Pengkhianatan Petrus

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri Eksposisi Perjalanan Salib [3]
Tema: Pengkhianatan Petrus
Nats: Matius 26:69-75

Yesus berkata kepada murid-muridNya: “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai. Petrus menjawabNya, “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” Yesus berkata kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Kata Petrus kepadaNya: “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” Semua murid yang lain pun berkata demikian juga. [Matius 26:30-35]

Pada malam sebelum Yesus ditangkap dan diadili oleh imam besar, Yesus menubuatkan bahwa Petrus akan menyangkal Dia. Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu” (Lukas 22:31). Tuhan telah berdoa baginya dan telah memberikan perjamuan malam itu untuk mengingatkan dia akan tawaran pengampunan dan anugerah Tuhan untuk dia berbalik dan bertobat dari kesalahan dan dosa-dosanya.

Puji Tuhan! Tawaran pengampunan dan anugerah itu juga diberikan kepada setiap kita. Meskipun kita telah menerima Tuhan, kita telah percaya Tuhan, kita telah ditebus dan diselamatkan oleh Dia, dalam perjalanan hidup kita ke depan, tidak ada di antara kita yang berani berkata bahwa kita tidak akan pernah jatuh dan berbuat dosa lagi. Namun dalam kelemahan dan kita bisa jatuh, Tuhan menawarkan pengampunan itu bagi kita. Mungkin kita tidak melakukan penyangkalan yang sama seperti Petrus, tetapi ketika hidup kita tidak menunjukkan bahwa kita adalah murid Tuhan Yesus, ketika kita tidak berani berdiri untuk mengatakan yang benar, ketika kita melihat ada hal-hal yang tidak benar di depan kita, namun kita hanya diam saja demi untuk menjaga keselamatan dan keamanan diri kita, status kita dan pekerjaan kita, kita tidak jauh lebih baik daripada Petrus. Dengan demikian maka dosa penyangkalan Petrus senantiasa menjadi satu peringatan bagi kita dan pengampunan Tuhan kepadanya menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita, ketika kita datang kepada Tuhan mengaku akan kesalahan dan dosa kita dengan penuh penyesalan, kita tahu kasih karunia dan pengampunan Tuhan juga tiba kepada kita.

Peritiwa penyangkalan Petrus mengingatkan kita akan satu fakta bahwa kita bisa gagal dalam mengikut Tuhan. The failure of Christian life is a fact. Kegagalan hidup menjadi orang Kristen, kegagalan hidup sebagai anak-anak Tuhan adalah satu fakta yang tidak bisa kita pungkiri. Alkitab mencatat begitu banyak orang-orang beriman yang pernah gagal dalam hidupnya mengikut Tuhan. Sudah tentu itu bukan untuk menjelek-jelekkan dan untuk menyatakan segala kekurangan dan kelemahan orang-orang itu, tetapi untuk memberitahukan kepada kita satu fakta bahwa mereka bukan orang yang sempurna penuh dan kebal tidak bisa jatuh. Kegagalan Petrus dicatat Alkitab untuk kita mawas diri, kita tahu bahwa kegagalan seperti itu bisa terjadi di dalam hidup setiap kita. Petrus merasa diri kuat, dia mengatakan aku tidak akan menyangkal Tuhan. Pada waktu kita sombong dan berkata kita tidak mungkin gagal; pada waktu kita merasa kondisi rohani kita lebih baik daripada orang lain; pada waktu kita merasa lebih hebat daripada orang yang lain, pada waktu kita memegahkan diri dan bukan memegahkan salib Tuhan dalam hidup kita, itulah awal dari kejatuhan kita.

Malam hari itu sangat menegangkan dan menakutkan luar biasa. Matius mencatat semua murid meninggalkan Yesus dan lari kocar-kacir. Murid-murid yang lain sebetulnya belum tentu lebih hebat dan lebih berani daripada Petrus. Murid-murid yang lain sudah keburu lari lebih dulu sehingga tidak keburu menyangkal Tuhan Yesus. Beberapa jam sebelumnya Petrus bilang dia siap mati untuk Tuhan, tetapi kemudian dia juga lari bersama dengan murid-murid yang lain. Lalu setelah lari, kemudian dia berbalik kembali dan mengikuti dari jauh. Kemudian Petrus masuk sampai di halaman luar rumah Kayafas, imam besar dimana Yesus diadili. Malam hari itu sebetulnya terjadi dua pengadilan.

Pengadilan yang pertama, imam besar Kayafas mengadili Yesus. Pengadilan itu adalah pengadilan yang menuduh Yesus berencana merubuhkan Bait Allah dan Kayafas menuntut Yesus menjawab apakah betul Yesus mengaku Dia adalah Mesias, Anak Allah, atau tidak. Di tengah tekanan, aniaya dan pukulan dan tempelengan bertubi-tubi kepada Yesus, Yesus tidak bergeming. Dia berkata, “You have said so. Dan engkau akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit” (Matius 26:64). Di depan pengadilan yang begitu dahsyat itu Kristus tidak bergeming untuk mengatakan Dialah Mesias Juruselamat. Mendengar kalimat Yesus, Imam Besar Kayafas itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata, “Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujatNya!” (Matius 26:65).

Tetapi pada malam hari itu ada satu “pengadilan” lain yang terjadi kepada Petrus, bukan di dalam ruang pengadilan tetapi di depan pekarangan rumah imam besar, suatu pengadilan informal, bukan diadili oleh orang yang berhak mengadili. Dalam keadaan tersendiri, Petrus ikut berdiang di depan api unggun menghangatkan diri bersama dengan para budak di sekitar situ. Lalu dua perempuan dan satu budak laki-laki mengenali Petrus dan sambil lewat di situ, salah satu budak perempuan itu berkata kepada Petrus, “Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu.” Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: “Aku tidak tahu apa yang engkau maksud.” Lalu Petrus pergi menghindar dari dia dan berjalan ke pintu gerbang. Tetapi seorang hamba yang lain melihat dia dan berkata kepada orang-orang yang ada di situ: “Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu.” Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: “Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu.” Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Dan pada saat itu berkokoklah ayam. Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya (Matius 26:69-75). Bayangkan malam hari itu betapa menakutkan bagi Petrus, sampai satu kali pun tidak keluar dari mulut Petrus sebut nama Tuhan Yesus. Kegagalan itu disadari oleh Petrus bukan karena ayam berkokok. Ayam berkokok hanya mengingatkan dia bahwa dia telah menyangkal Tuhan. Dia yang berkata, “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” (Lukas 22:33), tetapi akhirnya dia gagal, dia kecewa dan dia lari dari Tuhan. Tetapi Injil Lukas mencatat, “Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus” (Lukas 22:61). Petrus melihat wajah Tuhan Yesus, mata Yesus melihat dia. Melihat Yesus menatap dia, saat itu kemudian dia menangis dengan tersedu-sedu. Yesus menatap Petrus di situ bukan untuk mengatakan ‘See, I told you’ atau ‘Nah, lo, engkau sudah gagal.’ Yesus menatap Petrus bukan dengan mata yang mengejek dan mempersalahkan Petrus, tetapi untuk menyatakan satu hal yang indah luar biasa, Yesus tahu, Yesus ada di situ, Yesus sudah berdoa untuk dia, Yesus mengampuni dia. Mata Yesus memandang Petrus adalah mata yang mengerti, mata yang penuh dengan pengampunan, karena Yesus berkata pada malam hari itu, Aku telah berdoa bagimu. Setelah engkau kuat, kuatkanlah saudara-saudaramu.

Kegagalan itu dalam hidup kita anak Tuhan adalah fakta. Tidak ada di antara kita yang tidak pernah mengecewakan satu sama lain. Saat pacaran, sebelum masuk dalam pernikahan, engkau mungkin tidak terlalu kritikal kepada pasanganmu, bukan? Karena sdr ketemu pacar mungkin hanya 1x seminggu, hanya beberapa jam saja. Masakan waktu yang singkat dan berharga seperti itu mau dipakai untuk berantem? Tetapi setelah menikah, sdr akan lebih kritis dari pasanganmu. Kenapa? Karena engkau hidup 24 jam dengan dia, tidak ada yang bisa disembunyikan, engkau menjadi orang yang tidak sabaran, engkau gampang melihat kelemahan dan kesalahan orang. Tidak ada di antara kita hidup dengan tidak memiliki kekurangan dan kelemahan. Tetapi yang paling penting, bukan saja kita berkata kepada pasangan kita mengakui kita penuh dengan kekurangan dan kelemahan, kita bisa mengecewakan dia, kita tidak bisa berjanji kita tidak seperti itu di hari-hari ke depan. Saya bisa gagal dan bikin kesalahan yang sama di masa yang akan datang. Tetapi yang paling penting, yang membedakan Petrus dengan Yudas, setelah Yesus menawarkan anugerah keselamatan dan pengampunanNya, Yudas tidak mau terima, dia pergi, dia marah dan menggantung diri, dia kecewa dan tetap tidak menghargai berkat dan anugerah Tuhan sampai akhir. Petrus berbeda. Petrus bertobat dan menyesal akan kesalahannya. Petrus menerima anugerah pengampunan Tuhan baginya. Hari itu Petrus gagalnya adalah hilang keberanian dia; hari itu Petrus gagalnya adalah dia hanya bersandar janji dia kepada Yesus; hari itu Petrus gagalnya adalah dia tidak berani berkorban bagi Tuhan; hari itu Petrus gagalnya adalah dia terlalu sombong; hari itu Petrus gagalnya adalah dia menghina orang yang lain. Hari itu dia gagal seperti itu. Tetapi hari itu dia tidak kehilangan iman dan trust kepada Tuhan.
Kegagalan Petrus dicatat supaya kita tahu bahwa kekurangan, kelemahan dan dosa kita sebesar apapun Tuhan itu ampuni. Dan pada waktu kita datang menangis dengan sedih di hadapan Tuhan dan berkata, Tuhan, ampunilah aku, aku tidak lebih baik daripada orang lain. Tuhan, aku tidak mungkin bersandar kepada kekuatan diriku sendiri. Ada hal yang seringkali keliru dan salah di dalam hidup kita sebagai orang yang percaya, yaitu kita tahu ketika kita terima dan percaya Tuhan Yesus maka langkah pertama yang harus kita ambil untuk bisa menerima kasih karunia Allah adalah mengaku bersalah, kita mengaku dosa dan minta ampun di hadapan Tuhan, bukan? Itu adalah langkah pertama kita. Tetapi setelah kita percaya dan terima Tuhan, kita enggan mengaku bersalah dan memohon ampun kepada Tuhan. Kita takut dan tidak mau dosa-dosa kita ketahuan di hadapan Tuhan dan orang lain. Kita pun terbelalak pada waktu kita melihat orang yang mengaku bersalah karena kita tidak lagi memiliki belas kasihan dan kasih karunia untuk melihat kekurangan dan kelemahan orang lain yang bersalah.

Setelah Yesus bangkit, Yohanes mencatat Yesus kemudian secara khusus menjumpai Petrus dan sebagaimana tiga kali Petrus menyangkal Yesus, tiga kali Yesus bertanya kepada Petrus, “Do you love Me?” (Yohanes 21:15-19). “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus tidak mengatakan, aku mengasihiMu, Tuhan. Tetapi Petrus mengatakan, “Benar, Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Setelah kali ketiga, maka sedih hati Petrus, air mata itu keluar lagi. Malam hari itu setelah Petrus menyangkal Yesus tiga kali, malam itu keluar air matanya. Itu sedih, malu, menyesal, minta ampun kepada Tuhan. Aku sudah gagal, Tuhan. Aku sudah mengecewakan Engkau. Saya tidak berani berkorban bagi Tuhan. Saya tidak hidup sesuai dengan apa yang saya katakan kepadaMu. Saya tidak lagi berani bilang saya mengasihiMu lebih daripada yang lain. Tetapi Engkau tahu bahwa aku mengasihiMu, Tuhan. Engkau sungguh-sungguh tahu hatiku.

Sdr perhatikan, Yesus tidak bertanya, kenapa engkau menyangkal Aku? Kenapa engkau lari dan meninggalkan Aku? Yesus tidak bertanya, kenapa engkau melakukan kesalahan seperti ini? Yesus tidak bertanya, apa yang gagal yang dilakukan oleh Petrus. Kenapa Yesus tanya hal yang penting ini: Petrus, apakah engkau mengasihi Aku? Karena pertanyaan itu bicara soal relasi yang penting, relasi yang didasari oleh kasih dan trust. Dengan kata lain, pada waktu Yesus bertanya kepada Petrus, Yesus mau membalikkan Petrus kepada kasihnya yang mula-mula kepada Tuhan. Relasi dengan Dia adalah relasi yang tidak berubah. Tuhan mengasihi Petrus dan Petrus mengasihi Tuhan Yesus. Ada kasih dan trust.
Selama sdr menikah, terlalu banyak kesalahan yang kita masing-masing lakukan, janji yang gagal kita penuhi, keinginan untuk membahagiakan pasangan kita hanya sampai di angan-angan saja dan tidak pernah kita kerjakan dan lakukan. Apakah semua yang kegagalan itu membuat relasi di antara kalian menjadi lebih jauh? Apa yang mengikat relasi kita menjadi lebih dekat? Yang mengikat relasi kita menjadi lebih dekat bukan karena kita jarang mengecewakan pasangan kita, atau bukan karena dia lebih sedikit melakukan kesalahan. Yang menarik kita lebih dekat adalah karena kita trust kepada dia dan karena kita tahu kita saling mengasihi dan mencintai satu sama lain. Meskipun engkau memberi keluargamu rumah yang besar; meskipun engkau tidak pernah marah-marah saat pulang ke rumah; engkau melakukan hal yang baik; engkau mencukupkan semua yang mereka perlukan bahkan dengan berkelebihan; semua itu palsu adanya jikalau engkau tidak mengasihi mereka dengan sesungguhnya. Tetapi sekalipun anakmu gagal dan bersalah, kita kasih tahu bahwa dia telah berbuat kesalahan dalam hidupnya, namun relasi kita dengan dia tidak berubah, dia tetap anak kita yang kita kasihi. Setiap kita hidup ikut Tuhan, kita bisa melakukan banyak hal yang keliru dan salah dan itu menyedihkan dan mengecewakan Tuhan kita. Tetapi kita tahu relasi dengan Dia adalah relasi yang tidak berubah. Tuhan mengasihi kita dan kita mengasihi Tuhan. Dalam relasi kita dengan saudara seiman, anak-anak Tuhan yang lain, kita perlu menaruh relasi yang seperti ini juga mendasari relasi kita satu sama lain. Relasi kita juga didasari oleh kasih dan trust kepada Tuhan dan kepada satu dengan yang lain. Tuhan mengasihi kita dan kita mengasihi Tuhan, dan kita mengasihi orang-orang yang mengasihi Tuhan. Kita akhirnya seringkali bisa marah dan benci kepada seseorang karena hal yang dia perbuat. Tetapi Petrus berkata dalam suratnya kepada jemaat Tuhan, kepada setiap orang Kristen, “Yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (1 Petrus 4:8). Setiap kita sudah mengalami dosa-dosa kita diampuni dan ditutup oleh Tuhan. Ketika kita mengaku dan diampuni, Tuhan tidak mengingat-ingat dan mengungkit lagi kesalahan-kesalahan kita. Demikian hal yang sama firman Tuhan memanggil kita untuk mengasihi dan mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Apakah setelah melakukan hal itu, dia tidak akan melakukannya lagi di masa yang akan datang? Tidak ada orang yang bisa menjamin hal itu tidak akan terjadi lagi, bukan? Kita bisa jatuh lagi karena kita adalah orang yang lemah dan berdosa. Tetapi kita tetap terima dia anak kita, dia tetap pasangan kita, dia tetap saudara kita seiman. Karena apa? Karena kasih yang menarik kita lebih dekat. Kalau kasih dan trust dalam sebuah relasi sudah tidak ada, apapun yang baik yang dilakukan orang itu pasti tidak pernah bisa menolong relasi itu karena di dalamnya sudah ada brokennes, sudah ada distrust dan di dalamnya engkau tidak lagi betul-betul mengasihi dan mencintai orang itu.

Saat di kantor dan di tempat pekerjaan ada orang yang marah kepadamu, ada hal yang dia koreksi, namun kalau engkau tahu dia adalah sahabatmu yang baik, jangan anggap dia musuhmu. Tetapi kalau memang dia sudah tidak suka kepada kita dan mau menghancurkan kita, mungkin di depan engkau dia bisa tersenyum dan seolah baik kepadamu, tetapi dia akan mencari segala cara untuk menjatuhkanmu. Maka itu bukan relasi yang berdasarkan kasih. Tidak ada trust di dalam relasi itu. Sdr dan saya, kita memiliki relasi sebagai saudara seiman, kita melayani bersama-sama, kalau kita saling trust satu dengan yang lain, dan kita mau orang lain itu flourish dan bertumbuh dalam iman dan berkembang dalam segala hal yang baik, apapun kegagalan dan kesalahan yang kita perbuat satu sama lain, lihat itu adalah kegagalan dan kelemahan orang semata-mata. Bukan berarti itu kita abaikan dan remehkan, tetapi itu tidak merubah your trust relationship. Kita harus membedakan akan hal itu. Dan yang penting adalah engkau lihat orang itu cinta Tuhan, engkau pasti akan cinta orang itu. Mungkin dia bisa salah sama kamu, dia bisa melakukan hal yang melukai engkau, tetapi engkau mengampuni dia karena engkau tahu hatinya tidak menyembunyikan hal yang jahat kepadamu.

Apakah Petrus akhirnya tidak menjadi orang yang ciut di kemudian hari dan akhirnya melakukan kesalahan? Dalam surat Galatia, Paulus menceritakan bagaimana sikap Petrus berubah terhadap orang-orang Kristen bukan Yahudi yang tidak bersunat, yang sebelumnya makan bersama-sama dengan dia. Petrus langsung menjauh dan tidak mau bergaul dengan mereka ketika orang-orang Kristen Yahudi datang ke Galatia. Di situ Paulus kemudian menegur Petrus sebagai orang yang munafik (Galatia 2:11-14). Dan ada satu kisah tradisi di kalangan gereja, pada masa akhir hidupnya ketika banyak orang Kristen dianiaya dan dibunuh di kota Roma, Petrus hendak melarikan diri. Di tengah perjalanan Yesus kemudian menampakkan diri dalam penglihatan, dan Petrus bertanya, “Qou vadis, Domine?” Where are You going, my Lord? Dan Yesus menjawab, Aku akan ke Roma untuk disalibkan kembali. Saat itu sadarlah Petrus, maka dia kembali ke kota Roma. Dan tradisi mengatakan Petrus akhirnya mati disalib dengan cara terbalik. Sampai detik sebelum ia meninggal dunia dia bisa melakukan kesalahan seperti itu. Tetapi kalimat Yesus ini penting: Do you love Me? Kasih Tuhan kepada kita tidak berubah karena itulah kasih yang itu sustain perjalanan iman kita. Yesus berdoa bagimu. Kasih karunia dan pengampunanNya datang kepadamu. Terlepas dari kita sering gagal, kita mengecewakan Dia, hati kita menangis lagi menyesal, kita kurang mengasihi Tuhan, kita perlu datang meminta ampun kepada Tuhan. Di situ kita bersyukur karena relasi kita tidak akan pernah berubah dengan Tuhan kita. Demikian juga dengan relasi suami isteri, dengan anak dan orang tua, dengan saudara seiman dalam komunitas kita, kita bisa berbuat salah satu sama lain, tetapi jika relasi itu didasari dengan kasih dan trust, itulah yang menjadi kekuatan yang mengikat relasi kita bisa mengasihi dan mengampuni.(kz)