Fight for Glorious Cause

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Kitab Nehemia [2]
Tema: Fight for Glorious Cause
Nats: Nehemia 3 – 4

Kitab Nehemia adalah satu kitab yang indah luar biasa dan saya harap kitab ini boleh menjadi kitab yang kita cerminkan dalam hidup kita, karena kitab ini memimpin beginilah caranya Allah juga bekerja di dalam hidup kita. Allah tidak selalu melakukan itu secara supranatural, dengan intervensi dan suara yang tiba-tiba datang dari surga. Allah juga tidak selalu mengerjakan sesuatu dengan cara yang ajaib dalam sekejap terjadi. Kita tahu dan percaya Allah sanggup dan bisa berbuat segala sesuatu tanpa perlu bergantung kepada kita. Allah sanggup bekerja melalui apa yang Ia firmankan tanpa perlu bantuan dari yang lain. Tetapi melalui kitab Nehemia kita boleh melihat Allah juga adalah Allah yang rindu menggenapkan apa yang ada di dalam rencana Dia melalui hidup kita. Doa kita bukan menunggu orang lain mengerjakan, doa kita bukan menunggu Allah bekerja dengan secara ajaib, doa kita mungkin adalah kita yang menjadi jawaban dari doa itu.

Nehemia setelah tiga bulan bergumul dalam doa, dia siap untuk pulang mendirikan dan membangun tembok kota Yerusalem yang sudah menjadi reruntuhan itu. Satu hal yang tidak gampang. Keinginan hati sendiri ada, semangat yang meletup-letup ada, tetapi jika itu tidak tertransfer ke dalam diri orang-orang yang lain, semua itu tidak akan terjadi. Bagian kedua kitab Nehemia 2:11-16 kita menemukan Nehemia bersama beberapa orang berjalan sekeliling tembok yang sudah runtuh itu pada malam hari. Dia melihat dan mem-visualisasikan, dia taruh beban itu di dalam hatinya, mungkin sambil bertanya-tanya mungkinkah kami bisa mengerjakannya? Lalu setelah itu dia kumpulkan orang-orang. Tidak gampang kita bisa memotivasi orang, sebelum hati kita dimotivasi oleh Tuhan. Tetapi bisa jadi orang lain tidak bergerak atau sekitar kita tidak bergerak, kita perlu belajar untuk memotivasi diri kita sendiri. Ada kalanya dalam hidup ini apa yang kita doakan dan apa yang kita kerjakan tidak mengalami perubahan yang berarti dan terlalu lambat terjadi. Namun yang kita perlu adalah kita perlu bangun, bangkit lagi dan terus memotivasi diri.

Nehemia kemudian mengatakan kepada orang-orang Yahudi sebangsanya, “Kamu lihat kemalangan yang kita alami, yakni Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela” (Nehemia 2:17). Bukan karena dia kaya, bukan karena dia mampu, tetapi Nehemia mengatakan Allah sungguh menyertai mereka. Memang tembok itu belum berdiri, belum jadi itu semua, namun kita tidak perlu melihat ke sana, lihat jikalau Tuhan pimpin sampai hari ini, itu membuat hati kita tahu bahwa Ia pasti bekerja dan menyertai kita di hari-hari yang akan datang. Mendengar itu, berkatalah mereka, “Kami siap untuk membangun!” Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu (Nehemia 2:18). Tetapi pasal 2 juga mencatat ada Sanbalat dan Tobia, ada pihak oposisi terhadap pembangunan tembok Yerusalem ini.

Nehemia 3 unik mencatat semua nama-nama klan, semua keluarga, lengkap tanpa dibuang detailnya, satu-persatu orang-orang yang terlibat dalam pembangunan tembok ini. Kita tidak tahu siapa mereka. Demikian juga dicatat bagian demi bagian tembok ini, mulai dari ujung yang satu terus disambung sampai ujungnya bertemu. Saya mengambil beberapa highlights saja dari daftar nama catatan Nehemia yang sangat unik dan penting kita lihat dan belajar sama-sama. “Maka bersiaplah imam besar Elyasib dan para imam, saudara-saudaranya, lalu membangun kembali pintu gerbang Domba. Mereka mentahbiskannya dan memasang pintu-pintunya. Mereka mentahbiskannya sampai menara Mea, menara Hananeel” (Nehemia 3:1). Di sini kita lihat, mulai dari pemimpin rohaninya, imam besar, dan para imam-imam semua turun tangan mengerjakan pembangunan tembok ini dan mentahbiskannya. Lalu Nehemia mencatat nama kelompok demi kelompok membangun tembok itu sambung-menyambung, diselingi dengan beberapa catatan khusus. “dan berdekatan dengan dia orang-orang Tekoa. Hanya pemuka-pemuka mereka tidak mau memberi bahunya untuk pekerjaan tuan mereka” (Nehemia 3:5). Kenapa? Mungkin saja mereka takut karena ada satu orang bernama Gesyem seorang Arab (Nehemia 2:19) yang tinggal di dekat orang-orang Tekoa di situ yang sudah memberikan pengaruh negatif kepada para pemimpin mereka sehingga mereka tidak mau berbagian dalam pembangunan itu. Tetapi Nehemia mencatat ada orang-orang dengan segala kekurangannya, dengan ketidak-mampuannya, mereka ambil bagian dan mau terlibat di dalamnya. Sebaliknya ada orang-orang yang memiliki kedudukan yang tinggi namun mereka tidak mau ambil bagian dalam pembangunan, semua juga dicatat dalam bagian ini. “Berdekatan dengan mereka Uziel bin Harhaya, salah seorang tukang emas, mengadakan perbaikan, dan berdekatan dengan dia, Hananya, seorang juru campur rempah-rempah. Mereka memperkokoh Yerusalem sampai tembok Lebar” (Nehemia 3:8). Uziel dan Hananya dicatat mempunyai profesi pekerjaan yang “halus.” Uziel membuat perhiasan emas dan Hananya mencampur rempah-rempah untuk parfum. Tetapi mereka tidak ragu memberikan bahu dan otot mereka bekerja keras. Bahkan dicatat di ayat 12, Salum bin Halohesh mengadakan perbaikan bersama-sama anak-anak perempuannya. Salum hanya memiliki anak-anak perempuan dan tidak mempunyai anak laki-laki, tetap mereka turun bahu-membahu melakukan pekerjaan mengangkut batu-batu dan memasang tembok itu sampai selesai. Detil-detil ini dicatat oleh Nehemia.

Ada beberapa hal kita dapatkan dari bagian ini. Pertama, tidak semua mendapatkan bagian yang sama. Itu tergantung kepada apa yang mereka dapatkan dan yang mereka mau terlibat di dalamnya. Yang kedua, kita bisa melihat dengan berbagai ability dan diversity yang ada, Nehemia tidak menolak orang-orang itu ambil bagian dan terlibat di dalamnya sekalipun mereka bukan tukang batu, sekalipun mereka bukan orang yang ahli di situ. Lalu kemudian ada di antara mereka yang ingin bekerja, tidak punya anak laki-laki di dalam keluarganya, tetapi hanya ada anak-anak perempuan dan mereka bersedia bekerja membangun tembok ini. Nehemia tidak mengabaikan orang-orang seperti ini. Mereka lihat, mereka tergerak, mereka lakukan sebisa dan semampu mereka. Di tengah-tengah hidup kita, mungkin ada yang menyatakan hal yang tidak setuju kepadamu, itu hal yang wajar dan lumrah. Tetapi hal-hal yang kecil, hal-hal yang negatif, atau ada orang yang terus menyatakan ‘kurang ini kurang itu,’ kalimat seperti itu tidak boleh membuat kita kemudian berhenti dan tidak mau melanjutkan. Karena kalau tunggu sampai semua ada baru bisa mulai kerja, sampai kapan? Belum tentu kita bisa mendapatkan hal itu. Tetapi pada waktu kita tahu bahwa ini adalah hal yang baik, mari kita kerjakan dan lakukan. Orang yang tergerak hatinya, yang digerakkan Tuhan, mari kita lihat sama-sama dan kita akan bekerja dan menghasilkan sesuatu yang indah.

Nehemia 4 menulis setelah pembangunan tembok berjalan dengan sangat baik, kagetlah Sanbalat dan Tobia. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Orang-orang ini miskin, tidak mampu. Apa yang mereka bangun hanya dari batu-batu yang sudah hangus terbakar, hanya dari puing batu-batu ini yang bisa mereka pakai. ¬†Orang-orang ini tidak punya kekuatan, tidak punya bakat, tidak punya talenta, tidak punya keahlian. Lalu timbul reaksi mereka, muncullah tekanan dan ancaman dari luar. ‘Ketika Sanbalat mendengar bahwa kami sedang membangun kembali tembok, bangkitlah amarahnya dan ia sangat sakit hati. Ia mengolok-olokkan orang Yahudi dan berkata di hadapan saudara-saudaranya dan tentara Samaria: “Apa gerangan yang dilakukan orang-orang Yahudi yang lemah ini? Apakah mereka memperkokoh sesuatu? Apakah mereka hendak membawa persembahan? Apakah mereka akan selesai dalam sehari? Apakah mereka akan menghidupkan kembali batu-batu dari timbunan puing yang sudah terbakar habis seperti ini?” Lalu berkatalah Tobia, orang Amon itu, yang ada di dekatnya: “Sekalipun mereka membangun kembali, kalau seekor anjing hutan meloncat dan menyentuhnya, robohlah tembok batu mereka” (Nehemia 4:1-3).

Dalam bagian ini kita bisa saksikan Tuhan berfirman, Tuhan memelihara, Tuhan menuntun, Tuhan buka jalan. Tetapi mereka menjalani semua ini dengan keringat, dengan susah payah, hari demi hari, sedikit demi sedikit, mereka menyaksikan proses itu begitu lambat tetapi jalan terus. Dan di tengah sukacita mereka, pihak oposisi mulai melemparkan ejekan, hinaan dan olok-olok yang sangat melemahkan hati. Mereka dengan sengaja melakukan itu untuk membuat hati bangsa ini menjadi pahit dan semangat mereka kendor. Orang-orang ini tidak berdaya membalas penghinaan mereka dan hanya bisa membawa di dalam doa kepada Allah. “Ya Allah kami, dengarlah bagaimana kami dihina. Balikkanlah cercaan mereka menimpa kepala mereka sendiri dan serahkanlah mereka menjadi jarahan di tanah tempat tawanan. Jangan Kau tutupi kesalahan mereka, dan dosa mereka jangan Kau hapus dari hadapanMu, karena mereka menyakiti hatiMu dengan sikap mereka terhadap orang-orang yang sedang membangun” (Nehemia 4:4-5). Kepada hal ejekan, fitnah, tekanan psikologis dari orang-orang itu, Nehemia membawa doanya kepada Tuhan, Tuhan kiranya membalaskan akan hal itu. Bagian pasal 4:4-5 itu disebut di dalam penafsiran Perjanjian Lama sebagai Imprecatory Prayer, doa untuk meminta Allah menyatakan balasannya setimpal dengan dosa orang. Di dalam kitab Mazmur kita menemukan beberapa mazmur seperti itu. Doa-doa seperti ini bukan lahir dari kebencian, ini bukan doa yang keluar dari mulut orang yang sakit hati, tetapi kita harus ingat ini adalah orang-orang yang telah diperlakukan dengan tidak adil tetapi mereka tidak mau melakukan tindakan balas dendam seturut apa yang orang itu lakukan kepada mereka, tetapi yang menyerahkan semua itu kepada Allah untuk menyatakan keadilanNya terhadap perbuatan ketidak-adilan orang itu kepada mereka. Jadi pada waktu Alkitab mengatakan jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, itu artinya saya tidak directly melakukan secara aktif pembalasan kepada orang itu, tetapi tidak berarti kesalahan dan perbuatan injustice orang itu tidak boleh kita bawakan di dalam doa kepada Allah. Kita berdoa untuk menuntut keadilan Tuhan untuk dinyatakan. Dengan demikian berarti kesalahan orang tidak saya balas dengan hal yang salah. Itu yang artinya saya tidak balas dendam. Tetapi pengampunan dan maaf dari saya tidak akan mengalir kepada orang itu sebelum orang itu kemudian menyadari kesalahannya dan menyesal dan mengaku akan kesalahannya. Itu yang namanya forgiveness. Seperti demikian Allah mengampuni dosa kita juga melalui confession kita kepadaNya. Paulus dalam 2 Timotius 4:14-15 juga menyatakan satu imprecatory prayer seperti ini. “Aleksander tukang tembaga itu telah banyak berbuat kejahatan terhadap aku. Tuhan akan membalasnya menurut perbuatannya. Hendaklah engkau juga waspada terhadap dia karena dia sangat menentang ajaran kita.” Paulus minta kepada Timotius untuk hati-hati terhadap Aleksander, jaga jarak, hati-hati dengan dia, karena dia terlalu jahat terhadap kita. Paulus tidak bilang dia maafkan Aleksander. Tidak. Yang ada adalah Paulus tidak membalas seperti apa yang Aleksander perbuat kepadanya. Lalu kemudian Paulus keluarkan kalimat ini, ‘Let the justice of God be done.’ Itu yang kita sebut sebagai imprecatory prayer.

“Tetapi kami terus membangun tembok sampai setengah tinggi dan sampai ujung-ujungnya bertemu, karena seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati” (Nehemia 4:6). Di ayat 6 ini kita bisa melihat satu konklusi yang penting. Puji Tuhan! Tantangan dari luar tidak membuat orang-orang ini kehilangan semangat. Mereka terus bekerja dan akhirnya mereka bisa melihat temboknya sudah setengah jadi. Tetapi melihat itu, serangan berubah. Dari olok-olok, dari menghina dan melempar ejekan, sekarang Sanbalat dan Tobia ingin melakukan serangan yang lebih dahsyat lagi. “Ketika Sanbalat dan Tobia serta orang Arab dan orang Amon dan orang Asdod mendengar bahwa pekerjaan perbaikan tembok Yerusalem maju dan bahwa lobang-lobang tembok mulai tertutup, maka sangat marahlah mereka. Mereka semua mengadakan persepakatan bersama untuk memerangi Yerusalem dan mengadakan kekacauan di sana. Tetapi kami berdoa kepada Allah kami dan mengadakan penjagaan terhadap mereka siang dan malam karena sikap mereka ” (Nehemia 4:7-9).

Dalam bagian ini kita saksikan apa yang Sanbalat dan Tobia lakukan tidak akan berhenti, dan kali ini mereka menyusun rencana untuk mengadakan kekacauan yang lebih besar dan bukan saja mereka berdua, sekarang mereka bisa mengajak orang-orang lain, orang Arab, orang Amon dan orang Asdod, berbagian dengan rencana mereka. Puji Tuhan, Tuhan campur tangan untuk menggagalkan rencana jahat mereka, yaitu ada orang yang mendengar akan rencana jahat itu, lalu menyampaikan hal itu kepada Nehemia. Apa yang Nehemia lakukan? Di sini kita belajar untuk bijaksana mencari jalan keluar, walaupun jalan keluar itu mungkin tidak semulus apa yang kita pikir dan kita jangan kecewa jikalau situasi dan keadaan itu sangat mempersulit hidupmu. Nehemia berdoa kepada Tuhan lalu selanjutnya dicatat di bagian belakang, bagaimana mereka berjaga-jaga, cari jalan keluar untuk menghadapi serangan dari musuh itu.

Belum selesai tantangan dari luar, kita menyaksikan Nehemia mulai menghadapi problem secara internal dari antara orang-orang sebangsanya sendiri. ‘Berkatalah orang Yehuda: “Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini” (Nehemia 4:10). Mereka mulai menggerutu, mereka mulai bersungut-sungut. Pekerja-pekerja ini mulai kelelahan; pekerjaan kelihatannya tidak habis-habis. Tetapi dari sungut-sungut kemudian reaksi muncul: mustahil, tidak ada gunanya dilanjutkan, tidak usahlah, tidak sanggup kami membangun kembali tembok ini. Hal yang objektif kita bisa bereskan, pekerja lelah, suruh istirahat, atau coba bagi shift. Planning tiga bulan projek selesai, sekarang harus coba kita mundurkan jadi lima bulan. Terlalu banyak puingnya, ya sudah, mari pelan-pelan kita bereskan. Sedikit demi sedikit. Tetapi semua ini walaupun bisa dibereskan, jikalau persoalan yang subjektif ini tidak dibereskan, maka semua hal baik yang sudah berjalan bisa menjadi rusak. Kalau mereka mulai pesimis dan semangat mulai kendor, sikap itu bisa mematahkan hati kita. Menghadapi tantangan hal seperti ini, ketika sdr cape, ketika sdr letih dan lelah, apa yang sdr harus kerjakan dan lakukan? Kita perlu belajar menjadi orang yang tahu dan sadar kita punya kekurangan dan kelemahan. Kita tidak bisa mengerjakan semuanya. Kita mungkin bisa letih dan lelah di tengah jalan. Kita tahu kekuatan kita tidak seberapa dan kita perlu juga belajar bagaimana mengatur dan menjaga hati kita. Itu bisa kita selesaikan dengan baik. Tetapi persoalannya adalah jangan sampai semua itu menyebabkan kita menjadi kurang percaya kepada Tuhan dan akhirnya mendatangkan hati yang pesimis.

Luar biasa kita bisa menyaksikan Nehemia, selain dia berdoa dia juga memberikan dorongan kepada umat ini. “Jangan kamu takut terhadap mereka! Ingatlah kepada Tuhan yang maha besar dan dahsyat dan berperanglah untuk saudara-saudaramu, untuk anak-anak lelaki dan anak-anak perempuanmu, untuk isterimu dan rumahmu.” Ketika didengar musuh kami bahwa rencana mereka sudah kami ketahui dan bahwa Allah telah menggagalkannya, maka dapatlah kami semua kembali ke tembok, masing-masing ke pekerjaannya’ (Nehemia 4:14-15). Fight for glorious cause. Berperanglah, berjuanglah untuk satu tujuan yang agung dan mulia. It is not only for you, kata Nehemia. It is for your sons and daughters, it is for your wives and your homes. Meskipun capai, berat dan susah, namun engkau tahu engkau melakukannya demi kemuliaan Allah dan demi keluargamu. Anak-anakmu akan tinggal di dalam kota yang aman terlindung, kota yang memiliki benteng sehingga mereka bisa hidup dengan aman. Perkataan itu membuka visi mereka, maka mereka mau melanjutkan untuk melakukan. Walaupun mungkin lebih panjang, lebih susah, kenapa? Karena sebagian harus pegang tombak, pegang perisai, pegang panah. Yang sebagian lagi bekerja dengan pedang tersandang di pinggang, yang tentu akan memperlambat kerja mereka. “Demikianlah kami melakukan pekerjaan itu, sedang sebagian daripada orang-orang memegang tombak dari merekahnya fajar sampai terbitnya bintang-bintang” (Nehemia 4:21).

Seorang hamba Tuhan berkata, “Although complete unity of purpose and participation in God’s work is desired, it is seldom attained. Yet God’s purpose are not ultimately thwarted by those who oppose Him. He is able to see His projects through to completion through those who do cooperate with Him.” Sekalipun kita rindu ada kesehatian yang sempurna dan partisipasi yang membawa semua orang terlibat di dalam pekerjaan Allah, umumnya hal itu jarang terjadi. Tetapi jangan sampai karena ada yang tidak berpartisipasi akhirnya membuat kita menjadi kehilangan semangat untuk berjuang bagi hal yang mulia dalam hidup kita. Tidak semua orang Kristen dipanggil dan diberikan tanggung jawab pekerjaan Allah dalam hidupnya, mereka mau terlibat ambil bagian di dalamnya. Walaupun demikian, apa yang Tuhan rencanakan tidak akan mungkin bisa digagalkan oleh mereka yang menentang dan tidak mau terlibat di dalamnya. Kita perlu berada di bagian ini. Allah sanggup melihat apa yang Ia rencanakan menjadi selesai melalui anak-anak Tuhan yang memang mau bekerja sama dengan Tuhan dalam hidupnya. Kiranya firman Tuhan ini menolong kita sama-sama. Yang kita rindukan, pada waktu kita dengar firman Tuhan ini, semua kita yang dengar berkata, “Amin! Tuhan, pakailah aku boleh berbagian satu-persatu di dalam pekerjaan Tuhan.” Bukan hanya di gereja ini, tetapi bagi seluruh pekerjaan Tuhan. Jangan hanya menjadi orang yang berkata lihat, ini yang kurang dari pekerjaan Tuhan, itu yang kurang dari pekerjaan Tuhan, lalu dia tinggal duduk di situ tunggu orang lain mengerjakannya. Pada waktu engkau melihat ada yang kurang, ini yang masih perlu dalam pekerjaan Tuhan, kita tidak duduk berpangku tangan dan diam. Kita turun tangan, berbagian di dalamnya, meskipun hanya dalam porsi yang kecil saja. Semua itu harus menjadi prinsip hati kita sama-sama. Menghadapi kesulitan, jangan itu membuat hatimu menyerah dan merasa tidak mungkin bisa kerjakan. Jangan give up. Jangan katakan itu impossible. Berjuanglah, karena apa yang kita kerjakan bagi Tuhan tidak akan pernah sia-sia.(kz)