Pengurapan Terakhir

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri Eksposisi Perjalanan Salib [2]
Tema: Pengurapan Terakhir
Nats: Yohanes 12:1-11

Hanya tinggal beberapa minggu lagi kita akan memperingati Jumat Agung, kematian Tuhan kita Yesus Kristus di atas kayu salib, saya rindu kita fokuskan hati kita sekali lagi melihat betapa besar kasih Tuhan yang ajaib dan berapa besar pengorbananNya itu untuk menolong kita merefleksikan bagaimana besarnya cinta kasih yang bisa kita berikan dan serahkan kepada Tuhan kita. Alkitab memperlihatkan menjelang hari-hari terakhir Tuhan Yesus menuju salib, orang-orang yang ada di sekitar Yesus menunjukkan kasih mereka yang luar biasa kepada Yesus. Mereka tahu kesempatan mereka tidak banyak lagi dan ini adalah hari-hari yang terakhir mereka bisa bersama Dia. Tetapi pada saat yang sama kita juga menyaksikan sebagian daripada murid-murid yang paling dekat, khususnya dua belas murid, yang selama tiga tahun begitu banyak kesempatan berada dekat dengan Yesus tetapi justru sampai di kayu salib, merekalah yang paling jauh daripada Tuhan Yesus Kristus.

Hari ini secara khusus kita ingin melihat peristiwa pada waktu malam hari Yesus berada di Betania, enam hari sebelum Dia naik ke kayu salib, ada dua wanita yang sederhana Maria dan Marta mengasihi dan melayani Yesus, yang saya sebut peristiwa “Pengurapan yang terakhir” yang terdapat dalam Yohanes 12:1-11. Peristiwa ini ada dalam konteks situasi yang seperti apa pada waktu itu, Yohanes mencatat seperti ini, “Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi. Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-muridNya. Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain: “Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?” Sementara itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi telah memberikan perintah supaya setiap orang yang tahu dimana Dia berada memberitahukannya, agar mereka dapat menangkap Dia” (Yohanes 11:53-57). Di sini kita bisa melihat Yesus sedang dicari-cari; imam-imam kepala sudah sepakat untuk membunuh Dia; mereka sepakat mau membunuh Yesus karena Yesus telah menyatakan kuasaNya yang luar biasa membangkitkan Lazarus yang sudah mati empat hari lamanya itu. “Sejumlah besar orang Yuahudi mendengar bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus yang telah dibangkitkanNya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala bermufakat untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus” (Yohanes 12:9-11). Kita tidak bisa mengerti respon yang muncul dari para imam dan orang-orang Farisi, yang notabene mengetahui dan belajar kitab suci dengan baik, bahkan mengajar orang lain mengerti hukum Taurat, justru mereka penuh kebencian dan ingin membunuh Yesus. Bahkan mereka sudah menyampaikan dengan terbuka di kota Yerusalem, dan mungkin sudah sebar flyer “Jesus – WANTED” kepada siapa saja yang melihat Yesus untuk melaporkannya kepada mereka. Dan lebih celaka lagi, mereka sekarang mau membunuh Lazarus juga, sebab karena mujizat kebangkitan Lazarus telah menyebabkan sejumlah besar orang menjadi percaya kepada Yesus. Maka malam hari itu pada waktu malam perjamuan, inilah konteks situasi yang membayangi di belakangnya.

Selain Yohanes 12:1-11, peristiwa pengurapan ini juga tercatat dalam Matius 26:6-13 dan Markus 14:3-9. Dari tiga bagian ini kita bisa melihat peristiwa perjamuan makan malam ini terjadi di Betania, yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari kota Yerusalem, di rumah Simon si kusta, yang kemungkinan besar telah disembuhkan oleh Yesus. Lazarus juga hadir dan diundang makan ke rumah Simon malam itu. Memang logis Yesus makan di rumah Simon si kusta, karena melihat konteks situasinya, sudah pasti rumah Lazarus dipantau oleh orang-orang Yahudi yang membenci Yesus.

Mari kita bayangkan, malam itu Yesus duduk sebelah-menyebelah dengan Simon, yang mukanya mungkin sudah rusak bekas kusta tetapi sudah disembuhkan oleh Yesus, di sebelahnya ada Lazarus yang pernah dibangkitkan oleh Yesus duduk juga di situ. Lalu ada orang-orang yang sudah pernah mengalami kasih karunia Allah yang besar melalui Yesus, semua duduk di sekitar Yesus, maka kita tahu malam itu adalah malam itu adalah malam syukur, malam dimana mereka semua memuji Tuhan karena mereka menyaksikan kebesaran Tuhan yang luar biasa dalam hidup mereka. Saya percaya malam itu Simon mengadakan perjamuan yang besar, menyembelih kambing domba dan menyiapkan makan minum yang berlimpah bagi Yesus. Saya percaya kita pun akan mempersiapkan makanan yang terbaik dan perjamuan yang appropriate bagi Tuhan karena ini adalah momen kita mau menyatakan syukur terima kasih kita atas apa yang Tuhan Yesus telah berikan kepada kita, bukan?

Yohanes mencatat satu detail kecil, “Marta melayani” (Yohanes 12:2). Meskipun perjamuan itu diadakan di rumah Simon si kusta, Marta mempersiapkan masakannya. Luar biasa memang, kelihatannya Marta dikenal juru masak yang paling handal di desa itu sehingga dia yang diminta in charge untuk mempersiapkan makan malam itu. Situasinya tidak berbeda dengan kisah Lukas 10:38-42 dimana Marta membuka rumahnya menjamu Yesus makan. Marta yang melayani. Tetapi yang berbeda kali ini adalah hati Marta mengalami perubahan. Marta yang sebelumnya adalah Marta yang marah-marah, Marta yang menggerutu, Marta yang tidak senang waktu melihat Maria duduk di kaki Yesus. Marta datang kepada Yesus dan berkata, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku!” Marta yang sekarang juga melayani Tuhan, tetapi sekarang dia melayani dengan hati yang berbeda. Walaupun malam itu dia sibuk, tetapi dia tidak marah, ngedumel, dan merasa jengkel lagi dengan Tuhan Yesus. Dia tahu Kristus Tuhan telah memberi yang terindah dan terbaik kepada keluarganya dengan membangkitkan Lazarus dari kematian. Maka malam itu dia mempersiapkan makanan sebagai ekspresi syukur dan ibadahnya kepada Tuhan.

Mempersiapkan makanan, pelayanan hospitality, itu adalah bagian dari ekspresi ibadah kita kepada Allah. Jadi ibadah tidak hanya terbatas dengan bernyanyi, berdoa, beribadah di dalam gedung gereja saja. Apa yang kita kerjakan di rumah, itu juga adalah bagian dari ibadah. Kita melayani Tuhan dengan giat di gereja, tetap tidak boleh mengabaikan pekerjaan di rumah. Kita aktif melakukan banyak pelayanan di gereja, tetap kita harus memberikan perhatian kepada isteri dan anak-anak kita. Pelayanan kita kepada Tuhan di gereja begitu rajin dan setia, tetap kita tidak mengabaikan perhatian kita kepada orang-orang kecil dan karyawan yang ada di pekerjaan kita, karena itu adalah bagian daripada ibadah kita kepada Allah. Tuhan Yesus tidak menganggap murid-murid yang duduk makan bersama Dia lebih rohani daripada Marta yang ada di dapur. Yesus menghargai apa yang Marta kerjakan dan lakukan bagiNya.

Saat mereka makan, kemudian Alkitab mengatakan Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya (Yohanes 12:3). Inilah peristiwa pengurapan terakhir yang Yesus katakan apa yang Maria perbuat adalah satu persiapan bagi penguburan Yesus. Dan setiap kali dimana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang Maria lakukan ini akan disebut juga untuk mengingat dia (Marku 14:8-9). Perlu kita tahu, dalam kitab Injil ada tercatat dua kali pengurapan yang dilakukan kepada Yesus. Peristiwa yang pertama dicatat dalam Lukas 7:36-50 terjadi di rumah Simon seorang Farisi dan wanita yang disebutkan di situ adalah wanita mantan pelacur. Perempuan ini membasahi kaki Yesus dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian mencium kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi. Sedangkan dalam Yohanes 12:1-11 itu adalah peristiwa pengurapan yang kedua, yang dilakukan oleh Maria di sini. Wanita yang pertama dulunya adalah mantan pelacur yang bertobat, yang mengurapi kaki Yesus. Yesus menghargai dia sebagai seorang manusia yang telah bertobat dan menyatakan penyesalannya. Di situ Yesus kemudian menerima dan mengampuninya. Menyaksikan perbuatan wanita itu, Simon orang Farisi ini tidak mempersoalkan minyak itu mahal harganya, pun dia tidak melihat pengorbanan dari wanita ini. Yang dia lihat, Yesus tahu tidak, bahwa wanita ini wanita berdosa? “Kalau dia betul-betul seorang nabi, tentu Dia tahu siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamahNya ini; tentu Ia tahu bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa” (Lukas 7:40). Masakan Yesus yang suci ini mau dipegang sama orang berdosa? Maka Yesus berkata kepada dia, “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Lalu Yesus bercerita tentang dua orang yang berhutang, yang satu berhutang 500 dinar dan yang satu berhutang 50 dinar. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka pemilik uang menghapus hutang kedua orang itu. Kemudian Yesus bertanya kepadanya, “Menurutmu, siapakah di antara ke dua orang yang dihapus hutangnya yang lebih mengasihi dia?” Jawab Simon, “Aku kiradia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Tuhan Yesus membukakan kepada dia, seseorang yang mengerti berapa dalamnya dia diampuni dan dikasihi oleh Tuhan, maka dia akan mengekspresikan berapa besarnya dia mengasihi Tuhan. Di dalam hidup engkau dan saya juga engkau boleh menyaksikan berapa besar cintanya Tuhan kepadamu, engkau mengekspresikan kepadaNya berapa dalam cintamu kepada Tuhan.

Apa yang menyebabkan Maria melakukan hal ini? Saya percaya, Maria mendengarkan baik-baik apa yang Yesus katakan bahwa tidak lama lagi Dia akan ditinggalkan tersendiri, naik ke atas kayu salib, mati menggantikan kita. Saya percaya, Maria tahu malam itu satu-satunya kesempatan dia juga mau mengucap syukur karena Tuhan sudah mengembalikan hidup kakaknya, Lazarus. Maria mengekspresikan cinta dan kasihnya kepada Tuhan dengan minyak narwastu yang sudah dia simpan dan siapkan untuk hari pernikahannya, minyak itu adalah minyak yang sangat mahal harganya, Kalau uang kita sekarang, minyak itu harganya $30,000 – $50,000. Tidak heran Yudas seperti kebakaran jenggot melihat minyak itu dituang begitu saja.

Markus memperlihatkan reaksi yang sangat kontras dari Yudas, dia menjadi begitu gusar dan tidak senang. Di tengah orang-orang sedang bersukacita dan penuh syukur itu, dia menyatakan kemarahan dan emosi kekesalan yang meledak dan tidak dia sembunyikan di depan publik memarahi Maria. Bukan saja demikian, dia menghasut murid-murid yang lain bersama-sama dengan dia mencela Maria. “Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini? Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin! (Markus 14:5). Yudas bereaksi dan reaksinya kelihatannya wajar, logis, dan benar, dan sebagai satu reaksi yang seolah-olah baik adanya. Kenapa minyak yang begitu mahal ini tidak dijual saja dan uangnya diberikan kepada orang miskin dan untuk melakukan banyak pelayanan? Yudas marah dan Yudas menganggap tindakan Maria itu sebagai satu pemborosan, waste of money yang dibuang begitu saja pada hari itu. Tetapi di balik reaksi itu, Yohanes yang mencatat peristiwa ini setelah tiga puluh tahun kemudian, mengatakan apa motivasi yang sesungguhnya dari hati Yudas. Selama ini Yudas pelayanan ikut Tuhan tiga tahun lamanya dia sembunyi-sembunyi mengambil uang dari kas itu. Yohanes mengatakan, “Hal itu dikatakan Yudas bukan karena ia memperhatikan nasib orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya” (Yohanes 12:6). Yudas dipercayakan menjadi bendahara memegang kas keuangan bagi pelayanan Yesus. Sepanjang pelayanan Yesus berkeliling bersama murid-murid, dukungan dana datang dari mana? Dalam Lukas 8:1-3 Lukas mencatat nama perempuan-perempuan yang mendukung pelayanan Yesus dengan keuangan mereka. “Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas muridNya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit , yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Kuza, bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.”

Perjalanan keliling Yesus dengan murid-murid mendapatkan dukungan dana, dan dana itu disimpan dan dipakai oleh mereka, tentu untuk makan sama-sama, untuk pelayanan mereka sama-sama. Jadi ada sekumpulan dana seperti itu yang mereka pakai. Luar biasa sekali kita bisa melihat, meskipun Yesus adalah Raja di atas segala raja, Ia adalah Pemilik segala sesuatu yang ada di dunia dan di alam semesta ini, tetapi tetap kita bisa menyaksikan sebagai seorang manusia yang 100% hadir di dunia, Dia juga mendapatkan dukungan dan bantuan dari orang-orang yang mengasihiNya dan melayaniNya bagi pelayanan itu. Yesus terima itu walaupun sebenarnya Ia tidak perlu itu karena Ia adalah Pemilik segala sesuatu, namun Ia berkenan menerima persembahan dan pemberian dari kita.

Yohanes mencatat, selama tiga tahun lebih Yudas dipercaya untuk menyimpan dan mengelola kas pelayanan. Itu sebab tidak heran mengapa Yudas Iskariot kemudian marah luar biasa. Dimana salah dari Yudas Iskariot? Yudas Iskariot tidak melihat pemberian minyak narwastu dari Maria sebagai tanda cinta kasih Maria kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Yudas tidak berhak menegur, mengkritik, bahkan memarahi Maria. Malam hari itu Marta memberi, Maria memberi. Tetapi Yudas tidak memberi apa-apa. Maka Yesus menegur dia dengan keras, “Enough! Leave her alone! Biarkan Maria melakukan itu bagiKu. Orang-orang miskin senantiasa ada padamu.” Artinya apa? Pelayanan kepada orang miskin itu bukan pelayanan yang akan diabaikan. Itu tetap satu pelayanan yang agung dan mulia. Yang menjadi persoalan dari Yudas Iskariot di situ adalah Yudas, apa yang engkau sendiri akan berikan kepada Tuhan Yesus? Maria memberi, Marta memberi. Kalau Yudas mempunyai uang 300 dinar, lalu Yudas mau pakai itu untuk mendukung pelayanan kepada orang miskin, silakan. Jadi kesalahan daripada Yudas di situ, bukan saja dia tidak melihat apa yang menjadi keindahan pemberian Maria sebagai ekspresi cinta kasihnya kepada Yesus, tetapi dia sendiri tidak melihat apa yang bisa dia beri dan bawa kepada Yesus. Dan terbukti memang selama ini dia ikut Tuhan bukan untuk memberi tetapi hanya untuk mendapatkan keuntungan senantiasa.

Dari bagian ini apa yang kita belajar sama-sama? Kita melihat, kerohanian yang sejati dari seseorang mempunyai relasi yang sangat kuat dengan bagaimana sikap dan attitude orang kepada uang dan possessions yang ada dalam hidupnya. Mungkin orang seperti Yudas Iskariot bisa menutup-nutupi sesaat dan seketika dalam jubah agama dan di dalam kegiatan pelayanan, tetapi itu tidak bisa ditutupi dalam waktu yang panjang dan lama. Kebusukan motivasinya akan terbongkar juga. Ingatkan, Yesus pernah berkata, “Di mana hartamu berada di situ hatimu berada” (Matius 6:21). Kalimat ini memberitahukan kepada kita bahwa ada korelasi yang sangat kuat sekali antara bagaimana attitude kita kepada uang dan possessions dengan kondisi rohani kita yang sesungguhnya. Sebab pada waktu kita tahu Tuhan begitu besar mencintai dan mengasihi kita lebih daripada segala-galanya, itu akan merubah sikap hati kita dimana tidak ada lagi yang kita genggam dan pegang sebagai sesuatu yang sangat berharga di dalam hidup kita, dan tidak lagi kita rasa kita sudah memberi yang terbesar kepada Tuhan karena kita tahu apa yang kita beri tidaklah sepadan dengan apa yang Tuhan sudah beri kepada kita dan kita tidak pernah melihat itu sebagai sesuatu pengorbanan yang besar yang kita berikan kepadaNya. Senantiasa memiliki sikap dan attitude bahwa kita ikut Tuhan dan kita sudah mendapatkan kasih karunia yang limpah dari Tuhan. Kasih karunia itu memang cuma-cuma diberi kepada kita, tetapi pada waktu kita terima, kita harus memiliki sikap tidak hanya mau terima tanpa menyatakan respon yang sepatutnya kepada Tuhan.

Itulah kalimat yang keluar dari mulut raja Daud pada waktu dia disuruh Tuhan untuk mendirikan mezbah bagi Tuhan di dekat Yerusalem di tempat pengirikan Arauna orang Yebus. Maka Daud menjumpai Arauna untuk membeli tanah miliknya itu. Arauna mengatakan bahwa dia mau memberikan tanah itu berikut lembu-lembu dan perlengkapan untuk membuat membuat mezbah bagi Tuhan. Tetapi Daud menolak dan dalam 2 Samuel 24:24 dicatat, “Tetapi berkatalah raja kepada Arauna: Bukan begitu, melainkan aku mau membelinya dari padamu dengan membayar harganya, sebab aku tidak mau mempersembahkan kepada TUHAN Allahku dengan tidak membayar apa-apa.” I will not give offering to my Lord God that have cost me nothing. Itulah sikap yang sepatutnya dari seorang yang mengerti bagaimana berespon kepada kasih karunia Tuhan baginya.

Markus mencatat setelah Tuhan dengan terbuka menegur Yudas, bukan saja dia tidak mau bertobat, kemarahannya malah tidak mereda. “Lalu pergilah Yudas Iskariot, salah seorang dari kedua belas murid itu, kepada imam-imam kepala dengan maksud untuk menyerahkan Yesus kepada mereka. Mereka sangat gembira waktu mendengarnya dan mereka berjanji akan memberikan uang kepadanya. Kemudian ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus” (Markus 14:10-11). Yudas tidak senang ditegur Tuhan. Hati Yudas terbakar. Yudas menyatakan kemarahan dan kebencian yang tidak masuk akal ini, dengan menjual Gurunya hanya dengan tiga puluh keping perak. Dari situ kita tahu orang ini tidak pernah mengerti, tidak pernah menghargai, dan tidak pernah tersentuh oleh kasih karunia Tuhan, sekalipun kasih karunia Tuhan itu sudah ditaruh di depan matanya, bahkan sampai pada detik yang terakhir tetap dia tolak. Betapa menyedihkan. Saya harap setiap kita merefleksikan diri kita menuju kepada salib Tuhan kita Yesus Kristus, senantiasa ingat pada waktu Dia naik ke atas kayu salib, dipaku di situ, Dia lakukan itu demi engkau dan saya. Mari kita akui tidak ada satu waktu dan detik dalam hidup kita dimana Tuhan tidak memberikan anugerah yang luar biasa dalam hidup kita. Dan biar anugerah itu membuat hati kita bersyukur senantiasa dan kita terus terdorong untuk selalu menunjukkan gratitude itu.(kz)