Perjamuan Terakhir

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri Eksposisi Perjalanan Salib [1]
Tema: Perjamuan Terakhir
Nats: Matius 26:17-30

Kurang lebih tinggal 6 minggu lagi kita akan masuk kepada minggu Sengsara Tuhan, memperingati Jumat Agung dan Paskah. Ijinkan saya mulai minggu ini sampai enam minggu ke depan untuk kita sama-sama melihat perjalanan Tuhan kita Yesus Kristus menuju Golgota. Kerinduan saya pada waktu kita melihat bagian ini, kita akan kagum dan takjub kepada pribadi Tuhan kita Yesus Kristus. Di tengah perjalanan menuju kayu salib menghadapi penderitaan yang paling dahsyat, dalam kesendirian Ia akan menanggung dan menerima salib itu, tetapi justru dalam perjalanan itu kita menyaksikan Ia adalah satu sosok pribadi yang agung dan indah luar biasa.

Hari ini kita akan masuk kepada tema “Perjamuan Terakhir” dari teks Matius 26:17-30. Perjamuan malam yang terakhir ini terjadi dalam situasi dan konteks yang sangat penting dalam kalender orang Yahudi yaitu Perjamuan Paskah. Ini adalah tradisi yang sudah dilakukan oleh orang Israel sejak awal sebagai bangsa yang dibebaskan Allah dari perbudakan di Mesir. Namun peristiwa Perjamuan malam itu adalah perjamuan yang luar biasa sebab hari itu Yesus merubahnya menjadi sesuatu konsep yang baru dan perjamuan itu kemudian menjadi peringatan dan memori bagi kita sebagai orang Kristen dan sesuatu yang kita lakukan sebagai umat perjanjian Tuhan yang baru. Setiap mengadakan Perjamuan Kudus, kita mendengar kalimat Tuhan Yesus dikumandangkan, “Inilah tubuhKu yang dipecah-pecahkan bagimu. Ambillah dan makanlah.” Kemudian Yesus mengambil cawan dan berkata, “Inilah darahKu yang ducurahkan bagi pengampunan dosamu.” Kalimat ini adalah kalimat kasih, kalimat ini adalah kalimat self-sacrifice, kalimat ini adalah kalimat yang mencintai orang-orang yang hadir pada waktu itu; kalimat ini adalah kalimat pengampunan, kalimat ini adalah kalimat pemulihan. Tetapi kita tidak boleh lupa, kalimat ini adalah kalimat yang diapit oleh dua dosa yang besar dalam hidup manusia. Kalimat ini diapit oleh dosa pengkhianatan [sin of betrayal] yang diwakili oleh Yudas Iskariot dan dosa penyangkalan [sin of denial] yang diwakili oleh Simon Petrus. Pada malam hari itu Yesus mencuci kaki semua murid, termasuk kaki dari Yudas Iskariot. Yesus makan bersama Yudas Iskariot, bahkan Yesus beri tawaran pertobatan, tawaran pengampunan dan kesempatan baginya. Yesus mencurahkan kasih yang begitu besar kepadanya, supaya Yudas sadar, Yudas bertobat dan Yudas mengakui bahwa dia membutuhkan Tuhan pada malam itu.

Kita menyaksikan betapa luar biasa bagaimana Allah mengatur penebusan dan keselamatan begitu sempurna, yang walaupun manusia yang membuat plot membunuh Yesus, tetapi semua itu seperti yang dinyatakan oleh Petrus, “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kisah Rasul 2:23). Peristiwa penyaliban Yesus tepat pada hari raya yang khusus bagi orang Yahudi, hari raya Paskah, dan justru penggenapan maknanya terjadi melalui penyaliban Yesus. Dalam peraturan tradisi mereka, mereka harus makan domba Paskah yang disembelih itu di dalam tembok kota Yerusalem. Itulah sebabnya murid-murid bertanya kepada Yesus, “Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagiMu?” (Matius 26:17). Dari Matius 26:1-5 kita bisa melihat konteks situasi yang tidak mudah dan Yesus tidak bisa lagi dengan leluasa kelihatan di depan publik. Maka murid-murid harus diam-diam mempersiapkan perjamuan Paskah sehingga malam harinya Yesus bisa masuk ke dalam kota Yerusalem. Tetapi, luar biasa, Yesus dalam bagian ini memperlihatkan kepada kita jauh-jauh hari Ia sudah mempersiapkan itu semua. Yesus sudah atur seseorang secara kode, dan orang itu membuka rumahnya untuk dipakai bagi perjamuan malam Paskah bagi Yesus. Maka murid-murid kemudian mempersiapkan perjamuan Paskah sesuai dengan apa yang telah Yesus atur dan persiapkan.

Pada setiap hari Paskah, orang Yahudi merayakan keluarnya nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir. Ada tiga poin yang penting setiap kali perayaan Paskah itu diadakan. Yaitu yang pertama di dalam perayaan Paskah mereka memuliakan Allah [celebrating God] sebagai Allah yang telah membebaskan mereka. Mereka mengingat Allah adalah Allah yang setia, Allah adalah Allah yang adil dan Allah yang berpegang kepada janjiNya. Yang kedua, mereka merayakan Darah Anak Domba [celebrating the blood of the lamb] sebagaimana Keluaran 12 mencatat pada malam bangsa Israel keluar dari Mesir, Allah menurunkan tulah yang ke sepuluh dimana setiap anak sulung yang tinggal di Mesir akan dibunuh oleh malaikat Tuhan. Tetapi Allah memberikan satu syarat, tulah kematian anak sulung itu tidak akan terjadi di rumah orang-orang Israel yang di atas palang pintunya dioleskan darah anak domba. Maka pada malam itu, mereka menyembelih seekor anak domba lalu darahnya mereka oleskan di pintu rumah masing-masing. Sehingga pada waktu malaikat maut itu lewat dan melihat darah yang ada di atas pintu itu lalu malaikat itu akan meluputkan rumah itu dari kematian anak sulung. Alkitab mencatat malam itu adalah malam yang sangat menakutkan dimana mereka bisa mendengar lolongan ratap tangis orang-orang Mesir sebab tidak ada satu rumah yang anak sulungnya diluputkan, termasuk anak sulung Firaun sendiri. Maka Paskah itu penting bagi bangsa Yahudi dimana mereka tahu mereka diluputkan dari kematian karena pengorbanan domba Paskah itu. Yang ketiga, Paskah sekaligus juga menjadi satu perayaan kerinduan mereka di masa depan [celebrating with the hope for the future] bahwa satu kali kelak mereka akan tinggal di atas tanah sendiri, di atas kemerdekaan mereka sendiri. Ini hal yang sangat mereka rindukan luar biasa.

Maka tidak heran kenapa waktu Yohanes Pembaptis muncul dan berkhotbah di padang gurun, mereka berbondong-bondong datang untuk melihat dia. Lukas mengatakan, “Karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias” (Lukas 3:15). Injil Yohanes mencatat, beberapa imam dan orang-orang Lewi khusus diutus dari Yerusalem untuk bertanya kepada Yohanes Pembaptis, siapakah dia. Dan Yohanes mengaku dan tidak berdusta, katanya: Aku bukan Mesias” (Yohanes 1:19-21). Demikian juga pada waktu Yesus muncul, pertanyaan yang sama ditanyakan oleh orang-orang kepadaNya. “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami” (Yohanes 10:24). Di hadapan pengadilan Mahkamah Agama, Imam Besar Kayafas bertanya kepada Yesus, “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak” (Matius 26:63, Markus 14:61). Bahkan sampai pada detik-detik terakhir, sebelum Yesus naik ke surga, murid-murid masih bertanya akan hal ini, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kisah Rasul 1:6). Mereka menanti dan berharap bahwa seorang mesias akan muncul untuk memimpin mereka menjadi satu bangsa yang merdeka. Kenapa? Kalau membaca perjalanan sejarah mereka, kita tahu sejak pulang dari Pembuangan sampai Yesus datang sebenarnya mereka tidak pernah merdeka. Mereka selalu berada di bawah penjajahan dari bangsa lain. Mereka dijajah oleh Asyur, Babel dan Persia. Setelah kerajaan Persia dikalahkan oleh kerajaan Yunani [Makedonia], otomatis mereka berada di bawah penjajahan Yunani. Dan kemudian sampai kepada era Tuhan Yesus, mereka berada di bawah penjajahan kerajaan Romawi. Dan akhirnya sampai penghancuran kota Yerusalem tahun 70 AD, bangsa ini habis bubar dan terserak ke mana-mana.

Matius 26:19 mencatat murid-murid mempersiapkan Paskah. Apa yang dipersiapkan? Tidak seperti yang kita lakukan dalam perjamuan kudus yaitu hanya roti dan anggur saja, mereka harus persiapkan berbagai elemen lain, sayur-sayuran pahit, dan buah-buahan, membuat roti yang tidak beragi, memanggang dan memasak daging domba yang sudah disembelih dari Bait Allah. Lalu mereka juga harus membersihkan seluruh rumah dengan seksama, karena tidak boleh ada sedikit pun ragi di rumah itu. Masing-masing elemen itu memiliki makna dan signifikansi tertentu. Lalu yang kedua, mereka mempersiapkan makanan disajikan di atas tikar atau meja pendek, lalu mengatur duduk dengan satu lengan bersandar kepada bantal dalam formasi bentuk U. Pemimpin perjamuan itu, dalam hal ini Yesus, akan duduk di tengah dan di sebelah kiri dan kanannya duduk orang-orang yang paling penting, dan kemudian yang duduk paling ujung adalah yang posisinya paling tidak penting dan biasanya dia adalah budak yang sekaligus bertugas mencuci kaki semua orang di ruangan itu. Tetapi kita tahu pada malam perjamuan itu tidak satu pun dari murid-murid yang mau melakukannya. Dan yang kedua, dari Injil Yohanes disebutkan “murid yang paling dikasihi” yaitu Yohanes duduk di sebelah kanan Yesus dan duduk bersandar dekat kepada Yesus (Yohanes 13:23). Yohanes kemudian mengatakan Yesus kemudian memberikan roti dan berbicara dengan Yudas Iskariot yang duduk dekat denganNya, di sebelah kiriNya (Yohanes 13:26). Bagaimana suasana makan malam itu? Ke empat Injil menggambarkan dengan detail ketegangan yang terjadi saat Yesus kemudian mengambil roti dan sayur pahit, lalu mencelupkan ke dalam kuah sambil mengatakan, “Sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Murid-murid satu-persatu berkata, ‘bukan aku, ya Tuhan.’ Mereka tertegun, shock dan begitu takut.
Secara tradisi waktu setiap keluarga melakukan perjamuan Paskah, kepala keluarga atau seorang rabi akan menjadi host yang memimpin ritual dengan mengangkat roti yang tidak beragi, memecah-mecahkan dan memberkati roti itu dengan kalimat berkat dan syukur seperti ini, “Terpujilah Engkau, ya Allah ya Tuhan, Raja seluruh alam semesta, yang memberikan roti dari bumi ini bagi kami.” Inilah kalimat yang Yesus ucapkan saat Ia mengambil roti dan mengucap syukur atasnya (Matius 26:26). Sesudah roti itu dipecah-pecahkan, kalimat selanjutnya “Inilah roti penderitaan yang nenek moyang kita makan.” Roti itu harus dimakan bersama sayur yang pahit menjadi lambang atau simbol dari penderitaan yang dialami oleh orang Yahudi sebagai budak di Mesir. Namun waktu Yesus berdiri, memecah-mecahkan roti itu dan mengucap syukur, setelah itu Ia menambahkan dengan kalimat ini, “Inilah tubuhKu yang dipecah-pecahkan bagimu. Ambillah dan makanlah.” ‘Di situ Yesus sedang memberikan makna yang baru: ini bukan lagi roti penderitaan bagimu, tetapi ini adalah roti penderitaanKu yang dipecahkan menjadi penebusan bagi dosamu. Yesus tahu Ia segera akan mati. Yesus tahu tubuhNya akan dipecahkan seperti roti itu. Dan kalimat Yesus menjadi kalimat undangan ketika murid-murid memakan roti itu mereka mendapat bagian dari penderitaan Yesus, sebagaimana bangsa Israel menerima manfaat dari pengorbanan domba Paskah dan mengenang akan hal itu setiap kali mereka merayakan Paskah.

Kemudian sambil makan, sesudahnya mereka akan minum dari cawan anggur. Ada empat cawan anggur yang disiapkan dan masing-masing mempunyai ritual tertentu. Empat cawan anggur itu diminum dengan tenggang waktu setelah mereka makan, sambil diminum sambil cawan anggur itu diangkat, itu tradisi yang mereka lakukan. Kalimat yang dikatakan oleh pemimpin [host] yang mengadakan perjamuan Paskah itu mengutip Keluaran 6:5-6 “Sebab itu katakanlah kepada orang Israel, Akulah Tuhan. Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat. Aku akan mengangkat kamu menjadi umatKu dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui bahwa Akulah Tuhan Allahmu yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir.” Maka pada waktu cawan anggur yang pertama diangkat, lalu kemudian host mengatakan, “Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir” [I will bring you out from under the yoke of the Egyptians] dan semua menjawab “Amin!” lalu mereka minum anggur itu. Setelah itu Ia mengangkat cawan kedua, “Aku akan melepaskan kamu dari perbudakan mereka” [I will free you from being slaves to them], lalu dijawab, “Amin!” Lalu Ia mengangkat cawan ketiga, “Aku akan menebus kamu dengan tangan yang teracung” [I will redeem you with an outstretched arm] dan kemudian Ia mengangkat cawan terakhir dan mengatakan “Aku akan mengangkat kamu menjadi umatKu dan Aku akan menjadi Allahmu” [I will take you as My own people and I will be your God]. Lalu mereka menyelesaikan perjamuan Paskah itu sampai di situ.

Pada waktu Yesus sedang mengangkat cawan anggur ketiga, sangat besar sekali kemungkinan di situ Yesus berkata, “”Aku akan menebus kamu,” di situ Yesus sedang mengucapkan ayat dari Keluaran 6:5, waktu cawan anggur itu diangkat, orang-orang Yahudi mempunyai tradisi mengatakan kalimat ini. Lalu Yesus kemudian mengatakan, “Sebab inilah darahKu, darah Perjanjian Baru yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa, ambillah dan minumlah.” Sekarang Yesus memberikan pengertian yang baru, penggenapan yang baru, betul, Aku akan menebus engkau. Maka Ia mengangkat cawan yang ke tiga dan berkata seperti itu. Tetapi dengan kalimat tambahan, Yesus mengatakan, cawan ini melambangkan darahKu yang akan dicurahkan untuk menebus engkau dari hukuman yang berat. Bagian ini bagi saya adalah bagian yang sangat agung dan luar biasa karena bagian ini memberitahukan kepada kita betapa besar dan dahsyatnya dosa manusia yang diwakilkan oleh dosa pengkhianatan daripada Yudas Iskariot dan dosa penyangkalan daripada Simon Petrus pada malam hari itu. Yesus memberitahukan kepada kita bahwa Ia telah menyelesaikan janji pengampunan dan penebusan itu melalui pengorbananNya dan darahNya akan tercurah di atas kayu salib dan pada malam perjamuan yang terakhir itu adalah malam dimana Ia ingin setiap kali kita makan roti dan minum anggur dalam perjamuan kudus, kita tahu kita sedang merayakan penebusan Tuhan atas dosa-dosa kita.

Setelah itu kemudian Ia mengangkat cawan ke empat, Yesus mengatakan kalimat ini, “Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapaku kelak” (Matius 26:29). Yesus hendak menyatakan tunggu sampai cawan ke empat Ia angkat dan minum bersama kita karena hari itu adalah hari kita bertemu dengan Tuhan dan itulah cawan yang terakhir dimana Yesus akan berkata, “You are My people and I will be your God forever.” Di situlah semua umat tebusan Yesus yang menantikan kapan lagi kita akan bertemu dengan Dia dan kita akan minum anggur yang terakhir bersama dengan Tuhan. Di situlah Ia akan mengatakan kalimat yang agung dan luar biasa ini: hari ini engkau akan menjadi umatKu dan Aku akan menjadi Tuhanmu selama-lamanya. Puji syukur kepada Tuhan!

Malam hari itu perjamuan terakhir telah selesai, ditutup dengan mereka menyanyikan lagu-lagu pujian (Matius 26:30). Sesudah menyanyikan nyanyian pujian, pergilah Yesus dan murid-muridNya ke bukit Zaitun. Secara tradisi pada malam perjamuan Paskah mereka menyanyikan “hallel,” yaitu kumpulan lagu-lagu pujian, terutama diambil dari Mazmur 113 – 118. Saya ajak sdr membayangkan, setelah Yesus dan murid-murid menyanyikan lagu-lagu ini bagaimana hati dan perasaan mereka. “Tali-tali maut telah meliliti aku dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan. Tetapi aku menyerukan nama TUHAN: Ya TUHAN, luputkanlah kiranya aku!” (Mazmur 116:3-4). “Allahku Engkau, aku hendak bersyukur kepadaMu, Allahku, aku hendak meninggikan Engkau. Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya” (Mazmur 118:28-29). Sulit untuk membayangkan, hanya tinggal beberapa waktu lagi Ia akan naik ke atas kayu salib, Yesus akan menyerukan teriakan, “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Mari coba kita melihat bahwa pada waktu malam hari itu, dalam perjamuan terakhir itu, justru Yesus begitu tenang, begitu jelas, begitu penuh kasih, memberikan penekanan yang lebih dalam sehingga murid-murid mengerti kelak setiap kali merayakan Paskah, mereka tahu Yesus menggenapkan makna dari perayaan itu dengan sesungguhnya. Yesus menjadi Domba Allah yang sejati. Ia melepaskan kita dari kematian, membebaskan kita dari belenggu dosa yang begitu dahsyat. Mungkin kita bertanya-tanya, dosa sedahsyat apa sesungguhnya yang telah kita lakukan sampai Tuhan menderita dan mati di kayu salib? Maka pada malam hari itu kita bisa menyaksikan justru ada dua bentuk dosa yang muncul. Satu adalah bentuk dosa manusia yang terus-menerus Tuhan sudah kasih lihat, Tuhan beri kesempatan, Tuhan bukakan dengan jelas, Tuhan terus sayang dan mengasihi bahkan sampai kepada detik-detik yang terakhir sebelum Tuhan mati, Tuhan masih menawarkan pengampunan dan pertobatan sebab Ia tahu betapa ngeri luar biasa bagi orang-orang yang terus-menerus menolak akan kasih karunia Allah yang luar biasa. Kita tidak bisa membayangkan kengerian yang seperti apa, sehingga Yesus berkata, “Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan” (Matius 26:24). Demikian juga orang-orang yang berkata ‘aku hebat, aku mampu, aku ikut Tuhan dengan luar biasa, aku adil, aku baik, suci,’ dsb. Pada hari itu juga kita bisa menyaksikan dosa penyangkalan Petrus mengingatkan kepada kita bahwa kita tidak akan pernah bisa dengan kekuatan dan kemampuan apapun untuk memperoleh penebusan Tuhan, kecuali melalui kematian Tuhan kita Yesus Kristus.

Hari ini mari kita bersyukur dan sekali lagi menghargai perjamuan kudus yang telah mengingatkan kita Allah telah menyediakan Yesus Kristus menjadi Domba Paskah yang disembelih dan dikorbankan bagi setiap kita. Kita yang kecil, lemah dan penuh dengan segala kekurangan, pelanggaran dan dosa dalam hidup ini, kita tidak pernah bisa menggantikan dan menghapuskannya dengan segala hal yang baik yang kita kerjakan, kecuali semua itu dihapuskan dan ditanggung oleh kematian Tuhan kita Yesus Kristus. Kita datang kepadaNya, kita terima dengan iman tawaran kasih penebusan pengampunan Kristus bagi setiap kita.(kz)