlu berkorban waktu mungkin untuk mengantar mereka datang ke gereja persiapan, mereka bisa melakukan pelayanan seperti itu. Saya percaya hal-hal seperti ini kita lihat sebagai satu pembentukan yang indah bagi mereka. Yang kedua, kata Esther Wojcicki, ajar anak untuk tahu apa yang menjadi tujuan dari hidup mereka. Wabah anak-anak muda depresi dan bunuh diri salah satunya karena mereka tidak tahu bagaimana mereka hidup dengan baik dan benar, dan mereka tidak tahu apa yang menjadi tujuan hidup mereka. Kita harus memberitahukan dan membukakan, apalagi sebagai anak-anak Tuhan, walaupun besar dan berat dan susah kehidupan kita, tetapi kita tahu hidup kita di dalam Tuhan adalah hidup yang indah dan berharga, dan ada purpose hidup di dalam Tuhan. Katakan kepada anak-anak kita, betapa bersyukur kita boleh kenal dan percaya Tuhan. Kita terlahir dalam dunia ini bukan untuk kaya dan untuk memenuhi hidup kita dengan segala macam barang dan benda. Tetapi kita menjadi anak Tuhan yang Tuhan panggil supaya kita boleh menjadi berkat memberitakan Injil dan membawa orang bisa mengenal Tuhan Yesus. Itulah tujuan hidup kita.

Puji Tuhan! Setelah semua peristiwa ini Rahel belajar stage yang ketiga dalam hidupnya, yaitu stage pertobatan, pemulihan kembali, menyadari bahwa satu-satunya yang harus ia lakukan adalah kembali kepada Tuhan, menangis dan berseru hanya kepada Tuhan dan belajar berserah dan bersandar kepadaNya. “Lalu ingatlah Allah akan Rahel; Allah mendengarkan permohonannya serta membuka kandungannya” (Kejadian 30:22). Alkitab berkata, “Allah ingat,” berarti ini waktunya Tuhan, ini waktunya Ia berkarya. Kalau ini waktunya Tuhan, tidak ada yang bisa cegah. Di situ kita menyaksikan Tuhan tidak pernah lupa kepada orang-orang yang berseru dan memohon kepada Dia. Tuhan ingat, itulah sebabnya kita percaya dan kita bersandar kepada Dia. Pada stage ini kita melihat direksi hati Rahel berubah. Masuklah dia kepada tahap dimana dia kemudian hanya bisa berlutut, dia keluarkan air mata, dia mengatakan “Tuhan, ampuni saya, saya sudah melakukan begitu banyak hal. Hidup saya dipenuhi dengan segala kepahitan, jealousy, iri hati, bahkan akhirnya merugikan orang lain dan mau merebut milik orang lain, bertengkar tidak ada habis-habisnya dengan suamiku.” Semua itu harus selesai dan berhenti dan dia hanya bisa silent dan hanya mencurahkan kepedihan hatinya dan berkata-kata kepada Allah dalam doa dan permohonan.

Doa merupakan hal yang sangat penting di dalam hidup kita. Di dalam kesesakan karena tekanan dan kesulitan, doa menjadi tempat kita mendapat kelegaan. Melalui doa kita menyerahkan permohonan kita kepada Tuhan yang ada di atas. Tetapi doa sekaligus juga menjadi sarana yang penting Allah menjadikan doa kita sebagai instrumen Ia mau bekerja di dalam diri kita. Ketika kita sanggup berpikir, ketika kita bisa merencanakan, ketika kita bisa in control melakukan begitu banyak hal, doa tidak pernah menjadi tempat dan hal yang paling penting dalam hidup kita. Masakan kita harus didorong dan didesak oleh Tuhan sampai kepada situasi yang desperate baru di situ kita datang kepada Dia dan mengaku kita perlu Dia di dalam doa? Kita tidak perlu didesak seperti itu. Mari kita jadikan hidup berdoa kita sebagai sesuatu yang penuh kuasa karena Tuhan mendengar doa kita dan kalimat yang keluar dari mulut kita bukan sekedar tradisi agama, tetapi kita membawa dengan sungguh apa yang kita inginkan, apa yang kita perlukan.

Kiranya hari ini Tuhan memanggil kita kembali memperbaiki dan menggairahkan hidup doa kita. Nyatakan apa yang kita perlukan, kita bawa itu dalam doa kita. Bisa jadi itu keinginan kita yang tidak sesuai dengan yang Tuhan mau, mari kita takluk kepada kehendakNya yang sempurna. Let Your will be done. Tetapi kalau kita tidak pernah membawa segala hal yang menjadi cetusan keluhan isi hati kita yang terdalam dengan Tuhan dan berkata-kata dengan Dia, hidup doa dan relasi kita kita dengan Allah tidak pernah bertumbuh. Memang Tuhan tahu apa yang kita butuhkan, tetapi Tuhan ingin kita dengan jujur bicara dengan Dia. Ada yang kita perlukan, apa yang kita mau, apa yang kita inginkan, bawa itu di dalam doa kepada Tuhan, sampaikan dengan tulus dan jujur. Mari kita koreksi hidup doa kita sama-sama, fokus senantiasa untuk bersandar penuh bukan kepada kekuatan tangan dan kehebatan pikiran kita, melainkan hidup kita ditopang oleh lutut yang bertelut dan kita mendapatkan kekuatan dari dalamnya. Kiranya firman Tuhan hari ini menjadi firman yang kita pegang, kita terima, kita serap dan berbicara dengan indah kepadamu.(kz)