Tersanjung lalu Terhempas

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Tersanjung lalu Terhempas
Nats: Kisah Rasul 14:1-7

Kisah Rasul 13:50-51 mencatat bahwa dalam perjalanan misinya Paulus dan Barnabas diusir dari daerah Antiokhia di wilayah Pisidia, maka mereka berjalan pergi ke tempat lain, ke satu kota yang bernama Ikonium. Di Ikonium sejumlah besar orang Yahudi dan Yunani menjadi percaya kepada pemberitaan mereka. Tetapi orang-orang Yahudi yang menolak pemberitaan mereka memanaskan hati orang-orang yang tidak mengenal Allah dan membuat mereka gusar terhadap Paulus. Demikian catatan Lukas mengawali Kisah Rasul 14 ini.

Siapakah Paulus? Sebelum bertobat dan percaya Tuhan Yesus, Paulus, mengambil batu bersama-sama dengan orang-orang Yahudi yang lain, melempari orang-orang Kristen dan pelayan-pelayan Tuhan. Lalu Tuhan merubah hidupnya dari seorang yang jahat dan fanatik terhadap agamanya dia menjadi orang yang berubah total. Kini dia mengerti akan anugerah Tuhan, akan pengampunan dan penebusanNya. Dia tahu bahwa Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada mereka yang berada dalam dosa dan yang melawan Tuhan. Itulah yang menjadi motivasi dan dorongan bagi Paulus melayani dan mengabarkan Injil. Itulah yang menjadi motivasi dari hati orang yang menyadari apa artinya hidup yang telah ditebus oleh Tuhan Yesus.

Paulus bersama Barnabas diutus oleh gereja Antiokhia pergi melakukan perjalanan misi yang pertama dan mereka membawa seorang anak muda bernama Yohanes Markus untuk menolong mereka dalam perjalanan itu (Kisah Rasul 13:2-5). Saya percaya sebagai orang yang masih muda, Markus memiliki idealisme dalam pelayanan. Banyak orang melayani juga punya idealisme dalam pelayanan. Bahwa pelayanan itu adalah sesuatu hal yang indah dan manis, seperti nyanyian: kerja buat Tuhan selalu manise. Tetapi pada waktu memasuki realita pelayanan, di situ kita sadar bahwa pelayanan itu bukanlah selalu seperti itu. Pelayanan bukan saja menghasilkan the benefit of ministry, tetapi pelayanan juga menuntut the cost of ministry. Anak muda yang bernama Yohanes Markus ini tidak tahan melihat realita pelayanan yang tidak gampang, di tengah pelayanan itu mereka mengalami peperangan rohani, di tengah pelayanan itu mereka mengalami ditolak dan diusir, di tengah pelayanan itu mereka tidak melihat hasil yang besar. Realita ini membuat Markus menjadi down dan hati berat luar biasa. Maka dia kemudian meninggalkan Paulus dan Barnabas (Kisah Rasul 13:13).

Menghadapi realita pelayanan seperti itu, wajar kita bertanya: mengapa dalam pelayanan yang indah dan baik justru mereka menghadapi tantangan dan kesulitan yang berat seperti itu? Seringkali hati kita bisa bertanya-tanya waktu mengalami realita pelayanan seperti itu. Kita melayani dengan hati dan motivasi yang tulus dan murni; kita melakukan pelayanan itu dengan penuh pengorbanan; kita telah memberikan yang terindah dan terbaik. Namun kita menghadapi reaksi orang yang tidak sebaik yang kita harapkan; kita justru mendapatkan kritikan negatif. Jangan sampai semua itu menciutkan hati kita dan membuat kita undur dan kecewa. Kisah Rasul 13 dan 14 memperlihatkan kepada kita pelayanan misi yang dilakukan oleh rasul Paulus adalah sesuatu pelayanan yang indah luar biasa tetapi sekaligus di situ memperlihatkan pelayanan itu menuntut pengorbanan dan mereka menghadapi hal yang berat luar biasa. Tetapi kita menyaksikan Paulus dan Barnabas menyelesaikan pelayanan itu sampai akhir.

Sampai di Ikonium mereka mengalami titik yang paling indah dalam pelayanan mereka karena dikatakan di dalam bagian itu sejumlah besar orang menjadi percaya (Kisah Rasul 14:1). Luar biasa sekali, setelah mereka melewati hal-hal yang tidak gampang dan tidak mudah, sampailah mereka kepada satu titik ini. Di kota itu banyak orang yang menerima dan percaya Tuhan. Tetapi pada saat yang sama bagian ini juga memberitahukan ada orang-orang yang tidak senang dengan apa yang dicapai oleh mereka. Mereka adalah orang-orang Yahudi yang menolak pemberitaan Paulus. Kisah Rasul 14:2 dalam terjemahan bahasa Inggris, “But the unbelieving Jews stirred up the Gentiles and poisoned their minds against the brothers” [ESV]. Orang-orang ini membangkitkan emosi dan meracuni pikiran orang supaya melalui cara-cara seperti itu mereka menghambat dan menentang pelayanan daripada rasul Paulus dan Barnabas. Ini adalah tantangan yang tidak gampang.

Namun di tengah-tengah menghadapi tantangan dan perlawanan dari orang seperti ini, ayat-ayat selanjutnya memberikan kepada kita beberapa prinsip yang penting sekali. Dalam pelayanan, dalam pekerjaan dan dalam hidup kita sehari-hari kita juga bisa menghadapi hal yang sama. Tetapi bagian firman Tuhan ini mengajar kepada kita bagaimana untuk kita menjalani hidup dan bagaimana kita melihat pimpinan Tuhan di dalam hidup kita. “Paulus dan Barnabas tinggal beberapa waktu lamanya di situ. Mereka mengajar dengan berani karena mereka percaya kepada Tuhan dan Tuhan menguatkan berita tentang kasih karuniaNya dengan mengaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat” (Kisah Rasul 14:3). Menghadapi orang-orang yang berusaha membangkitan kegusaran dan kebencian, bisa membuat hati orang-orang Kristen yang baru ini menjadi bimbang, sehingga Paulus dan Barnabas harus menguatkan iman mereka. Paulus dan Barnabas tinggal di situ beberapa waktu lamanya. Tantangan itu tidak membuat mereka pergi dan lari. Ini prinsip pertama yang penting dari ayat ini. Kita tidak boleh menjadi orang Kristen yang naif hanya terus berpikir kalau kita percaya Tuhan segala sesuatu pasti akan lancar dan segala persoalan akan langsung beres. Banyak hal yang kita kerjakan dalam hidup ini perlu waktu dan proses. Di dalam pelayanan kita juga tidak bisa cepat-cepat ingin melihat hasilnya. Di dalam pekerjaan kita, juga seperti itu. Bagian firman Tuhan ini mengajarkan kita di sini untuk kita belajar tekun dan persistence dalam apa yang kita kerjakan. Banyak kali hamba-hamba Tuhan yang masih muda di dalam pelayanan tidak menghasilkan dan mencapai sesuatu karena kita terlalu gampang dan terlalu cepat berpindah-pindah tempat. Banyak pelayanan yang kita kerjakan tidak menghasilkan sesuatu yang baik karena kita terlalu cepat-cepat untuk mengerjakannya lalu kemudian kita berhenti dan tidak melakukannya lagi. Tidak ada hal yang kita jalani yang tidak menghadapi hambatan dan kesulitan. Tuhan memelihara hidup kita, Tuhan memelihara tidak berarti Tuhan melepaskan kita dari berbagai kesulitan itu.

Thomas Alva Edison mengatakan, “Many of life’s failures are people who did not realise how close they were to success when they gave up.” Dan, “Our greatest weakness lies in giving up. The most certain way to succeed is always to try just one more time.” Banyak orang gagal karena dia berhenti padahal sukses itu tinggal satu langkah lagi. Thomas Edison hanya beberapa bulan saja mengecap bangku sekolah lalu dia diajar di rumah oleh ibunya. Dan akhirnya dunia mengenal dia sebagai seorang ahli penemu yang luar biasa. Dan dia menjadi penemu bukan karena dia langsung menjadi penemu yang jadi dan berhasil dalam satu kali. Tidak terhitung dia gagal dalam eksperimen tetap dia mencoba sampai berhasil. Kegagalan terjadi sebab banyak orang berhenti satu langkah sebelum dia mencapai sukses, demikian kata Thomas Edison.

Yang kedua, ayat ini mengatakan “Mereka mengajar dengan berani” dan “Tuhan menguatkan mereka” di sini memperlihatkan dua hal ini saling terjadi. Hati yang berani ditambah dengan Roh Allah memberi hati yang berani kepada mereka. Allah memberanikan kita karena kita memang berani mau melangkah bagi Tuhan. Waktu kita mengalami kesulitan, yang Tuhan minta kepada kita adalah hati yang berani. Berani berarti kita memiliki ketekunan hati yang tidak membiarkan situasi yang ada di sekitar kita mengaburkan kepercayaan kita bahwa pasti ada hal yang lebih baik melewati tantangan dan kesulitan itu. Situasi di sekitar mungkin bisa membuat kita lemah, kuatir dan kecewa. Namun berani berarti kita percaya, kita jalani dengan ketekunan hati di situ. Berani tidak berarti kita kemudian menjadi orang yang bodoh dan nekad. Bagaimana kita berespon terhadap penganiayaan dan kesulitan yang ada? Alkitab tidak memberikan kita satu model yang sama. Ada kalanya kita bisa menyaksikan mereka menghadapi penganiayaan itu dan mati sebagai martyr bagi Tuhan. Ada kalanya mereka ambil keputusan untuk menyingkir dan lari dari kesulitan seperti itu. Itu yang Paulus dan Barnabas lakukan. Mereka ambil keputusan untuk pergi dan menyingkir dari situ.

Yang ketiga, kita menyaksikan Allah menyertai dengan Allah mengaruniakan mujizat dan tanda-tanda di dalam pelayanan mereka. Allah mengaruniakan, artinya bukan mereka sendiri yang hebat. Kekuatan dan kemampuan untuk melakukan mujizat itu bukan dari diri mereka tetapi Allah mengaruniakan kepada mereka.

Mereka lalu pergi ke kota yang lebih kecil yaitu Listra (Kisah Rasul 14:8-20). Alkitab menuliskan bagaimana pendekatan Paulus saat memberitakan Injil kepada orang Yahudi dan saat berbicara kepada bangsa-bangsa yang belum pernah mengenal Allah dan tidak pernah membaca Perjanjian Lama, kita melihat dia melakukan cara dan pendekatan yang berbeda. “Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Allah menyatakan dirinya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan” (Kisah Rasul 14:15-17). Dari sini kita bisa melihat kepada orang-orang yang tidak pernah mendengarkan hukum Taurat, Paulus memberikan pendekatan bicara mengenai indahnya penciptaan. Paulus bicara mengenai bagaimana Allah memelihara mereka terbukti dengan turunnya hujan dan sinar matahari sebagai pemeliharaan yang mereka dapat. Itulah Allah yang harus mereka sembah. Jadi kita bisa belajar pendekatan cara yang berbeda-beda saat memberitakan Injil, pintu masuk yang kita harus pikirkan, cari cara bagaimana melalui semua itu orang bisa mendengar dan percaya Tuhan. Tuhan meminta untuk kita senantiasa belajar relevan supaya Injil Allah yang tidak berubah itu bisa didengar oleh manusia yang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Ini merupakan prinsip yang penting yang kita harus belajar sama-sama. Seringkali berita kita yang tidak berubah kita taruh di atas kendaraan yang itu-itu saja, dan kita pikir harus selalu menggunakan cara dan kendaraan seperti itu. Alkitab memberitahukan kepada kita, beritanya sama, pakai kendaraan, pakai baju, pakai cara yang berbeda-beda, supaya melalui itu Injil bisa didengar oleh mereka.

Di Listra, saat Paulus menyampaikan Injil, dia melihat ada seorang lumpuh yang duduk mendengarkan dia dengan sungguh-sungguh. Paulus menatap orang itu dan melihat dia beriman dan percaya. Lalu Paulus menyembuhkan dia dari kelumpuhannya. “Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berseru dalam bahasa Likaonia: Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia” (Kisah Rasul 14:11). Itu yang menjadi reaksi orang-orang di kota itu ketika menyaksikan Paulus melakukan mujizat itu. Tiba-tiba massa mengangkat dan mengusung mereka, arak-arakan keliling kota. Paulus tidak mengerti apa yang terjadi dan juga tidak mengerti apa yang mereka teriakkan, karena mereka memakai bahasa daerah Likaonia. “Maka datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan korban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu” (Kisah Rasul 14:15). Pada waktu itu Paulus dan Barnabas baru sadar bahwa mereka dijadikan dewa. Bukan itu yang Paulus mau.

Demikianlah konon cerita yang beredar di antara orang-orang dulu dewa Zeus datang menyamar sebagai orang miskin dan minta untuk tinggal di rumah orang dan minta makan. Seluruh kota itu tidak mau menerima dia. Hanya satu keluarga yang hina dan miskin menerima dan memberinya makan di gubuknya yang sederhana. Setelah itu kemudian dewa Zeus membuka penyamarannya dan kemudian membalas kebaikan keluarga miskin ini dengan memberikan kekayaan yang berlimpah-limpah kepada mereka. Itulah cerita yang beredar di kalangan mereka. Sehingga pada waktu Paulus dan Barnabas melakukan mujizat penyembuhan kepada orang lumpuh itu, mereka mengira inilah penjelmaan dewa Zeus, maka penduduk kota itu tidak mau kehilangan kesempatan untuk menyembah dia, karena mereka mau mendapatkan berkat dari dewa Zeus itu. Itulah sebabnya mereka ramai-ramai mengangkat dan mengusung Paulus dan Barnabas yang mereka kira adalah penjelmaan dewa Zeus dan Hermes. Bayangkan, mereka disanjung-sanjung dan diarak keliling kota. Sampai di depan kuil Zeus di pinggir kota dan melihat lembu-lembu yang akan disembelih, barulah mereka mengerti bahwa orang-orang ini telah salah mengerti. Maka Paulus dan barnabas cepat-cepat turun dan mengoyakkan baju sambil berkata, “Kami bukan dewa!” Tetapi massa sudah histeris luar biasa dan tidak bisa dikuasai lagi.

Seringkali kita melihat inilah kesalahan yang ada di dalam orang ikut Tuhan. Kesalahan yang pertama dinyatakan oleh orang-orang ini setelah melihat mujizat lalu mereka pikir hidup mereka akan diberkati luar biasa. Banyak orang menyembah Tuhan dengan motivasi seperti ini. Kepada Yesus Kristus orang juga mempunyai motivasi seperti ini. Mereka mau percaya dan mau terima Dia supaya hidupnya mengalami perubahan dan ingin diberkati oleh Tuhan. Kesalahan yang kedua yang seringkali terjadi adalah begitu banyak orang lebih suka menjunjung tinggi sang pemberita daripada berita yang disampaikannya. Kita lebih cepat mengidolakan seseorang dan kagum secara berlebihan kepada dia dan memperlakukannya sebagai orang hebat sehingga akhirnya melupakan berita dan nama Tuhan Yesus Kristus yang harus ditinggikan dan diagungkan. Tetapi itulah kesalahan yang sering terjadi di mana-mana, ketika gereja sudah mulai melihat siapa yang menjadi pembicaranya lebih penting daripada apa yang dibicarakannya.

Paulus dan Barnabas menolak penghormatan itu dan berkata, bukan kami yang mendapatkan penghormatan dan penyembahan. “Kami hanyalah manusia biasa, sama seperti kamu! Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup!” (Kisah Rasul 14:15). Di tengah kerumunan massa yang sudah menggila dan histeris itu, datanglah orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium memanaskan hati orang banyak itu dengan melempari Paulus. Engkau dan saya tidak menyangka, bukan? Hari itu orang menjunjung tinggi lalu dalam seketika orang yang sama melempari dengan batu. Mereka mengambil batu melempari Paulus bukan dengan batu kerikil. Mereka mengambil batu yang besar-besar dan dengan sekuat tenaga melemparkannya. Siapa yang tidak remuk tulang-tulangnya tertimpa batu sebesar ini, dan siapa yang tidak hancur batok kepalanya tertimpa batu seperti ini? Siapa yang tidak bonyok dan mati dilempari batu-batu yang besar seperti ini? Paulus hancur dan luka berat dan kemungkinan sudah mati saat orang-orang ini menyeret tubuhnya ke luar kota. Bayangkan darah bercampur warna putih dari otaknya yang muncrat keluar, masakan tidak mati? Tetapi kalau bukan waktunya Tuhan, orang itu tidak mati. Itulah sebabnya kita bisa berpikir pada waktu Paulus berkata kepada jemaat Korintus pengalaman dia pernah diangkat sampai di langit tingkat ke tiga sampai ke Firdaus, sangat besar kemungkinan inilah pengalaman itu (2 Korintus 12:1-4). Setelah dia sampai di sana, Tuhan menyuruh dia turun kembali. Kisah Rasul 14:19-20 mencatatnya dengan sederhana, “Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota karena mereka menyangka dia sudah mati. Akan tetapi ketika murid-murid berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota.” Murid-murid mengelilinginya tentu dengan menangis tersedu-sedu dan berdoa. Lalu tiba-tiba dia berdiri dan berjalan masuk ke kota. Itu mujizat yang luar biasa! Maka pada waktu dia menulis surat kepada jemaat Galatia, dia mengatakan pada tubuhku ada tanda-tanda Kristus (Galatia 6:17) saya percaya tanda-tanda bekas luka dilempari batu itu tidak hilang begitu saja. Itulah pelayanan. Itulah yang dialami oleh Paulus. Hari itu disanjung tinggi, hari itu juga dia dihajar habis dengan batu.

“Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid. Lalu kembalilah mereka ke Listra, Ikonium, dan Antiokhia. Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasehati mereka supaya mereka bertekun dalam iman dan mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara. Di tiap-tiap jemaat itu rasul-rasul menetapkan penatua-penatua bagi jemaat-jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan yang adalah sumber kepercayaan mereka” (Kisah Rasul 14:21-23). Paulus kumpulkan orang-orang itu, lalu doa sama-sama karena mereka percaya ini adalah pekerjaan Tuhan, Tuhan akan topang. Dengan demikian kita juga selalu harus mempunyai hati dan sikap seperti ini. Pelayanan kita bukan karena orang, bukan karena siapa, bukan karena tokoh, tetapi karena Tuhan.

Biar bagian firman Tuhan ini menggugah kita sekali lagi mengerti apa itu pelayanan. Selalu membuat hati kita tidak pernah gentar, undur, kecewa terhadap apapun yang ada di dalam hidup pelayanan kita. Tidak perlu dikuatirkan oleh kesulitan dan kritikan apapun dalam hidup engkau ikut Tuhan. Bukan saja menjadi hamba Tuhan engkau akan mengalami seperti itu, tetapi di dalam kehidupanmu sebagai seorang awam sekalipun, dalam pekerjaanmu sehari-hari engkau mungkin akan menghadapi ada orang-orang yang menghina engkau, orang yang akan melakukan berbagai macam cara untuk menjatuhkan bahkan menghancurkanmu karena engkau anak Tuhan. Kenapa? Karena Paulus sendiri berkata ketika kita mau melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh, kita akan mengalami banyak sengsara. Yang kita perlu adalah jiwa yang tekun, berani dan percaya. Maka Tuhan akan memateraikan apa yang kita kerjakan dan lakukan dengan hal-hal yang di luar daripada apa yang kita pikirkan. MujizatNya terjadi. KuasaNya luar biasa. Itulah sebabnya waktu mereka sudah kembali ke gereja yang mengutus mereka kemudian menceritakan bagaimana karya dan pekerjaan Tuhan yang indah luar biasa (Kisah Rasul 14:27). Kiranya setiap kita makin dikuatkan dan diteguhkan untuk mengasihi dan melayani Tuhan dalam hidup kita.(kz)