Hidup itu Berat, tetapi Allah itu Hebat

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri Eksposisi: Surat 2 Korintus [1]
Tema: Hidup itu Berat, tetapi Allah itu Hebat
Nats: 2 Korintus 1:1-11

Surat 2 Korintus adalah satu surat yang sangat personal yang ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Korintus dimana dia begitu terbuka dan jujur menyatakan isi hatinya kepada jemaat ini. Di dalam surat ini Paulus memberitahukan apa yang dia alami di dalam pelayanannya, bagaimana kesedihan dan frustrasinya, penderitaan secara fisik dan mental yang dihadapinya. Ketika kita terus baca surat 2 Korintus ke belakang, kita bisa melihat bahwa jemaat Korintus adalah salah satu jemaat yang juga menyatakan satu tindakan yang buruk perlakuannya kepada Paulus. Tetapi Paulus tidak melihat itu sebagai sesuatu yang mendatangkan kemarahan, kebencian dan kepahitan di dalam diri dia. Semua itu dia sampaikan sebagai satu fakta yang dia perlu buka dan bereskan dengan jemaat ini dan terlebih lagi di dalam semua itu dia menemukan apa yang jauh lebih indah dan jauh lebih berarti di dalam hidupnya.
Paulus membuka suratnya dengan kalimat, “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan” (2 Korintus 1:3). Blessed be to the God and Father of our Lord Jesus Christ, the Father of mercies and God of all comfort [ESV]. Ia adalah Allah yang penuh dengan belas kasihan dan menjadi Bapa yang memberi penghiburan kepadaku di tengah kesusahan yang besar, dan biar melalui penghiburanNya itu kita pun juga bisa menghibur orang yang mengalami kesusahan yang sama. Kata “penghiburan, menghibur” dari ayat 3-11 dipakai oleh Paulus 10x silih berganti di pembukaan surat ini. Dengan munculnya kata ini demikian intensif di bagian ini kita bisa merasakan perasaan sukacita dan emosi Paulus di tengah-tengah menghadapi tantangan dan kesulitan yang luar biasa. Kesulitan itu tidak menjadi hal yang paling penting. Yang bagi dia jauh lebih indah dan penting adalah dia menemukan penghiburan itu, damai sejahtera dan sukacita Allah itu di dalam hidupnya.

Life is difficult. Itulah kalimat yang ditulis M. Scott Peck dalam bukunya “Road less Travelled.” Jalan yang jarang orang mau lalui, jalan yang panjang, jalan yang sulit, tetapi itu adalah jalan yang membentuk hidup kita. Hidup itu sulit, hidup itu berat. Berkali-kali Paulus memakai kata itu, thlipsis, beban yang berat, hidup yang susah dan berat, tetapi semua itu terhapus karena Allah memberikan penghiburan dan kekuatan kepada diri dia dan melalui kekuatan yang dia dapat, dia boleh menjadi berkat bagi orang lain.

Paulus berkata, “Terpujilah Allah,” blessed be the Lord, unik sekali kalimat itu. Di situ ada satu sense emosi yang limpah dengan pujian dan syukur yang keluar dari diri dia sekaligus juga sebagai satu penyembahan yang dalam. Kita belajar bukan saja meminta dan menantikan selalu blessing dari Tuhan tetapi kita juga boleh mencetuskan satu pernyataan kasih kita yang luar biasa dalam kepada Tuhan. Kita selalu mau Tuhan mencintai dan mengasihi kita, tetapi adakah satu desire dan keinginan hati yang dalam kita mau mengasihi dan mencintai Tuhan lebih dalam di dalam hidup kita? Dimana penghiburan yang didapat oleh rasul Paulus pada waktu dia mengalami bermacam-macam penderitaan itu? Penghiburan yang pertama yang dia dapat adalah dia mengalami Allah yang dia sembah itu adalah Bapa yang begitu mencintai dan mengasihinya.

Mengenal Allah sebagai Bapa adalah satu pengenalan yang sangat penting luar biasa. Yesus berkata, “Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya jika ia meminta roti, atau memberi ular jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga!” (Matius 7:9-11). Artinya pada waktu kita mengenal Allah sebagai Bapa kita, tidak ada hal yang terlalu kecil dan terlalu sederhana dan remeh yang kita bawa di dalam doa kepadaNya yang tidak dilihat dan diabaikan oleh Bapa kita. Pada waktu kita mengenal Allah sebagai boss, master dan tuan kita saja, kita akan melihat ada jarak antara Dia dengan kita. Tetapi pada waktu engkau mengenal Dia sebagai Bapa di dalam hidupmu, maka Dia menjadi Tuhan yang begitu intim dan dekat, dan tidak ada hal yang kita bawa di dalam kesusahan dan kesulitan yang tidak diperhatikan olehNya. Semua kita yang sudah menjadi bapa tentu mengerti dan mengalami tengah malam anak kita bisa datang membangunkan kita karena minta ditemani ke toilet atau minta minum atau karena mimpi buruk. Kita tidak mengabaikan permintaannya sekalipun itu remeh dan sederhana, hal-hal yang sepele, hal yang kecil di mata kita, namun itu hal yang penting bagi anak kita di dalam perspektif dan persepsi dia, kita sebagai bapa selalu berespon dengan kasih kepada setiap permintaan seperti itu. Terlebih lagi pada waktu kita mengenal Tuhan sebagai Bapa, meskipun kita penuh dengan kelemahan dan dosa, mungkin hati kita merasa Tuhan mungkin tidak mau mendengar doa kita; kita merasa Allah terlalu jauh dari kita, atau kita merasa apa yang kita minta kepadaNya adalah hal yang terlalu kecil dan sederhana, mungkin Tuhan tidak mau mendengar doa kita. Tetapi Yesus mengatakan biarlah memiliki iman seperti anak kecil, childlike faith. Kita trust, kita percaya kepadaNya dan Dia adalah Bapa, tempat kita mendapatkan penghiburan dan comfort di dalamnya. Paulus berkata, aku mengucap syukur, aku memuji nama Allah, aku kenal Dia sebagai Bapa dari Tuhanku Yesus Kristus. DaripadaNyalah aku mendapatkan penghiburan yang luar biasa melalui setiap kesulitan dan kesusahan yang aku alami supaya akupun bisa memberikan penghiburan kepada orang-orang yang mengalami kesulitan dan kesusahan yang sama.

Paulus dengan terbuka berkata, “Sebab kami mau supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami” (2 Korintus 1:8). Ada kejujuran luar biasa dari mulut hamba Tuhan ini. Tidak gampang sebetulnya kalau seorang hamba Tuhan, atau mentor, atau seorang yang dianggap lebih mature rohani, lalu kemudian menyatakan dengan jujur dan terbuka betapa berat dan sulitnya tekanan dan penderitaan yang sedang dia alami, yang bahkan membuat dia putus asa menghadapinya. Kalau mendengar seperti ini mungkin terbersit di pikiran kita, wah, kurang beriman pendeta ini! Bagaimana kita minta dia berdoa buat kita kalau dia sendiri merasa putus asa dengan kesulitannya sendiri?

Dalam bagian ini Paulus menyatakan dengan kejujuran seperti itu dari sudut pandang dia sebagai manusia. Dia mengatakan beban yang datang itu seperti beban overload di atas kapal yang hampir menenggelamkan dia, seolah seperti dia sedang pegang satu barang berat, lalu belum selesai satu barang itu diturunkan, orang menaruh beban lagi ke atasnya, belum selesai diturunkan, orang menaruh beban lagi ke atasnya sehingga akhirnya bisa menjadi crash, jatuh dan tenggelam. Saya jatuh habis kegencet, tidak punya jalan keluar. Itulah kira-kira kalimat yang dipakai oleh Paulus di sini. Lelah, itu mungkin kata yang lebih tepat kita sebutkan dalam bagian ini. Kita lelah fisik, kita lelah mental, kita juga bisa lelah secara spiritual. Satu kondisi yang tidak immune dalam hidup kita masing-masing, karena kita bukan mesin yang bisa tahan dan menahan terus bisa menerima overloaded seperti itu. Paulus mengatakan, aku menanggung beban yang begitu berat, begitu besar, bahkan hampir membuatnya putus asa terhadap hidup ini. Dia bukan mau mati, dia bukan mau bunuh diri. Dia hanya menyatakan fakta kejujuran seringkali segala sesuatu itu mendatangkan kelelahan di dalam hidup ini. Mengalami hal seperti itu tidak berarti sdr kurang beriman; mengalami hal seperti itu tidak berarti Tuhan tidak sayang kepada kita; mengalami hal seperti itu hanya untuk memberitahukan kepada kita, kita adalah manusia yang kecil dan lemah, yang semua kita tidak terlepas mempunyai hidup yang susah dan berat adanya.
Yang kedua, waktu Paulus memberitahu segala kesusahan yang dia alami, bukan untuk menyalahkan orang lain, bukan untuk menyatakan rasa marah dan frustrasi mengapa saya mengalami situasi seperti ini. Dia keluarkan kalimat ini bukan untuk complain terhadap hal yang tidak adil yang terjadi dalam hidupnya. Dia tidak pahit dan tidak marah. Yang dia katakan ini adalah untuk membuat jemaat tidak ignore dan masa bodoh. Dia menyampaikan fakta informasi kepada mereka bukan untuk mempersalahkan apa yang terjadi tetapi kalau bukan karena penghiburan yang sejati yang dia alami dalam Tuhan, dia tidak bisa kuat menghadapinya. Di situ dia melihat kasih karunia dan berkat Tuhan terjadi di dalam kehidupan dia begitu indah dan limpah. Hari ini mari kita belajar sikap hati seperti ini. Banyak hal dan kesulitan terjadi dalam hidup kita, jangan jadikan itu sebagai satu kepahitan dalam hidupmu. Itu penting sekali. Tidak akan ada henti-hentinya tekanan penderitaan, kesulitan dan kesusahan terjadi dan itu bisa membuat kita menjadi lemah dan putus asa. Tetapi di tengah kita mungkin tidak mendapatkan jalan keluar yang supranatural, lepas dari kesulitan dan penderitaan, mari kita temukan pengenalan akan Tuhan yang lebih intim dan mengalami penyertaanNya di situ supaya kita tidak pernah bersandar kepada kekuatan diri sendiri.

Kepada orang-orang yang bangga akan kehebatan dirinya, Paulus bilang kalau mau bilang soal bangga itu saya ada banyak. “Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal yang lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari ke delapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli. Tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi yang menaati hukum Taurat gengan tidak bercacat, dst” (Filipi 3:4-6). Tetapi pada waktu Paulus berkhotbah dengan logika dan kehebatan retorika, menjelaskan hukum Taurat dan Perjanjian Lama supaya orang-orang Yahudi ini bisa percaya Tuhan, kenapa mereka begitu susah untuk percaya? Paulus sudah memaparkan argumentasi yang luar biasa, sudah lakukan semua yang terbaik, tetapi kenapa mereka tidak mau percaya Tuhan Yesus, dan malah ambil batu melempari Paulus? Kira-kira perasaan seperti itulah kemudian muncul sehingga Paulus berkata, aku alami semua itu supaya aku tidak bersandar kepada kekuatan diri sendiri tetapi hanya kepada Allah. Ini menjadi satu perspektif yang indah sehingga dia tidak lihat segala sesuatu yang terjadi itu merusak dan mengganggu hidup dia. Di situ respon yang penting.

Alkitab mencatat satu peristiwa yang terjadi pada diri Yusuf, pada waktu sepuluh kakaknya melempar Yusuf ke dalam sumur, mereka melihat dan mendengar Yusuf memohon dengan sangat distressed belas kasihan mereka untuk menyelamatkan dia, mereka tidak mau menolong dia dan bahkan menjual dia sebagai budak. Yusuf kemudian juga dipenjara selama 12 tahun terhadap satu tuduhan yang diberikan kepadanya dengan tidak benar oleh isteri Potifar. Tetapi di akhir dari peristiwa itu kita tahu Yusuf akhirnya mengeluarkan satu kalimat yang sangat agung luar biasa kepada saudara-saudaranya, “Memang kamu telah mereka-rekakan hal yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan” (Kejadian 50:20). Kalimat yang agung, keluar dari mulut seseorang yang sudah melewati hal yang tidak benar, tidak adil dalam hidupnya. Seorang yang sudah melewati tantangan dan kesulitan yang begitu besar yang ada, semuanya itu tidak pernah menjadi kepahitan baginya ketika dia melihat Allah dengan indah berkarya dan memakai semua itu menjadi kebaikan bagi dia dan bagi keluarganya.

Kita tidak membesar-besarkan kesulitan kita, dan kita tidak overwhelmed dengan persoalan kita sehingga tidak bisa melihat Tuhan di tengah situasi itu. Itulah respon yang sepatutnya kita miliki. Paulus tidak mengatakan penderitaan yang dia alami begitu besar, untuk mempersalahkan orang. Dia tidak memberitahukan itu supaya orang mengasihani dia. Dia hanya memaparkan fakta seperti itu bukan untuk orang kagum sama dia, tetapi untuk memperlihatkan bagaimana dia mengenal Tuhan, mengenal diri dan menikmati penghiburan yang sejati dari Tuhan. Maka bagian ini kita belajar beberapa prinsip bagaimana menghadapi penderitaan dan melihat pertolongan Tuhan dengan sikap yang benar.
Yang pertama, Paulus berkata, “Allah yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami sehingga kami sanggup menghibur mereka yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah” (2 Korintus 1:4). Ketika Paulus mengalami dan menikmati penghiburan yang sejati dari Tuhan di dalam penderitaannya, di situ hidupnya kemudian menjadi berkat dan memberi penghiburan bagi orang yang lain.

Kita seringkali cepat bertanya, kenapa saya mengalami seperti ini. Pertanyaan itu bisa menjadi pertanyaan yang mempunyai makna positif yaitu kemudian melaluinya kita ingin apa yang kita alami di sini Tuhan ijinkan supaya saya boleh menang dan melalui itu saya bisa menjadi berkat bagi orang-orang lain yang mengalami hal yang sama. Tetapi pertanyaan itu bisa menjadi negatif yaitu pada waktu kita merasa itu tidak seharusnya dan tidak boleh terjadi dalam hidupku dan kita merasa Tuhan tidak adil. Akhirnya kita akan terus berputar di dalam pertanyaan itu dan tidak mendapatkan kekuatan karena kita berada di dalam situasi yang kita tidak mau terima.

Yang kedua, penghiburan itu datang sebab Paulus lihat bahwa itulah pattern dan pola apa artinya kita sungguh-sungguh menjadi murid Tuhan. Paulus katakan, “Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah” (2 Korintus 1:5). Dalam terjemahan NLT dikatakan, “For the more we suffer for Christ, the more God will shower us with His comfort through Christ.” Artinya sama seperti yang Yesus katakan, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Markus 8:34). Dan sebaliknya, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiKu” (Matius 10:38). Itulah kewajiban seorang murid Kristus.

Waktu seorang hamba Tuhan masuk ke dalam ladang pelayanan, waktu seorang misionari membuka ladang yang baru, komitmen itu sekaligus juga menjadi satu komitmen dia siap mengambil penderitaan, tantangan dan kesulitan yang ada di dalam ladang misi seperti itu. Pada waktu engkau bersedia ambil bagian dalam pelayanan bagi Tuhan, engkau juga bersiap menghadapi hal-hal yang berat terjadi dalam pelayanan. Paulus katakan Yesus telah menjadi contoh teladan maka itu menjadi penghiburan baginya. Sebagaimana rasul Petrus juga berkata, “Sebab dapatkan disebut pujian jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu supaya kamu mengikuti jejakNya” (1 Petrus 2:20-21).

Yang ketiga, Paulus katakan, “Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepadaNya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi” (2 Korintus 1:10). Paulus menyaksikan bagaimana dulu Tuhan telah selamatkan dia dari kematian yang begitu ngeri. Di masa yang lampau Ia telah menyelamatkan kami yang menaruh pengharapan kepadaNya, lalu diteruskan di kalimat terakhir bahwa di masa ke depan Ia akan menyelamatkan kami sekali lagi. Dulu saya telah alami, maka saya percaya Tuhan pasti akan menyelamatkan. Di situlah kita menaruh pengharapan kita kepada satu hari kelak pada waktu kita ketemu Tuhan, di situlah keselamatan yang paling final selesai. Maka dia memperlihatkan kepada kita aspek Tuhan pasti akan memberikan kekuatan dan pertolongan seperti itu.

Yang keempat, Paulus berkata, “For when we are comforted, we will certainly comfort you. Then you can patiently endure the same things we suffer” (2 Korintus 1:6). Di sini kita belajar satu hal yang indah, Paulus katakan biarlah melalui kesulitan dan penderitaan seperti ini, engkau melihat kami dengan sabar, tekun dan bersandar penuh kepada Allah menjalaninya dan di situ supaya saya bisa memberikan penghiburan kepadamu. Dari sikap dan attitude kita saat melewati dan menjalaninya, orang akan melihat itu sebagai satu penghiburan yang luar biasa. Percayalah pada waktu ada hal yang begitu susah dan berat dalam hidupmu, orang melihat Allah kita adalah Allah yang kuat dan hebat, yang memberikan kekuatan dan pertolongan kepadamu sehingga di situ mereka ikut terhibur dan iman mereka dikuatkan saat menghadapi hal yang sama.

Yang terakhir, Paulus tutup bagian ini dengan kalimat, “Karena kamu juga turut membantu mendoakan kami, supaya banyak orang mengucap syukur atas karunia yang kami peroleh berkat banyaknya doa mereka untuk kami” (2 Korintus 1:11). Paulus bersyukur jemaat Korintus dan jemaat di tempat lain senantiasa berdoa baginya. Membayangkan ada begitu banyak orang yang berdoa bagi dia, itu sudah menjadi satu penghiburan yang luar biasa bagi Paulus.

Bawalah orang-orang yang kita kenal, bawa orang-orang yang ingin kita doakan di dalam hidup kita dan kita tidak boleh jemu-jemu terus berdoa bagi mereka di dalam doa pribadimu. Berdoa bukan saja bagi anak-anak kita, keluarga kita, tetapi doakan bagi hamba-hamba Tuhan, doakan bagi gembalamu, doakan bagi jemaat dan saudara-saudara seiman yang engkau tahu sedang ada dalam kesulitan, doakan bagi teman-temanmu. Itu menjadi satu sikap kita tidak pernah egois dan menjadikan doa sebagai satu tempat dimana kita bisa berfellowship sama-sama. Ketika kita dengar kesulitan orang, langsung sikap kita yang pertama adalah kita berdoa untuk orang itu. Ketika kita mendengar ada sakit yang menimpa seseorang, kita langsung ambil sikap berdoa bagi orang itu.

Kita bersyukur, kita boleh menyaksikan bagaimana Tuhan berkarya melalui pengalaman hidup begitu banyak anak-anak Tuhan yang menjadi contoh teladan yang indah. Ada orang-orang yang menghadapi ketidak-adilan dalam pengadilan yang dia alami bahkan penjara yang tidak selayaknya dia terima, tetapi dia boleh muncul sebagai seorang pemenang, menjadi berkat yang luar biasa dan semua itu tidak menjadikan hatinya pahit, tetapi dia berespon dengan benar kepada Tuhan Allah sumber penghiburan. Kita percaya Ia adalah Tuhan yang luar biasa, yang hebat, memberikan pertolongan dan kekuatan lebih daripada apa yang kita pikirkan sehingga kita bisa menjadi berkat dan pertolongan bagi orang lain.(kz)