Sempurna di dalam Kristus

Pengkhotbah: Ps. Matthew Meek
Tema: Sempurna di dalam Kristus
Nats: Kolose 1:24 – 2:5

 

Untuk mengerti bahasa Mandarin kita harus memahami penekanan nada karena dalam bahasa Mandarin nada membedakan arti. Untuk memahami masakan kita harus mengerti citarasa karena citarasa itu penting sekali. Hari ini kita akan belajar bahwa untuk memahami dunia ini dan makna hidup, kita harus mengerti rencana Allah. Dan untuk memahami rencana Allah, kita harus memahami dua hal: yang pertama, bahwa Kristus adalah Raja atas segala bangsa dan semua orang. Yang kedua, bahwa di dalam Kristus kita memiliki segala sesuatu.

Rasul Paulus pada waktu sekitar tahun 50 tarik Masehi menulis surat kepada jemaat di Kolose, yang di jaman sekarang kita kenal sebagai daerah Turki. Di pasal 1:3 Paulus berkata, “Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu, karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Yesus Kristus.” Paulus bersyukur kepada¬† Allah untuk iman dari jemaat ini kepada Yesus Kristus. Tetapi kemudian Paulus mengatakan, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat” (Kolose 1:24). Mengapa Paulus bersukacita dalam penderitaan? Dan penderitaan siapakah yang dia maksudkan di sini? Ini adalah penderitaan Yesus dan di bagian ini memberikan indikasi bahwa Yesus menderita untuk jemaat. Dalam Kolose 1:21-22 di atasnya, Paulus berkata, “Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran, seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Jadi di ayat 21 Paulus mengatakan, dulu kita adalah musuh Tuhan di dalam hati, pikiran dan perbuatan kita yang jahat. Kita pantas untuk dihukum oleh Tuhan di neraka. Tetapi ayat 22, Paulus berkata, sekarang kita bukan lagi musuh Allah karena kita telah diperdamaikan dengan Allah sendiri. Kita yang dulunya adalah musuh Allah dijadikan teman-Nya. Dengan cara bagaimana? Dengan melalui kematian Yesus. Yesus dihukum bagi dosa, kesalahan, pelanggaran kita. Maka hutang dosa kita dibayar sepenuhnya oleh Yesus. Jadi oleh karena Kristus kita diampuni dan dinyatakan sempurna atau tidak bercela dan tidak bercacat di hadapan Allah. Oleh karena itu Paulus bersukacita karena ini adalah kabar baik.

Kolose 1:23-25 Paulus berkata, “Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya. Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat. Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu.”

Tetapi apa maksudnya Paulus dimana dia berkata aku menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus? Bukankah dalam Efesus 2:8-9 Paulus meyakinkan kita, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah; itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri.” Maka kita percaya kematian Yesus total, tidak hanya membayar sebagian dari hutang dosa kita sehingga kita perlu untuk menderita juga untuk diampuni sepenuhnya. Paulus berkata aku menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, kuncinya ada pada kata selanjutnya, yaitu “untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.”

Dahulu Paulus atau yang namanya adalah Saulus adalah seorang pemeluk agama Yahudi yang fanatik. Dia mengejar dan menangkap orang-orang Kristen, dan memasukkan mereka ke dalam penjara. Bahkan Stefanus pun mati dibunuh atas persetujuannya (Kisah Rasul 7:54 – 8:1a). Tetapi suatu hari ketika dia sedang dalam perjalanan ke Damaskus untuk menangkap dan membunuh orang-orang Kristen di sana, Tuhan Yesus menampakkan diri kepada Saulus dan berkata, “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus, “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya, “Akulah Yesus yang kau aniaya itu” (Kisah Rasul 9:1-5). Dan Tuhan Yesus juga menyatakan kepada Ananias, untuk pergi menjumpai Saulus dan berkata, “Orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain, serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku” (Kisah Rasul 9:15-16).

Dalam perjalanan menuju Damaskus ini Paulus menemukan bahwa Yesus adalah Tuhan. Tetapi Yesus tidak berkata kepada Paulus, mengapa engkau menganiaya orang-orang Kristen, pengikut-Ku. Tetapi Yesus mengatakan, mengapa engkau menganiaya Aku, yaitu Yesus sendiri. Itu karena sebagai orang Kristen, kita menjadi bagian dari tubuh Kristus. Jadi ketika orang menganiaya orang Kristen, itu sama dengan menyerang atau menganiaya Yesus sendiri. Dulu Paulus menyerang orang Kristen, tetapi sekarang ia menjadi orang Kristen, ia menjadi bagian dari tubuh Kristus. Dan dia diserang karena memberitakan Injil Kristus.

Yesus menderita. Ia mati untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Penderitaan itu unik, hanya Yesus yang bisa tanggung. Tetapi Yesus bangkit dan hidup kembali dan Dia terus menderita melalui penganiayaan yang dialami oleh gereja-Nya yaitu ketika orang menolak Dia atau menganiaya pengikut Yesus dalam dunia ini. Dan penderitaan adalah bagian dari tugas rasul Paulus pada waktu dia memberitakan firman Allah. Jadi ketika Paulus menderita, dia bersama dengan semua orang Kristen mengisi jumlah penderitaan yang harus dialami Kristus dan tubuh-Nya yaitu gereja sampai saat Yesus nanti kembali untuk mengakhiri penderitaan untuk selama-lamanya.

Apakah sdr siap untuk menderita? Penderitaan pasti akan terjadi karena dunia kita berada di bawah penghakiman Tuhan atas dosa kita. Tetapi orang Kristen akan menderita secara khusus karena firman Tuhan mengatakan, “Setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (2 Timotius 3:12). Jika kita tidak menderita sebagai pengikut Yesus, mungkin itu karena kita bukan orang yang saleh atau yang sungguh-sungguh beribadah. Apakah sdr mau menghindari penderitaan? Ya, kita tidak mencari-cari penderitaan. Namun ada kalanya kita mungkin berkompromi dengan iman kita untuk menghindari penderitaan. Misalnya ketika orang menghina dan memfitnah Yesus, kita dima saja dan tidak membela Yesus Kristus. Pada waktu orang-orang mengejek Dia, kita mungkin bisa menghindari penderitaan dengan berpura-pura tidak kenal Yesus.

Paulus mengatakan firman Allah yang dia beritakan begitu berharga dan dia siap menderita untuk pemberitaan itu. Firman apa yang Paulus beritakan? Menurut ayat 26-27, “firman ini adalah rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke keturunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Kepada mereka Allah mau memberitahukan betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain yaitu Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!” Dalam Perjanjian Lama, semua rencan keselamatan Allah masih menjadi rahasia. Mengapa? Karena menurut ayat 26, Allah sendiri menyembunyikannya. Seperti jigsaw puzzle, bagian-bagian rahasia Allah ada di dalam Perjanjian Lama, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana memasangnya. Lebih payah lagi, orang Yahudi begitu buta sehingga ketika Anak Allah yaitu Yesus datang ke dalam dunia untuk memenuhi rencana Allah, mereka membunuhNya. Mereka membuang Yesus yang adalah Batu Penjuru atau intisari dari rahasia yang sebetulnya adalah bagian utama dari jigsaw puzzle itu. Tetapi Allah begitu ajaib sehingga Ia menggunakan pembunuhan Yesus oleh orang Yahudi itu sebagai cara untuk memenuhi rencara rahasianya untuk menyelamatkan dunia.

“Israel sungguh pun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung kepada batu sandungan, seperti ada tertulis: sesungguhnya Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan dipermalukan” (Roma 9:31-33). Penolakan Yesus oleh orang Yahudi membuka jalan bagi bangsa-bangsa yang bukan Yahudi untuk masuk menjadi umat Allah.

Kita semua tahu Yesus adalah Raja orang Yahudi. Tetapi Perjanjian Baru menjelaskan apa yang disembunyikan dalam bayang-bayang Perjanjian Lama yaitu Yesus bukan hanya Raja orang Yahudi. Yesus adalah Raja seluruh bangsa, Raja semua orang. Itulah sebabnya Kolose 1:27 mengatakan kepada mereka Allah mau memberitahukan rahasia itu yaitu Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan. Kamu yang bukan orang Yahudi, yaitu orang-orang seperti kita, orang Indonesia, orang Australia, orang Cina, siapa saja yang percaya kepada Yesus memiliki pengharapan kepada kemuliaan Allah. Dosanya diampuni. Ia memperoleh hidup kekal bersama Allah di surga. Di surga tidak ada lagi penyakit, penderitaan, kesedihan, kematian. Apakah sdr memiliki pengharapan itu? Kolose 3 mengatakan semua yang percaya kepada Yesus sekarang memiliki kemuliaan surga. Tetapi ada peringatan, jika orang tidak percaya kepada Yesus, dia belum diampuni dan masih di bawah penghakiman Allah dan akan menghadapi hukuman abadi di neraka.

Jadi jika harapan akan kemuliaan ini begitu indah, apa yang harus kita lakukan? Kolose 1:28 mengatakan, “Dialah yang kami beritakan apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” Roma 8:29-30 mengatakan, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya supaya Ia, Anak-Nya itu menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga¬† dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Tujuan Allah bukan hanya menyelamatkan dan membenarkan kita. Ia mau mengubah kita, menjelmakan kita, memuliakan kita, supaya kita menjadi sempurna seperti Kristus. Maka ketika kita paling seperti Kristus, itulah saatnya Allah paling dimuliakan.

Tetapi mengapa Paulus selalu memimpin tiap-tiap orang sempurna di dalam Kristus? (Kolose 1:28). Ada dua alasan. Pertama karena Kolose 1 mengatakan Yesus adalah Tuhan. Segala sesuatu diciptakan oleh Dia, melalui Dia dan untuk Dia. Yesus adalah Raja semua orang. Ia adalah Raja hidup engkau dan saya. Jadi tujuan hidup kita adalah kita hidup untuk Yesus dan memuliakan Dia. Alasan yang kedua, Paulus mau memimpin tiap-tiap orang kepada Kristus adalah karena kita tidak sempurna. Tidak ada di antara kita yang sempurna. Kita mungkin orang-orang yang cukup baik, yang hidup menaati aturan hukum dan tidak mempersulit orang lain. Tetapi baik tidak sama dengan sempurna. Baik berarti baik, lumayan. Tidak ada di antara kita yang sempurna. Saya pun tidak sempurna. Allah menganggap kita sempurna sebab Yesus Kristus sempurna. Kita memiliki status kesempurnaan meskipun tingkah laku kita dipengaruhi oleh dosa. Di surga kita akan mengalami status kesempurnaan sebagai kenyataan tetapi sebelum sampai kepada saat itu, selama di dunia ini kita berusaha setiap hari untuk mencapai kesempurnaan di dalam Kristus yang kita sudah miliki.

Kolose 3 mengatakan kita menanggalkan manusia lama dengan hawa nafsunya yang jahat dan mengenakan karakter manusia baru sama seperti Kristus.

Kolose 1:29 – 2:3 mengatakan, “Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya yang bekerja dengan kuat di dalam aku. Karena aku mau supaya kamu tahu betapa beratnya perjuangan yang kulakukan untuk kamu, dan untuk mereka yang di Laodikia dan untuk semuanya yang belum mengenal aku pribadi, supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian dan mengenal rahasia Allah yaitu Kristus. Sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. Hal ini kukatakan supaya jangan ada yang memperdayakan kamu dengan kata-kata yang indah. Sebab meskipun aku sendiri tidak ada di antara kamu tetapi dalam roh aku bersama-sama dengan kamu dan aku melihat dengan sukacita tertib hidupmu dan keteguhan imanmu dalam Kristus.”

Allah mau semua orang Kristen menjadi sempurna di dalam Kristus. Jadi Paulus bekerja keras, dia berjerih payah agar orang tahu bahwa semua harta hikmat dan pengetahuan ada di dalam Kristus (Kolose 2:2-3). Di dalam Amsal 3:18 dikatakan hikmat adalah pohon kehidupan. 2 Timotius 3:15 mengatakan kitab suci memberi hikmat bagi kita untuk menuntuk kepada keselamatan di dalam Yesus Kristus. Dan kata “harta” dalam Kolose 2:3 di sini adalah sama dengan kata “harta” dalam perumpamaan Matius 13 ketika Yesus mengatakan kita harus menjual segala yang kita miliki untuk mendapat harta itu. Paulus mau kita menemukan semua harta hikmat di dalam Yesus karena di dalam Dia kita memiliki segala sesuatu. Hidup sejati, keselamatan, kesempurnaan, segala sesuatu yang berharga ada di dalam Kristus.

Apa tujuan hidup sdr? Untuk menjadi terkenal? Menjadi nomor satu? Uang? Kemuliaan diri? Betapa sedihnya ada banyak orang sudah sampai kepada posisi itu, namun hanya kekosongan yang didapatnya. Pendeta Charles Spurgeon berkata, “Sdr tidak akan menghayati kepenuhan Kristus sampai anda mengetahui kekosongan segalanya, kecuali Kristus.” Uang menjadi nomor satu, tidak mendatangkan kebahagiaan. Mengapa Paulus mengatakan begitu? Kolose 2:4-5 berkata, “Hal ini kukatakan supaya jangan ada yang memperdayakan kamu dengan kata-kata yang indah. Sebab meskipun aku sendiri tidak ada di antara kamu, tetapi dalam roh aku bersama-sama dengan kamu dan aku melihat dengan sukacita tertib hidupmu dan keteguhan imanmu dalam Kristus.”

Kita tahu kalau kita memiliki sesuatu yang berharga, pasti ada orang yang mau mencuri harta itu. Dunia ini dan Setan selalu ingin menipu kita supaya kita pikir Kristus itu tidak berharga, bahwa Kristus itu hanyalah cerita dongeng, atau bahwa Dia hanyalah seorang nabi atau bahwa Dia hanyalah seorang guru yang baik. Tetapi Paulus mengingatkan supaya kita waspada dan tidak membiarkan diri kita ditipu atau diperdaya untuk dia merampok harta yang kita miliki di dalam Yesus Kristus. Karena jika sdr memiliki Kristus, sdr memiliki segalanya.

Dalam Kolose 2:5 Paulus menyatakan ekspresi sukacitanya melihat orang Kristen hidup menghargai Yesus dengan iman yang teguh, tetap percaya kepada Yesus dan tertib hidupnya. Apakah Yesus adalah Raja hidup sdr? Jika demikian, kita harus mengatur hidup kita masing-masing sesuai dengan rencana Allah. Pertanyaan yang paling di dalam hidup ini bukan apakah saya akan lulus ujian, atau saya menikah dengan siapa, atau bagaimana saya bisa mendapat pekerjaan atau rumah yang lebih baik, atau dimana saya akan berlibur tahun ini. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak penting. Pertanyaan yang paling penting adalah apa peranan saya di dalam rencana Tuhan? Apa tujuan hidup sdr? Surat Paulus kepada jemaat di Kolose menekankan bahwa tujuan hidup, harta kehidupan, hidup sejati, semuanya terdapat dalam Kristus. Kristus adalah Raja semua orang. Di dalam Kristus kita memiliki semuanya. Jika sdr mau memiliki segala sesuatu, sdr harus berada di dalam Kristus yaitu menjadi orang Kristen yang sejati. Betobat dan percaya. Dan jika sdr sudah di dalam Kristus, marilah kita memberitakan Injil agar memimpin semua orang termasuk keluarga, teman-teman dan dunia di sekitar kita sempurna di dalam Yesus.

Kiranya firman Tuhan ini membawa kita kepada satu refleksi, khususnya pertanyaan apakah yang menjadi peranan kita di dalam rumah Tuhan, apakah yang menjadi peranan kita bagi pekerjaan Tuhan? Saya rindu kita boleh mengambil waktu merefleksikan di dalam hari-hari kita ke depan memikirkan hal ini. Kita merasa betapa cepat sekali waktu berjalan, tahun ini akan segera berakhir. Mungkin ada hal-hal yang kita rindukan dan kita janjikan di awal tahun bagi Tuhan dan mungkin kita sudah mengabaikan dan melupakannya. Dan kalau Tuhan ijinkan kita memasuki tahun yang baru, memulai sesuatu yang baru di tahun yang akan datang, mari kita memiliki satu komitmen untuk menyatakan itu. Saya percaya khotbah hari ini mengingatkan kepada kita semua itu karena mungkin ada hal yang kita tidak atau belum kerjakan dan lakukan karena kita merasa uang kita masih kurang, kebutuhan kita masih banyak, dan kita perlu simpan untuk diri kita sendiri tanpa kita menyadari bahwa sesungguhnya kita kaya di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Ambil waktu di hadapan Tuhan dan katakan, tahun depan ada pekerjaan Tuhan yang mau saya dukung; katakan kepada Tuhan, tahun depan ada sedikit yang saya mau sisihkan bagi misionari yang pergi ke pedalaman bagi pelayanan Tuhan sehingga Injil Yesus Kristus ini diberitakan kepada semua orang. Tahun depan ada hal yang mau saya kerjakan, bukan dengan uang tetapi dengan waktu saya bagi pekerjaan Tuhan. Semua karena kita menyadari dengan sungguh Tuhan sudah memberi kita limpah dan kaya.

Bersyukur atas segala berkat dan kelimpahan yang telah kita terima dari Allah, khususnya untuk keselamatan yang kita peroleh di dalam Yesus Kristus, untuk pengampunan dosa dan hidup yang kekal. Kiranya Tuhan menyediakan hati yang responsif terhadap firmanNya, membukakan pikiran, hati, dan jiwa kita untuk menerima firmanNya bekerja di dalam kami masing-masing oleh Roh-Nya yang kudus, yang melakukan pekerjaan yang kami sendiri tidak bisa lakukan tetapi Tuhan bisa melakukannya. Biarlah nama Tuhan terpuji untuk selama-lamanya.(kz)