Ready Set, Go! The Race God has Set before Us

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Ready Set, Go! The Race God has Set before Us
Nats: Ibrani 12:1-13

Memasuki tahun yang baru ini kita bukan saja refleksi apa yang ada di belakang, mari kita berjalan ke depan, bersiap maju ke depan kepada apa yang Tuhan akan beri kepada kita. Dalam Filipi 3:13-14 Paulus berkata, “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku dan berlari-lari untuk memperoleh hadiah yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Dalam Kolose 3:1 Paulus katakan karena kita sudah ditebus oleh Tuhan mari kita mengejar perkara-perkara yang di atas. Dan Ibrani 12:1-13 menjadi bagian yang secara khusus kita renungkan hari ini. “Karena kita mempunyai banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” Di ayat 1 ini penulis Ibrani mengatakan mari kita berlomba di dalam perlombaan yang Tuhan sediakan bagi kita masing-masing. Kita berlomba, kita berlari, kita bertumbuh.

Bertumbuh ikut Tuhan merupakan hal yang luar biasa tidak gampang dan tidak mudah. Di kala kita melewati begitu banyak hal yang indah dan baik dan sukses, kita senang dan bersyukur, dan kita merasa hidup kita diberkati oleh Tuhan. Tetapi di kala kita jatuh kepada kelemahan yang begitu dalam, seringkali kita menjadi marah dan kecewa bahkan kepada diri kita sendiri. Ruth Bell Graham, isteri Rev. Billy Graham sebelum meninggal dunia meminta agar pada batu nisannya tertulis satu kalimat “End of Construction, Thank You for Your Patience.” Saya percaya tidak ada orang yang suka jalan ditutup sana-sini karena ada perbaikan [under construction]. Tetapi seperti itulah hidup kita. Sepanjang hidup kita di dunia ini selalu “under construction” diperbaiki di sana-sini, dibentuk di sana-sini, digali lagi ditutup lagi. Dan di dalam proses seperti itu kita sering tidak sabar. Orang lain juga tidak sabar. Kita mudah sekali merasa marah, kesal, kecewa kepada diri sendiri, kita juga mungkin mudah sekali bergosip atau mempersalahkan kelemahan orang lain karena kita tidak melihat perubahan di dalam hidupnya. Tetapi kita juga perlu bertanya bagaimana hati dan sikap Tuhan dalam proses itu? Puji Tuhan. Ia selalu sabar. Kita mengucap syukur begitu kita menyelesaikan hidup kita, kita bisa berkata, Tuhan, terima kasih. Telah selesai Tuhan membentuk hidupku sampai pada hari ini. Terima kasih, Tuhan, Engkau telah begitu sabar kepadaku.

Dalam Kolose 3:5 Paulus mengatakan, “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafu jahat dan juga keserakahan yang sama dengan penyembahan berhala.” Ada satu kata yang tidak ada dalam terjemahan bahasa Indonesia, yaitu kata “lurking” yang muncul dalam terjemahan bahasa Inggrisnya. ‘So put to death the sinful earthly things lurking within you.’ Semua yang Paulus sebutkan itu adalah dosa-dosa yang dahulu telah kita tinggalkan, yang telah disalibkan, yang telah dibayar lunas oleh kematian dari Tuhan Yesus Kristus. Kita memiliki hidup yang baru. Tetapi dosa-dosa itu akan senantiasa muncul dan seringkali bisa menjatuhkan kita karena dosa selalu lurking, mencari kesempatan untuk menjatuhkan kita.

Itulah sebabnya Paulus mengingatkan kita untuk mematikan semua itu. Lukas 4 mencatat pada waktu Yesus dicobai oleh Iblis di padang gurun, dan Ia menang atas pencobaan Iblis itu, Lukas mencatat sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, maka mundurlah Iblis lalu mencari kapan waktu yang tepat untuk menyerang lagi (Lukas 4:13). Kepada kita, setelah kita menjadi anak-anak Tuhan, Iblis juga akan selalu mencari kesempatan untuk mencobai dan menjatuhkan kita. Pencobaan, dosa, kelemahan, segala beban berat itu senantiasa mendatangkan perasaan seperti ini di dalam hidup kita. Paulus bilang tanggalkan semua itu, buang semua itu, berani untuk berjalan melepaskan semua hal yang tidak benar itu.

Dalam Ibrani 12:1-13 ada tiga point yang penting berbicara mengenai pembentukan kehidupan kita. Hal yang pertama penulis Ibrani berikan kepada kita adalah bagaimana kita terlebih dahulu membereskan apa yang ada di dalam diri kita. Di ayat 1 dia berkata, “Karena kita mempunyai banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” Dalam terjemahan NLT dikatakan, “Therefore, since we are surrounded by such a huge crowd of witnesses to the life of faith, let us strip off every weight that slows us down, especially the sin that so easily trips us up. And let us run with endurance the race God has set before us.” Satu perlombaan akan berjalan dengan baik jikalau kita memakai baju yang ringan, sepatu yang baik, dan tidak membawa beban yang berat yang tentu akan menghalangi perjalanan kita. Dan penulis Ibrani memakai ilustrasi itu untuk berbicara bagaimana membereskan hidup kita dengan menanggalkan beban yang bisa memberatkan khususnya dosa-dosa yang bisa menjatuhkan kita.

Saya percaya sebagai anak-anak Tuhan kita ingin mengerjakan dan melakukan apa yang Tuhan perintahkan dalam hidup kita. Saya percaya sebagai anak-anak Tuhan kita mau menyenangkan hati Tuhan di dalam hidup kita. Tetapi seringkali di tengah keinginan, kemauan, kesungguhan seperti itu, terlalu gampang dan terlalu mudah kita jatuh di dalam ketidak-taatan kepada Dia, dan itu menyebabkan hati kita menjadi kecewa. Dan pada waktu orang kecewa atau merasa tidak puas dengan diri sendiri atau merasa kecewa kenapa dia tidak bisa untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi, akhirnya dia menyerah dan bahkan jatuh terus ke dalam lubang yang makin dalam. Ini adalah hal yang sering dialami oleh orang-orang yang mengalami kecanduan dan addiction. Bukan mereka tidak tahu mereka harus meninggalkan kebiasaan buruk itu tetapi mereka terus jatuh lagi dan akhirnya mereka menyerah kalah dan spiralling down terus di dalam kecanduannya. Maka ini Ibrani 12:1 bicara aspek pertama di dalam running the race, bagaimana kita membereskan hidup kita di hadapan Tuhan dengan membuang semua yang merintangi kita untuk maju.

Hal yang kedua, bicara mengenai fokus ke depan, melihat goal daripada perjalanan itu. “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita kepada kesempurnaan” (Ibrani 12:2). Di sinilah kita harus mengambil satu prinsip penting. Waktu Tuhan bilang set your goal ke depan, kita harus senantiasa ingat kita bukan berlari kepada achievement diri kita; kita berlari dengan melihat achievement yang Tuhan sudah capai di dalam kematian dan penderitaanNya di kayu salib. Inilah yang Paulus juga katakan kepada jemaat Filipi, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya” (Filipi 3:10). Paulus ingin mengenal penderitaan dan kematian Yesus supaya itu menjadi bagian di dalam hidupnya. Di situlah kita melihat bagaimana kesulitan, penderitaan dan tantangan yang Tuhan Yesus alami bukan membuat kita menjadi berbelas kasihan kepada Dia, tetapi justru senantiasa harus menjadi kekuatan bagi kita. Tuhan Yesus menghadapi semua ini demi dan bagi kita. Dan terlebih lagi di situ juga memberikan kepada kita kekuatan, kalau Ia yang hidup benar, adil, dan suci di hadapan Allah, menghadapi berbagai tantangan yang begitu berat, menghadapi pencobaan dari si Jahat yang begitu dahsyat, kita masih belum ada apa-apanya. Think of all the hostility He endured from sinful people; then you don’t become weary and give up. Renung dan pikirkan semua perlawanan yang dialami oleh Tuhan Yesus dari orang-orang yang membenci Dia tanpa alasan, dari situ kemudian justru memberikan kepada kita kekuatan. Demikian kita fokus melihat kepada Yesus Kristus. Di situlah kita bisa berjalan dan kita bisa mengasihi, mencintai, memuliakan Tuhan di dalam ketidak-sempurnaan kita, sebab bukan kita sanggup sempurna melainkan Kristus yang memulai iman di dalam hidup kita, Dia tidak berhenti sampai di sana, Dia juga yang menyempurnakan sampai selesai iman kita. Mari kita fokus kepada Kristus yang mengasihi kita terlepas apa yang ada di dalam hidup kita.

Renungkan, pikirkan, “think,” kata yang dipakai penulis Ibrani di sini. Itu berbicara mengenai apa yang menjadi “makanan” nourishment bagi pikiran kita. Yang memberi makan pikiran dan hati kita tidak lain adalah firman Allah sendiri. Orang sering bertanya, berapa lama waktu yang kita pakai untuk membaca Alkitab, untuk bersaat teduh? Sepuluh menit, setengah jam, satu jam? Bagi saya itu adalah pertanyaan yang salah. Salahlah kalau kita membaca Alkitab atau saat teduh hanya menjadi aktifitas seolah-olah kalau sudah menjalankan itu saya akan mendapat pahala; atau kalau waktu yang kita pakai bersaat teduh makin lama makin panjang, itu menjadi ukuran daripada kerohanian kita. Pertanyaan yang paling penting bukan itu. Pada waktu kita membaca Alkitab dan merenungkannya, yang paling penting apakah firman Tuhan itu memberi makan kepada pikiran dan hati kita atau tidak? Itu yang paling penting. It is not about how long, tetapi apakah pada waktu kita mendengarkan dan membaca firman Tuhan, apakah firman Tuhan itu masuk ke dalam pikiran dan hati kita; apakah firman itu kita taruh dan kita simpan baik-baik dalam pikiran dan hati kita. Firman Tuhan begitu indah, begitu manis dalam hidup kita. Kenapa kita perlu merenungkannya, karena kita sangat membutuhkannya bagi kesehatan dan kekuatan rohani kita.

Bayangkan, engkau berjalan ikut Tuhan menghadapi begitu banyak kesulitan tantangan di dalam perlombaan itu, maka penulis Ibrani katakan, fokus, lihat kepada Yesus, pikir semua bahkan termasuk apa yang dialamiNya dan itu menjadi kekuatan bagi kita semuanya. Kematian dan penderitaan yang Yesus alami bukan saja membuat kita bersyukur Ia telah melewatinya tetapi itu membuat kita menjadi kuat dan berani meskipun saya nanti melewati hal yang sama karena Yesus begitu agung, begitu mulia, menghadapi penderitaan bahkan sampai mati di kayu salib, saya tidak akan pernah menyerah dan kecewa.

Yang ketiga, menjalani perjalanan itu adalah satu perjalanan pelatihan. Maka selanjutnya ayat 5-13 penulis Ibrani mengatakan dalam persiapan dan perjalanan di tengah pertandingan itu, Allah mendidik dan melatih kita dengan disiplin dan pembentukanNya. Yang menjadi persoalan yang paling penting di bagian ini bukan soal berapa besar dan berat kesulitan dan didikan yang kita alami tetapi bagaimana di dalam menghadapinya semua itu membentuk relasi kita dengan Tuhan, itu yang menjadi penting. Didikan dan disiplin Tuhan adalah bukti saya adalah sungguh-sungguh anak Tuhan. Jikalau saya tidak mendapatkan didikan dan disiplin dari Tuhan, maka justru bisa jadi saya bukan anak Tuhan yang sejati. Ibrani 12:8 dalam terjemahan NLT dikatakan, ‘If God doesn’t discipline you as He does all of His children, it means that you are illegitimate and are not really His children at all.’

Ibrani 12:5 mengatakan, ‘Dan sudah lupakah kamu akan nasehat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak, “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya. Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak.”‘ Ini hal yang pertama, pada waktu pendidikan itu datang seringkali orang anggap enteng, tanpa kita melihat itu sebagai pembentukan dari Tuhan. Tetapi yang kedua, menganggap itu terlalu berat sehingga kita menjadi putus asa dan kehilangan harapan. “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya” (Ibrani 12:11). Firman Tuhan ini sungguh berat, sungguh dalam dan sungguh tidak gampang dan tidak mudah. Menghadapi didikan dan disiplin Tuhan, respon kita cuma satu: kita bersedia untuk dibentuk dan dilatih oleh Tuhan. Di situ menyatakan satu sikap berserah dan taat kepada Tuhan. Kadang-kadang kita tidak mengerti, kita hanya surrender kepada Tuhan dan trust kepada apa yang Tuhan kerjakan.

Yang kedua, kita lihat didikan dan dispilin itu dengan result atau hasilnya ada timing yang berbeda. Ibrani 12:11 mengatakan, “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Dalam terjemahan NLT, ‘While it is happening it is painful. But afterward there will be a peaceful harvest of right living for those who are trained in this way.’ Kalau gap waktunya pendek, mungkin kita bisa kuat dan tabah menghadapinya. Tetapi kalau gap waktunya panjang dan kita tidak bisa tahu berapa lama harus kita lewati, kita kadang-kadang bertanya-tanya, ‘how long, o, Lord?’ Betapa sulit, betapa berat dan betapa lama aku harus menjalaninya, aku tidak kuat, Tuhan. Sebagai saudara dalam Tuhan, ketika menyaksikan disiplin Tuhan terjadi, tidak ada di antara kita yang boleh katakan, ‘Tidak usah mengeluh, tidak apa-apalah kamu menderita seperti ini.’ Seringkali kita terlalu gampang untuk memberikan penghiburan: Tuhan pasti ada maksud dan rencananya. Alkitab tidak memudahkan hal itu. Alkitab mengatakan pada waktu ujian itu diberikan tidak mendatangkan sukacita tetapi dukacita. It is never enjoyable. It is painful di dalam pembentukan Tuhan.

Maka pada waktu firman Tuhan mengatakan berjalanlah dalam pertandingan yang Tuhan beri itu, di dalam proses perjalanan itu, itu adalah perjalanan pelatihan Tuhan bagi hidup kita. Kita tidak akan pernah berhenti dalam training yang Tuhan berikan bagi kita. Berapa panjang, berapa berat, berapa susah, hanya Tuhan yang tahu. Yang kita tahu Tuhan tidak akan pernah bersalah dalam memberikan training dan disiplin dalam hidup kita, itu pasti sesuai dengan taraf kematangan rohani kita masing-masing. Tetapi bagaimana pun training di dalam kita ikut Tuhan, yang paling penting ayat ini ingatkan justru kita harus selalu tahu kita adalah sungguh-sungguh anak Tuhan. Karena anak yang sejati itu dibentuk dan dididik oleh Tuhan.

Ibrani 12:9-10 sangat indah, di sini penulis Ibrani membandingkan didikan dan disiplin yang dilakukan oleh orang tua jasmani kita selama di dunia. “Dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati. Mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik. Tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya.” Ayat ini memberikan perbandingan seperti ini: kalau papa mama kita di rumah memberikan pendidikan, bisa jadi pendidikannya tidak komprehensif, bisa jadi disiplinnya keliru dan salah.

Saya suka memberikan ilustrasi ini: kalau di rumah kita ada dua anak, lalu mereka berdua bermain, tanpa pengawasan kita. Kemudian pada waktu mereka bermain, tiba-tiba ada satu dari mereka yang berteriak dan menangis. Kita tidak bisa mendengar dengan jelas, siapa yang menangis itu. Padahal ternyata yang menangis itu adalah kakaknya yang lebih besar yang dipukul oleh adiknya. Waktu kita berjalan untuk melihat apa yang terjadi, suara langkah kita membuat adiknya takut dan menangis karena takut dihukum. Suara tangisannya jauh lebih besar daripada tangisan kakaknya. Maka pada waktu kita masuk ke ruangan itu, kita otomatis berasumsi bahwa anak yang besar telah membuat anak yang kecil menangis. Karena itu kita hukum dengan memukul anak yang besar itu padahal yang salah adalah anak yang kecil. Akhirnya anak itu tidak melihatnya sebagai disiplin kita. Pasti dia marah. Kenapa saya yang dipukul, padahal adik yang salah? Di situlah kita bisa mengerti kalimat ini, ‘for our earthly fathers disciplined us for a few years, doing the best they knew how.’ Tetapi disiplin Allah tidak pernah seperti itu. Tetapi kalau pun papa kita melakukan disiplin yang salah, kita tahu dia mau membuat kita menjadi lebih baik, cuma caranya saja yang salah. Terlebih lagi Bapa kita di surga tidak akan pernah memakai cara yang salah, metode yang salah, waktu yang keliru, tujuan yang tidak benar di dalam hidup kita.

Itulah sebabnya hari ini biar firman Tuhan ini menjadi dorongan bagi kita untuk hidup lebih mencintai dan mengasihi Tuhan. Bawa pulang firman Tuhan ini, taruh dalam hati kita. Pertanyaan saya yang pertama: beban dan dosa-dosa apa yang selama ini begitu merintangi perjalanan hidup kita, yang membuat kita seringkali cape, weary, and give up dalam hidup kita? Mari hari ini kita tanggalkan semua itu. Katakan kepada Tuhan, ini adalah beban dosaku, ini adalah kesalahanku, ini adalah hidupku yang harus mendatangkan kerendahan hati di hadapan Tuhan dan saya ingin hidup mengasihi Tuhan.
Pertanyaan kedua: adakah selama ini firman Tuhan senantiasa nourished kerohanian kita? Apakah hidup kita dipenuhi dengan roti hidup itu, yang mengenyangkan dan menyehatkan kita, yang memberikan kepuasan rohani yang sejati? Kalau selama ini kita kurang fokus kepada firmanNya, kalau selama ini kita mengabaikan kebutuhan kita yang paling dasar untuk hidup di dalam kebenaranNya, kita akan mudah sekali menjadi lemah dan goyah. Kita akan mudah sekali terinfeksi oleh racun dan virus dosa yang bisa membuat rohani kita sakit dan tidak berdaya. Kita perlu menjadikan hal ini sebagai yang paling utama dalam hidup kita, menjadi strategi dalam perjalanan perlombaan kita. “Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah” (Ibrani 12:12). Kalau hari ini tangan kita sudah lemah dan gemetar, kalau lutut kita sudah goyah dan tidak sanggup lagi berjalan, kita perlu kekuatan dari Tuhan untuk terus berjalan maju. Think about Jesus. Renungkan hidup Tuhan Yesus, perjalanan Dia, firman Dia, kata-kata Dia, apa yang Dia kerjakan dan lakukan, bagaimana Kristus menghadapi segala sesuatu dalam hidup Dia dan biar pribadi Kristus itu menjadi pribadi yang memberikan kepada kita kekuatan.

Yang terakhir, sepanjang kita ikut Tuhan, mari kita terima didikan dan disiplin Tuhan menjadi satu training rohani yang mempertumbuhkan hidup kita di hadapan Tuhan. Kita percaya Allah mengasihi kita dan memperlakukan kita sebagai anak-anakNya, tidak lebih dan tidak kurang. Kita bersyukur kalau kita boleh menyebut Allah sebagai Bapa kita yang ada di surga, yang mengasihi dan mencintai kita lebih dari segala-galanya, yang jauh lebih mengetahui apa yang kita perlukan dan jauh lebih mengerti apa yang ada pada hidup kita. Kita tidak lebih baik daripada orang lain, dan kita juga mengalami hal yang sama seperti saudara-saudara kita yang lain di tengah-tengah perjalanan kita ikut Tuhan. Kita seringkali kecewa dan kuatir karena kita sering gagal mengikuti Tuhan dan kita menghadapi berbagai hal yang tidak lancar dalam hidup kita. Kiranya Tuhan menolong setiap kita, menguatkan iman kita, dan memelihara setiap kita dengan baik. Tahun ini tahun yang kita mau berjalan, kita mau menyelesaikannya dengan indah dan baik. Kita mau jalan fokus kepada Tuhan kami Yesus Kristus.(kz)