Keteduhan Hati di tengah Badai

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Kitab Nehemia [3]
Tema: Keteduhan Hati di tengah Badai
Nats: Nehemia 5-7

Kitab Nehemia adalah kisah hidup dari seorang hamba Allah yang ingin mengerjakan sesuatu yang di mata orang kelihatan mustahil, sebuah projek yang besar yang sudah begitu lama terbengkalai, yaitu membangun kembali tembok kota Yerusalem yang sudah menjadi reruntuhan sejak Babel mengalahkan kerajaan Yehuda. Nehemia mulai dengan berdoa kepada Allah sebab dia tahu dia tidak sanggup dan tidak mampu, tetapi Allah sanggup dan mampu. Tiga bulan lamanya Nehemia berdoa untuk hal itu sampai Tuhan membuka jalan, dan dia tahu meskipun Tuhan buka jalan tidak berarti jalan itu lancar dan mudah adanya. Sampai dengan pasal terakhir kitab Nehemia kita melihat bagaimana Tuhan menguatkan hati dia dan Tuhan berkarya dengan luar biasa di dalam hidup orang itu. Puji Tuhan! Hal yang sama bisa kita lihat dari kesaksian hidup begitu banyak anak-anak Tuhan. Ada anak-anak Tuhan yang tidak punya tangan dan kaki, namun bisa menjadi orang yang memberikan kekuatan dan pertolongan dan penghiburan kepada begitu banyak orang lain; ada anak-anak Tuhan yang di dalam kemiskinan dan kekurangan justru memperkaya hidup orang lain. Namun sayangnya ada begitu banyak orang-orang Kristen lain yang diberi oleh Tuhan kemampuan, kesempatan dan kelimpahan di dalam hidupnya, tetapi tidak pernah menjadikan segala benefit dan segala keindahan yang Tuhan sudah beri itu menjadikan hidupnya agung dan mulia dan menjadi berkat bagi orang lain. Hidup Nehemia menjadi satu teladan yang begitu indah sebagai anak Tuhan yang melayani di masyarakat, sebuah contoh apa artinya menjadi seorang servant-leader, seorang pemimpin yang memimpin dengan hati sebagai hamba yang melayani. Kita perlu dan patut memiliki “Nehemia-Nehemia” di jaman modern ini. Itulah panggilan Tuhan bagi engkau dan saya.

Nehemia 5:1-5 membuka satu realita ketidak-adilan sosial yang terjadi di masyarakat pada waktu itu. Ada orang-orang yang di dalam kemiskinan dan kemelaratan akhirnya terpaksa menggadaikan tanah pusaka mereka dan anak-anak mereka menjadi budak. Di tengak kemiskinan dan kemelaratan itu, ada orang-orang yang kaya dan berkuasa di tengah mereka, tetap tega ambil keuntungan seperti lintah menghisap darah. Nehemia menjadi sangat marah dan menggugat mereka untuk berhenti berbuat seperti itu dan mengembalikan tanah mereka, sehingga orang-orang ini punya kesempatan untuk berjuang lagi (Nehemia 5:6-13).

Hal yang kedua, Nehemia 5:14-19 mencatat keputusan Nehemia untuk tidak mau hidup dari kesusahan orang. Maka dia bilang, dua belas tahun lamanya dia menjadi seorang bupati, dia berkeputusan tidak mengambil gaji dan fasilitas yang sebetulnya berhak dia dapatkan. Dia berkeputusan untuk makan dari uang pribadi. Waktu Nehemia memaparkan fakta di sini, dia bukan minta orang untuk menghargai dan memuji tindakan dia. Kenapa saya ambil kesimpulan ini? Karena kita bisa perhatikan pernyataan dia, “Ya, Allahku, demi kesejahteraanku, ingatlah apa yang telah kubuat bagi bangsa ini” (Nehemia 5:19). Dia melakukan semua ini untuk Tuhan. Dia melakukan semua ini karena dia takut akan Tuhan (Nehemia 5:15b). Maka dia meminta kepada Tuhan untuk mengingat apa yang telah dia lakukan bagi bangsanya, bukan untuk cari pujian dari orang lain, tetapi untuk kesukaan Tuhan. Di sini kita belajar dalam segala hal jadilah seorang yang memberikan contoh. Kita tidak menyuruh, kita tidak memerintah, tetapi kita menjadi orang yang memberi contoh. Tidak perlu keluarkan kata-kata rohani dari mulut kita, tetapi pada waktu kita bekerja dengan baik, mengerjakan pekerjaan kita dengan excellent dimana saja kita berada, kerjakan dan lakukan itu bagi Tuhan, bukan untuk dilihat dan dipuji orang. Itu menjadi prinsip apa artinya servant-leadership dalam hidup kita. Paulus mengajak kita semua memiliki perspektif seperti ini, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23). Nehemia bekerja dengan luar biasa. Dia bereskan, dia rapikan, dia tata dan perbaiki sistem kehidupan sosial dalam masyarakat yang sudah messy dan corrupt di tengah bangsanya itu. Dia berikan dorongan dan semangat bagi mereka untuk sama-sama bekerja dan berkarya sebagai sebuah bangsa yang memiliki Allah sebagai Tuhan mereka. Namun di tengah semua itu, kita melihat dia harus menghadapi badai demi badai datang menerpa dan serangan demi serangan datang untuk mematahkan semangatnya. Nehemia harus menghadapi ancaman yang nyata dari musuh di luar dan mulut penuh dengan tipuan dari orang-orang yang mengaku teman dan sahabatnya, dan bahkan termasuk di situ mereka yang mengaku sebagai hamba-hambanya Tuhan, ramai-ramai bersekongkol hendak menghancurkan dia. Hidup menjadi orang Kristen, jadi anak Tuhan, jangan pikir sdr tidak akan mengalami badai demi badai seperti ini. Seluruh pasal 6 kita bisa lihat semua itu. Tetapi puji Tuhan! Ada banyak sekali prinsip hidup yang justru kita bisa belajar dari orang ini. Di tengah serangan badai itu hatinya tetap teduh dan persandarannya hanya kepada Allah, Batu Karang yang teguh baginya. Saya membagi Nehemia 6 ini menjadi tiga bagian.

Di bagian pertama, Nehemia 6:1-4, kita belajar dari Nehemia yang memberikan prinsip: pimpinlah hidupmu sendiri, take ownership of your life. Jangan terlalu terganggu dengan bagaimana pandangan dan pendapat orang kepadamu. Kalau kita terus memikirkan pandangan orang, pendapat orang, komentar dan kritik kepada hidup kita dan apa yang kita kerjakan, kita tidak akan pernah membuat keputusan bagi hidup kita sendiri. Mau terus menyenangkan orang, tidak bisa. Sanbalat, Tobia, Gesyem dan musuh-musuh Nehemia menggunakan berbagai macam taktik bagaimana mencelakakan, menghancurkan dan berusaha membuat apa yang dikerjakan oleh Nehemia tidak berhasil. Engkau tidak bisa appease, make peace, dan satisfy mereka. Perhatikan sebelumnya, waktu Nehemia bersama-sama bangsanya mulai membangun tembok itu, Sanbalat dan Tobia nyinyir, bukan? Mereka menghina, mengolok-olok, mengejek dan melemparkan komentar-komentar yang merendahkan, “Hah! anjing lompat saja, roboh tembok itu.” Tetapi mereka kaget, melihat tembok itu ternyata bisa selesai dibangun (Nehemia 6:1). Nehemia memberikan fakta tidak ada lagi lubang di dalam tembok yang mereka bangun, walaupun pintu-pintu gerbangnya belum dipasang. Sampai di sini, orang-orang ini tidak lagi nyinyir, tidak lagi menyindir dan menghina, tidak mendatangkan intimidasi, tetapi mereka menggunakan taktik yang lain yaitu seolah-olah mau berteman, lalu saat Nehemia lengah kemudian mereka mencelakakan dia. Nehemia tahu taktik mereka. Sampai empat kali mereka mencoba, Nehemia tidak mau menanggapi mereka (Nehemia 6:4).

Kita perlu satu spirit penilaian yang benar. Waktu orang memuji, apakah pujian ini benar-benar memuji dengan tulus, ataukah pujian ini mau mencelakakan saya? Kita tidak mungkin tidak menilai. Tetapi mejadi orang Kristen kita tidak boleh menilai dengan spirit judgmental karena itu bukan jiwa orang Kristen yang sejati. Kita menilai untuk memisahkan mana yang benar dan salah, bukan untuk mencelakakan orang tetapi untuk melindungi diri, itulah spirit discernment. Spirit judgmental adalah sikap gegabah dengan penilaian negatif yang bertujuan untuk merugikan orang lain dan selalu memberikan perspektif yang buruk kepada orang lain. Spirit of discernment adalah satu sikap mencermati pendapat dan omongan orang yang datang kepadamu, bukan untuk merugikan orang tetapi sdr menilai untuk melindungi diri.

Perkembangan teknologi dalam komunikasi di dunia medsos sekarang ini sangat mengecewakan, tetapi itu adalah hal yang tidak bisa dihindarkan. Berita hidup orang seringkali bocor begitu saja tersebar termasuk dari orang-orang Kristen bahkan pemimpin-pemimpin gereja sekalipun, terlalu cepat mengirimkan berita kemana-mana. Lalu setelah ternyata berita itu salah tetapi sudah keburu tersebar, kita cuma bilang ‘ooops!’ Mulai hari ini mari kita berhenti sikap seperti itu. Nehemia mempunyai spirit of discernment, dia tidak mau melukai orang lain, dia tidak pernah berusaha mencelakakan orang lain, dia tidak ingin memburukkan nama orang lain. Dia cuma tahu semua yang dia lihat, dia menilai, dia ambil keputusan untuk melindungi diri.

Di bagian kedua Nehemia 6:5-9 musuh-musuh mulai merubah taktik. “Lalu dengan cara yang sama untuk ke lima kalinya Sanbalat mengirim seorang anak buahnya kepadaku yang membawa surat yang terbuka. Dalam surat itu tertulis: “Ada desas-desus di antara bangsa-bangsa dan Gasymu membenarkannya, bahwa engkau dan orang-orang Yahudi berniat untuk memberontak, dan oleh sebab itu membangun kembali tembok. Lagipula menurut kabar itu engkau mau menjadi raja mereka” (ayat 5-7). Sanbalat mengajak Nehemia untuk berunding, seolah dia ada di pihak Nehemia dan mau membantu Nehemia mengatasi desas-desus yang tersebar ini. Tetapi Nehemia tidak naif dan tidak termakan dengan kata-kata Sanbalat. Dia tegas bilang: Hal seperti yang kau sebut itu tidak pernah ada. Itu isapan jempolmu belaka! (Nehemia 6:8). There is no truth in any part of your story. You are making up the whole thing. Hidup menjadi orang Kristen, jadi anak Tuhan, jangan pikir sdr tidak akan mengalami badai demi badai seperti ini. Engkau bekerja dengan baik, dengan tulus dan jujur, tetapi orang mungkin menghinamu sebagai orang Kristen, orang mulai menebar racun hoax tentang engkau. Kita perlu belajar memiliki hati yang teduh dan bijaksana seperti Nehemia dalam hidup kita. Jangan lumpuh hidupmu kalau engkau mendapatkan serangan dan tuduhan yang tidak ada habis-habisnya. Mungkin tuduhan itu malah semakin menjadi mayoritas. Luar biasa, Sanbalat pakai surat terbuka, artinya surat itu dibacakan di hadapan umum dan didengar oleh semua orang, dan semua orang percaya memang begitu adanya. Tetapi Nehemia hanya mengeluarkan kalimat, “It is not true. You only made up story.” Dia tidak terganggu, dia tidak lumpuh oleh situasi seperti itu, dia tetap melanjutkan pekerjaannya, dia tidak mundur. Tetapi kalimat ini yang paling penting, kalimat yang terakhir di ayat 9, “tetapi aku justru berusaha sekuat tenaga” sebetulnya dalam terjemahan bahasa Inggris NIV dia berdoa kepada Allah, “Lord, please strengthen my hands” (Nehemia 6:9). Sdr mungkin tidak bisa mencegah orang berbuat seperti ini kepadamu. Semua itu bertujuan untuk bikin engkau berhenti dan untuk bikin engkau tidak mengerjakan apa-apa. Untuk kemudian membuat engkau berpikir, ‘buat apa saya melakukan hal-hal yang baik, hal-hal berkorban untuk pekerjaan Tuhan, toh akhirnya justru kesulitan datang kepadaku? Ya sudah, tidak usah.’ Kalimat itu memang diinginkan oleh mereka keluar dari mulutmu. Nehemia tidak berhenti. Kenapa? Karena dia tidak kerjakan itu untuk mendapatkan pujian dari orang; dia kerjakan itu bagi Tuhan. Menghadapi tantangan dan fitnah itu berat luar biasa buat Nehemia. Itu sebab dia berdoa, “Lord, please strengthen my hands.”

Di bagian ketiga, Nehemia 6:10-19. Inilah badai dan serangan yang selanjutnya. Lebih sulit lagi, ini bukan datang dari musuh dari luar, tetapi Nehemia menghadapi musuh dalam selimut, dari orang-orang sebangsanya sendiri, bahkan dari mereka yang mengaku sebagai hamba-hamba Tuhan, imam-imam dan nabi-nabi Allah. Jebakan itu datang dari Semaya bin Delaya, seorang imam yang mempunyai akses masuk ke Bait Allah. “Mari kita bertemu di Rumah Allah, di dalam Bait Suci, dan mengunci pintu-pintunya, karena ada orang yang mau datang membunuh engkau, ya, malam ini mereka mau datang membunuh engkau” (Nehemia 6:10). Tetapi Nehemia tahu ini adalah jebakan yang sangat berbahaya. “Orang manakah seperti aku ini yang akan melarikan diri? Orang manakah seperti aku ini dapat memasuki Bait Suci dan tinggal hidup? Aku tidak pergi!” Karena kuketahui benar bahwa Allah tidak mengutus dia. Ia mengucapkan nubuat itu karena disuap oleh Tobia dan Sanbalat. Untuk itu dia disuap, supaya membuat aku menjadi takut lalu berbuat demikian sehingga aku berdosa. Dengan demikian mereka mempunyai kesempatan untuk membusukkan namaku sehingga dapat mencela aku” (Nehemia 6:11-13). Tidak sampai di situ, Nehemia juga menyebut nabiah Noaja dan nabi-nabi yang lain juga menakut-nakuti dia. Kenapa Nehemia disuruh datang ke Bait Allah? Nehemia adalah seorang biasa, bukan keturunan imam. Kalau Nehemia masuk ke dalam ruang kudus dan bersembunyi di situ, itu bukan hak dia. Itu yang bisa menjadi desas-desus di luaran bahwa dia mau menjadi imam. Tetapi yang bicara ini siapa? Mereka ini adalah notabene hamba-hamba Tuhan, dan mereka memakai bahasa rohani pula. Maafkan, kalau sdr pernah mengalami atau menyaksikan ada orang-orang yang menyebut diri sebagai hamba Tuhan tetapi hidup tidak dengan integritas, mau menerima suap oleh orang untuk melakukan sesuatu dan mau diperlakukan oleh orang untuk melakukan sesuatu demi seturut dengan nafsu daripada dunia dan tidak mau memberikan sesuatu prinsip yang benar, tidak heran sdr kecewa kepada orang seperti itu. Nehemia berdoa dan berseru kepada Allah, “Ya, Allahku, ingatlah sega perbuatan mereka. Lihatlah jebakan dan siasat mereka kepadaku” Betapa tidak gampang dan tidak mudah apa yang dia hadapi waktu itu. Terlebih lagi musuh yang dia hadapi bukan satu dua individu, tetapi mereka adalah orang-orang yang punya kuasa, posisi dan kroni yang sangat besar pengaruhnya. “Pada masa itu pula para pemuka Yehuda mengirimka banyak surat kepada Tobia, dan sebaliknya mereka menerima surat-surat daripadanya, karena banyak orang di Yehuda mempunyai ikatan sumpah dengan dia, sebab dia adalah menantu Sekhanya bin Arah, sedangkan anaknya mengambil anak Mesulam bin Berekhya sebagai isteri. Juga mereka sebut-sebut segala kebaikan Tobia di mukaku dan segala perkataanku terus dibeberkan kepadanya. Pula Tobia mengirim surat-surat untuk menakut-nakutkan aku” (Nehemia 6:19). Mereka bersekongkol dan memakai segala strategi untuk mematahkan hati Nehemia.

Pada waktu sdr mau hidup mencintai dan mengasihi Tuhan satu kali kelak segala sesuatu akan berada di pihak sdr sebab yang menolong dan memelihara hidupmu adalah Tuhan; sebab Tuhan kita tidak pernah tidur. Nehemia di tengah menghadapi badai hidup itu, dia menyaksikan sungguh Allah di pihaknya, Allah memberkati segala pekerjaan tangannya. Nehemia 6:15 mencatat, “Maka selesailah tembok itu pada tanggal dua puluh lima bulan Elulm dalam waktu lima puluh dua hari.” Wow! Ini “projek mangkrak” seratus tahun, tetapi bisa dikerjakan dan diselesaikan oleh seorang yang namanya Nehemia hanya dengan lima puluh dua hari. Dan Nehemia mencatat, “Ketika semua musuh kami mendengar hal itu, takutlah semua bangsa sekeliling kami. Mereka sangat kehilangan muka dan menjadi sadar bahwa pekerjaan itu dilaksanakan dengan bantuan Allah kami” (Nehemia 6:19). Semua musuh melihat dan menjadi malu karena melihat nyata sungguh Allah bekerja di tengah-tengah mereka. Luar biasa!

Apa yang kita belajar di sini? Badai dan serangan musuh dari luar dan dari dalam, itu adalah fenomena di balik peperangan spiritual yang dahsyat. Spiritual battle is actually harder than material battle. Nehemia membawa bangsanya yang hancur terpuruk dalam kemiskinan materi, tetapi yang dihadapinya adalah peperangan melawan mental yang apatis, yang tidak peduli, yang egois mencari keuntungan diri, ini peperangan spiritual yang sangat tidak mudah dihadapi, satu revolusi mental. Spiritual battle yang paling perlu adalah bagaimana merubah hati yang tidak mau memberi dengan sukarela, merubah hati tidak dibelenggu dan diperbudak oleh keinginan materi dalam hidup kita. Itu jauh lebih penting. Waktu Nehemia ada di situ, dia alami itu semua. Tidak ada uang, sehingga membangun tembok itu hanya dengan apa yang ada, dengan batu-batu yang sudah hangus terbakar. Tetapi terbukti mereka bisa membangun tembok dari reruntuhan hanya dalam 52 hari, sebab ada seorang pemimpin yang tidak mau mundur, tidak akan berhenti, yang terus mendorong bangsanya untuk mengerjakan sampai selesai meskipun orang di sekitarnya berusaha mencegahnya. Puji Tuhan! Saya harap kita menjadi anak Tuhan yang seperti itu. Banyak pekerjaan Tuhan membutuhkan orang-orang yang step up, berdiri; bukan hanya membutuhkan uang dan dana yang diberi. Pada waktu ada bencana, perkara mudah bagi kita untuk mengirimkan berdus-dus indomi. Tetapi mencari orang yang mau tinggal bersama-sama di tengah korban bencana, menangis dengan mereka, membimbing mereka, berdoa dengan mereka. Mencari orang yang memiliki hati yang mau berkorban seperti itu, betapa tidak mudah, bukan? Kita butuh orang-orang Kristen yang seperti itu. Gereja ini perlu orang-orang seperti itu. Pelayanan kita perlu orang-orang seperti itu. Dan saya percaya itu akan membawa nama Tuhan agung dan mulia.

Sdr jangan patah hati oleh karena perkataan negatif atau kalimat-kalimat tuduhan dari orang lain sehingga membuatmu berhenti untuk berjuang bagi hal-hal yang mulia dalam hidupmu. Jangan. Yang engkau lakukan adalah berdoa, ‘Tuhan, kuatkan hati saya.’ Saat engkau menghadapi badai hidup, anak-anak kita yang memberontak, orang tua yang belum percaya Tuhan, melewati masa dan tahun-tahun yang tidak mudah, yang kita perlu adalah lutut kita berdoa sembari tidak pernah berhenti menunjukkan cinta dan kasih yang luar biasa dan iman yang otentik. Hari ini, mari katakan kepada diri sendiri, ‘Tuhan, saya mau menjadi seorang servant-leader, dalam hidup saya kepada keluargaku, kepada pelayananku.’ Mari nyatakan hidup kita beri contoh, kita kerjakan dan lakukan segala hal untuk kemuliaan Tuhan. Kita tidak cari pujian dari orang, kita jangan pikirkan apa pendapat orang atau kalimat-kalimat dari orang. Sekalipun mayoritas orang ngomong apapun, tetap teguh, dan take ownership make decision for your life. Kalau engkau terus menghabiskan waktu untuk terus dengar suara-suara orang di kiri-kanan seperti ini, sdr akan lumpuh dan tidak mengerjakan apa-apa dalam hidup sdr. Yang ketiga, pada waktu sdr menghadapi fitnah dan hal-hal yang tidak baik dikatakan orang kepadamu karena engkau anak Tuhan, tidak usah bela diri. Just simply katakan, ‘That is not true,’ dan buktikan hidupmu bersih dan otentik, sampai akhirnya semua kata-kata itu tidak mengganggu hidup sdr. Doa kita sama-sama, Tuhan, kuatkan tanganku, beri aku kekuatan. Jadikan aku contoh teladan dan bukti bahwa aku seorang Kristen yang sejati. Kiranya Tuhan memberkati kita hari ini untuk menjadi anak Tuhan, orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh memuliakan Tuhan dalam hidup kita.(kz)