Ketika Allah Bekerja

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Ketika Allah Bekerja
Nats: Kisah Rasul 12:1-25

Dari jaman ke jaman kita bisa melihat bagaimana Allah bekerja dan berkarya dengan luar biasa. Allah kita adalah “God in mission,” yang terus bekerja menggerakkan gerejaNya yang meskipun begitu kecil dan sederhana, sampai hari ini di belahan muka bumi mana pun nama Yesus Kristus diagungkan dan dimuliakan. Jikalau anak-anak Tuhan tidak tergerak hatinya bergerak bagi pekerjaan dan pelayanan Injil, Tuhan sanggup membangkitkan orang-orang lain di dalam pekerjaan Tuhan. Pada waktu anak-anak Tuhan terlena dengan begitu banyak hal yang nyaman di dalam hidup mereka, kadang-kadang Tuhan harus menggunakan kesulitan, hambatan, bahkan penganiayaan untuk menggerakkan anak-anak Tuhan keluar dari comfort zone mereka. Di situlah anak-anak Tuhan tersentak dan bergerak, di saat hal-hal yang tidak terduga terjadi, mereka menyatakan sikap dan respon yang benar karena mereka tahu dan sadar Allah sedang bekerja di dalamnya. Kisah Rasul pasal 12 adalah satu pasal yang luar biasa indah, karena di dalam bagian itu titik moment Allah bekerja di tengah gerejaNya. Ketika Allah bekerja di tengah kesulitan, hambatan dan penganiayaan, Injil Tuhan bukan makin ciut dan kecil, tetapi justru nama Tuhan makin dimuliakan adanya. Itulah yang menjadi pernyataan kekaguman Lukas menutup pasal 12 ini, “Maka firman Tuhan makin tersebar dan makin banyak didengar orang” (Kisah Rasul 12:24). Puji Tuhan!

Kitab Kisah Para Rasul, yang dalam Alkitab bahasa Inggris berjudul “The Act of the Apostles” selain mencatat bagaimana para rasul itu bekerja melayani Tuhan di dalam pengabaran Injil, namun sesungguhnya itu bukan saja the act of the apostles tetapi lebih tepatnya kita melihat itu adalah “The Act of God” di dalam sejarah Gereja Mula-mula. Seringkali kita berpikir Allah bekerja dengan hal yang positif, hal yang baik, yang mendatangkan mujizat yang luar biasa melepaskan kita dari segala ketidak-berdayaan. Kadang-kadang Allah bekerja seperti itu, tetapi ada kalanya Allah tidak bekerja dengan cara seperti itu. Pada waktu sampai kepada Kisah Rasul 12, kita melihat ada satu titik perubahan terjadi. Walaupun Yesus mengingatkan dan memberitahukan kepada mereka, “Dalam nama Yesus, berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kau akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea, dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Lukas 24:47, Kisah Rasul 1:8). Namun kita melihat sampai kepada Kisah Rasul pasal 11, meskipun ada beberapa momen dimana mereka bersentuhan dengan orang non Yahudi, seperti pelayanan Filipus kepada orang Samaria dan kepada sida-sida dari Ethiopia (Kisah Rasul 8:4-40), demikian juga pelayanan Petrus kepada Kornelius (Kisah Rasul 10). Namun mayoritas dari mereka masih terus di Yerusalem dan terus berada dalam komunitas seperti ini. Sampai kemudian tibalah satu titik dimana raja Herodes Agripa I mulai bertindak bengis dan melakukan penganiayaan terhadap mereka (Kisah Rasul 12:1). Sebelum-sebelumnya memang Petrus pernah ditangkap, diintimidasi, dicambuk; sebelum-sebelumnya mereka dilarang memberitakan Injil dan diancam (Kisah Rasul 5:17-20). Sampai pada pasal 12 ini kita menemukan martyr yang pertama gugur yaitu rasul Yakobus.

Kisah Rasul 12 bicara mengenai tiga orang: Yakobus, Petrus dan Herodes Agripa I. Dari tiga orang ini ada dua kematian dan satu kelepasan dari penjara. Kematian yang pertama adalah kematian yang terjadi kepada Yakobus. Kematian ini bukanlah hukuman Allah. Kematian ini adalah kematian martyr pertama dari Gereja Mula-mula. Kematian yang kedua adalah kematian raja Herodes Agripa I yang merupakan kematian karena hukuman Allah bagi orang yang menganggap diri sebagai allah dan dengan berani membunuh orang lain. Di tengah dua kematian ini ada satu vonis kematian yang tinggal menunggu saat eksekusi beberapa jam lagi tetapi Allah memberi kesempatan hidup bagi Petrus. Inilah satu rangkaian peristiwa yang luar biasa dalam Kisah Rasul 12.

Allah bekerja, hal yang pertama mungkin membingungkan dan bisa menciptakan perasaan bertanya-tanya kepada Tuhan, mengapa? Kisah Rasul 12 dibuka dengan kalimat “Kira-kira pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang” (Kisah Rasul 12:1-2). Kita tidak mengerti mengapa Allah tidak melepaskan Yakobus dari tangan Herodes. Bukan Tuhan pilih kasih, tetapi di situ ada maksud dan rencana Tuhan. Jelas Petrus tidak lebih penting daripada Yakobus; Petrus tidak lebih hebat daripada Yakobus. Tentu juga kita tidak boleh berkata bahwa Yakobus lebih tidak dipakai oleh Tuhan daripada Petrus. Ada hal yang kadang-kadang kita tidak sanggup untuk mengerti. Allah bekerja, Allah membiarkan pembunuhan terjadi kepada Yakobus. Allah bekerja, Allah melepaskan Petrus dari pembunuhan yang tinggal sebentar lagi terjadi kepadanya. Allah memberi kesempatan kepada Petrus untuk melayani bagi Allah lebih lama lagi. Kenapa demikian? Kita tidak tahu. Yang penting adalah melalui peristiwa ini kita belajar bagaimana kita meresponi ketika Allah bekerja di dalamnya. Seperti rasul Paulus yang mengatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah” (Filipi 1:21-22). Inilah respon yang juga harus menjadi respon setiap kita. Pada waktu Tuhan mengijinkan kita berada dalam kesulitan besar, atau pun pada waktu Tuhan memberi kita kesempatan untuk lepas dari kesulitan besar seperti itu, respon kita adalah bertanya apa yang Tuhan mau di situ, itu yang lebih penting dan itu yang kita belajar dari bagian ini.

Yakobus ditarget oleh Herodes Agripa. Tidak dijelaskan di sini kenapa Yakobus yang ditangkap dan dibunuh. Apakah karena dia lebih vokal mengkritik Herodes daripada rasul-rasul yang lain? Jangan lupa, bersama saudaranya, Yohanes, mereka dijuluki “Boanerges” oleh Yesus, yang berarti anak-anak guruh (Markus 3:17). Apakah mungkin karena suara mereka yang keras dan besar seperti halilintar, atau mungkin karena temperamen mereka yang panasan dan berangasan, mudah marah? Atau karena mereka pernah meminta Yesus untuk menurunkan petir ke atas sebuah kota di Samaria yang menolak Yesus masuk ke kota itu. Sehingga dari ke 12 rasul itu, besar kemungkinan Yakobus adalah rasul yang paling vokal dan paling berani. Apa saja yang salah dari Herodes, Yakobus yang bicara paling keras. Maka karena itulah Yakobus dibunuh oleh Herodes. Di tengah-tengah kematian dari Yakobus ini, kita tentu bertanya-tanya, Tuhan, gereja masih begitu muda. Tidak ada kekuatan politik, tidak banyak orang yang mampu, kaya dan berkuasa. Semua adalah orang-orang biasa. Tetapi mengapa justru salah satu pemimpin yang paling penting Tuhan ijinkan mati dibunuh? Kita tidak bisa mengerti akan hal ini.

Pada waktu peristiwa yang dahsyat dan tidak terduga datang ke dalam hidup kita, sakit-penyakit yang keras, kebangkrutan, usaha yang hancur, atau hal yang sangat berat terjadi kepada kita, harus kita akui perasaan kita seringkali lebih fokus melihat bagaimana dan apa yang terjadi pada diri kita, tanpa kita berpikir bahwa apa yang terjadi kepada kita itu menghasilkan satu efek yang tidak pernah kita duga di luar. Dalam Filipi 1:12-19 Paulus menyatakan akibat dari pemenjaraannya apa efek yang terjadi di luar. “Aku menghendaki supaya kamu tahu bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil. Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut” (Filipi 1:12-14). Seringkali pada waktu ada hal yang susah dan sulit terjadi kepada kita, kita terus berkutat kepada diri kita sendiri tanpa kita lihat bagaimana efeknya kepada orang yang melihat hidup kita. Kalau kita sakit, kita minta Tuhan segera sembuhkan; kalau kita dipenjara, kita minta Tuhan segera lepaskan, dst. Mari kita belajar dari firman Tuhan ini bagaimana respon yang benar. Kita melihat dalam pemenjaraan itu Tuhan tidak melepaskan Paulus, tetapi justru Paulus bisa melihat efek dari situasinya kepada orang luar. Ada dua efek akibat yang terjadi dari pemenjaraan Paulus kepada orang lain. Efek yang pertama, dua hal yang positif, pertama yaitu justru karena Paulus dipenjara, orang-orang yang ada di penjara mendengar Injil. Yang kedua, justru karena pemenjaraan itu anak-anak Tuhan yang lain tidak kabur dan tambah berani berkata-kata tentang Allah dengan tidak takut. Maka Paulus berkata, ini yang terjadi: Injil makin diberitakan dan orang yang tidak percaya Tuhan bisa mengenal Injil. Efek yang kedua, Paulus bilang, “Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakanNya dengan maksud baik. Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu bahwa aku ada di sini karena membela Injil. Tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak baik. Sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara” (Filipi 1:15-17). Hal yang kedua, respon negatif terjadi di luar, yaitu ada orang-orang yang melihat pemenjaraan Paulus sebagai kesempatan untuk memfitnah dia. Mereka mungkin mengatakan Paulus dipenjara pasti ada dosanya; Tuhan menghukum dia mungkin karena ajaran Paulus salah dan sesat, dsb. Paulus mengatakan, mereka sangka tekanan, penderitaan itu makin membuatnya susah dan berat di dalam penjara, tetapi dia mengatakan, “Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimana pun juga Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita” (Filipi 1:18). Apapun yang terjadi tetap nama Yesus diberitakan dan dikabarkan. Motivasi orang itu bagaimana, itu urusan dia dengan Tuhan.

Selanjutnya Kisah Rasul 12:3-5 mencatat, ketika Herodes melihat bahwa tindakannya membunuh Yakobus menyenangkan hati orang Yahudi, maka dia melanjutkan perbuatannya dan menyuruh menahan Petrus dan hendak membunuhnya juga. Petrus ditangkap tepat pada hari raya Roti tidak Beragi, salah satu hari raya yang penting bagi orang Yahudi. Maka Herodes harus menunda eksekusi Petrus sampai perayaan hari raya itu selesai. Pada waktu Yakobus dieksekusi, mungkin hal itu tidak dilakukan di hadapan publik dan orang luar tidak kenal siapa dia selain orang Kristen saja. Tetapi akhirnya berita pembunuhannya tersebar dan para pemimpin agama Yahudi senang luar biasa saat mendengar berita itu. Maka kali ini demi untuk mengambil hati mereka, Herodes hendak membuat eksekusi Petrus disaksikan oleh publik. Maka dia memastikan Petrus tidak bisa keluar dari penjara itu hidup-hidup. Karena itu dia menyuruh penjagaan yang sangat ketat 24/7 dengan empat regu jaga. Masing-masing regu penjaga terdiri dari empat orang yang bertugas selama 6 jam. Dari empat orang penjaga, dua orang dirantai bersama Petrus di kiri dan kanannya dan dua lagi berjaga di depan selnya. Aneh juga, kenapa Herodes memperlakukan Petrus seperti itu. Kalau memang Petrus orang biasa, tidak ada apa-apanya, kenapa penjagaannya begitu ketat? Berarti dalam hatinya sendiri Herodes sadar dan tahu pasti ada kuasa ajaib yang bisa melepaskan dia.

Kisah Rasul 12:6-17 menceritakan pada malam sebelum eksekusi itu Petrus tidur dengan nyenyak di sisi dua penjaga. Dan tiba-tiba ada malaikat membangunkan dia dan menyuruh dia keluar dari sel penjara itu. Rantai yang mengikatnya lepas begitu saja dan penjaga-penjaga yang menjaganya tidak sadar kalau Petrus sudah lepas dan keluar dari penjara. Mereka sama sekali tidak tahu dan tidak melihat. Petrus sendiri pikir dia sedang bermimpi. Tetapi sampai di luar penjara, malaikat itu tidak ada lagi dan Petrus baru sadar Tuhan sudah melepaskan dia dengan cara yang ajaib. Petrus kemudian pergi ke rumah Maria ibu Markus, dimana anak-anak Tuhan berkumpul dan berdoa. Bayangkan betapa marahnya Herodes sehingga akhirnya semua penjaga itu dibunuh karena dianggap lalai dan menyebabkan semua ini.

Peristiwa kelepasan Petrus sungguh sebuah kisah yang luar biasa! Dari sudut pandang manusia, hal itu mustahil terjadi, tetapi Tuhan bekerja di situ. Pada waktu Tuhan bekerja dan membiarkan penganiayaan dan pembunuhan terhadap anak-anak Tuhan, Tuhan tidak pernah menghancurkan iman anak-anak Tuhan. Tuhan justru makin memberikan kekuatan dan keberanian kepada mereka. Inilah yang terjadi kepada jemaat Tuhan waktu itu. Mereka berkumpul dan berdoa tanpa memikirkan resiko nyawa mereka sendiri. Sudah jelas, orang-orang ini adalah orang biasa. Mereka tidak punya koneksi kepada orang-orang yang berkedudukan di politik atau orang-orang yang punya koneksi kepada raja Herodes. Tetapi mereka tekun berdoa kepada Allah. Inilah hal yang amazing pada waktu penganiayaan terjadi kepada anak-anak Tuhan, mereka tetap datang berkumpul dan berdoa sama-sama. Itulah respon mereka. Bagaimana dengan kita? Seringkali pada waktu kesulitan datang, kita bisa menjadi malas berdoa dan bukan itu saja, kita bisa menyebabkan orang lain menjadi lemah juga. Ketika ada tantangan, ada kesulitan dalam hidup kita, kita menjadi tawar hati, kita kehilangan kekuatan dan keberanian untuk hidup belajar percaya dan trust kepada Tuhan.

Terakhir, Kisah Rasul 12:20-23 mencatat kematian Herodes. “Herodes sangat marah terhadap orang Tirus dan Sidon. Atas persetujuan bersama, mereka pergi menghadap dia. Mereka berhasil membujuk Blastus, pegawai istana raja ke pihak mereka, lalu mereka memohonkan perdamaian, karena negeri mereka beroleh bahan makanan dari wilayah raja” (Kisah Rasul 12:20). Herodes Agripa adalah seorang yang sangat arogan, seorang yang berpikir dia bisa menjadi tuhan. Jangan coba-coba membuat dia marah; jangan coba-coba membuat dia gusar; jangan coba-coba melakukan apa saja yang membuat dia tidak senang. Sekali dia marah, dia bisa menghancurkan hidup orang itu habis-habisan. Itulah yang terjadi kepada rakyat kota Tirus dan Sidon. Dengan kuasanya, ekonomi orang bisa dia hancurkan; dengan kuasanya, dia bisa menghambat dan tidak mengirim bahan pangan buat kota Tirus dan Sidon, sampai pemimpin-pemimpin kota itu akhirnya perlu memohon karena dua kota itu mendapat supply makanan dari daerah wilayah pemerintahan Herodes. Dengan kuasanya, dia bisa membunuh pengawal-pengawal penjara, dia bisa membunuh rasul Yakobus, dia bisa memenjarakan Petrus.

Dan hari itu dia berdiri berpidato dengan arogansi dan self-glorification dengan segala kesombongannya (Kisah Rasul 12:21). Rakyat mengelu-elukan dia dengan bersorak-sorai mengakui kuasanya yang besar setara Allah. “Dan seketika itu juga dia ditampar malaikat Tuhan karena dia tidak memberi hormat kepada Allah; dia mati dimakan cacing-cacing” (Kisah Rasul 12:23). Inilah kematian yang terjadi kepada seseorang yang jelas karena Tuhan menghukum dan memberikan hajaran kepada Herodes. Apa yang menyebabkan Herodes mati? Lukas mengatakan Herodes mati dimakan cacing-cacing, jelas menunjukkan kematiannya adalah kematian yang sangat perlahan-lahan, kematian yang sangat painful dan mengerikan. Apakah karena gangrene? [angrene bisa terjadi karena diabetes. Atau bisa jadi dia kena syphillis, karena lifestyle hidup seksualitasnya? Kita tidak tahu. Penyebab yang terjadi adalah luka yang tidak bisa sembuh-sembuh, infeksi dan bernanah, sampai belatung-belatung memakan dagingnya sampai dia akhirnya mati.

Ketika Tuhan bekerja, di situ kita bisa menyaksikan inti dari semua kesulitan dan penderitaan itu tidak menjadi hal yang penting. Di bagian terakhir Kisah Rasul 12 menutup dengan dua hal yang indah luar biasa. “Maka firman Tuhan makin tersebar dan makin banyak didengar orang” (Kisah Rasul 12:24). Yang pertama, nama Tuhan makin tersebar, diagungkan dan dimuliakan. Injil Tuhan dikabarkan semakin tersebar dan orang semakin banyak mendengar nama Yesus. Yang kedua, rasul Yakobus bisa dibunuh, tetapi Tuhan membangkitkan orang-orang lain untuk melanjutkan pekerjaan Tuhan. Ada 3 nama muncul di sini, “Barnabas dan Saulus kembali dari Yerusalem, setelah mereka menyelesaikan tugas pelayanan mereka. Mereka membawa Yohanes, yang disebut juga Markus” (Kisah Rasul 12:25). Puji Tuhan! Pekerjaan Tuhan tidak bisa dihambat oleh kuasa manusia, sebesar apapun usaha dia untuk menentangnya. Pekerjaan Tuhan tidak akan pernah berhenti. Yang ada ialah bagaimana kita berespon kepadanya. Apakah kita berespon untuk tabah, berani, berdoa, bersandar? Atau kita menjadi takut, pasif, bersembunyi, atau lari dari Tuhan?

Ketika Tuhan bekerja, Tuhan bisa memakai kita atau Tuhan memakai orang lain. Itulah sebabnya kisah seperti ini selalu harus mengingatkan kepada kita, ketika kita memuliakan Tuhan dalam hidup kita, percayalah, Tuhan akan memuliakan setiap anak-anak Tuhan yang melakukan seperti itu. Ketika kita mempunyai keinginan untuk memuliakan diri kita sendiri, kita akan berakhir dengan dipermalukan oleh Tuhan. Jika engkau ingin menentang Tuhan Yesus, engkau akan kalah. Mungkin sementara engkau kelihatan menang, engkau bisa membunuh hamba Tuhan dan anak-anak Tuhan dengan semena-mena, tetapi engkau tidak bisa mencengkeram pelayanan Injil. Negara yang melakukan persekusi penganiayaan dengan kekuatan sebesar apapun, mereka bisa membakar gereja, mereka bisa menangkap, menyiksa, membunuh anak-anak Tuhan, tetapi mereka tidak bisa membunuh pelayanan Injil. Tidak usah takut. Yang kita perlu cuma berespon dengan benar di hadapan Tuhan, berlutut dan berdoa. Bayangkan dari dua orang berdoa, menjadi sepuluh orang berdoa, menjadi seratus orang berdoa. Itulah respon anak-anak Tuhan yang penting. Tetapi jikalau anak-anak Tuhan masa bodoh dan tidak peduli, kalau anak-anak Tuhan hanya mementingkan dan memikirkan diri sendiri, di situlah kesulitan, penderitaan dan conveniency kita menyebabkan kita terlalu banyak hitung-hitungan di hadapan Tuhan. Kadang-kadang kalau peristiwa itu terjadi, Tuhan mungkin bisa memberikan persekusi sebagai satu disiplin kepada anak-anakNya sehingga di situ mereka menjadi sadar dan tahu tidak ada cara lain, satu-satunya adalah kembali kepada Allah, berdoa, trust and submit to God. Dan pada waktu itu sudah terjadi, engkau akan melihat Allah bekerja dengan kuasaNya yang agung dan mulia.

Bersyukur kepada Allah. Kisah ini bukan hanya sebuah cerita atau catatan sejarah masa lampau saja. Ini adalah kisah bagaimana Tuhan berkarya di dalam sejarah dan berkarya di dalam gereja Tuhan. Kita bersyukur, pada waktu kita membacanya, kita menyaksikan kekuatan dan kuasa Tuhan bekerja mendatangkan hati yang sungguh berani dan sukacita yang dalam. Kiranya Allah memberkati pekerjaan dan pelayanan dan pengabaran Injil dimana saja itu berada. Dan kiranya Allah memberi setiap kita keberanian, karena hanya dengan bersandar dan berdoa, kita rindu pekerjaan Tuhan nyata dengan ajaib dan luar biasa.(kz)