Allah Mengasihi Orang yang Tidak Dikasihi [The Story of Leah]

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Allah Mengasihi Orang yang Tidak Dikasihi [The Story of Leah]
Nats: Kejadian 29:31-35

Kisah hidup Lea adalah satu kisah dari seorang yang tidak pernah menjadi spotlight dalam hidup ini. Kita harus akui jarang sekali mungkin orang Kristen memilih atau memberi nama Lea untuk puterinya tetapi lebih banyak memilih nama Rahel atau Rachel. Lea tidak cantik, wajahnya tidak menarik. Tidak ada seri pada matanya, kata Alkitab. Lea mewakili orang-orang yang tidak pernah mendapatkan perhatian dan kekaguman dari orang sekitarnya. Orang yang dipilih paling akhir, orang yang selalu ada di belakang. Bahkan ayah dan ibunya sendiri tidak sayang dan tidak memperhatikan dia. Bukan saja Lea terlahir dengan penampilan fisik yang tidak menarik, dia juga terperangkap di dalam sebuah pernikahan yang tidak bahagia karena suaminya tidak pernah mencintai dan mengasihinya. Orang seperti Lea bisa mempunyai seribu satu macam alasan untuk menjalankan hidup yang penuh dengan kepahitan. Orang seperti Lea bisa mempersalahkan dunia atas perlakuan mereka kepadanya. Orang seperti Lea bisa menjalani hidup yang merusak dan menghancurkan orang-orang lain yang ada di sekitarnya, bahkan menghancurkan dirinya sendiri.

Banyak anak-anak Tuhan yang berada dalam situasi yang seperti itu. Engkau mungkin merasa sejak dari awal, sejak kecil engkau berada di urutan paling belakang. Dibandingkan dengan anak-anak lain, penampilanmu tidak menarik dan engkau tidak punya hal-hal yang bisa dibanggakan. Engkau mungkin terlahir dari keluarga miskin, tidak terlalu pandai, tidak punya banyak kesempatan untuk mendapatkan hal-hal yang terbaik dalam hidupmu. Sampai dewasa, apa saja yang engkau kerjakan, engkau menjadi orang yang di urutan paling di belakang dipilih. Engkau begitu ingin dicintai, di-included di dalam persekutuan atau di tempat kerja, bahkan di dalam rumahmu sendiri. Tetapi engkau menjadi orang yang di-left out. Akhirnya engkau iri dengan orang-orang yang lebih bagus penampilannya. Engkau marah kepada Tuhan, mengapa Tuhan tidak memberikan segala yang baik kepadamu dan engkau merasa Tuhan tidak mengasihimu.

Tetapi kisah hidup Lea adalah satu kisah yang indah bagaimana Allah menunjukkan kasihNya kepada orang-orang yang tidak dikasihi, orang-orang yang terbuang dan terlupakan. Kisah hidup Lea adalah satu kisah bagaimana Allah mengubah hatinya dan membuka matanya melihat kasih Allah yang indah baginya. Dari diri Lea inilah kita menyaksikan satu keindahan keluar. Dia tidak memiliki penampilan eksternal yang menarik, tetapi Tuhan membentuk dia memiliki keindahan batin yang luar biasa. Kita seringkali gampang dan mudah sekali menilai orang hanya melalui penampilan eksternalnya. Tetapi kisah ini memberitahukan kepada kita keindahan batiniah yang keluar dari diri orang yang tidak pernah bisa dilihat dalam satu dua menit ketemu dia tetapi hanya bisa dilihat lama dan akhirnya kita mengetahui dan melihat betapa indah apa yang ada di dalam hati daripada Lea.

Siapa Lea? Kejadian 29:17 mengatakan, “Lea tidak berseri matanya, tetapi Rahel itu elok sikapnya dan cantik parasnya.” Atau dalam NLT, “There was no sparkle in Leah’s eyes, but Rachel had a beautiful figure and a lovely face.” Dibanding dengan Rahel, adiknya, satu kontras yang luar biasa. Rahel indah bentuk tubuhnya dan luar biasa cantik wajahnya. Lea terlahir tidaklah terlalu cantik dan menarik secara penampilan fisik. Tetapi itu bukan salah Lea. Ada orang yang lahir dengan wajah dan penampilan yang tidak menarik secara fisik. Ada orang yang lahir dalam keadaan yang cacat. Itu bukan kesalahan mereka, itu bukan pilihan mereka. Yohanes mencatat murid-murid melihat seorang yang buta sejak lahirnya, dan bertanya kepada Yesus, kenapa orang ini lahir seperti itu, salah siapakah? Yesus berkata, bukan salah dia dan bukan juga salah orang tuanya, tetapi melalui hidupnya orang boleh melihat Allah menyatakan karya dan kasihNya (Yohanes 9:1-3).

Lea terperangkap di dalam sebuah pernikahan yang tidak bahagia karena suaminya tidak pernah mencintai dan mengasihinya. Jaman kita tentu berbeda dengan jaman Lea pada waktu itu. Lea tidak punya kesempatan untuk memilih sendiri pasangan hidupnya. Tetapi kalaupun dia bisa memilih, siapa yang mau menikah dengan dia? Tidak ada. Orang tuanya tentu prihatin dan tidak mau menanggung beban memelihara dia seterusnya. Jaman itu ayah yang menentukan anaknya menikah dengan siapa. Laban melihat satu-satunya kesempatan untuk itu adalah dengan menipu Yakub. Kejadian 29:18 menceritakan Yakub jatuh cinta dengan Rahel. Yakub ingin menikah dengan Rahel. Tujuh tahun dia bekerja keras di rumah Laban untuk bisa menikahi Rahel. Lea tidak pernah ada dalam agenda hidup Yakub. Maka betapa terkejut Yakub ketika malam pertama dia lewati bukan bersama Rahel, pujaan hatinya, tetapi bersama Lea. Pada waktu pagi-pagi Yakub melihat ternyata bukan Rahel yang tidur di sisinya, melainkan Lea, betapa marah dan murka dia. Laban kemudian memberikan Rahel untuk menjadi isteri yang kedua. Di sinilah Lea terperangkap di dalam sebuah pernikahan yang tidak dikasihi oleh suaminya. Di sinilah kita juga bisa melihat bagaimana pernikahan bigami dan poligami sesungguhnya adalah suatu bentuk pernikahan yang tidak akan pernah menghasilkan pernikahan yang bahagia. Pernikahan seperti itu akan menghasilkan pernikahan yang bersaing satu dengan yang lain, yang sang suami tidak mungkin bisa berlaku adil sama rata kepada semua isterinya karena pasti akan ada satu yang lebih dicintai dan dikasihi. Bahkan dalam bagian ini kita menyaksikan Yakub hanya mencintai dan mengasihi Rahel dan sama sekali tidak mencintai dan peduli kepada Lea.

Tetapi Alkitab membukakan satu hal yang indah luar biasa. “Ketika Tuhan melihat bahwa Lea tidak dicintai, dibukaNyalah kandungannya” (Kejadian 29:31).] Lea tidak dicintai dan dikasihi oleh suaminya, tetapi Allah menunjukkan kasih sayangNya kepada Lea. Puji Tuhan! Seringkali ada begitu banyak orang-orang yang seperti Lea, yang tidak pernah dicintai dan tidak pernah dikasihi oleh dunia ini dan oleh orang-orang di sekitarnya. Lea hanya bisa membawa kesedihan dan jeritan hatinya kepada Allah dan Allah mendengar, Allah memperhatikan dan Allah sungguh-sungguh mencintai orang-orang seperti itu. Dan Alkitab mencatat dengan indah dan dengan teliti bagaimana sikap Lea ketika satu-persatu anaknya lahir . Dari nama anak-anak itu kita menyaksikan bagaimana Lea dibentuk dan di-shaped oleh Tuhan sampai akhirnya dia bisa lewati semua itu dengan satu pujian syukur keluar dari mulutnya kepada Tuhan.

Lea kandungannya dibuka oleh Tuhan. Walaupun mungkin Yakub menjadikannya tempat produksi anak semata-mata saja, hanya untuk melahirkan tetapi tidak pernah dicintai sampai akhir, namun Tuhan mencintai dan mengasihi Lea. Pada waktu Lea melihat akan hal itu, di situlah cinta kasih Tuhan mengalir memenuhi dia. Dia tidak mendapatkan kasih itu dari suaminya, tetapi Tuhan memberikan anak-anak menjadi buah hati yang penuh dengan cinta dan kasih kepadanya dan itulah yang menjadi kesukaan dan sukacita dalam hidupnya. Begitu anaknya yang pertama lahir, Lea berkata, “Sesungguhnya Tuhan telah memperhatikan kesengsaraanku; sekarang tentulah aku akan dicintai oleh suamiku” (Kejadian 29:32). Maka kemudian Lea memberi nama Ruben. See, a son! kira-kira itu arti nama Ruben. Seolah-olah di situ Lea ingin memberitahukan kepada Yakub, kasihilah aku, sebab aku telah memberikan seorang anak laki-laki bagimu. Dia berkata, Allah melihat dukaku, semoga suamiku mengasihi aku. Itulah arti di balik nama Ruben. God sees my suffering. Yang luar biasa, dengan nama ini kita bisa melihat Lea mengenal Allahnya Yakub. Jelas Lea bisa mengenal Allahnya Yakub melalui Yakub. Lea melihat Allah yang setia memelihara Yakub. Allah itu adalah Allah yang telah memanggil Abraham, kakeknya untuk pergi meninggalkan daerah itu karena Allah berjanji untuk menjadikan satu umat yang menyembah Allah. Ia adalah Allah Pencipta satu-satunya itu yang berdaulat dan berkuasa, itulah Allah yang benar yang Abraham sembah. Pemahaman akan Allah itu lalu turun kepada Ishak, dan kemudian kepada Yakub. Yakub menceritakan siapa Allah yang dia imani dan sembah itu kepada keluarganya, dan keluarga ini yang sebelumnya tidak mengenal dan percaya Tuhan menjadi percaya. Melalui Yakub, Lea mengenal dan percaya Allahnya Yakub.

Betapa ironis sebetulnya. Kita menyaksikan di sini justru nama Allah lebih banyak disebut keluar dari mulut Lea daripada mulut Yakub. Dalam setiap pergumulan yang dialami oleh Lea, dia menggumulinya bersama dengan Allah. Tetapi Yakub tidak seperti itu. Yakub hanya memikirkan kesenangan dan sukacitanya sendiri. Yakub tidak senang mendapat Lea. Yakub marah setiap kali melihat Lea karena mengingatkan dia bahwa Laban telah berhasil menipu dia. Maka Lea yang harus menanggung kekesalan dan kemarahan Yakub seumur hidupnya. Inilah Yakub. Padahal dia adalah orang yang mengenal Allah. Kadang-kadang hal yang seperti ini bisa menjadi satu batu sandungan yang sangat menyedihkan. Ketika ada orang yang mengaku dia anak Tuhan dan orang yang percaya Yesus, tetapi yang kelakuan hidupnya di dalam rumah tangga tidak mencintai dan mengasihi anak isterinya, yang hanya terus memikirkan kesenangan diri sendiri, apa yang dia cari dan hanya pikir segala cara bagaimana mencari kesempatan untuk menjadi keuntungan bagi dirinya, perlakuan yang tidak adil kepada anak, perlakuan yang tidak kasih kepada isteri, dsb. Semua itu bisa menjadi satu batu sandungan bagi banyak orang melihat orang Kristen hidupnya munafik adanya, buat apa saya percaya Allah dari orang seperti itu? Yang menyampaikan berita toh hidupnya tidak benar. Namun puji Tuhan, Lea sanggup bisa memisahkan dan membedakan si pembawa berita dengan isi beritanya. Pembawa berita itu hidupnya penuh dengan kelemahan dan kekurangan, tetapi berita yang dibawanya mengenai siapa Allah itu yang dia terima, itulah sebabnya dia percaya. Betapa indahnya bukan, jikalau berita yang begitu indah dibawa oleh pemberita yang memiliki integritas hidup yang indah. Betapa powerful akan kuasa Kekristenan itu. Tetapi kita mengucap syukur kepada Tuhan, walaupun Lea tidak pernah kenal siapa kakek dan ayah mertuanya, tetapi melalui Yakub dia bisa melihat betapa Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub itu adalah Allahnya juga. Maka pada waktu melahirkan Ruben, dia mengatakan, Tuhan, Engkau lihat pergumulanku. Lahirlah anak kedua, dan Lea berkata: “Sesungguhnya Tuhan telah mendengar bahwa aku tidak dicintai, lalu diberikanNya pula anak ini kepadaku.” Maka ia menamai anak itu Simeon (Kejadian 29:33).] Arti kata Simeon dari akar kata didengar. Anak pertama dilihat oleh Tuhan, tetap tidak mau dilihat oleh Yakub. Anak kedua lahir tidak juga dilihat oleh Yakub, tetapi Lea tahu Tuhan adalah Tuhan yang mendengar setiap pergumulan hati dia. Alkitab mencatat mengandung pulalah ia lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: “Sekali ini suamiku akan lebih erat kepadaku karena aku telah melahirkan tiga anak laki-laki baginya.” Itulah sebabnya ia menamai anak itu Lewi (Kejadian 29:34).] Lewi berarti persekutuan, disatukan, join together. Dari ketiga nama anak ini kita bisa menyaksikan Lea begitu berharap suaminya mencintai dia dan itu tidak dia dapatkan. Tetapi di dalam perjalanan pergumulan itu dia justru menemukan Tuhan mencintai dan mengasihi dia.

Kerinduan Lea untuk dekat dengan Yakub tidak dia dapatkan itu. Dia sungguh mengekspresikan betapa rindu dia ingin join together dan bersekutu dengan suaminya yang walaupun tidak mencintainya dan dia tidak dapatkan itu. Puji Tuhan, dia mendapatkan Tuhan yang mencintai dan mengasihi dia. Di dalam kondisi seperti itu kisah hidup Lea menjadi kisah hidup setiap anak Tuhan yang dirubah dan dibentuk oleh Tuhan menjadi indah luar biasa. Hal yang sangat ironis, siapa yang seharusnya memberi nama anak pada waktu jaman itu? Ayahnya. Tetapi cerita ini memberitahukan kepada kita Yakub sama sekali tidak peduli. Tiga anak ini, sampai anak ke empat, semua diberi nama oleh Lea. Tetapi melalui pemberian nama itulah membuat kita melihat bagaimana Lea mengalami pertumbuhan iman bersama Allah. Mengandung pulalah ia lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: “Sekali ini aku akan bersyukur kepada Tuhan.” Itulah sebabnya ia menamai anak itu Yehuda. Sesudah itu ia tidak melahirkan lagi (Kejadian 29:35). Lahirlah anak keempat yang namanya Yehuda. Sekarang penekanannya berbeda, karena dari nama Yehuda kita melihat hati Lea tidak lagi penuh dengan pergumulan, perasaan yang sedih dan kecewa. Sebelumnya, apa saja yang dia kerjakan dan lakukan Yakub tetap tidak mengasihi dan mencintainya. Dia hidup dalam keadaan yang unfair, merasa situasi ini tidak pernah membahagiakan dia.

Sebagai anak Tuhan, kita tidak perlu kecewa, marah dan kuatir dengan apa yang tidak ada pada diri kita. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana di dalam keadaan kita apa adanya kita boleh indah bertumbuh di dalam Tuhan. Saya rindu cerita hidup Lea menjadi cerita yang indah bagi kita. Kita juga tidak boleh takut dan kuatir melihat hal yang kurang atau cacat yang ada dari anak-anak yang lahir dalam keluarga kita. Sering kita kecewa, kita marah dan kita rasa, Tuhan, kenapa seperti ini? Kisah hidup Lea menolong kita bisa melihat, karena sampai kepada anak kedua emosi hati daripada Lea mengalami perubahan. Anak pertama lahir, dia menangis, karena tidak dilihat oleh Yakub. Tuhan, lihatlah pergumulanku. Anak kedua lahir, dia menangis, karena tidak didengar sedikitpun oleh Yakub. Tuhan, Engkau mendengar aku. Anak ketiga lahir, suaminya tidak mau persekutuan join together, tetapi Tuhan dekat dan menjadi Allah yang ada di sampingnya. Tetapi begitu lahir anak ke empat, Lea merubah kedukaan suara desperate hatinya menjadi sukacita dan kebahagiaan. Lea memberi nama Yehuda kepada anaknya yang keempat. Yehuda artinya terpujilah Allah. Terpujilah Tuhan. Engkau Allah yang begitu indah dan begitu baik di dalam hidupku.

Jangan biarkan jiwamu dimakan habis oleh banyak kepahitan dan kekecewaan dan akhirnya kita seringkali tidak bisa menjadi indah karenanya. Hari ini Lea mengajarkan kita keindahan karena dia mengerti apa artinya dicintai oleh Tuhan dan dia menjadi satu figur yang indah luar biasa. Dia tidak dimakan habis oleh kepahitan, jiwanya tidak dihancurkan oleh suami yang tidak mencintai seperti itu. Situasinya tidak membuat dia pergi menjauh dari Tuhan, tetapi malah perlakuan yang tidak baik dari suaminya yang tidak mencintainya makin membuat dia makin bertumbuh dalam anugerah dan bertumbuh di dalam imannya kepada Tuhan. Kita bisa punya seribu satu macam alasan yang kita pakai untuk kita dimakan habis oleh kepahitan spiritual kita. Tetapi pada waktu kita baca bagian firman Tuhan ini, biar kiranya firman Tuhan ini menolong setiap kita. Situasi itu tidak dirubah oleh Tuhan. Sampai kapanpun Yakub tidak mencintai dan mengasihi Lea. Tetapi percayalah kasih Allah itu ajaib dan indah luar biasa. Lea berseru, terpujilah Tuhan. Sekarang aku memuji dan memuliakan Tuhan. Tidak ada lagi kesedihan dan nestapa di hatinya.

Dari keempat anak yang lahir dari rahimnya, Tuhan memilih yang melayani di mezbah Tuhan dari keturunan Lewi. Dan dari rahim orang yang dibuang dan tidak dicintai oleh suaminya, Tuhan memilih Yehuda, yang satu kali kelak dari keturunannya akan lahir keturunan raja besar yang memerintah Israel yaitu Daud. Dan bahkan melalui keturunan Lea, bukan melalui keturunan Rahel, yaitu dari Yehuda lahirlah sang Mesias, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat dunia lahir dari keturunan Yehuda. Itulah cinta kasih Tuhan yang kita tidak bisa ganti dan bisa bayar dengan apapun. Saat itu Lea tidak lihat itu, tetapi kita yang ada sekarang ini bisa menyaksikan keindahan yang terjadi. Jangan pernah silau dengan hal-hal yang eksternal. Hal-hal yang eksternal itu mungkin sangat berkilau dan mata kita gampang sekali kagum dan terpesona kepadanya. Tetapi ada batu yang kusam dan lusuh, setelah digosok dan diasah, baru kelihatan bahwa itu adalah batu permata yang sangat berharga, bahkan lebih berharga daripada batu-batu berkilau yang ternyata hanya dari beling kaca belaka.

Saat kita bawa hidup kita di hadapan Yesus Kristus, Tuhan kita, di situlah kita bisa menyaksikan kasih Allah yang begitu limpah kepada kita melalui kematianNya di kayu salib yang menebus dan menyelamatkan kita. Di situlah kita bisa menyaksikan kasih Tuhan begitu dalam kepada kita, pada waktu kita menghampiri salib itu kita tahu Ia telah mengasihi kita dengan kematianNya yang membayar lunas semua dosa dan pelanggaran kita. Salib itu senantiasa mengingatkan kepada kita Yesus mengasihi orang yang berdosa, Yesus mengasihi orang yang terbuang dari masyarakat, para janda, pemungut cukai, bahkan pelacur dan orang kusta. Yesus mengasihi orang yang cacat, Yesus mengasihi orang-orang seperti itu karena Ia ingin menjadikan orang itu lengkap dalam dignitas seutuhnya di hadapan Allah. Itulah cinta kasih Allah kepada kita. Itulah cinta kasih yang luar biasa. Puji Tuhan! Biar Tuhan menjadikan kita lengkap indah sempurna. Buanglah segala yang pahit dari hidup kita dan percayalah Tuhan mengasihi dan mencintai kita dengan kasih yang tidak berkesudahan itu.

Masing-masing kita pernah memiliki hal-hal yang pahit dan pedih; kita memiliki kekuatiran dan ketakutan dan kekecewaan. Bahkan sampai hari ini kita terus mengalami itu semua, tetapi biarlah melalui kisah hidup Lea, kita kembali digugah akan kasih Tuhan kepada Lea dan pembentukan Tuhan kepada Lea boleh menjadi berkat bagi engkau dan saya. Tidak ada lagi alasan yang kita pakai, tidak lagi ada hal yang sanggup memakan habis kekecewaan dan kepahitan kita. Biarlah Tuhan yang mengasihi kita, membentuk kita bisa menjadikan hal yang indah dalam hidup engkau dan saya. Jangan pernah merasa bahwa engkau tidak dikasihi, engkau merasa menjadi warga kelas dua dan merasa jadi orang yang selalu hidup diperlakukan tidak adil. Pada waktu kita dibentuk dan diubah oleh Tuhan, jadilah satu pribadi yang memiliki keindahan di dalam batinmu. Jadilah anak-anak Tuhan yang memiliki kebenaran, pengertian yang benar melalui firman, ajaran yang benar, dan berita Injil yang benar itu nyata juga melalui hidup kita satu persatu. Mari kita minta ampun kepada Tuhan jikalau kita sudah menjadi batu sandungan karena sebagai anak-anak Tuhan kita hidup hanya memperhatikan kenikmatan hidup kita sendiri dan tidak memperlakukan orang-orang di sekitar kita, keluarga kita tidak dengan cinta kasih yang dari Tuhan. Kiranya Tuhan boleh menjadikan setiap kita indah dan memproses setiap kita supaya kita terus melihat dan mengenal Tuhan kita adalah Allah yang sungguh mencintai dan mengasihi kita. Melalui tutur kata dan perbuatan kita, kita bukan mengeluarkan kata-kata yang tidak baik dan pahit dalam hidup kita tetapi senantiasa memberkati orang dan hidup bagi hormat dan pujian dan kemuliaan bagi Tuhan selamanya.(kz)