Ajarlah Kami Hitung Hari dengan Bijak

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Ajarlah Kami Hitung Hari dengan Bijak
Nats: Mazmur 90:1-17

Memasuki tahun yang baru ini kita membahas satu seri yang singkat bagaimana bicara mengenai waktu, bagaimana bicara mengenai kesempatan, dan bagaimana kita melihat hidup kita yang tahun berganti, sdr dan saya mengalami perubahan. Kita menjadi lebih tua, kita menjadi lebih berumur. Tetapi kita rindu di dalam proses perubahan itu mendatangkan keindahan dan sukacita bagi kita. Hari ini kita akan merenungkan Mazmur 90. Mazmur 90 adalah mazmur yang ditulis oleh nabi Musa sebagai doanya kepada Allah. Dalam mazmur ini Musa bicara bagaimana mengerti makna hidup dan menghargai hari-hari hidup kita dengan bijaksana.

Di awal tahun ini dunia medsos ramai dengan #tenyearschallenge yaitu kita ditantang untuk memasang foto kita 10 tahun yang lalu dan foto terbaru kita tahun ini. Saat melihat perbandingan selama 10 tahun ini tentu perbedaannya jelas banyak. Dari belum menikah, sekarang sudah menikah. Dari belum punya anak, sekarang sudah punya anak. Dari tubuh yang dulunya kurus, sekarang jadi melebar ke depan dan ke samping. Dari rambut yang dulunya lebat, sekarang sudah banyak yang rontok dan lepas. Namun hari ini saya tidak ajak sdr membandingkan dengan sepuluh tahun yang lampau, tetapi saya ajak sdr membandingkan dengan sepuluh tahun ke depan. Kira-kira sepuluh tahun ke depan, apa yang akan terjadi kepada hidup kita? Sepuluh tahun lagi, kita tentu akan menjadi semakin tua, pasti akan menuju ke sana. Dan bukan saja challenge ini saya berikan bagi sdr secara individual, mari kita juga melihat apa kira-kira yang akan terjadi kepada gereja ini sebagai satu komunitas sepuluh tahun yang akan datang? Bagaimana nantinya pelayanan kita sepuluh tahun yang akan datang? Mari kita menaruh itu sebagai satu pikiran kita ke depan. Lalu mari kita coba breakdown tahun ke tahun, atau paling tidak lima tahun ke depan dan kemudian sepuluh tahun ke depan bagaimana? Saya ajak sdr memikirkan akan hal itu. Kita tidak bisa menolak dan mengabaikan waktu akan terus berjalan. Kita harus memikirkan ke depan seperti itu. Akankah saya melayani Tuhan dengan cara yang sama seperti sekarang ini? Meskipun saya tetap akan menjaga hatiku untuk terus melayani Tuhan dengan antusias, tetapi kekuatan fisik saya mungkin tidak se-energik sekarang ini. Sepuluh tahun yang akan datang scope pelayanan saya mungkin terbatas. Apa yang kita kerjakan dan lakukan mungkin tidak akan terus seperti sekarang ini. Tetapi perubahan itu tidak boleh membuat kita menjadi kecewa, berkeluh-kesah dan menggerutu dan merasa bahwa kita tidak lagi dipakai oleh Tuhan di dalam pelayanan. Kita sama sekali tidak boleh seperti itu. Sepuluh tahun yang akan datang saya berumur 60 tahun. Sudah saatnya saya memberikan tongkat estafet pelayanan kepada hamba Tuhan yang lebih muda. Sudah saatnya saya tidak lagi duduk di “driver seat” tetapi di “back seat.” Menjadi mentor, membagikan pengalaman apa yang ada pada kita, sharing kepada orang lain, di situ kita tetap menjadi berkat.

Tahun berganti, jelas kita makin tua dan akhirnya kembali ke tanah menjadi debu. Demikian kata Musa, ‘Engkau mengembalikan manusia kepada debu dan berkata: “Kembalilah, hai anak-anak manusia!”‘ (Mazmur 90:3). Hidup kita di dunia ini begitu singkat adanya. “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat delapan puluh tahun” (Mazmur 90:10). Musa bicara mengenai kronologi hidup kita terus berjalan maksimum 70 tahun hingga 80 tahun. Waktu berjalan seperti ini, seperti kata pemazmur, umur kita ada batasnya. Sehingga banyak orang sesudah sampai kepada usia 70, 80 tahun, puji Tuhan, selebih daripada itu adalah bonus dari Tuhan. Tetapi pada ayat-ayat sebelumnya, ketika berbicara dalam kaitan dengan aspek kekekalan relasi kita dengan Tuhan, Musa bilangn hidup kita begitu singkat, seperti bunga rumput yang hari ini berbunga, di sore hari lisut dan layu, hilang lenyap begitu saja (Mazmur 90:6). Ketika kita melihat relasi kita dengan Tuhan, hidup kita selama di dunia ini hanya seperti satu titik kecil di dalam kekekalan. Tetapi ketika kita menjalaninya di dalam dimensi waktu, hari, bulan dan tahun, itu terasa panjang. Tujuh puluh, delapan puluh tahun, bagaimana kita melihat proses di situ kita menjadi tua. Hari ini kita bukan bicara bagaimana status kita pada waktu kita tua, tetapi bagaimana saat kita menuju kepada umur seperti demikian, kita mengalami proses pertumbuhan yang indah sama-sama di dalam hidup ini. Ada bedanya antara berumur tua [old age] dengan menjadi tua [aging]. Old age adalah status. Ada anak, remaja, pemuda, pasangan muda, pasangan setengah baya, dan orang tua. Setiap kita mau tidak mau akan menuju kepada fase dikenal sebagai orang yang sudah tua. Itu adalah status. Tetapi aging itu bukan status, itu adalah proses. Di situ kita menjadi orang yang “dituakan,” dihormati dan direspek oleh orang-orang yang lebih muda daripada kita. Itu proses aging yang tidak gampang. Dengan proses aging berarti orang itu mungkin baru berumur 40 tahun namun kita bisa melihat kematangan dan bijaksana yang dimilikinya. Di situ dia menunjukkan satu proses aging di dalam hidupnya menjadi indah dan beautiful.

Dunia sekarang mengenal yang namanya “Aged Beef” yaitu dengan melakukan proses desiccation, yaitu meng-evaporasi 75% moisture dari daging itu sehingga menghasilkan rasa yang lebih baik. Cara kedua adalah membuat enzim daging itu mem-break down connective tissue pada daging sehingga membuatnya lebih empuk daripada daging biasa. Salah proses, jadinya busuk, rotten beef. Tidak semua anggur tua enak. Pada waktu anggur itu mengalami proses aging, ada yang menjadi indah flavournya, ada yang menjadi anggur asam, karena proses aging-nya.

Waktu kecil, siapa di antara sdr yang takut bertemu dengan kakek-kakek atau nenek-nenek tua? Saya justru waktu kecil punya pengalaman indah dengan satu nenek tua janda yang punya toko dekat rumah. Setiap tahun baru Imlek, selain dapat angpao dari papa mama, saya sepagi mungkin pergi ke toko nenek itu karena dialah yang paling generous memberi angpao buat anak-anak. Meskipun tidak ada hubungan keluarga, tetapi saya dan anak-anak kecil yang ada menikmati kemurahan hatinya. Itu adalah kenangan masa kecil yang indah buat saya. Tetapi mungkin ada di antara sdr yang punya pengalaman menakutkan dengan kakek-kakek atau nenek-nenek. Ada film tentang seorang kakek tua yang sangat galak, yang setiap kali buka pintu rumah, anak-anak kecil lari ketakutan. Tidak ada yang membuatnya senang. Itu bedanya pada waktu satu orang berada di dalam sisi orang tua dengan orang yang berada di dalam satu proses dimana dia menjadi aging dengan indah. Mari saya ajak setiap kita melihat akan menjadi orang tua yang seperti apa kita nanti, bagaimana kita boleh mengalami pertumbuhan perubahan menjadi mature dan mengalami satu proses dimana saya menjadi tua dengan gracefully, menjadi seorang yang direspek, yang cheerful, graceful and have a beautiful heart, yang disaksikan oleh mereka yang jauh lebih muda. Karena itu adalah satu proses, maka kita tidak bisa bilang ‘nantilah setelah saya tua, baru saya menjadi orang tua yang matang. Tidak. Semua itu merupakan suatu proses mulai dari sekarang. Proses itu adalah satu proses yang tidak boleh ditunda, tetapi sejak masih muda, sejak sekarang kita kerjakan dan lakukan. Semua yang kita kerjakan dan lakukan menjadi satu investasi yang kecil yang terus-menerus membentuk hidup kita.

Dalam Titus 2:2-3, Paulus bicara mengenai satu kehidupan komunitas gereja yang indah dimana masing-masing kelompok umur itu menjalankan satu pelayanan mentoring yang indah. “Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan. Demikian juga perempuan-perempuan tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah. Jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya.” Ini adalah satu bagian yang sangat luar biasa bicara mengenai status orang-orang berumur tua tetapi menjadi contoh teladan dan menjadi mentor di dalam hidup orang yang lebih muda. Betapa indah kalau setiap kita menjadi orang tua yang memberi contoh teladan dan berkat kepada anak-anaknya. Anak kita akan melihat dari kita bagaimana contoh teladan menjadi satu pasangan suami isteri yang baik, papa mama yang bertanggung jawab. Itu menjadi satu investasi yang berharga bagi dia sehingga kelak dia mau menjadi isteri atau suami seperti kita; kelak dia mau menjadi orang tua yang membesarkan anak seperti kita. Lalu cucu melihat kakek neneknya dan berkata satu kali kelak nanti pada waktu aku berumur tua, aku juga mau menjadi seperti itu.

Minggu lalu saya katakan bahwa pada waktu kita melewati satu tahun yang baru, kita pasti memiliki penyesalan. Kita regrets dalam banyak hal. Kita regrets terhadap apa yang terjadi di tahun yang lalu. Kita mungkin berpikir ‘seandainya seperti ini, seandainya seperti itu,’ dsb. Namun orang yang terus hidup berandai-andai seperti ini, maka introspeksi terhadap masa lalu tidak menjadi bijaksana bagaimana dia melihat ke depan tetapi senantiasa hanya menjadi sebuah excuses ‘kalau seandainya masa lalu saya tidak seperti itu.’ Bolehkah kita terus pakai excuses itu kemudian menjadi sesuatu yang terus kita pertahankan di masa kita sekarang? Saya percaya kita tidak akan seperti itu. Akhirnya kita tidak akan maju-maju. Refleksi ke belakang, melihat ke samping, lihat ke belakang, belajar dari pengalaman yang dahulu untuk membuat kita bisa melihat lebih jelas maju ke depan.

Tidak mengabaikan persoalan perbudakan masa lalu; tidak mengabaikan ketidak-adilan terjadi di dalam satu ras tertentu. Tetapi mari kita ambil contoh sederhana, orang-orang African-American yang ada di Amerika kebanyakan datang dari latar belakang perbudakan. Nenek moyang mereka datang sebagai budak 400 tahun yang lalu. Namun setelah beberapa waktu berlalu, mereka bukan lagi lahir sebagai budak dan khususnya sejak 50 tahun yang lalu hak-hak sipil mereka sebagai warganegara perlahan-lahan dipulihkan. Generasi berganti dan berubah. Namun jikalau mereka terus memiliki mentalitas itu dan terus menuntut diperlakukan istimewa sebagai kompensasinya, mereka tidak akan maju-maju.

Musa berkata, tahun-tahun yang kami lewati ada begitu banyak tangisan, ada begitu banyak kesedihan dan penderitaan. Kita mengalami semua itu. Kita tidak mungkin terus-menerus hidup selama-lamanya senang dan lancar. Setiap tahun berlalu dan lewat, itu berarti hidupku makin pendek dan makin singkat adanya dan satu kali kelak hidup kita akan berakhir dan kita akan berjumpa dengan sang Pencipta, dengan Tuhan kita. Semua itu akan selesai. Maka Musa berdoa, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mazmur 90:12).

Dalam Mazmur 90:15 Musa berkata, “Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka.” Kesusahan kita selama hidup di dunia itu banyak, bahkan di dalam tahun-tahun terbaik dalam hidup kita. Tetapi Musa tidak menutup bagian itu dengan kesusahan; dia tutup bagian itu dengan joy, sukacita, dan dengan satu doa permintaan kiranya Allah menjadikan kesusahan dan sukacita itu seimbang di dalam hidupnya dan ia boleh menikmati keindahan di dalamnya. Sorrows and joy itu menjadi tenunan yang membentuk hidup kita. Apa saja yang menjadi tangisan, apa saja yang menjadi sorrows dalam hidup kita? Secara garis besar ada dua. Satu adalah the sorrows of weakness [lemah]; yang kedua adalah the sorrows of weariness [lelah]. Weakness lebih kepada aspek fisik, weariness lebih kepada aspek mental kita. Sehari berlalu, setahun berlalu, tidak bisa kita tolak kita akan mengalami perubahan fisik dan mengalami kemunduran dalam banyak aspek. Setelah lewat usia tertentu, kondisi dan stamina kita akan menurun. Kita tidak bisa menolak hal itu. Weariness, kelelahan mental juga menjadi bagian hidup kita sehari-hari. Itu semua menjadi bagian dari sorrows kita di masa hidup kita di dunia ini. Tetapi semua yang kita alami, susah dan senang, bagaimana pengalaman itu membentuk hidup kita? Adakah pengalaman itu akan menghasilkan sesuatu yang indah ataukah membentuknya menghasilkan sesuatu yang pahit dalam hidup kita? Semua itu bergantung kepada bagaimana kita berespon kepadanya.

“Biarlah kelihatan kepada hamba-hambaMu perbuatanMu dan semarakMu kepada anak-anak mereka” (Mazmur 90:16). Musa meminta Tuhan kiranya memberi hati yang penuh dengan sukacita dan semarak itu sehingga menjadi berkat bagi anak-anakku. Dan anak-anak itu akan mengikuti langkah perjalanan iman seperti orang tua mereka melayani Tuhan dengan setia. Itu legacy yang kita taruh kepada mereka.

Tetapi di bagian depan Musa berbicara soal relasi dia dengan Tuhan. “Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun” (Mazmur 90:1). Bagi saya aspek ini penting sekali. Jadi bukan soal bagaimana bijaksananya menghitung hari, tetapi dia melihat relasinya dengan Tuhan. Dan di ayat 8, Musa kemudian berkata, “Engkau menaruh kesalahan kami di hadapanMu, dan dosa kami yang tersembunyi dalam cahaya wajahMu.” Jikalau Tuhan tidak memberikan pengampunan dan keselamatan bagi dia, tidak ada artinya hidup ini. Ayat ini menggambarkan kalau kita berdiri di hadapan Allah, lalu Allah membuka gulungan kertas hidup kita selama di dunia, semua cacat cela kita akan muncul di situ. Musa bilang, bahkan tidak ada dosa dan kejahatan yang bisa kita sembunyikan di hadapan Allah. Pada waktu kita berdiri di hadapan Allah yang memperlihatkan perjalanan hidup kita seperti itu, jelas kita penuh dengan rasa malu, kecewa, desperate dan putus asa. Tidak akan bisa kita memahami betapa bernilai arti hidup kita selanjutnya kalau tidak dimulai dengan pengampunan dan keselamatan dari Allah. Puji Tuhan! Bersyukur sekali, walaupun kita kecil, kurang dan lemah seperti ini, Tuhan menginginkan bagaimana hidup kita di dalam segala kekurangan itu satu hari kelak kita bisa berkata seperti ini, “Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami” (Mazmur 90:17). Apa yang kita kerjakan selama di dunia ini kiranya menjadi sesuatu yang tidak sia-sia.

Ada sorrows membentuk hidup kita, ada joy menyertai kita, dimana kita boleh aging gracefully di dalamnya. Sukacita pada waktu kita hari demi hari menjadi lebih tua. Sukacita apa yang ada? Saya percaya sukacita yang pertama itu adalah sukacita bijaksana. Menjadi tua berbeda sekali dengan anak muda. Anak muda masih kurang pengalaman. Kita yang makin hari makin tua, kita mengalami pembentukan dan itu membuat kita menjadi lebih bijaksana.

Kedua, bagian firman Tuhan ini katakan bagaimana sukacita yang ada dalam diri kita adalah satu sukacita akan kesalehan hidup. Dalam 2 Korintus 4:16-18 Paulus berkata, “Sebab itu kami tidak tawar hati, meskipun manusia lahiriah kami makin merosot namun manusia batiniah kami dibaharui dari hari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan apa yang kelihatan melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” Hari demi hari, fisik kita mengalami perubahan dan makin menurun, tetapi kesalehan hidup justru berbanding terbalik dengan proses itu. Kita makin menjadi lebih indah, lebih agung dan ini menjadi satu sukacita yang luar biasa. Sukacita itu membuat kita menjalani masa tua sebagai orang tua yang penuh dengan sukacita, hormat dan respek. Anak-anak muda akan datang dan menjadi nasehat dan wejangan serta bijaksana dari orang-orang yang mengalami aging process dalam hidup dia sebab mereka respek kepada teladan hidupmu, kata-katamu menjadi inspirasi dan dorongan bagi mereka dan sikap-sikap yang lahir dari hidupmu memberkati mereka. Dulu waktu muda kita aktif dan kita bisa mengerjakan pelayanan misi, mungkin kita bisa pergi dan masuk ke ladang pelayanan sampai ke pedalaman. Tetapi setelah tua, mungkin kita tidak bisa kerjakan akan hal itu. Tetapi hati yang mencintai pekerjaan misi dan berdoa bagi para misionari dan men-support pelayanan misi dengan uang tidak akan lahir kalau tidak sejak muda mengalami proses aging. Kita penuh dengan sukacita karena kita boleh menjadi seorang yang tua dan kita boleh menjadi seorang mentor bagi orang muda.

Kita bisa antusias dengan hobby tertentu dan mungkin sampai tua rasa antusias itu tidak berkurang adanya. Waktu engkau muda, engkau bisa memakai energi dan kekuatan fisik untuk menikmati hobby itu. Tetapi sesudah engkau tua, energi dan kekuatan kita terbatas dan kita tidak bisa seperti dulu lagi. Namun antusiasme kita tidak berubah, bukan?

Aging gracefully mendatangkan sukacita, kata Musa dalam Mazmur 90 ini, karena itu mendatangkan satu keindahan semarak itu menjadi indah kepada anak-anak kita. Saya minta kita boleh menjadi orang Kristen yang senantiasa menularkan tanggung jawab, kita boleh menjadi seorang mentor yang baik kepada generasi-generasi yang ada di bawah kita. Kita persiapkan anak-anak kita dari kecil bagaimana mencintai dan mengasihi Tuhan. Anak-anak muda dibanding dengan kita yang sudah tua bedanya hanya satu: mungkin mereka masih kurang pengalaman tetapi kita bersyukur mereka mempunyai antusiasme untuk belajar. Setelah kita menjadi tua mungkin kita sudah banyak pengalaman, tetapi kita tidak boleh stagnan berhenti lalu kita tidak mau belajar lagi. Anak-anak muda mungkin masih kurang bijaksana, namun mereka mempunyai antusiasme untuk belajar. Tetapi apakah kita yang sudah aging menjadi tua, kita mungkin banyak pengalaman namun kita jangan menjalani hari-hari tua kita dengan mengisolasi diri dan apatis dan tidak mau sharing pengalaman kita kepada anak-anak muda. Mari kita belajar menjadi seorang mentor di dalam hidup kita. Saya harap kita pulang ke rumah masing-masing dengan memikirkan apa yang akan terjadi kepada hidup kita sepuluh tahun ke depan dan bagaimana kita jalani hidup kita sepuluh tahun ke depan ini. Anak-anak kita akan bertumbuh besar, komunitas kita bagaimana dan hidup pelayanan kita akan bagaimana. Mari kita jadikan itu sebagai satu dorongan bagi kita, kita mau menjadi berkat dalam hidup kita sama-sama.(kz)