2. Kekuatan Surgawi bagi Orang yang Berani

2. KEKUATAN SURGAWI BAGI ORANG YANG BERANI
Eksposisi Kitab Hagai
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
RECI Sydney, 22/7/2018
Nats: Hagai 2:1b -10

Kitab Hagai adalah satu kitab yang penuh dengan teguran sekaligus janji-janji dan encouragement yang luar biasa Allah berikan bagi umatNya yang kembali dari pembuangan [Exile]. Tujuh minggu lamanya Allah mengutus nabi Hagai menyampaikan firmanNya kepada mereka. Pulang dari pembuangan, orang-orang Israel ini menghadapi problem dan tekanan yang begitu berat dari luar, dari pihak bangsa-bangsa kafir yang ada di sekitarnya yang tidak ingin mereka membangun kembali Bait Allah yang sudah runtuh dan memperbaiki kembali tembok-tembok kota Yerusalem yang sudah rusak itu. Kritikan, cemooh dan ejekan yang tidak pernah berhenti akhirnya membuat hati mereka kecut, kecewa dan masa bodoh terhadap pekerjaan Allah. Itulah yang Allah tegur melalui Hagai. Tantangan dari luar, tekanan dan pressure dari orang-orang di luar, semua itu jangan sampai menjadi penghalang Rumah Allah berdiri. Tetapi lebih jauh lagi, firman Tuhan mengorek apa inti persoalan yang sebenarnya. Yang menjadi persoalan itu adalah mereka tidak peduli dan masa bodoh; yang menjadi persoalan itu adalah hati mereka yang egois; yang menjadi persoalan itu adalah excuses demi excuses; yang menjadi persoalan itu adalah ketidak-beranian; yang menjadi persoalan itu adalah hati yang tidak mau menjadikan Allah sebagai sentral dan pusat utama di dalam hidup mereka. Mereka katakan belum ada uang. Mereka katakan belum waktunya. Mereka katakan itu tidak ada gunanya, useless, apa artinya semua itu? Persoalan mereka adalah mereka tidak mau menjadikan Allah pusat hidup mereka. Apakah sebetulnya mereka mampu membangun kembali Bait Allah itu? Mereka mampu. Bukankah mereka mampu membangun rumah mereka sendiri dengan layak? Tetapi kenapa sudah lebih dari 18 tahun sejak kembali dari pembuangan, mereka tidak membangun Rumah Allah? Bukankah Rumah Allah menjadi simbol spiritual renewal mereka? Bukankah Rumah Allah itu menjadi poros yang penting bagi kerohanian bangsa ini? Bukankah Rumah Allah menjadi tanda Allah hadir di tengah-tengah mereka?

Tujuh minggu lamanya Allah mengutus nabi Hagai menyampaikan firman Allah kepada bangsa ini. Luar biasa! Tuhan tidak jemu-jemu berfirman kepada kita; tidak habis-habisnya janji firman Allah datang kepada kita. Tetapi yang menjadi pertanyaan: apakah firman yang datang kepada kita itu sungguh merubah hidup kita, dan menjadikan kita bergerak dan fokus kepada Tuhan tanpa pernah digentarkan dan ditakutkan dengan segala hal tantangan dari luar? Pada waktu Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan mengenai penabur yang menaburkan benih di ladang, persoalannya bukan kepada berapa banyak benih yang ditabur. Persoalannya kepada tanah dimana benih itu ditabur. Sekalipun 1 ton benih ditabur di atas tanah yang keras, tidak akan ada satu benih pun yang bisa tumbuh di atasnya. Tetapi sebaliknya, meskipun hanya satu benih yang ditabur, karena benih itu ditabur di tanah yang subur, benih itu akan tumbuh menghasilkan buah yang berlipat ganda (Matius 13:1-9). Mari pulang kembali kepada hidup setiap kita masing-masing. Bukan soal berapa banyak firman Tuhan yang sudah kita dengar; bukan soal berapa lama kita ikut Tuhan, tetapi mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing, bagaimana kondisi tanah hati kita selama ini di hadapan Tuhan? Persoalan hati kita kepada Tuhan itu bagaimana? Hari ini itulah yang kita rindukan bersama-sama dalam hidup ini. Kita tidak lihat apa yang menjadi persoalan yang eksternal tetapi kita melihat apa yang menjadi pergumulan dan kekuatan yang bekerja ada di dalam hati kita sama-sama. Maka hari ini khotbah saya: Kekuatan Surgawi bagi Orang yang Berani.

Nabi Hagai berteriak menyerukan firman Tuhan kepada bangsa Israel selama 7 minggu itu tanpa jemu-jemu. Saya bersyukur kepada Tuhan, Tuhan panggil dia dan melalui dia Tuhan memberikan encouragement dorongan kepada bangsa ini karena memang itu adalah masa-masa dimana firman Allah itu sangat diperlukan oleh mereka. “Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, kuatkanlah hatimu, kuatkanlah hatimu! demikianlah firman TUHAN; Bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam” (Hagai 2:5). Bukankah Tuhan berkali-kali mengeluarkan janjiNya itu di dalam dua paket ini: Aku beserta engkau senantiasa, kuatkanlah hatimu. Dua hal ini diulang berkali-kali, baik kepada Musa, baik kepada Yosua, dan kali ini firman Tuhan yang sama datang kepada Zerubabel dan kepada seluruh bangsa. Be strong. I am with you. Bukankah kalimat yang sama Yesus katakan kepada murid-murid sebelum Ia naik ke atas kayu salib, jangan takut dan jangan gelisah hatimu dan sebelum naik ke surga Ia berjanji, Aku akan menyertai kamu senantiasa? Tetapi janji dan panggilan itu tidak akan pernah menjadi sesuatu yang mendatangkan perubahan jikalau kita tidak memberanikan diri kita untuk berjalan dan melakukannya. Janji Tuhan hanya akan tetap menjadi sesuatu yang hanya kita dengar selewat saja dan pergi begitu saja ketika firman itu tidak kita lakukan dan kerjakan. Tuhan berkata, kuatkan hatimu. Jikalau engkau takut, Aku justru akan mengirimkan roh ketakutan yang lebih besar lagi. Tetapi pada waktu engkau berani, Aku akan memberikan roh keberanian yang lebih besar lagi. Itu berarti kita berjalan dan bergerak di dalam firmanNya.

Inilah firman Tuhan yang datang kepada mereka, “Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya yang dahulu? Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya?” (Hagai 2:4). Tuhan menegur mereka, kenapa engkau berkata gedung ini tidak ada apa-apanya? Masakan kamu bilang semua ini nothing at all? Kenapa sikap hatimu menjadi begitu? Where is your joy? Where is your confidence? Where is your hope? Where is your positive attitude? Where is your faith? Lalu Allah berkata, “KepunyaanKulah perak, kepunyaanKulah emas. Satu hari kelak kemegahan Rumah TUHAN yang kemudian akan jauh melebihi kemegahannya yang sebelumnya” (Hagai 2:9-10). Wow! Are You kidding, Lord? Kalau kita baca bagaimana raja Salomo membangun Bait Allah, seluruhnya dibangun bersalut emas, perak dan permata. Tetapi bangunan yang mereka bangun sekarang begitu sederhana dan tidak bisa dibandingkan dengan Bait Allah Salomo. Bagaimana bisa, Allah mengatakan kemuliaan Bait Allah ini jauh lebih besar daripada kemuliaan Bait Allah yang Salomo buat?

Untuk mengerti kitab Hagai, kita perlu melihat dari konteks latar belakang sejarahnya. Kitab Hagai ini perlu kita baca bersamaan dengan kitab Ezra, karena kitab Ezra mencatat sejarahnya. Ezra, Zakharia dan Hagai itu sejaman, lalu kemudian Nehemia dan Maleakhi itu berada lebih ke belakang lagi. Ezra mencatat bagaimana mereka membangun Bait Allah, nanti Nehemia melanjutkan membangun tembok kota Yerusalemnya. Ezra 3:12-13 mencatat “tetapi banyak di antara para imam, orang-orang Lewi dan kepala kaum-kaum keluarga, orang tua-tua yang pernah melihat Rumah yang dahulu, menangis dengan suara nyaring ketika peletakan dasar rumah ini dilakukan di depan mata mereka, sedang banyak orang bersorak-sorak dengan suara nyaring karena kegirangan. Orang tidak dapat lagi membedakan mana bunyi sorak-sorai kegirangan dan mana bunyi tangis rakyat, karena rakyat bersorak-sorai dengan suara nyaring, sehingga bunyinya kedengaran sampai jauh.” Kita semua bisa mempunyai excuses, kita semua bisa mempunyai air mata. Orang-orang yang sudah tua itu pernah melihat Rumah Tuhan yang begitu megah dahulu. Memori mereka kembali kepada kemegahan Bait Allah Salomo 70 tahun yang lalu. Berarti itu adalah memori masa kecil yang waktu umur 12 tahun pergi ke Bait Allah yang begitu besar, dinding dan tiang-tiangnya yang mengkilap berlapis emas. Maka waktu peletakan batu pertama kali, Ezra mencatat, melihat batu itu sudah hangus tidak ada emasnya lagi mereka menangis melolong dengan suara yang keras sekali. Apa sebabnya, apa alasannya mereka menangis? Mereka menangis karena mereka marah. Mereka menangis karena mereka sedih. Mereka menangis karena mereka frustrasi. Mereka menangis karena mereka kecewa. Tetapi kontras, sebagian orang yang lain justru melihat batu itu diletakkan, mereka bersukacita, berteriak dengan gembira, hopeful, joyful. Melihat Allah telah melakukan hal-hal yang amazing, mereka bersukacita. Maka mixed reaction terjadi. Ada yang menangis, ada yang sukacita. Ada yang negatif, ada yang positif. Ada yang hopeless, ada yang hopleful. Tetapi sejujurnya, setelah satu tahun dua tahun lewat, mana yang tinggal, suara sukacita ataukah suara menangis? Kita harus akui yang lebih lama dan terus permanen justru adalah tangisan kita. Sukacita kita begitu pendek dan gampang hilang. Sukacita kita gampang pudar dan gampang berhenti. Tetapi sikap negatif, seringkali jauh lebih lama bertahan dan lebih cepat timbul ketika halangan dan kesulitan datang. Akhirnya yang tadinya sukacita jadi ikut menangis. Contagious negativity, contagious criticism gampang sekali menular dalam hidup kita.

Ini konteks sejarahnya saat Hagai berkhotbah, “Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula? Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya?” (Hagai 2:4) Why do you say it is nothing at all? Tidak ada artinya? Kekuatiran dan ketakutanmu hari ini tidak akan menghapus kesulitanmu di hari esok dan hari-hari yang akan datang. Tetapi kekuatiran dan ketakutanmu hari ini sudah pasti akan menghapus kekuatanmu hari ini untuk hidup. Kita sering takut dan kuatir karena kesulitan hari ini. Tidak berarti besok dan lusa engkau tidak punya kekuatiran dan kesulitan lagi. Itu sebab Yesus bilang, “Janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:34). Apa artinya? Artinya, jangan hidup terus didera oleh kekuatiran besok. Hari besok ada kesusahannya sendiri. Tetapi kekuatiran dan ketakutanmu hari ini efeknya apa? Engkau tidak mau bangun di pagi hari dan tidak mau berjuang dan kekuatanmu hilang hari ini dan engkau akan kehilangan blessing Tuhan hari ini. Luar biasa sekali firman Tuhan ini. Kiranya ini boleh menjadi firman yang berbicara kepada engkau dan saya juga. Saya rindu dan mau apa yang saya alami dalam hidup saya mengikut Tuhan dan dalam pelayanan; apa yang tetap harus saya pertahankan, apa yang harus saya lepaskan kalau Tuhan memberi kesempatan untuk mengulang kembali hidup ini. Apa yang harus saya ubah, kenapa saya harus ubah, dan apa yang saya simpan dan tetap pertahankan selama-lamanya dan tidak akan berubah.

Ada 3 hal yang saya pelajari dari bagian ini.

Yang pertama, Tuhan mau kita hidup berjalan di dalam iman dan tidak diganggu oleh kekuatiran dan ketakutan. Mari kita jujur, berapa banyak kita jalani hidup kita ke depan bukan dengan iman dan trust kepada Allah tetapi lebih sering di-driven oleh kekuatiran dan ketakutan? Anak sekolah, kita takut dan kuatir akan biayanya. Darimana uangnya? Kalau tidak cukup, lalu bagaimana? Sanggupkah kita membiayai dia? Ada banyak hal kita terus pikir seperti itu. Kenapa bisa seperti ini? Karena hidup kita running by worry and fear. Terlalu sering dalam hidup kita, termasuk saya sebagai pelayan Tuhan, fear to offend some people, kuatir dan takut terhadap penilaian orang, kuatir dan takut dengan komparasi kesuksesan dan keberhasilan orang lain, kuatir dan takut terhadap perspektif orang yang berbeda dengan kita, kuatir dan takut berapa banyak orang yang mau mendukung kita, kuatir dan takut terhadap kritikan dan teguran yang negatif, dst. Akhirnya gara-gara itu semua, kita tidak berbuat apa-apa dalam hidup kita. Ketakutan seperti ini kadang-kadang akhirnya bikin kita tidak lagi berani mengerjakan pekerjaan dan pelayanan bagi Tuhan. Jalan sini takut salah, jalan sana takut salah. Di situlah ketakutan itu akhirnya melumpuhkan dan mematikan spirit kita. Tuhan berkata, jangan takut, jangan takut! Walaupun besok, lusa, sebulan, setahun yang akan datang, kondisi Bait Allah itu tidak berubah, it doesn’t matter. Tetapi apa yang kita mau kerjakan dan lakukan hari ini, yang penting jalan dengan iman di hadapan Tuhan, jangan takut. Mari lihat ke belakang, lihat bagaimana hidup kita sudah dipimpin oleh Allah sampai hari ini. Adakah janji-janji Tuhan tidak tergenapi? Adakah hal yang engkau pernah takutkan 10 tahun yang lalu sampai hari ini meskipun betul itu terjadi, tetapi bukankah justru itu membuatmu lebih kuat dan lebih bersandar kepada Tuhan?

Yang kedua, jangan lagi hidup terus membanding-bandingkan diri dengan orang lain, itu yang menghancurkan hidupmu. Jangan terus di-driven dengan competitive spirit yang bikin engkau iri hati dan cemburu kepada kesuksesan dan keberhasilan orang lain. Masing-masing orang punya berkatnya sendiri. Rekan kerjamu punya berkatnya sendiri. Teman kantormu punya berkatnya sendiri. Dia berkatnya dapat gaji banyak; kamu berkatnya dapat anak banyak. Dia susah kerja baru bisa pulang jam 10 malam, kamu indahnya kerja pulang sore, masih bisa main dengan anak.

Tuhan tegur orang Israel, why do you see this temple and you say it is nothing at all?! Kenapa engkau punya hati seperti ini dan engkau bilang semua ini tidak ada artinya? Karena engkau membanding-banding.

Benar, kemuliaan TUHAN memenuhi BaitNya yang didirikan oleh Salomo (2 Tawarikh 5:13-14), namun Allah juga berkata, di dalam Bait Allah yang engkau dirikan ini meskipun dari batako yang lusuh dan dari batu-batu yang sudah hangus terbakar, Aku akan menyatakan kemuliaanKu yang lebih besar. Apa yang membuat Allah besar dan mulia dalam hidupmu? Itu bukan kepada merk apa baju yang kita pakai, rumah sebesar apa dan di daerah mana kita tinggal. Bukan kepada mobil apa yang kita kendarai, jabatan dan posisi apa yang engkau duduki di tempat kerjamu. Yang membuat Allah besar dan mulia dalam hidupmu dan yang membuat engkau indah di hadapan Allah adalah ketika hidupmu mengasihi Dia, dan ketika karakter Kristus yang indah itu terjadi di dalam hidupmu. Pada hari pemakaman kita, itulah yang akan dibicarakan orang dan itu yang akan dituliskan oleh anak-anakmu dalam eulogy mereka. Maka mulai hari ini jangan hidup membanding-banding. Selalu membanding akan membuat kita iri, dengki, sedih, frustrasi, kecewa, marah, dsb. Yang akhirnya membuatmu lumpuh dan tidak berani untuk maju dan memungut lagi reruntuhan itu karena membanding-banding. Tidak usah. Di dalam hidup kita juga, ketika kita melihat Kerajaan Allah lebih besar, berkat Tuhan lebih indah, kita bisa memberkati teman kerja, rekan sepelayanan, orang Kristen sesama anggota tubuh Kristus. Di situ hati kita menjadi indah dan penuh dengan contentment.

Yang ketiga, bekerja dan lakukan dengan tekun dan sabar. Tidak serta-merta semua yang kita harapkan dan inginkan langsung terjadi hari ini. Kita hidup terbatas oleh dimensi ruang dan waktu. Kita tidak bisa melihat semuanya sekaligus. Pada waktu kita mendengar firman Tuhan seperti ini dan pada waktu kita menaruh firman itu di dalam hidup kita, problemnya kita sering tidak tergerak karena kita tidak serta-merta lihat perubahannya, kita tidak lihat prosesnya. Pada waktu kita jalani mungkin bisa jadi firman Tuhan itu memberi kita kekuatan hari ini tapi mungkin satu dua bulan ke depan kita jadi lemah karena tidak melihat perubahan apa pun yang terjadi. Apakah hati kita tetap kuat dan tekad kita tetap bulat berjuang bagi kerajaan Allah di situ?

Firman Allah berkata, “Ada pun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam” (Hagai 2:10). Allah berjanji, Bait Allah yang engkau dirikan belakangan akan lebih mulia daripada yang sebelumnya. Itulah sebabnya mengapa pada jaman Tuhan Yesus, orang begitu terkagum-kagum dengan Bait Allah yang dibangun oleh raja Herodes, orang Yahudi bahkan termasuk murid-murid Yesus mengira inilah penggenapan janji itu. Karena waktu Bait Allah dibangun oleh raja Herodes itu megah luar biasa. “Guru, lihatlah betapa kokohnya batu-batu ini dan betapa megahnya gedung-gedung itu!” (Markus 13:1). Pada waktu Yesus mengusir pedagang dan penukar uang di Bait Allah, orang-orang menantangNya, maka Yesus berkata kepada mereka, “Robohkan Bait Allah ini, dan Aku akan mendirikannya kembali dalam tiga hari.” Yohanes mengatakan, bahwa yang dimaksud Yesus dengan Bait Allah ialah tubuhNya sendiri (Yohanes 2:13-22). Ketika Yesus bangkit dari kematianNya, mereka baru mengerti bahwa janji yang Allah katakan dalam Hagai 2:10 itu berarti mengacu kepada Bait Allah yang sesungguhnya yaitu Yesus Kristus dalam kemuliaan yang agung dan megah luar biasa.

Yang sekarang ada ialah kita seringkali tidak mau bangun sesuatu karena kita mau cepat-cepat lihat hasil akhirnya, bukan? Engkau dan saya hidup di jaman ini, hari ini Tuhan bilang, pegang batumu masing-masing untuk membangun Bait Allah, membangun hidupmu dan pelayananmu, batumu mungkin ada di lapis ke tiga atau di lapis ke empat. Itu adalah porsi bagianmu. Tuhan tidak panggil kita untuk membangun semuanya; Tuhan memakai generasi selanjutnya untuk melanjutkan membangun terus ke atas. Tuhan hanya mau kita mengerjakan apa yang menjadi bagian kita sekarang. Jangan gara-gara bagian kita sekarang cuma bawa satu batu, lalu kita bilang apa gunanya? Buat apa kita kerjakan ini?! Akhirnya engkau tidak melakukan apa-apa bagi kerajaan Allah dalam hidupmu di dunia ini. Tuhan bilang, itu batumu. Taruh batu itu di sini. Nanti dalam kekekalan, ketika kita melihat seluruhnya lengkap dari awal sampai akhir, kita terpesona dengan kemuliaan Allah di dalamnya. Dan betapa sukacita saat kita melihat ada batu kita di situ. Maka, mari kerjakan bagianmu dengan sukacita. Jangan kuatir dan jangan takut dan jangan membanding-banding. Jangan biarkan semua itu merusak hidupmu dan merusak kita punya kehidupan di masa yang akan datang.

Bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan untuk firmanNya yang datang dengan encouragement yang luar biasa hari ini. Firman Allah yang janjiNya melampaui apa yang kita lihat dengan mata fisik kita yang terbatas ini. Firman Allah yang melampaui apa yang kita alami dan rasakan hari ini. Di tengah keruntuhan dan batu-batu kehidupan kita yang berserakan, firman Allah yang datang dan memanggil kita untuk terus kuat, terus berjuang dan terus berani melangkah dalam hidup kita. Kiranya setiap kita didorong oleh Tuhan untuk melangkah berjalan dan tetap setia di dalam iman kita kepada Tuhan. Kita sadar sering kita ditarik oleh ketakutan dan kekuatiran; kita ditarik dengan sungut-sungut dan ketidak-puasan oleh karena kita terus membayangkan apa yang terbaik yang kita mau, kita membanding-banding hidup kita dengan hidup orang lain, dan kita merasa tidak dicintai oleh Tuhan. Saat itulah spirit kita dilumpuhkan oleh kehidupan ini dan kekuatan kita hilang dan sirna. Kiranya hari ini Tuhan menguatkan kita sekali lagi.(kz)