Will You wrestle with God? [The Story of Jacob]

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Will You wrestle with God? [The Story of Jacob]
Nats: Kejadian 32:22-32

Setiap kali kita sebagai seorang hamba Tuhan setiap kali bertemu dengan orang, lumrah dan wajar kita bertanya kepada dia, “Bagaimana keadaanmu, dan apa yang bisa saya doakan?” Kebetulan ada pendeta yang bertanya seperti itu, maka biasanya jawabannya adalah, “Pak Pendeta, aku banyak kesulitan dan pergumulan. Tolong doakan aku.” Jawaban seperti itu adalah jawaban yang lumrah dan wajar adanya. Karena pada waktu kita berada di dalam kesulitan dan pergumulan dan merasa tidak ada jalan keluar, kita bersyukur dan senang ada orang yang memperhatikan dan mau berdoa bagi kita. Walaupun mungkin orang itu tidak bisa menolong kita, paling tidak kita bisa menceritakan apa yang menjadi kesulitan dan pergumulan kita dan boleh mendapatkan kelegaan di situ. Tidak ada orang yang tidak punya kesulitan dan pergumulan dalam hidup ini. Kita semua mempunyai pergumulan-pergumulan dan kesulitan-kesulitan. Pada waktu kesulitan dan pergumulan tidak henti datang silih berganti, kita bisa menjadi lemah. Ketika ada penyakit yang panjang dan berat datang ke dalam hidup kita, kita bisa menjadi lemah. Namun pada hari ini, ijinkan saya membawa sdr bertanya kepada diri, apakah kesulitan dan pergumulan itu adalah hal yang membawa hidup spiritualku bertumbuh atau sebetulnya tidak membawa aku lebih dekat dan lebih mengenal siapa Tuhan dalam hidupku? Hari ini mari kita bawa pertanyaan ini sebagai refleksi melalui pengalaman daripada hidup Yakub. Kenapa Tuhan perlu datang bergumul dengan Yakub? Karena melalui pergumulan ini Tuhan membawa Yakub kepada satu turning point yang penting luar biasa sehingga dia boleh meletakkan dan menempatkan pergumulan hidupnya di dalam satu perspektif ilahi yang benar.

Kita tahu siapa Yakub. Kejadian 25-49 mencatat perjalanan hidupnya yang luar biasa. Kita dapat melihat betapa banyak dia juga mengalami kesulitan dan pergumulan. Hal-hal yang tidak baik datang silih berganti dalam hidupnya. Pada waktu Yakub masih dalam kandungan ibunya, Allah telah memberitahukan kepada Ishak, ayahnya, bahwa anak ini akan menjadi satu bangsa yang besar dan dia akan diberkati oleh Allah lebih daripada kakaknya, Esau. Ribka, ibunya, yang lebih sayang kepada Yakub, mendengar janji Tuhan itu. Tetapi sampai Ishak beranjak tua, Ribka tidak melihat tanda-tanda bahwa Ishak akan menurunkan berkat itu kepada Yakub tetapi dia lebih sayang kepada Esau. Dan ketika dia mendengarkan bahwa Ishak akan memberkati Esau, maka Ribka bersama Yakub mencari cara bagaimana mendapatkan berkat itu dengan menipu ayahnya (Kejadian 25:19-34, 27:1-29).

Bagi sdr yang baru lulus dari studi dan baru memulai karir dan masuk ke dalam pekerjaan, mungkin engkau harus berjuang dan merangkak dari bawah. Melalui apa yang dialami oleh Yakub di dalam pengalaman hidupnya ijinkan saya mengingatkan engkau, Tuhan berjanji akan pelihara engkau, Tuhan berjanji akan memberikan berkat kepadamu, tetapi mari kita jangan gegabah, jangan melakukan cara-cara yang ingin cepat-cepat sukses dan melangkah keluar daripada jalan yang seharusnya. Kita belajar bisa tekun selangkah demi selangkah dalam hidup kita, berjalan dengan kejujuran dan kebenaran dan tidak perlu terlalu takut bahwa kita tidak dapat kesempatan untuk mendapatkan semua itu. Jangan sampai engkau mengambil jalan seperti Yakub yang memakai berbagai macam cara supaya bisa mendapatkan banyak harta dan berkat. Bukan saja hidupnya penuh dengan tipu muslihat, dia berkali-kali juga ditipu oleh orang. Itulah hidup Yakub. Waktu ada kesulitan, ada persoalan, dia bisa pakai cara tipu sana-sini lalu kemudian ketika sudah tidak ada jalan keluar, cepat-cepat dia lari dan pergi. Banyak hal hidup kita seperti itu. Ketika menghadapi persoalan dan kesulitan, ketika tidak ada jalan keluar dan tidak mau menghadapinya, kita mungkin pakai cara menghindar, kita mungkin pakai cara bagaimana orang lain yang dipersalahkan, kita mungkin menggunakan taktik mendapatkan keuntungan sementara orang lain yang mengalami kerugian. Itu adalah cara-cara yang seringkali dilakukan orang pada waktu mengalami kesulitan dan pergumulan dalam hidup ini. Tetapi cepat atau lambat akan tiba satu momen dimana kita tidak bisa lari, tidak bisa menghindar, tidak bisa menggunakan taktik, dan harus jalan balik lagi. Yang dulunya kita tidak mau hadapi, sekarang harus hadapi dan bereskan dengan berani.

Yakub ada persoalan besar dengan Esau. Dua puluh tahun yang lalu dia sudah menipu Esau dan mencuri hak kesulungannya. Dua puluh tahun yang lalu dia lari karena Esau dendam dan akan membunuh dia (Kejadian 27:41). Dua puluh tahun berlalu, dia akan hadapi hari itu. Dia tidak bisa menghindar dan tidak bisa lari lagi. Kejadian 32:1-21 menceritakan Yakub masih coba pakai cara dia dulu. Dia membagi hartanya, budak-budak dan ternaknya dan dia kirim lebih dahulu di barisan paling depan sampai kepada Esau dengan satu tujuan supaya melalui pemberian seperti itu hati Esau mungkin bisa lembut dan luluh. Tetapi ketika Yakub mendengar bahwa Esau datang dengan 400 orang pasukannya, gemetar, gelisah, takut dan sesak hati Yakub. Itu adalah pergumulan dan tekanan dimana dia tidak bisa lepas lagi daripadanya.

Maka kita sampai kepada Kejadian 32:22-32, pergumulan Yakub dengan Allah. Malam itu Yakub tinggal seorang diri di tempat penyeberangan sungai Yabok. Kenapa Yakub berbuat seperti itu, kita tidak tahu. Alkitab hanya mencatat begitu saja. Pada malam itu keadaan gelap luar biasa. Di tengah kegelapan, tiba-tiba datang satu orang laki-laki menyerang dan bergulat dengan Yakub. Orang itu siapa? Ia adalah Allah yang mengambil rupa seorang manusia. Tetapi saya percaya Yakub berpikir orang ini adalah Esau. Inilah saat yang terakhir Yakub pasti akan mati. Tetapi pergulatan dan pergumulan itu berlangsung sampai fajar menyingsing. Sambil terus bergumul, sudah dicekik lalu dilonggarin lagi, dipiting lalu dilepas lagi. Sampai kemudian pada satu titik Allah memegang dan mematahkan sendi pangkal paha Yakub. Di situ Yakub kemudian menyadari sesungguhnya orang ini tidak mau membunuh dia, orang ini mengajak dia bergulat. Untuk apa? Di situ Yakub menyadari satu pergumulan bersama dengan Tuhan yang membawa dia kepada satu kesadaran dan perspektif yang luar biasa. Allah adalah Tuhan yang sungguh mengasihi dia. Dan pada waktu Ia memberikan tekanan, tantangan, ujian, test dalam hidupnya, semua itu tidak mempunyai tujuan untuk mencelakakan, menghancurkan, merusak dan merugikan hidupnya. Di situ Yakub melihat bagaimana Allah in control dan berkarya di dalamnya. Apa yang kita belajar dari sini? Pergumulan Yakub dengan Allah membawa kita juga senantiasa harus menyadari bahwa Allah juga adalah Tuhan yang sungguh mengasihi kita. Allah tidak punya maksud mencelakakan dan menghancurkan engkau. Seringkali kita begitu terpatok kepada besarnya dan beratnya persoalan dan pergumulan kita dan kita tidak melihat Allah yang begitu kasih memelihara kita. Di tengah hal-hal yang terburuk terjadi, tetap kita percaya Tuhan mempunyai maksud dan rencana yang indah untuk engkau dan saya.

Ketika Yakub bergumul dengan persoalan bagaimana bisa lepas dari pergumulan dengan Esau, malam hari itu pergumulan itu harus dia bawa dan dia gumulkan bersama Tuhan. Apakah setelah itu persoalan itu lalu selesai? Jawabannya, tidak. Tetapi pergumulan itu mendatangkan beberapa hal yang penting. Pertama, ketika dia bawa pergumulan itu bersama dengan Tuhan, itu membawa dia kepada perspektif yang luar biasa melihat Allah adalah Tuhan yang mengasihi dia, yang tidak ingin mencelakakan dan menghancurkan dia. Yang kedua, melalui pergumulan itu, Yakub semakin dikuatkan. Semakin dia rasa dia bisa menang. Sebelumnya Yakub sesak hatinya, takut dan gelisah. Tetapi setelah bergumul dengan Tuhan, Yakub imannya menjadi lebih kuat. Yang ketiga, di akhir daripada pergumulan itu, Allah bertanya, “Siapakah namamu?” (Kejadian 32:27). Ini adalah satu pertanyaan yang luar biasa. Mestinya kalau orang ada persoalan dan kesulitan, pertanyaannya adalah, bagaimana kabarmu, apa persoalanmu. Waktu Yesus ketemu dengan orang yang buta di Yerikho, Yesus bertanya kepadanya, apa yang engkau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu? Apa yang engkau perlukan? Apa yang engkau inginkan untuk aku lakukan bagimu? Apa persoalanmu? Apa masalahmu? (Lukas 18:41). Seharusnya pertanyaan itu yang keluar, karena malam itu Yakub sedang menghadapi kesulitan yang begitu besar, dan ancaman yang tidak main-main. Bukankah Allah telah berjanji bahwa dia akan menjadi satu bangsa yang besar? Hari ini akan terjadi genocite kepada keluarganya. Habis semua. Tidak ada jalan keluar. Dimana janji Tuhan? Ini semua persoalan Yakub.

Tetapi kenapa Tuhan bertanya, siapakah namamu? Sebenarnya ini yang kedua kali Yakub mendapat pertanyaan ini. Pertanyaan yang pertama keluar dari mulut ayahnya Ishak yang bertanya, siapa kamu? karena Ishak sudah sangat rabun dan tidak bisa melihat. Kalau pegang tangannya, tangan Esau. Tetapi dengar suaramu, suara Yakub. Yakub karena mau mendapat blessing dari ayahnya, maka dia berbohong, namanya Esau (Kejadian 27:18-29). Maka malam hari itu pada waktu Yakub bergumul dengan Tuhan, dia bilang, Tuhan, jangan engkau pergi sebelum Engkau memberkati aku (Kejadian 32:26), Tuhan bertanya siapa namamu. Malam itu Yakub tidak berbohong. Malam itu dia bilang, namaku Yakub (Kejadian 32:27). Nama Yakub berarti orang yang memegang tumit, karena pada waktu lahir sebagai anak kembar, dia mau keluar duluan tetapi kakaknya Esau lebih kuat, sehingga lebih dulu keluar. Dia tidak rela, maka dia pegang tumit kaki Esau. Begitu keluar, maka diberi nama Yakub yang artinya pegang tumit. Tetapi pada saat yang sama, nama Yakub juga berarti penipu. Dan itu terlihat dari hidupnya, seorang yang penuh dengan taktik. Pada saat dia bertemu dengan Allah, dia tidak mungkin lagi bisa hidup di dalam kebohongan dan menggunakan cara-cara yang tidak benar. Dia tidak bisa lagi memanipulasi orang. Dulu dia mau berkat dan blessing dari ayahnya dengan memakai segala cara. Hari ini dia menerima blessing dari Allah dan dia terima blessing itu bukan dengan cara apa-apa melainkan hanya dengan confession pengakuan yang humble. Aku Yakub, aku telah diampuni dan aku telah mengalami pertobatan di hadapan Allah dan blessing Allah datang kepada dia.

Malam hari itu melalui pergumulan dengan Tuhan, persoalannya tidak hilang, tetapi pembaharuan rohani dan karakternya berubah. Yakub yang dulu adalah seorang yang gampang berbohong dan menipu dan pakai taktik segala macam demi untuk memperkaya diri dan demi untuk kelancaran hidupnya. Hari itu dia siap menghadapinya meskipun sebentar lagi dia akan mati. “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang” (Kejadian 32:28). Tuhan berkata, hari ini namamu bukan lagi Yakub melainkan Israel. Engkau adalah anak Allah. Engkau akan menjadi satu bangsa yang besar. Engkau adalah Israel, engkau sudah mendapatkan nama yang baru; engkau tidak lagi hidup sebagai manusia yang lama, engkau sudah menjadi manusia baru. Engkau sudah diampuni oleh Tuhan, engkau dicintai oleh Tuhan, engkau telah mengalami pembaharuan karena engkau telah bertemu dengan Tuhan Allah yang hidup, tidak ada lagi yang perlu dia takutkan.

Kita terlalu cepat ingin Tuhan membereskan kesulitan dan persoalan kita, campur tangan dan memberi jalan keluar dengan segera. Tetapi kalau motivasi kita mencari Tuhan hanya sampai di situ, kita tidak akan berubah, kita tidak akan mengalami pembaharuan spiritual dan pembentukan karakter kita, kita tidak mengerti anugerahNya dengan benar. Itulah yang terjadi kepada sepuluh orang kusta yang disembuhkan oleh Yesus (Lukas 17:11-14). Benar, mereka mendapat kesembuhan dan menerima berkat Tuhan, tetapi mereka tidak mengalami pengertian apa itu bersyukur, apa itu blessing, dan siapa Tuhan dalam hidupnya. Orang itu hanya mencari kesembuhan dan take it for granted.

Malam hari itu Yakub tidak perlu minta pemberesan atas semua persoalannya tetapi Tuhan mengubah dia, dia menjadi seorang yang berani, berkata dengan jujur, dengan benar, dan dia berani untuk menghadapi realita hidupnya dan dia tahu dia tidak perlu takut lagi. Katanya, “Aku telah melihat Allah berhadapan muka tetapi nyawaku tertolong” (Kejadian 32:30). Kalau pengalaman itu tidak membuat aku tidak mati, apalagi yang perlu aku takutkan dari manusia? Kesulitan yang lain pasti tidak akan mematikan hidupku. Puji Tuhan! Kita bisa menyaksikan keindahan seperti ini terjadi pada diri Yakub. Allah bergumul dengan Yakub dengan satu tujuan untuk membuat Yakub mengalami transformasi menjadi seorang yang baru, dengan karakter Kristiani yang luar biasa indah terjadi di dalam hidupnya. Tidak semua pergumulan yang kita alami adalah pergumulan-pergumulan yang positif dan baik. Ada begitu banyak pergumulan-pergumulan struggle yang negatif. Apa artinya saya katakan negatif? Yaitu pergumulan-pergumulan yang memang tidak pernah mendatangkan kebaikan bagi hidup kita, itu adalah pergumulan-pergumulan negatif. Jika kita kecewa, marah dan iri melihat orang lain lebih beruntung daripada engkau, orang lain mendapat gaji dan kedudukan yang lebih tinggi daripada engkau. Lalu engkau mencari cara dan memakai segala cara dan taktik untuk sdr mendapatkan gaji dan kedudukan yang lebih tinggi dengan merugikan orang lain. Struggle seperti itu adalah pergumulan negatif yang tidak perlu dalam hidupmu. Engkau bergumul untuk mendapatkan pengakuan dan pencapaian di dalam pekerjaan dan dimana saja, di tengah keluarga, sibling rivalry, akhirnya kita kemudian menjatuhkan adik dan kakak, atau terjadi perselisihan karena warisan, dsb. akhirnya kita menggunakan manipulasi dan cara-cara yang tidak benar terjadi pergumulan-pergumulan seperti ini adalah pergumulan-pergumulan negatif yang tidak perlu ada dalam hidup kita. Tetapi kalau itu adalah pergumulan bersama Tuhan yang Tuhan inginkan ada dalam hidup kita untuk mendewasakan iman kita, biar itu menjadikan kita orang yang bertumbuh dan mengalami perubahan karakter dalam hidup kita. Jikalau Tuhan menginjinkan kita mengalami pergumulan melalui tantangan kesulitan yang ada dalam pekerjaan kita, ketika kita harus mempertahankan hidup yang bersaksi bagi nama Tuhan dan di dalamnya ada resiko yang terjadi dalam hidup kita, itu adalah pergumulan yang positif yang datang kepada kita dan yang kita terima. Kalau engkau bergumul dengan egoisme, sdr belajar bagaimana melayani orang dengan berkorban dengan tidak mendapatkan balasan yang setimpal dan sdr belajar untuk senyum dan tetap melayani dengan sukacita, itu pergumulan yang layak bagi hidupmu.

Pergumulan bagaimana sdr belajar untuk mengasihi, pergumulan bagaimana sdr belajar untuk melayani dan memberi di dalam hidupmu dengan penuh berkorban, itu adalah pergumulan-pergumulan yang menjadikan kita indah dan berkarakter di hadapan Tuhan. Terimalah pergumulan-pergumulan seperti itu. Yakub bisa keluar dengan satu pemahaman baru yaitu Allah itu begitu baik dan cinta kepadaku. Yang kedua, setelah bergumul dengan Allah, sekarang dia tahu dia bisa menang, tidak perlu takut lagi. Tadinya dia menaruh semua di depan dan dia jalan paling belakang. Sekarang semua keluarganya, isteri dan anak-anaknya dia taruh di belakang dan dia berjalan paling depan. Yakub berjalan maju seorang diri di depan.

Mengapa Tuhan harus memegang dan mematahkan pangkal paha Yakub? Akibatnya setelah melewati pergumulan itu Yakub berjalan terpincang-pincang ketemu Esau. Mungkin pagi hari itu, isteri dan anak-anaknya bingung melihat tadi malam masih gagah, masih kuat, tetapi kenapa pagi-pagi menjelang fajar waktu matahari mulai terbit dengan remang-remang dari kejauhan mereka melihat Yakub berjalan terpincang-pincang, membuat semua terkejut dan kaget. Malam hari masih sehat, masih kuat, masih gagah, tetapi sekarang jadi terpelecok seperti itu. Sambil berjalan ke arah Esau, Yakub jalan terpincang-pincang, dia sujud tersungkur sampai di tanah. Lalu dengan pelan dan susah payah, dia bangun dan berjalan maju lagi. Kakaknya Esau yang datang dengan segala kekuatan dan keperkasaan, dengan mata yang bengis, setelah melihat adiknya berjalan tertatih-tatih seperti itu, hatinya berubah. [Dia menjadi tidak tega. Dia masih lebih gagah daripada adiknya, dia masih lebih kuat daripada adiknya. Apa yang terjadi kepadanya? Maka jatuhlah belas kasihan Esau kepada adiknya. Mengapa Tuhan harus memegang dan mematahkan pangkal paha Yakub? Dari sudut pandang manusia, kita tidak mengerti mengapa Tuhan melakukan hal itu kepada Yakub. Sampai pada hari itu barulah kita mengerti bahwa Tuhan lakukan itu supaya melalui itu Esau jatuh belas kasihan kepada Yakub. Kalau hari itu Yakub berjalan dengan gagah menghadapi Esau, mungkin Esau akan mengira Yakub datang untuk menantang dia. Tetapi melihat Yakub berjalan terpincang-pincang, hati Esau jatuh belas kasihan.

Kadang-kadang kita tidak mengerti, kenapa Tuhan perlu taruh tanda disiplin Tuhan secara fisik pada diri kita. Seringkali ada hal-hal yang tidak terduga terjadi dalam hidup kita tidak bisa kita balik lagi dan itu mendatangkan satu physical mark dalam hidup kita. Kita mungkin bertanya, Tuhan kenapa seperti ini, dan pada waktu kita melihat hidup Yakub kita baru mengerti Tuhan lakukan itu untuk membentuk kita mempunyai a humble spirit, membuat kita dengan rendah hati berdiri di hadapan Tuhan. Kadang-kadang Tuhan mengijinkan rumah yang terbakar habis, kesehatan yang hilang seketika, cacat dan lumpuh terjadi kepada orang-orang yang ikut Tuhan, itu bukan karena Tuhan ingin mencelakakan dia, tetapi tanda-tanda seperti itu terjadi agar orang lihat dalam segala kerendahan hati anak-anak Tuhan seperti itu ada Tuhan yang berkuasa dan besar di dalam hidup orang itu.

Kiranya melalui firman Tuhan pada hari ini kita dituntun sekali lagi di dalam kebenaran Tuhan. Dan biarlah kita juga ingin bergumul bersama dengan Tuhan di dalam setiap perjalanan hidup kita supaya melaluinya Tuhan membentuk hati kita sehingga semakin serupa dengan Tuhan kita Yesus Kristus. Jangan marah dan kecewa terhadap begitu banyak tekanan yang begitu berat, sakit yang mungkin terus ada di dalam hidup dan hal-hal yang tidak pernah kita sangka dan duga terjadi dan yang saat ini mungkin tidak kita mengerti. Biarlah hati kita percaya semua itu tidak akan pernah mempengaruhi dan menghantui pikiran kita karena kita tahu kita punya Tuhan yang memakai segala sesuatu boleh bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita masing-masing.(kz)