Hunger for God’s Will

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Hunger for God’s Will
Nats: Kisah Rasul 13:1-12

Kisah Rasul 13 berbicara mengenai satu jemaat di sebuah kota yang bernama Antiokhia. Lokasi Antiokhia tidak jauh dari Damaskus dan Aleppo, dan daerah-daerah tsb mayoritas adalah orang-orang Kristen. Kota-kota ini menjadi tempat konflik peperangan saudara di Siria, yang memberikan penganiayaan dan kesulitan yang dahsyat kepada anak-anak Tuhan saat ini. Kita patut dan perlu berdoa bagi mereka.

Kisah Rasul 11:19-30 memperlihatkan bagaimana jemaat Tuhan di Antiokhia ini terbentuk, yaitu ketika gereja mengalami penganiayaan di Yerusalem, maka anak-anak Tuhan terserak sampai ke Antiokhia. Gereja Antiokhia adalah gereja multikultural pertama yang terbentuk, gabungan antara orang Yahudi dan orang-orang yang bukan Yahudi yang berbahasa Yunani. Dan kita tahu di situlah pertama kali orang-orang yang percaya Kristus di Antiokhia disebut “orang Kristen” (Kisah Rasul 11:26). Sebetulnya itu adalah nama ejekan yang diberikan oleh orang-orang yang tidak percaya Tuhan, yang melihat hidup orang-orang ini sungguh otentik, berbeda dengan hidup orang lain.

Kisah Rasul mencatat perjalanan misi dimulai dari kota Antiokhia, dan sampai hari ini Injil terus tersebar dan sampai kepada engkau dan saya.

Ada lima nama hamba-hamba Tuhan, pelayan di dalam jemaat Antiokhia itu. “Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus” (Kisah Rasul 13:1). Dari lima nama ini kita bisa mengambil kesimpulan jemaat di Antiokhia ini adalah jemaat yang multikultural, jemaat dari berbagai bangsa: Barnabas, yang berasal dari Siprus, namanya disebut paling pertama, karena dia adalah senior pastor gembala sidang. Lalu Simeon yang disebut Niger, kemungkinan dia adalah seorang Yahudi Etiopia yang berkulit hitam. Lalu Lukius orang Kirene, kota asalnya sama seperti Simon orang Kirene yang memikul salib Yesus dalam perjalanan ke Golgota. Kirene adalah kota di wilayah benua Afrika, dekat Libia. Lalu nama Menahem, ditambah dengan keterangan “yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes,” dia adalah teman main Herodes Antipas waktu kecil. Berarti dia berasal dari keluarga ningrat yang kaya raya, seorang yang memiliki kaitan dan pengaruh dengan pemerintahan dan sekarang dia menjadi seorang hamba Tuhan. Yang terakhir adalah Saulus atau Paulus di urutan yang ke lima atau yang terakhir, hamba Tuhan yang paling junior, yang memang baru beberapa tahun sebelumnya mengalami pertobatan. Mereka ini menjadi satu tim kerja di hadapan Tuhan.

Yang kedua, bagian ini menceritakan mengenai attitude dan sikap hidup sebuah gereja di hadapan Tuhan. Mereka lakukan penyembahan dan ibadah kepada Allah menjadi sentral. Pada saat mereka berkumpul, mereka berdoa, mereka beribadah, mereka berpuasa di hadapan Tuhan (Kisah Rasul 13:2). Pada waktu rekan kerja berkumpul, pada waktu hamba-hamba Tuhan berkumpul, pada waktu pelayan Tuhan, para pengurus dan aktifis berkumpul, seringkali yang menjadi fokus utama di dalamnya kita sibuk berbicara mengenai budget, berbicara mengenai program, tetapi kita mungkin telah mengabaikan dimensi rohani. Ketika orang-orang rohani berkumpul membicarakan pekerjaan rohani, kita perlu sekali memiliki kekuatan dan kuasa rohani di dalamnya. Dan kuasa rohani itu tidak datang dari uang, tidak datang dari talenta kita, tetapi datang dari hati yang berdoa, hati yang memuji Tuhan, dan hati yang berpuasa di hadapan Tuhan.

Harus kita akui puasa adalah satu disiplin rohani yang terabaikan di dalam kehidupan kita bergereja masa kini. Dan seringkali kita memahami disiplin rohani berpuasa sebagai sesuatu sikap kita untuk mencoba menahan diri atau untuk menyiksa diri, untuk melaparkan keinginan kita dengan kita tidak makan, kita tidak minum, kita tidak mau melakukan sesuatu apa-apa. Kita melaparkan diri dari keinginan kita. Tidak salah kita memahami puasa seperti itu. Tetapi pada waktu kita membaca bagian ini, mereka tidak berpuasa karena ingin menyiksa diri, melepaskan apa yang menjadi keinginan mereka. Mereka berpuasa justru untuk melaparkan diri menginginkan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Maka berpuasa itu bukan melaparkan diri dari keinginan diri, berpuasa berarti melaparkan diri untuk melakukan apa yang menjadi keinginan Tuhan. Hunger for God’s will.

Di dalam catatan Alkitab, kita menemukan kebanyakan orang-orang di Alkitab berpuasa karena mereka sedang menghadapi problem, karena ada kesulitan tantangan yang dialami oleh mereka. Banyak anak-anak Tuhan mengambil keputusan yang penting dalam hidupnya atau ada ketika ada kesulitan, ada sakit-penyakit, ada tantangan yang dialami, lalu mereka berdoa dengan berpuasa. Sesuatu hal yang tidak bersalah kita lakukan saat kita mencari pertolongan dari Tuhan. Tetapi di dalam bagian ini mereka berpuasa bukan karena itu. Mereka berpuasa karena mereka melaparkan diri untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki gereja mereka lakukan bagi Tuhan. Mereka berpuasa, karena ini adalah satu jemaat yang ingin mencari hati Tuhan. Dan kepada jemaat seperti ini, yang berdoa, yang berpuasa, yang melihat kehidupan pelayanan mereka ditopang oleh kekuatan dan kuasa rohani, Alkitab mencatat bahwa Roh Kudus berkenan dan berbicara di dalam persekutuan doa mereka. “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka” (Kisah Rasul 13:2b). Apa reaksi mereka sesudah itu? Mereka berpuasa lagi, berdoa lagi, menggumulinya lagi (Kisah Rasul 13:3).

Roh Kudus menyebut dua dari lima nama ini dikhususkan untuk pergi. Ketika satu gereja ingin Tuhan berkarya dan pekerjaan Tuhan terjadi di tengah-tengah pelayanan mereka dan pada waktu permintaan mereka dikabulkan oleh Tuhan, sekaligus di situ mereka juga menerima satu konsekuensi bahwa ada harga yang harus dibayar. Tuhan meminta senior pastornya, gembala sidangnya yang bernama Barnabas dan seorang penginjil muda yang bernama Saulus untuk melakukan tugas pelayanan itu. Di sini kita bisa melihat bagaimana sebuah jemaat mendapatkan panggilan Tuhan karena mereka memang merindukan pelayanan itu dan bagaimana mereka belajar untuk membayar harga. Mereka kemudian memberkati dan mengutus Barnabas dan Paulus dan mereka membekali dengan dana keuangan muncukupi segala keperluan perjalanan pelayanan misi ini. Pada waktu kita berani meminta sesuatu kepada Tuhan, kita juga harus bersiap diri melihat Tuhan secara berani bekerja dalam hidup kita. Pada waktu kita meminta Tuhan melakukan sesuatu dalam diri kita bisa jadi Tuhan juga meminta kita untuk belajar membayar harga dan korban yang besar di dalam semua itu.

Tetapi pertanyaan selanjutnya, apakah itu suatu kehilangan ataukah justru itu adalah sesuatu yang berlimpah yang Tuhan kerjakan? Di satu sisi bagi gereja Antiokhia, mereka akan kehilangan Barnabas dan Paulus yang menjadi pemimpin yang penting di dalam pelayanan mereka. Tetapi di sisi lain, jemaat ini telah menjadi berkat bagi kota-kota dan bagi daerah-daerah lain. Mereka tidak kehilangan tetapi justru mereka mendapatkan berkat yang lebih berlimpah. Luar biasa sekali, sesuatu yang kita tidak pernah duga. Setelah perjalanan misi pertama ini, lalu Paulus melanjutkan dengan perjalanan misi yang kedua, menjangkau daerah yang lebih luas lagi. Lalu Paulus melanjutkan dengan perjalanan misi yang ketiga, menjangkau daerah yang lebih luas lagi. Dari situ kita bisa melihat Injil lalu tersebar makin lama makin jauh sampai ke tempat-tempat yang paling terpelosok di ujung bumi. Siapa yang bisa menyangka dan menduga pelayanan misi yang pertama itu dimulai dari Antiokhia di Kisah Rasul 13, started from the humble beginning ini terus berkelanjutan sampai hari ini? Dimulai dengan apa? Itu tidak dimulai karena mereka punya budget misi; itu tidak dimulai karena mereka mampu dalam keuangan dan punya orang untuk diutus. Dimulai dengan apa? Dimulai karena mereka lapar untuk melakukan kehendak Allah.

“Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia dan dari situ mereka berlayar ke Siprus” (Kisah Rasul 13:4). Roh Allah yang menetapkan dan memutuskan mereka melakukan pelayanan misi itu pertama-tama ke sebuah kota kecil, kota pelabuhan yang bernama Seleukia, kurang lebih sekitar 20 km dari Antiokhia, lalu kemudian dari situ mereka kemudian berlayar ke pulau Siprus. Mereka bertiga pergi, Paulus, Barnabas dan satu anak muda bernama Yohanes Markus menyertai mereka sebagai pembantu atau assistent di dalam pelayanan misi itu (Kisah Rasul 13:5). Nama Yohanes Markus muncul beberapa kali di Alkitab. Dalam Kisah Rasul 12:12 pada waktu Petrus dilepaskan dari penjara dengan kuasa mujizat Allah, dia keluar dan pergi ke sebuah rumah dimana anak-anak Tuhan berkumpul dan berdoa bersama, rumah itu adalah rumah dari mama Yohanes Markus di Yerusalem. Dari indikasi ini kita bisa menemukan sedikit gambaran bahwa keluarga Yohanes Markus adalah keluarga yang lumayan kaya. Karena anak muda ini ingin melayani Tuhan, waktu Barnabas dan Saulus kembali ke Antiokhia, mereka membawanya serta (Kisah Rasul 12:25). Sampai di pulau Siprus, ada dua kota yang mereka pergi, yaitu Salamis di ujung sebelah timur dan kemudian ke Pafos yang ada di ujung sebelah barat, yaitu ibukota dari pulau Siprus ini. Sampai di Pafos, Kisah Rasul 13:6-12 mencatat satu kisah bagaimana gubernur wilayah Siprus itu, Sergius Paulus, tertarik ingin mendengar Injil. Sebelumnya, dia sudah memiliki keinginan untuk melihat dan mengerti hal-hal yang bersifat rohani, tetapi sayangnya orang yang sebetulnya cerdas dan pandai secara intelektual ini mencari hal spiritual kepada sumber yang salah yaitu kepada dukun, orang yang berilmu hitam alias tukang sihir dan nabi palsu bernama Baryesus. Baryesus itu nama Yahudi, yang ironis sekali artinya: Anak yang mendatangkan keselamatan. Tetapi dia ganti nama yang sedikit lebih familiar bagi orang yang berbahasa Yunani karena tinggal di Siprus menjadi Elimas. Elimas berusaha menghalangi Paulus dan Barnabas mengabarkan Injil dan dengan segala cara dia juga berusaha membelokkan gubernur itu dari imannya (Kisah Rasul 13:8). Paulus melihat hal ini bukan saja sebagai halangan dari manusia, tetapi lebih daripada itu dia melihatnya sebagai usaha yang dilakukan oleh kuasa kegelapan untuk menghalangi pekerjaan Tuhan. Itu sebab Paulus yang penuh dengan Roh Kudus mengkonfrontasi Elimas, “Hai anak Iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, engkau musuh segala kebenaran. Tidakkah engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu?” Dan tidak berhenti sampai di situ, dengan kuasa Tuhan mata Elimas menjadi buta sehingga dia tidak bisa melihat (Kisah Rasul 13:9-11). Melihat apa yang terjadi kepada Elimas, maka gubernur tahu dan sadar bahwa Allah yang disembah Paulus adalah Allah yang hidup dan berkuasa, dan dia menjadi percaya dan beriman kepada Allah (Kisah Rasul 13:12).

Pelayanan misi pertama ini adalah satu pelayanan yang berat luar biasa dan satu peperangan rohani menghadapi kuasa kegelapan di dalam pengabaran Injil, karena kelihatannya tidak ada hasil secara kuantitas yang spektakuler. Tidak dicatat bagaimana respon orang-orang yang lain terhadap berita Injil yang disampaikan Paulus. Tidak dituliskan “maka sejumlah besar orang menjadi percaya” seperti yang terjadi di tempat-tempat lain (lihat Kisah Rasul 2:41, 5:14-16, 8:4-7, 9:31, 9:42, 11:21). Melihat seperti ini mungkin bisa membuat hati kita bertanya-tanya, kalau Tuhan pimpin, bukankah seharusnya mendatangkan buah yang berlimpah dan hasil yang menakjubkan. Kita seringkali berpikir seperti itu, bukan? Seolah kalau Tuhan menyertai, semua akan berjalan lancar dan sukses, tidak ada halangan dan rintangan. Tetapi tidak selalu seperti itu. Bahkan sebetulnya ada satu aspek lagi yang yang makin memperlihatkan betapa berat dan betapa susah pelayanan misi yang pertama itu karena di tengah perjalanan ini Paulus mengalami sakit yang keras dan parah. Hal ini tidak ditulis di Kisah Rasul 13 tetapi di Galatia 4:13 Paulus mengatakannya “Kamu tahu, bahwa aku pertama kali telah memberitakan Injil kepadamu oleh karena aku sakit pada tubuhku.” Kapankah hal ini terjadi? Setelah mereka meninggalkan kota Pafos lalu berlayar pergi ke daerah Galatia atau Asia Kecil. Kisah Rasul 13:13-14 mengatakan, “Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia, tetapi Yohanes meninggalkan mereka lalu kembali ke Yerusalem. Dari Perga mereka melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di Pisidia.” Di sinilah Paulus jatuh sakit. Dan satu hal lagi yang terjadi, Yohanes Markus anak muda yang dari keluarga lumayan kaya, tidak terlalu kuat dan tahan akhirnya pergi meninggalkan Paulus dan Barnabas, kembali ke rumahnya di Yerusalem. Kisah Rasul 13 tidak mencatat apa sebab Yohanes Markus meninggalkan mereka di tengah perjalanan pelayanan misi ini. Barangkali menghadapi beratnya tantangan dan kesulitan yang mereka alami akhirnya Yohanes Markus tidak kuat dan pergi meninggalkan rekan-rekannya. Tentu saja tindakan Markus membuat Paulus sangat kecewa. Nantinya hal ini menciptakan sesuatu perselisihan yang tajam antara Paulus dengan Barnabas sehingga mereka berpisah jalan. Paulus tidak mau lagi berurusan dengan Markus, tetapi Barnabas tetap masih mau memberikan kesempatan kedua bagi anak muda ini (Kisah Rasul 15:39). Sangat menyedihkan hal seperti ini bisa terjadi. Tetapi kita mengucap syukur karena di masa-masa terakhir daripada hidup Paulus, ketika dia berada di dalam penjara, ketika semua orang meninggalkan dia dan tidak berani dekat dia, Alkitab mencatat justru Yohanes Markus yang menemani Paulus di dalam penjara itu [lihat 2 Timotius 4:11, Kolose 4:10, Filemon 1:24]. Dari seorang anak muda yang rentan dan tidak tahan menghadapi tantangan dan kesulitan seperti itu, dia bertumbuh menjadi seorang yang tangguh, dewasa dan bertanggung jawab di dalam pelayanan bagi Tuhan.

Banyak hal kita bisa belajar dari bagian ini. Kita melayani Tuhan semata-mata karena Tuhan kasih kita kesempatan. Kita melayani Tuhan karena kita memiliki bakat dan talenta. Kita melayani Tuhan karena kita rasa kita ingin membayar balik kembali apa yang Tuhan sudah beri bagi kita. Kita melayani Tuhan karena kita tahu pelayanan itu indah dan berada di dalam pelayanan Tuhan itu adalah sesuatu yang diberkati. Dan kita bersyukur kita punya begitu banyak orang-orang yang juga bersama-sama melayani. Tetapi pada waktu kita masuk ke dalam pelayanan, itu bukan sekedar satu pelayanan “holiday” dimana kita bisa tinggalkan kalau kita sudah bosan. Itu bukan satu perjalanan dimana sepanjang jalan kita bernyanyi haleluya puji Tuhan. Itu bukan pelayanan dimana kita terus bisa menemukan sukacita dan tawa di dalamnya. Pelayanan adalah sebuah peperangan rohani. Pelayanan adalah sesuatu dimana kita akan bertemu dengan hal-hal yang ingin membengkokkan jalan Tuhan. Dan pada waktu kita tidak menyadari akan hal itu, bisa jadi kesulitan di dalam pelayanan, realita kita menghadapi pelayanan yang berat di dalam gereja, tantangan dan konflik relasi yang ada dan ketika pelayanan itu tidak menghasilkan buah sesuai dengan apa yang kita harapkan, akhirnya kita bisa kecewa dan bertanya-tanya: Bukankah ini pelayanan bagi Tuhan? Mengapa di tengah pelayanan yang buat Tuhan ini kita bertemu dengan Setan? Bukankah ini pelayanan bagi Tuhan? Mengapa kita mengalami sakit-penyakit? Bukankah ini pekerjaan dan pelayanan bagi Tuhan yang kita sudah sama-sama berdoa? Kenapa di tengah jalan ada yang berhenti dan meninggalkan pelayanan begitu saja? Pada waktu kita tidak menyadari pelayanan itu adalah sebuah peperangan rohani yang di dalamnya membutuhkan ketabahan, kesungguhan dan hati yang bersandar kepada kekuatan rohani dari Allah semata-mata, kita tidak akan kuat.

Maka mari kita melihat keindahan apa yang Tuhan kerjakan dalam Kisah Rasul 13 ini. Tuhan mengakhiri pelayanan daripada Paulus dan Barnabas dalam perjalanan misi yang pertama ini dengan sukacita walaupun mereka sakit, mereka mengalami kesulitan, tantangan, dan peperangan rohani. Setiap kali kita melakukan pelayanan misi, setiap kali kita pergi ke satu tempat melayani Tuhan, kita juga harus senantiasa mengingat akan hal itu, bahwa kita bukan saja datang untuk menjadi berkat, memberikan bantuan secara positif tetapi kita sadar di setiap pelayanan seperti itu kita pasti juga akan menghadapi tantangan dari kuasa-kuasa kegelapan yang ingin membelokkan pelayanan Tuhan. Iblis itu senantiasa selalu membelokkan, membengkokkan jalan lurus daripada pelayanan Tuhan ini. Tidak akan pernah dia memberikan kelancaran, senantiasa akan memberikan hambatan dan tekanan di dalam setiap pekerjaan pelayanan apapun yang kita kerjakan bagi Tuhan. Itulah sebabnya dari sini kita senantiasa diingatkan kenapa kita perlu berdoa, kenapa kita perlu berpuasa, kenapa kita perlu memuji Tuhan dan memuliakan Dia. Kita perlu kekuatan dan kuasa rohani dari Tuhan dalam pelayanan kita. Dan pada waktu kita menghadapi itu semua, kita perlu hati yang sabar, hati yang tekun. Sekalipun situasi yang kita lihat di depan mata kita mungkin tidak semanis gambaran kita bayangkan.

Paulus meskipun dalam keadaan sakit keras, di tengah-tengah pelayanan dia tidak melihat ada hasil, dia jalan terus. Kisah Rasul 13:43 mencatat respon yang membesarkan hati, mereka menyaksikan bagaimana Tuhan bekerja dan itu mendatangkan sukacita dan kegembiraan bagi mereka dari orang-orang yang mendengar Injil, “Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi yang takut akan Allah mengikuti Paulus dan Barnabas. Kedua rasul itu mengajar mereka dan menasehati supaya mereka tetap hidup di dalam kasih karunia Allah.” Tetapi pada saat yang sama mereka juga menghadapi tantangan pihak oposisi orang-orang yang tidak senang, yang iri, orang-orang yang ingin menghujat dan menghambat pelayanan mereka. “Pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah. Akan tetapi, ketika orang Yahudi melihat orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang dikatakan oleh Paulus” (Kisah Rasul 13:44-45). Meskipun perlawanan terhadap pengabaran Injil begitu besar, dan semakin ke belakang kita melihat akan bertambah besar dan berat, Kisah Rasul 13:48-49 menjadi satu kesimpulan yang indah, “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan. Dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Lalu firman Tuhan disiarkan di seluruh daerah itu.” Setiap kali Injil dikabarkan, kita percaya pasti ada orang-orang pilihan Tuhan di situ; pasti ada orang-orang yang Tuhan panggil dan kita boleh mengucap syukur pelayanan itu tidak pernah pulang dengan tidak membawa hasil dan buah. Kiranya firman Tuhan ini menjadi dorongan bagi setiap kita.(kz)