When God opens a Door, No One will Shut it

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: When God opens a Door, No One will Shut it
Nats: Wahyu 3:7-8, Yunus 1

“Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Filadelfia: Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firmanKu dan engkau tidak menyangkal namaKu” (Wahyu 3:7-8).

Gereja Filadelfia dalam kitab Wahyu 3:7-13 adalah satu gereja yang mendapatkan pesan khusus dari Yesus, sang Kepala Gereja dan melalui perkataan Yesus kepada gereja Filadelfia ini, saya berdoa kiranya firman Kristus ini boleh menjadi ayat-ayat yang datang kepada kita memberikan kekuatan dan menjadi berkat bagi setiap kita baik sebagai individu maupun sebagai gerejaNya. Yesus Kristus berkata, “Aku tahu segala pekerjaanmu.” Bukankah ini menjadi satu hal yang seharusnya menggugah hati kita? Yesus melihat, Yesus menyaksikan, Yesus mengamat-amati segala hal yang kita lakukan dan kerjakan bagi kerajaan Allah. Meskipun kita memiliki kekuatan yang tidak seberapa, sebagai satu gereja yang sederhana dan kecil, tetapi Tuhan rindukan setiap kita memiliki kesetiaan dan ketaatan kepada firman. Dan kepada setiap kita di tengah segala kelemahan, kekurangan, keterbatasan seperti ini tetap Tuhan mendatangkan satu janji: ketika Ia membuka pintu, ketika Ia memberi kesempatan, ketika Ia memampukan kita berjalan di situ, tidak ada satu orang pun yang sanggup untuk menutupnya. Dan pada waktu pintu itu ditutup, Tuhan juga berkata, tidak satu orang pun sanggup untuk bisa membukanya. Biar kalimat ini mengingatkan kepada kita memasuki tahun yang baru ini. Kita berencana, kita akan memikirkan banyak hal yang mau kita lakukan melalui gereja ini, kiranya apa yang akan kita kerjakan dan lakukan, mari semua itu kita awali dengan satu syukur, karena kalau bukan Tuhan yang membuka pintu dan memberikan kita kesempatan masuk, kita tidak mungkin dapat memasukinya.

Memasuki tahun yang baru, setiap kita mungkin berdoa, “Tuhan, tolong Tuhan buka jalan bagi hidupku tahun ini.” Mungkin kita berdoa, “Tuhan, berilah saya kesempatan supaya saya bisa lebih baik, lebih sukses, lebih berhasil di dalam pekerjaan dan dalam usaha saya.” Saya percaya kita berdoa minta Tuhan pimpin, Tuhan buka jalan. Saya percaya kita berdoa, Tuhan beri saya kesempatan; beri saya pengalaman yang baru; Tuhan, bukakan pintu untuk saya bisa melewati dan memasukinya. Itu menjadi doa setiap kita. Apa yang menjadi keinginan kita memasuki tahun yang baru ini? Apa yang kita rindukan, apa yang kita mau tahun ini? Banyak orang mengharapkan akan meraih berkat dan kesuksesan. Banyak orang mengharapkan untuk mendapatkan kemakmuran dan kelimpahan materi. Banyak orang menginginkan segala yang direncanakan bisa lancar dan berhasil. Tetapi pernahkah kita memikirkan bahwa tidak akan ada berkat Tuhan muncul dan hadir dalam hidup kita jikalau tidak melalui satu perjuangan dan pergumulan menghadapinya? Pada waktu Tuhan kasih kita kesempatan, pada waktu Tuhan memberi kita sukses dan kemampuan, saya percaya Ia memberikan kepada kita supaya kita berjalan melewatinya. Kita harus realistik dalam apa yang kita minta kepada Tuhan. Tidak ada tahun yang akan lewati dengan tidak melewati segala persoalan dan problem di dalam kehidupan kita. Tetapi pada waktu problem dan kesulitan itu datang, saya percaya Tuhan mau bukan supaya memberatkan dan mempersulit hidup kita, tetapi supaya kita bisa melewatinya dalam hidup kita. Jangan mengharapkan tidak ada kesulitan dalam hidup ini. Tidak pernah ada kelancaran dan kesuksesan diraih dengan tidak mengeluarkan keringat dan air mata. Itu nonsense. Banyak anak Tuhan mengharapkan berkat seperti itu dari Tuhan, tetapi itu sebenarnya sama dengan penyembahan berhala. Kita menyebut nama Tuhan mungkin benar, tetapi kita memahami karakter Allah dengan salah. Salahlah kalau kita memahami kasih Allah seperti bapa yang tutup mata dan memberi apa saja kepada anak-anaknya dengan tanpa berjuang dan berusaha. Kita tidak mau berbuat seperti itu kepada anak kita, bukan? Kenapa? Karena kita tahu apa yang baik bagi mereka. Kita mau mereka berjuang dan berusaha. Saya percaya terlebih lagi dengan Allah kita juga demikian. Maka kita harus berhati-hati, menyebut nama Allah dengan benar tetapi benarkah engkau memahami sifat dan karakter Allah dengan benar? Jangan sembarang bilang Allah memberkati, Yesus memberkati, seperti orang yang menyembah berhala dalam hidup kita. Dan jangan terus minta berkat kalau kita tahu Allah itu kasih, Allah itu adil, Allah itu suci, Allah yang ingin kita menghargai berkat Tuhan itu dengan benar dan Dia berikan itu dalam satu panggilan kita berjuang di dalamnya.

Maka persoalan yang paling penting adalah persoalan apa yang kita ingin dan kita minta kepada Tuhan. Kalau kita memasuki tahun yang baru masih terus minta Tuhan bagaimana saya bisa lebih kaya, lebih sukses, lebih lancar, dsb. kita tidak bisa maju. Tetapi pada waktu kita memasuki tahun yang baru dengan memikirkan pekerjaan Tuhan, apa yang perlu dan baik yang bisa saya kerjakan; kalau kita memikirkan masih ada hal yang susah dan berat dari orang-orang lain yang perlu saya pikirkan dan bukan hanya memikirkan diri sendiri, kita akan maju. Mari kita masuki tahun yang baru dengan keinginan seperti ini, kita rindukan ada kesempatan yang indah menghasilkan banyak hal bagi Tuhan. Kita juga minta panggilan Tuhan kita kerjakan dan jalankan dalam hidup ini. Tuhan kita adalah Tuhan yang membuka pintu; Tuhan kita adalah Tuhan yang memberikan kita kesempatan. Dan pada waktu saya membaca Wahyu 3:7-8 ini, luar biasa sekali. Tuhan katakan jemaat Filadelfia ini punya kesulitan. Tuhan katakan mereka punya problem. Tuhan juga katakan bahwa kekuatan mereka tidak seberapa. Mereka berada di dalam situasi yang tidak gampang dan tidak mudah. Tetapi justru kalimat yang luar biasa muncul adalah Yesus akan membuka pintu, dan pintu yang Ia buka tidak ada satu orang pun yang sanggup bisa menutupnya. Tidak ada hal yang lebih indah dari hidup ini kalau hidup kita ini dipakai oleh Tuhan. Saya percaya sebagai orang tua yang membesarkan anak-anaknya, di dalam iman dan kasih kepada Tuhan, kita rindu jikalau satu kali kelak Tuhan memanggil dan memakai mereka. Saya percaya tidak ada hal yang lebih indah pada waktu melihat seseorang mengenali panggilan Tuhan, berjalan mengikuti Tuhan, dan menghargai setiap anugerah dan pemberian Tuhan.

Sejujurnya, sanggupkah kita “bersaing” bersama dengan pelayanan gereja yang besar? Tidak mungkin kita bisa sebanding, bukan? Secara sumber dana, secara sumber daya orang, secara kualitas dan kuantitas, sangat tidak sebanding. Sanggupkah musik kita bermain seindah musik mereka yang begitu profesional? Sanggupkah kita membandingkan talenta anak muda kita dengan talenta yang ada pada mereka? Sanggupkah kita membandingkan diri dengan besarnya budgeting mereka? Sanggupkah kita memiliki budget sebesar itu? Tidak sanggup kita. Tetapi puji Tuhan! Pelayanan memang bukan soal kompetisi. Pelayanan bukan satu persaingan. Panggilan Tuhan bukan soal saya lebih baik daripada dia. Panggilan Tuhan kepada setiap anak Tuhan dan gereja Tuhan berarti di situ Allah memberi undangan ilahi supaya kita ambil keputusan di dalam ketaatan hidup kita berarti di dalam pekerjaan Tuhan dan menjadi berkat.

Gereja Filadelfia berada di dalam kondisi yang terbatas, kekuatan tidak seberapa. Pada waktu Tuhan buka pintu, Tuhan tidak bilang itu karena gereja Filadelfia lebih baik daripada gereja-gereja yang lain; itu bukan karena gereja Filadelfia lebih mampu, lebih banyak resourcesnya; itu bukan karena gereja Filadelfia lebih sanggup, karena mereka sudah siap. Tidak seperti itu. Tetapi panggilan Allah datang, yaitu ketika Allah membuka pintu, ketika Allah memberi kesempatan, ketika Allah mempercayakan tahun yang baru ini, baik dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam pelayanan seperti ini, ini adalah panggilan ilahi dari Allah yang di situ kita taat dan kita melakukan hal yang berarti di dalam pekerjaan Tuhan yang mulia. Sebagai satu bagian yang kecil dari mozaik keindahan pekerjaan Injil, kita bisa berbagian di dalamnya. Perhatikan, pada waktu Tuhan memberi kesempatan, Tuhan memakai ilustrasi pintu yang terbuka. Tuhan bilang, Aku buka pintu bagimu, ayo masuk. Di balik pintu itu ada apa? Tuhan tidak beri tahu di balik pintu itu ada apa. Pintu terbuka, kita masuk. Tuhan tidak kasih kita peta perjalanan. Bedanya dimana? Dengan Allah membuka pintu, itu adalah kesempatan yang terbuka, kita masuk, kita tidak tahu ada apa di baliknya. Kita hanya jalan selangkah demi selangkah Tuhan pimpin dan panggil kita berjalan di dalam ketaatan masuk ke dalamnya. Tetapi seringkali kita ingin Tuhan kasih kita peta perjalanan. Kalau diberi peta perjalanan, kita bisa screening, lihat proses perjalanannya dari awal sampai akhir.

Sangat menarik, Alkitab mencatat ketika Tuhan memanggil seseorang, ketika Tuhan memberi tugas kepada seseorang, ketika Tuhan buka kesempatan, ketika Tuhan mengutus seseorang untuk melakukan apa yang Tuhan mau, hampir semua berespon menolak dan tidak mau melakukannya. Kenapa orang ingin melakukan sesuatu bagi Tuhan tetapi ketika Tuhan kasih, orang itu menutup pintu? Alkitab memperlihatkan kepada kita mereka mau melayani Tuhan, tetapi ketika panngilan itu datang, mereka menolak karena tidak siap. Waktu Tuhan memanggil Musa, apa jawaban Musa? “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara (Keluaran 4:10). Waktu Tuhan memanggil Gideon, apa jawab Gideon? “Ah, Tuhan, dengan apa akan kuselamatkan orang Israel? Kaumku adalah yang paling kecil. Aku pun seorang yang paling muda di antara keluargaku” (Hakim-Hakim 6:15). Waktu Tuhan menyatakan janjiNya kepada Abraham dan Sara, mereka mengatakan aku sudah terlalu tua untuk memulai sesuatu yang baru (Kejadian 17:17). Waktu Tuhan panggil nabi Yeremia, Yeremia bilang, “Ah, Tuhan, sesungguhnya aku tidak pandai berbicara sebab aku ini masih muda.” Sehingga Tuhan berkata kepadanya, “Jangan katakan: Aku ini masih muda. Tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan” (Yeremia 1:6-7). Ratu Ester, ketika Mordekhai meminta dia di dalam jabatan dia sebagai ratu untuk bisa menolong bangsa Israel yang sedang di dalam bahaya, Ester menolak karena takut resiko berdiri ketemu dengan raja, bisa jadi kepalanya dipenggal (Ester 4:10-14). Pada waktu Tuhan datang memanggil Yesaya, Yesaya bilang, Tuhan, aku tidak layak karena aku seorang yang najis bibir. Maka Tuhan perlu menyucikan dan membasuh dia (Yesaya 6:5-7). Contoh-contoh seperti ini memberitahukan kepada kita, ketika Tuhan datang membuka kesempatan dan membuka pintu, ada resistansi, ada ketidak-siapan dari diri orang-orang ini ingin menutup pintu itu. Tetapi pada akhirnya mereka rela dan taat.

Dan di dalam bagian ini, inilah yang kita lihat luar biasa. Tuhan tidak beri kepada orang yang mampu, Tuhan tidak beri kepada orang yang siap, tetapi Tuhan beri kepada orang yang taat. Tuhan Yesus berkata, “Aku tahu kekuatanmu tidak seberapa. Aku tahu engkau berada di tengah-tengah jemaah Iblis menggoncangkan kehidupan dan pelayanan gereja Filadelfia.” Tuhan tahu semua itu tetapi satu hal yang indah Tuhan katakan, “Tetapi Aku tahu, engkau tidak pernah menyangkal namaKu, dan engkau menjadi gereja yang setia dalam pelayanan ini.” Maka Tuhan bilang Ia akan memberi panggilan ilahi, pintu yang terbuka untuk mereka bisa melayani Tuhan. Maka mari kita berdoa kepada Tuhan, supaya menghadapi problema yang Tuhan beri, kita pakai energi yang setara untuk menghadapinya. Jangan pakai energi terlalu banyak untuk persoalan kecil. Pakai energi yang setara dengan the size of the problem dalam hidup kita. Jangan habiskan energi terlalu besar untuk mengurusi hal-hal yang terlalu kecil.

Kisah Yunus boleh dibilang adalah satu kisah yang ironis, tetapi sekaligus boleh dibilang satu humor dari Tuhan. Humornya dimana? Kalau sdr baca kisah Yunus, sdr akan menemukan ada dua kata yang dipakai unik luar biasa. Waktu melukiskan apa yang Tuhan lakukan, selalu muncul kata “great” besar. Tetapi pada waktu melukiskan apa yang Yunus lakukan, selalu muncul kata “down” turun. “Datanglah firman Tuhan kepada Yunus, “Get up and go to the great city of Nineveh” pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu (Yunus 1:1-2). Ketika Yunus tidak mau, maka Tuhan mengirimkan “great wind on the sea” sehingga kapal Yunus terombang-ambing di tengah lautan yang mengamuk dengan dahsyat (Yunus 1:4). Kemudian Tuhan mengirim “great fish” ikan besar untuk menelan Yunus (Yunus 1:17). Setelah mendengar panggilan Tuhan, Yunus “went down” to Tarsis (Yunus 1:3), kemudian setelah naik ke kapal, Yunus “down” turun ke bagian buritan kapal paling bawah, tidur di situ (Yunus 1:5). Akhirnya dia dimakan oleh ikan dan dia berada “down” di dalam perut ikan (Yunus 1:17). Kisah ini adalah kisah dari seorang nabi yang senantiasa menolak dan berkata tidak kepada panggilan Tuhan. Bukan karena panggilan Tuhan itu tidak jelas; bukan kuasa Tuhan itu tidak dinyatakan; bukan mujizat Tuhan tidak tampil; tetapi aneh sekali kenapa Yunus selalu berkata tidak. Sehingga mempelajari kisah hidup Yunus, mari kita belajar satu kali kelak ketika Tuhan memanggil dan memberikan pintu terbuka kepada kita, kita boleh taat kepada panggilanNya.

Ada beberapa hal kita bisa belajar dari kegagalan Yunus.

Yang pertama, ketakutan kita untuk menghadapi masalah. Tuhan panggil Yunus menyampaikan firmanNya di Niniwe, kota yang besar dan jahat itu. Menghadapi kejahatan yang besar, kota yang besar, tantangan yang besar, Yunus lari. Ketika kita minta Tuhan pimpin beri kita sukses, kita minta Tuhan beri kita berkat, kita harus selalu ingat sukses dan berkat itu datang di dalam proses, kadang dalam penyelesaian persoalan dan masalah. Kenapa akhirnya setelah kita minta, lalu Tuhan sudah buka pintu, kita menolak untuk masuk dan kita tutup pintu itu? Karena kita memiliki ketakutan untuk menghadapi masalah; kita merasa tidak sanggup, kita tidak berani, itulah sebabnya kita lari.

Yang kedua, ada opsi untuk menghindar. Yunus akhirnya lari pergi, sebabnya apa? Karena dia memiliki opsi pilihan di dalam keputusan yang dia ambil. Ada kalanya akhirnya kita terpaksa berjuang dan kita lakukan sesuatu karena kita sudah terpojok dan tidak ada opsi lagi. Tetapi mungkin pada waktu kita masih punya opsi pilihan yang banyak, kita ambil yang lain. Karena Yunus bisa punya uang beli tiket kapal, dari situ kita bisa lihat dia punya opsi, karena dia ada uang. Lalu dia ada opsi untuk pergi ke kota Tarsis, disuruh ke timur, dia pergi ke barat.

Yang ketiga, Alkitab mencatat pada waktu Yunus sudah di atas kapal itu lalu segera dia turun, turun, turun. Dan sampai di bagian yang paling bawah, dia tidur. Yunus tidak lihat bahwa kesulitan dan problem, angin yang besar datang itu karena pekerjaan Tuhan. Orang kafir yang ada di kapal itu justru bisa berpikir itu adalah pekerjaan Tuhan. Yunus tidak melihat, sebab dia memang tidak mau lihat kesempatan yang Tuhan beri. Kita ingin melihat kesempatan kalau kesempatan itu berada di tempat yang lancar dan baik. Tetapi jarang sekali kita mau melihat kesempatan pada waktu keadaannya sudah ruwet, pada waktu sudah banyak kesulitan, pada waktu sudah berada dalam keadaan tidak gampang dan tidak mudah. Ada orang dalam penjara tidak melihat kesempatan untuk berbuat sesuatu yang baik di situ. Ada orang sakit dirawat di rumah sakit tidak melihat kesempatan itu. Ada orang berada dalam kesulitan dan bencana tidak melihat kesempatan itu. Yunus tidak melihat kesempatan itu; kesempatan dimana dia bisa menjadi terang dan saksi bagi Tuhan. Bukan karena kesempatan itu tidak ada, tetapi dia tidak mau melihat apa yang Tuhan bukakan kepada dia.

Yang keempat, pada waktu kita berada di dalam kesulitan dan masalah, mengapa kita tidak sanggup bisa lepas dan keluar darinya? Seringkali karena ada rasa bersalah, rasa tidak mampu, kecil kekuatan, atau sudah rasa gagal akhirnya membuat kita tidak mau berusaha untuk berdiri tegak lagi. Banyak orang seperti itu. Menjadi orang yang ikut Tuhan tidak berarti kita tidak pernah bikin kesalahan. Tetapi ikut Tuhan lebih membuat kita tidak banyak menyesal pada waktu kita berjalan bersama Dia dan dalam setiap kesempatan yang Tuhan beri, kita berani berjalan di dalamnya. Kemungkinan terburuk engkau dan saya gagal, tetapi paling tidak engkau dan saya tidak menyesal karena sudah pernah mencobanya. Orang yang tidak pernah melakukan apa-apa karena takut resiko gagal dan terus mencari jalan aman sampai akhir hidupnya memang sedikit melakukan kegagalan, tetapi akan banyak penyesalan. Kenapa takut salah? Kenapa takut gagal? Sikap yang benar adalah setelah mengalami kegagalan, kita tidak lari dan mau berbalik mencoba lagi. Kita mungkin tidak bisa kerjakan banyak hal tetapi apa yang ada pada kita, mari kita kerjakan. Jangan terus mengharapkan kita jadi anak konglomerat, supaya kita bisa sukses. Tidak perlu seperti itu. Mungkin yang kita kerjakan sederhana dan kecil, tetapi lakukan dengan baik-baik. Kalau pun gagal, tidak apa.
Itulah sebabnya kita bisa melihat bagian ini indah sekali, Tuhan mengajar Yunus dengan kesabaran yang luar biasa.

Yang terakhir, Yunus tidak taat kepada panggilan Tuhan ke Niniwe sebab memang dari awal kita saksikan Yunus tidak mau lihat pintu yang Tuhan buka, karena tidak ada koneksi dalam doa dengan sungguh mendengar suara Tuhan di dalam ketaatan. Inilah kondisi rohani Yunus. Dia tidak lihat kesulitan orang, dia tidak melihat kebutuhan daripada orang Niniwe, sebab tidak dimulai dengan hati yang cinta dan kasih kepada apa yang Tuhan mau kepada hidup mereka. Sampai akhirnya dalam kondisi berada paling bawah di dalam perut ikan, baru dia berdoa; baru di situ koneksinya dengan Tuhan terjadi. Jika kita punya koneksi, kita akan punya kepekaan mendengar suara Tuhan di dalam doa kita kepada Tuhan, yang akan menghasilkan hati yang simpati, penuh kasih dalam diri kita. Hari ini, sebagai satu gereja, sebagai satu pelayanan sama-sama, dalam hidup pribadimu sebagai anggota keluarga, dsb, mari kita bawa firman Tuhan ini mengawal kita memasuki tahun yang baru. Kalau Tuhan kasih kita kesempatan, kalau Tuhan pimpin kita, kalau Tuhan buka pintu, dalam ketaatan mari kita terima itu sebagai panggilan ilahi. Biar kasih Tuhan yang baru, penyertaan Tuhan yang indah senantiasa beserta kita.(kz)