Dari Gelap kepada Terang

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri Eksposisi Perjalanan Salib [5]
Tema: Dari Gelap kepada Terang
Nats: Markus 15:33-39

Kita yang hidup di tengah-tengah lingkungan yang sekuler betapa tidak gampang dan tidak mudah hidup sebagai orang percaya, sebagai anak-anak Tuhan di tengah-tengah kehidupan bekerja dan dalam kehidupan sehari-hari. Hal seperti ini saya percaya bukan hanya dihadapi oleh anak-anak muda di dalam pergaulan mereka dan di dalam pekerjaan mereka, tetapi juga bagi setiap kita yang ingin sungguh-sungguh menyatakan otentisitas iman kita kepada Kristus. Orang akan terheran-heran jikalau pada hari Minggu melihat engkau masih pergi ke gereja berbakti kepada Tuhan, karena hari Minggu adalah hari dimana engkau bisa mendapatkan uang lebih banyak, hari dimana engkau bisa mendapatkan waktu untuk istirahat dan bersenang-senang. Bagi orang-orang yang ada di sekitarmu yang tidak percaya Tuhan akan menganggap itu sebagai sesuatu yang tidak masuk akal, di tengah dunia yang sudah sangat maju dalam teknologi seperti ini, masihkah kamu mau percaya kepada berita dongeng itu, masihkah kamu percaya kepada buku kuno ini? Isi dari buku ini adalah hal-hal yang tidak masuk akal, this is pre-modern, this is pre-scientific literature. Engkau masihkah terima dan percaya akan hal ini? Engkau masih berbakti dan percaya Tuhan?

Yesus Kristus berkata, “My truth will set you free,” kebenaranKu adalah kebenaran yang akan membebaskan engkau (Yohanes 8:31-36). Kalimat dari Tuhan Yesus itu penting untuk kita ketahui. Berarti pada waktu kita percaya Tuhan, pada waktu kita mengenal akan kebenaran yang Tuhan berikan kepada kita dalam Alkitab ini, kebenaran Allah tidak pernah menjadi kebenaran yang membodohi kita dan membuat kita menjadi orang yang tidak mengerti apa-apa. Beriman yang sungguh, beragama yang sungguh, tidak akan pernah memperalat dan membodohi manusia. Yesus berkata, My truth will set you free, kebenaran Yesus tidak pernah memperbudak orang. Yang memperbudak kita adalah dosa-dosa kita, dan Yesus membebaskan kita. Kebenaran Yesus membuka pikiran kita, membuat kita memiliki wawasan yang lebih benar, etika kita diperbaiki dan dirubah Tuhan. Itulah sebabnya di dalam kebenaran firman Tuhan, kita terus merenungkan firman Tuhan, firman Tuhan tidak pernah membuat kita menjadi orang yang lebih bodoh dan ignorant. Saya rindu dan saya percaya, setiap kali kita membaca Alkitab, setiap kali kita mendengarkan firman Tuhan, setiap kali kita mendengar khotbah, kita menjadi orang yang makin dibuat oleh firman Tuhan lebih memiliki bijaksana, membuat kita menjadi orang yang tidak gampang sekali dipengaruhi oleh hal-hal yang tidak benar dalam hidup ini karena kebenaran Allah adalah kebenaran yang memerdekakan kita. Dan itu juga menjadi kerinduan dari khotbah mimbar ini, kita tidak akan pernah dan tidak akan mau membuat orang yang dibodohi di dalam kita mengikuti Tuhan.

Maka pada waktu kalimat seperti ini muncul: kenapa engkau masih mau percaya Tuhan, kenapa engkau masih pergi ke gereja, bukankah itu sesuatu yang pre-modern, un-scientific, sesuatu yang tidak perlu lagi dipercaya adanya? Konsep seperti ini adalah konsep yang lumrah sekali yang terjadi dalam hidup kita sehari-hari. Namun mari kita coba perhatikan hal yang penting ini. Yang pertama, kita perlu menyadari pada waktu gereja dan pemimpin-pemimpin agama berkuasa pada era abad-abad yang sebelumnya, kita harus mengakui beberapa dari antara pemimpin-pemimpin ini memakai agama untuk memperalat sesuatu demi untuk kepentingan kocek mereka dan demi untuk kekayaan mereka sehingga menimbulkan hal-hal yang tidak masuk akal di dalam hidup beragama. Karena atas nama agama mereka bisa membunuh orang yang mereka anggap tidak sesuai dengan apa yang menjadi pikiran dan pengajaran mereka. Agama menghalang-halangi kemajuan ilmu pengetahuan, tidak membuat orang menjadi lebih pintar. Agama menjadi alat manusia untuk membodohi orang lain. Bagi mereka yang tidak mau percaya Tuhan dan menganggap science, ilmu pengetahuan, pikiran manusia, itulah yang membebaskan manusia dari konsep tahayul, itulah yang membuat manusia lebih pintar. Begitu banyak penemuan-penemuan dalam science yang menyebabkan manusia berpikir kita tidak lagi memerlukan Tuhan, kita tidak perlu lagi berdoa, kita tidak perlu lagi beragama. Agama adalah hal-hal yang dipercayai oleh orang-orang yang bodoh, orang-orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan. Setiap persoalan dan permasalahan yang ada di dunia ini bisa kita selesaikan dengan kepintaran daripada manusia dan kehebatan penemuan dari teknologi. Itulah spirit dan semangat dunia modern, satu pemikiran manusia yang progresif dimana manusia akan menjadi lebih baik dan lebih makmur karena kemajuan ekonomi dan pengetahuan manusia. Tetapi apakah manusia lebih pintar dan lebih makmur akan membuat kejahatan lebih berkurang? Apakah kekayaan ekonomi yang lebih makmur dan merata membuat manusia tidak berbuat kesalahan dan tidak melakukan hal yang jahat dan merugikan orang lain? Itulah yang menjadi pikiran mereka. Sejarah memberitahukan kepada kita pendidikan yang tinggi tidak membuat orang menjadi lebih berkurang berbuat jahat. Justru dengan kemajuan teknologi, manusia melakukan kejahatan yang jauh lebih dahsyat. Justru orang yang semakin pintar dan semakin kaya membuat mereka berbuat kejahatan dalam skala yang lebih besar.

Bapa Gereja Agustinus dari Hippo, mengatakan, “Engkau telah menciptakan kami bagiMu sendiri, ya Allah, dan jiwa kami senantiasa gelisah sampai menemukan sentosa di dalam Engkau.” Thou hast made us for Thyself, o Lord, and our heart is restless until it finds its rest in Thee. Pencaharian apapun di dunia ini tidak akan memuaskan apa yang menjadi kerinduan hatinya sebelum hati itu diisi dengan kembali kepada Tuhan. Kita berbeda dengan binatang, kita manusia memiliki satu kesadaran darimana saya, apa tujuan hidup ini, lalu setelah saya mati hidup saya tidak berhenti sampai di sini. Kita memiliki sesuatu kegusaran dalam hati kita dengan merasa bahwa kita tidak berhenti sampai di sini. Itulah yang Agustinus katakan karena hati kita dicipta memiliki satu dimensi yang dalam dan kekal seperti lubang yang tidak punya batasnya. Kita pikir apa yang kita perlu dalam dunia ini adalah kemakmuran dan kekayaan. Namun pada waktu kita isi kekosongan hati kita dengan segala macam itu tidak pernah memuaskan kita, karena semua itu tidak akan pernah sampai kepada dasar hati kita. Yang terbatas tidak akan pernah mengisi yang tidak terbatas. Maka Augustinus berkata hanya Allah yang bisa memuaskan hidup kita. Yesus juga pernah berkata “Manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap firman yang dikatakan Allah” (Matius 4:4). Jelas tentu kebenaran firman Tuhan bukan bicara soal perut tetapi soal jiwa dan hati manusia. Sudah tentu kita punya kebutuhan fisik tetapi kebutuhan fisik bukan menjadi segala-galanya. Kebutuhan hidup kita bersama-sama dengan Tuhan, itu lebih dari segalanya.

Sudah beberapa minggu berturut-turut dalam minggu sengsara Tuhan kita mempersiapkan diri kita membaca bagian firman Tuhan yang menuntun kita menuju kepada salib Tuhan Yesus Kristus dan hari ini kita akan merenungkan Markus 15:33-39. Dari sejak tengah malam hingga dini hari Yesus ditangkap, bukan saja sudah tidak tidur semalam suntuk, Ia sudah mengalami aniaya dan pukulan yang luar biasa di hadapan Imam Besar Kayafas dalam pengadilan Sanhedrin mahkamah agama orang Yahudi. Pada jam enam pagi, karena itu adalah moment sah pengadilan Romawi bisa dimulai, mereka membawa Yesus kepada Herodes dan kepada Pontius Pilatus. Pada jam sembilan pagi Yesus dipaku di kayu salib. Dari pengadilan Pilatus menuju ke bukit Golgota, di tengah sakit dan penderitaan dan kelelahan Yesus tidak kuat mengangkat balok kayu salib yang begitu berat, sehingga serdadu Romawi memaksa Simon dari Kirene untuk mengangkat balok kayu itu sampai ke atas bukit Golgota.

Markus 15:33-39 adalah satu bagian yang sangat penting. Ini adalah momen Markus mencatat mengenai peristiwa kegelapan 3 jam lamanya terjadi pada saat Yesus berada di atas kayu salib. Ini bukan kegelapan yang biasa, ini adalah satu kegelapan yang mempunyai makna yang sangat penting luar biasa. Dan kegelapan yang terjadi pada waktu Yesus berada di atas kayu salib itu bukanlah sesuatu yang terjadi secara alamiah saja, sebab Markus mencatat secara spesifik kapan kegelapan itu mulai dan kapan kegelapan itu berakhir; datangnya kapan, perginya kapan, ada jam tertentu. “Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga” (Markus 15:33). Yesus disalib jam sembilan pagi, selesai sampai jam tiga sore, selama enam jam lamanya Yesus tergantung di kayu salib, dan tepat pada tengah hari kegelapan itu meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga sore. Kegelapan itu menjadi simbol yang sangat penting sekali, karena itu adalah satu moment bukan saja alam semesta berduka terhadap penderitaan Anak Allah, sang Pencipta yang hari itu sedang ada di atas kayu salib. Yang kedua, kegelapan hari itu terjadi seolah-olah itu adalah momen kegelapan itu sedang menguasai terang; itu adalah momen seolah-olah si Jahat itu menang dan mengalahkan Tuhan Yesus Kristus. Yang ketiga, kegelapan itu juga menjadi simbol pemberontakan hidup kita kepada Allah. Kita yang berdosa sangat senang dengan gelap sebab di dalam kegelapan kita bisa melakukan kejahatan supaya orang lain tidak melihatnya. Yang keempat, kegelapan itu menjadi lambang dan simbol betapa ngerinya manusia yang memberontak dan terpisah dari Tuhan. Sehingga peristiwa Yesus mati di atas kayu salib adalah satu peristiwa dimana alam akan menggeserkan kegelapan yang meliputi hati manusia untuk melepaskan manusia dari kegelapan itu dari hidup manusia sehingga terang Allah bisa bercahaya.

Dalam hidup kita di hadapan Tuhan, kita harus belajar senantiasa hidup “coram Deo” living in the presence of God, senantiasa hidup di hadapan Allah. Kita terlalu gampang dan terlalu mudah takut kepada bagaimana penilaian orang. Kita lebih gampang bertingkah laku supaya dilihat oleh orang, tetapi kita sama sekali tidak pernah berpikir bahwa ada Allah yang melihat sehingga apapun yang kita kerjakan di dalam gelap, Dia menyaksikan dan melihat semua itu. Paulus berkata kepada para budak Kristen yang ada di Kolose, “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:22-23). Bekerjalah dengan melakukan segala sesuatu tanggung jawab kepada Tuhan. Jangan melakukan segala sesuatu hanya pada waktu tuanmu ada di depanmu. Itulah artinya we live coram Deo, in the presence of God. Pada waktu Yusuf menghadapi godaan dari isteri Potifar, dia mengeluarkan kalimat, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kejadian 39:9). Meskipun tidak dilihat oleh Potifar dan tidak dilihat oleh orang lain, Yusuf hidup in coram Deo, menyadari Allah hadir dan ada bersamanya. Ini penting sekali. Yohanes berkata, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yohanes 1:5). Ketika terang itu bercahaya di dalam kegelapan, kegelapan berusaha menutupi terang itu sebab kegelapan tidak menyukai terang itu.

Tetapi yang keempat yang lebih penting, kegelapan itu membukakan realita apa artinya berpisah dari Allah. Markus mencatat: Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?” Yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Markus 15:34). Pada waktu Yesus berseru itu, betul-betul Allah meninggalkan Dia secara objektif ataukah Yesus hanya merasa subjektif Allah Bapa meninggalkan Dia? Jawabannya: betul, Allah Bapa meninggalkan Dia. Yesus bukan saja merasa, tetapi betul-betul itu demikian. Inilah saat, inilah moment satu-satunya di dalam perjalanan dan hidup daripada Tuhan kita Yesus Kristus yang memanggil dan menyebut BapaNya di surga dengan sebutan “Allah.” Bukankah Ia berkata, Bapa dan Anak itu satu adanya dari kekal bersama-sama (Yohanes 10:30). Selama Yesus berada di atas muka bumi ini Dia mengajar bagaimana kita menyebut Allah sebagai Bapa kita. Setiap kali Ia berbicara mengenai Allah, Ia menyebutnya Bapa. Tetapi pada momen ini, Dia menyebut dengan satu sebutan yang sangat menyedihkan, “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Karena demi menanggung dosa kita, Allah bapa dan Allah Anak harus terpisah; Bapa meninggalkan Anak, sesuatu hal yang misteri tidak bisa kita mengerti. Itulah sebabnya di dalam keterpisahan itu kegelapan itu begitu dahsyat, kesedihan dan suara teriakan Yesus itu begitu pedih, “My God, My God, why have You forsaken Me?” Keterpisahan dengan Allah dinyatakan dan dirasakan oleh Yesus Kristus di atas kayu salib untuk menjadi peringatan bagi kita, betapa sangat menyakitkan, sangat menakutkan, sangat mengerikannya. Kegelapan itu begitu dahsyat, tidak ada hidup karena begitulah keterpisahan dengan Allah sumber hidup kita. Namun keterpisahan itu dialami oleh Tuhan Yesus supaya kita mengerti kita tidak perlu takut lagi dengan kematian yang memisahkan kita. Sebagai orang percaya, sebagai anak Tuhan kita tidak boleh memiliki hati yang rasa takut kepada kematian. Kapan saja waktu itu tiba dalam hidup kita, kita tahu kematian itu bukan akhir segala-galanya, kematian bukan lagi menjadi kutukan bagi kita, tetapi menjadi tempat dan jalan sementara bagi kita yang akhirnya kita bertemu dan berjumpa dengan Tuhan.

Setelah Yesus mati di atas kayu salib, kegelapan itu kemudian pergi. Ada dua hal yang terjadi. Yang pertama, tirai yang memisahkan kita dari Allah sebelumnya robek, terbelah dua dari atas sampai bawah (Markus 15:38). Tirai di dalam Bait Allah itu begitu besar dan berat luar biasa. Itulah sebabnya pada waktu hal itu terjadi, orang di dalam Bait Allah yang menyaksikan dan memberitahukannya, meskipun kejadian ini berusaha ditutup-tutupi karena ini adalah satu peristiwa yang luar biasa. Tetapi tirai itu terbelah dua menjadi simbol tidak ada lagi pemisah antara Allah dengan umatNya, now we are in the presence of God forever. Ibrani 10:20-21 mengatakan karena Anak Allah itu telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir yaitu diriNya sendiri dan kita mempunya seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.” Tirai yang memisahkan kita dengan Allah sudah tidak ada lagi. Hari ini, nanti, besok, kapan saja, tidak ada lagi pemisah antara kita dengan Allah. Kita bisa datang kepadaNya walaupun dengan perasaan malu, sedih dan kecewa karena kita tidak hidup berkenan kepadaNya. Tetapi pada waktu kita berada in the presence of God, kita diperkenankan oleh Dia sebab Allah bukan melihat kita tetapi Allah melihat korban yang sempurna Kristus telah mati dan menebus kita. Apalagi yang kita perlukan dan butuhkan pada waktu kita dalam keadaan penuh dengan segala cacat cela dan kerusakan hidup karena dosa, kita berdiri di situ dan dokter berkata tidak ada lagi harapan, tidak ada lagi kemungkinan sembuh, dan datanglah seorang yang menawarkan kesembuhan itu kepadamu, bagaimana mungkin engkau menolaknya? What kind of relief you have! It is a feeling in the presence of God. Hari ini karena kematian Tuhan Yesus Kristus, tidak ada yang memisahkan kita dengan Allah. Kita bisa datang kapan saja dan kita percaya satu kali kelak kita akan berjumpa dan bertemu dengan Dia.

Karena Yesus sudah mati di atas kayu salib, bukan saja “in the presence of God” terjadi, yang kedua Markus mencatat orang yang memerintahkan penyaliban yaitu kepala pasukan Romawi melihat dengan mata sendiri kematian Yesus disalib, orang itu mengaku dengan mulutnya, “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Markus 15:39). Selama enam jam itu kepala pasukan melihat Yesus menjalani proses penyaliban dan penderitaan begitu mulia dan agung. Selama ini dia sudah melihat entah berapa banyak orang yang disalib selama karirnya sebagai tentara Romawi. Dan kita tahu kalau sudah sering menyaksikan dan memakukan orang di kayu salib, hatimu jadi keras, tidak ada lagi perasaan kasihan, perasaan tidak tega. Tetapi hari itu dia melihat kematian Yesus Kristus Anak Allah dan melihat peristiwa yang terjadi di sekitarnya, dan dia berdiri di situ sebagai orang yang menyetujui, orang yang memaku, orang yang menertawakan, orang yang ada di situ melakukan kesalahan dan dosa itu, namun justru Allah memberikan kesempatan baginya, pengampunan datang dan tiba kepadanya. Hari itulah dia mengatakan, sungguh benar Yesus adalah Anak Allah.

Perhatikan baik-baik Markus secara khusus memang adalah Injil yang ditulis bagi orang-orang Kristen bukan Yahudi. Hal ini bisa kita lihat sebab kalimat “Eloi, Eloi, lama sabakhtani” kemudian dia terjemahkan bagi pembacanya yang tidak mengerti bahasa Yahudi dan Aramik, bahwa kalimat itu berarti “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Kita bisa menyaksikan inilah yang menjadi berita utama Injil Markus “Inilah permulaan Injil Yesus Kristus, Anak Allah” (Markus 1:1). Memang tujuannya untuk membuktikan Yesus adalah Anak Allah. Dan di akhir Injil ini Markus, yang pertama kali kemudian menyebut dan menyatakan Yesus adalah Anak Allah bukanlah murid-murid Yesus tetapi pernyataan itu keluar dari mulut seorang yang bukan Yahudi, yaitu kepala pasukan Romawi ini, “Truly, He is the Son of God.” Puji Tuhan!

Kita mengucap syukur kepada Tuhan, kematian Yesus Kristus membawa kita berdamai dengan Allah. Kematian Yesus Kristus memberikan tawaran pengampunan kepada orang-orang yang paling besar dosa dan kesalahannya. Pada waktu itu terjadi, Tuhan memberikan pengampunanNya. Kiranya kita diberkati oleh firman Tuhan pada hari ini. Kita berespon kepadaNya dengan benar dan dengan tepat pada hari ini karena firman Tuhan hari ini mengingatkan kita sekali lagi bahwa hanya Allah Tuhan yang telah menyingkirkan kegelapan dari hati kita dan membawa kita kepada Terang yang sesungguhnya. Ketika manusia tidak berdaya di dalam belenggu kegelapan dosa, penghakiman dan bersalah di hadapan Tuhan, kita boleh menyaksikan Tuhan telah menawarkan dan memberikan jalan keluar bagi setiap pergumulan dan kesulitan hidup manusia di dalam dosa melalui kematian di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Hari ini kita diingatkan Injil ini bukan Injil yang lama, bukan Injil yang membuat kita merasa kita sudah tahu, tetapi Injil yang senantiasa mengingatkan dan memberikan kesegaran dalam hati kita, bahwa hanya karena kasih karunia Tuhan kita diselamatkan; hanya karena kasih karunia Tuhan dan bukan karena usaha dan perbuatan baik kita menerima pengampunan pada waktu kita percaya dan datang kepada Tuhan.(kz)