Tuhan adalah Gembalaku

Pengkhotbah: Ev. Daniel Ong MDiv.
Tema: Tuhan adalah Gembalaku
Nats: Mazmur 23:1-6

Siapakah Tuhan itu bagimu? Apa anggapan kita terhadap siapa Tuhan itu? Banyak orang menganggap Tuhan itu seperti jin [genie] dari lampu Aladin. Kita baru datang mencari Tuhan kalau kita mau sesuatu. Jadi kita berdoa layaknya Aladin menggosok lampu itu, kita berdoa, “Ya Tuhan, saya mau jabatan yang lebih bagus lagi”; atau “Tuhan, saya mau jodoh”; atau “Tuhan, saya mau lebih sukses lagi, tolong kabulkan permintaan saya.” Begitukah kita memandang Tuhan itu? Ada banyak orang memandang Tuhan atau menganggap Tuhan seperti GPS atau jaman sekarang Google map. Kita baru mencari Tuhan ketika kita tersesat. Kita mencari Tuhan, kita meminta Tuhan menunjukkan jalan yang benar. Dan apabila kita sudah tahu jalan itu lalu kita tidak butuh Tuhan lagi. Atau apakah sdr menganggap Tuhan seperti traffic light camera atau seperti pengawas parkir, yang siap memperhatikan segala kehidupan kita, dengan mata yang selalu menyala dan melihat serta mencatat segala kesalahan kita? Dan ketika kita berdosa, langsung jepret! Kena denda ratusan dollar. Apakah kita melihat Tuhan seperti itu? Saya harap tidak.

Alkitab mencatat kita berelasi kepada Tuhan sebagai Tuhan yang hidup. Kenapa? Karena Tuhan berbicara kepada anak-anakNya. Dan Alkitab mencatat ada banyak sekali bentuk hubungan relasi antara Tuhan dan kita. Dia disebut sebagai Raja kita. Tuhan adalah Bapa kita. Tuhan adalah Penyelamat, Tuhan adalah Batu Keselamatan kita. Tuhan adalah kekuatan kita. Ada banyak sekali ditulis di Alkitab tentang siapa Tuhan itu. Tetapi ada satu relasi yang khusus yaitu Tuhan adalah Gembalaku, Tuhan adalah Gembala kita yang hidup, yang disebutkan dalam Mazmur 23, yang mungkin salah satu mazmur yang paling familiar bagi kita.

Ada sedikit latar belakang budaya dan konteks yang harus kita mengerti untuk bisa memahami maksud dari pemazmur ini. Mazmur 23 adalah sebuah lagu yang ditulis oleh seorang raja bernama raja Daud. Dia adalah seorang raja di Israel yang hidup kira-kira 3000 tahun yang lalu. Sebelum menjadi seorang raja, Daud ini dulunya adalah seorang gembala domba. Jadi tidak heran apabila di mazmur ini dia mengerti betul bahwa hubungan antara Tuhan dan anak-anakNya bisa diibaratkan seperti seorang gembala dan domba-dombanya. Apa itu tugas seorang gembala di jaman dulu? Pertama, selain menjaga dan memberi makan domba-dombanya, seorang gembala memiliki tugas untuk membawa kawanan domba-domba ini dari satu tempat ke tempat yang lain mencari sumber air dan sumber makanan yaitu rumput yang hijau khususnya pada musim kemarau sumber air akan menjadi kering. Dalam perjalanannya tidak jarang sang gembala harus berhadapan dengan binatang-binatang liar. Serigala, singa dan beruang khususnya siap mengintai domba-domba itu. Dan bukan hanya binatang liar, sang gembala harus siap melindungi domba-dombanya dari serangan para perampok yang mungkin ingin merampas kawanan domba itu.

Mazmur 23 memberikan satu gambaran yang sangat indah dan sangat akrab antara Tuhan dan sang pemazmur, raja Daud. Tuhan sebagai gembalanya dan Daud menempatkan dirinya sebagai domba-Nya. Apa artinya memiliki Tuhan sebagai gembala kita? Dari Mazmur 23 ini ada tiga hal penting mengenai apa artinya memiliki hubungan dengan Tuhan sebagai gembala kita. Yang pertama, rasa puas di dalam Tuhan. Yang kedua, rasa aman di dalam Tuhan. Yang ketiga, rasa yakin di dalam Tuhan.

Pertama, rasa puas. Daud berkata, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang. Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena namaNya.” Apa artinya kalimat ini? Di sini sang pemazmur ingin mengatakan karena aku memiliki Tuhan sebagai gembala, aku merasa puas. Apa artinya puas di dalam Tuhan? Ketika kita sebagai anak-anak Tuhan berkata bahwa Tuhan adalah Gembalaku, apakah kita benar-benar mengimani apa yang kita katakan? Apa artinya menjadi puas di dalam Tuhan? Tidak asing lagi kita hidup di dunia sekeliling kita yang selalu berseru-seru kepada kita setiap harinya jangan menjadi orang yang cepat-cepat puas. Kita harus mencari terus kepuasan itu. Beli barang ini, pergi liburan ke sini. Kerja keras kumpulkan uang sebanyak-banyaknya, dan ketika anda sukses baru anda boleh merasa puas. Sadar tidak sadar, ada dua cara yang dunia katakan kepada kita supaya kita merasa puas. Yang pertama adalah dengan materi. Harta, liburan, makanan enak, gadget terbaru, mobil terbaru dengan segala feature-nya menjamin kepuasan kita. Itu yang media-media katakan setiap harinya. Atau mungkin di budaya timur anda baru boleh merasa puas ketika sudah memiliki prestasi. Apakah bisnis anda sukses? Punya gelar yang tinggi? Punya penampilan yang menarik? Kalau anda tidak punya semua itu, jangan merasa puas. Kejar dan dapatkan semuanya.

Tetapi inikah yang disebutkan oleh raja Daud di sini? Mengapa Daud bisa berkata bahwa ia tidak kekurangan apa-apa lagi? Memang benar, sebagai raja Daud memiliki banyak harta. Ia juga memiliki segudang prestasi. Tetapi yang menarik, jawabannya adalah bukan karena hal-hal tsb. Kita lihat di ayat 2 dan 3, Daud berkata, “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang. Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena namaNya.” Daud merasa puas karena ia memiliki Gembala yang menuntunnya di dalam kebenaran. Daud berkata bahwa Tuhan menyegarkan jiwanya, menenangkan jiwanya. Perasaan segar yang dia rasakan di dalam jiwanya ketika ia memiliki Tuhan sebagai gembalanya. Ini adalah kunci kepuasan Daud, suatu kepuasan yang berpusat kepada hati yang disegarkan oleh kebenaran. Satu sukacita yang didapat bukan dari materi, bukan dari prestasi, tetapi karena ia hidup dituntun oleh Tuhan di dalam kebenaran. Kita semua tahu, tidak peduli sebanyak apapun harta yang kita punya, seberapa suksesnya karir anda, seberapa bahagianya keluarga anda, jiwamu tidak akan bisa tenang apabila kita tidak hidup di dalam kebenaran Tuhan.

Lalu mungkin kita bertanya, bagaimana caranya kita bisa hidup di dalam kebenaran Tuhan? Apakah kita mengandalkan diri kita sendiri? Kalau kita mengandalkan diri kita sendiri untuk hidup benar, kita tidak akan bisa. Dan raja Daud tahu akan hal itu. Karena Daud tahu bahwa ketika ia mampu untuk hidup dalam kebenaran, Tuhanlah yang bekerja di balik semuanya itu. Di ayat ke 3 Daud berkata, Tuhanlah yang menuntun aku di jalan yang benar oleh karena namaNya. Apa tahu bukti nyata dari karya Tuhan hidup di dalam hidup anak-anakNya, dalam hidup kita semua? Tuhan berkarya lewat Roh Kudus-Nya ketika kita bisa hidup di dalam kebenaran, ketika kita mampu untuk jujur dalam usaha kita, ketika kita memiliki hati untuk mengasihi orang lain, ketika kita bisa bermurah hati, ketika kita bisa mencari keadilan bukan hanya untuk diri kita sendiri tetapi untuk orang lain yang lebih lemah. Tuhanlah yang bekerja di diri anak-anakNya ketika kita bisa hidup di dalam kebenaran. Dan kepuasan yang sejati itu akan datang apabila kita sebagai manusia hidup sesuai dengan rancangan Tuhan ketika Ia menciptakan kita yaitu hidup di dalam kebenaran.

Alkitab mencatat ketika setiap kita jatuh ke dalam dosa, hati dan pikiran kita diikat sehingga kita selalu merasa tidak puas, tidak cukup, keinginan untuk mencari lebih lagi. Tetapi kita harus belajar untuk hidup puas di dalam kebenaran Tuhan. Bukan hanya puas dalam kecukupan; bukan hanya puas dalam kesuksesan; tetapi puas dalam kebenaran. Dan kita bisa mulai dari hal-hal yang kecil. Seringkali bagi yang punya keluarga, anak-anak kita ketika studinya bagus atau prestasinya bagus, kita puji mereka. Tetapi seberapa sering kita memuji mereka bukan dari hasil yang mereka dapat tetapi cara mereka mendapatkannya? Ketika mereka melakukan hal yang benar, walaupun hasilnya mungkin kurang memuaskan, apakah kita memuji kebenaran itu? Ketika mereka bisa rajin, mau berbagi dengan orang lain, bisa sabar menunggu, pujilah mereka. Bersukacitalah karena mereka hidup dalam kebenaran. Dan ketika itu terjadi kita sudah memupuk satu bibit-bibit orang yang hidup dalam kepuasan di dalam Tuhan. Kita hidup di dunia yang menjanjikan kepuasan yang sementara. Mampukah kita di tengah tantangan arus dunia ini bisa berkata, Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku? Di mata Tuhan hidup dalam kebenaran jauh lebih berarti daripada hidup yang sukses. Yohanes 4:24 berkata, “Barangsiapa menyembah Tuhan, menyembahNya dalam roh dan kebenaran.” Inilah tanda sejati seorang Kriste yakni menyembah Tuhan dalam roh dan kebenaran.

Kedua, rasa aman. Ayat 4, Daud berkata, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku. GadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku.” Kata lembah kekelaman seringkali diterjemahkan sebagai the valley of death, in the shadow of death. Di Mazmur ini Daud menggambarkan bayang-bayang maut sebagai suatu lembah kekelaman. Berjalan di lembah di antara dua bukit yang tinggi, ketika sinar matahari tidak bisa masuk ke lembah itu, gelap sekali, di sinilah para perampok siap menunggu. Di sinilah para binatang liar menunggu untuk mencakar mangsa-mangsanya. Dan sebagai seorang gembala, tidak jarang Daud harus membawa domba-dombanya melewati lembah-lembah seperti ini. Apa yang terjadi? Daud ketika menulis mazmur ini, dia tidak asing dengan perasaan ini, perasaan berada di ambang-ambang kematian. Kenapa? Karena ia juga adalah seorang raja, ia hidup setiap harinya di bayang-bayang maut. Setiap kali dia maju ke medan perang, ia tahu bahwa ada kemungkinan dia tidak akan kembali lagi. Musuh-musuh di negara tetangga siap menyerbu bangsa Israel ketika mereka lengah. Tetapi ada sesuatu yang sangat menarik di sini di ayat 4, walaupun Daud menggambarkan hidupnya di dalam lembah kekelaman, ia tidak mengeluh. Dia berkata, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku. GadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku.” Seperti seorang anak kecil yang takut masuk ke lorong yang gelap, anak itu akan merasa aman apabila orang tuanya menuntun tangannya. Dan seperti itu juga kita sebagai anak-anak Tuhan. Daud bisa merasa aman karena tangan Tuhan, tongkat dan gada-Nyalah yang menuntun dia, yang memegang dia langkah demi langkah melewati lembah kekelaman ini. Kita bisa merasa aman karena kita memiliki Tuhan sebagai gembala kita.

Apakah kita merasa aman di dalam Tuhan? Saya tidak tahu masalah apa yang sedang anda alami, mungkin masalah pekerjaan, studi, keluarga, kesehatan. Banyak hal yang membuat kita cemas, membuat kita takut, membuat kita ragu. Dan di dunia yang terus berubah ini, rasa ragu dan cemas pasti ada. Setiap dari kita akan mengalaminya. Ketika kita masuk ke lembah kekelaman ini, Mazmur 23 mengingatkan lagi kepada kita bahwa kita memiliki Tuhan yang akan selalu beserta kita. Tuhan tidak berjanji untuk menghilangkan bahaya itu, Tuhan tidak berjanji untuk menghilangkan lembah kekelaman itu. Tetapi janji Tuhan kepada Daud adalah Ia akan beserta dengan Daud, akan menuntun dia melewati lembah kekelaman itu. Perasaan aman ini datang bukan karena bahayanya dihilangkan. Rasa aman ini datang karena kita tahu kita tidak sendirian dan kita memiliki gembala yang baik yang tidak akan meninggalkan domba-dombaNya. Tuhan Allah berjanji untuk beserta kita. Kata Imanuel, Tuhan beserta kita adalah janji nyata Tuhan bahwa di setiap kehidupan anak-anakNya kita bisa tahu bahwa Tuhan itu ada.

Ketiga, yakin di dalam Tuhan. Ayat 5-6 “Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku. Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak, pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” Di bagian terakhir ini Daud menyatakan keyakinan penuh akan masa depannya bersama Tuhan. Daud mengatakan dengan penuh percaya diri suatu keyakinan akan masa depannya bersama dengan Tuhan. Dan alasannya kenapa? Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa. Kenapa Daud bisa yakin sekali akan masa depan dia? Bukankah dia baru saja melewati lembah kekelaman? Kenapa Daud bisa yakin bahwa ia akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa? Apakah karena Daud itu istimewa? Daud itu hebat? Kuat? Bukan. Kuncinya ada di ayat 6 ini. Daud berkata, “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” Perhatikan di sini Daud berkata, kebajikan dan kemurahan belaka yang akan mengikuti aku. Menarik sekali, karena di sini Daud bukan mengatakan bahwa kunci keyakinan dia adalah karena dia akan selalu mengikuti Tuhan, dia akan selalu mengikuti kebaikan Tuhan. Tetapi di sini Daud berkata bahwa kebajikan dan kemurahan Tuhanlah yang mengikuti dia, yang mengejar dia. Keyakinan Daud akan hari esoknya bukan ia dasarkan kepada kemampuan dia sendiri tetapi didasarkan kepada kemurahan Tuhan. God’s grace follows him. Dan ini adalah satu gambaran yang sangat indah sekali karena Daud bisa yakin bahwa masa depan dia bukan ditopang oleh kemampuan dia sendiri, tetapi ditopang oleh Tuhan. Ini adalah suatu kelegaan, karena kita sadar apabila manusia bersandar kepada kemampuan diri sendiri untuk bisa tetap setia, kita pasti gagal. Setiap kali kita jatuh kepada dosa yang sama, setiap kali kita merasa ragu, merasa gagal dalam kehidupan ini, rasa keyakinan ini akan segera hilang. Kenapa? Karena perasaan manusia itu subyektif. Tetapi mazmur ini mengatakan kepada kita penyertaan Tuhan itu obyektif. Tidak tergantung kepada perasaan kita. Sumber keyakinan kita akan masa depan kita di dalam Tuhan itu aman karena itu datang dari Tuhan. Tuhanlah yang akan menuntun kita. Kebaikan dan kemurahanNya akan mengikuti kita sepanjang masa.

Tidak ada yang pasti di dalam kehidupan ini. Kesehatan bisa datang dan pergi kapan pun saja. Harta datang dan pergi dalam sekejap mata. Satu hal yang pasti sebagai anak-anak Tuhan kita bisa yakin bahwa masa depan kita itu pasti di dalam Tuhan. Karena Tuhan kita, Allah Pencipta langit bumi dan segala isinya tahu segala hal yang kita alami. Apa yang kita rasakan sekarang, apa yang kita rasakan besok, apa yang akan terjadi di masa depan, Tuhan itu tahu. Dan apabila kita memiliki gembala seperti ini, kita bisa yakin sama seperti Daud, yakin memandang masa depan kita, hari esok kita karena Tuhanlah yang menopang kita.

Maka lewat mazmur yang sangat singkat ini, kita diberi satu lukisan yang sangat indah sekali antara hubungan Tuhan dan anak-anakNya. Seperti seorang gembala yang baik yang memperhatikan domba-dombanya, begitu juga relasi Tuhan kepada kita. Dan hubungan ini adalah hubungan yang melahirkan rasa puas, rasa aman, dan rasa yakin di dalam Dia. Maka saya ingin bertanya kembali: seperti apa hubungan anda dengan Tuhan saat ini? Apakah anda merindukan hal tsb terjadi di dalam hubungan kita dengan Tuhan? Tuhan itu bukan genie in a bottle yang hanya kita cari kalau kita ada masalah. Tuhan bukan sekedar GPS yang menunjukkan apa tujuan kita. Tuhan itu bukan traffic light camera. Sama seperti Daud, setiap kita bisa mengenal Tuhan sebagai gembala kita yang hidup. Kenapa? Karena kita memiliki Tuhan yang sama dengan Daud. Tuhan yang sama, Tuhan yang tidak berubah dari dahulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Dan tahukah anda, sebagai orang Kristen kita bisa mengenal Tuhan sebagai gembala kita lebih nyata lagi daripada Daud sendiri. Mengapa? Karena kita telah melihat, kita telah mengenal dan kita telah mempercayai Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita yang hidup. Dan sebagai anak-anak Tuhan, sebagai orang Kristen, perasaan puas, aman dan yakin di dalam Tuhan ini bisa kita rasakan secara nyata karena kasih Kristus telah dinyatakan kepada kita mulai dari hari Natal pertama sampai pada hari ketika Ia mati, bangkit dan naik ke surga. Kasih Kristus telah nyata dalam hidup kita. Yohanes 10:11 Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Gembala yang baik adalah gembala yang rela mati untuk melindungi domba-dombanya dan Yesus adalah gembala kita yang baik. Demi manusia yang berdosa, demi domba-domba yang telah hilang ini Yesus rela menanggung hukuman atas dosa-dosa kita supaya kita terbebaskan dari belenggu dosa, supaya kita bisa hidup mendengar suara gembala yang benar, supaya kita bisa hidup di dalam kebenaran. Lewat kebangkitan Yesus, maut lembah kekelaman yang paling menakutkan di dalam hidup setiap manusia telah Ia kalahkan dan Roh Kudus yang hidup di setiap kita menuntun kita di setiap harinya, menopang kita di dalam kelemahan kita supaya kita bisa hidup dan menyembah Tuhan dalam roh dan kebenaran. Di dalam Yesus Kristus kita mengenal secara langsung bukti nyata dari kebaikan Tuhan sebagai gembala kita yang baik. Gembala yang baik memberikan kita rasa puas bukan dengan terus memberi, tetapi menuntun kita langkah demi langkah di dalam kebenaran. Kenapa? Karena kepuasan yang sejati itu datang bukan dari kelimpahan materi, bukan dari kesuksesan prestasi. Kepuasan itu datang apabila kita hidup di dalam kebenaran. Gembala yang baik memberikan kita rasa aman bukan dengan menghilangkan segala bahaya, tetapi dengan penyertaanNya rasa aman itu akan datang apabila kita hidup sadar akan penyertaan Tuhan setiap harinya. Dan gembala yang baik memberikan kita satu keyakinan bukan kepada kemampuan kita, bukan kepada diri kita sendiri, tetapi kepada keyakinan bahwa gembala ini akan menuntun kita melewati lembah kekelaman ke masa depan yang penuh dengan kelimpahan. Kita hidup bukan untuk dunia masa sekarang ini, tetapi apa yang Tuhan janjikan adalah kehidupan di masa yang akan datang ketika setiap dari kita hidup bersama-sama dengan Tuhan. Sebagai anak-anak Tuhan, sebagai orang-orang Kristen, kita mengenal Tuhan lewat Yesus Kristus, gembala kita yang baik. Pertanyaan yang harus kita renungkan di akhir khotbah ini adalah: sudahkah kita mendengar suaraNya? Suara gembala mana yang sdr dengar? Yohanes 10 Yesus mengatakan gembala-gembala yang sesat tidak peduli kepada domba-dombanya. Mereka akan menuntun anda mungkin ke kelimpahan sementara, tetapi ketika sesuatu terjadi, gembala-gembala ini akan pergi. Tetapi Tuhan berjanji bahwa gembala yang baik telah memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. Sudahkah kita mendengar suara gembala kita yang baik? Dan apakah kita telah meresponi suaraNya? Apabila hidup anda sudah jauh dari hubungan yang indah dengan Tuhan Pencipta kita, kiranya kita boleh kembali melihat siapa Tuhan itu bagi kita. Ingat kembali kasih dan pengorbanan yang Yesus Kristus telah berikan bagi kita. Arahkan pandangan kita kepada kebenaran Tuhan, dengar suara Tuhan, ingat akan janji keselamatan yang Ia berikan. Gembala yang baik siap menerima siapa saja yang mau bertobat dan kembali kepadaNya.

Seperti Daud, alangkah indahnya apabila kita bisa menyanyikan Mazmur 23 dalam kehidupan kita setiap harinya. Bukan hanya ketika kita sukses dan berkelimpahan. Sekalipun dalam lembah kekelaman kita bisa menyanyikan Mazmur 23 ini, kita bisa merasa puas dan nyaman dalam kebenaran. Kiranya Mazmur 23 ini menjadi suatu mazmur dalam kehidupan kita, menjadikan ini doa kita. Kita berdoa supaya mazmur ini bisa mengubah hidup kita, mengingatkan kembali kepada kita akan siapa gembala kita.(kz)