Caci Maki dan Surga Firdaus

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri Eksposisi Perjalanan Salib [4]
Tema: Caci Maki dan Surga Firdaus
Nats: Lukas 23:26-32

Ke empat Injil dalam Perjanjian baru, baik Injil Yohanes, Injil Lukas, Injil Matius dan Injil Markus, masing-masing mencatat peristiwa-peristiwa penting yang ada di sekitar penyaliban Yesus Kristus. Masing-masing penulis Injil mempunyai sudut pandang dengan memiliki tujuan-tujuan tertentu. Dan hari ini kita akan melihat secara khusus bagaimana Lukas mencatat beberapa hal yang indah dan penting luar biasa apa arti salib Tuhan Yesus itu bagi kita. Hidup kita mungkin penuh dengan berbagai hal, tetapi kita tidak boleh kehilangan aspek dan fokus apa artinya Injil Yesus Kristus itu bagi kita. Rasul Paulus berkata, “yang aku beritakan hanyalah Kristus yang disalibkan” (1 Korintus 1:23). Tidak berarti Paulus hanya terus berbicara mengenai kisah penyaliban Yesus, karena Paulus juga berbicara mengenai aspek-aspek yang lain dalam surat-suratnya kepada jemaat. Tetapi maksud Paulus mengatakan itu adalah dalam memberitakan Injil dia hanya mau meninggikan dan memberitakan salib Yesus Kristus.

Lukas 23:26 mencatat Yesus berjalan menuju bukit Golgota dimulai dengan kalimat, “Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, lalu diletakkan salib itu di atas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus.” Simon dari Kirene secara hurufiah adalah orang yang pertama yang betul-betul berjalan pikul salib dan mengikut Yesus. Kirene ada di sekitar perbatasan Mesir dan Libia. Kemungkinan Simon dari Kirene adalah seorang Yahudi atau mungkin juga seorang proselit yaitu orang bukan Yahudi yang masuk ke dalam agama Yahudi. Tentu dia datang ke Yerusalem untuk berbakti pada hari raya yang penting, yaitu hari Paskah. Ia baru saja tiba di situ pada saat Yesus lewat di depannya memikul salibNya dan tentara Romawi memaksa Simon untuk memikul salib Yesus dan berjalan mengikuti Dia. Yang dilakukan oleh Simon Kirene itulah yang akan menyelamatkan dia, yaitu memikul salib Yesus. Injil Markus memberi detail kecil kepada kita, “Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.” Markus menyebut nama Aleksander dan Rufus, kemungkinan besar mereka adalah pemimpin gereja atau orang yang sangat dikenal oleh pembaca Injilnya. Kita tidak mengerti bagaimana pengalaman yang Simon alami itu akhirnya membawa dia menjadi orang percaya. Dia dipaksa untuk memikul salib Yesus, tetapi akhirnya pengalaman itu membawa dia mengenal Kristus dan membawa seluruh keluarganya menjadi percaya Tuhan Yesus. Rasul Petrus berkata, “Sebab adalah kasih karunia jika seseorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu supaya kamu mengikuti jejakNya” (1 Petrus 2:19,21). Kalau ada penderitaan dan kesulitan terjadi dalam hidup kita bukan karena kesalahan kita, biarlah kita tanggung dan terima itu dengan sukacita dan bersyukur karena kita boleh berjalan di dalam perjalanan salib Tuhan Yesus Kristus dan berada di dalam perlindungan di bawah salib itu. Di situlah keselamatan yang sejati itu terjadi. Dan pada waktu kita mengalami kesulitan apapun, kita dipanggil Tuhan belajar untuk mendoakan orang-orang yang memperlakukan kita dengan tidak baik dalam hidup ini. Kita dipanggil oleh Tuhan untuk menyatakan bagaimana arti pengampunan Allah dalam hidup setiap kita. Ini adalah hal yang tidak gampang dan tidak mudah, khususnya pada waktu begitu banyak kesulitan dan penderitaan dan penganiayaan terjadi dalam hidup anak-anak Tuhan. Tetapi kita juga bisa menyaksikan begitu indah kesaksian dari orang-orang percaya pada waktu mereka mengalami hal-hal seperti itu, mereka bisa menyatakan pengampunan dan mengasihi orang-orang yang pernah berbuat jahat kepada mereka. Itulah sebuah perjalanan salib.

Ada 4 peristiwa yang dicatat oleh Injil Lukas, kemudian ada 3 pencobaan terakhir yang diberikan kepada Yesus, lalu kita akan menemukan ada 2 ucapan pengharapan yang agung luar biasa muncul dari mulut Tuhan Yesus, yang kemudian dirangkumkan dengan satu kalimat: Yesus yang disalib adalah seorang yang tidak bersalah dari semua yang dituduhkan kepadaNya, tetapi Ia rela untuk mati disalib sekalipun Ia diperlakukan dengan tidak adil. Setelah sampai di atas kayu salib, Ia justru berdoa bagi orang-orang yang menyalibkan Dia. Bukan saja Ia berdoa bagi orang-orang yang menyalibkan Dia, Yesus Kristus juga menjanjikan hidup kekal bagi orang-orang yang berdosa, yang bertobat dan datang kepadaNya. Dan bukan itu saja, Ia mau setiap kita boleh menjalani hidup seperti Tuhan Yesus Kristus, mengikut Dia dengan memikul salib. Itulah arti Injil bagi Lukas.

Lukas 23:27-31 mencatat mengenai perempuan-perempuan yang menangis meratapi Yesus Kristus. Itu peristiwa yang pertama di sini. Saya percaya, perlakuan serdadu-serdadu Romawi yang menyesah dan memukuli Yesus membuat ibu-ibu ini tidak tega melihat Yesus berjalan tertatih dengan darah yang bercucuran, seluruh tubuhNya penuh dengan luka dan kesakitan. Tidak ada orang normal, yang masih punya hati nurani yang masih peka, yang tidak akan sedih dan menangis melihat peristiwa seperti itu. Dan dicatat dalam bagian ini, wanita-wanita itu menangis meratapi sambil mengikuti Tuhan Yesus. Tentu yang mereka tangisi adalah betapa kasihannya Yesus sebab Yesus kemudian berbalik dan berkata kepada mereka, “Jangan menangisi Aku, tetapi tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu! Sebab lihat, akan tiba masanya orang berkata: Berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan dan yang susunya tidak pernah menyusui. Maka orang akan mulai berkata kepada gunung-gunung: runtuhlah menimpa kami dan kepada bukit-bukit: timbunilah kami!” (Lukas 23:28-30). Yesus bicara mengenai jikalau mereka tidak bertobat di hadapan Allah, maka akan ada satu masa dimana kengerian yang besar terjadi dan jauh lebih baik mereka mati tertimpa batu daripada menghadapinya. Kalimat ini dikatakan oleh Tuhan Yesus kepada wanita-wanita yang menangis itu mengutip kalimat dari nabi Hosea, “Mereka akan berkata kepada gunung-gunung: timbunilah kami dan kepada bukit-bukit: runtuhlah menimpa kami!” (Hosea 10:8). Boleh dikatakan ini adalah kali yang ketiga Yesus menubuatkan peristiwa yang akan terjadi 40 tahun kemudian, yaitu di tahun 70 AD yaitu kota Yerusalem runtuh dan hancur. Bait Allah yang didirikan oleh Herodes itu sampai hari ini tidak ada lagi. Sejarawan Josephus memperkirakan 1 juta lebih orang Yahudi mati terbunuh dan hampir 100,000 orang menjadi tawanan Romawi. Sebagian besar dari mereka dilempar ke arena gladiator, sebagian lagi mati karena kerja paksa dan sisanya menjadi budak belian. Tetapi bukan peristiwa itu yang paling dahsyat dan paling mengerikan. Wahyu 6:15-16 mengatakan, “Dan raja-raja di bumi, pembesar-pembesar dan orang-orang kaya serta orang-orang berkuasa, semua budak serta orang-orang merdeka bersembunyi ke dalam gua-gua dan celah-celah batu karang itu dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu, runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia yang duduk di atas tahta dan terhadap murka Anak Domba itu.” Satu hari kelak, penghakiman Allah jauh lebih besar dan lebih dahsyat daripada itu. Dan tidak ada yang bisa terluput dari murka Allah, bahkan murka Anak Domba yang sudah menawarkan keselamatan itu kepada setiap orang yang melihat peristiwa salib itu. Yesus memakai kalimat nabi Hosea untuk memberitahukan kepada wanita-wanita yang meratapi Dia, apa yang akan mereka alami betapa menakutkan jikalau mereka tidak melihat salib itu sebagai tempat perlindungan dari murka Allah. Hanya pada salib itu kita mendapatkan perlindungan yang sejati dan terhindar dari murka Allah.

Peristiwa kedua yang dicatat oleh Lukas adalah prajurit-prajurit menertawakan Yesus dan mengejek Yesus, lalu kemudian mereka membuang undi terhadap jubahNya. Itu adalah peristiwa yang dicatat dalam Mazmur 22:17-19 “Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. Segala tulangku dapat kuhitung. Mereka menonton, mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.” Prajurit-prajurit yang ada di sekitar salib itu menonton dan menertawakan Yesus dan senang melihat penderitaan Yesus. Dan pada waktu Yesus sudah sungguh sulit bernapas dan dalam sakitNya itu kemudian salah seorang prajurit mencucukkan anggur asam ke mulut Yesus. “Engkau mengenal celaku, maluku dan nodaku; semua lawanku ada di hadapanMu. Cela itu telah mematahkan hatiku, dan aku putus asa; aku menantikan belas kasihan, tetapi sia-sia; menantikan penghibur-penghibur, tetapi tidak kudapati. Bahkan mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam” (Mazmur 69:20-22). Dalam mazmur ini Daud berbicara mengenai kesulitan dan peristiwa yang dialaminya dalam hidupnya dimana dia merasa tidak ada lagi jalan keluar dan dia hanya bisa bersandar dan berharap kepada Tuhan Allah yang berdaulat dan bekerja, tetapi perjalanan menuju ke salib adalah peristiwa yang sudah Allah nubuatkan melalui Daud di sini. Yesus di atas kayu salib juga seolah-olah seperti Daud itu, tidak ada jalan keluar, berada di dalam kesulitan dan penderitaan yang sama seperti itu. Sampai kepada titik seperti itu Yesus tidak bisa kontrol situasi, Yesus tidak bisa berbuat apa-apa, Dia diperlakukan seperti itu, yang memberikan anggur asam kepadanya adalah orang lain.

“Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Peristiwa ketiga yang dicatat oleh Lukas orang-orang yang ada di sekitar salib itu menonton dan menertawakan Yesus dan senang melihat penderitaan Yesus. Peristiwa ke empat, ada dua penjahat yang disalib bersama di sebelah Yesus. Kalimat ini sesuai dengan apa yang dicatat oleh Yesaya 53:9 “Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.” Kedua penjahat ini juga mengejek dan mengolok-olok Yesus. Lukas mencatat mereka adalah penjahat kriminal, tetapi Matius dan Markus menggunakan satu kata menyebutkan secara spesifik mereka adalah kriminal di mata orang Romawi sebab orang-orang ini adalah orang-orang yang ingin berjuang untuk membebaskan Israel dengan melakukan pemberontakan. Jadi mereka lebih merupakan teroris bagi kerajaan Romawi, yaitu orang-orang yang memakai kekerasan untuk melawan pemerintah Romawi. Sehingga kepada orang-orang yang dianggap berbahaya seperti ini maka pemerintah Romawi kemudian memaku mereka di atas kayu salib. Boleh kita katakan mereka yang dipaku di atas kayu salib ini mungkin menurut mereka sedang memperjuangkan hal yang baik dan benar. Itulah sebabnya tidak heran begitu sampai kepada bagian yang terakhir ini kita bisa menyaksikan bagaimana seorang penjahat yang satu itu tidak mau mengaku dan tidak merasa bersalah untuk naik dan dipaku di atas kayu salib.

Empat peristiwa yang terjadi pada waktu penyaliban Yesus bukan terjadi dibuat dan dilakukan oleh murid Yesus, dan bukan dari apa yang Yesus kerjakan, tetapi apa yang ada di sekitar peristiwa penyaliban dicatat oleh Injil Lukas semua itu terjadi karena Allah sudah memfirmankannya melalui Perjanjian Lama. Peristiwa salib adalah peristiwa yang bukan hal kebetulan tetapi adalah karya Allah yang berdaulat bagi pekerjaan penebusan salib Yesus Kristus.

Sampai pada detik terakhir Yesus naik di atas kayu salib, ada tiga pencobaan diberikan kepada Yesus Kristus. Pada waktu Yesus hendak memulai pelayananNya, Iblis memberikan tiga pencobaan dengan tujuan supaya Yesus tidak berjalan menuju kepada jalan salib (Matius 4:1-10). Di tengah pelayananNya, pada waktu Yesus berkata bahwa Ia akan disalib Petrus berkata, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu!” Yesus menegur dia, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagiKu, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia!” (Matius 16:21-23). Dengan kata lain kita bisa melihat bagaimana Iblis berusaha membuat Yesus tidak berjalan menuju kayu salib itu. Sampai pada saat-saat terakhir, Yesus juga menghadapi pencobaan untuk turun dari kayu salib.

Pencobaan pertama diberikan oleh pemimpin-pemimpin agama yang mengejek Yesus dengan berkata, “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diriNya sendiri jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah” (Lukas 23:35). Pemimpin-pemimpin agama ini menuntut Yesus membuktikan bahwa betul Dia adalah Mesias, Kristus itu. Kalau ya, Ia pasti akan ditolong dan dilepaskan oleh Allah. Mesias yang sejati itu pasti akan turun dari salib, dia akan menjadi raja dan memerintah. Pencobaan kedua diberikan oleh tentara-tentara Romawi yang mengolok-olokkan Dia, mereka mengunjukkan anggur asam kepadaNya. Tentara-tentara Romawi menuntut Yesus membuktikan apakah betul Dia Raja orang Yahudi. Mereka berkata, “Jikalau Engkau adalah Raja orang Yahudi, selamatkanlah diriMu!” Ada juga tulisan di atas kepalaNya: ‘Inilah Raja orang Yahudi” (Lukas 23:36). Hal yang sama dikatakan oleh Pontius Pilatus yang bertanya kepada Yesus Kristus, “Engkaukah Raja orang Yahudi?” Yesus menjawab dia, “Engkau sendiri mengatakannya” (Lukas 23:3). Itu klaim dari Tuhan Yesus Kristus bahwa Ia adalah Raja orang Yahudi. Pencobaan ketiga diberikan oleh dua penjahat yang disalib bersama Yesus. Mereka mengolok-olok Dia dan berkata, “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkan diriMu dan kami!” (Lukas 23:39). Betapa ironis, jikalau Yesus turun dari salib hari itu, maka keselamatan tidak akan terjadi sebab keselamatan itu hanya terjadi melalui Dia naik ke atas kayu salib, mati bagi kita. Hari itu jikalau Yesus turun dari salib, semua yang Ia janjikan, semua bukti-bukti bahwa Ia adalah Mesias dan Raja tidak tergenapi, karena hanya dengan melalui Yesus naik ke atas kayu salib semua yang diminta dan diperlukan oleh mereka baru tergenapi.

Itulah sebabnya sesudah semua itu Yesus kerjakan, Ia memberikan dua kalimat penting sebagai kalimat janji dan kalimat pengharapan yang penting dan perlu bagi kita dan hanya bisa terdapat dan terjadi melalui kematian Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib. Yesus berdoa, “Bapa, ampunilah mereka.” Yesus berdoa kepada Bapa untuk memohon pengampunan bagi mereka, bukan orang-orang itu tidak tahu apa yang mereka kerjakan dan lakukan, tetapi Yesus berdoa karena di atas kayu salib pengampunan itu bisa terjadi dan bisa dimungkinkan karena di atas kayu salib Yesus telah menangggung semuanya. Di atas kayu salib Yesus berdoa bagi orang-orang yang telah menyalibkan Dia. Di atas kayu salib Yesus memberikan kepada kita doa yang indah, doa pengampunan. Dan di atas kayu salib Yesus memberikan janji keselamatan dan hidup kekal bagi kita. Dan pada waktu kita berjalan ikut salib seperti itu, kita tidak pernah berada di dalam perjalanan yang rugi dalam hidup kita. Yang ada ialah hal yang tertunda di dalam hidup kita. Perjalanan salib menjadi bukti kita adalah murid sejati Tuhan Yesus Kristus. Pada waktu kita terima dan percaya Injil Yesus Kristus, itu berarti kita dipanggil oleh Tuhan menjunjung tinggi salib itu menjadi tempat perlindungan kita dari murka penghukuman Allah. Jikalau nabi Hosea sudah mengatakan satu hari kelak setiap orang akan menghadapi penghukuman Allah yang begitu besar, Yesus mati di salib membukakan kepada kita betapa dahsyatnya penghukuman Allah dan murka Allah itu dan kita hanya bisa diselamatkan dari semua itu karena kita menerima perlindungan di bawah salib Yesus Kristus.

Dua penjahat yang disalib di sebelah Yesus mengejek dan mengolok Dia, tetapi Lukas kemudian mencatat penjahat yang satu akhirnya bertobat. Penjahat ini menyatakan satu kesadaran dia adalah orang yang berdosa sehingga dia berkata kepada penjahat yang satu lagi, “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah” (Lukas 23:40-41). Kita tidak mengerti darimana dia keluarkan pernyataan ini dan bagaimana prose perubahan hatinya terjadi. Tetapi ini satu pernyataan teologis yang penting dan merupakan satu pengakuan iman yang penting luar biasa. Kalimat ini bukan keluar dari mulut murid-murid dan bukan kalimat yang keluar dari mulut pengikut Yesus yang lain. Kalimat ini keluar dari mulut orang yang bukan murid Yesus, bukan juga teman dan sahabat Yesus. Kalimat ini keluar dari mulut penjahat yang disalib di sebelahNya.

Dan kemudian penjahat itu berkata, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan aku di dalam Firdaus” (Lukas 23:42-43). Yesus memberikan pengampunan kepadanya. Yesus memberikan janji hidup kekal kepada mereka yang berbuat dosa bahkan sampai kepada detik yang terakhir sebelum mati dia bertobat dan meminta ampun kepada Tuhan Yesus, memperlihatkan betapa besar anugerah dan belas kasihan Tuhan baginya. Bukan itu saja, janji itu akan terjadi bukan nanti melainkan hari ini juga.

Tradisi orang Yahudi percaya bahwa setelah mereka mati satu kali kelak mereka akan dibangkitkan pada hari yang terakhir. Tetapi mereka rindu Tuhan ingat kepada janjiNya supaya mereka bisa dibangkitkan maka pada batu nisan kuburan daripada orang-orang Yahudi itu tertulis kalimat “Remember Me” Tuhan, ingatlah akan aku pada waktu Engkau menyatakan kerajaanMu. Kalimat itu yang keluar dari mulut penjahat yang di sebelah Tuhan Yesus itu. “Remember me, Jesus, when You come as a king.”
Kalau kita merasa sedih dan kecewa bahwa banyak hal hidup kita, mungkin kita diperlakukan tidak baik dan tidak adil atau ada hal-hal yang kita doa kepada Tuhan, kita tidak mendapatkan jawabannya dan kita mulai merasa tidak percaya lagi kepada Tuhan, hari ini saya memanggilmu untuk fokuskan kembali hati kita kepada salib itu. Ingat Tuhan tidak pernah mengingkari apa yang sudah Ia janjikan dari firmanNya. Setiap kali engkau membaca Alkitab, pegang baik-baik firmanNya dan janjiNya kepadamu. Pegang, terima dan jalankan dalam hidup kita. Itu yang Yesus Kristus lakukan dan saya percaya Dia juga mau engkau dan saya melakukan seperti itu.(kz)