Ketika Tuhan menjawab Doa, Bersiaplah!

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Kitab Nehemia [1]
Tema: Ketika Tuhan menjawab Doa, Bersiaplah!
Nats: Nehemia 1 – 2

Ketika kita mau membangun sebuah usaha, kita akan awali dengan apa? Kita tentu awali dengan bertanya berapa modal yang cukup diperlukan untuk membangun usaha itu? Ketika kita ingin membeli rumah, maka langkah awal yang kita lakukan adalah cukupkah uang muka yang saya miliki untuk membeli sebuah rumah? Pada waktu kita berencana untuk mengirim anak kita untuk sekolah maka langkah awal apa yang harus kita lakukan? Saya percaya kita akan kalkulasi, sanggup dan mampukah kita ntuk membiayainya? Tidak ada yang salah dengan semua itu. Sudah tentu sebelum kita melangkah, kita perlu merencanakan dan menghitung step by step. Bukankah demikian bijaksana yang Alkitab ajarkan bagi kita?

Namun melalui kitab Nehemia kita belajar satu hal yang luar biasa dan indah. Di sini kita melihat bagaimana semua perencanaan, dan bagaimana semua projek dikerjakan dan dilakukan, itu berangkat dan mulai dari berdoa di hadapan Allah. Nehemia 1:1-3 mencatat bagaimana pertemuan dan pembicaraan dengan saudara-saudara sebangsanya yang baru saja kembali dari Yerusalem. Di situ dia mendengar kondisi dan keadaan kota Yerusalem yang tinggal reruntuhan dan tidak ada yang memperbaikinya. Dan semua orang yang tertinggal berada di dalam kemelaratan dan penderitaan. Semua kabar ini membuat Nehemia datang dan menangis di hadapan Allah. Kitab Nehemia ini sungguh menjadi pelajaran yang indah luar biasa bagi perjalanan iman kita ikut Tuhan adanya. Ketika kita akan berencana berbagai hal di tahun ini, mari kita juga membawa semua apa yang kita pikirkan dan apa yang kita rencanakan, apa yang kita mau di tahun ini dengan terlebih dahulu berdoa dan bersandar kepada Tuhan.

Kita perlu mengerti konteks Nehemia pada waktu itu. Tujuh puluh tahun lamanya bangsa Israel berada di pembuangan di Babel. Nehemia menjadi generasi yang lahir di pembuangan, bertumbuh di situ sebagai generasi kedua dari orang Yahudi dari sebuah negeri yang sudah dikalahkan dan dihancurkan oleh negara yang adikuasa, orang-orang yang dihina. Nehemia merangkak dari bawah, akhirnya dia menjadi seorang yang paling dipercaya di hadapan raja, menjadi juru minuman raja Artahsasta. Ingatkan, menjadi seorang raja tidak lepas dari marabahaya, ada intrik politik dari sanak saudara dan musuh-musuh dalam selimut yang berusaha menumbangkan dan membunuhnya. Bisa saja ada dari pihak orang dalam yang mau meracun dia. Untuk menghindari hal itu, sebelum menikmati makanan dan minuman raja menugaskan juru makanan dan juru minuman untuk terlebih dahulu mencicipinya. Maka pada pesta perjamuan, Nehemia harus mengecek semuanya dari proses pembuatan makanan dan minuman itu dan sebelum sampai di depan raja, dia harus minum lalu tunggu apakah ada racun di minuman itu. Maka kalau ternyata minuman itu ada racunnya, sudah tentu Nehemia yang mati duluan. Itu adalah pekerjaannya. Seorang yang sangat dipercaya untuk hidup matinya raja Artahsasta.

Pada waktu Nehemia berada di posisi itu, saya percaya di situlah beban hati dia bertanya kepada Tuhan, mengapa Tuhan tempatkan dia di posisi ini, mengapa dia mendapat privilege seperti ini. Nehemia sudah jaya, sudah makmur, sudah hebat, sudah hidup nyaman. Nehemia bisa saja memilih untuk tidak peduli kepada kondisi orang-orang Yahudi itu. Nehemia bisa saja memilih untuk tidak turut campur dan tidak mau memikirkankan urusan itu. Toh dia juga tidak punya kewajiban untuk berbuat sesuatu bagi orang Israel. Tetapi dia memutuskan untuk terlibat dan bahkan sampai habis-habisan. Nehemia turun ke tengah-tengah pergumulan bangsanya, berjuang bersama mereka, dan di tengah segala jerih payah yang luar biasa itu dia tidak mendapatkan penghargaan, bahkan ada orang-orang yang mempertanyakan motivasi dia, yang menghina, mengejek dan memfitnah dia, Nehemia tetap mengerjakan semua itu. Tetapi apakah karena dia berada di posisi seperti itu membuat dia memimpin bangsa Israel dalam projek ini? Tidak. Posisi ini hanya menjadi privilege dan kesempatan bagi dia. Kalau tidak ada beban, kalau tidak ada keinginan, semua itu tidak akan jadi. Bukan posisi itu yang menjadi penting, tetapi hati yang rela dan siap bagi Tuhan. Itulah sebabnya saya rindu kitab Nehemia ini menjadi kitab yang menginsiprasi setiap kita, yang mengajar satu hal yang indah: bagaimana hidup kita sebagai orang percaya dipakai oleh Allah bagi hal-hal yang mulia karena hati kita ada di situ. Yang kedua, di sini kita juga menyaksikan jawaban doa dan penyertaan Allah tidaklah bersifat supranatural. Allah tidak menjawab doa Nehemia dengan mimpi. Tidak ada mimpi yang muncul, tidak ada suara berbisik menyuruh dia melakukan hal itu. Bukankah hari ini banyak orang ingin Tuhan menjawab doa dengan cara seperti itu? Banyak orang Kristen merasa doa adalah sesuatu yang membosankan. Doa menjadi satu pengalaman yang membuat frustrasi. Kita merasa kecewa di hadapan Tuhan ketika Ia tidak memberikan apa yang kita doakan. Tetapi mungkin cara kita mengenali bagaimana Tuhan menjawab doa kita salah; mungkin kita kira setelah doa lalu kita hanya duduk menanti dan menantikan Tuhan bekerja secara supranatural menjawab doa kita. Tetapi dari pengalaman Nehemia di sini kita melihat Nehemia bukan saja berdoa tetapi dia hidupi doa itu dan itulah sesungguhnya jawaban doa Allah kepadanya. Kita mungkin berdoa bagi pekerjaan Tuhan tetapi kita ingin orang lain yang mengerjakannya. Kita mungkin ada beban, kita sampaikan beban itu kepada Tuhan, tetapi kita ingin orang lain atau Tuhan sendiri melakukan sesuatu di situ. Tetapi pernahkah kita berpikir bahwa doa kita itu juga menggerakkan kita menjadi jawaban terhadap doa itu? Tuhan jawab doa kita dengan kita menghidupi doa itu. Tuhan menggerakkan dan menjadikan kita orang yang menggenapkan apa yang kita doakan dan bebankan. Yang ketiga, Tuhan menjawab doa Nehemia di dalam satu proses. Jadi di sini doa itu menjadi saluran [vehicle] Tuhan menjawab doanya. Banyak hal yang kita inginkan tidak kita dapat karena kita putuskan saluran dimana berkat Tuhan itu lewat yaitu doa kita. Kita berhenti berdoa. Kita kehilangan kekayaan dalam kita berdoa kepada Tuhan. Putus doa kita, putus salurannya, karena kita tidak menyaksikan apa yang berkat Tuhan dalam hidup kita. Pertanyaannya: berapa pentingkah, berapa indahnya, berapa urgennya doa menjadi kerinduan kita pada tahun ini?
Alkitab mencatat Nehemia membawa doanya kepada Allah pada bulan Kislew (Nehemia 1:1). Bulan Kislew adalah sekitar akhir musim gugur. Doa itu dijawab Allah pada bulan Nisan (Nehemia 2:1), yaitu di awal musim semi. Jadi ada selang waktu sekitar 3-4 bulan. Isi doa Nehemia dicatat dalam Nehemia 1:5-11. Saya percaya Tuhan mengijinkan isi doa itu dicatat supaya kita bisa belajar kekayaan dari doa Nehemia di sini. Doa Nehemia bisa dibagi dalam 4 bagian.

Bagian yang pertama, Nehemia mengawali doanya dengan pujian dan penyembahan kepada Allah. “Ya, TUHAN, Allah semesta langit, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang berpegang kepada perjanjian dan kasih setiaNya terhadap orang yang kasih kepadaNya dan tetap mengikuti perintah-perintahNya” (Nehemia 1:5).

Apa arti doa bagimu? Seringkali doa kita terlalu sempit, selfish dan self-centered. Kita berdoa hanya terus meminta apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan kita, sehingga akhirnya kita kehilangan kekayaan dimensi bagaimana kita berdoa kepada Tuhan. Sudah tentu, kita berdoa karena kita punya kesulitan dan kebutuhan. Tetapi sebelum kesulitan dan kebutuhan itu diutarakan, mari kita membawa hati kita melihat segala keindahan dan kemuliaan Allah. Di situlah doa kita membawa kita kepada kekaguman dan penghormatan kepada Allah. Nehemia mengatakan Allah adalah Allah yang
maha besar dan dahsyat. Besar kuasaNya dan tidak terbatas kekuatanNya. Tetapi sekaligus Ia adalah Allah yang panjang sabar, penuh dengan belas kasihan dan terbukti kasihNya. Ia adalah Allah yang setia dan baik. Berdoa dengan memuji, berdoa dengan menyembah siapa Allah membuat kita makin kagum dan makin hormat kepadaNya. Karena tahu sifat Allah seperti ini, indahnya Allah seperti ini, dengan sendirinya yang lain akan mengalir dengan natural dalam hidup kita.

Nehemia tidak pernah berhenti dari doa. Walaupun fakta realita dan kenyataan dia tidak lihat ada perubahan yang berarti. Dia tetap menangis, dia tetap sedih, tembok itu tetap berada dalam kondisi reruntuhan. Tetapi semua ada di luar itu tidak membuat hatinya lemah dan matanya melihat ke atas, membuat dia berlimpah dengan syukur karena dia tahu siapa Allah dan segala keindahan sifat Allah. Banyak kali orang tidak berdoa dan tidak mau berdoa, mungkin menyatakan seperti ini: ‘Buat apa berdoa? Doa tidak doa, tidak ada perubahan apa-apa.’ Hari ini saya ajak sdr mari bawa doa kita pertama-tama terlebih dahulu menyembah, memuji dan memuliakan Allah.

Bagian kedua dari doa Nehemia adalah doa pengakuan atau confession. “Aku mengaku akan segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadapMu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa. Kami telah sangat bersalah terhadapMu dan tidak mengikuti perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang telah Kau perintahkan kepada Musa, hambaMu itu” Nehemia 1:6-7). Di sini Nehemia mengakui dosanya, kesalahannya dan dosa serta kesalahan dari umat Allah yang tidak setia kepada Allah.

Doa pengakuan bukan untuk membawa semua dosa dan kesalahan kita lalu minta Tuhan untuk tipp-ex. Doa itu adalah satu doa untuk merestorasi hubungan kita dengan Allah. Pada waktu kita mengaku segala dosa kita, pada waktu kita bertobat dari segala kesalahan kita, di situlah doa kita menarik kita kembali dekat dengan Tuhan. Kesalahan kita, kegagalan kita, sanggup dipakai oleh si Jahat sebagai alat untuk menuduh kita terus-menerus, yang bisa menekan hati kita, membuat kita tidak punya pengharapan dan merasa kesalahan kita begitu besar dan tidak dapat diampuni lagi. Akhirnya kita berhenti untuk berdoa kepadaNya karena apa? Bukan Tuhan tidak dengar doa kita, tetapi karena kita merasa situasi dan kondisi kita membuat Tuhan tidak sayang dan mengasihi kita. Maka confession berarti kita datang kepada Allah, kita minta Allah pulihkan hubungan kita kembali.

Bagian yang ketiga, barulah Nehemia menyampaikan doa permohonan permintaan kepada Allah. “Bila kamu berubah setia, kamu akan Kucerai-beraikan di antara bangsa-bangsa. Tetapi bila kamu berbalik kepadaKu dan tetap mengikuti perintah-perintahKu serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat namaKu diam di sana. Bukankah mereka ini hamba-hambaMu dan umatMu yang telah Kaubebaskan dengan kekuatanMu yang besar dan dengan tanganMu yang kuat?” (Nehemia 1:9-10). Perhatikan, dia minta kepada Allah sesuai dengan janji Allah. Karena Allah telah berjanji, itu sebab kenapa dia minta. Kalau Allah sudah berjanji, Allah akan memberikan sesuai dengan janjiNya. Kemudian, Nehemia juga menyampaikan permintaan yang sangat spesifik di sini. “Ya Tuhan, biarlah hambaMu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari raja” (Nehemia 1:11b). Nehemia meminta Allah melembutkan hati raja sehingga mendapatkan belas kasihan daripadanya. Hari itu situasinya tidak gampang. Melihat muka Nehemia muram, raja bisa saja marah, hari itu kepalanya langsung dipenggal. Karena apa? Ini hari raja sedang berpesat, hatinya senang dan melihat muka Nehemia tidak senang. “Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Engkau tentu sedih hati.” Mendengar itu Nehemia menjadi sangat takut (Nehemia 2:2). Tetapi justru pada momen itu Tuhan bekerja, hati raja Ia lembutkan. Luar biasa, raja mengijinkan Nehemia pergi untuk beberapa waktu dan bukan itu saja, Nehemia meminta surat pengantar dari raja, yang berfungsi menjadi perlindungan supaya dia dalam perjalanannya ke Yerusalem dia bisa lewat tanpa ditangkap oleh penguasa-penguasa daerah sepanjang rute perjalannya. Dan bukan itu saja, raja juga memberikan kayu-kayu yang Nehemia butuhkan, dan bukan itu saja, raja juga menyediakan panglima-panglima perang dan tentara-tentara berkuda mengawalnya. Bukankah itu sudah lebih dari cukup? Nehemia katakan, raja mengabulkan permintaannya karena tangan Allah yang murah melindungi dia (Nehemia 2:8).

Yang keempat, doa itu dijawab oleh Allah karena doa itu disampaikan oleh siapa yang berdoa. Ini menjadi prinsip penting. Nehemia katakan, “Ya Tuhan, berilah telinga kepada doa hambamu dan doa hamba-hambaMu yang rela takut akan namaMu, dan biarlah hambaMu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari raja” (Nehemia 1:11). Perhatikan, kata “rela takut” dalam terjemahan Inggris: who want to live in honouring Your name. Lalu yang kedua adalah Nehemia meminta Tuhan agar kerinduannya berhasil yaitu tembok Yerusalem boleh dibangun kembali. Nehemia minta Tuhan buka jalan. Kalau Tuhan lembutkan hati raja, itu berarti dia berbagian dalam jawaban doa ini.

Kita doa bagi pelayanan misi, kita berdoa bagi misionari-misionari yang ada di pedalaman dan yang ada di penjara. Kita rindu anak-anak kita belajar misi dari awal, mereka belajar mendoakan hal itu dan saya percaya meskipun kita tidak sampai ke sana, Allah mempunyai cara tersendiri akan menjawab doa kita. Kita mungkin tidak tahu apakah doa kita berbagian dalam jawaban Allah tetapi nanti sampai di surga kita baru tahu waktu Tuhan paparkan itu semua di hadapan kita, apa yang terjadi di sana karena ada doa-doa yang dipanjatkan di sekitarnya. Di situ kita akan tersungkur di depan kakiNya. Mari kita berdoa secara spesifik seperti ini, berdoa buat mereka yang ada di pedalaman, berdoa buat mereka yang berada di dalam kesulitan, yang berada di dalam pelayanan misi, dsb. Mungkin engkau juga bisa berdoa kalau tahun ini Tuhan memberkatimu seperti ini, itu berarti engkau diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk mendukung pekerjaan Tuhan di situ. Begitu cara kita juga bisa berdoa. Mari berdoa untuk anak-anakmu. Bukan saja Tuhan jaga dan pelihara dan lindungi, doakan anak-anak kita bisa bertumbuh dalam iman, bahkan doakan juga jikalau Tuhan mengijinkan mereka bisa mendapatkan pasangan yang takut akan Tuhan. Kita berdoa bagi orang tua kita agar bisa percaya dan terima Tuhan Yesus. Mari kita bawa dalam doa spesifik, kalau Tuhan beri kesempatan bisa bertemu dengan orang tua saya tahun ini dan mengabarkan Injil kepada mereka, doa seperti itu.

Kenapa doa kita tidak memiliki kelimpahan kekayaan seperti itu? Mungkin karena kita kehilangan kesadaran iman bahwa Allah kita mampu dan sanggup bekerja di dalamnya. Mungkin doa kita sudah menjadi rutinitas, tidak menjadi satu percakapan akrab dan erat seperti anak dengan Bapa. Mungkin kita berdoa sebegitu asal-asal saja lalu kita minta Tuhan menjawabnya tanpa kita melihat bahwa Allah mau kita menjadi jawaban dari doa itu. Dari situ engkau menikmati keindahan kekayaan apa yang dialami oleh Nehemia. Saya harap ini boleh menjadi pengalaman engkau dan saya tahun ini. Bawa di dalam doa apa yang kita rindukan dan doakan. Banyak hal tidak ada habis-habisnya topik doa untuk bisa kita bawa kepada Tuhan. Selama ada air mata dalam hidup kita, selama ada kesulitan dalam hidup kita, selama ada tantangan dalam hidup kita, selama kita masih bergantung dalam hidup kita kepada Allah akan apa yang kita perlukan, selama itu pula kita perlu berdoa kepada Allah.

Mengapa kita perlu berdoa? Sebab doa itu didasari dengan satu kesadaran dan kepercayaan kita: Allah berkuasa. Allah sanggup. Mengapa kita berdoa? Karena Allah, yang kepadaNya kita memanjatkan doa, Ia memberitahukan kepada kita Ia adalah Bapa kita yang di surga. Makin kita berdoa, makin kita tahu Ia sungguh adalah Bapa kita. Seringkali kita tidak berdoa, atau kita merasa doa tidak memiliki kekuatan dan kuasa, karena Allah tidak mau mendengarkan doa kita.

Di dalam kesusahan dan kesulitan, pada waktu hamba Tuhan datang kepadamu, mungkin dia mengajakmu berdoa, tetapi engkau berkata, ‘Buat apa berdoa?! Sudah sekian lama saya berdoa, tidak ada perubahan apa-apa! Saya tetap hidup dalam persoalan seperti ini, saya terus mengalami kekuatiran hidup seperti ini, dan saya terus menghadapi pencobaan dan persoalan hidup seperti ini. Buat apa saya berdoa? Memangnya berdoa sama Tuhan ada jaminan doa saya Tuhan jawab?! Apakah dengan berdoa kepada Tuhan maka penderitaan dan kesulitan saya semuanya menjadi tidak ada?!’ Mari kita balik bertanya, ‘Jikalau anda tidak berdoa, apakah berarti masalah dan kesulitan anda menjadi tidak ada?’
Pernahkah sdr punya pengalaman seperti ini, anak sdr datang membawa mainannya yang sudah rusak dan yang dia tidak bisa perbaiki? Atau malam itu dia datang kepadamu dengan menangis karena besok ada ulangan matematika dan sampai malam itu dia tidak bisa-bisa menyelesaikan soal-soal latihannya? Tolong saya dibantu, pa. Itu persoalannya. Pertanyaan saya: apakah sdr sebagai ayahnya tidak akan menolong dia? Engkau dengan senang hati akan membantu dia, bukan? Mari coba kita bayangkan, pada waktu kita menghadapi kesulitan berat dan kita tidak sanggup melewatinya, kita datang kepada Allah Bapa kita. Dan pada waktu hidup kita sudah rusak, sudah ruwet, hanya Dia yang sanggup menolong kita. Itulah artinya berdoa, karena kita datang kepada Bapa kita yang mendengarkan doa setiap kita.
Nehemia datang kepada Allah dan Nehemia berdoa kepada Allah dan Allah menjawab doanya setapak demi setapak dan di situ dia tahu Allah mau dia berjalan di situ dan dia taat. Meskipun nanti kita akan lihat, karena doa yang dijawab oleh Tuhan tidak berarti tidak ada kesulitan lebih lanjut di dalamnya. Doa yang dijawab oleh Tuhan tidak berarti seperti tongkat ajaib yang seketika menyelesaikan semuanya. Nanti sdr akan melihat bagaimana dengan segala hal yang jerih payah yang luar biasa dan dia tidak mendapatkan penghargaan, bahkan ada orang-orang yang mempertanyakan apa yang menjadi motivasi dia, menghina, mengejek dan memfitnah dia, Nehemia tetap mengerjakan semua itu. Jikalau engkau ingin Allah menjawab doamu, start hari ini mulai dengan berdoa kepadaNya. Biar gereja kita juga boleh berjalan dengan kita berdoa di hadapan Tuhan. Dan mari kita saksikan dan alami Allah yang sanggup dan berkuasa, Bapa yang baik, Ia akan mendengarkan setiap doa kita, Ia akan bekerja di dalam setiap doa kita.(kz)