Pembaruan Spiritual yang Sejati

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Kitab Nehemia [4]
Tema: Pembaruan Spiritual yang Sejati
Nats: Nehemia 8 – 13

Nehemia adalah seorang Yahudi yang mempunyai jabatan dan kedudukan yang luar biasa di kerajaan Persia, kerajaan adikuasa dan jaya pada jaman itu. Tetapi karena melihat kota Yerusalem yang temboknya masih reruntuhan, dia tinggalkan pekerjaan itu dan bersama saudara-saudaranya berjuang membangun kembali kota ini. Dia ingin memperbaiki ekonomi bangsa Israel yang pulang dari pembuangan, biar mereka boleh menikmati hidup yang lebih baik. Tembok itu mewakili keamanan. Kalau satu kota waktu itu tidak memiliki tembok yang terlindung, bagaimana mereka bisa hidup dengan aman dan dan damai? Nehemia merindukan tembok kota Yerusalem itu kembali dibangun meskipun mereka tidak mempunyai kekuatan finansial yang memadai. Mereka hanya bisa membangun tembok itu dari puing-puing batu bata yang bekas, yang sudah hangus terbakar oleh tentara Babel pada waktu mereka menyerang kota ini. Pembuangan di Babel membuat bangsa ini habis segala-galanya. Tembok kota yang dulunya megah, gedung Bait Allah yang dibangun oleh raja Salomo luar biasa mewahnya, yang begitu banyak bagian berlapis emas. Gara-gara ada emas, sehingga pada waktu kota Yerusalem diserang oleh tentara Babel, dalam keserakahannya mereka kemudian membakar Bait Allah supaya emas itu meleleh dan bongkahannya yang terselip di antara batu-batu itu bisa mereka ambil. Dengan demikian batu-batu itu diruntuhkan.

Alkitab mencatat, tembok itu akhirnya selesai dibangun dan diperbaiki. Luar biasa! Bangsa Israel sudah pulang beberapa waktu lamanya. Sudah berapa bupati dan gubernur berganti, satu pun dari mereka tidak ada yang mendirikan dan menyelesaikan pembangunan tembok kota Yerusalem ini. Tetapi Nehemia bisa menyelesaikannya dalam waktu hanya lima puluh dua hari saja (Nehemia 6:15). Dia menggerakkan orang-orang yang sebenarnya tidak punya kekuatan, yang ekonominya tidak mampu, tetapi mereka tahu seperti kata Nehemia, Tuhan Allah bekerja sampai hari ini dan memberikan segala hal yang dia minta bahkan Tuhan beri lebih daripada itu. Benarlah kalimat ini, when we follow God’s vision, He will send you the provision. Dan yang kedua, kata Nehemia, yang kita kerjakan hari ini meskipun berat dan susah, semuanya demi anak-cucu kita di masa yang akan datang (Nehemia 4:14). Kalimat-kalimat itu menggerakkan hati orang-orang yang sebetulnya tidak mampu ini, yang secara mata manusia mustahil bisa melakukannya, tetapi pada akhirnya tembok Yerusalem bisa berdiri. Bukan mereka tidak mengalami kesulitan dan tantangan secara internal karena mereka tidak mampu dan kurang, tetapi lebih lagi berkali-kali kita menyaksikan tekanan dari luar, dari orang-orang yang tidak senang dan tidak suka melihat pembangunan itu, mereka menyerang kehidupan bangsa Israel dengan berbagai taktik dan strategi yang luar biasa jahat. Tetapi kitab Nehemia ini memperlihatkan kepada kita bagaimana orang yang berdoa dari awal menyerahkan segala sesuatu kepada Allah dan Allah berkarya melalui dia menyelesaikan apa yang menjadi beban hatinya.

Hari ini kita sampai kepada bagian kedua yaitu Nehemia 8-13, sesuatu hal yang melampaui apa yang Nehemia rencanakan pada awalnya yaitu menggerakkan bangsanya mendirikan tembok Yerusalem. Meskipun yang mereka bangun itu tidak akan bisa menggantikan kemegahan Bait Allah dan tembok yang dibangun pada masa kejayaan raja Salomo, tetapi yang paling penting bukanlah tampilan luarnya, bukan kemegahan gedungnya, bukan kekokohan temboknya. Yang penting rakyat bisa hidup aman, mereka bisa membangun perekonomian berjalan dengan baik dan menjadi satu bangsa yang bertumbuh lagi. Tetapi sampai di bagian ini Nehemia menyaksikan Tuhan mengerjakan hal yang lebih luar biasa. Bukan hanya pembangunan tembok secara fisik yang terjadi, tetapi pembaruan spiritual yang terjadi. Orang-orang kemudian mengalami perubahan di dalam hidup kerohanian ibadah mereka dan pemulihan hubungan mereka dengan Allah. Hidup mereka dirubah pada waktu Kitab Suci ini dibuka dan dibacakan di tengah-tengah mereka. Itulah awal terjadinya satu pembaruan spiritual yang sejati pada bangsa ini. Puji Tuhan!

Nehemia 8 mencatat pembaruan spiritual yang dahsyat ini terjadi ketika Ezra membuka kitab dan membacakan beberapa bagian daripada kitab itu. Orang-orang itu, laki-laki dan perempuan dan anak-anak yang sudah cukup besar untuk mendengar dan mengerti, dari pagi sampai siang hari mereka berdiri dan tekun mendengarkan penguraian yang disampaikan oleh Ezra dan rekan-rekannya (Nehemia 8:1-9). Mereka mendengar dengan seksama, hati mereka terbuka dan mengerti. ‘Lalu Ezra memuji TUHAN Allah yang maha besar dan semua orang itu menyambut dengan “Amin! Amin!” sambil mengangkat tangan. Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada TUHAN dengan muka sampai ke tanah’ (Nehemia 8:7). ‘Lalu Nehemia, yakni kepala daerah itu, dan imam Ezra, ahli kitab itu, dan orang-orang Lewi yang mengajar orang-orang itu, berkata kepada mereka semuanya: “Hari ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis!” karena semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu’ (Nehemia 8:10). Itulah reaksi-reaksi yang terjadi saat firman Tuhan dibacakan kepada mereka. Siapa yang sangka kitab Taurat Tuhan dibuka dan dibaca di hadapan umat Allah, firman Allah yang hidup ini merubah hati mereka dengan dahsyat dan luar biasa. Di situ kita melihat bagi Tuhan bukan pembangunan tembok yang terpenting. Yang terlebih penting adalah perubahan hati yang terjadi secara total di dalam diri setiap orang yang ada.

Pada puncak kemegahan dan kejayaan Salomo, Bait Allah dibangun dengan sangat mewah. Ibadahnya luar biasa. Begitu banyak penyanyi choirnya, begitu berlimpah persembahannya, betapa luar biasa pada waktu itu. Tetapi hal yang luar biasa seperti itu bukanlah pembaharuan rohani yang sejati. Itu hanyalah “gimmick,” itu adalah tata cara ibadah yang hanya eksternal belaka, yang dilakukan di luar tetapi tidak pernah merubah hati. Yang merubah hati pada waktu orang itu kemudian berada di dalam situasi yang habis, hancur-lebur, tidak punya apa-apa lagi, barulah mereka sadar mereka kehilangan sesuatu yang paling penting dalam hidup mereka. Inilah momen mereka berjumpa dengan Tuhan ketika firman Tuhan itu dibacakan di tengah-tengah ibadah mereka.

Banyak hal kita kadang-kadang take it for granted di dalam hidup ini. Kita memiliki Alkitab, kita bisa berbakti dengan leluasa, kita bisa berdoa kapan saja, dan tidak ada yang mendatangkan kesulitan dan gangguan kita beribadah. Semua itu patut kita syukuri. Tetapi pertanyaannya: apakah semua kebebasan itu memberikan satu kerinduan dalam hati kita untuk mencintai Tuhan? Kadang-kadang hal-hal yang indah dan baik seperti itu akhirnya diambil Tuhan dari hidup kita, bukan karena Tuhan tidak baik dan tidak sayang kepada kita tetapi karena Tuhan tahu mana yang lebih penting buat kita.

Tuhan Yesus berkata, “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Matius 16:26). Lebih baik kita kehilangan segala sesuatu tetapi kita mendapatkan hal yang lebih berharga daripada itu. Tuhan Yesus membukakan kepada kita meskipun segala sesuatu habis di dalam hidup ini, tetapi jikalau hidup dan jiwa kita diselamatkan oleh Tuhan, itu jauh lebih indah dan jauh lebih bernilai.

Kebangunan dan pembaruan rohani yang sejati terjadi oleh sebab bangsa ini sadar mereka telah kehilangan sesuatu yang sangat penting di dalam hidup mereka. Mereka merindukan bukan hanya tembok kota Yerusalem dibangun sehingga mereka bisa hidup dengan aman tentram, sehingga mereka bisa membangun kembali ekonomi mereka dengan lancar, sehingga mereka bisa tinggal di rumah-rumah mereka. Bukan itu. Setelah mereka dapatkan itu semua, mereka sekarang berkumpul dan meminta kepada Nehemia untuk bisa menyelenggarakan ibadah raya bagi Tuhan. Mereka rindu terjadi pemulihan hubungan yang sungguh dengan Allah. Yesus berkata, “Manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mtius 4:4). Kita hidup memang perlu materi, kita perlu segala sesuatu untuk bisa menopang hidup kita. Tetapi jiwa kita yang dicipta oleh Allah tidak bisa dipuaskan dan dikenyangkan oleh semua materi apa pun di dunia ini. Kita tidak akan pernah menyadari itu semua sampai semua itu terhilang dari hidup kita. Di situlah baru kita sadar apa sebetulnya yang paling kita perlu, apa yang seharusnya kita cari di dalam hidup ini. Bapa gereja Augustinus berkata, “My heart is restless until it finds its rest in God.” Jiwa kita tidak akan pernah sejahtera sebelum kembali kepada Allah yang menciptanya. Kalimat ini adalah kalimat yang mewakili semua perasaan dan hati dari setiap orang yang ingin mencari Tuhan dan mereka perlu mendapatkan kepuasan yang sejati di dalam Tuhan yang sejati. Kalau hidup kita seperti satu bejana yang dasarnya berlubang begitu besar, sehingga sekalipun engkau berusaha mengisinya dengan begitu banyak hal, tidak akan pernah mungkin kita bisa memenuhinya. Lubang itu hanya bisa dipenuhi oleh sesuatu yang juga memang tidak punya batasan yang kekal, yang tidak berubah dan hanya Tuhan yang sanggup mengisinya. Berapa lama kita sudah terima dan percaya Tuhan? Dan berapa sering kita menjadikan setiap hari momen kita bertemu Tuhan sebagai satu kesukaan dan kerinduan kita menikmati Tuhan? Apa yang kita terima sepanjang hidup kita, kita take it for granted atau tidak? Pada waktu kita sedang di dalam masa pencarian dan ingin mengenal Tuhan, biar kiranya hari ini melalui firman Tuhan ini sdr dan saya boleh belajar satu hal yang penting ini. Bangsa Israel akhirnya menangis dengan sukacita menyembah dan memuliakan Allah karena hari itu mereka tahu “dinding tembok” hidup mereka yang runtuh itu telah dipulihkan oleh Allah. Di situlah mereka baru sadar, selama ini yang mereka rindu bukan tembok itu dibangun tetapi suara firman Tuhan. Kiranya kita sungguh menghargai setiap kali kita membaca Alkitab, di situ jiwa kita dikenyangkan dan dipuaskan Allah.

Ezra membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi dari semua orang itu. Pada waktu ia membuka kitab itu semua orang bangkit berdiri. Lalu Ezra memuji TUHAN Allah yang maha besar, dan semua orang menyambut dengan: Amin! Amin! sambil mengangkat tangan. Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada TUHAN dengan muka sampai ke tanah” (Nehemia 8:6-7). Isi penjelasan Ezra bisa kita baca dalam seluruh Nehemia 9. TUHAN Allah kita ajaib luar biasa, Allah kita Penebus, Dialah yang membawa kita kembali. Itu membangkitkan kesadaran bangsa Israel yang hari itu mendengarkan firman Tuhan dan menyadari TUHAN Allah patut mereka sembah dan muliakan di dalam hidup ini.

Pembaruan rohani yang sejati terjadi karena kita rindu, kita mau memiliki hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan. Pada waktu kita datang berbakti bersama, kita datang bukan karena kita sudah terbiasa berbakti; bukan karena kita mau ketemu teman; bukan karena kita ingin mendengar khotbah dari seorang hamba Tuhan atau pengkhotbah siapapun. Tetapi setiap kali kita datang berbakti, kita rindu memulihkan hubungan kita dengan Allah. Kalau engkau masih belum memiliki hubungan dengan Allah, pada hari ini saya mengundang engkau untuk mengenal siapa Tuhan kita Yesus Kristus. Hanya Dialah satu-satunya yang sanggup bisa memenuhi hidup kita dan Dia memberikan hidup itu dengan berkelimpahan.

Hari itu terjadi satu kebangunan spiritual yang sejati, yang merubah cara ibadah mereka. Mereka menyembah Tuhan dengan linangan air mata karena melihat betapa indahnya firman Tuhan menyentuh hati mereka. Mereka tersenyum, tertawa dan bersorak memuji Allah karena menyaksikan kebesaran Allah. Mereka tersungkur di situ mengaku betapa besarnya Allah. Mereka mengangkat tangan memuji dan membesarkan Tuhan. Semua itu tidak diatur, semua itu tidak dikoreografi, semua itu tidak dipaksakan. Pembaruan hati itu merubah ibadah kita; pembaruan hati akan merubah pelayanan kita; pembaruan hati akan merubah seluruh aspek kehidupan kita. Bukan itu saja, pembaruan rohani yang sejati merubah hati, pikiran dan emosi mereka. Nehemia mengatakan, “Seluruh jemaah yang pulang dari pembuangan itu membuat pondok-pondok dan tinggal di situ. Memang sejak jaman Yosua bin Nun sampai hari itu orang Israel tidak pernah berbuat demikian. Maka diadakanlah pesta ria yang amat besar” (Nehemia 8:18). Wow, what a bold statement! Nehemia mencatat sejak jaman Yosua bin Nun mengacu kepada kebangunan spiritual yang terjadi ketika bangsa Israel meninggalkan padang gurun masuk ke tanah Perjanjian, itu satu masa yang sangat awal dari bangsa Israel ini. From the days of Joshua son of Nun until that day, the Israelites had not celebrated it like this. And their joy was very great! They were all filled with great joy! They were all filled with spiritual excitement. Belum pernah terjadi satu kebangunan rohani yang dahsyat seperti itu sebelumnya. Tidak pernah ada cinta orang kepada Tuhan di tengah-tengah bangsa Israel seperti hari ini kita lihat. Korban binatang yang dipersembahkan mungkin tidak banyak; kemegahan ibadah mereka mungkin tidak semeriah jaman-jaman dahulu. Tetapi bedanya, dulu mereka melakukan semua itu hanya karena tradisi. Dulu mereka melakukan semua itu hanya karena terpaksa padahal hati tidak cinta Tuhan. Dulu hanya sebagian orang saja yang melakukan ibadah dan yang lain hanya menjadi penonton. Dulu mereka beribadah, tetapi kelakuannya di luar sama sekali berbeda. Dulu mereka hanya lakukan tata cara ibadah, tetapi tidak merubah cara hidup mereka. Dulu hanya sebagian orang melayani, tetapi sekarang tidak ada satu pun orang yang tidak mengalami pembaruan rohani di hadapan Tuhan. Walaupun ibadah mereka tidak semegah waktu di Bait Allah Salomo, tetapi setiap hati orang-orang itu mengalami perubahan transformasi di hadapan Allah.

Hari ini kiranya firman Tuhan ini menegur kita sekali lagi. Banyak hal dalam hidup kita perlu kita tata dan perbaiki lagi. Jikalau selama ini pelayanan kita dibangun dari batu-batu yang tidak rata, dari hal-hal yang tidak baik, biarkan itu runtuh, kita tata lagi baik-baik. Kalau kita sudah membangun hidup kita sampai hari ini tidak didasarkan oleh Batu Karang yang kokoh, tetapi hanya dari pasir belaka (Matius 7:24-27); kalau itu perlu dihancurkan dan diruntuhkan oleh Tuhan, biar kita relakan, supaya perubahan, pembaruan itu terjadi. Saya percaya kalimat ini Tuhan suruh Nehemia tulis karena hari itu hati Tuhan gembira luar biasa, bukan? Tidak pernah terjadi ibadah yang menghasilkan perubahan hati yang begitu dahsyat sejak mereka masuk sebagai satu bangsa ke tanah perjanjian itu kecuali sampai hari itu. Bukan saja mereka rindu memiliki hubungan yang otentik dengan Allah, tetapi mereka menginginkan Tuhan lebih, lebih dan lebih lagi. Keinginan hati mereka untuk mencari kehendak Allah begitu besar, sehingga waktu mereka membaca dan mempelajari firman, mereka mau menjalaninya. Nehemia mencatat, “Orang-orang Lewi mengajarkan Taurat itu kepada orang-orang itu sementara orang-orang itu berdiri di tempatnya. Bagian-bagian daripada kitab itu yakni Taurat Allah dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan sehingga pembacaan dimengerti” (Nehemia 8:8-9). Pembaruan spiritual yang terjadi bukan hanya secara emosi, tetapi didasari oleh pemahaman intelektual. Mereka bersukacita dan berpesta ria karena mereka mengerti segala firman yang diberitahukan kepada mereka (Nehemia 8:13). “Bagian-bagian kitab Taurat Allah itu dibacakan tiap hari, dari hari pertama sampai hari terakhir. Tujuh hari lamanya mereka merayakan hari raya itu dan pada hari yang ke delapan ada pertemuan raya sesuai dengan peraturan” (Nehemia 8:19). Inilah yang terjadi, ketika mereka baca, sampai pada satu titik, mereka menemukan firman Tuhan ini belum mereka lakukan, maka mereka mau lakukan. Itulah sikap hati mereka setiap kali membaca firman Tuhan. Nehemia 13 memperlihatkan satu persatu apa yang tidak beres, apa yang belum dijalankan, apa yang lalai, apa yang salah dan keliru, satu-satu dibereskan dengan firman Tuhan. Tetapi yang paling penting adalah karena semua tahu kalau tidak benar, kita mau lakukan yang benar.

Waktu mereka baca Alkitab, mereka sadar ini imam yang melayani ternyata masih ada hubungan keluarga dengan Tobia dan memberi akses kepada Tobia untuk menikmati semua itu. Dari sini kita baru tahu kenapa Sanbalat dan Tobia dari awal terus merongrong dan menghambat pembangunan karena ternyata itu bisa membongkar kebusukan dan korupsi di dalam Rumah Allah. Jadi di dalam kompleks Bait Allah ada satu bilik khusus dimana Tobia bisa tinggal di situ. Waktu Nehemia lihat, ini tidak benar maka dia bereskan. “Tetapi sebelum masa itu, imam Elyasib yang diangkat untuk mengawasi bilik-bilik rumah Allah kami, dan yang mempunyai hubungan erat dengan Tobia, menyediakan sebuah bilik besar bagi Tobia itu. Sebelumnya orang membawa ke bilik itu korban sajian, kemenyan, perkakas-perkakas dan persembahan persepuluhan daripada gandum, anggur dan minyak yang menjadi hak orang-orang Lewi, para penyanyi dan para penunggu pintu gerbangm dan persembahan khusus bagi para imam” (Nehemia 13:4-5). “Ketika dilihat oleh Nehemia, kejahatan yang dibuat Elyasib untuk keuntungan Tobia, dia menjadi sangat kesal lalu dia lempar semua perabot rumah Tobia ke luar bilik itu. Juga Nehemia dapati bahwa sumbangan-sumbangan bagi orang-orang lewi tidak pernah diberikan, sehingga orang-orang Lewi dan para penyanyi yang bertugas masing-masing lari ke ladangnya” (Nehemia 13:10). Waktu Nehemia keluar dia baru lihat ternyata penguasa-penguasa, orang-orang kaya itu berjualan pada hari Sabat dan melakukan trading diam-diam pada malam hari, marahlah Nehemia. “Aku juga melihat orang-orang mengirik memeras anggur pada hari Sabat, juga orang-orang yang membawa berkas-berkas gandum dan memuatnya di atas keledai, juga anggur, buah anggur dan buah ara dan pelbagai muatan yang mereka bawa ke Yerusalem pada hari Sabat untuk berjualan bahan-bahan makanan, ikan dan pelbagai barang dagangan pada hari Sabat” (Nehemia 13:15-21). Belum cukupkah uangmu? Belum cukupkah hidupmu? Masakah di hari Tuhan engkau pakai dengan usaha bisnis seperti begitu? Mereka tahu itu tidak benar, lalu mereka memperbaiki hidup mereka. Pembaruan hidup kita akan terjadi sebab kita mau hari ini dengar firman, kita lakukan. Mungkin kita lemah, kita sering gagal, tetapi yang terpenting adalah kita memiliki keinginan untuk melaksanakan firman Tuhan ini. Pembaruan spiritual yang luar biasa itu bisa terjadi dalam hidup engkau dan saya. Kita berdoa sama-sama kiranya Allah menolong kita semua untuk betul-betul mencintai dan mengasihi firman Tuhan karena itulah makanan bagi roh jiwa kita.(kz)