A Thank-You Note from a Pastor

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: A Thank-You Note from a Pastor
Nats: Filipi 4:10-20

Dalam khotbah menutup tahun 2018 ini, saya mengambil tema “A Thank-You Note from a Pastor” berdasarkan Filipi 4:10-20. Ini adalah satu bagian yang luar biasa indah yang dituliskan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Filipi. Konteks latar belakangnya adalah saat itu Paulus sedang berada dipenjara. Ketika mendengar kabar keadaan Paulus, membuat hati jemaat Filipi concern dan penuh perhatian, lalu kemudian mereka mengirim Epafroditus untuk membawa uang dan mendampingi Paulus di situ untuk membantu dan melayani dia. Dan surat ini menjadi surat ucapan terima kasih, a thank-you note dari Paulus untuk pemberian kasih mereka.

Sebagai anak-anak Tuhan pada waktu kita mengalami himpitan, kesulitan dan penderitaan, saya percaya kita sebaiknya tidak cepat-cepat memberitahukan dan tidak cepat-cepat menyatakan keluh-kesah kepada orang. Saya percaya, sebagai anak-anak Tuhan kita akan bawa semua itu dalam doa kepada Tuhan karena kita tahu Ia sumber kekuatan kita; kita percaya Ia mendengar doa dan Ia akan menjawab setiap doa kita. Demikianlah di dalam penjara, di tengah Paulus mengalami penderitaan secara fisik tangan dan kaki dibelenggu, dan secara mental menghadapi tekanan dan fitnah dari orang-orang yang membenci dia dan yang terus berusaha menambah penderitaannya, Paulus tidak cepat-cepat mengatakan kepada orang-orang apa yang menjadi kesulitan dan penderitaannya. Dia hanya berlutut dan berdoa kepada Tuhan dengan cucuran keringat dan air mata, menyerahkan semua kesulitan dan pergumulan dia.

Mari kita bayangkan apa yang sedang terjadi kepada Paulus di dalam penjara. Dia mengalami saat-saat dimana tidak ada makanan dan tidak punya apa-apa, dia hanya bisa berdoa kepada Tuhan. Pada waktu Paulus selesai berdoa seperti ini, tiba-tiba datanglah Epafroditus membawakan makanan dan kiriman uang dari jemaat Filipi tepat pada saat-saat dia sangat membutuhkannya. Di situ Paulus berkata, “How I praise the Lord!” Aku sangat bersukacita dalam Tuhan (Filipi 4:10a). Sukacitanya melimpah karena menyaksikan kebesaran dan kuasa Allah terjadi menjawab doanya.

Dari sini sebagai anak-anak Tuhan kita mendapat prinsip mengenai konsep memberi dan menerima. Dalam hal ini tentu sudah sepatutnya dan sewajarnya orang menyatakan terima kasih kepada orang-orang yang sudah memberi. Tetapi kita tidak boleh berhenti hanya sampai di situ. Jauh lebih baik dan jauh lebih indah ketika pemberian itu membuat imannya bertumbuh dan melahirkan syukurnya kepada Tuhan. Pemberian yang dia terima membuat dia melihat sungguh Allah itu nyata dan mendengar doanya. Itulah keindahan sebuah pemberian. Ketika kita mengerti sebagai orang-orang yang diberkati oleh Tuhan, kita boleh menggunakan segala berkat-berkat finansial yang ada dalam hidup kita menjadi keindahan ini, kita tidak akan jemu-jemu memberi. Kita bersyukur untuk itu dan kagum karena kita boleh melihat Allah bekerja terhadap hal materi yang terbatas mengerjakan hal yang tidak terbatas dari semua yang kita beri.

Paulus berkata, “Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu” (Filipi 4:10). Paulus bersyukur untuk hati yang penuh perhatian dan kesempatan yang ada bagi jemaat Filipi mendukungnya. Tidak selamanya ada kesempatan dan ada kemungkinan kita memberi. Tetapi itu adalah urusan kedua. Yang paling penting ada hati yang concern atau tidak. Banyak orang mengeluh tidak punya kesempatan untuk memberi, tetapi bisa jadi bukan kesempatan itu tidak ada tetapi mungkin karena hati kita tidak concern sehingga tidak melihat akan hal itu. Pada waktu kita belajar ingin memberi, pada waktu kita rindu memiliki hidup berkelimpahan mengasihi orang, firman Tuhan mengingatkan adakah kita punya perhatian, concern? Itulah yang menyebabkan kita bisa melihat setiap kesempatan yang ada. Tidak selamanya kita mendengarkan sesuatu kesulitan orang tetapi pada waktu kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mendengarkan sesuatu, mari kita belajar peka apa yang Tuhan mau kita berespon. Kita memiliki hati yang penuh perhatian. Kalau Tuhan memberi kepada kita untuk bisa menolong dan membantu, itu adalah kesempatan. It is a privilege to serve. It is a privilege to give. It is a privilege that I can take part in the works and ministry of God. Waktu kita bisa melakukan satu hal yang kecil dan sederhana sekalipun, hal yang bersifat horisontal, ada orang yang sedang dalam kesulitan tidak punya makanan dan kita memberikan makanan kepada mereka; ada orang yang sedang dalam kesulitan finansial dan kita memberikan bantuan finansial kepadanya; ketika kita mendengar kabar ada pelayanan yang membutuhkan dana dan kita memberikan mendukung pelayanan itu; semua itu hal yang bersifat horisontal. Tetapi tindakan pemberian itu tidak berlalu begitu saja, pemberian itu mendatangkan ucapan syukur orang itu kepada Tuhan.

Hal yang lain lagi dikatakan Paulus di sini adalah “akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku.” Kenapa dia berkata demikian? Dari kalimat ini menunjukkan pernah ada satu masa dimana jemaat Filipi berhenti mendukung pelayanan Paulus. Kita tidak tahu apa sebabnya. Bisa jadi karena waktu dan kesempatan tidak ada, karena mereka tidak selalu tahu Paulus sedang ada dimana. Atau kemungkinan yang kedua, jemaat Filipi mendapatkan kabar dan berita yang sangat negatif tentang Paulus sehingga mereka berhenti mendukung Paulus. Sehingga “pikiran dan perasaanmu bertumbuh kembali” ini kemudian muncul ketika mereka menyadari bahwa berita negatif yang mereka dengar tentang Paulus ternyata tidak benar.

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan” (Filipi 4:11-12). Di sini kita menemukan ada keengganan pada diri Paulus untuk menyatakan keadaannya kepada mereka. Ayat ini menyatakan bagaimana sikap dia menghadapi sesuatu situasi yang panjang dan berat dan tidak tahu kapan situasi itu akan selesai dia lewati. Di situlah kita perlu belajar bukan soal apa yang kita tidak dapat, apa yang kita tidak punya, tetapi soal bagaimana sikap positif kita bersyukur dan puas di dalam segala situasi seperti ini. Paulus bilang, I have learned to experience in full stomach or in empty stomach. Dan di situ saya belajar satu rahasia hidup yang contentment di hadapan Tuhan menghadapi segala situasi. Paulus mengalami pelayanan dimana dia melimpah dengan makan dan minum dan dia mengucap syukur kepada Tuhan untuk hal itu. Dan pada waktu dia berada di dalam masa tidak punya makanan dan di dalam kelaparan seperti itu, dia belajar mengucap syukur kepada Tuhan. Inilah satu rahasia rohani bagaimana hidup dengan syukur, puas, walaupun kadang-kadang dia berada dalam kelimpahan, walaupun kadang-kadang dia berada dalam kekurangan. Semua pengalaman ini bukan untuk membuat Paulus menyakiti diri atau self-pity terhadap diri, tidak mau makan dan menyiksa diri; bukan juga untuk membuat jemaat Filipi feel guilty. Selanjutnya ayat 13, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Ayat ini bukan bicara mengenai kesuksesan-kesuksesan yang bisa kita raih, tetapi justru ayat ini dipakai oleh Paulus untuk mengatakan pada waktu dia berada di masa-masa yang sangat susah dan berat, tidak sanggup untuk menanggung lagi segala sesuatu, sumber kekuatannya hanya ada di dalam Yesus Kristus. Bukan apa yang kita dapat yang menyebabkan ucapan syukur kita kepada Tuhan tetapi bagaimana sikap hati kita di hadapan Tuhan. Salah satu rahasia hidup yang paling penting dan perlu dalam hidup kita adalah kita belajar memiliki perasaan contentment di dalam hidup ini. Contentment adalah satu sikap hati yang teduh dan tenang, positif melihat apa yang ada di depan kita, bukan kepada apa yang tidak ada di dalam hidup kita. Belajar apa artinya hidup dalam kelimpahan dan hidup dalam kekurangan. Pengalaman-pengalaman seperti ini tentu bukan untuk membuat hidup kita susah tetapi saya percaya pengalaman-pengalaman seperti ini dipakai oleh Tuhan supaya kita bisa memiliki hati yang peka dan penuh perhatian kepada orang-orang yang mengalami akan hal itu.

Paulus di ayat 14 berkata, “Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku” Di sini Paulus menyatakan pujian dan ucapan terima kasih kepada jemaat Filipi itu. Dalam terjemahan NLT, ayat ini berkata “You have done well.” Paulus memuji tindakan pemberian mereka sebagai satu hal yang sangat mulia. Kenapa ini menjadi hal yang mulia? Paulus mengatakan selanjutnya di ayat 17, “Yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang memperbesar keuntunganmu” [I don’t say this because I want a gift from you. Rather, I want you to receive a reward for your kindness]. Paulus mengajak jemaat Filipi melihat lebih jauh makna pemberian uang finansial yang diterima oleh rasul Paulus dari mereka. Ayat 15-16, “Kamu sendiri tahu juga bahwa pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaat pun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain daripada kamu. Karena di Tesalonika pun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku.” Tidak hanya satu dua kali Paulus didukung oleh jemaat Filipi yang didirikan oleh dia, bukan saja waktu dia masih melayani di Filipi tetapi juga ketika dia pergi berjalan kurang lebih 40-60 mil ke daerah lain yang namanya Tesalonika, Paulus mengatakan jemaat Filipi juga memberikan financial support untuk pelayanan Paulus.

Perhatikan, Paulus tidak mau terima uang itu dari jemaat Korintus, yang sebetulnya juga sama-sama jemaat yang kaya seperti Filipi, dan Paulus punya alasan khusus kenapa dia ambil keputusan itu. Jemaat Korintus kurang senang dengan hal itu, tetapi Paulus mengatakan dia tidak mau menerima uang dari jemaat di Korintus karena ada sekelompok orang yang mengkomersilkan pengajaran mereka dengan mendapatkan uang dari orang-orang yang datang mendengar pengajaran mereka. Pada waktu Paulus datang ke Korintus untuk memberitakan Injil, Paulus ingin membedakan bahwa Injil yang ia sampaikan tidak sama dengan filsafat dan kata-kata bijak. Itu sebab Paulus mengatakan aku memberitakan Injil dengan tidak menerima uang [free of charge] di Korintus (lihat 2 Korintus 11:7-13).

Pemberian uang dari jemaat Filipi ini ditujukan khusus kepada dua hal: pertama, untuk support kebutuhan sehari-hari dia; yang kedua, untuk support ongkos perjalanan dia. Tetapi yang menarik di sini Paulus katakan, pemberian uang dari jemaat Filipi merupakan satu transaksi hutang piutang. Artinya ketika mereka diberkati secara rohani oleh rasul Paulus, banyak orang bertobat dan percaya Tuhan Yesus, merekamembayar hutang rohani itu dengan mendukung kehidupan dan pelayanan Paulus secara finansial [jasmani]. Maka Paulus katakan engkau melakukan hutang piutang dengan aku. Hal yang kedua yang sangat luar biasa di sini adalah jemaat Filipi adalah satu-satunya gereja yang memberi financial support kepada Paulus. Mereka menyadari bahwa dukungan finansial bagi kebutuhan hidup rasul Paulus dan bagi kebutuhan perjalanannya itu adalah sesuatu pelayanan yang mereka kerjakan dan lakukan bukan hanya satu dua kali tetapi berkali-kali mereka mendukung pekerjaan Tuhan dengan uang mereka.

Apa yang kita belajar dari sini? Sebagai jemaat, sdr bisa memberi uang bagi satu pelayanan, atau mungkin sdr mendukung pekerjaan Tuhan dengan mensupport kebutuhan hidup makan minum atau sewa rumah dari satu badan misi. Mungkin sdr bisa mengirimkan uang untuk membeli motor atau mobil untuk masuk ke daerah-daerah yang sulit dijangkau dengan berjalan kaki. Atau sdr bisa membelikan kebutuhan seperti projektor atau barang-barang lain. Artinya uang itu bisa membeli hal-hal yang berbentuk fisik material seperti itu. Itu adalah hal yang dilakukan oleh jemaat Filipi bagi Paulus. Tetapi Paulus ingin mengajak kita melihat dimensi yang lebih jauh lagi di sini, bahwa pemberian yang bersifat horisontal ini adalah sesuatu hal yang indah luar biasa, karena di mata Tuhan pemberian itu bukan sekedar kebaikan hati kita menolong orang [kindness act], pemberian itu bukan sekedar hal yang mulia [noble deed]. Itu dari sisi secara horisontal. Tetapi pemberian itu adalah sebuah persembahan atau ibadah kepada Tuhan. They are a sweet-smelling sacrifice that is acceptable and pleasing to God. Suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah (Filipi 4:18). Mari kita membayangkan seperti orang membawa korban bakaran di atas mezbah persembahan kepada Tuhan, yang harum dan baunya naik sampai ke langit. Persembahan itu bukan hanya menyenangkan orang yang menerima, tetapi terlebih lagi itu menyenangkan Allah yang terima.
Setiap kali saya pergi pelayanan misi, saya selalu memperhatikan kebutuhan biaya perjalanan rekan-rekan dan makan minum yang dibutuhkan selama perjalanan itu. Bagaimana dengan orang-orang yang ada di situ, pasti mereka menyiapkan makanan. Saya selalu katakan kepada tim misi supaya jangan memberatkan mereka yang kita datangi. Kalau bisa semua biaya itu kita support dengan uang yang cukup supaya mereka tidak berat. Hal-hal seperti ini perlu kita perhatikan. Setiap perjalanan perlu uang jalan? Perlu. Perlu uang makan? Perlu. Jangan kita melupakan aspek-aspek itu. Demikian juga dalam pelayanan gerejawi seperti itu. Hamba Tuhan yang melayani juga punya kebutuhan makan dan tempat tinggal. Tetapi kadang-kadang kita menjadi terganggu waktu melihat uang persembahan yang diberi ternyata dipakai oleh pendetanya buat beli baju baru, atau isteri pendeta pakai sepatu baru, kita tidak senang. Kita jangan melihat waktu kita mendukung hanya memberi makan, hanya mendukung uang transportasi, hanya memberikan love-gift bagi pelayanan seorang hamba Tuhan yang datang lalu menganggap itu sebagai sesuatu yang bersifat horisontal tetapi mari kita melihat pemberian itu sebagai satu persembahan yang harum kepada Tuhan. Artinya berarti setiap dukungan seperti itu tidak berhenti hanya sampai kepada tindakan secara horisontal tetapi merupakan suatu persembahan sacrifice kita kepada Tuhan.

Penting sekali jemaat memahami makna teologis memberi persembahan; mengerti bagaimana memberi yang sepatutnya dan selayaknya sebagai ibadah kepada Tuhan. Dan bagi orang yang baru datang ke gereja, yang belum punya pemahaman dan belum percaya Tuhan, mereka tidak merasa setelah dengar khotbah lalu kantong persembahan diedarkan seperti bayar sesuatu, seperti nonton bioskop. Kalau khotbahnya hari ini bagus, jemaat merasa diberkati, lalu mereka bayar lebih banyak. Kalau merasa kurang diberkati, akhirnya kemudian kecewa dan memberi sedikit. Di situ kita melihat persembahan akhirnya sebagai service horisontal.

Kita beribadah kepada Tuhan bukan hanya pada waktu kita datang ke gereja, bukan hanya pada waktu kita dengar firman, bukan hanya pada waktu kita menyanyi, tetapi juga pada waktu kita memberikan uang ke dalam kantong persembahan, mari kita juga melihat itu sebagai satu ibadah kepada Tuhan, sebagai dedikasi kepada Tuhan. Dan gereja juga tidak berkesan sedang meminta uang. Kita tidak meminta-minta uang. Kita sedang mengajak dan mendidik jemaat untuk mengerti bahwa setiap persembahan, dukungan finansial, supporting ministries, pelayanan dengan memberikan uang perjalanan, memberi makan hamba-hamba Tuhan, dsb, semua itu adalah sebuah pelayanan yang kita lakukan bagi Tuhan yang berkenan dan menyukakan hati Tuhan.

Terakhir, Paulus menutup konsep pemberian itu dengan dua kalimat yang luar biasa penting di ayat 19-20, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus. Dimuliakanlah Allah dan Bapa kita selama-lamanya! Amin.” [And this same God who takes care of me will supply all your needs from His glorious riches, which have been given to us in Christ Jesus]. Di sini Paulus memberikan blessing sekaligus memberikan prinsip pengertian penting dalam memahami konsep memberi persembahan dan melayani Tuhan. Ia adalah Allah yang sama, yang hari ini mendengar doa dia, dan membuat dia mengalami siapa itu Allah dengan nyata dalam hidupnya. Paulus berkata kepada jemaat Filipi, engkau akan alami Allah yang sama itu memberkati engkau. Ini bukan satu janji kosong, ini bukan keinginan dari seorang hamba Tuhan supaya dia mendapatkan pemberian lebih banyak. Ayat ini mengajar kita tujuan kita menerima persembahan, memberi persembahan, dan bersyukur kepada Tuhan untuk segala sesuatu itu bukan demi untuk apa-apa tetapi demi supaya kita mengalami siapa Tuhan yang kaya itu dalam hidup kita. Maka keluar kalimat ini: Allah yang sama, yang telah mencukupkan kebutuhanku juga adalah Allah yang sama yang akan mencukupkan semua yang engkau butuhkan. Tuhan tidak janjikan untuk mencukupkan semua keinginan kita untuk Dia penuhi dalam hidup kita tetapi Ia akan penuhi semua yang engkau butuhkan.
Kita bisa mengalami Tuhan bukan di dalam kita menerima sesuatu; kita mengalami Tuhan karena kita memberi sesuatu. Kita mengalami Tuhan pada waktu di dalam kekurangan dan kesulitan, tidak ada keluh-kesah, gerutu dan kata-kata keluar dari mulut kita nyatakan kepada orang tetapi kita membawa semua itu kepada Tuhan dan Tuhan akan cukupkan segala sesuatu yang kita doakan itu dengan secara tidak terduga di dalam hidupmu. Engkau akan alami itu dalam pekerjaanmu, engkau akan alami itu pada waktu engkau di dalam kesusahan, engkau akan alami itu pada waktu engkau membawa segala kesulitanmu kepada Tuhan. Alami dan rasakan pengalaman ini dalam hidupmu.

Sehingga memasuki tahun-tahun ke depan kita bisa mengalami hal yang lain, kita tidak perlu menjadi takut dan kuatir lagi sebab kita telah mengalami penyertaan Allah. Allah yang sama yang telah memelihara hidupmu adalah Allah yang sama juga akan mencukupkan apa yang engkau butuhkan dengan segala kekayaan dan dalam kemuliaanNya yang telah Ia berikan kepada kita di dalam Yesus Kristus.(kz)